commit to user 7 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Beban Kerja Fisik
a. Pengertian Beban Kerja Fisik
Beban kerja fisik adalah beban kerja yang diterima akibat aktivitas fisik manusia. Saat melakukan pekerjaan fisik konsumsi energi merupakan faktor penentu berat atau ringannya suatu pekerjaan. Kerja fisik akan mengakibatkan perubahan fungsi pada alat-alat tubuh, yang dapat diketahui melalui konsumsi oksigen, denyut jantung, peredaran udara paru-paru, temperatur tubuh, konsentrasi asam laktat dalam darat, dan tingkat penguapan (Manuaba dalam Anizar, 2012).
b. Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja 1) Tuntutan tugas
Tugas-tugas yang bersifat fisik meliputi stasiun kerja, tata ruang, tempat kerja, alat dan sarana kerja, kondisi kerja, sikap kerja.
Sering atau tidaknya melakukan aktivitas manual handling, sikap kerja yang salah, frekuensi bekerja atau pekerjaan berulang-ulang dapat membuat pekerja merasa mendapat beban kerja yang tinggi. Kondisi kerja tertentu dapat menghasilkan
commit to user
prestasi kerja yang optimal di samping dampaknya terhadap kinerja pegawai.
2) Organisasi kerja
Pengaturan waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, sistem pengupahan, sistem kerja, musik kerja, model stuktur organisasi, pelimpahan tugas, tanggung jawab, dan wewenang dapat mempengaruhi beban kerja (Tarwaka, 2013).
3) Lingkungan kerja
Faktor-faktor yang ada di lingkungan kerja seperti kimia, fisik, biologi, fisiologi, serta psikis dapat menjadi beban tambahan akibat kerja (Moeljosoedarmo dalam Panengah, 2012).
c. Dampak Beban Kerja Fisik
Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu lama, dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan sendi, ligamen, dan tendon. Keluhan hingga kerusakan tersebut diistilahkan dengan keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) atau cidera pada sistem muskuloskeletal (Grandjean, 1993; Lamasters, 1996 dalam Tarwaka, 2004). Berdasar penelitian yang dilakukan oleh Suciari (2006) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan keluhan Low Back Pain.
Beban kerja yang terlalu berlebih menimbulkan kelelahan baik fisik atau mental dan reaksi-reaksi emosional seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan mudah marah. Beban kerja yang
commit to user
berlebih atau rendah dapat menimbulkan stres kerja (Manuaba, 2008).
Beban kerja fisik yang tinggi sering membuat tarikan napas menjadi pendek sehingga asupan oksigen ke otak berkurang (Ganong, 2002). Oleh karena suplai oksigen tidak mencukupi, maka asam laktat diproduksi di sel otot. Akumulasi asam laktat dalam otot dapat mengurangi kapasitas kerja otot yang selanjutnya akan menyebabkan suatu kondisi yang disebut kelelahan. Kelelahan yang terus menerus terjadi setiap hari akan berakibat terjadinya kelelahan yang kronis. Gejala-gejala psikis ditandai dengan perbuatan- perbuatan anti sosial dan perasaan tidak cocok dengan sekitarnya, sering depresi, kurangnya tenaga serta kehilangan inisiatif (Suma’mur, 2013).
d. Pengukuran Beban Kerja Fisik
Pekerjaan fisik merupakan sesuatu yang dapat dilakukan apabila memiliki energi, karena berguna untuk mendukung kontraksi otot. Tubuh manusia membutuhkan energi untuk mempertahankan fungsi dasar kehidupannya meskipun tidak ada kegiatan yang dilakukan sama sekali. Energy expenditure terendah yang diperlukan untuk menjaga fungsi-fungsi dasar kehidupan disebut metabolisme basal (basal metabolism) (Wickens et al., 2004 dalam Azmi, 2017).
Berdasarkan penjelasan yang ada beban kerja fisik dapat dikelompokkan ke beberapa tingkatan berdasarkan energi yang
commit to user
dikeluarkan (energy expenditure). Beberapa penelitian fisiologi kerja menunjukkan bahwa energi yang dikeluarkan untuk bekerja berbanding lurus dengan jumlah konsumsi oksigen dan denyut jantung. Dr. Lucien Brouha telah membuat tabel klasifikasi beban kerja dalam reaksi fisiologi, untuk menentukan berat ringannya suatu pekerjaan, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 1. Klasifikasi Beban Kerja dan Reaksi Fisiologis Kategori Konsumsi
Oksigen (liter/
menit)
Temperat ur Rectal (o C)
Energi (Kkal/
Menit)
Denyut Jantung per menit
Ventilas i paru (Liter/
menit) Sangat
Ringan
0.25 – 0.3 37.5 < 2.5 < 60 6 – 7
Ringan 0.5 – 1 37.5 2.5-5.0 60 – 100 11 – 20 Moderat 1.0 - 1.5 37.5 – 38 5.0-7.5 101 – 125 20 – 31 Berat 1.5 - 2.0 38 – 38.5 7.5-
10.00
126 – 150 31 – 43
Sangat Berat
2.0 – 2.5 38.5 – 39 10.00- 12.5
151 – 175 43 – 56
Berat Ekstrim
> 2.5 > 39 > 12.5 > 175 60 – 100
Sumber : Wickens et al., 2004 dalam Azmi, 2017
Menurut Harrianto (2010), pengukuran beban kerja dengan cara pengukuran kecepatan denyut jantung dapat mengatasi keterbatasan pengukuran melalui asupan oksigen. Pengukuran dengan parameter denyut jantung lebih praktis, mudah dimonitor, serta dapat digunakan baik untuk pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik sedang sampai berat, maupun untuk aktivitas kerja statis.
commit to user
Pengukuran denyut jantung dilakukan dengan menghitung denyut pada arteri radial pada pergelangan tangan dalam waktu satu menit dengan memakai stopwatch.
e. Mengendalikan Beban Kerja Fisik
Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik kemampuan fisik, maupun kognitif, maupun keterbatasan manusia. Ergonomi dapat mengurangi beban kerja, karena apabila peralatan kerja tidak sesuai dengan kondisi dan ukuran tubuh pekerja maka akan menjadi beban tambahan kerja. Apabila peralatan kerja dan manusia atau tenaga kerja telah sesuai dan cocok, maka reaksi yang diakibatkan oleh beban kerja yang berpotensi sebagai stressor dapat dicegah dan hasilnya lebih efisien (Notoatmodjo, 2014).
Menghindari beban otot yang terlalu berat, sehingga energi tidak akan terlalu banyak keluar dan tenaga kerja tidak akan mengalami kelelahan yang berarti. Kelelahan ini berupa kelelahan fisik dan mental. Jika tuntutan kerja dan kapasitas kerja seimbang, tidak terlalu rendah (underload) ataupun terlalu tinggi (overload), maka hal tersebut tidak akan reaksi stres kepada pekerja (Anies, 2005).
Cooper juga menyebutkan bahwa beban fisik cenderung mengarah pada beban yang diterima seorang karyawan dalam suatu pekerjaan yang berkaitan dengan kondisi fisiologisnya seperti
commit to user
kebisingan, vibrasi (getaran), dan hygiene. Oleh karena itu, menjaga lingkungan kerja agar kondusif dan sesuai dengan keadaan yang seharusnya dapat menghindari terjadinya stres kerja yang dialami oleh pekerja (Munandar, 2008).
2. Beban Kerja Mental
a. Pengertian Beban Kerja Mental
Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang memerlukan pemikiran untuk dapat menyelesaikan tugasnya. Menurut Henry R.
Jex beban kerja mental merupakan perbedaan antara tuntutan pekerjaan dari suatu tugas dengan kapasitas maksimum beban mental seseorang dalam kondisi termotivasi (Meshkati & Hancock, 2011). Beban kerja mental yang berlebihan akan mengakibatkan stres kerja. Setiap aktivitas mental akan selalu melibatkan unsur presepsi, interpretasi dan proses mental dari suatu informasi yang diterima oleh organ sensoris untuk diambil suatu keputusan (Tarwaka, 2013).
b. Faktor yang Mempengaruhi Beban Kerja Mental
Faktor yang mempengaruhi beban kerja mental menurut Simanjuntak dan Situmorang (2010) antara lain:
1) Jenis aktivitas dan situasi kerja
Pada jenis aktivitas pekerjaan dengan tingkat stres yang tinggi dan menuntut banyak perhatian, akan menyebabkan
commit to user
meningkatnya beban kerja mental pada pekerja (Simanjuntak dan Situmorang, 2010).
Jenis tugas juga dapat menimbulkan beban kerja mental yang berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan pada berbagai kegiatan atau tugas. Kegiatan ini ada yang berupa tugas tunggal dan berganda. Tugas berganda adalah beberapa tugas yang dikerjakan dalam satu waktu, sehingga tugas berganda dianggap sebagai karakter tugas yang dominan dalam mempengaruhi beban kerja mental (Wulanyani, 2013).
2) Waktu penyelesaian yang tersedia
Tubuh memiliki waktu kerja maupun istirahat sehingga akan berpengaruh dengan kondisi fisik, dan pada akhirnya mempengaruhi kondisi psikis, atau sebaliknya (Simanjuntak dan Situmorang, 2010). Waktu kerja harus disesuaikan baik terhadap tuntutan tugas maupun tanggung jawab di luar pekerjaan (Prihatini, 2007).
3) Faktor individu
Faktor individu yang dapat mempengaruhi beban kerja mental yaitu tingkat motivasi, keahlian, kelelahan, dan kejenuhan. Tingkat intensitas beban kerja fisik yang terlampau tinggi memungkinkan pemakaian energi yang berlebihan.
Sebaliknya, tingkat intensitas beban mental yang terlampau
commit to user
tinggi menimbulkan kebosanan dan kejenuhan yang disebut dengan kelelahan psikis (Simanjuntak dan Situmorang, 2010).
c. Dampak Beban Kerja Mental
Beban kerja mental yang tinggi dapat diasumsikan sebagai beban pada proses di dalam sistem saraf pusat. Beban ini dapat mempengaruhi aktivitas atau kerja dari sistem saraf pusat itu sendiri (Ursan & Ursan dalam Hancock & Meshkati, 2011). Sistem saraf pusat akan memicu rangsangan sistem saraf otonom untuk mengirim pesan biokomia kepada berbagai sistem tubuh. Saraf parasimpatik akan tertekan dan saraf simpatik akan aktif kemudian berefek pada organ dan secara tidak langsung merangsang medula adrenal Epinefrin dan Norepinefrin. Bermacam-macam sistem tubuh yang turut bereaksi antara lain sistem kardiovaskular, sistem pernafasan, ketegangan otot, serta memicu perasaan cemas, ketakutan, dan kelelahan mental yang merupakan gejala fisiologi dari stress (Joachim & Vandeput, 2008).
Beban kerja mental yang terlalu tinggi akan menyebabkan pemakaian energi yang berlebihan sehingga memicu terjadinya kelelahan, baik kelelahan fisik maupun mental yang dapat menyebabkan terjadinya overstress (Tarwaka, 2013).
d. Pengukuran Beban Kerja Mental
Metode pengukuran beban kerja mental merupakan pengukuran beban kerja berdasarkan persepsi subjektif responden
commit to user
atau pekerja. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam pengukuran subjektif beban kerja mental (Widyanti et al., 2010):
1) Metode Teknik Pengukuran Beban Kerja Subjektif (Subjective Workload Assessment Technique - SWAT)
Metoda SWAT merupakan multidimensional scale. Dalam model SWAT, performansi kerja manusia terdiri dari tiga dimensi ukuran beban kerja yang dihubungkan dengan performansi, yaitu :
a) Time load atau beban waktu yang menunjukan jumlah waktu yang tersedia dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring tugas
b) Mental effort atau beban usaha mental, yang berarti banyaknya usaha mental dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
c) Psychological stres yang menunjukkan tingkat resiko pekerjaan, kebingungan, dan frustasi.
2) Metode dengan menggunakan Indeks Bahan Tugas dari National Aeronautics & Space Administration - NASA Task Load Index – TLX.
Langkah pengukuran beban kerja mental dengan menggunakan NASA TLX adalah sebagai berikut (Meshkati &
Hancock, 2011):
commit to user a) Pembobotan.
Responden diminta untuk membandingkan dua dimensi yang berbeda dengan metode perbandingan berpasangan.
Total perbandingan berpasangan untuk keseluruhan dimensi (6 dimensi) yaitu 15 perbandingan. Jumlah perhitungan untuk masing-masing dimensi inilah yang akan menjadi bobot dimensi.
Tabel 2. Tabel Pembobotan Berpasangan
No. 1 2
1 PD MD
2 TD MD
3 OP MD
4 FR MD
5 EF MD
6 TD PD
7 OP PD
8 FR PD
9 EF PD
10 TD OP
11 TD FR
12 TD EF
13 OP FR
14 OP EF
15 EF FR
Sumber : Meshkati & Hancock, 2011
Penjelasan indikator NASA-TLX yang akan diukur adalah sebagai berikut:
commit to user
Tabel 3. Indikator Metode NASA-TLX Skala Rating Keterangan Mental
Demand (MD)
Rendah, Tinggi
Seberapa besar aktivitas mental dan perceptual yang dituntut oleh pekerjaan ini dalam hal melihat, mengingat, mencari. Apakah pekerjaan tersebut mudah atau sulit, sederhana atau kompleks, pekerjaan tersebut pesti atau penuh toleransi.
Physical Demand (PD)
Rendah, Tinggi
Seberapa besar aktifitas fisik yang dituntut oleh pekerjaan ini (seperti mendorong, menarik, mengontrol putaran, dan lain-lain), apakah pekerjaan tersebut berat atau ringan, lambat atau cepat, cukup istirahat atauh tidak.
Temporal Demand (TD)
Rendah, Tinggi
Jumlah tekanan yang berkaitan dengan waktu yang dirasakan selama elemen pekerjaan berlangsung. Apakah pekerjaan perlahan atau cepat melelahkan.
Effort (EF)
Rendah, Tinggi
Seberapa keras usaha secara mental dan fisik yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut Performa
nce
Rendah, Tinggi
Seberapa berhasil anda dalam memenuhi tujuan Sumber : Meshkati & Hancock, 2011
b) Pemberian Rating.
Responden diminta memberikan penilaian/rating terhadap keenam dimensi beban mental. Skor akhir beban mental NASA-TLX diperoleh dengan dijumlahkan dan dibagi 15.
Namun dalam perkembangannya, tahap pembobotan dinilai memiliki banyak kelemahan, sehingga dalam berbagai
commit to user
penelitian terakhir penggunaan NASA-TLX hanya dengan memberi nilai pada masing-masing dimensi dan menjumlahkan nilai keseluruhan dimensi dengan hasil yang valid.
c) Menghitung Nilai Produk
Diperoleh dengan mengalikan rating dengan bobot faktor untuk masing-masing deskriptor. Dengan demikian dihasilkan 6 nilai produk untuk 6 indikator (MD, PD, TD, CE, FR, EF).
Produk = rating x bobot factor
d) Menghitung Menghitung Weighted Workload (WWL) Diperoleh dengan menjumlahkan keenam nilai produk.
Skor WWL = ∑ Produk
15
Hasil skor tersebut dibandingkan dengan tabel berikut ini:
Tabel 4. Kategori Penilaian Beban Kerja No. Range WWL Beban Kerja
1. 0 – 9 Rendah
2. 10 – 29 Sedang
3. 30 – 49 Agak Tinggi
4. 50 – 79 Tinggi
5. 80 – 100 Sangat Tinggi Sumber : Hart dan Staveland dalam Hart (2006)
3) Metode dengan menggunakan skala rating/skor dari pekerjaan mental (Rating Scale Mental Effort - RSME)
Rating scale mental effort (RSME) merupakan metode pengukuran beban kerja subyektif dengan skala tunggal yang
commit to user
dikembangkan oleh Zijlstra dkk. Responden diminta untuk memberikan tanda pada skala 0-150 dengan deskripsi pada beberapa titik acuan (anchor point) (Widyanti et al., 2010).
4) Metode dengan menggunakan skala Cooper-Harper yang dimodifikasi (Modified Cooper-Harper scale).
5) Metode dengan menggunakan penilaian diri secara instam (Instaneous Self Assessment - ISA).
6) Metode dengan menggunakan skala beban kerja yang dikembangkan oleh The Defemce Research Agency (DRA Workload Scales - DRAWS).
7) Metode penilaian terhadap tingkat ketelitian, kecepatan maupun konstansi kerja dengan ''Bourdon Wierma Test''.
Metode pengukuran beban mental yang paling banyak digunakan dan terbukti memberikan hasil yang cukup baik adalah NASA-TLX dengan kelebihan (Meshkati & Hancock, 2011):
1) Lebih sensitif dari berbagai kondisi.
2) Setiap faktor penilaian mampu memberi sumbangan informasi.
3) Proses penentuan keputusan lebih cepat dan sederhana.
e. Mengendalikan Beban Kerja Mental
Menempatkan seorang tenaga kerja sesuai dengan kemampuannya. Hal ini dikarenakan setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda. Apabila menempatkan seseorang tidak sesuai dengan kemampuannya maka dapat menambah beban kerja
commit to user
yang seseorang dapatkan dan dengan menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuannya maka diharapkan seseorang dapat bekerja lebih maksimal dengan tidak merasa bahwa apa yang sedang dia kerjakan merupakan suatu beban (Suma’mur, 2013).
Meningkatkan daya tahan mental tenaga kerja terhadap stress.
Misalnya dengan latihan yang dibimbing oleh psikolog, meditasi, relaksasi. Meningkatnya ketahanan mental tenaga kerja diharapkan beban kerja yang diakibatkan oleh faktor psikologis dapat ditekan seminimal mungkin (Anies, 2005).
3. Stres Kerja
a. Pengertian Stres Kerja
Tarwaka (2011) menyatakan bahwa stres merupakan tekanan psikologis yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, baik penyakit secara fisik maupun penyakit mental (kejiwaan), dan secara konsep stres dapat didefinisikan menurut variabel kajian stres sebagai stimulus, stres sebagai respon, stres sebagai reaksi antara individu dan lingkungannya.
Robbins dalam Anizar (2012) mengungkapkan terjadinya stres kerja dikarenakan adanya ketidakseimbangan antara karakteristik kepribadian pekerja dengan karakteristik aspek-aspek pekerjaannya dan dapat terjadi pada semua kondisi pekerjaan. Stres kerja adalah suatu kondisi dinamis dimana pekerja dihadapkan pada
commit to user
peluang, tuntutan, atau sumber daya berhubungan dengan apa yang diinginkan oleh pekerja tersebut dan hasilnya tidak pasti dan penting.
Stres kerja timbul karena tuntutan lingkungan dan tanggapan setiap individu dalam menghadapinya dapat berbeda. Masalah Stres kerja di dalam organisasi perusahaan menjadi gejala yang penting diamati sejak mulai timbulnya tuntutan untuk efisien di dalam pekerjaan (Anizar, 2012).
Stres akibat kerja adalah suatu bentuk tanggapan seseorang baik fisik maupun mental terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya merasa terancam (Anoraga, 2009). Sedangkan menurut Health and Safety Executive (2017), stres kerja didefinisikan sebagai respon merugikan yang disebabkan oleh tekanan dan permintaan yang dibebankan kepada seseorang di tempat kerja. Mumpuni dan Wulandari (2010) berpendapat bahwa stres kerja adalah stres yang berasal dari dunia kerja.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa stres kerja adalah segala reaksi tubuh pekerja, baik fisik maupun mental yang disebabkan oleh tekanan dan permintaan yang dibebankan kepada seseorang di tempat kerja serta dirasakan mengganggu dan memberi tekanan secara psikologis, fisiologis, dan sikap individu.
Quick dan Quick dalam Anizar (2012) mengategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu: Eustres atau respons terhadap stres yang
commit to user
bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun) dan Distres atau respons terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak).
b. Faktor-faktor Penyebab Stres Kerja
Health Safety Executive (2017) mengemukakan bahwa terdapat 6 hal yang dapat memicu stress kerja jika tidak dikelola dengan baik. Hal tersebut adalah Demands, Control, Support, Relationships, Role, Change.
1) Faktor Personal a) Usia
Permenakertrans No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan menjelaskan bahwa usia minimal untuk bekerja adalah 18 tahun. Semakin bertambahnya usia seseorang, tuntutan serta tanggungjawab terhadap pekerjaan maupun diri sendiri akan semakin berat sehingga dapat mengakibatkan stres kerja pada seseorang (Mumpuni dan Wulandari, 2010). Menurut Santock dalam Chusairi dan Damanik (2002) menyatakan bahwa usia dewasa madya merupakan masa stres. Batasan usia dewasa madya secara umum adalah 35 – 45 tahun. Meskipun usia madya secara emosi telah stabil, namun akibat penyesuaian diri yang radikal dalam peran dan kehidupan yang berubah-ubah
commit to user
khususnya jika disertai perubahan fisik dapat menimbulkan ketegangan emosional dan stres.
b) Jenis kelamin
Jenis kelamin berpengaruh terhadap stres yang ditimbulkan akibat pekerjaan. Akibat pembangunan nasional banyak wanita yang terlibat dalam dunia kerja. Hal tersebut menimbulkan peran ganda wanita yaitu sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga, sehingga pekerja wanita lebih mudah mengalami stres dari pada pekerja laki-laki (Anoraga, 2009).
c) Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu variabel dalam kondisi invidu yang menyebabkan reaksi stres antara orang yang satu dengan yang lain bervariasi. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, toleransi dan pengontrolan terhadap stresor biasanya lebih baik (Siswanto, 2007).
d) Kepribadian
Individu dengan kepribadian introvert bereaksi lebih negatif dan menderita ketegangan yang lebih besar dari pada individu dengan kepribadian extrovert, pada konflik peran.
Kepribadian yang flexible (orang yang lebih lerbuka terhadap pengaruh dari orang lain sehingga lebih mudah mendapatkan beban yang berlebihan) mengalami
commit to user
ketegangan yang lebih besar dalam situasi konflik, dibandingkan dengan individu dengan kepribadian rigid (Munandar, 2008).
e) Kecakapan
Merupakan variabel yang ikut menentukan stres tidaknya suatu situasi yang sedang dihadapi. Jika seorang pekerja menghadapi masalah yang dirasakan tidak mampu dipecahkan, sedangkan situasi tersebut mempunyai arti panting bagi dirinya, situasi tersebut dirasakan sebagai situasi yang mengancam dirinya sehingga mengalami stres.
Ketidakmampuan menghadapi situasi menimbulkan rasa tidak berdaya. Sebaliknya jika merasa mampu menghadapi situasi orang justru akan merasa ditantang dan motivasinya akan meningkat (Munandar, 2008).
2) Faktor Lingkungan Kerja
a) Kondisi fisik lingkungan kerja
Munandar (2008) menyatakan bahwa lingkungan kerja sangat berperan terhadap stres yang dialami seseorang.
Pajanan faktor fisik di tempat kerja mempunyai pengaruh terhadap kondisi faal dan psikologis diri seorang pekerja.
Faktor fisik yang dapat menjadi pembangkit stres antara lain bising, suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, dan getaran. Menurut Ivenich dan Mattenson yang dikutip
commit to user
dalam Munandar (2008) berpendapat bahwa bising yang berlebih (sekitar 80 dB) yang berulangkali didengar, dapat menimbulkan stres.
b) Beban kerja
Beban kerja yang terlalu berlebih menimbulkan kelelahan baik fisik atau mental dan reaksi-reaksi emosional seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan mudah marah.
Beban kerja dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam beban kerja berlebih/terlalu sedikit kuantitatif timbul sebagai akibat dari tugas-tugas yang terlalu banyak/sedikit diberikan kepada pekerja untuk diselesaikan dalam waktu tertentu, dan beban kerja berlebih/terlalu sedikit kualitatif, yaitu jika orang merasa tidak mampu untuk melakukan suatu tugas, atau tugas tidak menggunakan keterampilan serta potensi dari pekerja. Beban kerja yang berlebih atau rendah dapat menimbulkan stres kerja (Manuaba, 2008). Nurmianto mengungkapkan bahwa terdapat dua jenis beban kerja, yaitu beban kerja fisik dan beban kerja mental atau sosial.
c) Peran Individu dalam Organisasi
Setiap tenaga kerja bekerja sesuai dengan perannya dalam organisasi, artinya setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dan sesuai dengan yang diharapkan
commit to user
oleh atasannya. Namun demikian, tenaga kerja tidak selalu berhasil untuk memainkan perannya tanpa menimbulkan masalah (Hurrel dalam Anizar, 2012). Stres timbul karena ketidakcakapan seseorang untuk memenuhi tuntutan- tuntutan dan berbagai harapan terhadap dirinya (Munandar, 2008).
d) Pengembangan karier
Harrianto (2010) mengemukakan bahwa ancaman dipecat, diturunkan pangkat, dipensiunkan lebih dini karena sakit, ada hambatan untuk promosi, atau mendapatkan promosi untuk pekerjaan yang tidak disukai, dapat menimbulkan kecemasan sangat hebat serta mengakibatkan stres.
e) Hubungan dalam pekerjaan
Hubungan komunikasi yang tidak jelas antara pekerja satu dengan pekerja lainnya dapat menyebabkan komunikasi tidak sehat, sehingga pemenuhan kebutuhan dalam organisasi terutama yang berkaitan dengan kehidupan sosial menghambat perkembangan sikap dan pemikiran antara pekerja yang satu dengan pekerja lainnya (Robbins dalam Anizar, 2012). Munandar (2008) menyatakan bahwa hubungan yang tidak baik antar anggota organisasi kerja merupakan faktor pembangkit stres di tempat kerja.
f) Organisasi tempat kerja
commit to user
Komunikasi yang tidak berjalan dengan baik antara atasan dengan bawahan dapat mendorong timbulnya stres. Hal tersebut dapat terjadi karena komunikasi yang buruk menimbulkan perasaan ketidakpuasan, kurangnya penghargaan, konflik rantai komando, serta konflik perbedaan tuntutan para pekerja pada manajemen dapat menimbulkan konflik dengan teman sekerja (Harrianto, 2010).
g) Tuntutan dari luar organisasi
Isu-isu tentang keluarga, krisis kehidupan, kesulitan keuangan, keyakinan-keyakinan pribadi dan organisasi yang bertentangan, serta konflik antara tuntutan keluarga dan tuntutan perusahaan, dapat memberi tekanan pada individu dalam pekerjaannya sehingga individu mengalami stres yang berdampak negatif bagi pekerjaan serta kehidupan pribadi individu (Anizar, 2012). Stephen P. Robbins dan Thimothy A. Judge dalam Triatna (2015) menyatakan seorang pekerja yang telah menikah mempunyai beban yang lebih banyak daripada seseorang pekerja yang masih lajang, pekerja yang telah menikah mempunyai masalah dalam keluarganya seperti masalah ekonomi, masalah dengan istri dan anak yang pada akhirnya akan menjadi sumber stres
commit to user
kerja bagi para pekerja dan akan mengganggu konsentrasi mereka terhadap pekerjaannya.
c. Dampak Stres Kerja
Pengaruh stres kerja ada yang menguntungkan maupun merugikan bagi perusahaan. Namun, pada taraf tertentu pengaruh yang menguntungkan perusahaan diharapkan akan memacu pekerja untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Reaksi terhadap stres dapat merupakan reaksi bersifat psikis maupun fisik.
Biasanya pekerja atau pekerja yang stres akan menunjukkan perubahan perilaku. Perubahan perilaku terjadi pada diri manusia sebagai usaha mengatasi stres. Usaha mengatasi stres dapat berupa perilaku melawan stres (flight) atau freeze (berdiam diri). Menurut Margiati dalam Anizar (2012) gejala-gejala individu yang mengalami stres antara lain: bekerja melewati batas kemampuan, keterlambatan masuk kerja yang sering, ketidakhadiran pekerjaan, kesulitan membuat keputusan, kesalahan yang sembrono, kelalaian menyelesaikan pekerjaan, lupa akan janji yang telah dibuat dan kegagalan diri sendiri, kesulitan berhubungan dengan orang lain, kerisauan tentang kesalahan yang dibuat, menunjukkan gejala fisik seperti pada alat pencernaan, tekanan darah tinggi, radang kulit, radang pernapasan.
Menurut Rice dalam Waluyo (2013) pada umumnya stres kerja lebih banyak merugikan diri karyawan maupun perusahaan.
commit to user
Pada diri karyawan, konsekuensi tersebut dapat berupa menurunnya gairah kerja, kecemasan yang tinggi, frustasi, dan sebagainya.
Sedangkan menurut Arnold dalam Waluyo (2013) menyebutkan bahwa ada empat konsekuensi yang dapat terjadi akibat stres kerja yang dialami oleh individu, yaitu terganggunya kesehatan fisik, kesehatan psikologis, performance, serta mempengaruhi individu dalam pengambilan keputusan.
Bagi perusahaan, konsekuensi yang timbul dan bersifat tidak langsung adalah meningkatnya tingkat absensi, menurunnya tingkat prduktivitas, dan secara psikologis dapat menurunkan komitmen organisasi, memicu perasaan teralienasi, hingga turnover (Waluyo, 2013).
d. Pengukuran Stres Kerja
Terdapat beberapa cara pengukuran stres, diantaranya adalah Performance Measure, Biomechanical Measure, dan Self Report Measure. Performance measure, merupakan metode pengukuran stres dengan melihat atau mengobservasi perubahan-perubahan perilaku yang ditampilkan seseorang. Biomechanical measure, merupakan metode pengukuran stres dengan melihat respon biokimia, di dalam darah dan urin. Pemeriksaan terhadap sejumlah hormon dapat juga dipakai sebagai indikator adanya stres, sperti neuhormonal (adrenalin dan noradrenalin), kortisol dan sebagainya.
Self report measure, merupakan metode pengukuran stres yang
commit to user
ditujukan untuk mengetahui keluhan-keluhan subyektif yang dirasakan pekerja dengan cara wawancara atau kuesioner (National Safety Council, 2004).
Metode pengukuran Self report measure dapat menggunakan Kuesioner Penilaian Stres Akibat Kerja dari Health and Safety Executive (HSE) dengan metode skoring. Pengisian kuesioner dilakukan dengan 5 skala likert (tidak pernah, jarang, agak sering, sering, dan selalu) dari 35 daftar pertanyaan (Health and Safety Executive, 2003).
Tabel 5. Klasifikasi Tingkat Stres Kerja Berdasarkan Total Skor Individu
No Total Skor Stres Individu Tingkat Stres
1 140 – 175 Rendah
2 105 – 139 Sedang
3 70 – 104 Tinggi
4 35 – 69 Sangat Tinggi
Sumber : Health and Safety Executive (2003) dalam Tarwaka (2013) e. Manajemen Stres Kerja
Robbins dalam Anizar (2012) mengemukakan dua pendekatan untuk menangani stres, yaitu:
1) Pendekatan Individual
Strategi individu yang telah terbukti efektif mencakup:
a) Teknik manajemen waktu
(1) Membuat daftar harian dari kegiatan yang akan di selesaikan.
commit to user
(2) Memprioritaskan kegiatan menurut kepentingan dan kebutuhannya.
(3) Menjadwalkan kegiatan menurut peringkat prioritas.
(4) Mengetahui siklus harian dan menangani bagian yang paling menuntut dari pekerjaan.
b) Meningkatkan latihan fisik nonkompetitif seperti aerobik, berjalan, joging, berenang, dan bersepeda.
c) Pelatihan pengenduran ketegangan dengan cara meditasi, yoga, hipnotis, dan biofeedback.
d) Memperluas jaringan dengan memperbanyak sahabat dan kenalan.
2) Pendekatan Organisasi
Beberapa faktor yang menyebabkan stres (terutama tuntutan tugas dan peran, serta struktur organisasi) dikendalikan oleh manajemen, sehingga faktor-faktor tersebut dapat diubah atau dimodifikasi. Strategi yang mungkin diinginkan oleh manajemen untuk dipertimbangkan antara lain:
a) Perbaikan seleksi personil dan penempatan b) Penggunaan penetapan tujuan yang realistis c) Perancangan ulang pekerjaan
d) Peningkatan keterlibatan pegawai e) Perbaikan komunikasi organisasi
f) Penegakan program kesejahteraan korporasi
commit to user
4. Hubungan Beban Kerja Fisik dan Beban Kerja Mental dengan Stres Kerja
Beban kerja yang terlalu berlebih menimbulkan kelelahan baik fisik atau mental dan reaksi-reaksi emosional seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan mudah marah. Sedangkan pekerjaan yang terlalu sedikit dimana pekerjaan yang terjadi kerena pengulangan gerak akan menimbulkan kebosanan dan rasa monoton. Kebosanan dalam kerja rutin sehari-hari mengakibatkan kurangnya perhatian pada pekerjaan sehingga secara potensial membahayakan pekerja. Beban kerja yang berlebih atau rendah dapat menimbulkan stres kerja (Manuaba, 2008).
Beban kerja fisik yang tinggi sering membuat tarikan napas menjadi pendek sehingga asupan oksigen ke otak berkurang. Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbon dioksida dari seluruh tubuh mengalir melalui 2 vena cava menuju ke arteri kanan dan dipompa melalui katup pulmer ke dalam arteri pulmonalis menuju paru-paru.
Darah yang mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru menyerap oksigen dan melepaskan karbon dioksida. Kekurangan asupan oksigen tersebut menyebabkan tubuh merespon melalui sistem saraf pusat dan denyut jantung meningkat, maka timbul gejala stres (Ganong, 2002).
Oleh karena suplai oksigen tidak mencukupi, maka asam laktat diproduksi di sel otot. Akumulasi asam laktat dalam otot dapat mengurangi kapasitas kerja otot yang selanjutnya akan menyebabkan
commit to user
suatu kondisi yang disebut kelelahan. Kelelahan yang terus menerus terjadi setiap hari akan berakibat terjadinya kelelahan yang kronis.
Gejala-gejala psikis ditandai dengan perbuatan-perbuatan anti sosial dan perasaan tidak cocok dengan sekitarnya, sering depresi, kurangnya tenaga serta kehilangan inisiatif (Suma’mur, 2013). Jadi ada hubungan saling keterkaitan antara kelelahan dengan munculnya stres akibat kerja.
Beban kerja mental yang tinggi dapat diasumsikan sebagai beban pada proses di dalam sistem saraf pusat. Beban ini dapat mempengaruhi aktivitas atau kerja dari sistem saraf pusat itu sendiri Ursan & Ursan dalam Hancock & Meshkati (2011). Sistem saraf pusat akan memicu rangsangan sistem saraf otonom untuk mengirim pesan biokomia kepada berbagai sistem tubuh. Saraf parasimpatik akan tertekan dan saraf simpatik akan aktif kemudian berefek pada organ dan secara tidak langsung merangsang medula adrenal Epinefrin dan Norepinefrin.
Bermacam-macam sistem tubuh yang turut bereaksi antara lain sistem kardiovaskular, sistem pernafasan, ketegangan otot, serta memicu perasaan cemas, ketakutan, dan kelelahan mental yang merupakan gejala fisiologi dari stress (Joachim & Vandeput, 2008).
Beban kerja mental yang terlalu tinggi akan menyebabkan pemakaian energi yang berlebihan sehingga memicu terjadinya kelelahan, baik kelelahan fisik maupun mental yang dapat menyebabkan terjadinya overstress (Tarwaka, 2013).
commit to user B. Kerangka Pemikiran
Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian Keterangan:
: diteliti : tidak diteliti
Beban Kerja Mental Berlebih
Impuls saraf pusat
Stres Kerja Faktor internal:
- Usia
- Jenis kelamin - Tingkat
pendidikan - Kepribadian - Kecakapan
Saraf otonom merangsang medula
adrenalin
Timbul reaksi sistem tubuh dan reaksi
emosional
Kelelahan mental Tarikan napas
pendek
Asupan O2 ke otak berkurang
Kelelahan fisik Denyut jatung
meningkat
Faktor lingkungan kerja:
- Lingkungan fisik (Kebisingan dan Iklim kerja) - Peran individu
dalam organisasi - Organisasi
tempat kerja - Pengembangan
karir
- Hubungan dalam pekerjaan - Tuntutan dari Beban Kerja Fisik
Berlebih
- Jenis aktivitas dan situasi kerja - Waktu
penyelesaian yang tersedia - Faktor individu - Tuntutan tugas
- Organisasi kerja - Lingkunga kerja
commit to user C. Hipotesis
Terdapat hubungan antara beban kerja fisik dan beban kerja mental dengan stres kerja pada pekerja bagian Loom unit Weaving PT Kusumahadi Santosa.