• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEKUTUAN ALUMNI STFT JAKARTA (PASTIJA) NTT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERSEKUTUAN ALUMNI STFT JAKARTA (PASTIJA) NTT"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

HP/WA: 081236668800, 0811-382-643. E-mail: [email protected]

TERM OF REFERENCE WEBINAR MASA RAYA NATAL:

MENGKREASIKAN LITURGI (NATAL) INTERGENERASI DI MASA PANDEMI

Pengantar

Pandemi Covid-19 berdampak pada semua aspek kehidupan, termasuk kehidupan persekutuan gereja. Menghadapi situasi krisis ini, gereja harus mampu beradaptasi secara positif dengan situasi dan tuntutan kehidupan normal baru yang juga dapat menghidupkan iman dan spiritualitas keseharian jemaat. Krisis pandemic covid-19 seharusnya membuka ruang berpikir dan bertindak kreatif, agar kehidupan persekutuan jemaat di segala lini tetap bertumbuh dan hidup dalam segala kerentanannya. Ibadah merupakan ruang perjumpaan jemaat bersama Allah yang mereka Imani. Dalam ibadah, jemaat datang dari berbagai latar belakang keluarga, pendidikan, budaya dan generasi yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, pelayanan liturgis gereja terus dituntut untuk menemukan bentuknya yang baru sehingga menyentuh seluruh lapisan jemaat serta menghidupkan spiritualitas Kristen yang adaptif dan produktif di masa pandemi.

Pergumulan gereja-gerja untuk melaksanakan ibadah Natal di tahun 2021 menjadi tantangan tersendiri karena situasi pandemi covid yang masih berlangsung dan gereja harus berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penyebaran virus corona. Tetapi pada saat yang sama kita harus mengingat bahwa praktik dan ekspresi ibadah gereja selama ini cenderung hanya memenuhi kebutuhan spiritual jemaat dewasa, namun mengabaikan generasi yang lainnya. Padahal senyatanya ada multi generasi di dalam gereja dan karenanya perlu memberi tempat untuk partisipasi maupun relasi antar generasi tersebut. Kemasan ibadah Natal intergenerasi yang kreatif dan menarik menjadi kebutuhan bersama saat ini. Upaya menemukan bentuk ibadah Natal integenerasi pada masa pandemic memerlukan usaha lebih dan keterlibatan semua unsur dengan kapasitas dan kapabilitasnya masing-masing, baik pendeta, pengerja gereja, guru sekolah minggu, unit pembantu pelayanan (UPP) atau komisi/tim liturgi dan musik gereja, dll. Ibadah Natal Intergenerasi memerlukan proses sharing

(3)

knowledge dan referensi-referensi dari praktik ibadah-ibadah gereja yang sudah dijalankan sehingga ibadah bisa menjadi ruang perjumpaan personal maupun komunal jemaat yang dapat dihayati oleh seluruh generasi. Untuk menjawab kebutuhan ini, Persektuan Alumni STFT Jakarta (PASTIJA) wilayah NTT akan mengadakan Webinar bertajuk MENGKREASIKAN LITURGI (NATAL) INTERGENERASI DI MASA PANDEMI.

Tujuan:

1. Membekali para pelayan liturgi tentang Liturgi Intergenerasi.

2. Merancang liturgi Natal Intergenerasi dalam konteks ibadah umat di masa pandemi, 3. Para pelayan liturgi mampu mengembangkan Liturgi Natal dan Liturgi Minggu

intergenerasi di tiap-tiap jemaatnya.

Waktu:

Hari/Tanggal : Rabu, 08 Desember 2021 Pukul : 14.00 - 16.00

Pembicara:

Nama Tema

Pdt. Dr. Rasid Rachman, M.Th (Dosen STFT Jakarta)

Mengenal dan Memahami Liturgi Intergenerasi dalam Perspektif Historis Biblis dan relevansinya di masa Pandemi.

Pdt. Daud C. Naibaho, M.Th (Pdt GKI Kepa Duri, Jakarta)

Merancang Liturgi Natal Intergenerasi di masa Pandemi.

Pdt. Jenny Missa, M.Sn (Pdt GMIT Elim Dadibira, Klasis Alor Barat Laut)

Panduan Praktis Menarikan Liturgi dalam ibadah Natal Intergenerasi.

(4)

IBADAH INTERGENERASIONAL WACANA GEREJA MASA KINI

Rasid Rachman

(Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta)

Pendahuluan

Wacana ibadah intergenerasional bergulir di gereja-gereja Indonesia sekitar sepuluh hingga lima tahun terakhir ini. Yang dimaksud ibadah intergenerasional adalah beribadah bersama dan berinteraksi dengan semua generasi. Generasi di sini menyasar teori

generasional (generational theory) sebagaimana dikemukakan, antara lain, oleh Karl Mannheim dan Morris Massey, berdasarkan keterlahiran.1Teori generasional berbeda dengan teori perkembangan menurut, antara lain: Lawrence Kohlberg, James Fowler, dan Jean Piaget, yang berdasarkan pertambahan usia. Teori generasional melihat bahwa “gen”

seseorang tidak berubah seumur hidupnya. Sedangkan teori perkembangan melihat bahwa sifat, kondisi, dan kebutuhan seseorang berubah seiring pertambahan usia.

Intergenerasional dibawa masuk ke dalam praktik ibadah dewasa ini, karena dianggap sangat berkaitan.

Konsep ibadah intergenerasional berbeda dengan ibadah multigenerasional. Ibadah intergenerasional, sebagaimana dikemukakan oleh Jane Rogers Vann, pada intinya

mengaksikan dan menginteraksikan setiap generasi dalam peribadahan. Setiap orang atau generasi berkontribusi sebelum, pada waktu, dan setelah peribadahan.2Sedangkan ibadah multigenerasional, yang telah ada sejak dahulu, merupakan kumpulan setiap usia, atau generasi juga, namun tidak saling berinteraksi.

1 Graeme Codrington, “Detailed Introduction to Generational Theory” https://workspacedesigncoza.

files.wordpress.com/2017/04/tomorrowtoday_detailed_intro_to_generations.pdf (diakses 4 Desember 2021).

2 Jane Rogers Vann, “Foreword”, dalam The Church of All Ages: Generations Worshiping Together, Howard Vanderwell, editor (Herndon: the Alban Institute, 2008), xiii (xiii-xvi).

(5)

WEBINAR MASA RAYA NATAL: MENGKREASIKAN LITURGI (NATAL) INTERGENERASI DI MASA PANDEMI PERSEKUTUAN ALUMNI STFT JAKARTA (PASTIJA) NTT Sekretariat: Pastori Jemaat Maranatha Oebufu Jl. Amabi No.9 Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang– NTT, 85111, E-mail:[email protected] Rabu, 08 Desember 2021, pukul 14.00 - 16.00 wita.

- 2 -

Interaksi setiap generasi dalam ibadah intergenerasional terjadi di dalam persiapan ibadah, perayaan ibadah, dan setelah ibadah. Oleh karenanya, ibadah intergenerasional bukan hanya kebutuhan bagi GMIT dan Gereja-gereja Protestan di Indonesia masa kini, tetapi juga keniscayaan peribadahan. Niscaya, sebab kualitas hidup manusia semakin baik, umur manusia semakin panjang, dan perpindahan manusia zaman ini semakin gesit, menyebabkan perjumpaan rentang-lebar usia umat beribadah semakin lazim terjadi.3

Makalah ini merupakan perkenalan akan ibadah intergenerasional. Untuk

memperlihatkan bahwa ibadah intergenerasional merupakan kebutuhan bagi GMIT dan Gereja-gereja Protestan di Indonesia masa kini, saya akan mengupasnya menurut perspektif historis biblis dan relevansinya di masa pandemi. Paparan saya hanya teoritis dan

merupakan pengantar, sedangkan hal-hal praktis akan disampaikan oleh Pdt. Daud C.

Naibaho (merancang ibadah intergenerasional) dan Pdt. Jenny A. Missa (memandu tari ibadah intergenerasional).

Ibadah intergenerasional menurut Alkitab dan sejarah

Umumnya, kehidupan masyarakat zaman penulisan Alkitab (tiga ribu tahun lalu – 1900 tahun lalu) dan sebelumnya tidak memasukkan anak, pemuda, dan perempuan dalam ibadah. Lebih daripada itu, alih-alih jemaat, seluruh penyelenggaraan ibadah baik komunal maupun personal, diatur dan dijalankan oleh imam atau suku Lewi (bdk. 1Taw. 23:4-5; 25 – 26). Sekitar abad pertama, ibadah Yahudi menurut Norman Solomon dipimpin oleh rabi dan orang-orang terlatih (bdk. Luk. 4:17-21).4

Baru pada abad ketiga di gereja, menurut Andrew McGowan berdasarkan Apostolic Tradition, ada kolaborasi anak dan para gadis (maksudnya: laki dan perempuan?) bersama para Diakon menyanyikan Mazmur-mazmur sebagai nyanyian jemaat setelah komuni.5 Umat tidak bernyanyi. Nyanyian menjelang pembacaan Alkitab dinyanyikan oleh pembaca Alkitab, bukan umat atau sekelompok non-imam. Pembaca Alkitab atau lektor adalah

3Howard Vanderwell, “A New Issue for a New Day”, dalam The Church of All Ages: Generations Worshiping Together, Howard Vanderwell, editor (Herndon: the Alban Institute, 2008), 2-3 (1-15).

4J.G. Davies, ed., The New Westminster Dictionary of Liturgy and Worship (Philadelphia: The Westminster Press, 1986), s.v. “Jewish Worship” (Norman Solomon).

5 Andrew B. McGowan, Ancient Christian Worship: Early Church Pratices in Social, Historical, and Theological Perspective (Grand Rapids: Baker Academic, 2014), 118-119.

(6)

imam.6Canon (buku ibadah) Laodekia abad keempat, menurut catatan McGowan, melarang umat (idiōtikoi) bermazmur dalam ibadah.7

Rasanya tidak ada contoh ibadah di Alkitab dan pada zaman penulisan Alkitab yang memperlihatkan liturgi intergenerasional. Semua untuk liturgi: doa, nyanyi, Mazmur- mazmur, pembacaan Alkitab, membawa Alkitab, dilakukan oleh kelompok klerus. Kecuali, McGowan mencatat tiga hal, yaitu: ibadah monastik, Gereja Syria, dan tari liturgi.

Ibadah harian di monastik, para rahib/rubiah mendoakan Mazmur-mazmur sebagai

“nyanyian jemaat”.8Umat beribadah dalam Gereja Syria melantunkan narasi liturgis, menyanyikan nyanyian jemaat, baik perempuan maupun lelaki secara terpisah tempat duduk, ketika perjamuan dan ibadah harian.9McGowan mencatat kitab Kisah Yohanes 94 (the Act of John) pada akhir abad kedua mengisahkan Yesus mencuci kaki para murid pada perjamuan. Sekalipun tak eksplisit tertulis perihal tari, namun tertulis bahwa Yesus

meminta umat membentuk lingkaran sambil berpegangan, Yesus berdiri di tengahnya, dan berkata: “Jawablah ‘Amin’ kepada-Ku.” Kemudian Yesus bernyanyi. Tari, menunjukkan keterlibatan tubuh dalam ruang batin.10Catatan-catatan ini dan catatan lebih lengkap oleh McGowan mengindikasikan bahwa telah ada keterlibatan umat dalam ibadah kekristenan masa awal. Walaupun tidak eksplisit penyebutan ibadah intergenerasional, namun nyanyi, Mazmur, dan tari melibatkan umat secara intergeneratif.

Tantangan bagi gereja adalah ini. Jika ada tari untuk ritus mencuci kaki [Kamis Putih (Yoh. 13)], maka umat berkebutuhan khusus dapat melantunkan perkunjungan Malaikat Gabriel kepada Maria (Luk. 1:26-38) pada Minggu Adven. Lansia, dewasa, pemuda, dan anak dapat menarikan perkunjungan gembala ke Bayi Yesus (Luk. 2:8-20) pada 24

Desember. Para disabilitas dan orang terluka menarikan persembahan para majus kepada Yesus (Mat.2:1-12) pada 6 Januari. Intinya, nyanyi liturgi atau nyanyian jemaat, Mazmur, dan tari liturgi adalah peluang gereja menerapkan ibadah intergenerasional.

6McGowan, 119.

7McGowan, 121.

8McGowan, 125.

9McGowan, 127-128.

10McGowan, 128-129.

(7)

WEBINAR MASA RAYA NATAL: MENGKREASIKAN LITURGI (NATAL) INTERGENERASI DI MASA PANDEMI PERSEKUTUAN ALUMNI STFT JAKARTA (PASTIJA) NTT Sekretariat: Pastori Jemaat Maranatha Oebufu Jl. Amabi No.9 Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang– NTT, 85111, E-mail:[email protected] Rabu, 08 Desember 2021, pukul 14.00 - 16.00 wita.

- 4 -

Dasar teologi ibadah intergenerasional

Contoh-contoh tersebut di atas, bagaimana pun, berbeda dengan konsep ibadah intergenerasional, yakni mengolaborasikan semua generasi sebagai petugas, perancang, dan pemimpin ibadah.11Agar memadai dalam mengusung dasar teologis ibadah

intergenerasional, maka saya mewacanakan lima hal seturut Howard Vanderwell sebagaimana dikutip Daud Naibaho, yaitu:

(1) Kesatuan/keesaan gereja (the Unity of the Church) adalah hal esensial yang harus dijaga. Tanpa diminta, Yesus mendoakan hal ini (Yoh. 17:21-23 “Ut omnes unum sint”; bdk. 1Kor. 12:12; Rm. 12:5; Ef. 4:3-6). Gereja memproklamasikan pula dalam PI Rasuli “Aku percaya gereja yang kudus dan katolik/am.” Keberagaman

menggambarkan kesatuan/keesaan gereja.Panggilan gereja adalah menjaga dan memeliharanya.12

(2) Pola ibadah (The Pattern of Worship). Memberperankan keberagaman umat Allah (bdk. Ul. 29:10-11; 2Taw. 20:13; Neh. 8:3), bukan hanya generasi, telah ada dalam budaya masyarakat zaman Alkitab. Mengadopsi narasi keberbagaian generasi berperan dalam festival rakyat (misal Kel. 12 – 13:16),13gereja dapat

mengadaptasinya menjadi dasar ibadah intergenerasional. Tanpa adaptasi, maka acuan perikop tersebut tak-bunyi sebagai dasar ibadah intergenerasional.

(3) Komunitas umat perjanjian (A Covenant Community). Perjanjian Allah kepada Abram adalah bagi keturunan “pewaris iman” Abraham (Kej. 17; Jl. 2:28-29).

Pewarisan iman disimbolkan dalam ritus baptisan atas umat (Mrk. 10:13-16; Mat.

28:19; Kis. 2:38-39; bdk. Kis. 16:15, 31-34; 1Kor. 1:16).14Gereja merayakan baptisan secara liturgis.

(4) Pembentukan karakter (Formation of Character). Sebagaimana Israel menanamkan nilai kehidupan kepada anak-anak dengan narasi-narasi melalui percakapan, pengajaran, kerja, dan aktivitas keseharian (Ul. 6:6-9; Mzm. 78; bdk. 1Tim. 5:1-2;

11Bdk. Vann, xiv-xv.

12Howard Vanderwell, “Biblical Values to Shape the Congregation,” dalam The Church of All Ages: Generations Worshiping Together, Howard Vanderwell, editor (Herndon: the Alban Institute, 2008), 19:20 (17-34).

13Vanderwell, 21-22.

14Vanderwell, 22-24.

(8)

Tit. 2).15Sumber masalah terhambatnya pembaruan liturgi adalah pola pikir atau stereotype,16stigmatisasi. Nas-nas tersebut memperjelas bahwa pola pikir

keterbukaan dan keberterimaan merupakan pembentukan sengaja dan sesehari sejak kanak-kanak.

(5) Kesinambungan komunitas (A Continuing Community). Gereja telah-sedang-akan bergulir sepanjang masa (Kis. 1:8).17Gereja-gereja (di) Indonesia, termasuk GMIT, perlu menyadari panggilan, peran, dan tanggungjawabnya di bumi bhinneka tunggal ika bukan hanya hidup di masa lalu, tetapi juga kini dan seterusnya.

Sekalipun tidak tersedia contoh praktis ibadah intergenerasional di Alkitab, namun Alkitab menyediakan landasan teologi. Poin-poin ini, setidaknya dapat menjadi dasar penyelenggara (kelak) ibadah intergenerasional yang dimulai dari bahan nyanyi, Mazmur, dan tari atau gestur.

Historisitas ibadah intergenerasional

Secara konsepsional, ibadah intergenerasional adalah hal baru. Namun, percikan benih ibadah intergenerasional telah saya uraian di atas. Konsep ibadah intergenerasional bukanlah gaya beribadah yang telah muncul sejak lama dalam sejarah gereja. Gereja sudah lama, di Indonesia bahkan sejak awal, beribadah secara multigenerasional atau multi generasi. Atau, berdasarkan Vann, ibadah konvensional, yakni “clergy-centered, verbal/textual, limited in form, and seek to maintain the status quo”.18

Di Amerika, ibadah intergenerasional baru mewacana sekitar tahun 1980-an, setelah pemisahan anak dari ruang “dewasa” pada 1960-an.19Di Indonesia, ibadah

intergenerasional mulai 2010-an. Daud Naibaho mencatat bahwa GKI, salah satu Gereja di Pulau Jawa dengan 230-an Jemaat, misalnya, baru mencanangkan ibadah intergenerasional

15Vanderwell, 24-27.

16Bdk. Vanderwell, 30.

17Vanderwell, 27-28.

18Vann, xiv.

19Daud Chevi Naibaho, “Liturgi Intergenerasional: Upaya Menyediakan ’Rumah’ bagi Semua Generasi dalam Liturgi Minggu di Jemaat GKI Kepa Duri (Tesis M.Th. Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta, 2020), 2; bdk.

Howard Vanderwell, “Preface”, dalam The Church of All Ages: Generations Worshiping Together, Howard Vanderwell, editor (Herndon: the Alban Institute, 2008), xviii (xvii-xxii); Vanderwell, 10.

(9)

WEBINAR MASA RAYA NATAL: MENGKREASIKAN LITURGI (NATAL) INTERGENERASI DI MASA PANDEMI PERSEKUTUAN ALUMNI STFT JAKARTA (PASTIJA) NTT Sekretariat: Pastori Jemaat Maranatha Oebufu Jl. Amabi No.9 Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang– NTT, 85111, E-mail:[email protected] Rabu, 08 Desember 2021, pukul 14.00 - 16.00 wita.

- 6 -

pada 2019.20Sebagaimana umat Israel dan kekristenan awal, gereja tidak melibatkan secara interaktif, konsisten, dan biasa keberbagaian generasi dalam setiap ibadah.21

Walaupun praktik ibadah intergenerasional tidak sama sekali baru dalam sejarah, beberapa gereja masih gamang mempercakapkan konsep ibadah intergenerasional merupakan jenis, metode, atau karakter.

Ibadah intergenerasional bagi Gereja di Indonesia

Rentang-lebar usia sebagai hasil membaiknya kualitas hidup merupakan keniscayaan ibadah intergenerasional. Bagaimana kualitas hidup manusia Indonesia?

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2018 menurut Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa:

(1) sisi kesehatan. Bayi yang lahir pada 2018 memiliki harapan mencapai umur 71,20 tahun; lebih lama 0,14 tahun daripada yang lahir tahun 2017.

(2) sisi pendidikan. Anak yang pada 2018 berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 12,91 tahun (Diploma I); lebih lama 0,06 tahun dibandingkan 2017.

(3) sisi pemenuhan kebutuhan hidup. Masyarakat Indonesia pada 2018 memenuhi kebutuhan hidup dengan rata-rata pengeluaran per kapita atau per orang setiap tahunnya tercatat sebesar Rp 11,06 juta. Angka ini meningkat Rp 395.000

dibandingkan pengeluaran tahun 2017.

Adapun secara umum, indeks pembangunan manusia Indonesia terus mengalami kemajuan selama periode 2010 hingga 2018. IPM Indonesia meningkat dari 66,53 pada 2010 menjadi 71,39 pada 2018. Selama periode tersebut, IPM

Indonesia meningkat dari level sedang menjadi tinggi terhitung mulai tahun 2016.22

Perbaikan kondisi manusia Indonesia berdampak ke gereja. Dampaknya bukan hanya pertambahan jumlah umat dalam satu Gereja, tetapi juga bertemunya keberagaman

20Naibaho, 44.

21Bdk. Vanderwell, “A New Issue,” 2.

22 Eduardo Simorangkir – detikFinance, “Data BPS: Kualitas Hidup Orang Indonesia Meningkat,”

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4511183/data-bps-kualitas-hidup-orang-indonesia- meningkat(diakses 4 Desember 2021).

(10)

generasi umat. Intinya, ibadah intergenerasional adalah keniscayaan zaman kini dan masa depan gereja.

Tampilan ibadah intergenerasional adalah bahwa setiap orang menurut usia dan generasi dipandang berperan setara dalam pelayanan ibadah. Namun, keterbukaan dan keberterimaan mengusung konsekuensi praktis. Ketiga hal ini, menurut hemat saya, merupakan konsekuensi:

Pertama, gereja berani mengubah konsep keindahan dan khidmat secara baru. Iringan musik menjadi indah (juga) sekalipun diramaikan dengan perkusi anak-anak memainkannya.

Penerimaan-penolakan anak untuk ibadah intergenerasional, berdasarkan Naibaho, adalah hal vital, baik “hulu” maupun “muara” masalah.23

Kedua, gereja berani repot dan sabar. Ibadah intergenerasional bukan hanya menyangkut hal persiapan, menerapkan, dan mengevaluasi bersama segala generasi,24tetapi juga hal di luar itu. Jimmy Setiawan menegaskan bahwa Gereja perlu mengubah atau meniadakan ibadah-ibadah kategorial yang penyelenggaraannya bersamaan waktu, sehingga hanya ada satu jenis ibadah intergenerasional.25

Ketiga, Gil Rendle memperingati akan perubahan gaya ibadah (style of worship),26 namun tidak berubah susunan (form of worship) dan narasi (content of worship). Urusannya, menurut hemat saya, bukan hanya gaya bermusik. Lebih daripada itu, urusannya, adalah juga menyangkut: mengedarkan elemen perjamuan – bisakah pemuda?; menyerahkan Alkitab prosesi – bisakah remaja?; membaca Injil atau Alkitab untuk khotbah – bisakah sahabat tuli?; menyampaikan berita anugerah – bisakah orang anak?; menyampaikan berkat – bisakah seorang LGBTIQ+?

Ketiga konsekuensi ini merupakan tantangan “cita-cita“ ibadah intergenerasional;

dapat diraih, tetapi dengan perjuangan.

23Naibaho, 26-27, 31-32.

24Vanderwell, 29.

25Jimmy Setiawan, “A Norm,” dalam The Church of All Ages: Generations Worshiping Together, Howard Vanderwell, editor (Herndon: the Alban Institute, 2008), 67.

26 Gil Rendle, “’Intergenerational’ as a Way of Seeing,” dalam The Church of All Ages: Generations Worshiping Together, Howard Vanderwell, editor (Herndon: the Alban Institute, 2008), 55 (55-70).

(11)

WEBINAR MASA RAYA NATAL: MENGKREASIKAN LITURGI (NATAL) INTERGENERASI DI MASA PANDEMI PERSEKUTUAN ALUMNI STFT JAKARTA (PASTIJA) NTT Sekretariat: Pastori Jemaat Maranatha Oebufu Jl. Amabi No.9 Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang– NTT, 85111, E-mail:[email protected] Rabu, 08 Desember 2021, pukul 14.00 - 16.00 wita.

- 8 -

Penutup

Pintu masuk atau langkah ibadah intergenerasional adalah tiga hal ini, yaitu:

(1) Melepas “dominasi” orang dewasa dan orang terlatih khusus (bdk. dominasi klerus di masa lalu) dalam persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi ibadah.

(2) Ibadah melibatkan umat secara umum dan terbuka secara setara, bukan hanya anak dan pemuda, tetapi juga orang yang selama ini terpinggirkan dari ibadah.

(3) Pintu masuk ini kelak dapat menjadi “jalan antara menuju” liturgi ramah (hospitalitality, bukan politeness27), terbuka, dan berterima segala umat tanpa diskriminatif dan marginalisasi.

Intinya, gereja membutuhkan pola pikir baru dalam memberlakukan ibadah intergenerasional demi satu langkah lebih lanjut dan keluar dari ruang aman dan kenyamanan selama ini. □

27Rendle, 68-69.

(12)

RABU, 08 DESEMBER 2021, PUKUL 14.00 – 16.00 WITA.

ZOOM MEETING

PASTIJA NTT mengundang saya untuk memimpin salah satu sesi dari tiga sesi dalam WEBINAR MASA RAYA NATAL: MENGKREASIKAN LITURGI (NATAL) INTERGENERASI DI MASA PANDEMI. Sesi saya adalah sesi pertama, berjudul “Ibadah Intergenerasional: Wacana Gereja Masa Kini.“ Sesi pertama adalah sesi pemantik untuk kedua sesi berikut tentang mempersiapkan ibadah intergenerasional dan tari liturgi

intergenerasional. Kedua sesi tersebut juga dibawakan oleh alumni STFT Jakarta: Daud Ch.

Naibaho dan Jenny A. Missa.

Webinar ini dihadiri oleh 50-an peserta zoom. Peserta terdiri dari sebagian besar anggota PASTIJA NTT dan belasan teman seangkatan yang juga alumni STFT Jakarta.

Jakarta, 8 Desember 2021

Dr. Rasid Rachman

Referensi

Dokumen terkait

Ni Nyoman Kerti Yasa, SE., MS, selaku dosen pembimbing utama yang dengan penuh kesabaran dan perhatian, selalu bersedia meluangkan waktu dan pikiran disela- sela kesibukan,

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.arya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber... menerima pesan teks

Persekutuan Alumni Kristen Sumatera Utara (PAKSU) adalah suatu wadah pembinaan serta pelayanan para Alumni Kristen yang berasal dari universitas, institut dan sekolah tinggi

Penelitian tentang penggunaan adefovir pada pasien dengan HBeAg negatif juga menunjukkan hasil yang memuaskan.. penelitian ini juga tidak ditemukan efek samping dan

Berdasarkan permasalahan yang ada, maka diperlukan upaya untuk mengembangkan agribisnis kelapa kopyor di Kabupaten Pati melalui strategi pengembangan yang tepat diterapkan

Misalnya dianggap hanya untuk memuaskan hawa nafsu (hypersex) bagi kaum laki – laki. Perselisihan atau pertengkaran antara suami – istri dalam keluarga yang hendak

Namun dari sejumlah penelitian tentang pendidikan Islam tersebut penulis belum menemukan topik penelitian yang mencoba merelevansikan nilai pendidikan agama Islam dalam

Tindakan ASEAN membicarakan masalah internal Myanmar menjadi bukti bahwa ASEAN telah keluar dari tradisinya, karena dalam prinsip tersebut negara-negara anggota