• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Proses Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Proses Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik

Hamdani1*

1Prodi Hukum Ekonomi Syari"Ah, STAI Pancabudi Perdagangan, Indonesia Email: [email protected]

Abstrak–Indonesia adalah negara hukum sesuai dengan yang diamanatkan

oleh Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945. Indonesia memiliki banyak sekali peraturan yang mengatur

berbagai macam hal demi menjamin kepastian hukum bangsanya. Hak tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria. Pelaksanaan pembebanan Hak Tanggungan dilakukan penyederhanaan proses dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Agraria danTata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 2020 tentang Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik. Pelayanan hak tanggungan dilaksanakan terintegrasi secara elektronik bertujuan untuk meningkatkan pelayanan Hak Tanggungan yang memenuhi asas keterbukaan, ketetapan waktu, kecepatan, kemudahan, efektifitas dan efisiensi. semula dilakukan secara manual menjadi berbasis pada sistem elektronik yang terintegrasi. Penelitian ini Merupakan penelitian empiris, yaitu jenis penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan (library research), yaitu peraturan perundang-undangan, buku-buku, jurnal-jurnal dan dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan penelitian ini serta media elektronik (internet). Permasalahan yang diambil dari penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan hak tanggungan terintegrasi secara elektronik di kantor Badan Pertanahan Nasional, dan Kendala dalam pelaksanaan hak tanggungan terintegrasi secara elektronik di kantor Badan Pertanahan Nasional.

Kata Kunci : Hak Tanggungan , Terintegrasi, Elektronik

Abstract–Indonesia is a legal state in accordance with what is mandated by Article 1 Paragraph (3) of the Constitution of the Republic of Indonesia 1945. Indonesia has a lot of regulations governing various kinds of things in order to ensure the legal certainty of the nation. Mortgage rights are security rights imposed on land rights as referred to in Law Number 5 of 1960 concerning Basic Agrarian Regulations. The implementation of the encumbrance of Mortgage is carried out by simplifying the process with the issuance of the Regulation of the Minister of Agrarian Affairs and Spatial Planning/Head of the National Land Agency Number 5 of 2020 concerning Electronic Integrated Mortgage Services.

Mortgage services are carried out integrated electronically with the aim of improving Mortgage services that meet the principles of openness, timeliness, speed, convenience, effectiveness and efficiency. originally done manually to be based on an integrated electronic system. This research is an empirical research, which is a type of research that uses a qualitative approach using data obtained through library research, namely legislation, books, journals and other documents related to this research as well as electronic media (internet). The problem taken from this research is how the implementation of the mortgage is integrated electronically at the office of the National Land Agency, and the constraints in the implementation of the mortgage integrated electronically at the office of the National Land Agency.

Keywords: Mortgage, Integrated, Electronic

1. PENDAHULUAN

Kebutuhan manusia semakin banyak, sehingga perlu diikat dengan payung hukum yang jelas dan tegas. Pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia kadang terhalang oleh sebab tertentu yang memposisikan manusia kekurangan suntikan dana demi mencapai hal yang ia cita-citakan. Untuk itulah, lembaga pendanaan hadir dalam masyarakat untuk membantu menyediakan dana bagi orang yang membutuhkan dengan diberikan suatu objek yang dapat dijaminkan kepada lembaga pendanaan tersebut supaya terjaga dari kerugian di kemudian hari jika debitor wanprestasi.

Peminjaman uang oleh masyarakat sebagai pemilik utang (debitur) dan pihak bank selaku pemberi pinjaman atau pemilik piutang (kreditur) dilakukan melalui perjanjian kredit. Perjanjian kredit sebagai perjanjian pokok, dimana terjadi pemufakatan antara debitur dan kreditur berupa hubungan hukum.

Perjanjian kredit ini memiliki jangka waktu tertentu, dalam batas waktu terakhir tentu saja debitur selaku peminjam uang harus mengembalikan pinjaman uang tersebut kepada kreditur berikut dengan bunganya.

Dalam proses pengembalian tersebut tentu terdapat kekhawatiran dari pihak kreditur akan kemungkinan tidak mampunya debitur mengembalikan dana yang dipinjam sesuai dengan perjanjian kredit yang ada.

Untuk mengurangi kekhawatiran dan mendapatkan kepercayaan, sebelum terjadi perjanjian kredit tersebut tentu pihak kreditur harus melakukan prinsip kehati-hatian. Prinsip kehati-hatian penting bagi bank sebelum diberikan pinjaman uang pada debitur, karena prinsip ini untuk mengetahui:

1. Watak dari debitur apakah memiliki watak baik dalam berbisnis dan memiliki tanggung jawab dalam pengembalian pinjaman atau tidak;

2. Kemampuan membayar debitur secara finansial untuk mengembalikan pinjaman;

3. Modal debitur untuk mengetahui kemampuan debitur memikul beban pembiayaan;

4. Jaminan harus bernilai lebih dari pinjaman debitur, yang mana jika ada masalah jaminan ini dapat digunakan untuk melunasi utang debitur;

5. Kondisi ekonomi untuk tahu apakah usaha debitur memiliki prospek kedepan yang bagus atau tidak.

(2)

Dari prinsip kehati-hatian yang dipaparkan ini dapat diketahui, jaminan merupakan unsur penting dalam perjanjian kredit guna memberikan kepercayaan kepada kreditur dimana setelah dipenuhi 4 unsur lainnya maka perlu adanya jaminan dari debitur bahwa ia dapat mengembalikan pinjaman tersebut. Jaminan ini sendiri berfungsi agar kreditur dapat segera mendapatkan pelunasan utangnya apabila debitur wanprestasi dengan melalui pelelangan atas jaminan tersebut. Pemberian jaminan ini harus dengan perjanjian pembebanan jaminan, selaku perjanjian tambahan karena adanya perjanjian pokok. Penjanjian pembebanan jaminan ini berupa jaminan hak tanggungan. Pengertian hak tanggungan pada Pasal 1 angka 1 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta BendaBenda Yang Berkaitan Dengan Tanah (UUHT) menentukan “hak tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap krediturkreditur lain”. Perjanjian pembebanan hak tanggungan dituangkan dalam bentuk Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) selaku pejabat berwenang dalam membentuk APHT yang ditentukan Pasal 1 angka 4 UUHT.

Jaminan yang diserahkan kepada kreditur oleh debitur dalam rangka pemberian fasilitas kredit merupakan salah satu unsur penilaian dari prinsip penilaian pemberian kredit yang dilakukan oleh kreditur sebelum pemberian fasilitas kredit tersebut diberikan. Jaminan tersebut dapat berbentuk obyek jaminan berupa benda. Benda yang dapat dijadikan sebagai jaminan tersebut seharusnya benda yang dapat dialihkan dan mempunyai nilai jual (bernilai ekonomis), serta memiliki nilai yang lebih besar dari jumlah kredit yang disetujui oleh kreditur. Ada berbagai macam benda yang dapat dijadikan jaminan , salah satunya yaitu tanah, dengan bukti kepemilikan berupa sertipikat. Tanah merupakan jaminan yang dianggap relatif aman, disamping harga jualnya tinggi dan terus menerus meningkat dari waktu ke waktu dan jarang mengalami kemerosotan. Tanah merupakan benda tidak bergerak yang merupakan obyek Hak Tanggungan sebagaimana diatur dalam UUHT. UUHT ini merupakan amanat dari Undang – undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok – pokok Agraria, atau yang lazim dikenal dengan nama Undang – undang pokok Agraria (Selanjutnya disebut “UUPA”) yang diundangkan pada tanggal 24 September 1960 untuk membuat perangkat aturan tentang Hak Tanggungan . UUHT lahir 36 tahun kemudian semenjak lahirnya UUPA.

Pendaftaran Hak Tanggungan dilakukan oleh Kantor Pertanahan dengan membuatkan buku tanah Hak Tanggungan dan mencatatnya dalam buku tanah hak atas tanah yang menjadi objek Hak Tanggungan serta menyalin catatan

tersebut pada sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan.

Dengan terbitnya Peraturan Menteri Agraria danTata Ruang / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 2020 tentangPelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik, Pemerintah Indonesia bertujuan untuk meningkatkan pelayanan Hak Tanggungan yang memenuhi asas keterbukaan, ketetapan waktu, kecepatan, kemudahan, efektifitas dan efisiensi. Terbitnya Permen yang bersangkutan, berkonsekuensi kepada perubahan tata cara pemberian Hak Tanggungan yang semula dilakukan secara manual menjadi berbasis pada sistem elektronik yang terintegrasi.

Pelaksanaan Sistem HT-el ini diselenggarakn oleh Kantor Pertanahan secara bertahap menyesuaikan dengan kesiapan data pendukung.

Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 2020 tentang Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik terdapat empat jenis layanan Hak Tanggungan yang dapat diajukan melalui Sistem HT-el, meliputi : pendaftaran Hak Tanggungan, peralihan Hak Tanggungan, perubahan nama kreditor dan penghapusan Hak Tanggungan.

2. KERANGKA TEORI

Perkembangan ilmu hukum terus berkembang, lebih khusus lagi mengenai mekanisme pendaftaran sertifikat hak tanggungan sebagai jaminan kredit ditinjau dari Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik.

Jaminan adalah suatu perikatan antara kreditur dengan debitur, dimana debitur memperjanjikan sejumlah hartanya untuk pelunasan utang menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku apabila dalam waktu yang ditentukan terjadi kemacetan pembayaran utang si debitur. Jaminan adalah aset pihak peminjaman yang dijanjikan kepada pemberi pinjaman jika peminjam tidak dapat mengembalikan pinjaman tersebut. jaminan merupakan salah satu unsur dalam analisis pembiayaan. Oleh karena itu, barang-barang yang diserahkan nasabah harus dinilai pada saat dilaksanakan analisis pembiayaan dan harus berhati-hati dalam menilai barang-barang tersebut karena harga yang dicantumkan oleh nasabah tidak selalu menunjukkan harga yang sesungguhnya (harga pasar pada saat itu). Dengan kata lain, nasabah kadangkadang menaksir barang-barang yang digunakannya diatas harga yang sesungguhnya. Penilaian yang terlalu tinggi bisa berakibat lembaga keuangan berada pada posisi yang lemah.jika likuiditas/penjualan barang agunan tidak dapat dihindarkan, keadaan tersebut dapat membawa lembaga keuangan kepada kerugian karena hasil penjualan agunan biasanya akan lebih rendah dari pada harga semula maupun harga pasar pada saat agunan akan dijual sehingga tidak dapat menutupi kewajiban nasabah lembaga keuangan.

(3)

Jaminan kredit adalah adalah hak dan kekuasaan atas barang jaminan yang diserahkan oleh debitur kepada pihak bank guna menjamin pelunasan utangnya apabila kredit yang diterimanya tidak dapat dilunasi sesuai waktu yang diperjanjikan dalam perjanjian kredit atau adendumnya.

Dalam tahapan pemberian kredit, pada umumnya bank selaku kreditur meminta jaminan dari nasabah selaku debitur, agar terciptanya kepastian bagi kreditur dalam rangka pelunasan hutang atau kewajiban debitur tersebut, sehingga dengan demikian debitur diharapkan segera melunasi hutangnya kepada kreditur agar nantinya tidak kehilangan harta (asset) yang diserahkan sebagai jaminan kredit dalam hal kredit tersebut ditetapkan sebagai kredit macet. Hal ini penting sekali manakala debitur wanprestasi dan kemudian kreditur tersebut akan melaksanakan eksekusi atas benda tersebut dan ternyata benda yang dijaminkan itu tidak dapat dialihkan dan tidak mempunyai nilai jual, sehingga hal tersebut akan menimbulkan kerugian bagi kreditur. Oleh karenanya sudah sewajarnya bagi kreditur ataupun debitur mendapatkan perlindungan yang wajar dan semestinya melalui suatu lembaga hak jaminan yang kuat dan yang dapat pula memberikan kepastian hukum bagi para pihak yang berkepentingan.

Jaminan yang diserahkan kepada kreditur oleh debitur dalam rangka pemberian fasilitas kredit merupakan salah satu unsur penilaian dari prinsip penilaian pemberian kredit yang dilakukan oleh kreditur sebelum pemberian fasilitas kredit tersebut diberikan. Jaminan tersebut dapat berbentuk obyek jaminan berupa benda. Benda yang dapat dijadikan sebagai jaminan tersebut seharusnya benda yang dapat dialihkan dan mempunyai nilai jual (bernilai ekonomis), serta memiliki nilai yang lebih besar dari jumlah kredit yang disetujui oleh kreditur.

Hak tanggungan ialah hak jaminan pada tanah. Hak tanggungan dengan perjanjian pembebanan jaminan yang muncul karena perjanjian kredit antara pihak debitur dengan kreditur baik dibuat dibawah tangan maupun dengan akta notaris. Perjanjian kredit dibawah tangan berarti perjanjian tersebut dibuat para pihak yaitu kreditur dan debitur tanpa ada pejabat berwenang, sedangkan perjanjian kredit dengan akta notaris berarti perjanjian dibuat para pihak dihadapan notaris. Objek dari hak tanggungan ialah tanah.

Pendapat Budi Harsono ada 4 syarat hak atas tanah agar bisa menjadi jaminan : 1. Dapat dinilai dengan uang;

2. Hak terdaftar pada daftar umum karena harus memenuhi syarat publisitas;

3. Sifat dapat dipindah tangankan, jika debitur wanprestasi benda jaminan akan dijual dimuka umum;

4. Perlu penunjukan dengan Undang-Undang.

Tata cara konvensional pendaftaran hak tanggungan,, Sebelum penulis membahas lebih jauh mengenai pendaftaran Hak Tanggungan berbasis elektronik, pennulis akan menjelaskan lebih dulu tentang tata cara pendaftaran Hak Tanggungan secara konvensional. Ketentuan mengenai pendaftaran hak tanggungan telah diatur dalam Pasal 13 dan Pasal 14 UUHT, yang secara sistematis diuraikan sebagai berikut :

1. Pendaftaran dilakukan di Kantor Pertanahan.

2. Pejabat Pembuat Akta Tanah (“PPAT”) dalam waktu 7 hari setelah ditandatanganinya pemberian Hak Tanggungan wajib mengirimkan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) dan warkah lainnya kepada Kantor Pertanahan beserta membawa berkas berupa:

a. Surat Pengantar dari PPAT yang dibuat rangkap dua dan memuat daftar jenis surat-surat yang disampaikan;

b. Surat permohonan pendaftaran Hak Tanggungan dari penerima Hak Tanggungan;

c. Fotocopy surat identitas pemberi dan pemegang Hak Tanggungan;

d. Sertifikasi asli hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun yang menjadi objek Hak Tanggungan;

e. Lembar kedua akta pemberian Hak Tanggungan;

f. Salinan akta pemberian Hak Tanggungan yang sudah diparaf oleh PPAT yang bersangkutan untuk disahkan sebagai salinan oleh Kepala Kantor Pertanahan untuk pembuatan Sertipikat Hak Tanggungan; dan

g. Bukti pelunasan biaya pendaftaran Hak Tanggungan.

3. Kantor Pertanahan membuatkan buku tanah Hak Tanggungan dan mencatatnya dalam buku tanah hak atas tanah yang menjadi objek Hak. Tanggungan serta menyalin catatan tersebut pada Sertipikat Hak atas Tanah yang bersangkutan.

4. Tanggal buku tanah Hak Tanggungan adalah tanggal hari ketujuh setelah penerimaan secara lengkap surat-surat yang diperlukan untuk pendaftaran. Jika hari ketujuh itu jatuh pada hari libur, buku tanah yang bersangkutan diberi tanggal hari kerja berikutnya.

5. Hak Tanggungan lahir pada hari tanggal buku tanah Hak Tanggungan dibuatkan.

6. Kantor Pertanahan menerbitkan Sertipikat Hak Tanggungan yang memuat irah-irah, “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga setifikat tersebut memiliki kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan dan kemudian diserahkan kepada pemegang Hak Tanggungan.

Jika dilihat dari Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Hak Tanggungan diketahui yang dibebani hak tanggungan ialah hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan hak pakai. Untuk membebankan hak tanggungan, maka perlu dibuatkan APHT oleh PPAT yang berisi pemberian hak

(4)

tanggungan pada kreditur tertentu. Guna mendapatkan kekuatan hukum, hak tanggungan dituangkan dalam APHT tersebut haruslah didaftarkan. Pemberlakuan dari Perkaban Nomor 9/2019 menyebabkan pendaftaran hak tanggungan dilakukan melalui sistem elektronik. untuk lebih jelasnya pendaftaran hak tanggungan elektronik ini ada pada Pasal 3 ayat (2) “pelayanan hak tanggungan dilaksanakan secara elektronik melalui sistem HT-el”. Sistem HT-el dikelola oleh Kantor Pertanahan sesuai Pasal 4 ayat (1) dan adapun jenis pelayanan dalam sistem HT-el pada Pasal 6 menentukan “jenis layanan hak tanggungan yang dapat diajukan melalui sistem HT-el, meliputi:

a. pendaftaran hak tanggungan;

b. peralihan hak tanggungan;

c. perubahan nama kreditur;

d. penghapusan hak tanggungan”.

Pada era 1960 sejak berlakunya Undang – Undang Pokok Agraria (UUPA), Badan Pertanahan Nasional mengalami beberapa kali pergantian penguasaan dalam hal ini kelembagaan. tentunya masalah tersebut berpengaruh pada proses pengambilan kebijakan. ketika dalam naungan kementerian agraria sebuah kebijakan diproses dan ditindaklanjuti dari struktur Pimpinan Pusat sampai pada tingkat Kantah, namun ketika dalam naungan Departemen Dalam Negeri hanya melalui Dirjen Agraria sampai ketingkat Kantah.

disamping itu secara kelembagaan Badan Pertanahan Nasional mengalami perubahan struktur kelembagaan yang rentan waktunya sangat pendek.

BPN mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam melaksanakan tugas, BPN menyelenggarakan fungsi:

1. penyusunan dan penetapan kebijakan di bidang pertanahan;

2. perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang survei, pengukuran, dan pemetaan;

3. perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penetapan hak tanah, pendaftaran tanah, dan pemberdayaan masyarakat;

4. perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengaturan, penataan dan pengendalian kebijakan pertanahan;

5. perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengadaan tanah;

6. perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengendalian dan penanganan sengketa dan perkara pertanahan;

7. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BPN;

8. pelaksanaan koordinasi tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan BPN;

9. pelaksanaan pengelolaan data informasi lahan pertanian pangan berkelanjutan dan informasi di bidang pertanahan;

10. pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang pertanahan; dan 11. pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia di bidang pertanahan.

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, BPN menyelenggarakan fungsi:

1. Membangun kepercayaan masyarakat pada Badan Pertanahan Nasional.

2. Meningkatkan pelayanan dan pelaksanaan pendaftaran, serta sertifikasi tanah secara menyeluruh di seluruh Indonesia.

3. Memastikan penguatan hak-hak rakyat atas tanah (land tenureship).

4. Menyelesaikan persoalan pertanahan di daerah-daerah korban bencana alam dan daerah-daerah konflik.

5. Menangani dan menyelesaikan perkara, masalah, sengketa, dan konflik pertanahan di seluruh Indonesia secara sistematis.

6. Membangun Sistem Informasi Pertanahan Nasional (SIMTANAS), dan sistem pengamanan dokumen pertanahan di seluruh Indonesia.

7. Menangani masalah KKN serta meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.

8. Membangun data base pemilikan dan penguasaan tanah skala besar.

9. Melaksanakan secara konsisten semua peraturan perundang-undangan Pertanahan yang telah ditetapkan.

10. Menata kelembagaan Badan Pertanahan Nasional.

11. Mengembangkan dan memperbarui politik, hukum dan kebijakan Pertanahan.

3. METODE PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Pada penulisan Penelitian ini menggunakan jenis penelitian empiris, yaitu jenis penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan melakukan identifikasi masalah dan efektifitas peneltian sehingga berjalan dengan akurat. Adapun yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah prosedur

(5)

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tulisan atau lisan dari orang dan perilaku yang diamati.

2. Sumber Data

Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang sifatnya mengikat dan berkaitan erat dengan masalah-masalah yang akan diteliti, berupa peraturan perundang-undangan seperti Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah, Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 2020 tentang Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik.

Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, yaitu hasil karya di kalangan hukum yang ada relevansinya dengan masalah-masalah yang akan diteliti berupa buku-buku, pendapat-pendapat para sarjana.

Bahan hukum tersier atau bahan hukum penunjang yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan bermakna terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yaitu kamus hukum, ensiklopedia, majalah, media massa, internet dan sebagainya.

3. Tehnik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data melalui proses tanya jawab dengan para pihak yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan tersebut dilakukan dengan dua orang pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu1. Dapat dikatakan bahwa penelitian hukum yang diambil dari fakta-fakta yang ada di dalam suatu masyarakat, badan hukum atau badan pemerintah penelahaan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dipecahkan.

4. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan suatu penelitian empiris adalah penelitian yang melihat sesuatu kenyataan hukum yang terjadi di Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN). Setelah mengunpulkan data dengan penelitian empiris kemudian memadukan metode penelitian dengan penelitian menggunakan bahan-bahan literatur buku dan internet. Metode library research adalah mempelajari sumber-sumber atau bahan-bahan tertulis yang dijadikan bahan dalam penulisan proposal ini.

5. Analisis Data

Data yang telah diperoleh selanjutnya dicatat, diedit, dipelajari, kemudian diambil inti sarinya baik berupa teori, ide, konsep maupun ketentuan-ketentuan hukum yang terkait. Selanjutnya data tersebut dikumpulkan dan disusun, serta dikelompokan sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Pengolahan data didahului dengan mengadakan seleksi terhadap data yang sudah terkumpul, baik bahan data primer, skunder, dan tersier.

4. HASIL

Perjalanan layanan Hak Tanggungan Elektronik ini sesungguhnya sudah dimulai sejak diberlakukannya Permen ATR/BPN Nomor 7 Tahun 2019 tentang perubahan kedua Atas Permen ATR/BPN Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP Nomor 24 Tahun 1997, juga Permen ATR Nomor 9 Tahun 2019 Tentang Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik. Yang dimaksudkan itu antara lain mengatur tentang Akta PPAT yang disampaikan pada Kantor Pertanahan dapat berupa dokumen Elektronik yang dilakukan melalui sitem elektronik.

Saat itu untuk Hak Tanggungan Elektronik diterapkan dibeberapa Kantor Pertanahan di Indonesia sebagai uji coba, dimana yang dapat dilaksanakan pemasangan Hak Tanggungan secara Elektronik melalui system HT-el adalah untuk Debitor yang sekaligus sebagai Pemegang Hak Atas Tanah yg menjadi objek Jaminan yang dibebani Hak Tanggungan Elektronik. Untuk Debitor yang bukan sebagai Pemegang Hak Atas Tanah dan juga atas Kreditor Perseorangan maka pemberian Hak Tanggungannya belum dapat dilaksanakan secara Elektronik dan masih dilaksanakan secara manual dengan mendaftarkan datang langsung ke Kantor Pertanahan setempat atau Badan Pertanahan Nasional.

Dengan Permen ATR/BPN Nomor 5 Tahun 2020 Tentang Pelayanan Hak Tanggungan Secara Elektronik yang diundangkan sejak 8 April 2020, maka Perment ATR Nomor 9 Tahun 2019 diatas dicabut.

Selanjutnya terbit petunjuk teknis sebagai pedoman dalam Pelaksanaan Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi secara Elektronik tertanggal 29 April 2020. Berdasar Perment ATR/BPN tersebut diatas, sejak 8 Juli 2020 serentak dilaksanakan dan harus diimplementasikan Pelayanan Hak Tanggungan Secara Elektronik di seluruh Kantor Pertanahan yang ada di Indonesia.

Mekanisme Pelayanan pelaksanaan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik di, yaitu 1. Kreditor mengajukan permohonan Pelayanan HT-el melalui Sistem HT-el yang disediakan oleh

Kementerian. Permohonan Pelayanan HT-el berupa pendaftaran atau pun peralihan Hak Tanggungan. PPAT akan menyampaikan persyaratan dokumen. Untuk permohonan perubahan

1Lexy J. Moleong, Metodologi Skripsi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002, hlm. 135

(6)

nama Kreditor, penghapusan Hak Tanggungan, atau perbaikan data, dokumen kelengkapan persyaratan disampaikan oleh Kreditor. Adapun persyaratan permohonan Pelayanan HT-el sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan disampaikan dalam bentuk Dokumen Elektronik.

2. PPAT menyampaikan akta dan dokumen kelengkapan persyaratan melalui sistem elektronik mitra kerja yang terintegrasi dengan Sistem HT-el.Penyampaian dokumen dilengkapi dengan Surat Pernyataan mengenai pertanggungjawaban keabsahan dan kebenaran data Dokumen Elektronik yang diajukan. Seluruh dokumen kelengkapan persyaratan wajib disimpan oleh PPAT.

3. Permohonan Pelayanan HT-el yang telah diterima oleh Sistem HT-el diberikan tanda bukti pendaftaran permohonan yang diterbitkan oleh sistem.Pelayanan HT-el tersebut dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kementerian.

4. Permohonan diproses setelah data permohonan dan biaya sebagaimana terkonfirmasi oleh Sistem HT-el.Dalam hal pembayaran biaya tidak terkonfirmasi oleh Sistem HT-el, Kreditor dapat melakukan konfirmasi secara langsung ke Kantor Pertanahan atau Layanan Pengaduan.

5. Sebelum hasil Pelayanan HT-el diterbitkan, Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk harus memeriksa kesesuaian dokumen persyaratan dan konsep Sertipikat HT-el.Pemeriksaan kesesuaian dokumen persyaratan dan konsep Sertipikat HT-el dilakukan melalui Sistem HT-el.

6. Apabila hasil pemeriksaan terdapat dokumen yang tidak lengkap atau tidak sesuai, diberitahukan kepada Kreditor dan/atau PPAT untuk segera melengkapi berkas.Dokumen persyaratan harus dilengkapi paling lama hari ke 5 (lima) sejak permohonan pelayanan diterima oleh Sistem HT-el.

Apabila kreditor dan/atau PPAT tidak melengkapi berkas dalam jangka waktu tersebut, maka permohonan dinyatakan batal. Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk memberikan persetujuan atas unggahan dokumen persyaratan dan konsep Sertipikat HT-el.

7. Apabila Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk tidak melakukan pemeriksaan sampai pada hari ke-7 (tujuh) dan hasil Pelayanan HT-el diterbitkan oleh Sistem HT-el, maka yang bersangkutan dianggap memberikan persetujuan dan/atau pengesahan.Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab secara administratif atas hasil Pelayanan HT-el.

8. Hasil Pelayanan HT-el berupa Dokumen Elektronik yang diterbitkan oleh Sistem HT-el, meliputi: Sertipikat HT-el, Catatan Hak Tanggungan pada buku tanah hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun, Catatan Hak Tanggungan pada Sertipikat Hak Atas Tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun.

Problem kemudian akan muncul lagi saat setelah APHT di tandatangani, para pihak selanjutnya didaftarkan melalui sistem elektronik, ganguan server sering muncul saat PPAT mengupload dokumen Akta dan lainnya.padahal PPAT hanya punya waktu 7 hari kerja setelah APHT ditandatangani untuk segera mendaftar dalam sistem tersebut. Dari Kreditor problem yang sering dihadapi karena belum terdaftar dan belum tervalidasi pada system layanan HT Elektronik. Bahwa tujuan pelaksanaan Pembebanan dengan pemberian Hak Tanggungan secara Elektronik yang harus dilaksanakan serentak secara Nasional tersebut adalah untuk memenuhi asas keterbukaan, ketepatan waktu, kecepatan, kemudahan dan keterjangkauan dalam rangka pelayanan publik . Selain untuk menyesuaikan perkembangan hukum dan teknologi.

5. KESIMPULAN

Hak Tanggungan Elektronik ini sesungguhnya sudah dimulai sejak diberlakukannya Permen ATR/BPN Nomor 7 Tahun 2019 tentang perubahan kedua Atas Permen ATR/BPN Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP Nomor 24 Tahun 1997, juga Permen ATR Nomor 9 Tahun 2019 Tentang Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Secara Elektronik. Yang dimaksudkan itu antara lain mengatur tentang Akta PPAT yang disampaikan pada Kantor Pertanahan dapat berupa dokumen Elektronik yang dilakukan melalui sitem elektronik. Kemudian keluar Permen ATR/BPN Nomor 5 Tahun 2020 Tentang Pelayanan Hak Tanggungan Secara Elektronik yang diundangkan sejak 8 April 2020, maka Perment ATR Nomor 9 Tahun 2019 diatas dicabut. Selanjutnya terbit petunjuk teknis sebagai pedoman dalam Pelaksanaan Pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi secara Elektronik tertanggal 29 April 2020. Berdasar Perment ATR/BPN tersebut diatas, sejak 8 Juli 2020 serentak dilaksanakan dan harus diimplementasikan Pelayanan Hak Tanggungan Secara Elektronik di seluruh Kantor Pertanahan yang ada di Indonesia .

Kendala banyak dihadapi oleh pengguna layanan Hak Tanggungan Elektronik baik oleh PPAT maupun Kreditor, kelihatan sekali banyak PPAT dan Kreditor yang tidak siap, karena kurangnya sosialisasi dari Pemerintah, dalam waktu yang sangat singkat tiba tiba serentak harus dilakukan pembebanan dengan Pemberian Hak Tanggungan secara Elektronik.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Herowati Poesoko, 2007, Parate Executie Obyek Hak Tanggungan (Inkonsistensi, Konflik Norma dan Kesesatan Penalaran dalam UUHT), LaksBang PRESSindo, Yogyakarta.

[2] Jimly Asshidiqie dan Ali Safa’at, 2006, Teori Hans Kelsen tentang Hukum, Sekjen dan Kepaniteraan MK-RI, Jakarta.

(7)

[3] J.Satrio, 2002, Hukum Jaminan , Hak Jaminan Kebendaan, PT. Citra Aditya Bakti,Bandung.

[4] Lexi Maleong, 1999, Metode Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

[5] Jaya, I. G. P., Utama, I. M. A., & Westra, I. K, 2015, Kekuatan Hukum Sertifikat Hak Tanggungan Dalam Hal Musnahnya Obyek Hak Tanggungan Karena Bencana Alam. Acta Comitas:

Jurnal Hukum Kenotariatan

Referensi

Dokumen terkait

Oleh itu, kajian ini dijalankan bertujuan untuk melihat elemen-elemen pengajaran guru berdasarkan Modul Pentaksiran Berasaskan Sekolah(MPBS) dalam sesi amali di

Moran’s I dan Estimasi Kepadatan Kernel. Hasilnya menggambarkan bahwa konsentra si rumah-rumah klaster membentuk sebuah pola mengelompok. Penelitian ini menggunakan model

Apakah motivasi dan prestasi kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja Pegawai Negeri Sipil Pada Sekretariat Daerah Kabupaten Nganjuk.. KAJIAN PUSTAKA

Sikap Tanggung jawab, peduli sesama, dan menghargai orang lain yang terdapat dalam kumpulan cerpen Guruku Superhero merupakan contoh dari nilai moral hubungan manusia

Dari sekian banyak bagian cantik di bangunan tersebut, fasadlah yang sejak awal

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi profesi kependidikan adalah sebuah wadah perkumpulan orang – orang yang memiliki suatu keahlian dan keterampilan mendidik yang

Pada umumnya mesin gerinda tangan digunakan untuk menggerinda atau memotong logam, tetapi dengan menggunakan batu atau mata yang sesuai kita juga dapat menggunakan mesin gerinda

Meningkatkan Keterampilan Membuat Box File Melalui Metode Demonstrasi pada Anak Tunagrahita Ringan di Kelas VI SLB Binar Tarusan.. Anur Yetti 1 , Damri 2 , Markis