2.1. Bahan Ajar
Menurut Arsyad (2013) kata media berasal bahasa Latin yaitu medius yang secara harfiah mempunyai arti ‘tengah’, ’perantara’ atau ‘pengantar’. Disisi lain dalam bahasa Arab media adalah perantara, atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
Menurut Gerlach & Ely dalam Arsyad (2013) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara umum adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan maupun sikap, hal ini berarti guru, teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Disisi lain bila dipandang secara khusus lebih spesifik, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat – alat grafis, photografis atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi verbal atau visual.
Pendapat lain mengungkapkan bahwa media sering kali diganti dengan kata mediator menurut Fleming dalam Arsyad (2013) adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator media menunjukkan fungsi dan peranannya yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar siswa dan konten pelajaran.
Hal ini, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah suatu alat yang digunakan oleh guru dalam proses kegiatan belajar mengajar untuk mencapai suatu tujuan.
Bahan ajar terdiri atas dua kata yaitu “bahan” dan “ajar”. Menurut KBBI (software offline) bahan memiliki arti (segala) sesuatu yang dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan tertentu, seperti untuk pedoman atau pegangan, untuk mengajar, memberi ceramah, sedangkan ajar yaitu petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (dituruti). Menurut Widodo & Jasmadi (2008) bahan ajar merupakan seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang termuat atas materi pembelajaran, metode, batasan-batasan dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik agar tercipta suasana pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk belajar.
Bahan ajar merupakan seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan segala bahan seperti materi, metode dan informasi untuk menunjang guru atau instruktur dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar. Disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak tertulis guna menciptakan suasana atau lingkungan pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa memiliki keinginan lebih untuk belajar dan mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan Persada (2017). Pendapat lain mengenai bahan ajar menurut Nalurita (2017) menyatakan bahwa bahan ajar dapat dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik materi ajar yang akan disajikan. Oleh karena itu bahan ajar seyogyanya disusun sedemikian rupa sehingga dapat memudahkan siswa dalam proses kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan pendapat di atas bahwa bahan ajar merupakan segala bentuk materi baik bahan cetak maupun non cetak yang dapat digunakan guru/ instruktur dalam kegiatan pembelajaran guna terjadinya proses pembelajaran yang efektif, menyenangkan
Penggunaan bahan ajar berfungsi sebagai berikut:
1. Menghemat waktu pendidik dalam mengajar.
2. Diperoleh bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan sesuai kebutuhan siswa.
3. Mengubah peran pendidik dari seorang pengajar menjadi seorang fasilitator.
4. Meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan interaktif.
5. Pedoman bagi pendidikan yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan merupakan substansi kompetensi yang semestinya diajarkan kepada peserta didik.
Berikut di bawah ini tujuan bahan ajar dari pembuatan bahan ajar yakni:
1. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik atau lingkungan siswa
2. Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku – buku teks yang sudah ada yang kadang tidak mudah untuk dipahami.
3. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran (Prastowo, 2014).
Beberapa fungsi dan tujuan bahan ajar di atas memberikan gambaran bahwa penggunaan bahan ajar dalam proses pembelajaran sangat diperlukan demi berhasilnya suatu kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, bahan ajar sebagai penunjang dalam proses pembelajaran maka perlu adanya pengembangan yang mendalam agar arah tujuan pembelajaran dapat dicapai.
Menurut panduan pengembangan bahan ajar Direktorat Pendidikan Nasional menuturkan bahwa jenis - jenis bahan ajar berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu:
1. bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/ gambar, model/ maket.
2. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio.
3. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film.
4. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajaran
interaktif, dan bahan ajar berbasis WEB (web based learning materials).
(Javaurora, 2008).
Menurut Nurjayanti (2015) dalam mengembangkan bahan ajar seorang pendidik atau pengembang seyogyanya memperhatikan beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu di antara lain sebagai berikut:
1 Menganalisis kurikulum, yaitu mencakup penentuan standar kompetensi, kompetensi dasar indikator materi dan pengalaman belajar.
2 Menganalisis sumber dan materi bahan ajar, yaitu dengan menelisik kriteria adanya ketersediaan, kesesuaian dengan peningkatan kualitas bahan ajar.
3 Menganalisis peserta didik, yaitu memahami psikologi dan daya tangkap peserta didik dalam memahami materi yang dipelajari.
4 Memilih dan menentukan bahan ajar.
Berdasarkan standar penilaian buku oleh pusat perbukuan Depdiknas tahun 2008, bahwa standar penilaian buku atau bahan ajar perlu memperhatikan hal – hal sebagai berikut:
1. Aspek kelayakan isi
1) Kesesuaian dengan SK, KD
2) Kesesuaian dengan perkembangan anak 3) Kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar 4) Kebenaran substansi materi pembelajaran 5) Manfaat untuk penambahan wawasan
6) Kesesuaian dengan nilai moral, nilai – nilai sosial 2. Aspek kebahasaan
1) Keterbacaan
2) Kejelasan informasi
3) Kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar 4) Pemanfaatan bahasa secara efektif dan efisien
3. Aspek penyajian
1) Kejelasan tujuan (indikator) yang ingin dicapai
2) Uraian sajian
3) Pemberian motivasi, daya tarik
4) Interaksi (pemberian stimulus dan respon) 5) Kelengkapan informasi
4. Aspek kegrafikan
1) Penggunaan font ( jenis dan ukuran ) 2) Layout atau tata letak
3) Ilustrasi, gambar, foto 4) Desain tampilan
Berdasarkan pendapat para Ahli di atas mengenai aspek dan kriteria penilaian bahan ajar peneliti menetapkan beberapa aspek dan kriteria penilaian bahan ajar
2.2. Kartun Statistik
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kartun mempunyai arti gambar dengan penampilan yang lucu, berkaitan dengan keadaan yang sedang berlaku. Kartun didefinisikan sebagai gambar yang memberikan informasi jenaka tentang objek, orang dan peristiwa tanpa mengurangi maksud dan tujuan dari informasi yang ingin disampaikan (Pribadi, 2017).
Sementara itu menurut Sanjaya (2012) berpendapat bahwa kartun merupakan salah satu media grafis yang dapat mengungkapkan ide atau sikap dan pandangan terhadap seseorang, kondisi, kejadian atau situasi tertentu. Di era abad 21 ini salah satu media yang dapat menyampaikan pesan tertentu kaitannya dalam pembelajaran matematika adalah dengan media kartun. Pendapat lain mengenai kartun yaitu menurut Sudjana & Rivai (2013) menyatakan bahwa kartun adalah penggambaran lukisan atau karikatur tentang orang, gagasan atau situasi yang dapat desain untuk mempengaruhi opini seseorang.
1. Untuk motivasi
Pemilihan bahan – bahan kartun yang tepat dan sesuai dengan tujuan – tujuan pengajaran serta kata – kata yang efektif dapat menarik perhatian serta menumbuhkan rasa keinginan siswa untuk belajar.
2. Sebagai ilustrasi
Konsep – konsep matematika yang abstrak juga tidak sedikit membutuhkan penalaran yang lebih akan sulit untuk dipahami, untuk itu kartun dapat digunakan sebagai ilustrasi dalam kegiatan pengajaran
Materi statistik dalam hal ini meliputi: ukuran pemusatan data tunggal dan ukuran penyebaran data tunggal.
1. Ukuran Pemusatan Data Tunggal
Ukuran pemusatan data tunggal meliputi rata – rata median dan modus.
1) Rata – rata
Rata – rata yang akan dibahas adalah rata – rata hitung (aritmatic mean).
Rata – rata disebut juga mean, dilambangkan dengan notasi 𝑥̅ dibaca ‘x bar’
(1) Mean data tunggal ( tak berbobot )
Data tunggal tak berbobot adalah data tunggal yang disajikan satu per satu.
Misalkan data tunggal memiliki n dalam 𝑥1, 𝑥2,𝑥3, … , 𝑥𝑛. Mean data tunggal adalah sebagai berikut:
𝑥̅ = 𝑥1+ 𝑥2+ 𝑥3+ ⋯ + 𝑥𝑛
𝑛 ∑ 𝑥𝑖
𝑛
𝑖=1
Contoh:
Tentukan mean dari data berikut ! 6, 4, 8, 10, 11, 14, 7
Penyelesaian:
𝑥̅ =∑ 𝑥
𝑛 = 6 + 4 + 8 + 10 + 11 + 7
7 = 56
7 = 8
(2) Mean data tunggal ( berbobot )
Data tunggal berbobot adalah data tunggal yang disajikan dengan menggunakan frekuensi.
𝑥 =𝑓1𝑥1+ 𝑓2𝑥2+ 𝑓3𝑥3+ ⋯ + 𝑓𝑛𝑥𝑛
𝑓1+ 𝑓2 + 𝑓3+ ⋯ + 𝑓𝑛 = ∑𝑛𝑖=1𝑓𝑖𝑥𝑖
∑𝑛𝑖=1𝑓𝑖 Contoh:
Tentukan mean dari data di bawah ini !
x 2 4 6 10
f 5 5 4 6
Penyelesaian:
𝑥̅ =∑ 𝑥
𝑛 =𝑓1𝑥1+ 𝑓2𝑥2+ 𝑓3𝑥3+ 𝑓4𝑥4 𝑓1+ 𝑓2+ 𝑓3+ ⋯ + 𝑓𝑛
=(3 × 4) + (5 × 4) + (2 × 6) + (4 × 8) 14
=114
20 = 5,7 2) Median
Median (Me) adalah ukuran tengah dari sekelompok data yang telah diurutkan menurut besarannya. Misalkan 𝑥1, 𝑥2,𝑥3, … , 𝑥𝑛 merupakan n datum yang terurut, untuk menentukan mediannya adalah sebagai berikut:
• Jika n ganjil maka median 𝑥𝑛+12 dengan 𝑥𝑛+12 datum ke 𝑛+12
• Jika n genap maka median 12( 𝑥𝑛
2+ 𝑥𝑛
2+1).
Contoh:
Tentukan median dari data berikut:
1. 3, 1,4,3, 7, 9, 4, 5, 6 2. 4, 3, 6, 8, 9, 2 Penyelesaian:
1. Datum diurutkan terlebih dahulu, sehingga diperoleh:
1 3 3 4 4 5 6 7 9
𝑥1 𝑥2 𝑥3 𝑥4 𝑥5 𝑥6 𝑥7 𝑥8 𝑥9
Median = 𝑥𝑛+12 = 𝑥9+12 = 𝑥210= 4 Maka mediannya adalah 4
2. Datum diurutkan terlebih dahulu, sehingga diperoleh:
2, 3, 4, 6, 8, 9
𝑥1 𝑥2 𝑥3 𝑥4 𝑥5 𝑥6
Median = 12( 𝑥6
2+ 𝑥6
2+1) = 12(4 + 6) = 12 (10) = 5 Maka mediannya adalah 5 3) Modus
Modus suatu data adalah datum yang sering muncul atau datum yang memiliki frekuensi tertinggi.
Contoh:
Tentukan modus dari data berikut:
1,4,3, 7, 9, 4, 5, 6 Penyelesaian:
Modusya adalah 4, karena 4 merupakan datum yang memiliki nilai frekuensi dua
2. Ukuran penyebaran Data 1) Jangkauan (Range)
Jika sekumpulan data sudah terurut dari yang terkecil hingga terbesar maka range dari data tersebut adalah selisih datum terbesar (xmax) dengan datum
terkecil (xmin). Range (R) = Datum terbesar – Datum terkecil
= xmax - xmin
Contoh:
Tentukan range dari data berikut:
30, 35, 70, 55, 45, 85 Penyelesaian:
Datum terbesar = 85 Datum terkecil = 30 Maka 85 – 30 = 55
Dengan demikian range nya adalah 55 2) Kuartil
Kuartil membagi data berurutan menjadi empat bagian yang sama banyak.
Kuartil dilambangkan dengan Q yang terdiri dari kuartil bawah (Q1), kuartil tengah atau median (Q2) dan kuartil atas (Q3)
Perhatikan garis bilangan berikut yang menunjukkan letak kuartil setiap sekumpulan data.
25% 25% 25% 25%
Q1 Q2 Q3
Misalkan 𝑥1, 𝑥2,𝑥3, … , 𝑥𝑛 adalah data berukuran n yang telah diurutkan.
Letak kuartil ke-i dari data tersebut dirumuskan sebagai berikut:
Q1 = data ke 𝑖(𝑛+1)4 dengan i = 1,2 dan 3
• Jika 𝑖(𝑛+1)4 merupakan bilangan bulat, misalkan t maka Q1 – Qt
• Jika𝑖(𝑛+1)4 bukan bilangan bulat dan terletak di antara bilangan bulat t maka t + 1 maka Q1
1
2(𝑥𝑡+ 𝑥𝑡+1).
Contoh:
Tentukan nilai kuartil 1 dan kuartil 3 dari data berikut !
3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,3,6 Penyelesaian:
Urutkan terlebih dahulu, sehingga diperoleh
3 3 4 5 6 6 7 8 9 10
Banyaknya datum (n)= 10
Q1 = data ke 1(10+1)4 = data ke- 2,75 => terletak di antara x2 dan x4 Q1 = 12(𝑥3+ 𝑥4) = 12 (3 + 4) = 3,5
Q3 = data ke 3(10+1)4 = data ke- 8,25 => terletak di antara x8 dan x9
Q3 = 12(𝑥8+ 𝑥9) = 12 (8 + 9) = 8,5 3) Jangkauan Interkuartil
Selisih antara kuartil atas dan kuartil bawah disebut jangkauan kuartil.
Jangkauan interkuartil = kuartil atas – kuartil bawah = Q3 – Q1
Jika lihat contoh sebelumnya telah didapat Q3 = 8,5 dan Q1 = 3,5, maka dapat ditentukan jangkauan interkuartil = Q3 – Q1
= 8,5 – 3,5 = 5 Maka jangkauan interkuartilnya adalah 5.
2.3. Motivasi Belajar
Belajar menurut Hamalik (2009) adalah “perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman”. Belajar merupakan bagian hidup dari manusia, berlangsung seumur hidup, kapan saja, dan di mana saja. Selain itu ada yang berpendapat bahwa belajar adalah “Sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak masih bayi (bahkan dalam kandungan) hingga liang lahat” (Hartini & Siregar, 2011).
Pendapat lain mengemukakan bahwa salah satu ciri orang yang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku yang mungkin disebabkan karena terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya (Arsyad, 2013). Selain itu, belajar dikatakan berhasil jika seseorang mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya (Suyono & Haryanto, 2014).
Menurut Hartini & Siregar (2011), belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku tersebut bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), maupun nilai dan sikap (afektif).
2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja.
3. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja, melainkan harus dengan usaha.
4. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik atau kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.
Keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor pendukungnya, disisi lain faktor – faktor yang memengaruhi keberhasilan belajar antara lain (Hanafiah & Cucu Subhana, 2012):
1 Peserta didik dengan sejumlah latar belakangnya, yang mencakup tingkat kecerdasan; bakat; sikap; minat; motivasi; keyakinan; kesadaran;
kedisiplinan; dan tanggung jawab.
2 Pengajar yang profesional.
3 Atmosfer pembelajaran partisipatif dan interaktif yang dimanifestasikan dengan adanya komunikasi timbal balik dan multi arah secara aktif, kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan.
4 Sarana dan prasarana yang menunjang proses pembelajaran.
5 Kurikulum sebagai kerangka dasar atau arahan, khusus mengenai perubahan perilaku peserta didik secara integral, baik yang berkaitan dengan kognitif, afektif, maupun psikomotor.
6 Lingkungan agama, sosial, budaya, politik, ekonomi, ilmu dan teknologi serta lingkungan alam sekitar, yang mendukung terlaksananya proses pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan.
7 Atmosfer kepemimpinan pembelajaran yang sehat, partisipatif, demokratis, dan situasional.
8 Pembiayaan yang memadai.
Sesuai dengan pengertian di atas maka dapat disimpulkan belajar adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seseorang baik secara sadar maupun tidak sadar sehingga menunjukkan perubahan yang berarti, baik secara pengetahuan, keterampilan maupun sikap serta faktor pendukung lainnya.
Motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki dapat tercapai. Motivasi Belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar (Sardiman, 2011).
Pendapat lain juga menjelaskan bahwa Motivasi Belajar merupakan kekuatan, daya pendorong, atau alat pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk belajar secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor (Hanafiah & Cucu Subhana, 2012)
Berdasarkan pengertian di atas maka motivasi belajar adalah suatu tindakan yang didasari atas kemauan siswa untuk belajar sehingga tujuan yang dikehendaki tercapai.
Motivasi yang ada pada diri setiap orang memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Sardiman, 2011):
1 Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).
2 Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).
3 Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
4 Lebih senang bekerja mandiri.
5 Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif).
6 Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu 7 Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu.
8 Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
Apabila seseorang memiliki ciri-ciri seperti di atas, berarti orang itu memiliki motivasi yang cukup kuat.
Fungsi Motivasi Belajar menurut Sardiman ada tiga, yaitu:
1 Mendorong manusia untuk berbuat. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang dikerjakan.
2 Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai.
3 Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna. mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Di samping itu, motivasi juga dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi (Sardiman, 2011).
Faktor-faktor yang mempengaruhi Motivasi Belajar ada dua jenis yaitu:
1) Motivasi intrinsik.
Menurut Hartini & Siregar (2011), motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri individu tanpa adanya rangsangan dari luar. Motivasi intrinsik dalam realitasnya lebih memiliki daya tahan yang lebih kuat dibanding motivasi ekstrinsik.
Motivasi intrinsik muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbol dan seremonial. Siswa yang memiliki
motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengalaman, yang ahli dalam bidang studi tertentu (Sardiman, 2011)
2) Motivasi ekstrinsik.
Menurut Hartini & Siregar (2011) motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar. Berbeda dengan motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik terjadi karena adanya rangsangan dari luar misalnya pemberian pujian, pemberian nilai maupun hadiah dan faktor-faktor eksternal lainnya yang memiliki daya dorong motivasional seperti media pembelajaran yang diterapkan oleh guru.
Motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Motivasi ekstrinsik tetap penting dalam kegiatan belajar-mengajar karena keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan suatu bahan ajar yang dapat memberikan dorongan agar siswa termotivasi dirinya untuk belajar (Sardiman, 2011).
Menurut Uno (2013) indikator Motivasi Belajar diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Adanya hasrat dan keinginan berhasil. Siswa memiliki target untuk sukses dalam proses pembelajaran.
2) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar. Siswa menyadari bahwa belajar adalah suatu kebutuhan.
3) Adanya harapan dan cita-cita masa depan. Siswa melakukan usaha untuk mencapai tujuan pembelajaran.
4) Adanya penghargaan dalam belajar. Siswa mendapatkan nilai dan penghargaan yang memacunya untuk lebih baik lagi.
5) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar. Siswa tidak jenuh dan fokus pada proses pembelajaran yang berlangsung.
6) Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan seorang siswa dapat belajar dengan baik. Lingkungan kondusif dapat dibangun melalui peran teman, guru, dan keluarga.
Jika seorang siswa memiliki indikator-indikator tersebut artinya siswa sudah memiliki Motivasi Belajar untuk belajar. Siswa dengan indikator Motivasi Belajar rendah dapat diperbaiki dengan memperhatikan faktor-faktor penyebabnya.
Pengukuran Motivasi Belajar yang akan dilakukan oleh peneliti akan didasarkan pada indikator Motivasi Belajar yang telah disebutkan di atas.
2.4. Kajian Penelitian
Beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti – peneliti sebelumnya, ditemukan beberapa penelitian yang serupa dengan masalah yang akan diteliti, di antaranya:
1. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Milati (2015) mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Jurusan Tadris Matematika Institut Agma Islam Negeri (IAIN) Cirebon pada tahun 2015, untuk kepentingan penyusunan skripsi dengan judul “Pengembangan Bahan Ajar Berbentuk Modul Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan modul efektif digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar matematika siswa kelas VII di MTs Al – Midzakkirin Sadasari. Hal ini terlihat oleh harga thitung = 2,029 yang lebih besar dari harga ttabel (a=0,05 dan dk = 48)= 2,009575.
2. Penelitian yang berjudul “Pemanfaatan Kartun Fisika Sebagai Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Siswa Kelas VII MTs N Purworejo” yang dilakukan oleh Siti Nurrohimah, dosen Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Purworejo pada tahun 2011. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan motivasi belajar siswa sebesar 19,39%., sehingga media pembelajaran dengan
memanfaatkan kartun Fisika dapat digunakan sebagai salah satu alat bantu dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
3. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Deashara Ayhrem Hayuwari, mahasiswa Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2016, untuk kepentingan penyusunan skripsi dengan judul “ Pengembangan Media Pembelajaran Komik Foto Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas XI Program Studi Akuntansi SMK Negeri 1 Godean “. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran komik foto sangat layak digunakan, terbukti dengan skor rata-rata penilaian dari ahli materi yaitu sebesar 3,8 (sangat layak), skor rata- rata penilaian dari ahli media yaitu sebesar 3,37 (sangat layak), skor rata-rata penilaian dari praktisi pembelajaran akuntansi yaitu sebesar 3,3 (sangat layak) dan skor rata penilaian siswa sebesar 3.15. Dengan demikian media pembelajaran komik foto sangat layak digunakan untuk pembelajaran Akuntansi SMK serta media pembelajaran komik foto dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sebesar 0.42 yang termasuk dalam kategori sedang.
Berdasarkan penelitian di atas terdapat kemiripan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yaitu:
1. Hasil penelitian pertama terdapat kesamaan yaitu tentang motivasi belajar, namun variabel terikatnya yaitu modul, begitu pun dengan sasaran dan lokasi penelitiannya berbeda.
2. Penelitian ini memiliki kesamaan yaitu jenis penelitian pengembangan media kartun sebagai bahan ajar dalam pembelajaran, sedangkan perbedaan dalam penelitian ini pada lokasi dan mata pelajaran.
3. Hasil penelitian ketiga terdapat kesamaan yaistu tentang motivasi belajar.
Sesuai dengan penelitian di atas maka penelitian yang berjudul
“Pengembangan Bahan Ajar Kartun Statistik untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa”, dapat dilakukan karena masalah yang diteliti bukan duplikasi dari penelitian – penelitian sebelumnya.
2.5. Kerangka Pemikiran
Pandangan siswa yang masih ada berpikir bahwa matematika itu sulit, hal tersebut merupakan suatu masalah yang harus guru hadapi dalam proses pembelajaran matematika. Selain itu fakta yang tidak jarang ditemui dikelas adalah kurang komunikatif guru ketika penyampaian isi materi pelajaran yang menyebabkan siswa enggan untuk memperhatikan ketika guru menjelaskan tentang materi pelajaran ditambah kurangnya pemanfaatan media dalam kegiatan belajar yang dapat memperjelas konten materi yang sedang dipelajari. Oleh karena itu, diperlukan figur seorang guru yang memiliki kecakapan berbicara serta kreatif dalam memilih media yang tepat guna sehingga menimbulkan pembelajaran yang berkualitas dan bermanfaat bagi siswa.
Menggunakan suatu media merupakan salah satu langkah yang tepat dalam membantu siswa memahami materi pelajaran dan memberi suatu hal yang inspiratif dalam pembelajaran di kelas, kartun salah satu media cetak yang dapat digunakan guru dalam pemilihan media pembelajaran.
Media kartun termuat konten materi.yang disalurkan melalui gambar – gambar serta ilustrasi yang menarik. Hal demikian dapat merangsang panca indera siswa untuk bereksplorasi lebih lagi, sehingga berperan aktif ketika kegiatan pembelajaran berlangsung. Serta penggunaan visual ilustrasi gambar – gambar turut berperan dalam peningkatan daya ingat yang panjang (long memory).
Berdasarkan pemaparan di atas dapat dikatakan bahwa kartun adalah salah satu media yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran matematika dengan tujuan peneliti untuk mengetahui meningkat atau tidak motivasi belajar siswa.