7 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Shift Kerja
a. Pengertian Shift Kerja
Menurut Maurtis (2010) shift kerja adalah semua pengaturan jam kerja, sebagai pengganti atau sebagai tambahan kerja pagi dan siang hari sebagai mana yang biasa dilakukan, shift kerja dapat bersifat permanen atau temporer menurut kebutuhan tempat kerja bersangkutan yang direkomendasi oleh manajemen perusahaan yang bersangkutan dan bahkan sering tidak beraturan. Menurut Suma’mur (2013), shift kerja merupakan pola waktu kerja yang diberikan pada tenaga kerja untuk mengerjakan sesuatu oleh perusahaan dan biasanya dibagi atas kerja pagi, sore dan malam. Proporsi pekerja shift semakin meningkat dari tahun ke tahun, ini disebabkan oleh investasi yang dikeluarkan untuk pembelian mesin-mesin yang mengharuskan penggunaannya secara terus menerus siang dan malam untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Sebagai akibatnya pekerja juga harus bekerja siang dan malam. Hal ini menimbulkan banyak masalah terutama bagi tenaga kerja yang tidak atau kurang dapat menyesuaikan diri dengan jam kerja yang lazim. Menurut Nurmianto (2004) dalam penelitian Febrian (2016), shift kerja berbeda dengan hari kerja biasa, dimana pada hari kerja biasa,
pekerjaan dilakukan secara teratur pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya, sedangkan shift kerja dapat dilakukan lebih dari satu kali untuk memenuhi jadwal 24 jam/hari. Biasanya perusahaan yang berjalan secara kontinyu yang menerapkan aturan shift kerja ini.
Banyak perusahaan beroperasi lebih dari 8 jam per hari untuk memenuhi kebutuhan pasar dan karena keterbatasan sumber daya/fasilitas. Konsekuensinya, perusahaan harus melakukan shift kerja. Shift kerja adalah periode waktu dimana suatu kelompok pekerja dijadualkan bekerja pada tempat kerja tertentu. Disamping memiliki segi positif yaitu memaksimalkan sumberdaya yang ada, shift kerja akan memiliki resiko dan mempengaruhi pekerja pada:
1) Aspek Fisiologis
Circadian rhythms adalah proses-proses yang saling berhubungan yang dialami tubuh untuk menyesuaikan dengan perubahan waktu selama 24 jam menurut (Tayyari dan Smith, 1997) dalam penelitian Febrian (2016). Circadian rhythms menjadi dasar fisiologis dan psikologis pada siklus tidur dan bangun harian.
Fungsi dan tahapan fisiologis dan psikologis memiliki suatu circadian rhythms yang tertentu selama 24 jam sehari, sehingga circadian rhythms seseorang akan terganggu jika terjadi perubahan jadwal kegiatan seperti perubahan shift kerja. Dengan terganggunya circadian rhythms pada tubuh pekerja akan terjadi dampak fisiologis pada pekerja seperti gangguan gastrointestinal,
gangguan pola tidur dan gangguan kesehatan lain. Circadian rhythms berhubungan dengan suhu tubuh, tingkat metabolisme, detak jantung, tekanan darah, dan komposisi kimia tertentu pada tubuh. Circadian rhythms dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti terang, gelap, dan suhu lingkungan.
2) Aspek Psikologis
Stress akibat shift kerja akan menyebabkan kelelahan (fatique) yang dapat menyebabkan gangguan psikis pada pekerja, seperti ketidakpuasan dan iritasi. Tingkat kecelakaan dapat meningkat dengan meningkatnya stres, fatique, dan ketidakpuasan akibat shift kerja.
3) Aspek Kinerja
Dari beberapa penelitian baik di Amerika maupun Eropa, shift kerja memiliki pengaruh pada kinerja pekerja (Tayyari &Smith, 1997). Kinerja pekerja, termasuk tingkat kesalahan, ketelitian dan tingkat kecelakaan, lebih baik pada waktu siang hari dari pada malam hari, sehingga dalam menentukan shift kerja harus diperhatikan kombinasi dari tipe pekerjaan, sistem shift dan tipe pekerja.
b. Karakteristik dan Sistem Shift Kerja
Menurut Nurmianto (2004) karakteristik shift kerja mempunyai dua macam bentuk, yaitu shift berputar (rotation) dan shift
(permanent). Dalam merancang perputaran shift ada dua macam yang harus diperhatikan yaitu:
1) Kekurangan istirahat atau tidur hendaknya ditekan sekecil mungkin sehingga dapat meminimumkan kelelahan.
2) Sediakan waktu sebanyak mungkin untuk kehidupan keluarga dan kontak sosial.
Terdapat 5 faktor utama yang harus diperhatikan dalam penentuan shift kerja yaitu :
1) Jenis shift kerja kerja pagi, siang dan malam 2) Panjang waktu tiap shift kerja
3) Waktu dimulai dan diakhirinya satu shift 4) Distiribusi waktu istirahat
5) Arah transisi shift
Berkaitan dengan rancangan shift kerja ada lima kriteria yang dijadikan dasar pertimbangan shift kerja, yaitu :
1) Setidaknya ada jarak 11 jam antara permulaan dua shift yang berurutan.
2) Seorang pekerja tidak boleh bekerja lebih dari tujuh hari berturut - turut (seharusnya 5 hari kerja, 2 hari libur).
3) Sediakan libur akhir pekan (setidaknya 2 hari) 4) Rotasi shift mengikuti matahari.
5) Buat jadwal yang sederhana dan mudah diingat.
Menurut Kuswaji dalam penelitian Midyana (2016) seistem shift kerja terbagi menjadi :
1) Sistem 3 shift biasa
Masing-masing pekerja akan mengalami 8 jam kerja yang selama 24 jam, dinas pagi antara pukul 06.00 – 14.00 WIB, dinas sore antara pukul 14.00 – 22.00 WIB dan dinas malam pukul 22.00 – 06.00 WIB.
2) Sistem Amerika
Menurut system ini dinas pagi mulai pukul 08.00 – 16.00 WIB, dinas sore antara pukul 16.00 – 24.00 WIB dan dinas malam antara pukul 24.00 – 08.00 WIB. System ini memberikan keuntungan fisiologik dan sosial. Kesempatan akan banyak terutama pada pekerja pagi dan sore. Setiap shift akanmengalami makan bersama keluarga paling sedikit sekali dalam sehari.
3) Sistem 12 – 12
Di penambangan minyak lepas pantai 12 -12. Selama 12 jam dinas pagi dan selama 12 jam dinas malam. Jadwal antara 07.00 – 19.00 WIB dan 19.00 – 07.00 WIB. Satu minggu kerja sore dan satu minggu kerja malam. Bila kerja shift dilakukan selama ini, masing-masing shift baik sore atau malam harus diikuti dengan istirahat dua hari.
4) Sistem Shift kerja di PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Sragen Di PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk sragen menerapkan sistem shift kerja pagi, siang dan malam. Dengan pembagian waktu kerja pada shift pagi yaitu pukul 07.00 WIB – 15.00 WIB, shift siang pukul 15.00 WIB – 23.00 WIB dan shift malam pukul 23.00 WIB – 07.00 WIB. Masing – masing shift bekerja 8 jam kerja dengan waktu istirahat 1 jam. Setiap shift memiliki rotasi kerja 1 kali dalam seminggu.
c. Dampak Shift Kerja
Menurut Suma’mur (2013) dalam soal periode kerja sore atau malam, sangat menarik adalah kerja bergantian, terutama kerja malam. Berkaitan dengan kerja malam ini dapat dikemukakan hal- hal sebagai berikut :
1) Irama faal banyak terganggu oleh kerja malam. Fungsi-fungsi fisiologis tenaga kerja tidak dapat disesuaikan sepenuhnya dengan irama kerja demikian. Hal ini mudah dibuktikan dari pengukuran pengukuran suhu badan, nadi, tekanan darah dan lain sebagainya dari pekerja yang bekerja pada waktu malam jika dibandingkan dengan keadaan waktur bekerja sore hari.
Semua ini dipelajari dalam ilmu kronobiologi dalam aspek irama hayati.
2) Metabolisme tubuh tidak sepenuhnya dapat, bahkan banyak aspek yang sama sekali tidak dapat diadaptasikan dengan kerja
malam. Keseimbangan elektrolit sebagai akibat albumin dan klorida di dalam darah dapat menyesuaikan diri dengan keperluan kerja malam, tetapi pertukaran zat-zat seperti kalium, sulfur, fosfor, mangan dan lain-lain sangat kukuh terikat pada sel-sel, sehingga pergantian waktu kerja sore oleh malam tidak dapat dipengaruhinya. Dengan kata lain metabolism zat- zat terkahir tidak dapat diserasikan dengan keperluan kerja malam.
3) Kelelahan pada kerja malam relatif sangat besar. Penyebabnya antara lain adalah faktor faal dan metabolisme yang tak dapat diserasikan. Sebab penting lainnya adalah sangat kuatnya kerja syaraf parasimpatis dibandingkan dengan syaraf simpatis pada malam hari. Padahal seharusnya untuk bekerja, simpatis harus melebihi kekuatan parasimpatis.
4) Jumlah jam kerja yang dipakai untuk tidur pekerja malam pada sore hari relatif jauh lebih sedikit dari seharusnya, dikarenakan gangguan suasana sore hari seperti kebisingan, suhu, keadaan terang dan terbangun karena kebutuhan lapar atau buang air kecil yang relatif lebih banyak pada sore hari.
5) Alat pencernaan biasanya tidak berfungsi secara normal pada kerja malam. Dengan demikian jumlah makanan yang di ambil relatif lebih sedikit, sedangkan pencernaan kurang bekerja semestinya.
6) Kurang tidur dan kurang berfungsinya alat pencernaan berakibat antara lain pada perubahan metabolisme.
7) Selain soal biologis dan faal, kerja malam seringkali disertai reaksi psikologis sebagai suatu mekanisme defense terhadap gangguan tubuh akibat ketidakserasian badan kepada pekerja malam. Akibatnya, keluhan-keluhan akan ditemukan relatif sangat banyak pada kerja malam.
8) Pengaruh – pengaruh kerja malam tersebut biasanya kumulatif.
Makin panjang giliran kera malam, makin besar efek yang di maksud.
2. Indeks Masa Tubuh (IMT) a. Pengertian IMT
IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang (Supariasa, 2012).
b. Cara Mengukur IMT
Koup Devenport mengetahui nilai status gizi dengan cara menghitung Indeks Massa Tubuh/ IMT atau Body Mass Index/ BMI.
Cara ini digunakan untuk mengetahui status gizi orang dewasa yang berusia 18 tahun keatas (Irianto, 2017).
Adapun cara penilaiannya dilakukan dengan menggunakan formulasi berikut:
=
Selanjutnya, hasil perhitungan IMT diatas akan dikonsultasikan dengan tabel berikut:
Tabel 2.1. Status gizi berdasarkan Kemenkes RI (2014) No. Indeks Massa Tubuh (kg/m2) Status gizi
1. < 17 Sangat kurus
2. 17 - < 18,5 Kurus
3. 18,5 – 25 Normal
4. > 25 – 27 Kegemukan
5. > 27 Obesitas
Sumber: (Hardinsyah et al., 2016) c. Obesitas
Berat badan berlebih dan obesitas dapat didefinisikan sebagai akumulasi lemak tubuh secara berlebihan. Pada pria, kandungan lemak tubuh yang sehat mungkin berjumlah 15% dari keseluruhan berat badan, sedangkan pada wanita mungkin 25%. Perbedaan kadar ini mencerminkan perbedaan hormonal dan kebutuhan antar jenis kelamin.
Secara umum, obesitas meningkat seiring bertambahnya usia (Supariasa, 2016). Secara fisiologis, obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan di jaringan adiposa sehingga dapat mengganggu
kesehatan. Keadaan obesitas ini, terutama obesitas sentral atau kumpulan lemak yang berlebih pada bagian abdomen, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena keterkaitannya dengan sindrom metabolik atau sindrom resistensi insulin yang terdiri dari resistensi insulin/hiperinsulinemia, hiperuresemia, gangguan fibrinolisis, hiperfibrinogenemia dan hipertensi (Sudoyo, 2009).
Penyebab obesitas sangatlah kompleks. Meskipun gen berperan penting dalam menentukan asupan makanan dan metabolisme energi, gaya hidup dan faktor lingkungan dapat berperan dominan pada banyak orang dengan obesitas. Diduga bahwa sebagian besar obesitas disebabkan oleh karena interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan, antara lain aktifitas, gaya hidup, sosial ekonomi dan nutrisional (Guyton, 2007).
1) Genetik
Obesitas jelas menurun dalam keluarga. Namun peran genetik yang pasti untuk menimbulkan obesitas masih sulit ditentukan, karena anggota keluarga umumnya memiliki kebiasaan makan dan pola aktivitas fisik yang sama. Akan tetapi, bukti terkini menunjukkan bahwa 20-25% kasus obesitas dapat disebabkan faktor genetik. Gen dapat berperan dalam obesitas dengan menyebabkan kelainan satu atau lebih jaras yang mengatur pusat makan dan pengeluaran energi serta penyimpanan lemak. Penyebab monogenik (gen tunggal) dari obesitas adalah
mutasi MCR-4, yaitu penyebab monogenik tersering untuk obesitas yang ditemukan sejauh ini, defisiensi leptin kongenital, yang diakibatkan mutasi gen, yang sangat jarang dijumpai dan mutasi reseptor leptin, yang juga jarang ditemui. Semua bentuk penyebab monogenik tersebut hanya terjadi pada sejumlah kecil persentase dari seluruh kasus obesitas. Banyak variasi gen sepertinya berinterakasi dengan faktor lingkungan untuk mempengaruhi jumlah dan distribusi lemak (Guyton, 2007).
2) Aktifitas Fisik
Gaya hidup tidak aktif dapat dikatakan sebagai penyebab utama obesitas. Hal ini didasari oleh aktivitas fisik dan latihan fisik yang teratur dapat meningkatkan massa otot dan mengurangi massa lemak tubuh, sedangkan aktivitas fisik yang tidak adekuat dapat menyebabkan pengurangan massa otot dan peningkatan adipositas. Oleh karena itu pada orang obesitas, peningkatan aktivitas fisik dipercaya dapat meningkatkan pengeluaran energi melebihi asupan makanan, yang berimbas penurunan berat badan (Guyton, 2007).
3) Pola Makan
Faktor lain penyebab obesitas adalah perilaku makan yang tidak baik. Perilaku makan yang tidak baik disebabkan oleh beberapa sebab, diantaranya adalah karena lingkungan dan sosial.
Hal ini terbukti dengan meningkatnya prevalensi obesitas di
negara maju. Sebab lain yang menyebabkan perilaku makan tidak baik adalah psikologis, dimana perilaku makan agaknya dijadikan sebagai sarana penyaluran stress. Perilaku makan yang tidak baik pada masa kanak-kanak sehingga terjadi kelebihan nutrisi juga memiliki kontribusi dalam obesitas, hal ini didasarkan karena kecepatan pembentukan sel-sel lemak yang baru terutama meningkat pada tahun-tahun pertama kehidupan, dan makin besar kecepatan penyimpanan lemak, makin besar pula jumlah sel lemak. Oleh karena itu, obesitas pada kanak-kanak cenderung mengakibatkan obesitas pada dewasanya nanti (Guyton, 2007).
4) Hormonal
Dari segi hormonal terdapat leptin, insulin, kortisol, dan peptida usus. Leptin adalah sitokin yang menyerupai polipeptida yang dihasilkan oleh adiposit yang bekerja melalui aktivasi reseptor hipotalamus. Injeksi leptin akan mengakibatkan penurunan jumlah makanan yang dikonsumsi. Insulin adalah anabolik hormon, insulin diketahui berhubungan langsung dalam penyimpanan dan penggunaan energi pada sel adiposa. Kortisol adalah glukokortikoid yang bekerja dalam mobilisasi asam lemak yang tersimpan pada trigliserida, hepatic glukoneogenesis, dan proteolisis (Wilborn et al, 2005).
3. Tekanan Darah
a. Pengertian Tekanan Darah
Tekanan darah adalah jumlah tekanan yang digunakan dalam aliran darah saat melewati arteri. Ketika berkontraksi, ventrikel kiri pada jantung mendorong darah keluar dari arteri. Arteri utama kemudian mengembang untuk menerima darah yang datang. Lapisan otot arteri melawan tekanan, darah didorong keluar menuju pembuluh yang lebih kecil. Tekanan darah adalah tekanan gabungan dari pemompaan oleh jantung, perlawanan dinding arteri dan penutupan katup jantung (Wade, 2016). Menurut Djoko santoso (2010) tekanan darah adalah tekanan dimana darah beredar dalam pembuluh darah. Tekanan ini terus menerus berada dalam pembuluh darah dan memungkinkan darah mengalir konstan. Tekanan darah dalam tubuh pada dasarnya merupakan ukuran tekanan atau gaya didalam arteri yang harus seimbang dengan denyut jantung, melalui denyut jantung darah akan dipompa melalui pembuluh darah kemudian dibawa keseluruh bagian tubuh. Tekanan darah dipengaruhi volume darah dan elastisitas pembuluh darah (Rusdi, 2009).
Menurut tim peneliti dari Universitas Cambridge dan Nottingham Inggris, tekanan darah dikontrol oleh hormon yang disebut angiotensis (Anna, 2010).Tekanan tertinggi karena jantung bilik kiri memompa darah ke arteri disebut tekanan sistolik. Tekanan
diastolik adalah tekanan terendah saat jantung beristirahat atau rileks. Tekanan darah digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik. Pada orang dewasa tekanan normal berkisar 120/80 mmHg (Santoso, 2010).
Menurut (Guyton dan Hall, 2007) dalam penelitian (Febrian, 2016), Tekanan darah tergantung pada curah jantung dan resistensi perifer total. Curah jantung atau jumlah darah yang dipompa oleh jantung tiap menit di pengaruhi oleh denyut jantung, isi sekuncup dan aliran balik vena. Pengaruh denyut jantung terhadap curah jantung tergantung dari keseimbangan rangsangan simpatis dan parasimpatis. Rangsangan simpatis dapat meningkatkan denyut jantung, sedangkan rangsang parasimpatis memberikan pengaruh sebaliknya. Isi sekuncup adalah jumlah darah yang dapat dikeluarkan oleh ventrikel di tiap denyutnya. Isi sekuncup dipengaruhi oleh volume akhir diastolic, total tahanan perifer dan kekuatan kontraksi ventrikel.
Resistensi perifer merupakan tahanan pembuluh darah (terutama arteriol) terhadap tekanan darah. Reistensi ini terutama dipengaruhi oleh jari-jari pembuluh darah dan viskositas darah.
Apabila viskositas darah meningkat akan menyebabkan peningkatan resistensi dn apabila jari-jari pembuluh darah semakin kecil maka resistensi semakin besar. Panjang pembuluh darah pada persamaan diatas tidak mempunyai pengaruh yang besar karena pembuluh darah
didalam tubuh relative konstan (Guyton dan Hall, 2007) dalam penelitian (Febrian, 2016).
b. Mengukur Tekanan Darah
Mengukur tekanan darah umumnya dengan sfigmomanometer dengan komponen manset dan alat pompa. Mansetnya berukuran standart dilingkarkan pada lengan atas dan kemudian diisi dengan udara yang cukup untuk menekan arteri. Pada kondisi tersebut aliran darah berhenti sesaat. Kemudian udara dilepaskan perlahan-lahan hingga arah mulai mengalir kembali melalui arteri, lalu dengarkan lewat stetoskop. Suara denyutan yang terdengar pertama kali adalah tekanan darah sistolik. Dalam fase ini bilik jantung dalam kondisi menguncup. Seiring semakin besarnya udara yang dikeluarkan darah manset, hingga tercapai arteri terbuka sepenuhnya, pada saat ini aliran darah mengalir lancar dan suara denyutan arteri menghilang.
Tekanan ketika suara denyutan terakhir menghilang dinamakan tekanan darah diastolik. Selama fase diastolik, bilik jantung dalam kondisi mengembang. Dari dua hasil pemeriksaan tekanan darah, kedua nilai itu seakan dinyatakan dengan angka pecahan. Sebagai contoh, “120/80” mmHg menunjukkan tekanan darah sistolik 120 mmHg dan diastolik 80 mmHg. Angka atas menunjukkan tekanan sistolik, yaitu besarnya tekanan pada arteri ketika jantung menguncup dan darah didorong ke dalam aorta.
Angka bawah menunjukkan tekanan diastolik, yaitu sisa tekanan
yang ada pada arteri antara dua denyut jantung ketika otot jantung mengembang dan mengisi darah. Selama waktu ini tekanan darah turun. Tekanan darah yang diperiksa ketika berbaring, duduk atau berdiri biasanya serupa. Pengukuran tekanan darah yang ideal adalah saat duduk, diam (santai), tanpa bicara, karena itu mencerminkan keseharian seseorang (Santoso, 2010).
c. Faktor – faktor Internal yang Mempengaruhi Tekanan Darah 1) Usia
Beberapa penelitian yang dilakukan ternyata terbukti bahwa semakin tinggi usia seseorang maka semakin tinggi tekanan darahnya. Hal ini disebabkan elastisitas dinding pembuluh darah semakin menurun dengan bertambahnya usia.
Sebagian besar peningkatan darah terjadi pada usia lebih dari 65 tahun. Sebelum usia 55 tekanan darah laki-laki lebih tinggi dari wanita. Setelah usia 65 tahun tekanan darah pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki (Purwanto,2012).
Menurut Bickley dan Szilagyi (2013) Kondisi Kardiovaskuler mengalami penurunan pada usia lanjut sehingga mudah mengalami gangguan fungsi. Hal ini dikarenakan semakin bertambahnya usia maka tekanan darah semakin tinggi, sebagian oleh karena timbulnya arteriosclerosis.
2) Jenis Kelamin
Jenis kelamin mempunyai pengaruh penting dalam regulasi tekanan darah. Sejumlah fakta menyatakan hormon sex mempengaruhi system renin angiostensin. Secara umum tekanan darah laki-laki lebih tinggi dari perempuan (Purwanto, 2012).
3) Indeks Masa Tubuh (IMT)
Orang dengan IMT >25 kg/m2, termasuk dalam kategori overweight, cenderung memiliki resiko hipertensi yang lebih tinggi (Bickley dan Szilagyi, 2013).
4) Aktivitas fisik
Orang dengan tekanan darah yang tinggi dan kurang aktivitas, besar kemungkinan aktivitas fisik efektif menurunkan tekanan darah. Aktivitas fisik membantu mengontrol tekanan darah. Olahraga secara teratur dapat menurunkan tekanan darah (Purwanto, 2012).
5) Kebiasaan Merokok
Merokok menyebabkan CVD (cardiovascular disease) dengan menurunkan kadar HDL, meningkatkan koagulabilitas darah, dan merusak indotel, sehingga memacu terjadinya aterosklerosis. Selain itu terjadi pula stimulasi jantung yang diinduksi nikotin serta penurunan kapasitas darah pengangkut oksigen yang dimediasi oleh karbonmonoksida. Efek ini, bersama dengan peningkatan kejadian spasme koroner, menentukan tingkat terjadinya iskemia jantung dan infark
miokard. Bukti epidemiologis menyebuktkan bahwa risiko CVD tidak menurun dengan rokok yang memiliki kadar tar rendah (Philip dan Jeremy (2008).
6) Keturunan
Jika seseorang memiliki orang tua atau salah satu menderita hipertensi maka orang tersebut mempunyai risiko lebih besar terkena hipertensi (Purwanto, 2012)
7) Kondisi Psikis
Menurut Guyton dan Hall (2007) dalam penelitian Febrian (2016) Kondisi psikis seseorang dapat mempengaruhi tekanan darah, misalnya kondisi psikis seseorang yang mengalami stress atau tekanan. Respon tubuh terhadap stress disebut alarm yaitu reaksi pertahanan atau respon perlawanan. Kondisi ditandai dengan peningkatan tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan dan ketegangan otot. Selain itu stress juga dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan aliran darah ke otot-otot rangka dan penurunan aliran darah ke ginjal, kulit dan saluran pencernaan.
8) Asupan
a) Asupan Natrium
Natrium (Na) adalah kation utama dalam cairan extraseluler konsentrasi serum normal adalah 136 sampai 145 mEg/L, Natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan dalam
kompartemen tersebut dan keseimbangan asam basa tubuh serta berperan dalam tranfusi saraf dan kontraksi otot (Purwanto,2012).
b) Asupan Kalium
Kalium (K) merupakan ion utama dalam cairan intraseluler, cara kerja kalium kebalikan dengan Na. Konsumsi K yang banyak akan meningkatkan konsentrasi didalam cairan intraseluler, sehingga cenderung menarik cairan dari bagian ekstraseluler dan menurunkan tekanan darah (Purwanto,2012).
d. Faktor – faktor Eksternal yang Mempengaruhi Tekanan Darah 1) Kebisingan
Menurut Suma’mur (2013) bunyi atau suara didengar sebagai rangsangan pada sel saraf pendengar dalam telinga oleh gelombang longitudinal yang ditimbulkan getaran dari sumber atau suara dan gelombang tersebut merambat melalui media udara atau penghantar lainnya, dan manakala bunyi atau suara tersebut tidak dikehendaki oleh karena mengganggu atau timbul diluar kemauan orang yang bersangkutan, maka bunyi-bunyian atau suara demkian dinyatakan sebagai kebisingan. Kebisingan adalah bunyi atau suara yang keberadaannya tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja
yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran.
Menurut Dwi P. Sasongko (2006) dalam penelitian Febrian (2016) dampak dari kebisingan pada kesehatan selain gangguan pendengaran, kebisingan juga dapat mengakibatkan dampak emosional dan system jantung serta terhadap tekanan darah. Gangguan mental emosional berupa terganggunya kenyamanan saat bekerja dan mudah marah. Melalui mekanisme hormonal yaitu di produksinya hormone adrenalin, dapat meningkatkan frekuensi detak jantung dan meningkatkan tekanan darah yang selanjutnya disebut sebagai gangguan kardiovaskular.
2) Iklim Kerja Panas
Menurut Suma’mur (2013) menyatakan bahwa pada lingkungan kerja panas, tubuh mengatur suhunya dengan penguapan keringat yang dipercepat dengan pelebaran (vasodilatasi) pembuluh darah tepi dan vasokontraksi pembuluh darah dalam yang disertai meningkatnya denyut nadi dan tekanan darah, faktor penyebab tekanan darah meningkat antara lain olahraga, umur, jenis kelamin, emosi, stres, obesitas, konsumsi alkohol, merokok, kebisingan, masa kerja, lama paparan serta beban kerja, sehingga beban kardiovaskuler bertambah dan curah jantung meningkat.
4. Hipertensi
a. Definisi Hipertensi
Hipertensi dasar adalah peningkatan tekanan darah secara tetap khususnya, tekanan diastolic melebihi 95 milimeter air raksa yang tidak bias dihubungkan dengan penyebab organik apapun (Wade, 2016). Sedangkan menurut Udjianti (2010), Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri secara terus menerus lebih dari suatu periode. Hal ini terjadi bila arteriole-arteriole konstriksi.
Konstriksi arteriole membuat darah sulit mengalir dan meningkatkan tekanan melawan dinding arteri. Hipertensi menambah beban kerja jantung dan arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan kerusakan jantung dan pembuluh darah.
b. Klasifikasi Hipertensi
Menurut Joint National Committe JNC – 8, klasifikasi tekanan darah manusia adalah sebagai berikut :
Tabel 2.2. Klasifikasi Tekanan darah menurut JNC 8 (2013) No. Klasifikasi Tekanan
Darah
Tekanan Sistolik (mmHg)
Tekanan Diastolik
(mmHg)
1. Optimal <120 dan < 80
2. Normal < 130 dan < 85 3. High Normal 130 – 139 atau 85 – 89 3. Hipertensi Stage I 140 – 159 atau 90 – 99 3. Hipertensi Stage II 160 – 179 atau 100 – 109 4. Hipertensi Stadium III ≥ 180 atau ≥ 110
Sumber : Laksmi, 2014
Menurut Udjianti (2010), Berdasarkan penyebabnya hipertensi terbagi menjadi dua golongan :
1) Hipertensi Esensial atau Hipertensi Primer
Merupakan 90% dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi esensial yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik).
2) Hipertensi Sekunder
Merupakan 10% dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi sekunder, yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang ada sebelumnya seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid. Faktor pencetus munculnya hipertensi sekunder antara lain : penggunaan kontrasepsi oral, coarctation aorta, neurogenic (tumor otak, ensefalitis, gangguan psikiatris), kehamilan, luka bakar dan stress.
The joint National Community on Preventation, Detection evaluation and treatment of High Blood Preassure dari Amerika Serikat dan badan dunia WHO tahun 2003 dengan International Society of Hipertention membuat definisi hipertensi yaitu apabila tekanan darah seseorang tekanan sistoliknya 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastoliknya 90 mmHg atau lebih atau sedang memakai obat anti hipertensi.
c. Gejala Hipertensi
Terjadi peningkatan tekanan darah kadang merupakan satu- satunya gejala. Gejala lain yang dirasakan : sakit kepala, kelelahan, sesak nafas, gelisah, pandangan menjadi kabur, mata berkunang- kunang, mudah marah, telinga berdengung, sulit tidur, rasa berat ditengkuk, nyeri di daerah bagian belakang, nyeri di dada, denyut jantung kuat dan cepat, pusing. Dan akan timbul keluhan lain apabila terjadi komplikasi pada ginjal, otak dan jantung (Widian, 2009).
5. Hubungan Shift Kerja dan Indeks Masa Tubuh dengan Tekanan Darah
Bekerja shift di malam hari membuat kadar hormon leptin menurun. Perubahan hormon tersebut bisa berdampak buruk bagi metabolisme, sehingga berbagai macam penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskuler lebih mudah menyerang. Kerja shift dengan jadwal yang berubah - ubah juga mampu meningkatkan risiko hipertensi. (Merry, 2017). Hal ini di tunjukkan pada penelitian Etika dan Kirana (2014) menunjukkan bahwa kejadian hipertensi pada pekerja shift sebesar 22,4%
dan pekerja non shift sebesar 4,2%.
Shift kerja yang tidak teratur juga berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan kerja dan dalam hal ini berhubungan dengan irama circandian rhythm. Circandian rhytm berasal dari bahasa latin, yaitu circa yang berarti putaran dan dies yang berarti hari (circandian = kira-kira dalam satu hari). Secara praktis, semua fungsi
fisiologis dan psikologis manusia digambarkan sebagai sebuah irama selama periode waktu 24 jam, dan menunjukkan adanya fluktuasi harian. Fungsi tubuh yang ditandai oleh circardian adalah tidur, kesiapan untuk kerja, temperatur tubuh, detak jantung dan tekanan darah. Semua fungsi manusia tersebut menunjukkan siklus harian yang teratur.Shift kerja yang tidak teratur atau shift kerja malam dapat menimbulkan akibat yang cukup menggangu, khususnya apabila mengalami kurang tidur (Setyawati,2010).
Menurut Nurmianto (2004) dalam penelitian Febrian (2016) mempertegas dalam artikelnya yang berjudul Shift Work and III- Health menyebutan hasil penelitian yang dilakukan oleh The Circandian Learning Center di Amerika Serikat yang mengatakan bahwa para pekerja shift, terutama bekerja di malam hari, dapat terkena berbagai permasalahan kesehatan. Permasalahan kesehatan ini antara lain: gangguan tidur, kelelahan, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi.
Berdasarkan gambaran hasil penelitian Itsna (2017), didapatkan kesimpulan bahwa fluktuasi tekanan darah dan denyut nadi berada pada puncak terendah pada pukul 04.00 pagi. Tekanan darah beranjak meningkat hingga pukul 08.00 pagi dan relatif stabil sampai pukul 12.00 siang. Tekanan darah dan denyut nadi mengalami penurunan pada pukul16.00 sore, dan kembali meningkat pada pukul 20.00 malam hingga 24.00 malam.
Hormon kortisol meningkat pada malam hari, mencapai puncak pada pagi sebelum terjaga, lalu akan turun sepanjang hari dengan titik terendah menjelang tidur malam. Hormon kortisol dapat meningkatkan curah jantung dan juga meningkatkan tonus vascular, dengan meningkatkan efek vasokontriksi yang terdiri dari epinefrin dan norepinefrin yang bekerja sebagai merangsang simpatis tubuh yang mengontrol hamper sebagian besar pembuluh darah di tubuh kita, sehingga dapat meningkatkan tekanan darah (Fitri, 2013). Potensi peningkatan berat badan pada pekerja shift disebabkan oleh gangguan irama sirkadian yang berkaitan dengan kurangnya waktu tidur. Waktu tidur kurang berakibat terhadap peningkatan hormon ghrelin dan penurunan hormon leptin yang dapat meningkatkan nafsu makan (Etika and Kirana, 2014).
Menurut (Barasi, 2009) Beberapa mekanisme yang diusulkan untuk menjelaskan eratnya korelasi antara obesitas dan hipertensi, yang meliputi :
a. Bertambahnya volume darah sebagai akibat peningkatan retensi garam, dianggap bahwa hal ini disebabkan oleh efek antinatriuretik dari kenaikan kadar insulin.
b. Perubahan kadar hormone mempengaruhi regulasi tekanan darah misalnya, produksi kortisol oleh jaringan adipose meningkat, leptin dan angiostensinogen yang dilepaskan dari jaringan adipose menimbulkan efek hipertensif langsung.
c. Tingginya asupan garam dan rendahnya tingkat kebugaran fisik mungkin ikut berperan.
33 B. Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran
Keterangan :
= Dikendalikan
= Tidak Dikendalikan
Shift Kerja (pagi, siang malam)
Psikologis Fisiologis
Perubahan Irama Sikardian
Hormon Kortisol Meningkat
Meningkatkan curah Jantung
Peningkatan Tekanan Darah
Penurunan Hormon Leptin
Nafsu Makan meningkat
Sekresi angiostensinogen Faktor – faktor yang
mempengaruhi : 1. Usia
2. Jenis Kelamin 3. Masa kerja 4. Riwayat Penyakit
hipertensi
Penurunan Kinerja
Vasokontriksi epinefrin dan
norepinefrin
Merangsang syaraf simpatis
Jaringan adipose meningkat
Indeks masa tubuh meningkat 5. Kebisingan
6. Iklim Kerja Panas 7. Aktivitas Fisik 8. Kebiasaan
merokok
9. Asupan Na dan K 10. Kondisi Psikis
C. Hipotesis
Terdapat Hubungan antara Shift Kerja dan Indeks Masa Tubuh dengan Tekanan Darah Pada Pekerja Bagian Produksi di PT Japfa Comfeed Tbk, Sragen