• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

41 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Penerapan Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Korporasi Sebagai Subjek Tindak Pidana Korupsi.

1. Pertimbangan Hakim dalam Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Bandung Nomor 65/Pid.Sus- TPK/2016/PN.Bdg.

Kasus posisi dalam Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Klas IA Bandung Nomor 65/Pid.Sus- TPK/2016/PN.Bdg adalah PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI selaku korporasi bersama-sama dengan Drs. GATOT SUTEJO (daftar pencarian orang) telah melakukan penyimpangan dalam pelaksanaan pembebasan lahan tempat pemakamam umum seluas 10.822 m2 (sepuluh ribu delapan ratus dua puluh dua meter persegi) milik pemerintah Kota Bekasi di Kelurahan Sumber Batu Kecamatan Bantar Gebang Kota Bekasi Tahun 2012.

Dakwaan yang diterapkan kepada terdakwa PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI oleh penuntut umum adalah dakwaan dengan bentuk subsidaritas, yaitu Primair : sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Jo Pasal 20 UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo.

Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Subsidair : sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 3 Jo Pasal 18 Jo Pasal 20 Undang-undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. commit to user commit to user

(2)

42

PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI di tuntut oleh Penuntut umum dituntut sebagai berikut :

a. Menyatakan terdakwa PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI telah terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan telah melakukan

“Tindak Pidana Korupsi secara bersama-sama” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 Jo. Pasal 20 Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor : 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor : 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, sebagaimana dalam dakwaan Primair;

b. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa PT CAKRAWALA NUSADIMENSI oleh karena itu dengan pidana denda sebesar Rp 800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah);

c. Menyatakan barang bukti berupa : - Nomor 1 s/d 73 Dikembalikan kepada Terdakwa PT CAKRAWALA NUSADIMENSI melalui Saudara Yudi Wijaya selaku Direktur PT CAKRAWALA NUSADIMENSI. - Nomor 74 s/d 296 dirampas untuk negara cq.

Pemerintah Kota Bekasi.

d. Membebankan terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.

10.000,- (sepuluh ribu rupiah).

Adapun dasar pertimbangan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Bandung dalam menjatuhkan putusan nomor 65/Pid.Sus/TPK/2016/PN.Bdg tanggal 19 Oktober 2016 adalah Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 Jo Pasal 20 UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo.

Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan unsur-unsur sebagai berikut : a. Unsur setiap orang :

Menimbang, bahwa dalam ketentuan Pasal 1 ayat (3) Undang-undang No. 31 Tahun 1999 yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang dimaksud dengan unsure setiap orang adalah orang perseorangan atau termasuk korporasi;

commit to user commit to user

(3)

43

Menimbang, bahwa terdapat 3 (tiga) sistim pertanggungjawaban korporasi sebagai subjek tindak pidana, yaitu : 1. Pengurus korporasi sebagai pembuat dan pegurus yang bertanggung jawab.2. Korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggung jawab.3. Korporasi sebagai pembuat dan juga sebagai yang bertanggung jawab.

Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan menguraikan sebagaimana tersebut di bawah ini mengenai sistim pertanggungjawaban mana yang akan diterapkan dalam perkara tersebut;

Menimbang bahwa subyek hukum yang dihadapkan sebagai Terdakwa dalam persidangan perkara ini telah disebutkan secara jelas dalam surat dakwaan, yaitu PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI adalah perusahaan swasta yang bergerak antara lain dalam bidang pembangunan perumahan (pengembang).

Menimbang, bahwa PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI berkedudukan di Jakarta, yang pendiriannya termuat dalam akta yang dibuat oleh Rachmat Santoso, SH, Notaris di Jakarta pada tanggal 14 Januari 1994 nomor 83, dan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia nomor C2.8753 HT.01.01 tahun 1994 tanggal 4 Juni 1994;

Menimbang, bahwa anggaran dasar PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI diumumkan dalam Berita Negara RI No. 25 Tambahan No. 3037 tanggal 26 Maret 1996, dan Berita Negara RI No. 91 Tambahan No. 7686 tanggal 12 November 1999, serta selanjutnya telah dirubah seluruhnya dan disesuaikan dengan Undang-undang RI No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas sebagaimana Akta No. 38 tanggal 18 Januari 2008, Notaris Titi Indrasari, dan telah mendapat persetujuan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berdasarkan SK No. AHU- 13976.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 24 Maret 2008. commit to user commit to user

(4)

44

Menimbang, bahwa anggaran dasar PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI terakhir tertuang dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Pemegang Saham Pengganti Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT. Cakrawala Nusadimensi No. 40 tanggal 5 April 2012 dan telah diberitahukan kepada Ditjen Administrasi Hukum Umum pada Kementrian Hukum dan HAM RI sebagaimana termuat dalamDaftar Perseroan nomor AHU- 0036461.AH.01.09 Tahun 2012 tanggal 25 April 2012.

Menimbang, bahwa oleh karena anggaran dasar PT.

CAKRAWALA NUSADIMENSI sudah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, maka sesuai dengan Undang- undang Perseroan Terbatas No. 40 tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, status PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI adalah badan hukum (rechtsperson) yang memiliki hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum serta dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum. Bahwa selanjutnya, oleh karena Terdakwa PT CAKRAWALA NUSADIMENSI merupakan badan hukum, maka terdakwa dapat dikategorikan sebagai korporasi menurut Undang- undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang RI No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi.

Menimbang, bahwa Terdakwa PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI dalam persidangan ini diwakili oleh YUDI WIJAYA selaku Direktur PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI berdasarkan Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemgang Saham Luar Biasa PT. Cakrawala Nusadimensi, Akta Nomor 2 tanggal 06 Mei 2002, Notaris Titi Indrasari, SH. Berdasarkan anggaran perseroan Pasal 12 Akta No. 38 tanggal 18 Januari 2008, sdr.YUDI WIJAYA selaku Direktur antara lain berhak mewakili perseroan commit to user commit to user

(5)

45

didalam dan diluar pengadilan tentang segala hal dan dalam segala kejadian.

Menimbang, bahwa berdasasarkan uraian pertimbangan hukum di atas, maka menurut pendapat Majelis Hakim bahwa sistim pertanggungjawaban pidana yang tepat dalam perkara ini adalah korporasi sebagai pembuat dan sekaligus jugasebagai pihak yang bertanggung jawab menurut hukum;

Menimbang, bahwa oleh karena subyek hukum yang didakwa telah melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam surat dakwaan perkara ini dan telah dihadirkan dalam persidangan iniadalah benar sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Penuntut Umum, yaitu suatu korporasi bernama PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI yang mengenai pendirian dan anggaran dasarnya telah disebutkan di atas, maka dengan demikian Majelis berpendapat unsur “setiap orang” telah terpenuhi.

b. Unsur secara melawan hukum

Menimbang, bahwa perbuatan Terdakwa PT.CAKRAWALA NUSA DIMENSI yang sudah mengetahui tanah seluas 10.882 M2 (sepuluh ribu delapan ratus delapan puluh dua meterpersegi) itu sudah menjadi asset Pemerintah Kota Bekasi, akan tetapi Terdakwa PT.CAKRAWALA NUSA DIMENSI tetap menandatangani kelima Surat Pernyataan Pelepasan Hak tersebut sehingga seolah-olah telah menerima pelepasan hak atas tanah dengan total luas 10.882 M2 (sepuluh ribu delapan ratus delapan puluh dua meterpersegi) dari para pemilik, yaitu saksi Ir. Wiwik Tjahyono.M.sc, saksi Lili Isminarti, Sdr. Drs.Cahyo Purnomo, saksi. Ir, Ipung Tjahyadi, dan saksi E.Dewi Ambarwati, adalah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan,tidak patut , dan bertentangan dengan :

1) Undang –undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendahaan Negara Pasal 45 Ayat 2 yang mengatur

commit to user commit to user

(6)

46

“Pemindahtanganan barang milik daerah/negara dilakukan dengan cara dijual,dipertukarkan,dihibahkan,atau disertakan sebagai modal pemerintah setelah mendapat persetujuan DPR/DPRD”.

2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah Pasal 46 Ayat 2 Huruf a yang mengatur :

“Pemindahtanganan barang milik daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 untuk tanah dan/atau bangunan, dilakukan setelah mendapat persetujuan DPRD”.

3) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah Pasal 58 Ayat (1) Huruf a yang mengatur :

“Pemindahtanganan barang milik daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57, ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, untuk tanah dan/atau bangunan “.

Menimbang, berdasarkan pertimbangan tersebut, Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur utama yakni unsur melawan hukum dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam Dakwaan Primair telah terpenuhi dalam perbuatan Terdakwa.

c. Unsur melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.

Menimbang, bahwa sebagaimana telah dipertimbangkan di atas, bahwa Terdakwa mengetahui pada areal sebagaimana dimaksud dalam Surat Keputusan No. 591/Kep.162-Bipem/V/2007 tanggal 16 Mei 2007 Tentang Pemberian Izin Lokasi Pembangunan Perumahan atas nama Terdakwa PT. Cakrawala Nusadimensi seluas 450.000 M2 (empat ratus lima puluh ribu meter persegi) di kelurahan Cimuning commit to user commit to user

(7)

47

Kecamatan Mustikajaya dan Kelurahan Sumurbatu Kecamatan Bantargebang Kota Bekasi terdapat tanah seluas10.882 M2 (sepuluh ribu delapan ratus delapan puluh dua meterpersegi) yang sudah menjadi asset Pemerintah Kota Bekasi.

Menimbang, bahwa Terdakwa PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI merasa berkpentingan untuk membebaskan tanah tersebut, dan untuk itu Terdakwa PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI telah mengikuti dan menempuh cara/mekanisme seolah-olah terjadi ruislag/tukar guling yang dibuat dan diatur oleh Drs. Gatot Sutejo yang ternyata dan telah terbukti tidak benar dan bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Menimbang, bahwa diatas tanah seluas10.882 M2 (sepuluh ribu delapan ratus delapan puluh dua meterpersegi) tersebut oleh Terdakwa PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI telah membuka sebanyak 120 (seratus dua puluh) tanah Kavling dan dari jumlah dimaksud telah terbangun 79 (tujuh puluh sembilan) unit rumah komersil, yang dari jumlah tersebut Terdakwa PT.CAKRAWALA NUSADIMENSI telah berhasil menjual 72 (tujuh puluh dua) unit rumah kepada konsumen (masyarakat umum).

Menimbang, sesuai dengan keterangan Terdakwa bahwa hasil dari penjualan 72 (tujuh puluh satu) unit rumah kepada konsumen (masyarakat umum) tersebut Terdakwa PT.CAKRAWALA NUSADIMENSI telah memperoleh keuntungan sebesar Rp.

2.640.834.538,-(dua milyar enam ratus empat puluh juta delapan ratus tiga puluh empat ribu lima ratus tiga puluh delapan rupiah), terdiri dari : 1) Tanah sebesar Rp.470.300.000,- (empat ratus tujuh puluh juta tiga ratus ribu rupiah); 2) Bangunan sebesar Rp.1.268.126.196,-(satu milyar dua ratus enam puluh delapan juta seratus dua puluh enam ribu seratus sembilan puluh enam rupiah); 3) Lain-lain sebesar Rp.902.408.342,- (sembilan ratus dua juta empat ratus delapan ribu tiga ratus empat puluh dua rupiah). commit to user commit to user

(8)

48

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan hukum tersebut maka perbuatan Terdakwa telah memperkaya Terdakwa PT.CAKRAWALA NUSADIMENSI, sehingga unsur “memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi” telah terpenuhi dalam perbuatan Terdakwa.

d. Unsur yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara.

Menimbang, bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, Pasal 1 angka 3, bahwa “Barang milik daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau perolehan lainnya yang sah”.Perolehan tanah seluas 10.882M2 (sepuluh ribu delapan ratus delapan puluh dua meter persegi) dari pelaksanaan ketentuan Pasal 3 Ayat 2 Peraturan Daerah Kotamadya Tingkat II Bekasi Nomor 77 Tahun 1999 Tentang Kewajiban Penyediaan Prasarana, Utilitas umum dan Fasilitas sosial bagi Perusahaan Perumahan di wilayah Kotamadya tingkat II Bekasi termasuk kategori perolehan yang sah.

Menimbang, berdasarkan keterangan Ahli Prof. Dr. NUR BASUKI MINARNO SH, M.Hum, bahwa barang yang diperoleh dari perolehan yang sah, apabila sudah diserah-terimakan kepada Pemerintah yang dibuktikan dengan adanya Berita Acara Serah Terima maka statusnya adalah barang milik daerah meskipun belum dicatat dalam daftar asset.

Menimbang, bahwa dengan adanya penyimpangan dalam proses pembebasan tanah seluas 10.882 M2 (sepuluh ribu delapan ratus delapan puluh dua meter persegi) yang sudah menjadi asset Pemerintah Kota Bekasi tersebut, maka dengan sendirinya telah menimbulkan kerugian bagi Pemda Kota Bekasi, dan berdasarkan Laporan Hasil Audit Dalam Rangka Perhitungan Kerugian commit to user commit to user

(9)

49

Keuangan Negara dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Jawa Barat Nomor : SR- 371/PW10/5/2015 tanggal 30 Juni 2015, perihal : Perhitungan Kerugian Keuangan Negara atas Kasus Dugaan Tindak Pidana Korupsi Penjualan Lahan Tempat Pemakaman Umum milik Pemerintah Kota Bekasi di Kelurahan Sumur Batu Kecamatan Bantar Gebang Tahun 2012, telah mengakibatkan kerugian Keuangan Negara cq. Keuangan Daerah Pemerintah Kota Bekasi sebesar Rp.4.189.570.000,00,- (Empat Milyar Seratus Delapan Puluh Sembilan Juta Lima Ratus Tujuh Puluh Ribu Rupiah).

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut, maka unsur “dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara” telah terpenuhi.

Dengan pertimbangan hukum tersebut diatas majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Bandung 65/Pid.Sus-TPK/2016/PN.Bdg tanggal 19 Oktober 2016 menjatuhkan putusan sebagai berikut :

a. Menyatakan Terdakwa PT CAKRAWALA NUSADIMENSI terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersamasama sebagaimana dalam dakwaan primair.

b. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa PT CAKRAWALA NUSADIMENSI oleh karena itu dengan pidana denda sebesar Rp 700.000.000,- (tujuh ratus juta rupiah) dengan ketentuan jika terdakwa PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI tidak membayar denda tersebut dalam tenggang waktu 1 (satu) bulan terhitung sejak putusan tersebut berkekuatan hukum tetap, maka harta benda terpidana PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI dapat disita oleh Jaksa dan dilelang untuk membayar denda tersebut;

c. Menyatakan barang bukti berupa :

- No 1 sampai dengan 73 Dikembalikan kepada Terdakwa PT Cakrawala Nusadimensi melalui Saudara Yudi Wijaya selaku Direktur PT Cakrawala Nusadimensi.

- No 74 sampai dengan 296 dirampas untuk Negara cq. Pemerintah Kota Bekasi.

commit to user commit to user

(10)

50

d. Membebankan kepada terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah).

2. Pertimbangan Hakim dalam Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor:

30/PID.SUS/TPK/2014/PN.JKT.PST.

Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Bandung 65/Pid.Sus-TPK/2016/PN.Bdg diatas berbanding terbalik dengan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor:

30/PID.SUS/TPK/2014/PN.JKT.PST, dalam putusan tersebut Korporasi yaitu PT. Adhi Karya (Persero) Tbk tidak dihukum sama sekali, melainkan hanya Teuku Bagus Mokhamad Noor selaku Kepala Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya (Persero) Tbk, untuk lebih jelasnya akan penulis uraikan sebagai berikut :

Bahwa Terdakwa selaku Kepala Divisi Konstruksi I Jakarta PT.Adhi Karya (Persero) Tbk.,yang diberikan kuasa diberikan kuasa untuk mewakili perusahaan atau direksi dalam kaitannya dengan kegiatan jasa produksi bidang gedung dan bangunan pabrik di seluruh wilayah Republik Indonesia, Terdakwa yang telah mempengaruhi panitia pengadaan/pejabat yang berwenang baik langsung maupun tidak lengsung, dan telah mensubkontrakan pekerjan yang bukan pekerjaan spesialis, dan menimbulkan pertentangan kepentingan, dalam pekerjaan Proyek Pembangunan Lanjutan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Sentul Bogor-Jawa Barat pada Kementerian Pemuda dan Olahraga Tahun Anggaran 2010 s.d. 2012 sehingga merugikan keuangan Negara sebesar Rp. 464.514.294.145,91,- (empat ratus enam puluh empat milyar lima ratus empat belas juta dua ratus sembilan puluh empat ribu seratus empat puluh lima rupiah Sembilan puluh satu sen) atau dibulatkan menjasi Rp. 464.514.000.000,- (empat ratus enam puluh empat milyar lima ratus empat belas juta rupiah) sehingga terdakwa terbukti melanggar Pasal 3 jo Pasal 4 jo Pasal commit to user commit to user

(11)

51

18 Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.

20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHPidana.

Adapun pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor:

30/PID.SUS/TPK/2014/PN.JKT.PST tanggal 8 Juli 2014 sebagai berikut :

a. Unsur Setiap Orang 105:

Menimbang, bahwa dari fakta-fakta yang terungkap didepan persidangan, baik dari keterangan para saksi, bukti surat dan adanya barang bukti serta keterangan Terdakwa, maka diperoleh fakta hukum bahwa Terdakwa adalah Kepala Divisi Konstruksi I Jakarta PT. Adhi Karya (Persero) Tbk., yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Direksi Nomor: 014-6/034, tanggal 1 April 2008 tentang Penugasan Pejabat Struktural, dan Surat Keputusan Nomor: 014- 6/022 tanggal 30 Maret 2010 tentang Alih Tugas dan Jabatan Pejabat Struktural PT. Adhi Karya (Persero) Tbk. yang mana Terdakwa tetap menjabat sebagai Kepala Divisi Konstruksi I Jakarta PT. Adhi Karya (Persero) Tbk;

Menimbang, bahwa berdasarkan Surat Kuasa Nomor: 76 tanggal 19 Agustus 2008, yang dibuat oleh Notaris Ny. Porbaningsih Adi Warsito, SH., Terdakwa selaku Kepala Divisi I PT. Adhi Karya (Persero) Tbk, diberikan kuasa khusus untuk mewakili Perusahaan atau Direksi dalam kaitannya dengan keguatan jasa produksi bidang gedung dan bangunan pabrik di seluruh Wilayah Republik Indonesia;

105 Lihat Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor: 30/PID.SUS/TPK/2014/PN.JKT.PST tanggal 8 Juli 2014.

commit to user commit to user

(12)

52

Menimbang, bahwa dalam jabatannya dan kedudukan Terdakwa selaku Kepala Divisi I PT. Adhi Karya (Persero) Tbk, Terdakwa telah melakukan kerja sama operasi/KSO dengan PT.

Wijaya Karya yang dituangkan dalam Akta Perjanjian Kemitraan Kerjasama Operasi (Joint Operation) Nomor: 73 tanggal 18 Agustus 2010 dalam pelaksanaan pekerjaan Proyek Pembangunan Lanjutan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Sentul Bogor-Jawa Barat pada Kementerian Pemuda dan Olahraga Tahun Anggaran 2010 s.d. 2012, yang mana dalam kerjasama tersebut Terdakwa selaku Kuasa KSO (Leader) dan Harangan Parlaungan Sianipiar dari PT. Wijaya Karya selaku Wakil KSO (Deputi Leader), dengan komposisi modal sharing PT. Adhi Karya 70 % dan PT. Wijaya Karya 30 %;

Menimbang, bahwa dari rangkaian fakta hukum tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Terdakwa adalah orang perseorangan karena jabatan dan kedudukannya yang mampu melakukan dan bertanggung-jawab atas perbuatan yang didakwakan kepadanya yaitu melakukan tindak pidana korupsi dan dalam keadaan sehat rohani dan jasmani, dengan demikian menurut Majelis Hakim pengertian unsur setiap orang dalam perkara a quo telah terpenuhi dan ada dalam diri Terdakwa;

b. Unsur dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi;

Menimbang, bahwa berdasarkan pengertian unsur tersebut di atas, dihubungkan dengan fakta-fakta yang terungkap didepan persidangan yaitu berdasarkan keterangan saksi-saksi, pendapat para ahli, dan adanya bukti surat, barang bukti, serta keterangan Terdakwa, maka diperoleh fakta hukum bahwa Terdakwa selaku Kepala Divisi Konstruksi I Jakarta dan selaku Leader KSO Adi- Wika dalam pelaksanaan pekerjaan Proyek Pembangunan Lanjutan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional commit to user commit to user

(13)

53

(P3SON) di Hambalang, Sentul Bogor-Jawa Barat pada Kementerian Pemuda dan Olahraga Tahun Anggaran 2010 s.d. 2012, mempunyai otoritas dalam pengeluaran sejumlah uang, baik pengeluaran itu sebelum dilakukan pelelangan maupun sesudah pelelangan, dengan rincian sebagai berikut:

1) Bahwa pada bulan September 2009 Terdakwa telah memberikan uang kepada saksi Wafid Muharam melalui saksi Paul Nelwan sebesar Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) yang diserahkan dalam 2 (dua) tahap oleh saksi M.Arief Taufiqurrahman;

2) Bahwa pada bulan September 2009 saksi Machfud Surosotelah memberikan uang kepada saksi Wafid Muharam sebesar Rp.

3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) sebagai tanda jadi agar PT.

Adhi Karya mendapatkan proyek P3SON Hambalang, yang tanda terimanya ditandatangani oleh saksi Poniran stafnya Wafid Muharam.

3) Bahwa sebelum penetapan pemenang lelang, Terdakwa melakukan pertemuan di Plaza Senayan dengan saksi Deddy Kusdinar, saksi Lisa Lukitawati Isa dan saksi Muhammad Arifin, dan pada pertemuan tersebut PT. Adhi Karya selaku calon pemenang lelang Jasa Konstruksi P3SON Hambalang diminta memberikan fee sebesar 18%. Atas permintaan fee tersebut, Terdakwa dalam pertemuan berikutnya di kantor Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya menyampaikan kepada saksi Lisa Lukitawati Isa dan saksi Muhammad Arifin bahwa realisasi pemberian fee 18% oleh PT. Adhi Karya tersebut akan diberikan melalui saksi Machfud Suroso;

4) Bahwa dalam rangka memenuhi pemberian fee 18% dimaksud, Terdakwa memerintahkan saksi Purwadi Hendro Pratomo bagian Keuangan Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya membuat perhitungan untuk realisasi pembebanan fee 18% dan ditambah commit to user commit to user

(14)

54

dengan biaya-biaya yang sudah dikeluarkan PT. Adhi Karya untuk pemenangan proyek tersebut;

5) Bahwa setelah ditetapkan sebagai pemenang lelang, Terdakwa selaku Leader KSO Adhi-Wika dan saksi Deddy Kusdinar selaku PPK menandatangani Surat Perjanjian Kontrak Induk Nomor: 3894/Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga/BP/10/2010 tanggal 10 Desember 2010 tentang Pekerjaan Pembangunan Lanjutan P3SON di Hambalang Bogor- Jawa Barat pada Kemenpora TA. 2010 s.d 2012 dengan nilai kontrak Rp 1.077.921.000.000,- (satu trilyun tujuh puluh tujuh milyar sembilan ratus dua puluh satu juta rupiah), dan pada hari yang sama Terdakwa menandatangani Kontrak Anak dengan pihak subkontraktor Nomor: 3895/ Seskemenpora/BP/10/2010 untuk tahun 2010 dengan nilai kontrak Rp. 246.238.455.479,- (dua ratus empat puluh enam milyar dua ratus tiga puluh delapan juta empat ratus lima puluh lima ribu empat ratus tujuh puluh sembilan rupiah), selanjutnya pada tanggal 29 Desember 2010 kembali menandatangani Kontrak Anak dengan pihak subkontraktor Nomor:0513.A/Seskemenpora/BP/12/2010 untuk tahun 2011 dengan nilai kontrak Rp. 507.405.139.999,- (lima ratus tujuh milyar empat ratus lima juta seratus tiga puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan rupiah).

6) Bahwa pada akhir tahun 2010, Terdakwa memerintahkan saksi Purwadi Hendro Pratomo selaku Project Manager KSO Adhi- Wika agar mengajukan permohonan pembayaran kepada Kemenpora berdasarkan progres estimasi, yang kemudian KSO Adhi-Wika pada tahun 2010 mendapatkan pembayaran setelah dipotong pajak seluruhnya Rp. 217.317.547.103,- (dua ratus tujuh belas milyar tiga ratus tujuh belas juta lima ratus empat puluh tujuh ribu seratus tiga rupiah) dengan rincian pembayaran uang muka sebesar Rp. 189.449.906.363,- (seratus delapan commit to user commit to user

(15)

55

puluh sembilan milyar empat ratus empat puluh sembilan juta sembilan ratus enam ribu tiga ratus enam puluh tiga rupiah) ditambah pembayaran pelaksanaan konstruksi sebesar Rp.27.867.640.740,- (dua puluh tujuh milyar delapan ratus enam puluh tujuh juta enam ratus empat puluh ribu tujuh ratus empat puluh rupiah);

7) Bahwa kemudian Terdakwa telah melakukan pembayaran kepada para subkontraktor yaitu: PT Global Daya Manunggal dan PT Dutasari Citra Laras serta kepada 37 perusahaan- perusahaan subkon lainnya senilai Rp. 530.736.060.610,55 (lima ratus tiga puluh milyar tujuh ratus tigapuluh enam juta enam puluh ribu enam ratus sepuluh rupiah lima puluh lima sen);

8) Bahwa KSO Adhi-Wika pada tahun 2010 dan tahun 2011 telah menerima pembayaran dari Kemenpora untuk proyek pembangunan P3SON Hambalang yang seluruhnya berjumlah Rp. 453.454.231.090,- (empat ratus lima puluh tiga milyar empat ratus lima puluh empat juta dua ratus tiga puluh satu ribu sembilan puluh rupiah);

9) Bahwa KSO Adhi-Wika telah melakukan pembayaran kepada PT. Dutasari Citra Laras sebesar Rp. 170.395.116.962,- (seratus tujuh puluh milyar tiga ratus sembilan puluh lima juta seratus enam belas ribu Sembilan ratus enam puluh dua rupiah), kepada saksi Machfud Suroso sebesar Rp. 28.800.942.000,- (dua puluh delapan milyar delapan ratus juta sembilan ratus empat puluh dua ribu rupiah), kepada PT. Global Daya Manunggal sebesar Rp. 58.902.994.657,- (lima puluh delapan milyar sembilan ratus dua juta sembilan ratus sembilan puluh empat ribu enam ratus lima puluh tujuh rupiah), kepada PT. Aria Lingga Perkasa sebesar Rp. 3.337.964.280,-0 (tiga milyar tiga ratus tiga puluh tujuh juta sembilan ratus enam puluh empat ribu dua ratus delapan puluh rupiah), dan kepada 32 (tiga puluh dua) commit to user commit to user

(16)

56

subkontraktor lainnya sebesar Rp. 17.960.753.287,- (tujuh belas milyar sembilan ratus enam puluh juta tujuh ratus lima puluh tiga ribu dua ratus delapan puluh tujuh rupiah).

10) Bahwa pembayaran kepada saksi Machfud Suroso dan PT.

Dutasari Citra Laras dari tanggal 28 Desember 2010 s.d. tanggal 04 Februari 2011 tersebut di atas, diantaranya sejumlah Rp.

45.300.942.000,- (empat puluh lima milyar tiga ratus juta sembilan ratus empat puluh dua ribu rupiah) merupakan bagian dari pembayaran fee sebesar 18%, yang kemudian dikeluarkan untuk saksi Muhammad Nazaruddin sebesar Rp.

10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) untuk mengganti biaya-biaya yang telah dikeluarkan saksi Muhammad Nazaruddin diantaranya untuk mengurus sertifikat di Hambalang yang diserahkan kepada Joyo Winoto sebesar Rp.

3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah), untuk saksi Choel Malarangeng melalui saksi Deddy Kusdinar sebesar US$

550,000.00 (lima ratus lima puluh ribu dolar Amerika) atau ekuivalen Rp 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) dan kepada Komisi X DPR RI sebesar Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah).

11) Bahwa dari pembayaran proyek P3SON yang diterima KSO Adhi-Wika tersebut, Terdakwa telah menggunakan untuk pinjaman pribadi sebesar Rp.4.532.923.350,- (empat milyar lima ratus tiga puluh dua juta sembilan ratus dua puluh tiga ribu tiga ratus lima puluh rupiah), yang mana sebesar Rp. 1.700.000.000,- (satu milyar tujuh ratus juta rupiah) dipergunakan untuk kepentingan pergantian Direksi PT. Adhi Karya (Persero) Tbk, dan sebesar Rp. 1.700.000.000,- (satu milyar tujuh ratus juta rupiah) dipergunakan untuk pembayaran insentif kepada 340 (tiga ratus empat puluh) karyawan Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya dan yang bekerja di KSO Adhi-Wika; commit to user commit to user

(17)

57

12) Bahwa untuk menutupi pengeluaran PT. Adhi Karya terkait pemenangan proyek P3SON Hambalang tersebut, Terdakwa memerintahkan saksi Sutrisno Manajer Keuangan Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya untuk menerima uang dari saksi Machfud Suroso sebesar Rp. 21.000.000.000,- (dua puluh satu milyar rupiah);

13) Bahwa pada tanggal 30 April 2013, KSO Adhi-Wika mendapatkan pembayaran klaim asuransi akibat longsor sebesar Rp.13.490.182.850,- (tiga belas milyar empat ratus sembilan puluh juta seratus delapan puluh dua ribu delapan ratus lima puluh rupiah), yang selanjutnya dipergunakan uang klaim tersebut dipergunakan untuk biaya penanganan longsor, pembayaran suppliers, alat, serta subkon, dan sisanya sebesar Rp. 7.035.419.450,- (tujuh milyar tiga puluh lima juta empat ratus sembilan belas ribu empat ratus lima puluh rupiah) disimpan di rekening KSO Adhi-Wika;

14) Bahwa berdasarkan hasil catatan di bagian Keuangan Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya, maka untuk mendapatkan pekerjaan Jasa Konstruksi P3SON Hambalang PT. Adhi Karya dan PT. Wijaya Karya telah mengeluarkan sejumlah uang.

15) Bahwa terhadap pengeluaran-pengeluaran uang tersebut, selanjutnya ditutup dengan uang pembayaran proyek dari Kemenpora yang diterima oleh KSO Adhi-Wika;

Menimbang, bahwa dari rangkaian fakta-fakta hukum tersebut di atas, maka Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi telah terpenuhi dan ada perbuatan Terdakwa;

c. Unsur menyalahgunakan kewenangan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan.

commit to user commit to user

(18)

58

Menimbang, bahwa berdasarkan pengertian unsur tersebut di atas, dan dihubungkan dengan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan ini, baik dari keterangan saksi-saksi, pendapat para ahli, adanya bukti surat dan barang bukti, serta keterangan Terdakwa, maka diperoleh fakta hukum bahwa Terdakwa adalah Kepala Divisi Konstruksi I Jakarta PT. Adhi Karya (Persero) Tbk., yang tugas pokok, tanggung jawab dan kewenangannya adalah mengoordinasi kegiatan operasional divisi yang meliputi pekerjaan pemasaran, pengelolaan produksi, pengelolaan keuangan dan pengelolaan sumber daya manusia yang ditangani oleh masing- masing manajer;

Menimbang, bahwa selaku Kepala Divisi Konstruksi I Jakarta, Terdakwa diberikan kuasa untuk mewakili perusahaan atau direksi dalam kaitannya dengan kegiatan jasa produksi bidang gedung dan bangunan pabrik di seluruh wilayah Republik Indonesia, yang ditunjuk berdasarkan Surat Kuasa Nomor 76, tanggal 19 Agustus 2008, yang dibuat oleh Notaris Ny. Poerbaningsih Adi Warsito, SH.

Menimbang, bahwa Terdakwa selaku Kepala Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya (Persero) Tbk, bertanggung-jawab kepada Direksi, berupa pencapaian target dan sasaran yang dilakukan dalam bentuk laporan bulanan.

Menimbang, bahwa untuk pencapaian target sasaran tersebut, maka pada akhir tahun 2009 Terdakwa telah mendapatkan laporan dari bawahannya yaitu saksi M. Arief Taufikurrahman selaku Manager Pemasaran PT. Adhi Karya Divisi Konstrulksi I Jakarta, bahwa saksi M. Arief Taufikurrahman pernah bertemu dengan saksi Mindo Rosalina Manulang, yang menyampaikan akan ada proyek baru di Kemenpora, dan atas laporan saksi M. Arief Taufikurrahman, Terdakwa memerintahkan untuk mengikuti perkembangan dan memonitor proyek tersebut sampai proses lelang;

commit to user commit to user

(19)

59

Menimbang, bahwa pada akhir tahun 2009 pada rapat Triwulan, Terdakwa memutuskan bahwa proyek di Kemenpora tersebut untuk menjadikannya sebagai salah satu proyek sasaran yang layak di kerjakan oleh PT. Adhi Karya Divisi Konstruksi I Jakarta, oleh karenanya Terdakwa mengajak saksi Harangan Parlaungan Sianipar sebagai Manager Divisi Gedung PT. Wijaya Karya (PT. Wika) untuk Join Operation/Kerja Sama Operasi (KSO);106

Menimbang, bahwa dari rangkaian fakta-fakta hukum tersebut di atas, maka dapat Majelis Hakim disimpulkan sebagai berikut :

Bahwa perbuatan Terdakwa yang telah mempengaruhi panitia pengadaan/ pejabat yang berwenang baik langsung maupun tidak lengsung, dan telah mensubkontrakan pekerjan yang bukan pekerjaan spesialis, dan menimbulkan pertentangan kepentingan, maka perbuatan Terdakwa tersebut dapat dikualifisir sebagai perbuatan yang tidak sesuai dengan ketentuan Keppres No. 80 Tahun 2003.

Bahwa perbuatan Terdakwa dalam melaksanakan tugasnya selaku Penerima Kuasa dari Direksi PT. Adhi Karya (Persero) Tbk, yang tidak mematuhi Anggaran Dasar BUMN, maka perbuatan Terdakwa tersebut dapat dikualifisir sebagai perbuatan yang tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 5 ayat (3) Undang-undang No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN yang berbunyi: Dalam melaksanakan tugasnya, anggota Direksi harus mematuhi anggaran dasar BUMN dan peraturan perundang-undangan serta wajib melaksanakan prinsip-prinsip profesionalisme, efisiensi, transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban, serta kewajaran;

Menimbang, bahwa berdasarkan dari kesimpulan tersebut di atas, maka Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur

106 Untuk lengkapnya lihat Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor: 30/PID.SUS/TPK/2014/PN.JKT.PST tanggal 8 Juli 2014.

commit to user commit to user

(20)

60

menyalahgunakan kewenangan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan telah terpenuhi dan ada dalam perbuatan Terdakwa;

d. Unsur yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Menimbang, bahwa berdasarkan pengertian unsur tersebut di atas, dihubungkan dengan perkara a quo, maka berdasarkan Perhitungan Kerugian Keuangan Negara yang dilakukan oleh Ahli dari Badan Pekeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), bahwa BPK menympulkan terdapat penyimpangan yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait dalam Pembangunan P3SON Hambalang pada: (1) pelaksanaan studi Amdal; (2) proses persetujuan Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga (RKA-KL) dan pemberian persetujuan Kontrak Tahun Jamak; (3) pelelangan perencanaan konstruksi; dan (4) pelaksanaan konstruksi yang mengakibatkan terjadi kerugian Negara sebesar Rp. 464.514.294.145,91,- (empat ratus enam puluh empat milyar lima ratus empat belas juta dua ratus sembilan puluh empat ribu seratus empat puluh lima rupiah sembilan puluh satu sen) atau dibulatkan menjasi Rp. 464.514.000.000,- (empat ratus enam puluh empat milyar lima ratus empat belas juta rupiah). Jumlah kerugian tersebut merupakan total pembayaran neto dari Kas Negara (nilai SP2D) selama tahun 2010 dan 2011 dan diterima oleh rekanan pelaksana (KSO Adhi-Wika, PT. Yodya Karya, PT. Ciriajasa Cipta Mandiri) sebesar Rp. 471.707.434.660,78 (empat ratus tujuh puluh satu milyar tujuh ratus tujuh juta empat ratus tiga puluh empat ribu enam ratus enam puluh rupiah tujuh puluh delapan sen ) dikurangi dengan saldo kas/setara kas yang masih tersisa dalam rekening KSO Adhi-Wika baik yang sudah disita KPK sebesar Rp. 7.170.000.000,00 (tujuh milyar seratus tujuh puluh juta rupiah) maupun saldo kas yang masih dikuasai KSO commit to user commit to user

(21)

61

Adhi-Wika per 12 Februari 2014 sebesar Rp. 23.140.514,87 (dua puluh tiga juta seratus empat puluh ribu lima ratus empat belas rupiah delapan puluh tujuh sen);

Menimbang, bahwa dengan adanya kerugian keuangan negara dalam pembangunan P3SON tersebut di atas, maka Majelis Hakim berpendapat bahwa unsur yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara telah terpenuhi dan ada dalam perbuatan Terdakwa;

Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor: 30/PID.SUS/TPK/2014/PN.JKT.PST tanggal 8 Juli 2014 dengan amar sebagai berikut107 :

a. Menyatakan Terdakwa Teuku Bagus Mokhamad Noor, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama.

b. Menjatuhkan pidana oleh karenanya terhadap Terdakwa Teuku Bagus Mokhamad Noor dengan pidana penjara selama : 4 (empat) tahun dan 6 (enam) bulan dan pidana denda sebesar Rp.150.000.000,- (seraus lima puluh juta rupiah) apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama : 3 (tiga) bulan

c. Memerintahkan Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi untuk membuka blokir berupa: huruf a s.d huruf g.

Menetapkan agar masa penahanan yang telah dijalankan, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan Memerintahkan agar Terdakwa Teuku Bagus Mokhamad Noor, tetap berada dalam tahanan

d. Menyatakan barang bukti berupa:

- Nomor 1 s/d 80 dirampas untuk Negara.

- Nomor 81 s/d 84 Dikembalikan kepada dimana barang bukti tersebut disita.

- Nomor 85 digunakan dalam perkara lain.

e. Menetapkan agar Terdakwa Teuku Bagus Mukhamad Noor

f. Membayar biaya perkara sebesar Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah);

107 Untuk lengkapnya lihat Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor: 30/PID.SUS/TPK/2014/PN.JKT.PST tanggal 8 Juli 2014.

commit to user commit to user

(22)

62

Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor: 58/PID/TPK/2014/PT.DKI tanggal 28 Oktober 2014 dengan amar sebagai berikut108 :

a. Menerima permintaan banding dari Jaksa Penuntut Umum;

b. Mengubah putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor : 30/Pid.Sus/TPK/2014/PN.JKT.PST., tanggal 08 Juli 2014 yang dimintakan banding tersebut sekedar mengenai lamanya pidana penjara terhadap Terdakwa dan denda, sehingga amar putusan selengkapnya sebagai berikut:

- Menyatakan Terdakwa Teuku Bagus Mokhamad Noor, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersamasama;

- Menjatuhkan pidana oleh karenanya terhadap Terdakwa Teuku Bagus Mokhamad Noor dengan pidana penjara selama 6 (enam) tahun dan pidana denda sebesar Rp.300.000.000,- (tiga ratus puluh rupiah) apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama : 3 (tiga) bulan.

- Memerintahkan Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi untuk membuka blokir berupa: huruf a s.d huruf g.

- Menetapkan agar masa penahanan yang telah dijalankan, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan Memerintahkan agar Terdakwa Teuku Bagus Mokhamad Noor, tetap berada dalam tahanan

- Menyatakan barang bukti berupa:

Nomor 1 s/d 80 dirampas untuk Negara.

Nomor 81 s/d 84 Dikembalikan kepada dimana barang bukti tersebut disita.

Nomor 85 digunakan dalam perkara lain.

- Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara dalam kedua tingkat pengadilan yang dalam tingkat banding sebesar Rp 2.500,- (Dua ribu lima ratus rupiah);

Putusan Mahkamah Agung No. 2428 K/Pid.Sus/2014 tanggal 08 April 2015 dengan amar sebagai berikut :

Menyatakan tidak dapat diterima permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : Jaksa/Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi tersebut ;

Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : TEUKU BAGUS MOKHAMAD NOOR, tersebut ;

108 Untuk lengkapnya lihat Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor: 58/PID/TPK/2014/PT.DKI tanggal 28 Oktober 2014.

commit to user commit to user

(23)

63

Membebankan kepada Terdakwa tersebut untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini ditetapkan sebesar Rp2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah) ;

Dilihat dari dua putusan perkara tindak pidana korupsi yang termasuk dalam salah satu tipologi korupsi yaitu menunjuk adanya kesepakatan timbal balik antara pihak pemberi dan pihak penerima demi keuntungan kepada kedua belah pihak dan dengan aktif diusahakan tercapainya keuntungan bisnis dengan pemerintah tersebut diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun keduanya sama-sama melibatkan korporasi sebagai subjek pelaku tindak pidana, untuk PT. Cakrawala Nusadimensi subjek pelaku korporasi dan untuk PT. Adhi Karya (Persero) Tbk subjek pelakunya adalah Kepala Divisi Konstruksi I Jakarta PT.Adhi Karya (Persero) Tbk. Selaku pengurus yaitu Penerima Kuasa dari Direksi PT. Adhi Karya (Persero) Tbk namun terdapat perbedaan dalam penerapan pertanggungjawaban pidananya.

Kasus yang pertama, hakim dalam mengadili kasus ini, yaitu Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri Bandung dan Jaksa pada Kejaksaan Negeri Bandung sudah mampu memaknai pertanggungjawaban pidana korporasi dan penjatuhan pidana terhadap korporasi dengan benar dan menerapkannya ke dalam Putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap tersebut.

Sedangkan dalam kasus kedua jaksa KPK dan hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menangani perkara terdakwa Teuku Bagus Mokhamad Noor selaku Kepala Divisi Konstruksi I Jakarta PT. Adhi Karya, tersebut sama sekali tidak mempertimbangkan dan menyentuh bagaimana PT. Adhi Karya selaku korporasi yang menerima keuntungan dari hasil transaksi koruptif dengan memberkan fee kepada para pihak guna mendapatkan proyek dapat dikejar atau dijerat dengan pidana melainkan hanya Kepala Divisi yang merupakan staf saja, meskipun didalam fakta persidangan terungkap bahwa terdakwa Teuku Bagus Mokhamad Noor selaku Kepala Divisi Konstruksi I Jakarta PT.

Adhi Karya bertindak bukan atas nama pribadi dan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan yaitu pencapaian target sasaran commit to user commit to user

(24)

64

pendapatan PT. Adhi Karya dengan cara mendapatkan Proyek Pembangunan Lanjutan Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Sentul Bogor-Jawa Barat pada Kementerian Pemuda dan Olahraga Tahun Anggaran 2010 s.d. 2012.

Jaksa Penuntut Umum maupun hakim dalam menangani perkara tersebut sepertinya masih enggan dan ragu untuk mendalami lebih jauh tentang peran-peran PT. Adhi Karya selaku korporasi dalam memperoleh proyek tersebut meskipun fakta persidangan sangat jelas menunjukan hubungan antara terdakwa dengan PT. Adhi Karya dalam proyek tersebut.

Sehingga putusan tersebut hanya berakhir pada seputar pemidanaan yang bersangkutan, sama seperti model pemidanaan pada perkara-perkara pidana umum biasa, walaupun perkara tindak pidana korupsi adalah extra ordinary crime.

PT. Adhi Karya yang merupakan tempat terdakwa bekerja, sama sekali tidak tersentuh oleh pidana, yang seharusnya sangat mungkin korporasi tersebut dimintai pertanggungjawaban pidananya, sehingga semakin lama tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh korporasi bukan berkurang malah justru kian meningkat, karena adanya anggapan dari mereka para pemilik korporasi yang melakukan tindak pidana korupsi bahwa hukum lemah dan tidak akan mampu menyentuh diri mereka sebagai aktor penggerak atau pembuat dader apabila di dalam istilah hukum pidana. Korporasi merasa tidak membuat kerugian Negara dimana yang membuat kerugian Negara dalam perkara tindak pidana korupsi adalah pengurusnya padahal dengan perbuatan pengurusnya tersebut perusahaan jelas mendapat keuntungan dengan tercapainya target sasaran pendapatan dengan cara mendapatkan proyek otomatis perusahaan mendapat keuntungan yang didapat dari tindak pidana yang dilakukan pengurusnya tersebut.

Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Bandung nomor 65/Pid.Sus/TPK/2016/PN.Bdg tanggal 19 Oktober 2016 telah memutus perkara PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI selaku korporasi sebagai subjek pelaku tindak pidana korupsi dengan penerapan teori commit to user commit to user

(25)

65

pertanggungjawaban korporasi yang tepat dan benar. Adapun Penerapan pertanggungjawaban Pidana tersebut tercermin dalam dalam uraian unsur setiap orang sebagai berikut :

Menimbang, bahwa terdapat 3 (tiga) sistim pertanggungjawaban korporasi sebagai subjek tindak pidana, yaitu : 1. Pengurus korporasi sebagai pembuat dan pegurus yang bertanggung jawab.2. Korporasi sebagai pembuat dan pengurus bertanggung jawab.3. Korporasi sebagai pembuat dan juga sebagai yang bertanggung jawab.

Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan menguraikan sebagaimana tersebut di bawah ini mengenai sisim pertanggungjawaban mana yang akan diterapkan dalam perkara tersebut;

Menimbang bahwa subyek hukum yang dihadapkan sebagai Terdakwa dalam persidangan perkara ini telah disebutkan secara jelas dalam surat dakwaan, yaitu PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI adalah perusahaan swasta yang bergerak antara lain dalam bidang pembangunan perumahan (pengembang).

Menimbang, bahwa PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI berkedudukan di Jakarta, yang pendiriannya termuat dalam akta yang dibuat oleh Rachmat Santoso, SH, Notaris di Jakarta pada tanggal 14 Januari 1994 nomor 83, dan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia nomor C2.8753 HT.01.01 tahun 1994 tanggal 4 Juni 1994;

Menimbang, bahwa Terdakwa PT. CAKRAWALA NUSADIMENSI dalam persidangan ini diwakili oleh YUDI WIJAYA selaku Direktur PT.

CAKRAWALA NUSADIMENSI berdasarkan Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemgang Saham Luar Biasa PT. Cakrawala Nusadimensi, Akta Nomor 2 tanggal 06 Mei 2002, Notaris Titi Indrasari, SH. Berdasarkan anggaran perseroan Pasal 12 Akta No. 38 tanggal 18 Januari 2008, sdr.YUDI WIJAYA selaku Direktur antara lain berhak mewakili perseroan didalam dan diluar pengadilan tentang segala hal dan dalam segala kejadian.

Menimbang, bahwa berdasasarkan uraian pertimbangan hukum di atas, maka menurut pendapat Majelis Hakim bahwa sistim pertanggungjawaban pidana yang tepat dalam perkara ini adalah korporasi sebagai pembuat dan sekaligus juga sebagai pihak yang bertanggung jawab menurut hukum;

Melihat pertimbangan hakim tersebut diatas, penegak hukum dalam hal ini Jaksa dan Hakim telah berani menerapkan pertanggungjawaban korporasi, meskipun prosedur dan tata cara pemeriksaan korporasi sebagai pelaku tindak pidana masih belum jelas109 pada saat itu dikarenakan pedoman

109 Bahwa banyak undang-undang di Indonesia menempatkan korporasi sebagai subjek tindak pidana yang dapat dimintai pertanggungjawaban, namun perkara dengan subjek hukum korporasi yang diajukan dalam proses pidana masih sangat terbatas, salah satu penyebabnya adalah

commit to user commit to user

(26)

66

tentang prosedur dan tata cara pemeriksaan korporasi baru dikeluarkan pada tanggal 21 Desember 2016. Adapun prosedur dan tata cara pemeriksaan korporasi sesuai Perma Nomor 13 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana Oleh Korporasi dapat penulis rangkum sebagai berikut :

a. Pemeriksaan Korporasi (Pasal 3 sampai dengan 11 Perma Nomor 13Tahun 2016) :

1) Pemanggilan terhadap korporasi ditujukan dan disampaikan kepada Korporasi ke alamat tempat kedudukan Korporasi atau alamat tempat Korporasi tersebut beroperasi.

2) Dalam hal alamat tidak diketahui, pemanggilan ditujukan kepada Korporasi dan disampaikan melalui alamat tempat tinggal salah satu Pengurus.

3) Dalam hal tempat tinggal maupun tempat kediaman Pengurus tidak diketahui, surat panggilan disampaikan melalui salah satu media massa cetak atau elektronik dan ditempelkan pada tempat pengumuman di gedung pengadilan yang berwenang mengadili perkara tersebut.

4) Isi surat panggilan terhadap Korporasi setidaknya memuat: a. nama Korporasi; b. tempat kedudukan; c. kebangsaan Korporasi; d. status Korporasi dalam perkara pidana (saksi/ tersangka/terdakwa); e. waktu dan tempat dilakukannya pemeriksaan; dan f. ringkasan dugaan peristiwa pidana terkait pemanggilan tersebut.

5) Pemeriksaan terhadap Korporasi sebagai tersangka pada tingkat penyidikan diwakili oleh seorang Pengurus.

6) Penyidik yang melakukan pemeriksaan terhadap Korporasi memanggil Korporasi yang diwakili Pengurus dengan surat panggilan yang sah.

prosedur dan tata cara pemeriksaan korporasi sebagai pelaku tindak pidana jelas, oleh karena itu dipandang perlu adanya pedoman bagi aparat penegak hukum dalam penanganan perkara pidana yang dilakukan oleh korporasi (pertimbangan dikeluarkannya Perma Nomor 13 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana Oleh Korporasi.

commit to user commit to user

(27)

67

7) Pengurus yang mewakili Korporasi dalam pemeriksaan sebagaimana wajib hadir dalam pemeriksaan Korporasi.

8) Dalam hal Korporasi telah dipanggil secara patut tidak hadir, menolak hadir atau tidak menunjuk Pengurus untuk mewakili Korporasi dalam pemeriksaan maka penyidik menentukan salah seorang Pengurus untuk mewakili Korporasi dan memanggil sekali lagi dengan perintah kepada petugas untuk membawa Pengurus tersebut secara paksa.

b. Surat dakwaan (Pasal 12 Perma Nomor 13Tahun 2016)

1) Surat dakwaan terhadap Korporasi dibuat sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

2) Bentuk surat dakwaan merujuk pada ketentuan Pasal 143 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dengan penyesuaian isi surat dakwaan sebagai berikut: a. nama Korporasi, tempat, tanggal pendirian dan/atau nomor anggaran dasar/akta pendirian/peraturan/ dokumen/perjanjian serta perubahan terakhir, tempat kedudukan, kebangsaan Korporasi, jenis Korporasi, bentuk kegiatan/usaha dan identitas pengurus yang mewakili; dan b. uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan.

c. Pemeriksaan di Persidangan (Pasal 13 Perma Nomor 13 Tahun 2016):

1) Pengurus yang mewakili Korporasi pada tingkat penyidikan wajib pula hadir pada pemeriksaan Korporasi dalam sidang Pengadilan.

Jika Pengurus tidak hadir karena berhalangan sementara atau tetap, hakim/ketua sidang memerintahkan penuntut umum agar menentukan dan menghadirkan Pengurus lainnya untuk mewakili Korporasi sebagai terdakwa dalam pemeriksaan di sidang Pengadilan.

2) Dalam hal Pengurus yang mewakili Korporasi sebagai terdakwa telah dipanggil secara patut tidak hadir dalam pemeriksaan tanpa alasan yang sah, hakim/ketua sidang menunda persidangan dan memerintahkan kepada penuntut umum agar memanggil kembali commit to user commit to user

(28)

68

Pengurus yang mewakili Korporasi tersebut untuk hadir pada hari sidang berikutnya. Dalam hal Pengurus tidak hadir pada persidangan, hakim/ketua sidang memerintahkan penuntut umum supaya Pengurus tersebut dihadirkan secara paksa pada persidangan berikutnya.

d. Pemeriksaan di Persidangan (Pasal 14 Perma Nomor 13 Tahun 2016):

1) Keterangan Korporasi merupakan alat bukti yang sah.

2) Sistem pembuktian dalam penanganan tindak pidana yang dilakukan oleh Korporasi mengikuti Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan ketentuan hukum acara yang diatur khusus dalam undang-undang lainnya.

e. Putusan Dan Pelaksanaan Putusan Pengadilan (Pasal 23-27 Perma Nomor 13 Tahun 2016):

1) Penjatuhan Pidana :

- Hakim dapat menjatuhkan pidana terhadap Korporasi atau Pengurus, atau Korporasi dan Pengurus. Hakim menjatuhan pidana didasarkan pada masing-masing undang-undang yang mengatur ancaman pidana terhadap Korporasi dan/atau Pengurus.

- Penjatuhan pidana terhadap Korporasi dan/atau Pengurus tidak menutup kemungkinan penjatuhan pidana terhadap pelaku lain yang berdasarkan ketentuan undang-undang terbukti terlibat dalam tindak pidana tersebut.

2) Putusan

- Putusan pemidanaan dan putusan bukan pemidanaan terhadap Korporasi dibuat sesuai dengan Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

- Putusan pemidanaan dan bukan pemidanaan terhadap Korporasi mencantumkan identitas sebagai berikut: a. nama Korporasi; b.

tempat, tanggal pendirian dan/atau nomor anggaran dasar/akta pendirian/peraturan/dokumen/perjanjian serta perubahan terakhir;

c. tempat kedudukan; d. kebangsaan Korporasi; e. jenis commit to user

commit to user

(29)

69

Korporasi; f. bentuk kegiatan/usaha; dan g. identitas Pengurus yang mewakili.

- Hakim menjatuhkan pidana terhadap Korporasi berupa pidana pokok dan/atau pidana tambahan. Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap Korporasi adalah pidana denda. Pidana tambahan dijatuhkan terhadap Korporasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3) Pelaksanaan Putusan :

- Dalam hal pidana denda yang dijatuhkan kepada Korporasi, Korporasi diberikan jangka waktu 1 (satu) bulan sejak putusan berkekuatan hukum tetap untuk membayar denda tersebut. Dalam hal terdapat alasan kuat, jangka waktu dapat diperpanjang paling lama 1 (satu) bulan. Jika terpidana Korporasi tidak membayar denda maka harta benda Korporasi dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk membayar denda.

Hal ini berbeda dengan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor:

30/PID.SUS/TPK/2014/PN.JKT.PST yang hanya mejatuhi hukuman kepada Teuku Bagus Mokhamad Noor selaku Kepala Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya (Persero) Tbk padahal dalam fakta hukum pertimbangannya jelas-jelas ada keterlibatan PT. Adhi Karya (Persero) yaitu sesuai fakta hukum sebelum penetapan pemenang lelang, Terdakwa melakukan pertemuan di Plaza Senayan dengan saksi Deddy Kusdinar, saksi Lisa Lukitawati Isa dan saksi Muhammad Arifin. Pada pertemuan tersebut PT. Adhi Karya selaku calon pemenang lelang Jasa Konstruksi P3SON Hambalang diminta memberikan fee sebesar 18%. Atas permintaan fee tersebut, Terdakwa dalam pertemuan berikutnya di kantor Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya menyampaikan kepada saksi Lisa Lukitawati Isa dan saksi Muhammad Arifin bahwa realisasi pemberian fee 18% oleh PT. Adhi Karya tersebut akan diberikan melalui Machfud Suroso. Bahwa berdasarkan hasil catatan di bagian Keuangan Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya, maka untuk mendapatkan pekerjaan Jasa commit to user commit to user

(30)

70

Konstruksi P3SON Hambalang PT. Adhi Karya dan PT. Wijaya Karya telah mengeluarkan sejumlah uang110.

Perbuatan terdakwa ini merupakan bagian dari tugas pokok, tanggung jawab dan kewenangan Terdakwa selaku Kepala Divisi Konstruksi I PT. Adhi Karya (Persero) Tbk, yaitu mengoordinasi kegiatan operasional Divisi yang meliputi pekerjaan pemasaran, pengelolaan produksi, pengelolaan keuangan dan pengelolaan sumber daya manusia yang ditangani oleh masing-masing manajer, sehingga apa yang dilakukan oleh terdakwa dalam rangka mendapatkan pekerjaan Jasa Konstruksi P3SON Hambalang adalah untuk kepentingan dan keuntungan PT. Adhi Karya sehingga tidak akan mungkin seimbang bilamana pidana dijatuhkan kepada terdakwa selaku pengurus korporasi saja, oleh karena itu sudah seharusnya PT. Adhi Karya (Persero) dimintai pertanggungjawabannya. Sebab tindakan Kepala Divisi Konstruksi I Jakarta PT.Adhi Karya (Persero) Tbk adalah dalam rangka pemenuhan target dari Perusahaan dan tentuya memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Menurut penulis hal ini sejalan dengan Perma Nomor 13 tahun 2016 dalam Pasal 4 ayat (2) menyebutkan “dalam menjatuhkan pidana terhadap Korporasi, Hakim dapat menilai kesalahan Korporasi sebagaimana ayat (1) antara lain:

a. Korporasi dapat memperoleh keuntungan atau manfaat dari tindak pidana tersebut atau tindak pidana tersebut dilakukan untuk kepentingan Korporasi;

b. Korporasi membiarkan terjadinya tindak pidana; atau

c. Korporasi tidak melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk melakukan pencegahan, mencegah dampak yang lebih besar dan memastikan kepatuhan terhadap ketentuan hukum yang berlaku guna menghindari terjadinya tindak pidana”.

Pertanggungjawaban korporasi dalam UUPTPK termuat dalam Pasal 20 ayat (2) yang bunyinya sebagai berikut : “Tindak pidana korupsi dilakukan

110 Lihat putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor: 30/PID.SUS/TPK/2014/PN.JKT.PST hlm 501-502.

commit to user commit to user

(31)

71

oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama ”.

sehingga tindak pidana korupsi menurut UUPTPK ini dianggap telah dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang- orang :

a. Yang berdasarkan hubungan kerja maupun hubungan lain;

b. Bertindak dalam lingkungan korporasi;

c. Baik sendiri maupun bersama-sama.

Hal ini sejalan dengan Perma Nomor 13 Tahun 2016, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi dan Pengurus diatur dalam Pasal 3 menyatakan “Tindak pidana oleh Korporasi merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh orang berdasarkan hubungan kerja, atau berdasarkan hubungan lain, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama yang bertindak untuk dan atas nama Korporasi di dalam maupun di luar Lingkungan Korporasi”.

UUPTPK dalam Pasal 20 ayat (1) menerangkan bahwa “Dalam hal tindak pidana dilakukan oleh atau atas nama korporasi, maka tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi dan atau pengurusnya

”, sehingga menurut UUPTPK yang dapat dipertanggungjawabkan adalah : a. Koporasinya;

b. Pengurusnya;

c. Korporasi dan pengurusnya.

Selanjutnya untuk melihat bahwa tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi adalah apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama- sama (sebagaimana dalam Pasal 20 ayat (2) UU PTPK). Berdasarkan hal tersebut maka menurut penulis tindak pidana korupsi yang dapat dilakukan oleh korporasi dalam UUPTPK, adalah tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1), Pasal 3, Pasal 5 ayat (1),Pasal 6 ayat (1), Pasal commit to user commit to user

(32)

72

7, Pasal 13, Pasal 15 dan Pasal 16 UU No 31 Tahun 1999 Jo UU No 20 Tahun 2001.

Oleh karena itu menurut hemat penulis PT. Adhi Karya (Persero) Tbk jelas memperoleh keuntungan atau manfaat dari tindak pidana yang dilakukan stafnya tersebut, sehingga sudah selayaknya PT. Adhi Karya (Persero) Tbk.

dapat dijatuhi pemidanaan yang sama dengan yang dialami PT Cakrawala Nusadimensi, setidaknya mendapat pemidanaan denda sebagai ganti rugi kepada Negara meskipun status dari PT. Adhi Karya (Persero) Tbk merupakan Badan Usaha Milik Negara. Dengan memidana PT. Adhi Karya (Persero) dengan jenis dan beratnya yang sesuai dengan sifat korporasi itu, diharapkan PT. Adhi Karya (Persero) dapat dipaksa untuk menaati peraturan bersangkutan khususnya UUPTPK.

B. Batasan-Batasan Korporasi Dapat Dipertanggungjawabkan Sebagai Subjek Tindak Pidana Dan Bukan Menjadi Tanggung Jawab Pengurus.

Berdasarkan pembahasan sebelumnya dimana putusan pidana terhadap Kepala Divisi Konstruksi I Jakarta PT.Adhi Karya (Persero) Tbk pada perkara Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hanya Kepala Divisinya saja yang mendapat hukuman pemidanaan, sementara Korporasi nya tetap berjalan dan hidup sampai saat ini tanpa sanksi hukum apapun sampai sekarang, maka pembahasan selanjutnya penulis akan membahas batasan-batasan korporasi dapat dipertanggungjawabkan sebagai subjek tindak pidana.

Secara sosiologis bahwa perilaku koruptif yang merugikan keuangan dan perekonomian negara, ternyata tidak hanya dilakukan oleh orang tetapi juga oleh korporasi yang menjadi sarana untuk melakukan kejahatan (corporate criminal), olehnya itu korporasi patut diterima sebagai subjek tindak pidana korupsi.111

111 Elwi Danil, 2012, Korupsi Konsep, Tindak Pidana dan Pemberantasannya, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm.110-111.

commit to user commit to user

(33)

73

Globalisasi yang berkembang di semua lini kehidupan juga membawa dampak yang cukup signifikan bagi adanya perluasan subyek hukum. Apabila dahulu hanya dikenal manusia (persoon) sebagai subyek dari hukum, maka saat ini korporasi dapat pula dimasukkan ke dalam subyek hukum. Subyek hukum merupakan pihak yang memiliki kewenangan terhadap segala hak dan kewajiban yang diberikan oleh hukum untuk melakukan perbuatan hukum, baik di dalam pengadilan maupun di luar pergaulan hukum di masyarakat.112 Globalisasi tersebut akhirnya membawa dampak terhadap pergeseran pengertian subyek hukum disamping manusia yang mampu bertanggungjawab menjadi korporasi yang merupakan suatu badan hukum.

Berbicara masalah korporasi, maka kita tidak bisa melepaskan pengertian korporasi dalam lapangan hukum perdata. Sebab korporasi merupakan terminologi yang erat kaitannya dengan badan hukum (rechstpersoon) dan badan hukum itu sendiri merupakan terminologi yang erat kaitannya dengan bidang hukum perdata113 sehubungan itu terdapat pendapat ahli terkait hubungan terminologi korporasi dengan bidang hukum perdata.

Korporasi sebagai badan hukum keperdataan dapat diperinci dalam beberapa golongan, dilihat dari cara mendirikan dan peraturan perundang- undangan sendiri yaitu :

1. Korporasi egoistis, yaitu korporasi yang menyelenggarakan kepentingan harta para anggotanya, terutama kepentingan harta kekayaan, misalnya perseroan terbatas, serikat sekerja.

2. Korporasi alturistis, yaitu korporasi yang tidak menyelenggarakan kepentingan anggotanya, seperti perhimpunan yang memperhatikan nasib orang-orang tunanetra, tunarungu, penyakit TBC, penyakit jantung, penderita cacat, taman siswa, Muhamadiyah, dan sebagainya.114

112 Dijan Widijowati, 2012, Hukum Dagang, Edisi Pertama, Andi, Yogyakarta, hlm. 13.

113 Muladi dan Dwidja Priyatno. Pertanggungjawaban... op.cit., hlm. 23.

114 Chaidir Ali, op.cit., hlm.69.

commit to user commit to user

(34)

74

Sedangkan pengertian korporasi di dalam hukum pidana sebagai ius constituendum dapat dilihat pada Konsep Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Baru Buku I Tahun 2012.115 Pasal 182 KUHP menyatakan Korporasi adalah Kumpulan terorganisasi dan dari orang dan/atau kekayaan baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum. Menurut Mulyadi pengertian korporasi dalam konsep KUHP ini mirip dengan pengertian korporasi di Negara Belanda, sebagaimana terdapat dalam bukunya Van Bemmelen yang berjudul Ons Strafrecht 1 Het Materiele Strafrecht Algemeen Deel antara lain menyatakan, “…dalam naskah dari bab ini selalu dipakai dalil umum “korporasi” yang mana termasuk semua badan hukum khusus dan umum (maksudnya badan hukum privat dan badan hukum publik-penulis), perkumpulan, yayasan, pendeknya semua perseroan yang tidak bersifat alamiah”.116

Perkembangan perundang-undangan khusus diluar KUH Pidana, khusunya tentang subjek hukum pidana, yaitu korporasi, perumusannya lebih luas bila dibandingkan dengan pengertian korporasi menurut hukum perdata, menurut hukum pidana pengertian korporasi bisa berbentuk badan hukum atau tidak. Misalnya, dalam tindak pidana subversi dikatakan perserikatan orang dalam maatschap (Pasal 16,18, dan seterusnya KUH Perdata), firma (Pasal 16 dan seterusnya KUH Dagang), dan perseroan komanditer/CV (Pasal 19 dan seterusnya dalam KUH Dagang), merupakan bentuk badan usaha yang bukan badan hukum.

Menurut Muladi sebagaimana dikutip oleh Edi Yunara pembenaran pertanggungjawaban korporasi sebagai pelaku tindak pidana dapat didasarkan hal-hal berikut117:

115Rancangan KUHP diakses melalui

http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/files/doc/2391_RANCANGAN%20Penjelasan%20KUHP%2 06-1-2012.pdf pada tanggal 12 Januari 2016.

116 Muladi dan Dwidja Priyatno. 2010. Pertanggungjawaban … op.cit., hlm. 32.

117 Edi Yunara, 2005, Korupsi dan Pertanggungjawaban Pidana Korporasi (Berikut Studi Kasus), Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm. 31.

commit to user commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian diatas perbedaan proses pencatatan yang di masukan aset tetap ke dalam system atau pembuatan berita acara proyek GTT ( Gedung Tiang Trafo ) yang mengalami

Langkah-langkah yang dilakukan ketika melakukan supervisi akademik dan administrasi ke sekolah adalah menemui kepala sekolah, memberitahukan bahwa akan mengadakan supervisi

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

Uraian diatas menunjukkan bahwa dengan mempelajari filsafat, arah pemikiran seseorang, khususnya pendidik yang dalam hal ini lebih difokuskan kepada pendidik

Biaya utang merupakan dana yang didapatkan dari pihak luar perusahaan atau kreditur yang digunakan untuk keperluan perusahaan, yang dimana dana tersebut harus dikembalikan

Daun kedua muncul pada hari ke Penambahan daun kedua pada aplikasi menggunakan kompos lebih cepat dibandingkan tanaman yang diaplikasikan dengan pupuk urea (U) dan

Peserta harus melaporkan secara tertulis kepada PKL dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak tanggal terjadinya penyimpangan yang dilakukan oleh

Pelaporan Penggunaan Obat Rasional (POR) di Puskesmas Kecamatan Jatinegara bertujuan untuk memberikan gambaran pola peresepan di puskesmas atas pasien dengan