• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LAPORAN KASUS. beragama islam dan bertempat tinggal di desa Paulan Timur. Anak tinggal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III LAPORAN KASUS. beragama islam dan bertempat tinggal di desa Paulan Timur. Anak tinggal"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

LAPORAN KASUS

A. Identitas anak

Anak berinisial An. F. M berusia 9 tahun 11 bulan, jenis kelamin laki-laki dan lahir pada tanggal 28 Januari 2007. Anak memiliki sisi dominan kanan, beragama islam dan bertempat tinggal di desa Paulan Timur. Anak tinggal bersama orang tuanya. Ayahnya bekerja sebagai wiraswasta dan ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Anak bersekolah di Mitra Ananda Surakarta.

Diagnosis anak adalah cerebral palsy hemiplegi sinistra.

B. Data Subjektif

Data subjektif yang dilakukan meliputi initial assessment, observasi klinis, screening test, dan model treatment.

1. Initial assessment a. Rekam medis

Berdasarkan rekam medis, An. F. M merupakan siswa kelas 2 di Mitra Ananda Surakarta. Orangtua mengeluh bahwa perkembangan anak terlambat, sering mukul dan sering menggigit tangannya sendiri, kemudian anak direkomendasikan oleh dokter di RS Dr. Moewardi Surakarta untuk dibawa ke unit rehabilitasi Setelah dilakukan assesment oleh salah satu dokter rehab di RS Dr. Moewardi Surakarta, anak di diagnosa cerebral palsy hemiplegi sinistra, kemampuan motorik kasar

(2)

anak yaitu anak mampu berguling,. Anak blemum mampu bangun dari tidur ke posisi duduk, posisi duduk anak masih membungkuk dan pola jalan masih jinjit. Gangguan pemusatan perhatian dan dirujuk untuk melakukan terapi di okupasi terapi dengan program terapi edukasi, latihan yang melibatkan motorik kasar, fisioterapi dengan program streching, dan terapi wicara dengan program latihan artikulasi dan latihan pembentukan kata. Dalam seminggu anak dijadwalkan mengikuti terapi okupasi seminggu 3 kali, setiap hari senin, rabu dan sabtu.

b. Interview

Berdasarkan hasil wawancara dengan orang tua anak pada tanggal 6 Januari 2017, An. F. M merupakan anak pertama dari kehamilan pertama pada saat usia ibu 22 tahun. Usia kehamilan cukup bulan, lahir dengan normal dengan posisi kepala lebih dulu. Kelahiran dibantu dokter di RS Dr. Moewardi Surakarta. Ibu menyatakan bahwa tangan dan kaki bagian kiri anak kaku, pola ekstensi pada knee dan plantar fleksi ankle pada kaki bagian kiri. Pola gerakan anak dalam meraih benda pada tangan kiri masih belum terkoordinasi dengan baik dan sering terjatuh. Pola berjalan anak juga cenderung jinjit. Anak mampu duduk secara mandiri, namun belum mampu merangkak dan mobilitas anak terbatas karena anak belum mampu berjalan secara mandiri, sehingga untuk mobilitas anak dibantu orangtua. Anak juga masih drooling. Anak mampu merespon sesuatu, anak agresif, suka menggigit tangannya, dan teriak-teriak. Belum mampu

(3)

mandri dalam semua aktivitas kesehariannya, semua aktivitas di bantu oleh orangtua dan oleh dokter tumbuh kembang RS Dr. Moewardi Surakarta menyarankan agar anak dibawa ke okupasi terapi dan fisioterapi untuk mendapatkan program terapi.

Saat kehamilan ibu anak tidak memiliki riwayat penyerta. Selama hamil ibu anak mengalami pusing, mual. Riwayat kondisi dahulu yang dimiliki anak adalah anak pernah dirawat karena panas tinggi saat usia anak 2 tahun. Anak mengalami keterlambatan perkembangan dan perkembangan yang paling lama adalah berdiri, kemampuan tersebut baru tercapai saat usia anak 20 bulan, anak belum mampu berbicara. Anak mengoceh pada umur lebih kurang 8 bulan.

Riwayat kondisi sekarang, anak bersekolah kelas 2 di Mitra Ananda Surakarta. Pemahaman intruksi sederhana baik, semua ADL anak membutuhkan bantuan. Kedua orang tua anak berharap anaknya dapat berjalan secara mandiri dan belajar seperti teman-temannya, setidaknya keterlambatan dalam belajar dapat tercapai dan tingkat kemandirian anak juga meningkat.

2. Observasi

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 6 Januari 2017, dapat diketahui bahwa penampilan An. F. M rapi an bersih. Tangan dan kaki bagian kiri anak kaku. Bicara anak belum jelas. Pola gerakan anak dalam meraih

(4)

benda pada tangan kiri masih belum terkoordinasi dengan baik dan sering terjatuh. Anak mampu duduk secara mandiri, anak belum bisa posisi quadruped, merangkak, berutut, berdiri, berjalan secara mandiri dan perlu dipapah atau berpegangan secara maksimal. Anak masih drooling. Anak mampu merespon sesuatu, anak agresif, suka menggigit tangannya, dan teriak- teriak. Orang tua mengatakan bahwa anak akan memberikan isyarat apabila ingin makan,minum, BAK, dan BAB. Mampu mempertahankan kontak mata selama lebih kurang 5 detik saat dipanggil nama. Anak memiliki rentang atensi selama lebih kurang 2 menit saat beraktivitas. Anak mudah terdistraksi oleh lingkungan terutama suara dan visual.

3. Screening Test

Berdasarkan pemeriksaan awal pediatri yang dilakukan pada tanggal 06 Januari 2017 yaitu anak berinisial An. F. M merupakan anak tunggal. Dari riwayat kondisi ibu, saat hamil pada usia ibu 2 tahun, proses kelahiran normal, anak dilahirkan dengan kandungan cukup bulan. Ibu anak tidak memiliki riwayat seperti diabetes, hipertensi, atau alkoholik. Setelah anak lahir, anak pernah dirawat karena kejang pada usia 5 bulan, dan 2 tahun. Anak mengalami keterlambatan perkembangan. Semua aktivitas keseharian anak mengalami kesulitan dan harus memerlukan bantuan orangtua. Perilaku secara umum anak kooperatif, gembira dan hiperaktif, rentang atensi yang dimiliki selama 2 menit. Aktivitas yang disukai adalah main bola.

(5)

4. Model treatment yang digunakan

Model treatment yang digunakan dalam kasus ini adalah Kerangka Acuan NDT dengan metode Bobath. Bobath bertujuan menghilangkan atau mengurangi gangguan-gangguan (seperti gangguan tonus otot) dengan cara inhibisi atau fasilitasi melalui cara-cara yang benar. Strategi atau tehnik yang digunakan adalah fasilitasi dan inhibisi, weightshifting dan weight bearing adalah semua usaha baik manual ataupun verbal yang digunakan untuk meningkatkan kualitas gerak dari keadaan lemah (hipotonus) menjadi lebih normal, sedangkan inhibisi merupakan tehnik manual dan positioning yang digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh spastisitas dan atau reflek abnormal.

Weighstshifting digunakan pada tonus postural yang abnormal yang kesulitan mengawali, mengendalikan, dan grading dalam weighstshifting.

Sedangkan untuk weight bearing adalah saat bagian tubuh atau ekstremitas atas mempertahankan kontak dan tekanan terhadap permukaan lanta, media terapi, atau mungkin tubuh terapis. Melalui weight bearing sendi akan kontraksi sehingga bagian proksimal akan lebih stabil. Prinsipnya adalah melatih kembali respon gerak normal pada sisi hemiplegi.

C. Data Objektif

Berdasarkan pemeriksaan menggunakan Bobath Chart yang dilakukan pada tanggal 11 Januari 2017, hasil posisi terlentang subtest 1 sampai 3 anak mendapat skor 1 anak dapat diposisikan sesuai postur dalam tes tetapi tidak dapat

(6)

dipertahankan. Pada posisi tengkurap subtest 4 sampai 8 mendapat skor 2 dan 3 yang artinya dapat dipertahankan sebentar setelah diposisisikan sesuai postur dalam tes dan mendekati postur test tanpa bantuan. Pada posisi duduk tegak subtest 9 sampai 11 mendapat skor 4 dan 5 yang artinya mendekati normal dan norma. Pada posisi berlutut subtest 12 mendapat skor 1yang artinya anak dapat diposisikan sesuai postur dalam tes tetapi tidak dapat dipertahankan, subtest 13 mendapat skor 3 yang artinya mendekati postur tes tanpa bantuan. Untuk subtest 14 sampai 20 anak mendapat skor 0 yang artinya tidak dapat diposisikan sesuai postur dalam tes.

Pemeriksaan skala ashworth area shoulder, siku, wrist, ankle, pergelangan tangan, dan knee bernilai 1 yaitu sedikit peningkatan tonus otot ditandai adanya

“catch & release” atau tahanan minimal pada akhir LGS saat bagian yang terkena atau bagian-bagiannya digerakkan fleksi atau extensi.

Pemeriksaan aktivitas kehidupan sehari-hari anak. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui level kemandirian anak dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Untuk area self care memperoleh nilai 1 yang artinya memerlukan bantuan penuh. Area kontrol spincter mobility, dan locomotion memperoleh nilai 2 yang artinya memerlukan bantuan maksimal. Untuk area komunikasi ( komprehensif dan ekspresi ) memperoleh nilai 2 dan 3 yang artinya memerlukan bantuan maksimal dan sedang. Dan untuk area kognitif sosial memperoleh nilai 2 yang artinya memerlukan bantuan maksimal. Total keseluruhan memperoleh

(7)

skor 31 yang artinya anak memerlukan bantuan penuh dalam setiap aktivitas sehari-hari.

D. Analisis data / pengkajian data

1. Rangkuman data subjektif dan objektif

Masalah utama anak F. M yaitu masalah merangkak aktivitas untuk memperbaiki postur dan meningkatkan kemampuan fungsional pada kondisi cerebral palsy hemiplegi sinistra. Hasil pemeriksaaan yang menggunakan bobath chart diperoleh hasil posisi terlentang subtest 1 sampai 3 anak mendapat skor 1 anak dapat diposisikan sesuai postur dalam tes tetapi tidak dapat dipertahankan. Pada posisi tengkurap subtest 4 sampai 8 mendapat skor 2 dan 3 yang artinya dapat dipertahankan sebentar setelah diposisisikan sesuai postur dalam tes dan mendekati postur test tanpa bantuan. Pada posisi duduk tegak subtest 9 sampai 11 mendapat skor 4 dan 5 yang artinya mendekati normal dan norma. Pada posisi berlutut subtest 12 mendapat skor 1 yang artinya anak dapat diposisikan sesuai postur dalam tes tetapi tidak dapat dipertahankan, subtest 13 mendapat skor 3 yang artinya mendekati postur tes tanpa bantuan. Untuk subtest 14 sampai 20 anak mendapat skor 0 yang artinya tidak dapat diposisikan sesuai postur dalam tes. Pemeriksaan skala ashworth area shoulder, siku, wrist, ankle, pergelangan tangan, dan knee bernilai 1.

Pemeriksaan aktivitas kehidupan sehari-hari anak. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui level kemandirian anak dalam melakukan

(8)

aktivitas sehari-hari. Untuk area self care memperoleh nilai 1 yang artinya memerlukan bantuan penuh. Area kontrol spincter mobility, dan locomotion memperoleh nilai 2 yang artinya memerlukan bantuan maksimal. Untuk area komunikasi ( komprehensif dan ekspresi ) memperoleh nilai 2 dan 3 yang artinya memerlukan bantuan maksimal dan sedang. Dan untuk area kognitif sosial memperoleh nilai 2 yang artinya memerlukan bantuan maksimal. Total keseluruhan memperoleh skor 31 yang artinya anak memerlukan bantuan penuh dalam setiap aktivitas sehari-hari.

2. Aset

Aset yang dimiliki An. F. M adalah penampilan anak rapi dan bersih, mampu mengikuti perintah sederhana, anak mampu berguling. Saat ini anak bersekolah di Mitra Ananda Surakarta.

3. Limitasi

Limitasi yang dimiliki An. F.M adalah anak sering memukul, menggigit tangan nya, mudah terdistraksi dan konsentrasi masih kurang, perlu pengarahan atau diingatkan bila mood kurang baik saat melakukan aktivitas.

Saat mengerjakan aktivitas terapi, untuk berpindah ke aktivitas yang lain anak terkadang tidak mau, terutama saat aktivitas tersebut adalah aktivitas kesukaan anak. Hal ini menghambat proses terapi yang akan dilaksanakan dan perilaku yang seenaknya sendiri (sulit diatur) menggunakan komunikasi non verbal, drolling, pola jalan jinjit.

(9)

4. Prioritas masalah

Prioritas masalah anak yang diambil adalah gangguan perkembangan gross motor salah satunya pada aktivitas memindahkan mainan dalam posisi merangkak. Aktivitas ini dipilih karena aktivitas ini berhubungan dengan produktivitas anak yaitu bermain. Prioritas masalah yang diambil ini juga berdasarkan keinginan orang tua anak yang ingin dapat berjalan secara mandiri dan belajar seperti teman-temannya, setidaknya keterlambatan dalam belajar dapat tercapai dan tingkat kemandirian anak juga meningkat.

5. Diagnosis OT

Diagnosis OT yang dimiliki An. F. M meliputi 3 area okupasi terapi, yaitu: (1) pada area produktivitas, anak sudah sekolah, dan saat ini anak bersekolah dan duduk di bangku kelas 2 SD Mitra Ananda dan permasalahan yang dialami adalah belum mampu berjalan secara mandiri, (2) ada area ADL anak mengalami masalah pada semua aktivitas sehari - hari yang masih membtuhkan bantuan dari orangtua, (3) Aktivitas leisure anak tidak ada masalah. Dari semua masalah maka di ambil pioritas masalah anak yaitu aktivitas merangkak untuk memperbaiki postur dan meningkatkan fungsional.

E. Perencanaan Terapi

Berdasarkan prioritas masalah maka dapat dibuat tujuan jangka panjang (LTG) dan tujuan jangka pendek (STG).

1. Tujuan Jangka Panjang

(10)

Tujuan jangka panjang yang ingin dicapai adalah anak mampu merangkak sambil bermain secara mandiri selama 12 kali sesi terapi.

2. Tujuan Jangka Pendek

Tujuan jangka pendek yang ingin dicapai yaitu :

a. Anak mampu mempertahankan posisi quadruped dengan bantuan sambil bermain selama 4 kali sesi terapi.

b. Anak mampu bermain dalam posisi merangkak dengan bantuan selama 4 kali sesi terapi.

c. Anak mampu bermain sambil merangkak secara mandiri selama 4 kali sesi terapi

3. Strategi / Teknik yang digunakan

Strategi atau teknik yang teknik yang digunakan adalah 1) Base Of Support (BOS), mengacu pada permukaan sebagai support, bagian tubuh yang mengalami kontak dengan permukaan dan hubungan antara keduanya. BOS diperlukan untuk melakukan gerakan sebagai titik acuan. 2) Centre of gravity, sebuah gaya yang konstan dimana seseorang harus mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi, bergerak secara selektif. 3) Postural set, sebuah keselarasan key point dalam hubungannya dengan BOS yang diterima.

Keselarasan key point yang membuat tonus yang lemah menjadi aktif sehingga gerakan yang dihasilkan akan selektif. 4) Balance reactions, kemampuan untuk mempertahankan COG terhadap BOS, ada 2 macam yaitu ; Equilibrium reactions, merupakan adaptasi otomatis tonus postural sebagai

(11)

respon teradap gravitasi dan perpindahan beban, dan Righting reactions, merupakan urutan gerakan selektif dalam suatu pola dalam menanggapi perpindahan. 4) Normal postural tone, kontraksi otot secara terus menerus yang cukup tinggi untuk melawan gravitasi dan cukup rendah untuk memungkinkan dilakukannya gerakan selektif. 5) Asociated reactions, peningkatan patologis pada tonus sebagai respon terhadap rangsangan yang berada diluar kontrol seseorang untuk menghibisinya. Asociated reactions mencerminkan hilangnya reciprocal innervation. 6) Handling , handling yaitu cara memegang yang di desain untuk merubah tonus otot dan menormalkan kualitas gerak dengan cara menyeimbangkan koordinasi otot agonis, antagonis,dan sinergis, inhibisi pola abnormal dan fasilitasi respon otomatis.

7) Key point of control, digunakan oleh terapis untuk mempengaruhi kualitas gerak dan postur. 8) Weightshifting dan weight bearing; weighstshifting digunakan pada tonus postural yang abnormal yang kesulitan mengawali, mengendalikan, dan grading dalam weighstshifting. Sedangkan untuk weight bearing adalah saat bagian tubuh atau ekstremitas atas mempertahankan kontak dan tekanan terhadap permukaan lantai, media terapi, atau mungkin tubuh terapis. Melalui weight bearing sendi akan kontraksi sehingga bagian proksimal akan lebih stabil.

4. Frekuensi

Sesi terapi yang direncanakan adalah 12 kali terapi dan dilakukan di rumah anak, selama 1 minggu 2 kali.

(12)

5. Durasi

Terapi dilakukan dengan durasi 30-45 menit per sesi terapi.

6. Media terapi

Media terapi yang digunakan guling, ring donat, dan balok.

7. Home Program

Sebagai tindak lanjut terapi yang dilaksanakan di rumah maka terapis memberikan home program untuk orangtua anak adalah latihan dirumah, berupa stretching ekstremitas atas maupun bawah, memberikan edukasi kepada orang tua tentang apa yang harus dilakukan untuk membantu mendukung perkembangan anak. Hal-hal yang harus dilakukan oleh orang tua yaitu memposisikan anak duduk bersimpuh (W sitting), lalu jongkok berdiri, kemudian latihan berjalan pada ramp untuk mengurangi pola jinjit.

F. Pelaksanaan Terapi 1. Adjunct Therapy

Aktivitas pada tahap adjunct therapy menggunakan teknik inhibisi, karena anak mengalami spastisitas sehingga teknik ini diperlukan untuk menormalkan tonus otot. Hal ini dilakukan sebagai awal sebelum dimulainya terapi. Tujuannya untuk mempersiapkan fisik anak agar terapi berjalan lancar dan tujuan terapi tercapai yaitu anak diposisikan dalam posisi supine di atas tikar, kemudian dilakukan penguluran berupa joint compression dan passive

(13)

stretching pada ekstremitas sisi tubuh bagian kiri. Strategi yang digunakan dalam menunjang pelaksanaan adjuctive antara lain : handling dan fasilitasi.

Safety precaution pada aktivitas ini dilakukan di atas tikar di lantai yang rata agar saat dilakukan stretching anak merasa nyaman. Stretching dilakukan secara pasif, dan perlahan-lahan agar tidak bertambah spastik dan kesakitan

2. Enabling Activity

Pada tahap enabling, anak dilatih dalam berbagai posisi dengan perkembangan normal. Posisi yang dilatih dilakukan meliputi terlentang, berguling, tengkurap, neck cocontraction, prone on elbow, dan quadruped.

Media yang digunakan adalah guling dan mainan.

Aktivitas dimulai dari posisi terlentang, kemudian anak dilatih berguling dengan cara memberi stimulus berupa mainan dari samping kanan sampai tubuh anak miring ke samping kanan. Selanjutnya terapis menggunakan teknik key point of control dengan cara memegang pada bagian pelvic atau shoulder untuk membantu anak berguling sampai posisi tengkurap. Pada posisi ini anak di latih neck cocontraction dan prone on elbow. Terapis memberikan stimulus dan mainan di atas kepala dalam posisi ekstensi.

Kemudian terapis memposisikan kedua lengan anak dengan posisi prone elbow flexion. Posisi ini melatih agar anak mampu menyangga badannya dengan elbow extention.

(14)

Untuk melatih quadruped diletakkan guling melintang dengan posisi prone on elbow. Anak diposisikan quadruped dengan cara terapis memenggang salah satu tungkai anak kemudian diabduksikan dan difleksikan.

Untuk melatih control trunk maka diberi aktivitas dengan mainan. Teknik yang digunakan dalam aktivitas ini adalah weight bearing yaitu saat anak menahan tubuh pada posisi quadruped, mainan diletakkan pada sisi kanan depan anak, dengan posisi quadruped anak diminta memasang mainan dari sisi kiri ke sisi kanan. Setelah 8 sampai 20 biji mainan dipasang kemudian anak diminta melepas mainan dari sisi kanan ke kiri. Tujuan dari aktivitas ini adalah melatih ketahanan anak dalam melakukan aktivitas dalam posisi quadruped dan meningkatkan lateral fleksi, rotasi trunk. Selain itu, tujuan dari aktivitas ini untuk melatih kosentrasi serta koordinasi mata tangan anak.

Safety precaution, aktivitas ini dilakukan secara perlahan-lahan dan dengan perhatian penuh agar anak tidak jatuh tertelungkup ketika kesulitan meraih dan terlihat kelelahan, sehingga anak tidak trauma saat dilatih kembali.

3. Purposeful activity

Pada tahap ini anak diposisikan terlentang kemudian terapis memenggang bagian pelvis anak untuk membantu anak ke posisi tengkurap.

Terapis memengang salah satu tungkai anak kemudian diabduksikan dan difleksikan, anak siap untuk diposisikan quadruped. Kemudan diberi stabilisasi pada pelvic dan dada agar anak mengangkat pantat serta meluruskan tangannya untuk menyangga tubuh. Selain itu, anak diberi

(15)

stimulus berupa mainan di depan atas kepalanya agar anak mau dan mampu mempertahankan posisi quadruped. Teknik yang digunakan weight bearing yaitu saat ekstremitas mempertahankan tekanan permukaan lantai, media terapi, atau tubuh terapis.

Safety Precaution pada tahap ini terapis berada di belakang anak untuk mengarahkan posisi serta stabilisasi anak sementara orang tua (ibu) kedua memberi stimulasi mainan pada anak.

4. Occupation performance

Pada tahapan occupation methods, anak langsung melakukan ativitas fungsional yang sesuai dengan tujuan terapi yang telah direncanakan yaitu mampu melakukan gerakan merangkak untuk memindahkan mainan secara mandiri.

Anak diposisikan quadruped sedangkan orangtua (ibu) berada di belakang, dan membantu menekuk lutut, membantu anak untuk melangkahkan kaki ke depan. Orangtua (ibu) berada didepan anak dengan jarak sekitar 2 meter dan membawa mainan agar anak mau mengayunkan tangan dan lututnya kedepan, menuju orangtuanya untuk mengambil mainan. Setelah 8 sampai 20 biji mainan diambil atau dilepas, selanjutnya anak diminta untuk memasangkan mainan dengan posisi anak, terapis dan orangtua (ibu) yang sama seperti saat mengambil mainan. Aktivitas ini menggunakan teknik handling yaitu menempatkan tangan terapis pada pelvic sebagai key point of

(16)

control dan memfasilitasi kontrol postural serta pola gerak aktif saat merangkak.

Safety precaution, selalu berikan pengawasan pada anak dan hindarkan anak dari benda-benda yang tajam disekitarnya apabila sewaktu-waktu anak jatuh, anak dalam posisi yang aman dan ketika anak sudah mulai bosan dan lelah, terapi dihentikan sejenak. Terapis harus mampu stabilisasi anak secara maksimal saat aktivitas merangkak.

G. Reevaluasi

Berdasarkan reevaluasi pada tanggal 20 Februari 2017, didapatkan hasil sebagai berikut:

1. Re-evaluasi Data Subjektif

Berdasarkan hasil observasi, kemampuan motorik kasar anak yaitu anak mampu berguling. Anak belum mampu bangun dari tidur ke posisi duduk, posisi duduk anak masih membungkuk dan pola jalan masih jinjit. Anak mampu merangkak sambil memasang mainan secara mandiri.

2. Re-evaluasi Data Objektif a. Pemeriksaan Bobath Chart

Berdasarkan hasil pemeriksaaan menggunakan bobath chart yang dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2017 diperoleh hasil perubahan yang tidak signifikan. Anak mengalami perubahan pada subtest terlentang dan berlutut (data terlampir).

(17)

b. Pemeriksaan Skala Ashworth

Berdasarkan hasil pemeriksaan menggunakan skala ashworth yang dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2017 diperoleh perubahan yang tidak signifikan (data terlampir).

c. Pemeriksaan Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari Anak.

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui level kemandirian anak dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Untuk area self care (makan, merias diri) memperoleh nilai 3 yang artinya memerlukan bantuan sedang. Untuk mandi, berpakaian untuk tubuh atas dan bawah memperoleh nilai 1 dan 2 yang artinya membutuhkan bantuan penuh dan maksimal. kontrol spincter mobility, dan locomotion memperoleh nilai 3 yang artinya memerlukan sbantuan sedang. Untuk area komunikasi (komprehensif dan ekspresi) memperoleh nilai 2 dan 3 yang artinya memerlukan bantuan maksimal dan sedang. Dan untuk area kognitif sosial memperoleh nilai 2 yang artinya memerlukan bantuan maksimal.

Total keseluruhan memperoleh skor 43 yang artinya anak memerlukan bantuan maksimal dalam setiap aktivitas sehari-hari

d. Hasil atau pencapaian terapi

Pencapaian hasil terapi anak dilaksanakan 12 kali sesi terapi adalah STG I dan STG II tercapai. Perbandingan peningkatan keterampilan gross motor pada anak melalui aktivitas merangkak sambil bermain untuk memperbaiki postur dan meningkatkan kemampuan fungsional, namun

(18)

untuk kearah fungsional yang dulu tidak dapat melakukan aktivitas sama sekali, sekarang sudah mampu mengambil camilan dengan mandiri, untuk aktivitas yang lain masih membutuhkan bantuan dari orangtua (terlampir).

e. Follow up

Tujuan jangka pendek (STG I dan II) untuk An. F.M sudah tercapai.S Untuk memperbaiki postur dan meningkatkan kemampuan fungsional An. F. M, diharapkan tetap mengikuti sesi terapi di unit RBM Colomadu cabang Paulan dengan program terapi yang ada. Dan dirumah diharapkan orangtua (ibu) tetap melatih anak untuk aktivitas merangkak untuk memperbaiki postur dan meningkatkan kemampuan fungsional anak. Selain itu, keluarga harus memberikan motivasi atau dorongan pada anak untuk lebih meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional.

Referensi

Dokumen terkait

Aplikasi gaya ortodonti akan menghasilkan pergerakan gigi, yang akan menyebabkan resorpsi tulang alveolar pada daerah tekanan di ligamen periodontal, sedangkan daerah

Selain karena kesahajaan mereka, komunitas Samin juga dikenal luas di antaranya karena kejujuran, persaudaraan, dan hubungan harmonis mereka dengan lingkungan

Rincian Hasil Observasi Kolabolator terhadap Peneliti dalam Kegiatan Layanan Penguasaan Konten dengan Teknik Simulasi dengan Aspek Penilaian High Touch Pada Siswa Kelas V SD

Sang ayah masih merasa ragu, di satu pihak bila tidak mendapatkan gandum, mereka akan mati kelaparan, namun di lain pihak, untuk membelinya dari Mesir, dia harus merelakan

Sedangkan tingginya kandungan minyak dalam sedimen di Perairan Pantai Rupat Selatan (Selat Rupat) disebabkan perairan ini merupakan kawasan semi tertutup yang padat

Sedangkan Penerima Manfaat adalah pihak yang ditunjuk oleh nasabah sebagaimana yang tercantum dalam formulir BNI TAPENAS dan Sertifikat Asuransi untuk menerima dana TAPENAS

Yang bertugas mengawasi dan menertibkan PETI di kabupaten Kuantan Singingi adalah Tim terpadu Penertiban PETI sebagai mana yang telah di tetapkan dalam SK Bupati

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh EMS terhadap kapasitas embriogenesis pada kultur antera cabai dan kemampuannya dalam menginduksi mutasi yang