150
DESAIN CASING SUMUR SLIMHOLE Z PADA LAPANGAN PANAS BUMI X
Ali Abdoel Muhammadi Nasution1, Sulistiyono1*, Didin Chaerudin Irwansyah1
1,2Teknik Produksi Migas, PEM Akamigas, Cepu, Blora, 58315
*E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Lapangan panas bumi X merupakan lokasi prospek panas bumi yang berada dalam tahap eksplorasi. Dalam perencanaan pembuatan sumur, sumur yang akan dibangun berupa sumur slimhole dengan prediksi batas atas reservoir pada kedalaman 450 m. Sumur slimhole merupakan alternatif dalam kegiatan pengeboran eksplorasi yang memiliki kelebihan dalam aspek ekonomis dengan tetap menjamin diperolehnya data eksplorasi yang digunakan untuk pembuktian cadangan dibawah permukaan. Dalam artikel ini, dilakukan pengkoreksian desain casing yang dipengaruhi kondisi suhu dan beban biaksial yang terjadi pada sumur. Dari 5 rangkaian yang digunakan, terjadi koreksi yield point dan tensile strength sebesar 1.33% hingga 18.71%, koreksi collapse rating sebesar 1.63%
hingga 21.22%, dan koreksi burst rating sebesar 1.37% hingga 18.42%. Koreksi tersebut dilakukan untuk memastikan rangkaian casing yang didesain mampu bertahan pada kondisi sumur panas bumi yang dihadapi. Artikel ini menjelaskan proses perencanaan, nilai ketahanan desain, pengaruh suhu, pengaruh beban biaksial, pemilihan material casing, dan skema sumur Z.
Kata kunci: Desain casing, panas bumi, slimhole
1. PENDAHULUAN
Pengeboran eksplorasi dilakukan sebagai sarana pembuktian terdapatnya sumber daya panas bumi pada lokasi yang diselidiki dan menguji model sistem panas bumi yang telah dibuat berdasarkan kegiatan eksplorasi sebelumnya[1]. Perencanaan aktivitas pengeboran panas bumi sangat penting untuk memanimimalisir kerugian yang mungkin terjadi dan meningkatkan efektivitas aktivitas tersebut. Resiko yang berkaitan dengan kegiatan pengeboran eksplorasi mencakup kegagalan penemuan cadangan panas bumi, nilai cadangan yang ditemukan tidak ekonomis, dan rendahnya keberhasilan pengeboran sumur[1].
Pembuatan desain sumur yang tepat sangat penting dilakukan untuk memastikan aktivitas pengeboran terlaksana sesuai dengan rencana dan ketersediaan dana untuk proyek tersebut.
Tujuan pengeboran eksplorasi tidak hanya terbatas pada penemuan sumber panas bumi, tetapi juga untuk memperoleh karakteristik dari sumur yang meliputi sumber panas, sistem hidrologi, susunan geologis, dan area prospek yang berpotensi untuk dikembangkan. Dalam industri panas bumi, skema sumur dapat dibedakan berdasarkan ukuran berupa sumur besar/big hole, sumur standar/regular hole, dan sumur kecil/slimhole[2]. Pemilihan skema sumur dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan data yang dapat meyakinkan pengusahaan panas bumi dapat menguntungkan secara ekonomi.
Terbatasnya informasi yang mendukung potensi pengusahaan panas bumi seperti permeabilitas dan sistem panas bumi akan meningkatkan ketidakpastian. Maka dari itu, sumur berukuran kecil tidak hanya lebih efektif dalam hal sumber daya, namun juga lebih efisien dalam hal biaya pengeborannya dibanding sumur yang berukuran lebih besar. Maka dari itu, pertimbangan pemilihan skema sumur dari ketiga jenis sumur panas bumi tidak hanya mengacu pada ukuran, tetapi juga pada beberapa parameter seperti yang terlihat pada Tabel 1.
151
Tabel 1. Perbandingan Skema Sumur[2]
Pembanding Sumur Besar Sumur Standar Sumur Kecil
Kedalaman total 1500 – 3000 m 1500 – 3000 m 1200 – 2330 m
Kapasitas Rig 1000 – 2000 HP 550 – 1500 HP <500 HP
Ukuran Pad 10000 –15000 m2 7500 – 12000 m2 2000 – 4000 m2
Waktu Persiapan
Lebih lama terkait pem- buatan jalan, pembukaan lahan yang cukup besar
Lebih lama terkait pem- buatan jalan, pem- bukaan lahan yang cukup besar
Lebih singkat terkait pem- buatan jalan, pembukaan lahan lebih kecil
Mobilisasi Rig
Memakan waktu lebih lama terkait mobilisasi dan beban rig
Memakan waktu lebih lama terkait mobilisasi dan beban rig
Memakan waktu lebih sing- kat beban rig lebih kecil Kebutuhan Air 60 – 95 liter/detik 60 – 95 liter/detik 5-30 liter/detik
Casing dan Semen
Beban Casing berkisar 200 ton dan kebutuhan semen + 84 m3
Beban Casing berkisar 135 ton dan kebutuhan semen + 55 m3
Beban Casing berkisar 80 ton dan kebutuhan semen + 26 m3
Peralatan Logging Semua peralatan logging dapat digunakan
Semua peralatan log- ging dapat digunakan
Peralatan logging dapat digunakan kecuali CBL.
Penggambaran Litologi Menggunakan serpih bor. Menggunakan serpih
bor. Menggunakan sampel core.
Kemampuan Pengeboran
Berarah Dapat dilakukan. Dapat dilakukan. Sulit dilakukan.
Kapabilitas Discharge
Dapat menunjukkan kemungkinan kapasitas aktual.
Dapat menunjukkan kemungkinan kapasitas aktual.
Perlu studi lanjutan untuk menilai kapasitan aktual sumur.
Kapabilitas Pemantauan Produksi/Injeksi
Dapat dijadikan sumur produksi atau injeksi.
Dapat dijadikan sumur pemantauan.
Dapat dijadikan sumur produksi atau injeksi.
Dapat dijadikan sumur pemantauan.
Sulit dijadikan sumur produksi. Dapat dijadikan sumur pemantauan.
Estimasi Durasi Pengeboran
30 – 45 hari (dari spud hingga rig out, TD 2000 m)
30 – 45 hari (dari spud hingga rig out, TD 2000 m)
60 – 120 hari (dari spud hingga rig out, TD 2000 m) Estimasi Biaya per Meter US$ 3000 – 4500 US$ 2000 - 4000 US$ 400 -1000
2. METODE
Metode penelitian yang digunakan berupa kajian teori desain sumber dan sumber literatur lainnya dalam bidang keilmuan panas bumi maupun perminyakan yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai dasar penentuan dan penghitungan desain casing yang akan digunakan pada sumur Z. Teori yang dibahas mencakup:
a. Perencanaan pengeboran sumur panas bumi.
b. Tekanan formasi dan tekanan rekah formasi.
c. Penentuan titik kedalaman dan ukuran casing.
d. Penghitungan beban yang dihadapi casing pada sumur untuk menentukan kelas casing yang akan digunakan.
e. Evaluasi kekuatan casing terhadap pengaruh beban.
f. Evaluasi kekuatan casing terhadap suhu bawah permukaan.
Setelah melakukan kajian diatas, teori yang dikumpulkan digunakan untuk merancang desain casing pada sumur Z sebagai berikut:
a. Melakukan pengumpulan data yang tersedia sebagai input desain casing.
b. Menghitung desain casing dengan mengaplikasikan safety design factor sesuai standar API untuk pengeboran ditambah faktor koreksi lain yang mungkin digunakan akibat pengaruh suhu dan berat dari casing.
c. Membandingkan hasil perhitungan rancangan standar dengan rancangan yang dimodifikasi akibat faktor koreksi yang digunakan.
152
3. PEMBAHASAN
A. Desain Sumur
Desain sumur dilakukan berdasarkan standar Selandia Baru NZS 2403:2015 karena sumur eksplorasi yang diteliti diperkirakan akan memproduksi uap dengan umur desain 10 tahun [3]. Karena belum dilaksanakannya leak off test (LOT), dalam desain ini digunakan perkiraan tekanan rekah sebesar 0.69 psi/ft dan casing produksi dipasang pada kedalaman 450 m. Dikarenakan sumur yang didesain berjenis slimhole, praktik pengeboran, ukuran bit, dan casing yang digunakan mengaplikasikan praktik coring yang dilanjutkan pembesaran lubang pada seksi conductor, surface, dan production. Lalu, pengeboran dilanjutkan dengan coring hingga kedalaman target[3].
B. Kondisi Bawah Permukaan
Data yang tersedia untuk menilai kondisi bawah permukaan sebagai berikut[4]:
a. Kedalaman 0-200 m, terdapat batuan Massive Andesite, dominan tidak teralterasi.
Juga terdapat quartz-dickite-kaolinite + pyrophyllite dan illite-smectite dengan suhu formasi 27 ℃ dengan perkiraan tekanan rekah formasi 13.3 ppg.
b. Kedalaman 200-250 m, terdapat Pyroclastic Tuff, dengan alterasi quartz-dictite- kaolinite + pyrophyllite.
c. Kedalaman 250-450 m, terdapat Andesite muda, dengan alterasi illite-smectite dengan suhu formasi 190 ℃ dengan perkiraan tekanan rekah formasi 13.3 ppg.
d. Batas atas reservoir diperkirakan pada kedalaman 450 m, dengan suhu reservoir sebesar 260 ℃ dengan tekanan non-condensable gas (NCG) sekitar 160 barg dan perkiraan tekanan rekah formasi 13.3 ppg.
Dengan terbatasnya data yang tersedia, tekanan rekah formasi dapat dikonfirmasikan kembali saat aktivitas pengeboran dengan prosedur leak off test (LOT).
C. Penentuan Kedalaman Pemasangan Casing
Penentuan kedalaman rangkaian casing dimulai dengan menentukan titik pemasangan casing produksi. Pada Gambar 1, ditentukan seksi casing produksi dibor dari kedalaman 250-450 m. Seksi casing permukaaan akan dibor dari kedalaman 50- 250 m.
Seksi casing konduktor dibor dari kedalaman 0-50 m. Lalu, untuk memperpanjang zona produksi fluida, akan di bor 2 seksi perforated liner pada kedalaman 450-1000 m dan kedalaman 1000-1500 m. Kedalaman pemasangan casing shoe yang telah ditentukan merupakan jendela pengeboran yang berdasarkan hubungan antara kedalaman dengan tekanan pori dan tekanan rekah formasi
(lampiran)
Gambar 1. Penentuan Kedalaman Casing[5] Gambar 2. Casing and Bit Tree[3]
153
D. Diameter Bit dan Casing
Berdasarkan rencana pengeboran, telah ditentukan bahwa total depth akan di bor dengan coring bit berukuran NQ. Dalam penentuan ukuran bit dan casing, digunakan gambar korelasi ukuran bit dan casing seperti pada Gambar 2.
Dengan bantuan gambar disamping, urutan ukuran casing dari yang paling bawah yaitu BW pada seksi perforated liner 2, NW pada seksi perforated liner 1, 4-1/2” pada seksi casing produksi, 7” pada seksi casing permukaan, dan 9-5/8” pada seksi casing konduktor.
E. Material Casing yang Digunakan
Pemilihan jenis casing yang digunakan dilakukan dengan mempertimbangkan kedalaman pemasangan casing, kondisi bawah permukaan, tekanan yang akan dihadapi casing, harga casing, dan ketersediaan casing di pasar. Pemilihan casing harus sesuai dengan kondisi sumur panas bumi, karena jenis casing yang dipilih juga mempengaruhi beban desain yang dihadapi rangkaian casing. Dalam penelitian ini, berkaitan dengan faktor desain dan ketersediaan casing untuk mempercepat pengerjaan proyek, diajukan jenis casing sebagai spesifikasi 9-5/8” 47 ppf L-80 PSL-1 BTC untuk seksi casing konduktor, 7” 23 ppf K-55 PSL-1 BTC untuk seksi casing permukaan, 4-1/2” 11.6 ppf L- 80 PSL-1 BTC untuk seksi casing produksi, NW perforated liner (3-1/2”) C-110 8.6 ppf PSL-1 Flush untuk seksi perforated liner 1, BW perforated liner (2-7/8”) Q-125 7.0 ppf PSL-1 Flush. Untuk memastikan material casing yang dipilih sesuai dengan kondisi sumur panas bumi yang dihadapi, casing yang dipilih harus disesuaikan dengan perhitungan beban yang dihadapi casing pada sub-bab selanjutnya.
F. Perhitungan Beban dan Ketahanan Casing
Perhitungan beban dan ketahanan casing secara rinci tertera pada lampiran 2. Pada seksi casing konduktor, akan dihadapi beban collapse sebesar 135 psi, burst sebesar 120 psi, dan tensile sebesar 106669 lb. Pada seksi casing permukaan, akan dihadapi beban collapse 674 psi, burst 557 psi, dan tensile 116312 lb. Pada seksi casing produksi, akan dihadapi beban collapse 1213 psi, burst 852 psi, dan tensile 114820 lb. Pada seksi perforated liner 1, akan dihadapi beban collapse 1182 psi, burst 240 psi, dan tensile 115156 lb. Pada seksi perforated liner 2, akan dihadapi beban collapse 1478 psi, burst 653 psi, dan tensile 112948 lb.
Dari kekuatan standarnya, terjadi perubahan ketahanan casing yang disebabkan efek suhu dan efek biaksial. Pada casing konduktor, yield dan tensile strength turun 1.33%, collapse rating turun 1.63%, burst rating turun 1.37%. Pada casing permukaan, yield dan tensile strength turun 7.59%, collapse rating turun 9.82%, burst rating turun 7.94%. Pada casing produksi, yield dan tensile strength turun 13.23%, collapse rating turun 16%, burst rating turun 13.66%. Pada perforated liner 1, yield dan tensile strength turun 16.12%, collapse rating turun 18.82%, burst rating turun 16.19%. Pada perforated liner 2, yield dan tensile strength turun 18.71%, collapse rating turun 21.22%, burst rating turun 18.42%.
Dari data diatas dapat dilihat bahwa kombinasi efek suhu dan efek biaksial memberikan koreksi yang signifikan terhadap kekuatan casing. Walau begitu, dikarenakan rating casing yang telah dikoreksi masih lebih besar dari beban yang dihadapi, juga masih melampaui safety design factor, spesifikasi casing yang telah dipilih sebelumnya masih dapat digunakan dan dapat dilihat pada Gambar 3.
154
Gambar 3. Skema Sumur Slimhole Z[5]
4. SIMPULAN
Perencanaan desain casing dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi bawah permukaan yang meliputi formasi, tekanan, suhu, dan kemungkinan terdapat zat korosif pada lubang sumur. Beban burst, collapse, dan tensile harus dipertimbangkan dalam melakukan desain. Paparan suhu tinggi akibat kondisi bawah permukaan pada lingkungan panas bumi secara langsung mempengaruhi seluruh rating dari casing. Evaluasi material yang dipilih dilakukan berulang karena jenis casing juga mempengaruhi hasil perhitungan beban yang diterima casing. Beban biaksial yang dihadapi casing mempengaruhi rating collapse dan burst dari casing.
Dari penelitian yang dilakukan, dapat dilihat pertambahan kedalaman yang selaras dengan pertambahan suhu dan beban yang diterima casing berhubungan dengan besarnya koreksi yang terjadi pada casing. Dalam penelitian ini, dengan total kedalaman 1500 m dipasangkan 5 rangkaian casing dengan batas atas reservoir diperkirakan pada kedalaman 450 m. Penambahan perforated liner hingga kedalaman 1500 m dilakukan untuk mendapatkan tambahan zona produksi fluida dan data bawah permukaan dari sumur.
5. DAFTAR PUSTAKA
[1] N. M. Saptadji, Teknik Panas Bumi. Bandung, 2001.
[2] D. P. Purba, D. W. Adityatama, M. F. Umam, dan F. Muhammad, “Key Considerations in Developing Strategy for Geothermal Exploration Drilling Project in Indonesia,”
Proceedings, 44th Workshop on Geothermal Reservoir Engineering, hal. 12, 2019.
[3] Rigsis Energi Indonesia, “Casing Design Proposal.” Jakarta, 2021.
[4] Rigsis Energi Indonesia, “Final Report - Drilling Engineering.” Jakarta, 2021.
[5] A. A. M. Nasution, “Desain Casing Sumur Slimhole Z Pada Lapangan Panas Bumi X PT.Rigsis Energi Indonesia,” Kertas Kerja Wajib, no. Politeknik Energi dan Mineral Akamigas, 2021.
9-5/8”, 47 ppf, L-80, PSL-1, BTC
7”, 23 ppf, K-55, PSL-1, BTC
4-1/2”, 11.6 ppf, L-80, PSL-1, BTC
NW Perforated Liner (3-1/2”), 8.6 ppf, PSL-1, Flush
BW Perforated Liner (2-7/8”), 7 ppf, PSL-1, Flush
155 Daftar Simbol
𝐴𝐿𝐶 = Beban aktual pada kondisi compression maksimal (lb) 𝐴𝐿𝑇 = Beban aktual pada kondisi
tension maksimal (lb)
AQ = Menyatakan ukuran diameter bit 1.88 inci
𝐵𝐷𝐹 = Beban burst setelah dikalikan faktor desain minimal (psi) 𝐵𝐿 = Beban burst dari casing (psi) 𝐵𝑠 = Ketahanan burst dari casing
(psi)
𝐵𝑠𝑏𝑝 = Ketahanan burst setelah
dikalikan efek biaksial pada bagian atas casing (psi)
𝐵𝑠𝑏𝑑 = Ketahanan burst setelah
dikalikan efek biaksial pada dasar casing (psi)
𝐵𝑠𝑠 = Ketahanan burst setelah
dikalikan efek suhu (psi) 𝐵𝐸𝐶 = Efek biaksial pada kondisi
compression maksimal 𝐵𝐸𝑇 = Efek biaksial pada kondisi
tension maksimal
BW = Menyatakan ukuran diameter casing 2.85 inci
𝐶𝐿 = Beban collapse dari casing (psi)
𝐶𝐷𝐹 = Beban collapse setelah
dikalikan faktor desain minimal (psi)
𝐶𝑝 = Ketahanan plastic collapse dari casing (psi)
𝐶𝑝𝑏𝑑 = Ketahanan collapse setelah dikalikan efek biaksial pada dasar casing (psi)
𝐶𝑝𝑏𝑝 = Ketahanan collapse setelah dikalikan efek biaksial pada bagian atas casing (psi) 𝐶𝑝𝑠 = Ketahanan collapse setelah
dikalikan efek suhu (psi) 𝐷/𝑡 = Rasio diameter dan ketebalan
casing
𝑇𝐷𝐹 = Beban tensile setelah dikalikan faktor desain minimal (lb) 𝑇𝐿 = Beban tensile dari casing (lb) 𝑇𝑠 = Ketahanan tensile dari casing
(lb)
𝑇𝑠𝑠 = Ketahanan tensile setelah dikalikan efek suhu (psi) 𝑊𝑏𝑜𝑢𝑦𝑎𝑛𝑐𝑦 = Beban apung (lb) 𝑊𝑐𝑠𝑔 𝑎𝑖𝑟 𝑤𝑡 = Berat casing di udara (lb) 𝑊𝑐𝑠𝑔 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑒𝑛𝑡𝑠 = Berat komponen internal dari
casing (lb)
𝑊𝑑𝑖𝑠𝑝𝑙𝑎𝑐𝑒𝑑 𝑓𝑙𝑢𝑖𝑑𝑠 = Berat fluida yang dipindahkan casing (lb)
𝑋𝑦𝑝 = Faktor koreksi dari nilai yield point
𝑌𝑝𝑠 = Yield point setelah dikalikan efek suhu (psi)
156
Lampiran 1. Tekanan Pori Formasi
Tabel. 2 Tekanan Pori Formasi
Kedalaman (m) Tekanan Hidrostatis pada BPD (psi)
0 0.00
160 0.00
170 13.05
180 27.55
200 52.20
220 78.30
240 104.40
260 129.05
310 191.40
360 253.75
460 372.65
560 488.65
660 603.20
760 714.85
960 932.35
1160 1141.15
1360 1342.70
1660 1634.15
Tabel 3. Tekanan Rekah Formasi
Kedalaman (m) Tekanan Rekah Formasi (psi)
0 0.00
10 22.64
20 45.28
40 90.56
60 135.83
80 181.11
100 226.39
150 339.58
200 452.78
300 679.17
400 905.56
500 1131.94
600 1358.33
800 1811.11
1000 2263.89
1200 2716.67
1500 3395.84
1600 3622.22
157
Lampiran 2. Perhitungan Beban dan Ketahanan Casing
Konduktor
𝐶𝐿 = [164.05 × 15.8 − 0] × 0.052 = 134.87 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝐷𝐹 = 135 × 1.2 = 161.74 𝑝𝑠𝑖
𝐷/ =9.625
0.472= 20.39 𝐶𝑝= 80000 × (3.07
20.39− 0.0667) − 1955 = 4752.97 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐿= [164.05 × 15.8] × 0.052 − 14.7 = 120.08 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐷𝐹= 120 × 1.5 = 180.13 𝑝𝑠𝑖
𝐵𝑠= 0.875 ×2 × 80000 × 0.472
9.625 = 6865.45 𝑝𝑠𝑖 Wcsg air wt = 164.05 × 47 = 7710.35 𝑙𝑏
Wcsg contents = ∑9 × 164.05 ×𝜋×8.6812
4 × 0.052 = 4544.14 𝑙𝑏 Wdisplaced fluids = ∑9 × 164.05 ×𝜋×9.6252
4 × 0.052 = 5586.16 𝑙𝑏 𝑊𝑏𝑜𝑢𝑦𝑎𝑛𝑐𝑦= 4544.14 − 5586.16 = −1042.02 𝑙𝑏
𝑇𝐿= 7710.35 − 1042.02 + 100000 = 106668.33 𝑙𝑏 𝑇𝐷𝐹= 106668 × 1.8 = 192002.99 𝑙𝑏
𝑇𝑠= 0.7854 × (9.6252− 8.6812) × 80000 = 1085791.25 𝑙𝑏 𝑋𝑦𝑝 = 1.0165 − 0.000783 × 38 = 0.987
𝑌𝑝𝑠= 80000 × 0.987 = 78939.68 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝑝𝑠= 4752.97 × 0.987 = 4689.97 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑠= 6865.45 × 0.987 = 6774.46 𝑝𝑠𝑖 𝑇𝑠𝑠= 1085791.25 × 0.987 = 1071400.17 𝑙𝑏 𝐴𝐿𝑇= 7710 − 1042.02
0.25 × 𝜋 × (9.6252− 8.6812)= 491.32 𝑝𝑠𝑖
𝐴𝐿𝐶= −1042.02
0.25 × 𝜋 × (9.6252− 8.6812)= −76.78 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐸𝑇 =730.50
80000= 0.62 % 𝐵𝐸𝐶=−114.15
80000 = −0.10 %
𝐶𝑝𝑏𝑝 = 4689.97 × 99.69% = 4675.38 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑏𝑝= 6774.46 × 100.31% = 6795.54 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝑝𝑏𝑑= 4689.97 × 100.05% = 4692.25 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑏𝑑= 6774.46 × 99.95% = 6771.17 𝑝𝑠𝑖
Permukaan
𝐶𝐿= [820.25 × 15.8 − 0] × 0.052 = 673.92 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝐷𝐹 = 673.92 × 1.2 = 808.70 𝑝𝑠𝑖
𝐷/𝑡 = 7
0.317= 22.08 𝐶𝑝= 55000 × (2.991
22.08− 0.0541) − 1206 = 3268.23 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐿= [820.25 × 15.8] × 0.052 − 116.72 = 557.20 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐷𝐹= 557.20 × 1.5 = 835.80 𝑝𝑠𝑖
𝐵𝑠= 0.875 ×2 × 55000 × 0.317
7 = 4358.75 𝑝𝑠𝑖 Wcsg air wt = 820.25 × 23 = 18865.75 𝑙𝑏
Wcsg contents = ∑9 × 820.25 ×𝜋×6.3662
4 × 0.052 = 12218.43 𝑙𝑏 Wdisplaced fluids = ∑9 × 820.25 ×𝜋×72
4 × 0.052 = 14773.32 𝑙𝑏 𝑊𝑏𝑜𝑢𝑦𝑎𝑛𝑐𝑦= 12218.43 − 14773.32 = −2554.89 𝑙𝑏
𝑇𝐿= 18865.75 − 2554.89 + 100000 = 116310.86 𝑙𝑏 𝑇𝐷𝐹= 116310.86 × 1.8 = 209359.54 𝑙𝑏
𝑇𝑠= 0.7854 × (72− 6.3662) × 55000 = 366053.28 𝑙𝑏
158 𝑋𝑦𝑝 = 1.0165 − 0.000783 × 118 = 0.924
𝑌𝑝𝑠= 55000 × 0.924 = 50825.83 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝑝𝑠= 3268.23 × 0.924 = 3020.19 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑠= 4358.75 × 0.924 = 4027.95 𝑝𝑠𝑖 𝑇𝑠𝑠= 366053.28 × 0.924 = 338272.03 𝑙𝑏 𝐴𝐿𝑇= 18865.75 − 2554.89
0.25 × 𝜋 × (72− 6.3662)= 2450.73 𝑝𝑠𝑖 𝐴𝐿𝐶= −2554.89
0.25 × 𝜋 × (72− 6.3662)= −383.88𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐸𝑇 = 2450.73
50825.83= 4.82 % 𝐵𝐸𝐶= −383.88
50825.83= −0.76 %
𝐶𝑝𝑏𝑝 = 3020.19 × 97.59% = 2947.37 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑏𝑝= 4027.95 × 102.41% = 4125.06 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝑝𝑏𝑑= 3020.19 × 100.38% = 3031.59 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑏𝑑= 4027.95 × 99.62% = 4012.74 𝑝𝑠𝑖
Produksi
𝐶𝐿= [1476.45 × 15.8 − 0] × 0.052 = 1213.05 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝐷𝐹 = 1213.05 × 1.2 = 1455.66 𝑝𝑠𝑖
𝐷/𝑡 = 4 0.25= 18 𝐶𝑝= 80000 × (3.07
22.08− 0.0667) − 1955 = 6353.44 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐿= [1476.45 × 15.8] × 0.052 − 360.77 = 852.18 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐷𝐹= 852.18 × 1.5 = 1278.42 𝑝𝑠𝑖
𝐵𝑠= 0.875 ×2 × 80000 × 0.25
4.5 = 7777.78 𝑝𝑠𝑖 Wcsg air wt = 1476.45 × 11.6 = 17126.82 𝑙𝑏
Wcsg contents = ∑9 × 1476.45 ×𝜋×42
4 × 0.052 = 8683.09 𝑙𝑏 Wdisplaced fluids = ∑9 × 1476.45 ×𝜋×4.52
4 × 0.052 = 10989.54 𝑙𝑏 𝑊𝑏𝑜𝑢𝑦𝑎𝑛𝑐𝑦= 8683.09 − 10989.54 = −2306.45 𝑙𝑏
𝑇𝐿= 17126.82 − 2306.45 + 100000 = 114820.37 𝑙𝑏 𝑇𝐷𝐹= 114820.37 × 1.8 = 206676.67 𝑙𝑏
𝑇𝑠= 0.7854 × (4.52− 42) × 80000 = 267036.00 𝑙𝑏 𝑋𝑦𝑝 = 1.0165 − 0.000783 × 190 = 0.868
𝑌𝑝𝑠= 80000 × 0.868 = 69418.40 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝑝𝑠= 6353.44 × 0.868 = 5513.07 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑠= 7777.78 × 0.868 = 6749.01 𝑝𝑠𝑖 𝑇𝑠𝑠= 267.036 × 0.868 = 231715.15 𝑙𝑏 𝐴𝐿𝑇= 17126.82 − 2306.45
0.25 × 𝜋 × (4.52− 42)= 4439.97 𝑝𝑠𝑖 𝐴𝐿𝐶= −2306.45
0.25 × 𝜋 × (4.52− 42)= −690.98 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐸𝑇 = 4439.97
69418.40= 6.40 % 𝐵𝐸𝐶= −690.98
69418.40= −1.00 %
𝐶𝑝𝑏𝑝 = 5513.07 × 96.80 % = 5336.77 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑏𝑝= 6749.01 × 103.20 % = 6964.84 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝑝𝑏𝑑= 5513.07 × 100.50 % = 5540.51 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑏𝑑= 6749.01 × 99.50 % = 6715.42 𝑝𝑠𝑖
Perforated Liner 1
𝐶𝐿= 𝑆𝑎𝑡 𝑃𝑟𝑒𝑠𝑠 @1000 𝑚 = 1181.47 𝑝𝑠𝑖
159 𝐶𝐷𝐹 = 1181.47 × 1.2 = 1417.76 𝑝𝑠𝑖
𝐷/𝑡 = 3.5 0.25= 14 𝐶𝑝= 110000 × (3.18
14 − 0.0819) − 2852 = 13124.71 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐿= [1804.55 × 8.33] × 0.052 − 1181.47 = 239.73 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐷𝐹= 239.73 × 1.5 = 359.59 𝑝𝑠𝑖
𝐵𝑠= 0.875 ×2 × 110000 × 0.25
3.5 = 13750 𝑝𝑠𝑖 Wcsg air wt = 1804.55 × 8.6 = 15519.13 𝑙𝑏
Wcsg contents = 8.33 × (1804.55 − 1476.45) ×𝜋×3.52
3 × 0.052 = 1004.59 𝑙𝑏
Wdisplaced fluids = 8.33 × (1804.55 − 1476.45) ×𝜋×3.52
3 × 0.052 = 1367.35 𝑙𝑏 𝑊𝑏𝑜𝑢𝑦𝑎𝑛𝑐𝑦= 1004.59 − 1367.35 = −362.77 𝑙𝑏
𝑇𝐿= 15519.13 − 362.77 + 100000 = 115156.36 𝑙𝑏 𝑇𝐷𝐹= 115156.36 × 1.8 = 207281.45 𝑙𝑏
𝑇𝑠= 0.7854 × (3.52− 32) × 110000 = 280780.50 𝑙𝑏 𝑋𝑦𝑝 = 1.0165 − 0.000783 × 227 = 0.839
𝑌𝑝𝑠= 110000 × 0.839 = 92263.49 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝑝𝑠= 13124.71 × 0.868 = 1108.47 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑠= 13750 × 0.868 = 11532.94 𝑝𝑠𝑖 𝑇𝑠𝑠= 280780.50 × 0.868 = 235507.17 𝑙𝑏 𝐴𝐿𝑇= 15519.13 − 362.77
0.25 × 𝜋 × (3.52− 32)= 5937.75 𝑝𝑠𝑖 𝐴𝐿𝐶= −362.77
0.25 × 𝜋 × (3.52− 32)= −142.12 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐸𝑇 = 5937.75
92263.49= 6.44 % 𝐵𝐸𝐶= −142.12
92263.49= −0.15 %
𝐶𝑝𝑏𝑝 = 11008.47 × 96.78 % = 10654.24 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑏𝑝= 11532.94 × 103.22 % = 11904.05 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝑝𝑏𝑑= 11008.47 × 100.08 % = 11016.95 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑏𝑑= 11532.94 × 99.92 % = 11524.05 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝐿= 𝑆𝑎𝑡 𝑃𝑟𝑒𝑠𝑠 @1500 𝑚 = 1478.76 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝐷𝐹 = 1478.76 × 1.2 = 1774.51 𝑝𝑠𝑖 𝐷/𝑡 =2.875
0.25 = 11.50 𝐶𝑝= 125000 × ((14 − 1)
(14)2 ) = 9924.39 𝑝𝑠𝑖
𝐵𝐿= [1640.5 × 8.33] × 0.052 − 1478.76 = 653.04 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐷𝐹= 653.04 × 1.5 = 979.56 𝑝𝑠𝑖
𝐵𝑠= 0.875 ×2 × 125000 × 0.25
2.875 = 19021.74 𝑝𝑠𝑖 Wcsg air wt = 1640.50 × 7 = 11483.50 𝑙𝑏
Wcsg contents = 8.33 × (1640.50 − 3281.00) ×𝜋×2.8752
2.375 × 0.052 = −3148.05 𝑙𝑏
Wdisplaced fluids = 8.33 × (1640.50 − 3281.00) ×𝜋×2.8752
2.375 × 0.052 = −4613.07 𝑙𝑏 𝑊𝑏𝑜𝑢𝑦𝑎𝑛𝑐𝑦= −3148.05 + 4613.07 = 1465.02 𝑙𝑏
𝑇𝐿= 11483.50 + 1465.02 + 100000 = 112948.52 𝑙𝑏 𝑇𝐷𝐹= 112948.52 × 1.8 = 203307.34 𝑙𝑏
𝑇𝑠= 0.7854 × (2.8752− 2.3752) × 125000 = 257709.38 𝑙𝑏 𝑋𝑦𝑝 = 1.0165 − 0.000783 × 260 = 0.813
𝑌𝑝𝑠= 125000 × 0.813 = 101615.00 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝑝𝑠= 9924.39 × 0.813 = 8067.73 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑠= 19021.74 × 0.813 = 15463.15 𝑝𝑠𝑖 𝑇𝑠𝑠= 257709.38 × 0.813 = 209497.11 𝑙𝑏
160 𝐴𝐿𝑇= 11483.50 + 1465.02
0.25 × 𝜋 × (2.8752− 2.3752)= 6280.60 𝑝𝑠𝑖
𝐴𝐿𝐶= 1465.02
0.25 × 𝜋 × (2.8752− 2.3752)= 710.60 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝐸𝑇 =6280.60
101615= 6.18 % 𝐵𝐸𝐶= 710.60
101615= 0.70 %
𝐶𝑝𝑏𝑝 = 8067.73 × 96.91 % = 7818.41 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑏𝑝= 15463.15 × 103.09 % = 15941.02 𝑝𝑠𝑖 𝐶𝑝𝑏𝑑= 8067.73 × 99.65 % = 8039.52 𝑝𝑠𝑖 𝐵𝑠𝑏𝑑= 15463.15 × 100.35 % = 15517.22 𝑝𝑠𝑖