• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL ILMIAH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBER HEAD TOGETHER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARTIKEL ILMIAH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBER HEAD TOGETHER"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL ILMIAH

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBER HEAD

TOGETHER (NHT) DALAM UPAYA MENINGKATKAN

PARTISIPASI SISWA PADA MATERI FLUIDA

DI KELAS XI IPA2 SMA FERDY

FERRY PUTRA

OLEH

1. DWITRI PILENDIA

2. Drs. M.HIDAYAT, M.Pd

3. SRI PURWANINGSIH, S.Si, M.Si

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

(2)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) DALAM UPAYA MENINGKATKAN PARTISIPASI

SISWA PADA MATERI FLUIDA DI KELAS XI IPA2 SMA FERDY FERRY PUTRA

OLEH :

1. DWITRI PILENDIA 2. Drs. M.HIDAYAT, M.Pd 3. SRI PURWANINGSIH, S.Si, M.Si

ABSTRAK

Kata Kunci : Partisipasi siswa, materi fluida, model pembelajaran kooperatif tipe NHT

Penelitian dilatarbelakangi oleh kurangnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas XI IPA2 yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas, maka diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui peningkatan partisipasi dan hasil belajar fisika siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada materi fluida kelas XI IPA 2 di SMA Ferdy Ferry Kota Jambi.

Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tiga siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Data dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif yang diperoleh melalui angket partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, observasi partisipasi siswa dalam diskusi, observasi aktivitas guru dalam pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian hasil belajar siswa dengan melaksanakan ulangan formatif di setiap akhir siklus.

Peningkatan nilai rata partisipasi dan hasil belajar siswa pada siklus I, rata-rata partisipasi siswa dalam proses pembelajaran adalah 63,31%, rata-rata-rata-rata partisipasi siswa dalam proses diskusi adalah 44,06%, dan nilai rata-rata hasil belajar 62,74. Pada siklus II rata-rata partisipasi siswa dalam proses pembelajaran meningkat menjadi 71,96%, partisipasi siswa dalam proses diskusi menjadi 55,40%, dan nilai rata-rata hasil belajar 74,43 dengan jumlah siswa yang berhasil sebanyak 20 orang (54,05%). Pada siklus III rata partisipasi siswa dalam proses pembelajaran meningkat menjadi 77,59%, partisipasi siswa dalam proses diskusi menjadi 75,62 %, dan nilai rata-rata hasil belajar 80,79 dengan jumlah siswa yang berhasil sebanyak 32 orang (86,48%).

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe

Number Head Together dapat meningkatkan partisipasi siswa dan hasil belajar fisika

(3)

I. PENDAHULUAN

Fisika merupakan salah satu cabang Ilmu Pengetahuan yang memberikan pemahaman mengenai fenomena alam serta kemungkinan aplikasinya dalam meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia. Fisika menjadi dasar berbagai pengembangan ilmu dan teknologi, maka sudah seharusnya fisika dipelajari secara menyenangkan.

Pembelajaran atau proses belajar mengajar terjadi manakala ada interaksi antar guru dengan siswa dan antar siswa dengan siswa. Dalam interaksi tersebut guru memerankan fungsi sebagai pengajar, sedangkan siswa berperan sebagai pelajar atau individu yang belajar, keterpaduan kedua fungsi tersebut mengacu pada tujuan pembelajaran. Salah satu indikator tercapainya tujuan pembelajaran dapat diketahui dengan melihat tinggi rendahnya hasil belajar yang diraih oleh siswa.

Sebagai tolak ukur keberhasilan siswa dalam belajar Fisika dapat dilihat dari hasil belajar Fisika. Hasil observasi yang dilakukan di SMA Ferdy Ferry Putra dapat ditampilkan nilai rata-rata ulangan harian fisika dikelas XI IPA. Seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1.1 Nilai Rata-rata ulangan harian fisika kelas XI IPA Nilai Rata-rata Ulangan Harian Fisika Kelas XI

IPA 1 IPA 2 IPA 3

62,86 54,7 87,9

Dari tabel di atas diketahui bahwa nilai rata-rata ulangan harian fisika yang paling rendah adalah dikelas XI IPA 2. Hasil pengamatan yang penulis lakukan selama proses pembelajaran fisika, terlihat beberapa masalah dalam pembelajaran fisika dikelas XI IPA 2 seperti siswa cenderung pasif, tidak ada inisiatif dari siswa untuk bertanya ketika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, hanya sebagian siswa yang bisa menyelesaikan soal dengan baik dan benar dan beberapa siswa terutama yang duduk di bagian belakang asyik mengobrol dengan teman sebangkunya ketika proses pembelajaran berlangsung. Setelah dilakukan wawancara dengan beberapa siswa diketahui penyebab masalah di atas adalah kurangnya minat siswa terhadap pelajaran fisika, kurangnya interaksi antara guru dan siswa, siswa tidak senang dengan cara guru menjelaskan pelajaran.

Dari identifikasi masalah tersebut dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab rendahnya hasil belajar fisika adalah kurangnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas XI IPA2. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar tersebut adalah partisipasi siswa yang merupakan faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Setelah berkoordinasi dengan guru mata pelajaran fisika di kelas tersebut maka penulis mencoba menawarkan solusi untuk meningkatkan partisipasi siswa dengan cara penggunaan model pembelajaran kooperatif.

(4)

Menurut Asma (2006) mengemukakan bahwa “Pembelajaran kooperatif menekankan pada kerjasama antar siswa dalam kelompok. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami suatu konsep jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya”. Salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah Numbered Head Together (NHT), yaitu suatu model

pembelajaran dimana siswa lebih bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan karena dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT ini siswa dalam kelompok diberi nomor yang berbeda. Setiap siswa dibebankan untuk menyelesaikan soal yang sesuai dengan nomor anggota mereka.

Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan kualitas dalam pembelajaran fisika. Oleh karena itu dalam penelitian ini penulis berfokus pada penerapan model pembelajaran Number Head Together (NHT) dalam upaya

meningkatkan partisipasi siswa pada materi fluida di kelas XI IPA2 SMA Ferdy Ferry Putra.

II. KAJIAN TEORI

2.1 Hakikat Belajar dan Mengajar

Menurut Syah dalam Jihad (2012) mengemukakan bahwa, “Belajar merupakan tahapan perubahan perilaku siswa yang relatif positif dan mantap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kongnitif”. Jadi dengan adanya interaksi siswa yang melibatkan proses kongnitif akan berdampak pada perubahan perilaku yang positif.

Berbeda dengan belajar, mengajar menurut Jihad (2012) didefinisikan sebagai “suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan guru dalam mempersiapkan lingkungan pembelajaran yang meliputi lingkungan alam dan sosial untuk mendukung terjadinya proses belajar”. Jadi dalam mengajar lebih ditekankan pada usaha guru dalam mempersiapkan lingkungan agar terjadi proses belajar.

Berdasarkan bebarapa pendapat mengenai belajar dan mengajar diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses interaksi antara individu dengan lingkungan yang akan berdampak pada perubahan tingkah laku individu tersebut. Sedangkan mengajar merupakan suatu proses mempersiapkan lingkungan sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan proses belajar.

2.2 Partisipasi Siswa dalam Pembelajaran

Partisipasi siswa dalam pembelajaran Fisika sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pidarta (1990) mengemukakan bahwa, “Partisipasi adalah pelibatan seseorang atau beberapa orang dalam suatu kegiatan”. Menurut Davis dalam Suryosubroto (2009) menyatakan bahwa partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosi seseorang untuk pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya.

Menurut Sudjana dalam Taniredja,et al., (2010) aspek-aspek partisipasi yang perlu diamati dalam membuat pedoman observasi aktivitas siswa dalam diskusi kelompok adalah :

a. Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah. b. Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain. c. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

(5)

e. Toleransi dan mau menerima pendapat orang lain. f. Mempunyai tanggung jawab sebagai anggota kelompok.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa partisipasi siswa dalam proses pembelajaran merupakan keterlibatan mental dan emosi seseorang atau beberapa orang dalam suatu kegiatan untuk mencapai tujuan dan hasil belajar yang maksimal yang dipengaruhi oleh aspek fisik maupun psikisnya. Dengan adanya partisipasi siswa akan menyadari makna dan arti penting belajar sehingga akan terjadi komunikasi dua arah dan sumbangan pemikiran yang positif dari siswa

2.3 Tinjauan Umum Model Pembelajaran Kooperatif

Isjoni (2007) mengemukakan bahwa, “Cooperatif learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling

membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim”. Pembelajaran kooperatif dikemukakan oleh Ibrahim (2008) memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Siswa bekerja dalam kelompoknya secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.

2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. 3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis

kelamin yang berbeda-beda.

4. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Kooperatif merupakan suatu model pembelajaran, dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama dan membantu untuk saling memahami suatu bahan pembelajaran.

2.4 Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Number Head Together)

Teknik pembelajaran NHT yang dikembangkan oleh Kagan (1992) yang dikemukakan oleh Lie (2002) adalah melalui pemberian kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.

Ibrahim (2008) mengemukakan tiga tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu :

1. Hasil belajar akademik stuktural

Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. 2. Pengakuan adanya keragaman

Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.

3. Pengembangan keterampilan social

Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya

(6)

Menurut Nurhadi dalam Malawati (2012) kelebihan model pembelajaran tipe NHT yaitu :

1. Setiap siswa menjadi siap semua.

2. Dapat berdiskusi dengan sungguh-sungguh.

3. Siswa pandai dapat mengajarkan siswa yang kurang pandai. 4. Penerimaan terhadap individu.

5. Pemahaman yang lebih mendalam. 6. Sikap apatis berkurang.

Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut : 1. Kemungkinan memanggil nomor yang sama. 2. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru. 3. Kekhawatiran terjadi kekacauan di kelas.

4. Kekhawatiran siswa tidak dapat membagi tugas dengan adil. 2.5 Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT

Menurut Huda (2013), tahap-tahap pelaksanaan NHT pada hakikatnya sama dengan diskusi kelompok yang rinciannya adalah sebagai berikut :

1. Siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok.

2. Masing-masing siswa dalam kelompok diberi nomor.

3. Guru memberi tugas/pertanyaan pada masing-masing kelompok untuk mengerjakannya.

4. Setiap kelompok mulai berdiskusi untuk mencari jawaban yang paling tepat dan memastikan semua anggota kelompok mengetahui jawaban tersebut.

Secara lebih rinci, keempat tahap tersebut dijelaskan oleh Trianto (2007), sebagai sintaks NHT :

a. Fase 1: penomoran

Dalam fase ini guru membagi siswa kedalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.

b. Fase 2 : mengajukan pertanyaan

Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya. Misal berapakah jumlah gigi orang dewasa?” Atau berbentuk arahan, dipastikan setiap orang mengetahui 5 buah ibu kota provinsi yang terletak di sumatra.

c. Fase 3 : berfikir bersama

Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.

d. Fase 4 : menjawab

Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Sedangkan untuk evaluasi hasil belajar dan pemberian penghargaan pada kelompok, diadopsi dari pedoman penilaian dalam STAD dengan langkah-langkah menurut Slavin (1995) dalam Pujiati (2006) sebagai berikut :

(7)

1) Pengetesan 2) Skor peningkatan

Siswa memperoleh skor peningkatan berdasarkan tingkat dimana skor tes mereka melebihi skor dasar mereka. Uraian bagaimana skor indivual ditentukan, ditunjukkan pada langkah-langkah berikut :

Langkah 1 : menetapkan skor dasar

Setiap siswa diberikan skor berdasarkan skor kuis yang lalu. Langkah 2 : menghitung skor kuis terkini

Siswa memperoleh poin untuk kuis yang berkaitan dengan pelajaran terkini. Langkah 3 : menghitung skor peningkatan

Siswa mendapat poin peningkatan yang besarnya ditentukan apakah skor kuis terkini mereka menyamai atau melampaui skor dasar mereka dengan menggunakan skala yang ditunjukkan pada tabel 2 berikut:

Tabel 2.1 Skala poin peningkatan

No Skor tes terkini Skor peningkatan 1 Lebih dari 10 poin dibawahskor dasar 0 poin 2 10 poin dibawah sampai 1 poin skor dasar 10 poin 3 Skor dasar sampai 10 poin diatas skor dasar 20 poin 4 Lebih dari 10 poin diatas skor dasar 30 poin 5 Pekerjaan sempurna (tanpa memperlihatkan skor dasar) 30 poin

Berdasarkan penjelasan penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT yang dikemukakan oleh Huda dan Trianto, maka penulis berpedoman pada langkah-langkah yang dikemukakan oleh Trianto karena langkah-langkah tersebut lebih rinci sehingga dijadikan pedoman dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Langkah-langkah yang akan diterapkan adalah sebagai berikut :

a. Fase 1: penomoran

Dalam fase ini guru membagi siswa kedalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5 kemudian siswa diarahkan menuju kelompoknya.

b. Fase 2 : mengajukan pertanyaan

Guru memberikan intruksi untuk mendiskusikan beberapa pertanyaan yang sudah diberikan oleh guru. Misalnya “apa saja yang mempengaruhi besarnya tekanan hidrostatis?” Atau berbentuk arahan, “dipastikan setiap orang mengetahui minimal 3 aplikasi hikum pascal dalam kehidupan sehari-hari”.

c. Fase 3 : berfikir bersama

Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.

d. Fase 4 : menjawab

Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

(8)

III. METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Sukidin dalam Taniredja (2010) mengemukakan bahwa “Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelaahan penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan/atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran dikelas secara profesional”. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan suatu penelitian yang dilakukan di dalam suatu kelas, dengan tujuan untuk memperbaiki situasi di kelas tersebut, yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan partner. Penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi masalah, mencari pemecahan masalah, memberi tindakan, dan memastikan tindakan tersebut dapat menyelesaikan masalah, jika masalah belum terselesaikan maka tindakan yang sama perlu diterapkan kembali.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam beberapa siklus sampai tercapainya indikator keberhasilan tindakan, dimana kegiatan setiap siklusnya meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian tindakan kelas ini adalah di Kelas XI IPA 2 SMA Ferdy Ferry Putra.

3.3 Subyek Penelitian

Penilitian ini dilakukan pada siswa kelas XI IPA 2 SMA Ferdy Ferry Putra pada tahun ajaran 2013/2014. Dengan jumlah siswa 37 orang yang menurut hasil analisis penulis dan guru mata pelajaran memiliki partisipasi dalam belajar yang rendah.

3.4 Jadwal Rencana Kegiatan Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2013/2014.

3.5 Instrumen Penelitian

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan instrumen berupa angket, Lembar observasi, dan soal evaluasi hasil belajar, lembar observasi proses pembelajaran terhadap guru, dan lembar observasi partisipasi siswa pada saat diskusi. Angket digunakan untuk mengetahui partisipasi siswa dalam pembelajaran fisika secara individu pada setiap siklus. Terdapat dua lembar observasi yaitu lembar observasi aktivitas guru dalam proses pembelajaran dan lembar partisipasi siswa dalam diskusi pada saat pembelajaran berlangsung.

3.6 Pengolahan Data

Data dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif yang diperoleh dari angket, lembar observasi dan instrumen tes hasil belajar.

a. Angket Partisipasi

Perhitungan persentase hasil yang diperoleh dari angket tertutup berskala ordinal dengan menggunakan rumus persentase menurut Ridwan (2008) yaitu:

(9)

% 100 x n f P (1) Keterangan:

P : persentase partisipasi siswa f : total skor item

n : skor total maksimum

dengan ketentuan : 81% - 100% : sangat tinggi 61% - 80% : tinggi 41% - 60% : sedang 21% - 40% : rendah 0% - 20% : sangat rendah b. Lembar observasi proses pembelajaran

Untuk data hasil observasi mengenai situasi belajar mengajar diambil menggunakan lembar partisipasi siswa dalam proses diskusi dan lembar observasi guru pada saat pembelajaran. Cara penilaian terhadap hasil observasi sama dengan penilaian angket yaitu dihitung dengan rumus (1).

c. Instrumen Tes

Agar soal tes yang digunakan berkualitas, soal diuji coba terlebih dahulu kemudian dilakukan analisis sebagai berikut:

1. Validitas

Validitas tes adalah ketepatan tes. Sebuah tes dikatakan punya validitas jika tes tersebut dapat mengukur dengan tepat apa yang diukur. Dalam penyusunan instrumen ini penulis mengutamakan validitas isi. Menurut Arikunto (2006) menyatakan bahwa “validitas isi bagi sebuah instrumen menunjuk suatu kondisi sebuah instrumen yang disusun berdasarkan isi materi pembelajaran”.

2. Tingkat Kesukaran

Besar tingkat kesukaran soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Arikunto (2006), sebagai berikut :

= (2)

Keterangan :

P = Indeks kesukaran

B = Banyaknya siswa yang menjawab benar JS = jumlah seluruh peserta tes

3. Reliabilitas

Reliabilitas menunjukkan pada tingkat keterandalan sesuatu. Riliabel artinya dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan. Untuk menentukan reliabilitas tes yang menggukan bentuk objektif digunakan rumus KR – 21 yang dikemukakan Arikunto (2006) sebagaimana yang tercantum dibawah ini :

= 1− ( ) (3)

Dimana :

(10)

=∑ [∑ ] (5) Keterangan :

= Reliabilitas yang dicari = Standar Deviasi

= Rata-rata

N = Banyak soal

Sebagai kriteria reliabiilitas soal didasarkan pada ketentuan dibawah ini : 0,00 < ≤ 0,20 = sangat rendah 0,20 < ≤ 0,40 = rendah 0,40 < ≤ 0,60 = cukup 0,60 < ≤ 0,80 = tinggi 0,80 < ≤ 0,1 = sangat tinggi 4. Daya Beda

Rumus untuk menghitung daya beda soal oleh arikunto (2006) sebagai berikut ;

= − = − (6)

Keterangan :

J = Jumlah peserta tes

JA = Jumlah peserta kelompok atas JB = Jumlah peserta kelompok bawah

BA = Jumlah peserta kelompok atas yang menjawab benar BB = Jumlah peserta kelompok bawah yang menjawab benar PA = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar PB = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar Dengan kriteria sebagai berikut :

0,00 < D ≤ 0,20 = buruk

0,20 < D ≤ 0,40 = cukup

0,40 < D ≤ 0,70 = baik

0,70 < D≤ 0,1 = baik sekali

D = negatif, semuanya tidak baik

Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil pemberian tes pada tahap evaluasi diakhir siklus, dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukan oleh (Jihad, 2012), dengan persamaan : 100 X N B S (7) Keterangan :

(11)

3.7. Indikator Keberhasilan Tindakan

Indakator yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan tindakan adalah sebagai berikut :

1. Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran untuk setiap indikator sudah mencapai > 60% atau termasuk kriteria tinggi.

2. Partisipasi siswa dalam proses diskusi untuk setiap indikator sudah mulai terlihat dan rata-rata partisipasi secara keseluruhan mencapai ≥ 60% atau termasuk

kriteria tinggi.

3. Akivitas guru selama proses pembelajaran untuk setiap indikator sudah mencapai kriteria baik dan rata-rata aktivitas guru secara keseluruhan mencapai ≥ 80%.

4. Hasil tes belajar siswa memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu 70. Menurut Djamarah (2010), “Keberhasilan proses mengajar dikatakan sudah optimal apabila sebagian besar (76% s.d 99%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa”. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka tindakan dapat dikatakan berhasil apabila di dalam kelas tersebut sudah terdapat 80 % siswa yang tuntas sesuai dengan KKM.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Rincian peningkatan hasil belajar siswa yang diperoleh dari penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Togetherdapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.1 Peningkatan Hasil Belajar Siswa

No Variabel yang diamati Siklus

1 2 3

1 Nilai rata-rata siswa 62,74 74,43 80,78 2 Jumlah siswa yang berhasil 11orang orang20 orang32 3 Persentase keberhasilan siswa 29,73% 54,05% 86,49%

Berdasarkan tabel 4.13 di atas dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar pada setiap siklus. Jadi pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together pada materi fluida dapat

meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif.

Adapun gambaran mengenai peningkatan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dari hasil angket pada setiap siklus dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.2 Peningkatan Partisipasi Siswa Dalam Proses Pembelajaran Siklus

Rata-rata skor total / indikator Rata-rata persentase / indikator (%) I 12,66 63,31 II 14,39 71,96 III 15,52 77,59

(12)

Gambaran mengenai peningkatan partisipasi siswa dalam diskusi dari hasil observasi pada setiap siklus dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.3 Peningkatan Partisipasi Siswa Dalam Proses Diskusi Siklus Rata-rata skor Rata-rata Persentase (%)

I 1,76 44,06

II 2,22 55,40

III 3,03 75,62

Berdasarkan tabel 4.14 dan 4.15 di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Number Head Together dapat meningkatkan

partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran fluida. Gambaran mengenai peningkatan aktivitas guru dalam proses pembelajaran dari hasil observasi pada setiap siklus dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.4 Peningkatan Aktivitas Guru Dalam Proses Pembelajaran Siklus Rata-rata skor Rata-rata persentase (%)

I 65,00 81,25

II 70,00 87,50

III 76,50 95,63

Berdasarkan tabel 4.16 di atas terlihat peningkatan aktivitas guru pada setiap siklus. Hal ini dikarenakan guru telah terbiasa menerapkan model pembelajaran kooperatif Tipe Number Head Together, sehingga rencana pelaksanaan pembelajaran

dapat terlaksana dengan baik. V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Peningkatan nilai rata-rata persentase partisipasi dan hasil belajar siswa pada siklus I, rata-rata persentase partisipasi siswa dalam proses pembelajaran adalah 63,31%, rata persentase partisipasi siswa dalam proses diskusi adalah 44,06 % dan nilai rata-rata hasil belajar 62,74 dengan jumlah siswa yang berhasil sebanyak 11 orang (29,73%). Pada siklus II rata-rata persentase partisipasi siswa dalam proses pembelajaran meningkat menjadi 71,96%, partisipasi siswa dalam proses diskusi menjadi 55,40% dan nilai rata-rata hasil belajar 74,43 dengan jumlah siswa yang berhasil sebanyak 20 orang (54,05%). Pada siklus III rata persentase partisipasi siswa dalam proses pembelajaran meningkat menjadi 77,59%, partisipasi siswa dalam proses diskusi menjadi 75,62% dan nilai rata-rata hasil belajar 80,78 dengan jumlah siswa yang berhasil sebanyak 32 orang (86,48%). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif

(13)

tipe Number Head Togetherdapat meningkatkan partisipasi siswa dan hasil belajar fisika

siswa pada materi Fluida di SMA Ferdy Ferry Kota Jambi. 5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh di atas serta untuk lebih meningkatkan hasil belajar fisika siswa, maka penulis menyarankan beberapa hal:

1). Guru fisika dapat menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together pada saat proses pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas siswa dan

hasil belajar fisika siswa, terutama pada materi fluida.

2). Karena penelitian ini hanya dilakukan hanya pada materi fluida, maka diharapkan penelitian yang serupa dapat pula dilaksanakan pada materi yang lain.

3). Penelitian ini masih terbatas pada partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dan hasil belajar pada aspek kongnitif, diharapkan lebih lanjut dilakukan penelitian terhadap hasil belajar pada aspek afektif.

(14)

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta : Bumi aksara

Asma, Nur. 2006. Pembelajaran Kooperatif. Jakarta : Depdiknas Dikti Departemen

Ketenagaan

Djamarah, S.B. & Zain, A. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta

Huda, Miftahul. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta :

Pustaka Pelajar

Ibrahim, M.N. 2008. Pembelajaran berdasarkan masalah. Surabaya : Unesa Press

Isjoni. 2007. Cooperative Learning; Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelopok.

Bandung : Alfabeta

Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning, Mempraktekkan kooperatif learning di ruang kelas. Jakarta : IKAPI

Pidarta, Made. 2002. Landasan Kependidikan. Jakarta : IKAPI

. 1990. Penerapan Pendidikan Partisipatori dengan pendekatan siswa.Jakarta :

Rineka Cipta

Pujiati, Irma. 2006. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Number Head Together) untuk Meningkatkan Parrtisipasi dan Prestasi Belajar Matematika di SMP Negeri 4 Purwokerto. Banyumas : Dinas Pendidikan

Malawati, Ratna. 2012. Analisis Kemampuan Prasyarat Maetematika Dan Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Pembelajaran Menggunakan Model Kooperatif Tipe NHT.

Unimed : Jurnal Online Pendidikan Fisika ISSN 2301-7651

Ridwan. 2013. Rumus dan Data dalam Analisis Statistika. Bandung : Alfabeta

Suryosubroto, B. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah : Wawasan Baru, Bebrapa Metode Pendukung Dan Bebrapa Komponen Layanan Khusus. Jakarta : Rineka

Cipta

Taniredja, Tukiran. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Alfabeta

Trianto.2011. Mendisain Model Pembelajaran Inovati-Progresif. Jakarta : Kencana

Gambar

Tabel 2.1 Skala poin peningkatan
Tabel 4.1 Peningkatan Hasil Belajar Siswa No Variabel yang diamati Siklus
Tabel 4.3 Peningkatan Partisipasi Siswa Dalam Proses Diskusi Siklus Rata-rata skor  Rata-rata Persentase  (%)

Referensi

Dokumen terkait

Peristiwa belajar (instructional events) adalah persitiwa dengan urutan sebagai berikut : menimbulkan minat dan memusatkan perhatian agar peserta didik siap menerima pelajaran,

Dengan melihat diagram 4.12 diatas dapat disimpulkan bahwa 40,63 persen responden menyatakan sangat setuju, dan 53,13 persen menyatakan setuju, artinya sebanyak

Untuk melaksanakan metode ilmiah tersebut, diperlukan keterampilan- keterampilan khusus yang disebut dengan Keterampilan Proses Sains (KPS) (Abd-El-Khalick &amp;

Bronkitis kronis adalah salah satu jenis PPOK (penyakit paru obstruktif kronik). Tabung bronkial meradang menghasilkan banyak lendir. Bronkitis ini menjadi

[r]

Dalam kehidupan organisasi, baik dalam bentuk organisasi pemerintahan maupun organisasi swasta kerjasama para anggota organisasi di dalamnya mutlak diperlukan. Dengan perkataan

Jumlah peserta yang hadir pada saat kegiatan pembekalan materi tentang pencarian informasi atau browsing internet, penulisan proposal penelitian tindakan kelas,

Dalam efek emitmen atau perusahaan Publik tercatat di Bursa Efek di Indonesia dan Bursa Efek di negara lain, dimana ketentuan batas waktu penyampaian laporan tahunan yang