BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Modernisasi berdampak terhadap kemajuan industri. Industrialisasi diikuti dengan penggunaan bahan kimia dan mesin-mesin industri. Lingkungan industri yang mengandung Hazard (potensi bahaya) berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja. Potensi bahaya di lingkungan industri dapat menyebabkan penyakit akibat kerja yang mengenai organ-organ tubuh tenaga kerja. Salah satu organ tubuh yang terkena adalah paru tenaga kerja.
Di USA penyakit paru akibat kerja merupakan penyakit akibat kerja nomer satu dikaitkan dengan frekuensi, tingkat keparahan dan kemampuan pencegahannya. Biasanya disebabkan oleh paparan iritasi atau bahan toksik yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut maupun kronis. Kebiasaan merokok akan memperparah penyakit tersebut. Total pembiayaan penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja mencapai $ 170 milyar pertahunnya. Pada tahun 2002, tercatat 294.500 kasus baru. Secara keseluruhan 2,5 per 10.000 tenaga kerja berkembang menjadi non fatal penyakit akibat kerja. Penyakit akibat kerja biasanya sulit disembuhkan akan tetapi mudah dicegah.
Penyakit paru akibat kerja merupakan penyakit atau kelainan paru yang terjadi akibat terhirupnya partikel, kabut, uap atau gas yang berbahaya saat seseorang sedang bekerja. Individu yang bisa terkena atau menderita penyakit paru akibat kerja adalah semua individu yang tinggal di sekitar pabrik atau sebagai pekerja pabrik menghirup udara yang sudah tercemari oleh berbagai polutan yang dikeluarkan oleh pabrik tersebut selama aktivitas produksi. Respon paru terhadap pencemaran udara nafas bervariasi karena ada berbagai faktor yang berpengaruh. Faktor tersebut adalah jenis polutan (gas, asap, debu inorganik dan organik, bahan toksis dan sebagainya), intensitas dan lamanya paparan, konsentrasi bahan polutan di udara tempat kerja.
Mengingat semakin meningkatnya kasus penyakit paru akibat kerja dan pentingnya upaya pencegahannya, maka perlu diketahui epidemiologi penyakit paru akibat kerja. Diharapkan dengan pengetahuan ini, minimal diketahui macam macam penyakit akibat kerja, agen penyebab penyakit akibat kerja dan jenis industri tempat timbulnya penyakit paru akibat kerja dan upaya pencegahannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja jenis penyakit akibat kerja paru dan penyebabnya?
2. Bagaimana pembahasan penyakit bronkitis kronis, asbestosis, silikosis, sick building sindrom?
3. Bagaimana gejala, faktor resiko, diagonosis dan pemeriksaan penunjangnya? 4. Apa saja program promosi dan pencegahannya?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa saja jenis penyakit akibat kerja paru dan penyebabnya.
2. Mengetahui pembahasan penyakit bronkitis kronis, asbestosis, silikosis, sick building sindrom.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Jenis Penyakit Akibat Kerja Paru dan Penyebabnya 1. Pneumokoniosis
Penyakit ini diakibatkan penumpukan debu batubara di paru sehingga menyebabkan munculnya reaksi jaringan terhadap debu tersebut. Seseorang bisa terkena penyakit ini bila terpapar cukup lama, lebih dari 10 tahun.
2. Silikosis
Penyakit ini terjadi karena inhalasi dan retensi debu yang mengandung kristalin silikon dioksida atau silika bebas (S1S2). Penyakit ini bisa terjadi pada berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan silika, seperti: Pembuat keramik dan batubara, Pekerja tambang logam dan batubara, Penuangan besi dan baja, Penggali terowongan untuk membuat jalan, Pemotong batu untuk nisan atau patung, Pabrik semen, Pembuat gigi enamel, Industri yang memakai silika sebagai bahan misalnya pabrik amplas dan gelas.
3. Asbestosis
Penyakit ini timbul akibat terhirupnya debu asbes sehingga menyebabkan penumokoniosis yang ditandai oleh fibrosis paru. Paparan debu asbes ini bisa terjadi di daerah tambang dan industri serta daerah disekitarnya yang sudah terpolusi. Pekerja di tambang, transportasi, penggilingan, pedagang, pekerja kapal, dan pekerja penghancur asbes.
4. Bronkitis Industri
Berbagai debu industri seperti debu yang berasal dari pembakaran arang batu, semen, keramik, besi, penghancuran logam dan batu, asbes dan silika dengan ukuran 3-10 mikron akan ditimbun di paru.
5. Asma Kerja
khrom, enzmm seperti iripsin dan papain. Dapat juga berasal dari obat-obatan seperti pada piperazin, tetrasiklin, spinamisin dan penisilin sintetik.
6. Kanker Paru
Kanker paru bisa dipicu oleh zat yang bersifat karsinogen seperti uranium, asbes, gas mustard, nikel, khrom, arsen, tar batu bara, dan kalsium klorida. Pekerja yang sering terkontaminasi zat-zat tersebut bisa menderita kanker paru setelah terpapar lama, yaitu antara 15 sampai 25 tahun. Pekerja yang rawan terkena penyekit ini adalah mereka yang bekerja di tambang, pabrik, tempat penyulingan dan industri kimia.
7. Exrinsic Allergic Alveolitis
Penyakit ini disebabkan sensitisasi debu-debu organik dari spora jamur Actinomycetes yg banyak terdapat di pertanian sehingga kerap disebut denganfarmer lung disease. Letak gangguannya lebih banyak terdapat di parenkim paru. Keluhan flu merupakan gejala yang sering menyertai penyakit ini. Diduga mikroba yang hidup di AC dapat menyebabkan gangguan kesehatan ini.
8. Bisinosis
Bissinosis (Byssinosis) merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan pekerjaan yang memungkinkan seseorang menghirup debu kapas atau debu dari serat tanaman lainnya, seperti rami.
B. Faktor Resiko, Gejala, Diagnosis, Pemeriksaan Penunjang Penyakit Akibat Kerja Paru
1. Bronkitis Kronis
tahun dengan frekuensi batu produktif 3 bulan selama 2 tahun berturut-turut Temuan utama pada bronkitis adalah hipertropi kelenjar mukosa bronkus dan peningkatan jumlah sel goblet dengan infiltasi sel-sel radang dan edema pada mukosa sel bronkus. Pembentukan mukosa yang terus menerus mengakibatkan melemahnya aktifitas silia dan faktor fagositosis dan melemahkan mekanisme pertahananya sendiri. Pada penyempitan bronkial lebih lanjut terjadi akibat perubahan fibrotik yang terjadi dalam saluran napas.
a. Gejala dan Keluhan
1) Batuk dan produksi sputum atau lendir adalah gejala yang paling sering biasanya terjadi setiap hari. Intensitas batuk, jumlah dan frekuensi produksi sputum atau lendir bervariasi. Dahak berwarna yang bening, putih atau hijau kekuningan.
2) Sesak napas secara bertahap meningkat dengan tingkat keparahan penyakit. Biasanya, orang dengan bronkitis kronik mendapatkan sesak napas dengan aktivitas dan mulai batuk.
3) Gejala kelelahan, sakit tenggorokan , nyeri otot, hidung tersumbat, dan sakit kepala dapat menyertai gejala utama.
4) Demam dapat mengindikasikan infeksi paru-paru sekunder virus atau bakteri. b. Faktor Resiko
1) Merokok
2) Penurunan imunitas tubuh 3) Terkena iritasi paru-paru
4) Mengalami infeksi saluran pernfasan 5) Terkena paparan polutan di udara 6) Pekerja beresiko
c. Pekerja yang beresiko terkena bronkitis kronik berdasarkan iritan penyebabnya dilingkungan kerja adalah
1) Amonia (NH3)
2) pekerja beresiko adalah pemadam kebakaran, pekera pabrik pupuk , pembakaran polimer sintetik.
3) Arsenik (As)
4) Pekerja beresiko adalah petani (insektisida), pekerja di produksi battery, dan elecroplanting
6) Pada maintence kolam renang, industri cat, industri textile dan industri plastic. 7) Sulfur dioksida(SO2)
8) produksi alumunium, baterai,semen, pertanian (pestisida), pengecoran logam, minyakbumi, tekstil, pulp and paper,dan keramik.
9) Hidrogen sulfida(H2S)
10) pertanian (debu, asfiksian, dan lain-lain), pertambangan,produksi baja. 11) Bromin (Br)
12) Pada photographic processing pada industri tekstilberupa proses printing, dyeing, dan finishing, pada pekerjadengan penggunaan desinfektan.
13) Ozone (O3)pekerja padapembuatan keramik, pengelasan, pulp and paper. 14) Debu
15) Penambangan batu bara, pembangunan rumahatau gedung, pabrik semen, penambangan lainnya, pengecoranlogam, pabrik karet, pengelasan, dan tempat penghacuran batu,pabrik kapas, dan petani yang terpajan debu pertanian sepertirami,gandum, dan postasium.
d. Prosedur Deteksi Dini Anamnesis
Anamnesis dilakukan dengan wawancara pada penderita atau pekerja mengenairiwayat pekerjaan, pajanan, dan riwayat penyakit. Selain itu, anamnesis dapat dari datapajanan dan MSDS. Riwayat merokok merupakan hal yang penting untuk diketahui karenakebiasaan merokok berkontribusi besar dalam timbulnya penyakit bronkitis kronik.
Pemeriksaan fisik
Dapat dilakukan dengan melihat tanda-tanda yang umum seperti batuk yang retentif, suara napas yang mendecit, dan juga cyanosis di bagian lidah dan membran mukosa akibat pengaruh sekunder polisitemia. Dari postur, penderita memiliki kecenderungan overweight . Sedangkan melihat dari usia, kebanyakan penderita berumur 45-60 tahun.
Pemeriksaan penunjang. 1) Pemeriksaan radiologi.
2) Ada hal yang perlu diperhatikan yaitu adanya tubular shadow berupa bayangan garis-garis yang paralel keluar dari hilus menuju apeks paru dan corakan paru yang bertambah
4) Terdapat VEP1 dan KV yang menurun, VR yang bertambah dan KTP yang normal. Sedang KRF sedikit naik atau normal. Diagnosis ini dapat ditegakkan dengan spirometri, yang menunjukkan (VEP) volume ekspirasi paksa dalam 1 detik < 80% dari nilai yang diperkirakan, dan rasio VEP1 : KVP <70%.
5) Pemeriksaan gas darah.
6) Penderita bronkitis kronik tidak dapat mempertahankan ventilasi dengan baik sehingga PaCO2 naik dan PO2 turun, saturasi hemoglobin menurun dan timbul sianosis, terjadi juga vasokonstriksi pembuluh darah paru dan penambahan eritropoeisis.
7) Pemeriksaan EKG.
8) Pemeriksaan ini mencatat ada tidaknya serta perkembangan kor pulmonal (hipertrofi atrium dan ventrikel kanan)
2. Silikosis
Penyakit Silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa SiO2, yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu silika bebas ini banyak terdapat di pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi (mengikir, menggerinda, dll). Debu silika yang masuk ke dalam paru-paru akan mengalami masa inkubasi sekitar 2 sampai 4 tahun. Masa inkubasi ini akan lebih pendek, atau gejala penyakit silicosis akan segera tampak, apabila konsentrasi silika di udara cukup tinggi dan terhisap ke paru-paru dalam jumlah banyak. Penyakit silicosis ditandai dengan sesak nafas yang disertai batuk-batuk. Bila penyakit silicosis sudah berat maka sesak nafas akan semakin parah dan kemudian diikuti dengan hipertropi jantung sebelah kanan yang akan mengakibatkan kegagalan kerja jantung. (Susanto, 2009).
Penderita silikosis noduler simpel tidak memiliki masalah pernafasan, tetapi mereka bisa menderita batuk berdahak karena saluran pernafasannya mengalami iritasi (bronkitis). Silikosis konglomerata bisa menyebabkan batuk berdahak dan sesak nafas. Mula-mula sesak nafas hanya terjadi pada saat melakukan aktivitas, tapi akhirnya sesak timbul bahkan pada saat beristirahat.
Jika terpapar oleh organisme penyebab tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis, penderita silikosis mempunyai resiko 3 kali lebih besar untuk menderita tuberkulosis.
Gejala tambahan yang mungkin ditemukan, terutama pada silikosis akut: Demam, Batuk, Penurunan berat badan, Gangguan pernafasan yang berat. Komplikasi: Bronkitis, Emphysenic(kembang paru-paru), Kegagalan jantung berfungsi
Partikel-partikel silika yang berukuran 0.5-5 μm bila terhirup akan tertahan di alveolus dan sel pembersih (makrofag) akan mencernanya. Banyak dari partikel ini dibuang bersama sputum sedangkan yang lain masuk ke dalam aliran limfatik paru-paru, kemudian mereka ke kelenjar limfatik. Enzim yang dihasilkan oleh sel pembersih menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada paru-paru. Pada kelenjar, makrofag itu kemudian berintregasi, meninggalkan partikel silika yang akan menyebabkan dampak lebih luas. Kelenjar itu menstimulasi pembentukan bundel-bundel nodular dari jaringan parut dengan ukuran mikroskopik, semakin lama semakin banyak pula nodul yang terbentuk, mereka kemudian bergabung menjadi nodul yang lebih besar yang kemudian akan merusak jalur normal cairan limfatik melalui kelenjar limfe.
Ketika ini terjadi, jalan lintasan yang lebih jauh dari sel yang telah tercemar oleh silika akan masuk ke jaringan limfe paru-paru. Sekarang, antibodi baru di dalam pembuluh limfatik bertindak sebagai gudang untuk sel-sel yang telah tercemar oleh debu, dan parut nodular terbentuk terbentuk pada lokasi ini juga. Kemudian, nodul-nodul ini akan semakin menyebar dalam paru-paru.
Gabungan dari nodul-nodul itu kemudian secara berangsur-angsur menghasilkan bentuk yang mirip dengan masa besar tumor. Sepertinya, silika juga menyebabkan menyempitnya saluran bronchial yang merupakan sebab utama dari dyspnea. Jika penderita silikosis terpapar oleh organisme penyebab tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis) penderita silikosis mempunyai resiko 3 kali lebih besar untuk menderita tuberkulosis.
Biasanya gejala timbul setelah pemaparan selama 20-30 tahun. Tetapi pada peledakan pasir, pembuatan terowogan dan pembuatan alat pengampelas sabun, dimana kadar silika yang dihasilkan sangat tinggi, gejala dapat timbul dalam waktu kurang dari 10 tahun.
Silikosis Akut
Terjadi akibat pemaparan silikosis dalam jumlah yang sangat besar, dalam waktu cepat. Paru-paru sangat meradang dan terisi oleh cairan, sehingga timbul sesak nafas yang hebat dan kadar oksigen darah yang rendah. Gejala lain yang dapat timbul pada penderita silikosis akut adalah demam, batuk, dan penurunan berat badan. Keadaan faal paru adalah restriksi berat dan hipoksemi yang diikuti oleh kapasitas difusi. Pada kondisi-kondisi ekstrim dapat terjadi kesulitan bernafas dan batuk kering dalam beberapa minggu setelah paparan. Dada sesak dan ketidakmampuan bekerja timbul dalam beberapa bulan, kematian akibat kegagalan pernafasan atau kor pulmonale mungkin terjadi dalam 1-3 tahun. Pada pemeriksaan ditemukan gerakan dada yang terbatas, sianosis serta ronchi pada akhir inspirasi, dan dengan kelainan fungsi paru restriktif serta berkurangnya pertugas gas. Radiografi memprlihatkan bayangan- bayangan perifer seperti kapas, yang secara bertahap mengeras dan menjadi linear. Seringkali bayangan-bayangan ini tidak diketahui bahkan pada saat otopsi, hal ini karena kematian makrofag dan reaksi selular seringkali terjadi dalam alveoli tanpa pembentukan nodul-nodul tipikal. Partikel-partikel silika yang refraktil ganda yang sangat banyak dalam jaringan paru.
Silikosis Akselerata
Terjadi setelah terpapar oleh sejumlah silika yang lebih banyak selama waktu yang lebih pendek (4-8 tahun). Peradangan, pembentukan jaringan parut dan gejala-gejalanya terjadi lebih cepat, fibrosis masif dan sering terjadi mycobacterium tipikal atau atipik. Fibrosis ini terjadi akibat pembentukan jaringan parut dan menyebabkan kerusakan pada struktur paru yang normal. Biasanya penderita mengalami gagal nafas akibat hipoksemia.
Silikosis Kronis Simplek
Terjadi akibat pemaparan sejumlah kecil debu silika dalam jangka panjang (lebih dari 20 tahun). Pemerikaan dengan sprirometri dapat ditemukan adanya tanda restriksi dan obstruksi paru. Nodul-nodul peradangan kronis dan jaringan
Mekanisme yang mungkin menyebabkan peningkatan kerentanan penderita sikosis terhadap tuberkulosis adalah sebagai berikut:
Partikel Silika yang ditimbun di Alveoli akan dimakan makrofag tetapi karena efek tosik silika maka makrofag cepat mati dan partikel Silika akan terlepas ke jaringan ekstraselular. Partikel silika akan dimakan oleh makrofag lain yang kemudian akan terbunuh pula.
Silika dengan dosis subletal juga mengganggu kesanggupan makrofag untuk menghambat pertumbuhan kuman tuberkulosis karena makrofag adalah faktor utama dalam membuat daya tahan terhadap tuberkulosis sehingga alasan meningkatnya kerentanan penderita silikosis terhadap tuberkulosis menjadi jelas b. Dasar Diagnosis
Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 25 Tahun 2008, diagnosis penyakit paru akibat kerja dapat dilakukan sebagai berikut: Anamnesis
Riwayat pekerjaan. Pencatatan pekerjaan dan kegemaran/hobby yang terus menerus atau “part time” secara kronologis.
Identifikasi bahan berbahaya di tempat kerja : bahan yang digunakan oleh pekerja, bahan yang digunakan oleh pekerja pembantu.
Hubungan antara paparan dan gejala yang timbul : waktu antara mulai bekerja dan gejala pertama, urutan-urutan dan perkembangan gejala, hubungan antara gejala dengan tugas tertentu, perubahan gejala dan waktu libur, jauh dari tempat kerja
Keluhan penyakit : Ditanyakan tentang adanya keluhan penyakit berupa:
Batuk : sifat batuk (kering atau berdahak), waktu batuk (pagi/siang/malam/terus-terusan), frekuensi, sejak kapan? batuk selama 3(tiga) bulan, terjadi tiap-tiap tahun peningkatan batuk selama 3 minggu atau lebih, selama 3 tahun terakhir Dahak Warna Jumlah Konsistensi Waktu (pagi/siang/malam/terus-menerus) Sejak kapan? batuk selama 3(tiga) bulan, terjadi tiap-tiap tahun peningkatan batuk selama 3 minggu atau lebih, selama 3 tahun terakhir. Sesak napas/Napas pendek Ditanyakan sesuai dengan kriteria sesak napas menurut American Thoracic Society (ATS)
0 Tidak ada Tidak ada sesak napas kecuali exercise berat
cepat mendatar atau mendaki
2 Sedang Berjalan lebih lambat
dibandingkan orang lain sama umur karena sesak atau harus berhenti untuk bernapas saat berjalan mendatar
3 Berat Berhenti untuk bernapas setelah
berjalan 100 meter/beberapa menit, berjalan mendatar
4 Sangat berat Terlalu sesak untuk keluar rumah, sesak saat mengenakan/ melepaskan pakaian
Sejak 12 bulan terakhir pernah mengalami/tidak waktu terbangun dari tidur malam
Nyeri dada: Lokasi, Waktu nyeri dada (inspirasi atau ekspirasi), Deskripsi nyeri dada, Sejak 3 tahun terakhir pernah mengalami/tidak, yang lamanya 1 minggu Mengi: Waktu mengi (pagi/siang/malam); Inspirasi/ekspirasi, Disertai napas pendek atau napas normal, Sejak kapan?
Riwayat Penyakit Dahulu: Ditanyakan tentang adanya penyakit / keluhan penyakit yang pernah dideritanya berupa: Penyakit-penyakit lain yang pernah diderita: kecelakaan / operasi daerah dada, gangguan jantung, bronkitis, pneumoni, pleuritis, TB paru, Asma bronkial, Gangguan dada yang lain, Hay fever, Dan lain-lain, Riwayat atopi/alergi.
dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun: Ringan: 1 – 200 Sedang: 201 – 600 Berat: >600
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum dan tanda vital, Pemeriksaan pulmonologik, Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi,
Pemeriksaan Penunjang Rutin:
laboratorium: darah, urine foto toraks: PA dan lateral spirometri.
Khusus:
- uji alergi pada kulit
- uji provokasi bronkus dengan bahan spesifik/non spesifik di tempatkerja - sputum BTA 3x
- Sputum sitologi - bronkoskopi
- patologi anatomi: biopsi
- radiologi: tomogram, bronkografi, CT – scan - kapasitas difusi terhadap CO (DLCO)
- uji Cardio Pulmonary Exercise (CPX).
Penetapan diagnosis Penyakit Akibat Kerja dalam bidang paru diperlukan data pendukung berupa kondisi lingkungan kerja apakah terdapat faktor dan bahan-bahan yang menimbulkan penyakit akibat kerja.
c. Surveilans
Survelans kesehatan paru pekerja dilakukan dengan mengumpulkan data secara terus menerus, menganalisis dan mengkomunikasikan hasil analisis untuk rekomendasi perbaikan yang berkelanjutan. Data surveilans didapat dari pemeriksaan kesehatan, data kunjungan poliklinik, data pola penyakit, data absensi, data keluhan gangguan esehatan, dan data lainnya dari Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja, berupa:
Deteksi gangguan respirasi berupa batuk, berdahak, dan sesak menggunakan kuesioner standar dan pemeriksaan fisik, baik akut maupun kronik
Deteksi kelainan anatomi termasuk fibrosis jaringan paru menggunakan foto toraks.
Subyek dari surveilans ini adalah pekerja baru, pekerja yang akan bekerja di lingkungan kerja yang mengandung hazard silika.
3. Asbestosis
Asbestosis adalah pneumokoniosis yang disebabkan oleh akumulasi pajanan serat asbestos. Gangguan lain yang dapat disebabkan oleh asbestos adalah kanker paru dan mesotelioma. Istilah asbestosis pertama kali dikemukakan oleh Cooke pada 1927, setelah pada 1906 dilaporkan kasus kematian akibat asbestos.
Asbestos adalah kelompok mineral silikat fibrosa dari logam magnesium dan besi yang sering digunakan sebagai bahan baku industri tegel lantai dan atap. Asbestos telah dikenal sejak zaman batu dan makin banyak digunakan setelah masa revolusi industripada akhir abad ke-19. Produksi asbestos meningkat tajam hingga tahun 1970-an. Walaupun telah diketahui dapat mengganggu kesehatan, hingga kini asbestos masih banyak digunakan dalam industri dan konstruksi di negara berkembang. Negara maju, seperti Amerika Serikat, telah melarang penggunaan asbestos sejak tahun 1970-an sampai 1980-1970-an. Walaupun demiki1970-an, negara seperti K1970-anada d1970-an Rusia masih mengekspor asbestos ke negara maju baru dan negara berkembang seperti negara-negara di Asia, Amerika Tengah dan Selatan, dan Afrika
Pajanan terhadap asbestos dibagi menjadi tiga kategori, yaitu primer, sekunder, dan tersier. Pajanan primer secara langsung terjadi pada penambang asbestos. Pajanan sekunder didapatkan pada pekerja industri yang menggunakan asbestos seperti pada pekerja konstruksi. Sedangkan Pajanan tersier adalah Pajanan non-okupasi yang disebabkan oleh polusi udara. Pajanan tersier tidak memiliki risiko yang signifikan terhadap terjadinya asbestosis.
personil militer, pekerja kilang minyak, tukang cat, pembuat pipa, tukang ledeng/pipa, pekerja bangunan, pembuat jalan raya, pekerja atap rumah, pekerja lembaran metal, pekerja galangan kapal, tukang pipa uap, pekerja baja, pekerja di industri tekstil.
Di Slovakia, pajanan lingkungan karena asbes secara praktis tidak terkontrol. Kontaminasi di dalam rumah/gedung berasal dari penyekat pipa, dinding tahan api, pintu, cat, beberapa bahan bangunan, bahan penyekat yang digunakan dibangunan kayu, pipa AC. Sedangkan kontaminasi luar rumah/gedung berasal dari permukaan dinding, sisa pembuatan aspal, dan transportasi yang memuat sisa asbes
Saat ini, CDC memperkirakan terdapat 1.290 kematian akibat asbestosis di Amerika Serikat setiap tahunnya dengan ratarata usia penderita sekitar 79 tahun.8 Kematian akibat asbestosis merupakan 28% dari semua kasus kematian akibat pneumokoniosis.1 Namun, laju kematian akibat asbestosis seringkali menjadi bias oleh adanya kanker paru dan mesotelioma.8 Pada studi The Surveillance of Australian Workplace Based Respiratory Events (SABRE) ditemukan kasus asbestosis sebanyak 10,2% dari 3.151 kasus penyakit paru okupasi.
Asbestosis merupakan salah satu penyakit paru yang disebabkan oleh pajanan dari serat asbes. Asbes merupakan mineral fibrosa yang secara luas banyak dipakai bukan hanya di negara berkembang melainkan juga di negara yang sudah maju seperti di Amerika. Di Amerika asbes dipakai sebagai bahan penyekat. Terdapat banyak jenis serat asbes tetapi yang paling umum dipakai adalah krisotil, amosit dan krokidolit, semuanya merupakan silikat magnesium berantai hidrat kecuali krokidolit yang merupakan silikat natrium dan besi. Krokidolit dan amosit mempunyai kandungan besi yang besar. Krisotil terdapat dalam lembaran-lembaran yang menggulung, membentuk serat-serat berongga seperti tabung dengan diameter sekitar 0,03 milimikron. Serat asbes bersifat tahan panas dapat mencapai 800oC. Karena sifat inilah maka asbes banyak dipakai di industri konstruksi dan pabrik. Lebih dari 30 juta ton asbes digunakan di dalam konstruksi dan pabrik di Amerika. Selain itu asbes relatif sukar larut, daya regang tinggi dan tahan asam (hanya amfibol).
Proses patofisiologi asbestosis diawali dengan inhalasi serat asbestos. Serat berukuran besar akan tertahan di hidung dan saluran pernapasan atas dan dapat dikeluarkan oleh sistem mukosiliaris. Serat berdiameter 0,5-5 mikrometer akan tersimpan di bifurcatio saluran, bronkioli, dan alveoli. Serat asbestos akan menyebabkan cedera sel epitel dan sel makrofag alveolar yang berusaha memfagosit serat. Beberapa serat akan masuk ke dalam jaringan intersisium melalui penetrasi yang dibawa oleh makrofag atau epitel. Makrofag yang telah rusak akan mengeluarkan reactive oxygen species (ROS) yang dapat merusak jaringan dan beberapa sitokin, termasuk tumor necrosis factor (TNF), nterleukin-1, dan metabolit asam arakidonat yang akan memulai infl amasi alveoli (alveolitis). Sel epitel yang terganggu juga mengeluarkan sitokin. Gangguan asbestos berskala kecil tidak akan menimbulkan gangguan setelah infl amasi terjadi. Namun bila serat terinhalasi dalam kadar lebih tinggi, alveolitis akan terjadi lebih intens, menyebabkan reaksi jaringan yang lebih hebat. Reaksi jaringan ini menyebabkan fibrosis yang progresif, yaitu pengeluaran sitokin profi brosis seperti fibronektin, fibroblast growth factor, platelet-derived growth factor, dan insulin-like growth factor yang akan menyebabkan sintesis kolagen.
Orang-orang yang terpajan debu serat-serat asbes dapat tertelan bersama ludah atau sputum. Kadangkala air, minuman atau makanan dapat mengandung sejumlah kecil serat tersebut. Sebagian serat yang tertelan agaknya menembus dinding usus, tetapi migrasi selanjutnya dalam tubuh tidak diketahui. Setelah suatu masa laten-jarang di bawah 20 tahun, dapat mencapai 40 tahun atau lebih setelah pajanan pertama, dapat timbul mesotelioma maligna pleura dan peritoneum. Mekanisme karsinogenesis tidak diketetahui. Kadang-kadang, serat yang lain, misal talk yang terbungkus oleh besi-berikatan dengan protein, dapat menimbulkan badan asbes. a. Gambaran Klinis
Pada pemeriksaan dapat ditemukan rhonki basal paru bilateral (pada 60% pasien) yang terdengar pada akhir fase inspirasi. Sering ditemukan pula jari tabuh (digital clubbing) pada 30-40% pasien dan pada asbestosis lanjut. Gangguan lain yang perlu diperhatikan adalah adanya cor pulmonale, keganasan yang terkait asbestosis, seperti kanker paru, kanker laring, bahkan kanker gaster dan pankreas. Pada pemeriksaan fungsi paru akan didapatkan pola restriktif dengan penurunan kapasitas vital, kapasitas total paru, dan kapasitas difusi, dengan hipoksemia arterial. Kapasitas vital paksa (Forced Vital Capacity, FVC) akan menurun <75%. Dapat juga didapatkan pola obstruktif disebabkan fibrosis dan penyempitan bronkioli.
b. Pemeriksaan Penunjang 1) Pemeriksaan histopatologi
Pada gambaran histopatologi dapat diperoleh gambaran parenkim paru yang kasar hingga adanya gambaran sarang lebah (honey-comb). Gambaran ini didapati bilateral, sering di lobus inferior. Secara mikroskopis didapati peningkatan kolagen intersisial sehigga membuat fibrosis menjadi tebal. 2) Pemeriksaan radiologi
3) Pemeriksaan foto thoraks
adenopati hilum ataupun mediastinal, yang membedakan asbestosis dengan silikosis atau CWP.9 Selain itu sering ditemukan pula penebalan pleura berupa plak pleura (Gambar 3) disertai fi brosis paru, biasanya di lapangan paru bawah, terutama paru kiri di sekitar parakardial yang menutupi batas jantung kiri. Selain itu sering ditemukan juga karsinoma bronkogen. Pemeriksaan roentgen pada asbestosis bersifat non-spesifi k, yang dapat memberikan tingkatan positif-palsu yang tinggi. Tingkat keakuratannya berkisar antara 40-90%.
4) Pemeriksaan CT Scan
Pada pemeriksaan CT beresolusi tinggi (High Resolution Computed Tomography, HRCT) dapat ditemukan asbestosis tahap awal berupa gambaran opak bulat, kecil, intralobular; septa intralobular menebal (Gambar 4), adanya garis kurvilinear subpleura (Gambar 5), dan pita parenkimal. (Gambar 6) Penebalan septa menunjukkan adanya fibrosis. Gambaran honey-comb (Gambar 7) pada fase lanjut dapat ditemukan, namun jarang. Seperti pada pemeriksaan roentgen, penemuan radiologis lebih sering ditemukan pada basal paru.1
Garis subpleura ditemukan 1 cm dari pleura. Biasanya garis berukuran 5-10 cm dan mungkin menunjukkan fi brosis di daerah bronkiolar dan atelektasis. Sedangkan pita parenkimal adalah bayangan opak linear tebal dengan ukuran 2-5 cm, yang melintasi paru dan menyentuh permukaan pleura. Pita parenkimal berhubungan dengan distorsi anatomis paru. Selain itu dapat ditemukan pula gambaran pada pleura, yaitu penebalan pleura yang membentuk plak pleura. Penebalan ini bersifat bilateral, dan terdapat kalsifi kasi. (Gambar 8). CT-scan dinilai lebih sensitif mendeteksi asbestosis dibandingkan dengan radiografi konvensional, terutama untuk menilai asbestosis awal. Tetapi penemuan pada CT Scan tidak spesifik hanya untuk asbestosis. Gamsu dkk., menunjukkan bahwa diagnosis asbestosis memerlukan penemuan tiga macam gambaran.
5) Pemeriksaan MRI
kasi plak sebesar 88%; MRI dapat menilai lebih baik adanya penebalan pleura dan efusi pleura. Pemeriksaan resonansi magnetik (magnetic resonance imaging, MRI) jarang dilakukan. Bekkelund dkk.(1998) menyebutkan MRI lebih sensitif dibandingkan radiografi konvensional dalam menemukan fi brosis subklinis pada 17 pasien.16 Weber dkk. menemukan sensitivitas MRI untuk deteksi klasifi kasi plak sebesar 88%; MRI dapat menilai lebih baik adanya penebalan pleura dan efusi pleura.
Radiologi nuklir
Pemeriksaan asbestosis dengan pencitraan nuklir pernah dilakukan dengan Gallium-67, namun sudah tidak dilakukan lagi dengan adanya CT-Scan. Gallium-67 dapat membantu mendiagnosis asbestosis pada pasien dengan radiografi normal. Gallium-67 dapat menandakan aktivitas infl amasi karena isotop ini dapat diambil oleh makrofag alveolar.
c. Diagnosis
Diagnosis asbestosis dapat ditegakkan dengan adanya riwayat Pajanan asbestos, adanya selang waktu yang sesuai antara Pajanan dengan timbulnya manifestasi klinis, gambaran dari roentgen thorax, adanya gambaran restriktif dalam pemeriksaan paru, kapasitas paru yang terganggu, dan rhonki bilateral basal paru. 4. Sick Building Syndrome (SBS)
Istilah Sindrom gedung sakit (Sick Buiding Syndrome) pertama dikenalkan oleh para ahli di Negara Skandinavia di awal tahun 1980 – an. Istilah SBS dikenal juga dengan TBS (Tigh Buiding Syndrome) atau Nen Spesific Building-Related Symptoms (BRS) karena sindrom ini umumnya dijumpai dalam ruangan gedung pencakar langit. Sick Building Syndrome adalah sekumpulan gejala yang dialami oleh penghuni gedung atau bangunan, yang dihubungkan dengan waktu yang dihabiskan di dalam gedung tersebut, tetapi tidak terdapat penyakit atau penyebab khusus yang dapat diidentifikasi terhadap penyakit ini. Keluhan dapat timbul dari penghuni gedung pada ruang atau bagian tertentu dari gedung tersebut, meskipun ada kemungkinan menyebar pada seluruh bagian gedung.
a. Gejala dan Keluhan
bau dengan gejala yang tidak dikenali dan kebanyakkan keluhan akan hilang setelah meninggalkan gedung.
2) Iritasi selaput lendir, seperti iritasi mata, pedih, merah dan berair.
3) Iritasi hidung. Seperti iritasi tenggorokkan, sakit menelan, gatal, bersin, batuk kering
4) Gangguan neorotoksik (gangguan saraf/gangguan kesehatan secara umum), seperti sakit kepala, lemah, capai, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi. 5) Gangguan paru dan pernafasan, seperti batuk, nafas bunyi, sesak nafas, rasa
berat di dada.
6) Gangguan kulit, seperti kulit kering, kulit gatal. 7) Gangguan saluran cerna, seperti diare.
8) Gangguan lain-lain, seperti gangguan perilaku, gangguan saluran kencing. b. Faktor Resiko
1) Gangguan sistem kekebalan tubuh (imunologik) 2) Ventilasi tidak cukup.
3) Adanya pencemaran zat kimia
4) Adanya zat pencemar biologi seperti bakteri, virus, dan jamur. 5) Kelelahan
c. Pekerja beresiko 1) Pekerja kantor
Masalah kulit dan masalah pernapasan yang terkait dengan lingkungan kantor adalah dermatitis dari kertas salinan karbon, kelembaban; dan rhinitis alergi, asma, dan hipersensitivitas pneumonitis dari proses cetakan.
2) Pekerja Pembersih Gedung
3) Teknisi Medis Darurat dan Paramedis 4) Tire Building Machine Operators
5) Manufactured Building & Mobile Home Installers. 6) Glaziers
7) Construction Craft Laborers
d. Prosedur Deteksi Dini dan Pemerikasaan Penunjang
gedung, Pencemaran yang masuk dari luar gedung, Pencemaran mikroba, Pencemaran dari bahan bangunan dan alat kantor, Pencemaran yang tidak diketahui sumbernya, Sistem kerja AC, Perawatan AC
C. Program promosi dan pencegahannya 1. Program Promosi
Promosi kesehatan ditempat kerja adalah kegiatan yang terkait dengan pendidikan dan pengorganisasian yang melibatkan organisasi kerja, dan lingkungan kerja serta keluarga. Sedangkan promosi pekerja merupakan ilmu dan seni untuk mengubah perilaku pekerja dari perilaku hidup, perilaku bekerja dan juga lingkungannya untuk mencapai kesehatan yang optimal agar kinerja dan produktivitasnya meningkat.
Dalam program promosi kesehatan yang akan dilakukan untuk para pekerja, langkah pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan penilaian risiko kesehatan (Health Risk Assessment/HRA). HRA dilakukan untuk mengetahui penyakit utama penyebab kematian dini pekerja atau penyakit apa yang sering diderita oleh pekerja. Lalu langkah selanjutnya adalah memberikan umpan balik kepada pekerja dan mencapai kesepakatan, lalu mengusulkan langkah intervensi yang akan dilakukan kepada manajemen perusahaan. Lalu juga melakukan evaluasi dari intervensi yang sudah dilakukan tersebut untuk menilai kembali risiko kesehatan setelah dilakukan intervensi. Langkah-langkah tersebut merupakan siklus program rekognisi, analisis, perencanaan, komunikasi, persiapan, implementasi, evaluasi dan kontinuitas (RAPKPIEK).
a. Rekognisi
Rekognisi merupakan upaya untuk mengenali risiko-risiko kesehatan apa saja yang dapat ditimbulkan disuatu area kerja. Rekognisi sebagai data awal dalam membantu pekerja mengenali status kesehatannya. Pengenalan risiko kesehatan yang minimal dilakukan adalah penilaian umum yang mencakup penilaian kebugaran, stress/emosi dan status gizi. Sementara untuk penilaian yang komprehensif meliputi pemeriksaan fisik (berat badan, tinggi badan, tekanan darah), kimia darah (gula darah), tes reaksi dan pemeriksaan penunjang lainnya.dari pemeriksaan yang dilakukan didapatkan hasil status kesehatan pekerja secara individu atau kelompok, antara lain:
3) Faktor risiko kesehatan tertentu
4) Identifikasi gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan segera 5) Identifikasi kondisi kesehatan yang merupakan kontra indikasi dari
pemeriksaan selanjutnya
6) Perilaku hidup yang mempengaruhi status kesehatan 7) Aktifitas fisik dalam keseharian
8) Status gizi pekerja
9) Selain informasi diatas, informasi tambahan seperti rekam medis dari pekerja juga dibutuhkan untuk mengenali risiko kesehatan yang dimiliki pekerja, bahkan perlu dilakukan observasi, wawancara atau juga sebar kuesioner.
b. Analisis
Setelah melakukan rekognisi untuk mengenali risiko apa saja yang mungkin terjadi kepada para pekerja, maka tahap selanjutnya adalah melakukan analisis. Analisis dibutuhkan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan yang dimiliki pekerja dengan perilaku pekerja. Analisis dilakukan dengan memfasilitasi kegiatan saling menukar pengalaman dan ide antar pekerja, kemudian dilakukan negosiasi tentang kebutuhan promosi kesehatan di tempat kerja. Negosiasi disini yaitu manajemen bersama-sama pekerja mempertimbangkan dan menetapkan prioritas berdasarkan asas manfaat dan kemampuan untuk melaksanakan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah besarnya kontribusi masalah kesehatan terhadap biaya kesehatan, produktifitas pekerja, cacat yang ditimbulkan, pertimbangan dana yang tersedia untuk promosi kesehatan di tempat kerja. Setelah mempertimbangkan hal tersebut, maka dapat menetapkan berapa jumlah pekerja yang dapat diikutkan dalam promosi di tempat kerja.
c. Perencanaan
Setelah analisis selesai, maka langkah selanjutnya adalah perencanaan. Perencanaan dikembangkan berdasarkan:
1) Target perubahan yang ingin dicapai baik bagi perorangan maupun kelompok
3) Cara penilaian keberhasilan mencapai target dituangkan dalam desain evaluasi.
4) Ahli K3 sebagai penanggung jawab (sebaiknya professional kesehatan) mempersiapkan manajemen dengan melakukan advokasi tentang tujuan dan manfaat kegiatan promosi kesehatan ini. Keterlibatan pekerja dalam melakukan perencanaan sangatlah penting karena akan menjadikan tujuan yang kita inginkan dapat tercapai dengan efektif dan pekerja dapat menerima dengan baik promosi kesehatan yang akan dilakukan. Perencanaan berupa proposal awal dirancang oleh professional kesehatan, dengan mempertimbangkan masukan dari para pekerja dan juga manajemen, hal ini diharapkan dapat menghasilkan program-program alternatif yang dapat mendukung promosi kesehatan di tempat kerja.
d. Komunikasi
Perencanaan yang sudah selesai dilakukan, maka harus dikomunikasikan ke semua unit kerja yang ada. Program promosi yang akan dilakukan harus di sosialisasikan kepada seluruh pekerja agar mendapatkan umpan balik mengenai program yang akan dilaksanakan. Pesan ini harus tersampaikan dengan jelas kepada semua pihak agar tidak terjadi miss communication. Pesan yang disampaikan adalah tentang risiko kesehatan yang ada, tujuan, manfaat, target, perencanaan, implementasi pengendalian dan metode evaluasi. Sementara itu tujuan komunikasi adalah mencapai consensus dalam penyusunan prioritas program, dan mendapatkan dukungan dari manajemen puncak, serta melibatkan seluruh jajaran organisasi dari yang paling tinggi sampai dengan pelaksana.
e. Persiapan
Program promosi kesehatan yang sudah disepakati oleh manajemen dan wakil pekerja, maka harus dipersiapkan dengan ketetapan yang sebelumnya sudah disepakati. Menyiapkan kebijakan organisasi dan komitmen tertulis sebagai landasan program dan juga dipersiapkan sumber daya yang dibutuhkan seperti sumber daya manusianya, sarana dan prasarana pendukung program. Berikut merupakan elemen pendukung dari persiapan program promosi kesehatan di tempat kerja:
3) Menyusun tim pelaksana program
4) Koordinasi yang efektif dengan unit kerja lainnya
5) Menyiapkan mekanisme umpan balik dari peserta program sebagai evaluasi dan perbaikan berkesinambungan
6) Sarana dan prasarana promosi
7) Menyiapkan prosedur baku untuk menjaga kerahasiaan informasi individu 8) Menyiapkan sistem dokumentasi yang dapat menelusuri segala kegiatan
program
9) Menyiapkan format rekapitulasi dan analisis data yang relevan 10) Menyiapkan fasilitas pendidikan dan pelatihan
f. Implementasi
Tahap ini merupakan tahap dimana program promosi kesehatan di tempat kerja akan dilaksanakan. Dalam pelaksanaan promosi kesehatan di tempat kerja minimal dilaksanakan dalam bentuk:
1) Sesi kelompok
Dalam sesi kelompok, para pekerja diberikan penyuluhan sebagai metode belajar mengajar untuk menyampaikan pesan promosi kesehatan yang ingin diberikan. Penyuluhan bisa diselingi dengan pemutaran video, diskusi kelompok, berbagi pengalaman, role play, dan simulasi.
2) Konsultasi personal atau pendamping
Tujuan dari konsultasi personal adalah untuk mengembangkan keterampilan individu dalam berperilaku hidup sehat dan bekerja sehat. Dalam konsultasi personal, para pekerja dapat menceritakan semua masalah kesehatannya kepada tenaga kesehatan tanpa harus takut atau malu untuk menceritakannya.
3) Praktik perilaku sehat
Dilakukan dengan melibatkan atau mengikutsertakan peserta program dalam kegiatan promosi kesehatan di tempat kerja, misalnya mengikuti senam jantung sehat 3 kali seminggu, makan makanan yang sesuai akg yang dibutuhkan oleh pekerja yang disediakan di kantin perusahaan. 4) Metode implementasi yang ingin ditetapkan harus disesuaikan dengan
publikasi/sosialisasi, insentif, budaya dan etika. Berikut merupakan metode implementasi yang sering digunakan:
5) Metode implementasi proyek percontohan (pilot project)
Metode ini bertujuan untuk menilai kelayakan program skala besar melalui uji coba program skala kecil. Antara lain dinilai apakah data yang diperlukan bisa didapat, apakah pelaksanaan dapat sesuai dengan yang direncanakan. Hal ini untuk menilai besarnya kemungkinan sukses. Untuk itu dipilih kelompok sasaran yang sesuai.
6) Metode implementasi bertahap
7) Pentahapan implementasi ini berdasarkan berbagai pertimbangan, yaitu: a) Jumlah elemen program. Misalnya tahap pertama: program lingkungan
kerja bebas rokok, tahap kedua: program stop rokok, tahap ketiga: program penurunan berat badan melalui olahraga, dan seterusnya. b) Lokasi atau unit kerja. Misalnya tahap pertama: program untuk pekerja
dari bagian kesehatan, tahap kedua disertakan bagian personalia, tahap ketiga ditambah lagi bagian keuangan dan bagian logistic, dan seterusnya.
c) Eselon. Misalnya dimulai dari staf kemudian nonstaf, lalu eselon. d) Jumlah pekerja. Misalnya jumlah peserta program ditingkatkan tiap
tiga bulan.
8) Metode implementasi sekaligus total program
Metode ini membutuhkan komitmen manajemen atas, dengan dukungan dana yang besar serta dukungan dari SDM yang ada, disertai evaluasi jangka panjang 5-10 tahun dan juga evaluasi jangka pendek untuk menyempurnaan program
g. Evaluasi
Evaluasi selama program promosi kesehatan berlangsung perlu dilakukan. Evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi periodik terhadap pencapaian target. Evaluasi bertujuan untuk menilai apakah dana yang digunakan sudah efektif dan efisiens, tujuan program tercapai, selain itu evaluasi ini bertujuan untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh manajemen dan para pekerja untuk menentukan kebijakan yang akan dibuat selanjutnya.
Program yang berkesinambungan dikembangkan berdasarkan apresiasi termasuk penghargaan bagi pekerja yang berhasil mencapai target. Bagi yang belum mencapai target, dikembalikan lagi untuk dikenali masalahnya, kemudian dianalisis, dan seterusnya mengikuti siklus semula. Dengan demikian program promosi kesehatan di tempat kerja dapat berjalan terus, berkembang dan mencapai sasaran.
2. Pencegahan penyakit
a. Pencegahan penyakit asma
1) Memahami penyakit asma yang diderita. Asma bisa terjadi pada semua golongan dan lapisan usia. Gangguan ini tidak dapat dihilangkan sama sekali, namun dapat dikendalikan. Seseorang disebut penderita asma jika ia sedang terserang asma atau kondisi asmanya tidak stabil sehingga memerlukan obat-obatan. Beda halnya dengan penyandang asma yang berarti sudah jarang terkena serangan (asma stabil) dan tidak lagi mengonsumsi obat-obatan.
2) Kenali berat ringan penyakit. Kita harus mengetahui derajat atau klasifikasi asma, sebelum melakukan tindakan lebih jauh.
3) Menggunakan obat-obatan yang sudah diresepkan dokter. Obat-obatan yang sudah diberikan oleh dokter adalah obat-obatan yang sesuai dengan asma yang diderita. Jadi jangan sekali-kali mencoba obat asma orang lain, karena asma yang diderita belum tentu sama.
4) Mengenali dan mencoba menghindari hal-hal yang memicu kambuhnya asma. Namun jangan hindari berolahraga, meskipun bisa memicu asma. Berolahraga adalah bagian penting dari gaya hidup sehat. Berkonsultasi dengan dokter mengenai obat-obatan yang bisa digunakan untuk mendukung tubuh agar bisa tetap aktif.
5) Menghindari debu yang berada pada lingkungan kerja dengan menggunakan masker atau APD yang tepat.
b. Pencegahan penyakit bronkitis kronik
1) Menghindari iritan berupa polusi udara, fume, dan lain-lain 2) Mengurangi pajanan yang ada di lingkungan kerja
4) Menghindari terkenan infeksi saluran respirasi. Flu yang ada dapat menjadi predisposisi jika telah terkena penyakit bronkitis kronik, oleh karena itu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir agar efektif menghindari infeksi virus atau kuman ke dalam tubuh
5) Surveilans kesehatan dengan pembagian kuesioner secara periodik c. Pencegahan penyakit asbestosis
Pencegahan asbestosis menurut ILO pada tanggal 11 sampai 20 Oktober 1983 di Jenewa terdiri dari beberapa metode, yaitu:
1) Pengendalian
Semua tindakan yang melibatkan hal ihwal teknis/ permesinan (engineering), praktek kerja, dan pengendalian administrasi yang dapat dilakukan harus diupayakan untuk melenyapkan atau meminimalkan peluang pekerja terpapar debu asbes di lingkungan kerja.
Upaya-upaya pengendalian teknis permesinan harus meliputi pemeliharaan mekanis, pembuatan ventilasi dan rancang ulang proses yang dimaksudkan untuk melenyapkan, mengisolir atau mengumpulkan emisi debu asbes dengan cara sebagai berikut:
a) proses separasi, otomasi atau penutupan;
b) Mengikat serat asbes dengan bahan lain untuk mencegah terbentuknya debu;
c) Secara umum melengkapi semua daerah kerja dengan ventilasi sehingga udara bersih bisa masuk;
d) Membuat ventilasi lokal untuk seluruh proses kerja, operasi kerja, perlengkapan dan peralatan kerja untuk mencegah penyebaran debu; e) Menggunakan metode basah untuk mencegah terbentuknya debu; f) Memilah-milah tempat kerja dengan menetapkan tempat-tempat kerja
tertentu untuk proses-proses tertentu. g) Rancangan dan Instalasi
h) Pembuat mesin-mesin, perlengkapan dan bahan harus memberikan keterangan mengenai sifat dan tingkat emisi debu asbes beserta cara pengendaliannya.
j) Pengukuran emisi debu asbes dan tingkat paparan debu asbes yang dialami pekerja harus segera dilakukan begitu pemasangan mesin dan perlengkapan selesai dilakukan, agar memenuhi standar yang ditetapkan pihak berwenang.
k) Ventilasi pembuangan udara kotor lokal
l) Ventilasi untuk pembuangan udara di tempat kerja (atau metode pembuangan lain yang efektif) harus digunakan untuk operasi-operasi kerja pabrik, seperti misalnya:
m)Proses-proses yang melibatkan penggunaan bahan-bahan berasbes seperti feeding (kegiatan memasukkan bahan untuk diolah), conveying (menggiring bahan dengan konveyor), crushing (pelumatan), milling (penggilingan), screening (pengayakan), mixing (kegiatan mencampur bahan) atau bagging (kegiatan memasukkan bahan ke dalam kantong-kantong).
n) Proses-proses yang dilakukan terhadap kain atau tekstil yang mengandung asbes seperti carding (proses pencucian, penyisiran, dan pengumpulan serat tekstil dengan mesin penyisir serat), spinning (pemintalan), weaving (penenunan), sewing (kegiatan menjahit) dan cutting (pemotongan/ pengguntingan).
o) Proses-proses yang melibatkan semen asbes dan bahan friksi (friction materials) seperti cutting (pemotongan/ pengguntingan), punching (pemakaian mesin pembuat lubang), drilling (pengeboran), sawing (penggergajian), grinding (kegiatan menggerinda) atau proses pengolahan lainnya.
p) Semua tipe perlengkapan pengendali debu harus diperiksa oleh tenaga ahli dengan kompetensi teknis yang handal sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dipersyaratkan oleh pihak berwenang yang menangani bidang ini.
q) Ventilasi untuk seluruh daerah kerja
kotor yang terbuang dan untuk mengurangi konsentrasi partikel asbes yang ada di udara.
s) Udara kotor yang terbuang harus disaring secara efisien dan tidak boleh dimasukkan kembali ke lingkungan kerja, kecuali bila ketentuan-ketentuan berikut ini dipenuhi:
t) konsentrasi debu asebes yang ada jauh lebih kecil dibandingkan tingkat paparan dan tidak menaikkan tingkat paparan yang ada;
u) sistem filtrasi dan ventilasi diperiksa dan dipelihara secara teratur; v) kualitas udara selalu dipantau dengan perangkat-perangkat pemantau
yang memadai;
w) proses kerja yang dilakukan telah disetujui oleh pihak berwenang sesuai dengan kebiasaan nasional yang berlaku.
d. Pencegahan penyakit silikosis 1) Promotif
Penyuluhan tentang penggunaan APD saat bekerja, penyuluhan mengenai kesehatan para tenaga kerja berdasarkan pekerjaan yang dilakukannya. 2) Preventif
Tindakan preventif yang tepat berupa memperhatikan ventilasi baik lokal maupun umum. Ventilasi umum antara lain dengan mengalirkan udara ke ruang kerja melalui pintu dan jendela serta ventilasi lokal berupa pipa keluar setempat. Pekerja wajib menggunakan respirator dengan filter yang mampu mencegah partikel debu terhirup ke dalam paru-paru. Lalu melakukan pencegahan terhadap 3 hal yaitu:
a) Pencegahan terhadap sumber
Dengan melakukan isolasi sumber agar tidak mengeluarkan debu di ruang kerja dengan local exhauster atau dengan melengkapi water spray pada cerobong asap.
b) Pencegahan terhadap transmisi
c) Pencegahan terhadap tenaga kerja
Penggunaan APD yang tepat untuk para pekerja berupa masker dan juga pemeriksaan rutin berupa medical check up yang dilakukan oleh perusahaan untuk para pekerjanya sebagai upaya untuk mendeteksi penyakit yang ada di dalam pekerja.
e. Pencegahan sick building syndrome
1) Pencegahan yang mungkin dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya sick building syndrome adalah:
2) Keluar gedung ketika istirahat untuk menghirup udara segar.
3) Mesin fotokopi yang diletakan diruangan dengan ventilasi yang baik. 4) Ruangan khusus untuk merokok dan jalur ventilasi dari ruang merokok
tersebut tidak tercampur dengan sirkulasi udara lainnya. 5) Buka jendela untuk membantu proses pertukaran udara.
BAB III SIMPULAN
A. Simpulan
1. Penyakit akibat kerja merupakan salah satu potensi bahaya yang ada di tempat kerja. Dan penyakit akibat kerja yang sering ditemukan adalah penyakit akibat kerja paru seperti: asma, bronkitis, silikosis, asbestosis, dan sick building syndrom. Terjangkitnya pekerja terhadap penyakit akibat kerja paru dikarenakan akibat paparan zat-zat penyebab yang berada di tempat kerja seperti debu, pasir silikon, asbes, gas dll.
2. Respon paru terhadap pencemaran udara nafas bervariasi karena ada berbagai faktor yang berpengaruh. Faktor tersebut adalah jenis polutan (gas, asap, debu inorganik dan organik, bahan toksis dan sebagainya), intensitas dan lamanya paparan, konsentrasi bahan polutan di udara tempat kerja.
3. Masing-masing penyakit akibat kerja paru mempunyai karakteristik yang berbeda baik dari gejala, penyebab, dan faktor resikonya maka perlu dilakukan sejumlah pemeriksaan meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis karena tiap penyakit mempunyai penanganan yang berbeda. B. Saran
Daftar Pustaka
Hendrick DJ, Burge PS, Beckett WS, Churg A. Occupational disorders of the lung; Recognition, management, and prevention. London: WB Saunders, 7-24.
Kurniawidjaja, L. Meily. 2010. Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja. Jakarta: UI Press
Kurniawidjaja, L. Meily, Departemen Keselamatan, dan Kesehatan Kerja FKM UI-Depok. “Program Perlindungan Kesehatan Respirasi di Tempat Kerja Manajemen Risiko Penyakit Paru Akibat Kerja.”
Mangunnegoro, H., & Yunus, F. (1992). Diagnosis penyakit paru kerja. Dalam: Yunus F, Rasmin M, Hudoyo A, Mulawarman A, Swidarmoko B, editor. Pulmonologi klinik. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 205-14
Meredith S, Blanc PD. (2002). Surveillance: clinical and epidemiological perspectives. In:
Rahmatullah Pasiyan. 2009. Pneumonitis dan Penyakit Paru Lingkungan Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:Interna Publishing FKUI
Susanto, A. D. (2012). Pneumoconiosis. Journal of the Indonesian Medical Association, 61(12).
Susanto, A., 2009. Silikosis. Jakarta: Bagian pulmoologi dan ilmu kedokteran respirasi FK UI-RS Persahabatan.
http://promkes.depkes.go.id/asma-bisa-sembuh-total-dalam-lima-tahun/
http://fkm.unsrat.ac.id/wp-content/uploads/2015/02/JURNAL-FKM-UNSRAT-GRIFFIT-J-BUDIAK-101511216-1.pdf
https://www.academia.edu/8764902/ASBESTOSIS
http://www.kalbemed.com/Portals/6/08_189Sick%20Building%20Syndrome.pdf
http://prodiaohi.co.id/sick-building-syndrome-3
http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/---ilo-Jakarta/documents/publication/wcms_168882.pdf
https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/chronicbronchitis.html
http://www.nhs.uk/conditions/Bronchitis/Pages/Introduction.aspx