BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS. Belajar dan mengajar merupakan konsep yang tidak bisa dipisahkan. Belajar

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS 2.1 Hasil Belajar

Belajar dan mengajar merupakan konsep yang tidak bisa dipisahkan. Belajar merujuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek dalam belajar. Sedangkan mengajar merujuk pada apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru sebagai pengajar. Dua konsep belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru terpadu dalam satu kegiatan. Diantara keduanya itu terjadi interaksi dengan guru. Kemampuan yang dimiliki siswa dari proses belajar mengajar saja harus bisa mendapatkan hasil bisa juga melalui kreativitas seseorang itu tanpa adanya intervensi orang lain sebagai pengajar.

“Hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan sebagaimana tersebut diatas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah melainkan komprehensif.” Suprijono (2009:7).

Suprijono (2009:5) menyatakan bahwa hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa: (1) Informasi verbal, yaitu kapasitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis, (2) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambing, (3) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan kemampuan aktivitas kognitifnya sendiri, (4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan

(2)

serangkaian gerak jasmani dalam urusan koordinasi, sehingga tercipta otomatisme gerak jasmani, dan (5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.

Salah satu keberhasilan proses belajar mengajar dilihat dari hasil belajar siswa. Oleh karena itu hasil belajar yang dimaksud adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seorang siswa setelah ia menerima perlakuan dari pengajar (guru) seperti yang dikemukakan oleh Sudjana dalam Sopiliani (2012) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Sedangkan menurut Kingsley dalam Sopiliani (2012) membagi tiga macam, hasil belajar mengajar (1) Keterampilan dan kebiasaan, (2) Pengetahuan dan pengarahan, (3) Sikap dan Cita-cita. Rumusan tujuan pendidikan dalam pendidikan nasional , baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.

Menurut Bloom dalam Suprijono (2009:6) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan, Shyntesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru) dan evaluation (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), responding

(3)

(memberikan respons), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotor meliputi initiatory, pre-routine, dan routinized.

Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima aktivitas atau perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.

1.2Pembelajaran Kooperatif

Kooperatif berasal dari kata ko (sama) dan operatif (melakukan). Dengan demikian kooperatif dapat diartikan melakukan kegiatan secara bersama-sama. “Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.” Rusman (2010:203).

Suprijono (2009:54) mengemukakan pembelajaran kolaboratif didefinisikan sebagai falsafah mengenai tanggung jawab pribadi dan sikap menghormati sesama. Peserta didik bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka. Guru bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak mengarahkan kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mecapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.

(4)

Menurut Slavin dalam Rusman (2010:201) pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat pada peserta didik dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif peserta didik lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berfikir tingkat tinggi, serta mampu membangun interpersonal.

Suprijono (2009: 65) menyatakan sintaks model pembelajaran kooperatif terdiri dari enam fase yaitu :

Tabel 1 Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif

FASE-FASE PERILAKU GURU

Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan perserta didik

Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap belajar Fase 2 : Menyajikan informasi Mempresentasikan informasi kepada

peserta didik secara verbal Fase 3: Mengorganisir peserta didik

ke dalam tim-tim belajar

Memberikan penjelasan kepada peserta didik tentang tata cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transmisi yang efisien

Fase 4 : Membantu kerja tim dan belajar

Membantu tim-tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya

Fase 5 : Mengevaluasi Menguji pengertahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran

atau kelompok-kelompok

mempresentasikan hasil kerjanya Fase 6 : Memberikan pengakuan

atau penghargaan

Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok

(5)

Kelebihan model pembelajaran kooperatif : Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Slavin dalam Rusman (2010:205) dinyatakan bahwa : (1) Penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi dan menghargai pendapat orang lain, dan (2) Pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berfikir kritis memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman.

Menurut Suprijono (2009:64) kekurangan pembelajaran kooperatif : (1) Ada kekhawatiran bahwa pembelajaran kooperatif hanya akan mengakibatkan kekacauan dikelas dan peserta didik tidak belajar jika mereka ditempatkan dalam kelompok, (2) Banyak peserta didik tidak senang disuruh bekerja sama dengan orang lain, (3) Peserta didik yang tekun merasa harus bekerja melebihi peserta lain dalam kelompok mereka sedangkan peserta didik yang kurang mampu merasa rendah diri ditempatkan dalam satu kelompok dengan peserta didik yang lebih pandai , (4) Peserta didik yang lebih pandai merasa temannya yang kurang pandai hanya numpang saja pada hasil jerih payah mereka, dan (5) Hilangnya karakteristik atau keunikan pribadi anggota kelompok karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok.

1.3Pembelajaran Inkuiri Berbasis Metode Pictorial Riddle

“Model pembelajaran inkuiri merupakan model pembelajaran yang melatih siswa untuk belajar menemukan masalah, mengumpulkan, mengorganisasi dan memecahkan masalah, dapat dikatakan bahwa inkuiri merupakan suatu model

(6)

pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran fisika dan mengacu pada suatu cara untuk mempertanyakan, mencari pengetahuan atau informasi, atau mempelajari suatu gejala” Wenning dalam Kristianingsih (2010:10). Tujuan umum dari pembelajaran inkuiri adalah untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan intelektual dan keterampilan-keterampilan lainnya seperti mengajukan pertanyaan dan keterampilan menemukan (mencari) jawaban yang berawal dari keingintahuan mereka.

Sagala (2012:89) mengemukakan, menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Kata kunci dari inkuiri adalah siswa menemukan sendiri, adapun langkah –langkah kegiatan menemukan sendiri adalah: (1) Merumuskan masalah dalam pembelajaran, (2) Mengamati atau melakukan observasi, (3) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel dan karya lainnya, dan (4) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audience lainnya.

Dilihat dari segi kepuasan secara emosional, sesuatu hasil menemukan sendiri memiliki nilai kepuasan lebih tinggi dibandingkan dengan hasil pemberian. Beranjak dari logika tersebut, begitu pula dengan hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran yang merupakan temuan atau hasil kreativitas siswa itu sendiri tentunya akan lebih lama

(7)

diingat bila dibandingkan dengan pembelajaran yang hanya diberikan materi dari guru saja.

Hanafiah & Suhana (2009:79) Keunggulan inkuiri : (1) Membantu peserta didik untuk mengembangkan, kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif, (2) Peserta didik memperoleh pengetahuan secara individual sehingga dapat dimengerti dan mengendap dalam fikirannya, (3) Dapat membangkitkan motivasi dan gairah belajar peserta didik untuk belajar lebih giat lagi, (4) Memberikan peluang untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing, dan (5) Memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses menemukan sendiri karena pembelajaran berpusat pada peserta didik dengan peran guru yang sangat terbatas.

Kelemahan inkuiri : (1) Siswa harus memiliki kesiapan dan kematangan mental, siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik, (2) Keadaan kelas kita kenyataannya gemuk jumlah siswanya maka metode ini tidak akan akan mencapai hasil yang memuaskan, (3) Guru dan siswa yang sudah sangat terbiasa dengan PBM gaya lama maka metode inkuiri ini akan mengecewakan, dan (4) Ada kritik, bahwa proses dalam metode inkuiri terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang memerhatikan perkembangan sikap dan keterampilan bagi siswa.

Carin & Sund dalam Yuniarita (2012:8) memberikan gambaraan tentang kadar peran guru dan siswa dalam pembelajaran berbasis inkuiri serta

(8)

mengklasifikasikan tingkatan itu dengan nama inkuiri terbimbing (guided inquiry), inkuiri terbimbing termodifikasi (modified guided inquiry) dan inkuiri bebas (free inquiry). Pada inkuiri terbimbing (guided inquiry) peran guru dalam hal menentukan permasalahan ataupun pemecahannya masih dominan. Untuk tingkatan inkuiri terbimbing termodifikasi (modified guided inquiry), peran guru hanya untuk melakukan observasi, bereksplorasi atau bekerja untuk memecahkan masalah. Adapun untuk tingkatan ikuiri bebas (free inquiry) siswa sudah dapat menentukan sendiri permasalahan kemudian juga alternative pemecahannya. Dari ketiga kadar peran guru dan siswa dalam pembelajaran berbasis inkuiri yang ada, pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini dalah inkuiri terbimbing.

“Metode pictorial riddle merupakan salah satu metode yang termasuk ke dalam model inkuiri” Sund dalam Kristianingsih (2010:10). Metode pictorial riddle adalah suatu metode, teknik atau cara dalam mengembangkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam diskusi kelompok kecil maupun besar, melalui penyajian masalah yang disajikan dalam bentuk ilustrasi yang dapat berupa gambar baik di papan tulis, poster maupun gambar yang diproyeksikan dari suatu transparansi kemudian guru mengajukan pertanyaan yang terkait dengan riddle itu sendiri. Pictorial riddle merupakan pendekatan yang mempresentasikan informasi ilmiah dalam bentuk poster atau gambar yang digunakan dalam sumber diskusi.

Dalam penelitian ini, tahapan dari pembelajaran inkuiri terbimbing yang diterpkan sesuai dengan tahapan pembelajaran inkuiri namun dimodifikasi pada tahap

(9)

penyajian fenomena yang dikemukakan menggunakan teka-teki bergambar (Pictorial riddle).

Menurut Yuniarita (2012:11) tahapan lengkap pembelajaran inkuiri terbimbing dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2 Tahapan Lengkap Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Langkah Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Penyajian fenomena Siswa diorientasikan ke dalam suatu fenomena berbentuk teka-teki bergambar (pictorial riddle) yang harus dijawab usai pembelajaran

Penyajian masalah untuk kegiatan penyelidikan

Guru menyajikan demonstrasi untuk mengidentifikasi variabel penyelidikan dan ketergantungan antara variabel

Siswa diberi kesempatan oleh guru untuk diskusi secara kelompok kecil untuk mengidentifikasi masalah kemudian menetapkan jawaban sementara (hipotesis). Mengadakan eksperimen dan

pengumpulan data

Siswa melakukan eksperimen atau percobaan untuk mendapatkan data informasi terkait dengan permasalahan Mengolah dan memformulasikan

hasil percobaan/eksperimen

Siswa melakukan diskusi terhadap hasil percobaan/eksperimen

Membuat kesimpulan Siswa diarahkan untuk melakukan Tanya jawab, dan mengevaluasi seluruh hasil kegiatan pembelajaran yang telah mereka alami. Guru melakukan penguatan, mengkoreksi dan menyimpulkan

Siswa menjawab teka-teki bergambar (pictorial riddle) yang telah disajikan pada awal pembelajaran

(10)

2.4 Perambatan dan Pemantulan Cahaya

Menurut silabus mata pelajaran IPA fisika SMP, standar kompetensi yang mencakup bahasa cahaya adalah memahamai konsep dan penerapan getaran, gelombang dan optika dalam produk sehari-hari. Kompetensi dasar serta indikator pencapaiannya dapat dilihar pada tabel berikut :

Tabel 3 Kompetensi Dasar Serta Indikator Materi Cahaya Kompetensi

Dasar Indikator Materi

Menyelidiki sifat-sifat cahaya dan hubungannya dengan berbagai bentuk cermin dan lensa

Merancang dan melakukan percobaan untuk menunjukkan sifat-sifat perambatan cahaya

Menjelaskan hukum pemantulan yang diperoleh melalui percobaan

Mendeskripsikan proses pembentukan dan sifat-sifat bayangan pada cermin datar, cermin cekung dan cermin cembung

Mendeskripsikan proses pembentukan bayangan pada lensa cembung dan lensa cekung

Cahaya

1. Pengertian Cahaya

Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang dipancarkan secara radiasi.

2. Sifat-sifat Cahaya a. Cahaya merambat lurus

Benda gelap (tidak tembus cahaya) seperti kertas tampak oleh mata manusia karena memantulkan cahaya yang kemudian di terima oleh mata. Benda tampak hijau karena memantulkan cahaya hijau ke mata pengamat. Benda tampak hitam karena tidak ada cahaya yang dipantulkan benda tersebut ke mata.

(11)

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa cahaya berjalan menempuh garis lurus pada berbagai keadaan. Sebagai contoh, sebuah sumber cahaya titik seperti matahari menghasilkan bayangan, dan sinar lampu senter ytampak merupakan garis lurus. Giancoli (2001:243)

Cahaya merambat ke semua arah. Bayang-bayang terjadi sebagai akibat cahaya merambat pada garis lurus. Bila sinar datang pada benda gelap, maka dibelakang benda terbentuk ruang gelap yang dinamakan bayang-bayang. Bayang-bayang merupakan suatu daerah gelap yang terbentuk pada saat sebuah benda menghalangi cahaya yang mengenai suatu permukaan. Apabila cahaya tersebut terhalang seluruhnya, terbentuklah umbra, yaitu bagian pertama bayang-bayang yang sangat gelap. Daerah diluar umbra menerima sebagian cahaya, terbentuklah penumbra, yaitu bagian kedua bayang-bayang yang terletak di luar umbra dan tampak berwarna abu-abu kabur.

Gambar 1 Pembentukan Umbra dan Penumbra b. Cahaya menembus benda bening

Benda tembus cahaya atau benda bening seperti plastic dapat dilihat mata melalui sinar pantulnya atau sinar yang diteruskannya. Benda tembus cahaya

(12)

berwarna kuning, memantulkan cahaya kuning dan juga meneruskan cahaya kuning. Sehingga mata yang menerima sinar pantulnya atau sinar terusannya menerima kesan benda itu berwarna kuning.

c. Cahaya dapat dipantulkan

Sesaat sebelum berangkat sekolah, kita mungkin menyempatkan bercermin sejenak untuk melihat penampilan. Agar dapat melihat bayangan di cermin, cahaya harus terpantul dari benda lalu mengenai cermin dan dipantulkan kembali oleh cermin ke dalam mata. Pemantulan cahaya terjadi ketika cahaya mengenai suatu bensa dan dipantulkan oleh benda tersebut

3. Pemantulan Cahaya a. Hukum pemantulan

Ketika satu berkas cahaya sempit menimpa permukaan yang rata kita definisikan sudut datang sebagai sudut yang dibuat berkas sinar datang dan garis normal terhadap permukaan dan sudut pantul sebagai sudut yang dibuat berkas sinar pantul dengan garis normal. Untuk permukaan-permukaan yang rata, ternyata berkas sinar datang dan pantul berada pada bidang yang sama dengan garis normal permukaan dan bahawa sudut datang sama dengan sudut pantul. Giancoli (2001:244)

Hukum pemantulan meyatakan bahwa sudut datang sama dengan sudut pantul. Setiap cahaya yang dipantulkan, baik dipantulkan dari sebuah cermin, aluminium foil, atau bulan mengikuti hukum pemantulan tersebut.

(13)

Sinar datang, garis normal dan sinar pantul terletak pada satu bidang datar.

Gambar 2 Setiap Cahaya Yang Dipantulkan Oleh Benda Mengikuti Hukum Pemantulan

b. Jenis pemantulan

Pemantulan cahaya terbagi atas dua yaitu pemantulan teratur dan pemantulan baur 1) Pemantulan Teratur

Pemantulan teratur terjadi pada cermin yang permukaannya halus. Semua sinar yang mencapai permukaan cermin datang dengan sudut yang sama sehingga sinar itu juga dipantulkan pada sudut yang sama.

2) Pemantulan Baur

Pemantulan baur terjadi ketika cahaya mengenai permukaan yang tidak halus. Tiap-tiap sinar mencapai permukaan dengan sudut yang berbeda. Sehingga tiap-tiap sinar tersebut dipantulkan pada sudut yang berbada pula. Jadi, cahaya dihamburkan ke segala arah.

c. Pemantulan cahaya pada cermin 1) Cermin datar

(14)

Bayangan yang dibentuk cermin datar dari sebuah benda di depan cermin bersifat : maya, tegak, sama besar.

Jarak benda = Jarak bayangan

Gambar 3 Pembentukan Bayangan Oleh Cermin Datar 2) Cermin Cekung

Cemin cekung adalah cermin yang mengumpulkan berkas sinar (divergen). Sinar-sinar istimewa pada cermin cekung adalah :

Sinar sejajar sumbu utama dipantulkan melalui titik fokus

Sinar melalui titik fokus dipantulkan sejajar sumbu utama

Sinar yang melalui pusat kelengkungan cermin dipantulkan kembali lewat pusat kelengkungan tersebut

3) Cermin Cembung

Cermin cembung adalah cermin yang menyebarkan berkas sinar (konvergen). Sinar-sinar istimewa pada cermin cembung adalah :

Sinar sejajar sumbu utama dipantulkan seolah-olah berasal dari titik fokus

Sinar menuju titik fokus cermin dipantulkan sejajar sumbu utama

Sinar yang melalui pusat kelengkungan dipantulkan kembali leawt pusat kelengkungan tersebut

(15)

d. Persamaan untuk cermin cekung dan cembung

Hubungan antara jarak benda, jarak bayangan dan jarak fokus pada cermin cekung dan cermin cembung :

ଵ ௙= ଵ ௦బ+ ଵ ௦భ (1) Keterangan :

S0 = jarak benda ke cermin (m) S1 = jarak bayangan ke cermin (m) f = jarak fokus cermin (m)

Sedangkan jarak fokus cemin cekung maupun cermin cembung dapat dinyatakan dengan persamaan :

݂ =ଵ

ଶܴ (2)

Oleh karena itu persamaan cermin cekung dan cermin cembung dapat pula dinyatakan dengan persamaan :

ଶ ோ = ଵ ௦+ ଵ ௦ (3)

Dengan R adalah jari-jari kelengkungan cermin.

Dalam menggunakan persamaan cermin cekung maupun cermin cembung, perlu diperhatikan aturan-aturan tanda berikut ini.: (1) Jarak benda bertanda positif (+) untuk benda nyata (benda di depan cermin) dan bertanda negatif (-) untuk benda maya (benda terletak dibelakang cermin), (2) Jarak bayangan bertanda positif (+) untuk bayangan nyata (bayangan terletak di depan cermin) dan bertanda begatif untuk bayangan maya (bayangan terletak dibelakang cermin), dan (3) Jari-jari

(16)

kelengkungan (R) dan jarak fokus (f) bertanda positif (+) untuk cermin cekung dan bertanda negative untuk cermin cembung (-).

2.5 Kajian Penelitian Yang Relevan

Dalam beberapa jurnal penelitian, penelitian yang membahas tentang pembelajaran inkuiri dan pictorial riddle adalah :

1. Kristianingsih (2010) model pembelajaran inkuiri dengan metode pictorial riddle pada pokok bahasan alat-alat optik di SMP, terbukti meningkatkan hasil belajar siswa. Peningkatan dapat dilihat dari hasil belajar kognitif siswa siklus I sebesar 61,92% , kemudian pada siklus II meningkat menjasi 88,10% dan pada siklus III menjadi 97,62%.

2. Saliman menggunakan inkuiri sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan koneksi materi kuliah pada mahasiswa dan terbukti bahwa penerapan pendekatan inkuiri dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan penguasaan konsep materi kuliah sekaligus dapat meningkatkan prestasi belajar.

Model pembelajaran inkuiri berbasis pictorial riddle ini juga telah diterapkan sebelumnya oleh beberapa mahasiswa. Diantaranya adalah :

1. Rangkuti (2010), hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran inkuiri berbasis pictorial riddle pada materi pokok gejala gelombang, lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. Nilai rata-rata prestest dikelas eksperimen 32,33 meningkat menjadi 74,13 pada posttest.

(17)

2. Dewi Amellia (2011) tentang penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan metode pictorial riddle terhadap pemahaman konsep pemantulan cahaya pada siswa SMP kelas VIII. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan pemahaman konsep pemantulan cahaya pada siswa kelas VIII. Peningkatan rata-rata pemahaman konsep pada siswa pada kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Kemampuan psikomotorik siswa pada kelas eksperimen juga lebih aktif daripada siswa pada kelas kontrol.

Namun masih terdapat kekurangan pada penelitian-penelitian sebelumnya yaitu riddle yang diciptakan belum maksimal sehingga sering terjadi kesalahan dalam pengisian riddle oleh siswa. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kelemahan pada penelitian terdahulu adalah peneliti akan lebih mengoptimalkan penciptaan riddle sehingga diharapkan tidak terjadi kesalahan pengisian riddle oleh siswa.

Penciptaan riddle atau teki yang dimaksud adalah dengan membuat teka-teki silang bergambar. Dengan riddle seperti ini, kemungkinan kesalahan pengisian riddle dapat diminimalisir.

(18)

2.6 Kerangka Berpikir

Gambar 4 Kerangka Berpikir Pembelajaran 2.7 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran inkuiri berbasis metode pictorial riddle dengan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif”

Rendahnya hasil belajar dan kurang aktifnya siswa selama proses pembalajaran disebabkan beberapa hal. Temasuk model dan metode yang

digunakan kurang tepat sehingga selama pembelajaran siswa kesulitan menerima pelajaran dan hanya membayangkan saja tentang

apa yang dipelajari tanpa bisa mengaitkannya dengan kehidupan nyata.

Proses pembelajaran yang dilakukan

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Penerapan model inkuiri metode pictorial riddle

Pembelajaran kooperatif

Hasil Belajar Diberikan Pretest

Diberikan posttest

Figur

Tabel 1 Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif

Tabel 1

Sintaks Model Pembelajaran Kooperatif p.4
Tabel 3 Kompetensi Dasar Serta Indikator Materi Cahaya  Kompetensi

Tabel 3

Kompetensi Dasar Serta Indikator Materi Cahaya Kompetensi p.10
Gambar 1 Pembentukan Umbra dan Penumbra  b. Cahaya menembus benda bening

Gambar 1

Pembentukan Umbra dan Penumbra b. Cahaya menembus benda bening p.11
Gambar 3 Pembentukan Bayangan Oleh Cermin Datar  2) Cermin Cekung

Gambar 3

Pembentukan Bayangan Oleh Cermin Datar 2) Cermin Cekung p.14

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :