• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Rasio Hutang Financial Leverage Terhadap Deviden Pershare Pada Sektor Perdagangan Besar Barang Produksi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Rasio Hutang Financial Leverage Terhadap Deviden Pershare Pada Sektor Perdagangan Besar Barang Produksi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Financial leverage

Menurut Weston dan Birmingham (2000: 240), Leverage merupakan suatu ukuran yang menunjukkan jumlah sejauh mana sekuritas berpenghasilan tetap (hutang dan saham preferen) digunakan dalam struktur modal perusahaan. Tujuan dari penggunaan hutang (leverage) adalah untuk meningkatkan return bagi pemegang saham. Dengan memperbesar unsur leverage, maka unsur ketidakpastian return makin tinggi, tapi juga memperbesar kemungkinan pertambahan jumlah return yang diperoleh.

Leverage jika diartikan secara harfiah berarti pengungkit, pengungkit digunakan untuk mengangkat beban berat. Dalam ilmu manajemen keuangan juga dikenal leverage, namun dalam makna yang berbeda tentunya. Menurut Sartono (2001:257) “leverage adalah penggunaan aset dan sumber dana (sources of funds) oleh perusahaan yang memiliki beban tetap dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham”. Dengan kata lain, penggunaan leverage ditujukan agar keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada biaya aset dan sumber dananya, sehingga dapat meningkatkan keuntungan perusahaan atau pemegang saham.

Gitman (2003:508) mengemukakan dampak dari penggunaan leverage bagi perusahaan yaitu “Results from the use of fixed-cost or funds to magnify returns to the firms owners. Generally increases in leverage result in increased return and

risk, whereas decreases in leverage result in decreases return and risk”. Artinya

bahwa akibat dari penggunaan biaya tetap untuk memperoleh return bagi pemilik perusahaan secara umum juga akan meningkatan risiko. Sebaliknya, penurunan

leverage akan menurunkan return dan risk. Dari pernnyataan tersebut, dapat

disimpulkan bahwa leverage digunakan oleh suatu perusahaan bukan hanya untuk membiayai aktiva serta menanggung beban tetap melainkan juga untuk memperbesar pendapatan. Konsep leverage tersebut sangat penting terutama untuk menunjukkan kepada analis keuangan dalam melihat trade-off

(2)

2.1.2 Jenis-jenis Leverage

Pinjaman yang diperoleh perusahaan dapat berupa pinjaman operasional dan pinjaman finansial. Kedua jenis pinjaman tersebut masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahannya. Pembahasan mengenai kedua jenis pinjaman tersebut dikemukakan oleh Van Horne (2000;440,445) sebagai berikut.

1. Leverage Operasi (Operating Leverage)

Menurut Brigham dan Houston (2006:12), “operating leverage adalah tingkat sampai sejauh mana biaya-biaya tetap digunakan di dalam operasi sebuah perusahaan.” Leverage operasi merupakan penggunaan aktiva dengan biaya tetap yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutup biaya tetap dan variabel serta dapat meningkatkan profitabilitas. Leverage operasi timbul setiap saat perusahaan memiliki biaya-biaya tetap tanpa memperhatikan jumlah biaya tersebut. Biasanya biaya-biaya yang menyangkut leverage operasi timbul dari penggunaan aset tetap, seperti biaya depresiasi atau penyusutan aset tetap.

2. Leverage Keuangan (Financial Leverage)

Menurut Brigham & Houston (2006: 17), Financial Leverage adalah tingkat sampai sejauh mana sekuritas dengan laba atau pengembalian tetap (saham preferen dan utang) digunakan dalam struktur modal perusahaan. Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2001: 375), Financial Leverage adalah penggunaan dana dengan beban tetap dengan harapan untuk memperbesar pendapatan per lembar saham biasa (Earning per Share).

Financial leverage berasal dari keberadaan biaya finansial tetap dalam arus

pendapatan perusahaan. Ada dua biaya finansial eksternal dalam hal pendanaan, yaitu bunga pinjaman dan dividen saham preferen. Biaya-biaya ini harus ditutupi, berapapun nilai EBIT (Earning Before Interest and Tax) yang tersedia untuk membiayai biaya-biaya tersebut.

(3)

tetap untuk mempengaruhi perubahan EBIT terhadap pendapatan per lembar saham biasa (earning per share).

Financial leverage atau leverage keuangan timbul karena adanya kewajiban-kewajiban keuangan yang sifatnya tetap yang harus di bayar oleh perusahaan. Kewajiban-kewajiban keuangan yang tetap ini tidaklah berubah dengan adanya perubahan pada tingkat EBIT dan harus dibayar tanpa melihat sebesar apapun tingkat EBIT yang dicapai oleh perusahaan. Ada dua kewajiban keuangan yang sifatnya tetap, yaitu: 1) bunga atas hutang, dan 2) dividen untuk saham preferen.

Di dalam analisis financial leverage di asumsikan bahwa dividen untuk pemegang saham preferen selalu dibayar dalam setiap periode. Asumsi ini diperlukan karena tujuan utama dari finacial leverage adalah untuk mengetahui berapa jumlah uang yang sesungguhnya tersedia bagi pemegang saham biasa setelah bunga dan dividen untuk pemegang saham preferen dibayarkan.

(4)

Semakin tinggi DAR semakin besar resiko keuangan yang dihadapi perusahaan, karena utang membawa konsekuensi beban bunga tetap, semakin rendah rasio ini, maka akan semakin rendah resiko keuangannya. Para pemegang saham biasanya lebih menyukai rasio leverage lebih banyak karena akan memperbesar ekspektasi keuntungan, sedangkan para kreditor lebih menyukai rasio leverage yang lebih rendah, karena semakin rendah rasio utang, maka resiko kerugian yang dialami kreditor akan lebih rendah jika terjadi likuidasi.

Debt to Equity Ratio adalah rasio utang terhadap ekuitas dihitung dengan

hanya membagi total utang perusahaan (termasuk kewajiban jangka pendek) dengan ekuitas pemegang saham. Rasio ini menunjukkan hubungan antara jumlah pinjaman yang diberikan kreditur dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik perusahaan. Besarnya hasil perhitungan rasio utang terhadap ekuitas menunjukkan seberapa besar utang jangka panjang yang dapat dijamin dengan ekuitas, maka akan semakin besar risiko keuangan yang ditanggung perusahaan.

(5)

Long Term Debt to Total Asset Ratio adalah rasio yang menggambarkan besarnya tingkat penggunaan hutang jangka panjang dibandingkan dengan total aset yang dimiliki. Long Term Debt To Equity (LDER) merupakan perbandingan antara utang jangka panjang dengan ekuitas saham biasa. Semakin tinggi rasio LDER, maka semakin besar risiko yang ditanggung para pemegang saham (Warsono, 2003:239).

3. Leverage Total / Gabungan (Combination leverage)

Total Leverage merupakan kombinasi dari Operating Leverage dengan Financial

Levearge. Leverage gabungan atau kombinasi merupakan pengaruh perubahan

penjualan terhadap laba setelah pajak ataupun pendapatan per lembar saham (EPS). Leverage kombinasi terjadi apabila perusahaan baik operating leverage

maupun financial leverage dalam usahanya untuk meningkatkan keuntungan bagi pemegang saham biasa. Leverage operasi timbul ketika ada biaya tetap dari penggunaan aset (depresiasi), sedangkan leverage keuangan timbul pada saat ada biaya tetap atas penggunaan dana pinjaman.

2.1.3 Pengertian Deviden

Stice at al (2004:902) menyatakan bahwa “dividen adalah pembagian kepada pemegang saham dari suatu perusahaan secara proporsional sesuai dengan jumlah saham yang dipegang oleh masing-masing pemilik”. Menurut Skousen et al (2001:757) ” dividen adalah pendistribusian laba secara proporsional kepada para pemegang saham sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya”. Besarnya dividen yang dibagikan biasanya tercermin dalam dividend payoutratio (DPR). DPR merupakan ratio hasil perbandingan antara dividen dengan laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa, dan secara sistematis dirumuskan sebagai berikut (Warsono, 2003:27)

(6)

yang tersedia bagi pemegang saham biasa “earning avaible to common stock holde/EAC. Berdasarkan pengertian ini, maka tentu saja laba bersih yang tersedia untuk para pemegang saham dalam bentuk deviden akan berbeda antara perusahaan yang mempunyai hutang dalam struktur modalnya (levered firm) dan perusahaan yang tidak mempunyai hutang dalam struktur pemodalannya (unlevered firm).

Bagian dari laba bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa ini, kemudiaan dikeluarkan dari EAC sebesar ratio tertentu disebut dengan dividend

payout ratio. Bagian laba bersih yang tidak dibagi dalam bentuk deviden disebut

dengan saldo laba, dimana bagian dari laba ini kemudian digunakan untuk membiayai operasi lainnya.

Berbagai pengertian definisi yang diberikan oleh para ahli adalah sebagai berikut :

Menurut Halim (2005 : 16) “ Deviden adalah pembagian keuntungan yang diberikan emiten kepada pemegang sahammnya”.

(7)

2.1.4. Jenis-jenis Deviden

Pembagian dividen umumnya didasarkan atas akumulasi laba yaitu saldo laba, atau atas beberapa pos modal seperti tambahan modal disetor. Harapan umum dari setiap pemegang saham yang menerima dividen adalah bahwa perusahaan telah beroperasi secara optimal dan ia menerima bagian dari laba tersebut. Deviden memiliki beberapa jenis-jenis antara lain :

a. Dividen Tunai

Dewan direksi melakukan pemungutan suara untuk mengumumkan dividen tunai (cash dividend), dan jika hasilnya disetujui maka dividen segera diumumkan. Sebelum dividen dibayarkan daftar pegang saham terakhir harus disiapkan. Karena itu, biasanya terdapat tenggang waktu antara saat pengumuman dan pembayaran.

Pengumuman dividen tunai merupakan kewajiban dan karena pembayaran biasanya dilakukan dengan segera, maka biasanya disebut sebagai kewajiban lancar. Kewajiban dividen dapat bervariasi antara perseroan. Perseroan yang lebih senior serta telah mapan akan merasa bangga terhadap pembayaran dividen kuartalnya yang tidak pernah terputus dalam jangka waktu yang lama. Mereka baru tidak akan membayar deviden atau mengurangi bila mengalami penurunan laba atau pengurangan kas yang kritis.

(8)

melakukan ekspansi secaara cepat sejauh kondisi keuangan internal dan eksternal memungkinkan.

b. Dividen Properti

Hutang dividen dalam bentuk aktiva perusahaan selain kas disebut sebagai property atau dividend in kind. Dividen properti dapat berupa barang dagang, real estat, atau investasi, atau bentuk lainnya yang dirancang oleh dewan direksi.

c. Dividen Skrip

Dividen skrip (scrip dividend) hutang dalam skrip, berarti bahwa perusahaan tidak membayar dividen sekarang tetapi memilih membayarnya pada suatu tanggal dimasa depan. Dividen skrip yang diterbitkan kepada pemegang saham sebagai dividen hanya merupakan bentuk khusus dari wesel bayar.

d. Dividen Likuidasi

Dividen yang tidak didasarkan pada laba ditahan kadang-kadang disebut sebagai dividen likuidasi (liquidation dividend), yang mengisyaratkan bahwa dividen ini merupakan pengambilan dari investasi pemegang saham dan bukan dari laba. Dengan kata lain setiap dividen yang tidak didasarkan pada laba merupakan pengurang modal disetor perusahaan dan sejauh itu, merupakan dividen likuiditasi.

e. Dividen Saham

(9)

menerbitkan dividen saham. Dalam kasus ini, tidak ada aktiva yang dibagikan, dan setiap pemegang saham memiliki bagian kepemilikan yang sama atas perusahaan dan total nilai buku yang sama setelah dividen saham diterbitkan, sama seperti sebelum dividen itu diumumkan. Tentu saja, nilai buku per saham akan menjadi lebih rendah karena jumlah saham bertambah.

Pengertian Menurut Harjito (200 : 253) “Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dovoden atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang.”

Menurut Tampubolon (2005 : 191)” Kebijakan dividen adalah keputusan keuangan yaitu dengan mempertimbangkan apakah oembayaran dividen akan meningkatkan kemakmuran pemegang saham.”

Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau sebagai saldo laba untuk menambah modal guna pembiayaan investasi

di masa yang akan datang. Berdasarkan keterangan tersebut, prokasi yang digunakan untuk mengukur kebijakan dividen dalam penelitian ini direpresentasikan dalam bentuk rasio. Jenis rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah rasio dividend payout ratio (DPR).

Menurut Jogiyanto (2003 : 278) dividend payout ratio adalah pembagian antara dividen yang dibagikan dengan laba bersih yang didapatkan dan biasanya disajikan dalam bentuk persentase. Semakin tinggi dividend payout ratio akan menguntungkan para investor tetapi dari pihak perusahaan akan memperlemah internal financial karena memperkecil laba ditahan. Tetapi sebaliknya dividend

payout ratio semakin kecil akan merugikan investor (para pemegang saham)

tetapi internal financial perusahaan akan semakin kuat.

Dividend payout ratio dapat diukur sebagai dividen yang dibayarkan

dibagikan dengan laba yang tersedia untuk pemegang saham umum. Perusahaan uang mempunyai risiko tinggi cnderung untuk membayar dividend payout ratio

(10)

2.1.5 Kebijakan Deviden

Kebijakan dividen merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Beberapa ahli memberikan definisi kebijakan dividen sebagai berikut :

2.1.6 Kebijakan Pemberian Dividen

Kebiijakan dividen menyangkut tentang masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham, pada dasarnya laba tersebut dapat dibagikan berupa dividen atau sebagai saldo laba untuk diinvestasikan kembali.

Ada beberapa bentuk pemberian dividen secara tunai atau cash dividend

yang diberikan oleh perusahaan kepada pemegang saham. Bentuk kebijakan dividen tersebut adalah:

a. Kebijakan Pemberian Dividen Stabil

(11)

b. Kebijakan dividen dengan ratio yang kostan

Kebijakan ini memberikan dividen yang besarnya mengikuti besarnya laba yang diperoleh oleh perusahaan. Semakin besar laba yang diperoleh semakin besar dividen yang dibayarkan, demikian pula sebaliknya bila laba kecil dividen yang dbayarkan juga kecil. Dasar yang digunakan sering disebut Devidend Payout Ratio (DPR) yaitu persentase dividen per lembar saham terhadap pendapatan per lembar saham.

c. Kebijakan pemberian dividen regular yang rendah ditambah extra

Kebijakan ini merupakan kombinasi dua kebijakan diatas. Cara ini memberikan fleksibilitas kepada perusahaan, hanya saja investor masih merasa tetap kurang pasti tentang jumlah yang akan diterimanya. Pada perusahaan yang pendapatannya sangat tidak pasti, cara ini yang mungkin terbaik. Kebijakan ini menetapkan jumlah minimal dividen perlembar saham setiap tahunnya. Bagi investor ada kepastiaan akan menerima jumlah dividen yang minimal setiap tahunnya meskipun keadaan keuangan perusahaan agak memburuk, kalau keadaan keuangan perusahaan baik maka investor akan menerima investor dividen minimal tersebut ditambah dengan dividen tambahan jika keadaan keuangan memburuk, maka yang dibayarkan hanya dividen yang minimal saja.

d. Dividen yang fleksibel (Fleksible Dividend)

(12)

2.1.7 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen mempertimbangkan apakah penghasilan setelah pajak pada tahun berjalan sbaiknya diinvestasikan kembali atau dibagikan saja sebagai dividen merupakan saldo laba. Saldo laba itu sendiri merupakan sumber pembiayaan internal yang relative murah. Ada sejumlah pertimbangan saat perusahaan ingin membuat satu kebijakan dividen. Pertimbangan-pertimbangan tambahan ini harus berhubungan dengan konsep teori pembayaran dividend an penilaiian perusahaan. Berikut ini faktor-faktor yang dianalisis perusahaan dalam memutuskan kebijakan dividen. Memuat Horne dan Wachhowicz (terjemahan Fitriasari dan Deny (2007 : 280)

a. Peraturan-peraturan Hukum

Pembahasan peraturan hukum penting dilakukan untuk menetapkan batasan-batasan hukum dimana kebijakan dividen dapat digunakan. Peraturan-peraturan hukum ini berhubungan dengan penurunan modal, ketidak solvabilitasan dan laba ditahan yang tidak semestinya.

(13)

1. Seluruh laba bersih setelah dikurangi penyisihan untuk cadangan dibagiakan kepada pemegang saham sebagai dividen, kecuali ditentukan lain dalam RUPS.

2. Dividen hanya boleh dibagikan apabila Perseroan mempunyai saldo laba yang positif.

3. Perseroan dapat membagikan dividen interim sebelum tahun buku Perseroan baerakhir sepanjang diatur dalam anggaran dasar Perseroan.

4. Pembagian dividen interim dapat dilakukan apabila jumlah kekayaan bersih Perseroan tidak menjadi lebih kecil daripada jumlah modal ditempatkan dan disetor ditambah cadangan wajib.

5. Pembagian dividen interim tidak boleh mengganggu atau menyebabkan Perseroan tidak dapat memenuhi kewajibannya pada kreditor atau mengganggu kegiatan perseroan.

6. Pembagian dividen interim ditetapkan berdasarkan keputusan Direksi setelah memperoleh persetujuan Dewan Kominsaris.

b. Kebutuhan pendanaan perusahaan

(14)

menentukan arus kas dan posisi kas perusahaan yang mngkin tejadi tanpa adanya perubahan kebijakan dividen. Disamping memperkirakan hasil yang mungkin diterima, perusahan juga harus mempertimbangkan resiko bisnis sehingga dapat diperolah menjadi macam hasil arus kas yang mungkin terjadi.

c. Likuditas

Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam keputusan dividen. Karena dividen merupakan arus keluar kas, semakin besar posisi kas dan likuiditas perusahaan, semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Perusahaan yang berkembang dan menguntungkan mungkin tidak likuid karena dana yang dimilikinya digunakan untuk keperluan aktiva tetap dan kerja permanen.

d. Kemampuan untuk meminjam

Posisi likuid bukan merupakan satu-satunya cara untuk memberikan perlindungan fleksibilitas keuangan terhadap ketidak pastian. Jika memiliki kemampuan untuk memperoleh pinjaman dalam waktu singkat, perusahaan dapat dikatakan memiliki fleksibilitas keuangan yang relative baik. Kemampuan meminjam ini dapat berupa batas kredit atau perjanjian kredit beruntun dari bank, atau kemampuan tidak resmi kelembagaan keuangan untuk memerlukan kredit.

e. Batasan-batasan dalam perjanjian hutang

(15)

oleh pemberi pinjaman untuk menjaga kemampuan perusahaan untuk membayar hutang. Biasanya batasan ini dinyatakan sebagai persentase maksimum laba ditahan komulatif perusahaan. Jika batasan harus diterapkan, maka akan mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan.

f. Pengendalian

Jika perusahaan membayar dividen dalam jumlah besar, perusahaan kemudian perlu mencari modal melalui penjualan saham untuk mendanai peluang investasi yang memungkinkan. Dalam situasi tersebut kepentingan pengendalian perusahaan mungkin menipis jika pemegang saham yang memiliki tidak mau atau tidak dapat memesan tambahan saham. Para pemegang saham ini lebih memilih pembayaran dividen yang rendah dan pendanaan kebutuhan investasi melalui laba ditahan. Kebijakan dividen ini mungkin tidak memaksimalkan kekayaan keseluruhan pemegang saham, namun dividen tersebut dilakuan demi kepentingan terbaik pihak yang memiliki kendali.

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu

(16)

Tabel 2.1

size secara signifikan bepengaruh pasitif terhadap

dividen pershare. Sedangkan

variabel lainnya yaitu kebijakan utang dan ROA berpengaruh negatif

dividen per share. 2 Lestari 2007 Dependen:

(17)

- Arus Kas Operasi

Sumber : Berbagai jurnal

Berdasar tabel 2.1 dalam penelitian Nuringsih (2005) dalam penelitiannya menguji “Analisis pengaruh kepemilikam manajerial, kebijakan hutang, profitabilitas dan ukuran perusahaan terhadap kebijakan deviden”. Dari hasil penelitiannya menyatakan Kepemilikan manajerial dan size secara signifikan bepengaruh pasitif terhadap dividen pershare. Sedangkan variabel lainnya yaitu kebijakan utang dan ROA berpengaruh negatif dividen per share.

Lestari (2007) melakukan penelitian mengenai “analisis pengaruh rasio profitabilitas, hutang dan likuiditas terhadap klebijakan deviden”. Dari Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Profitabilitas dan hutang mempunyai pengruh yang signifikan terhadap kebijakan deviden, sedangkan likuiditas tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap kebijakan deviden.

Surya Warni Sibarani (2011) melakukan penelitian “Analisis Hubungan Laba Akuntansi, Arus Kas Operasi Dengan Dividen Tunai Pada Industri Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Variabel independennya adalah laba akuntansi dan arus kas operasi, dividen tunai sebagai variabel dependen. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi. Hasil dari penelitian ini adalah laba akuntansi dan arus kas operasi berpengaruh signifikan terhadap dividen tunai.

2.3. Kerangka Konseptual

(18)

pihak di luar perusahaan maka akan timbul hutang dalam struktur modal perusahaan. Hal inilah yang dikenal dengan Financial Leverage.

Financial leverage adalah penggunaan sumber dana yang memiliki beban

tetap dengan harapan akan memperoleh tambahan keuntungan yang lebih besar daripada beban tetapnya sehingga akan meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham (Dermawan, 2009:154). Menurut Brigham dan Houston (2006:17), “financial leverage adalah tingkat sampai sejauh mana sekuritas dengan laba tetap (hutang dan saham preferen) digunakan dalam struktur modal sebuah perusahaan.” Jadi tujuan financial leverage meningkatkan pengembalian bagi para pemegang saham, tanpa harus menambah modal sendiri atau ekuitas. Yang di bahas dalam penelitian ini adalah financial leverage (Debt to Total Asset Ratio, Debt to Equity Ratio, Long Term Debt to Total Asset Ratio, Long Term Debt To Equity Ratio,Return of Equity, dan deviden pershare (DPS)

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat digambarkan model atau bagan kerangka konseptual dalam Gambar 2.1 berikut ini :

H1

Deviden pershare (DPS)

(Y)

(19)

Kerangka Konseptual

Debt to Total Asset Ratio (DAR) merupakan perbandingan antara hutang

lancar dan hutang jangka panjang dan jumlah seluruh aktiva diketahui. Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan aktiva yang dibelanjai oleh hutang.

Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio utang yang menunjukkan

hubungan antara jumlah pinjaman yang diberikan kreditur dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik perusahaan.

Long Term Debt to Total Asset Ratio (LDAR) adalah rasio yang

menggambarkan besarnya tingkat penggunaan hutang jangka panjang dibandingkan dengan total aset yang dimiliki. Long Term Debt To Equity (LDER) adalah rasio yang memperbandingkan proporsi utang jangka panjang dengan ekuitas saham biasa. Semakin tinggi rasio LDER, maka semakin besar risiko yang ditanggung para pemegang saham (Warsono, 2003:239).

Return of Equity (ROE) Tingkat pengembalian yang di hasilkan oleh

perusahaan untuk setiap satuan mata uang yang menjadi modal perusahaan. dalam pengertian ini, seberapa besar perusahaan memberikan imbal hasil tiap tahunnya persatu mata uang yang di investasikan investor ke perusahaan tersebut.

Deviden pershare (DPS) merupakan dividen yang dibayarkan dalam

(20)

dividend per share), Ps merupakan harga wajar dividen saham (declaration price), dan Rd adalah rasio dividen saham (stock dividend ratio).

2.4 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka konseptual, maka hipotesis dari penelitian ini, adakah rasio keuangan Debt to Total Asset Ratio (DAR), Debt to

Equity Ratio (DER),Long Term Debt to Total Asset Ratio (LDAR), Long Term

Debt To Equity (LDER) dan return of equity (ROE) berpengruh terhadap dividen

Gambar

Tabel 2.1

Referensi

Dokumen terkait

Dengan menggunakan program SPSS for window versi 16.0, maka dapat diketahui reliabilitas instrumen angket pendidikan seks.Setelah dilakukan pengujian reliabilitas

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri dari ekstrak dan fraksi teripang Holothuria edulis yang diperoleh dari teluk Manado

Kepala MTs Al Kautsar me nyatakan: “dalam rangka meningka tkan kecerdasan emosional siswa di sekolah ini kami sengaja tidak membuat program khusus akan tetapi

Manakala sekiranya dilihat tahap kepuasan keseluruhan, jelas menunjukkan bahawa sama ada staf akademik ataupun bukan akademik, tahap kepuasan mereka terhadap

dan akan masuk ke telepon seluler customers. Customers yang sudah mendapatkan broadcast SMS yang berupa info terbaru produk dapat menanyakan atau memesan produk lewat

Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, Ps.. 12

Customer service sebagai ujung tombak perusahaan dalam melayani pelanggan atau nasabah dan menjual produk atau jasa yang ditawarkan, merupakan divisi terdepan dalam memberikan

Dalam prakteknya pengolahan bentuk berdasarkan pada dimensi, untuk karya seni rupa dua dimensi dibuat dengan teknik perspektif, memberi gelap terang (nada), dan menyusun