• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Keterpaduan Kebijakan Tata Ruang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kajian Keterpaduan Kebijakan Tata Ruang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN KETERPADUAN KEBIJAKAN

TATA RUANG DAN PENGELOLAAN

KAWASAN PERBATASAN NEGARA DI

INDONESIA

Ratna Wulandari Daulay1, Eni Yuniastuti1, Dana Adisukma1

1Program BEASISWA UNGGULAN Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Republik Indonesia pada Magister Perencanaan dan Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada,

Yogyakarta 55281, Indonesia Email: [email protected]

Abstrak

Kawasan perbatasan merupakan salah satu kawasan strategis yang perlu dibangun dan dikembangkan baik pada tingkat nasional maupun tingkat daerah. Pembangunan tersebut membutuhkan suatu kebijakan yang terpadu pada semua aspek perbatasan. Tujuan makalah ini adalah untuk mengidentifikasi kebijakan keterpaduan tata ruang dan pengelolaan kawasan perbatasan negara di Indonesia secara terpadu. Hasil yang didapatkan bahwa terdapat keterpaduan dalam mengelola perbatasan khususnya dalam menjalankan pengelolaan kawasan perbatasan sesuai amanah untuk merencanakan tata ruang kawasan perbatasan baik ditingkat nasional maupun ditingkat daerah. Pengelolaan dan perencanaan kawasan perbatasan ini diharapkan mampu menjadi alternatif solusi untuk menyelesaikan permasalah di kawasan perbatasan, baik dari aspek sosial-ekonomi maupun dari aspek pertahanan dan keamanan. Alternatif solusi yang ditawarkan tersebut tentu akan didasarkan pada perencanaan tata ruang.

Keyword : Keterpaduan, Kebijakan, Kawasan, Perbatasan

I. PENDAHULUAN

Perbatasan negara merupakan manifestasi utama kedaulatan wilayah suatu negara. Perbatasan suatu negara mempunyai peranan penting dalam pengelolaan batas wilayah kedaulatan, sumberdaya, keamanan, dan keutuhan suatu wilayah negara. Keamanan dan kesejahteraan wilayah perbatasan mulai menjadi pusat perhatian setiap pemerintah yang wilayah negaranya berbatasan langsung dengan negara lain. Kesadaran akan pentingnya wilayah perbatasan antar negara, telah mendorong pemerintah sebagai perumus kebijakan untuk mengembangkan suatu kajian tentang penataan wilayah perbatasan berbasis penataan ruang yang

dilengkapi dengan perumusan sistem keamanannya. Hal ini menjadi isu strategis karena penataan kawasan perbatasan terkait dengan proses nation state building terhadap kemunculan potensi konflik internal di suatu negara dan bahkan pula dengan negara lainnya (neighbourhood countries).

(2)

suatu kebijakan pengelolaan perbatasan yang memberikan perhatian khusus pada pengelolaan manajemen perbatasan laut, baik dari sisi pembangunan wilayah pesisir maupun manajemen keamanan maritim yang terintegrasi. Berdasarkan permasalahan kondisi yang ada, maka perlunya keterpaduan antara kebijakan yang satu dengan yang lain untuk kembali menata ruang yang ada diwilayah perbatasan Indonesia, agar menjadi wilayah yang strategis baik dari segi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan. Undang-Undang Dasar 1945 yang telah diamandemenkan pada pasal 25A merupakan payung dari hukum tentang perbatasan wilayah Indonesia. Undang-undang ini didasarkan pada peraturan UNCLOS Internasional pasal 49 ayat 1 tahun 1982 mengenai kebijakan batas wilayah.

Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk mengidentifikasi keterpaduan kebijakan tata ruang dan pengelolaan kawasan perbatasan negara di Indonesia secara terpadu untuk pembangunan dan pengembangan perbatasan negara di Indonesia.

II. METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam makalah ini menggunakan metode deskriptif eksploratif. Metode deskriptif eksploratif ini sudah digunakan dalam penelitian laporan akhir oleh Pusat Kajian Administrasi Internasional Lembaga Administrasi Negara, dimana wilayah perbatasan negara sebagai kajiannya. Penelitian ini untuk menemukan tentang masalah wilayah perbatasan negara. Sumber informasi tersebut dapat berupa hasil-hasil penelitian dan karya ilmiah, kebijakan tentang perbatasan dan tata ruang, literatur yang memiliki kaitan dengan permasalahan manajemen wilayah perbatasan ditinjau dari aspek kelembagaan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Kajian Kebijakan Penataan Ruang sebagai

Payung Kebijakan Pengelolaan Kawasan Perbatasan Indonesia

Kawasan perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan salah satu kawasan yang memiliki karakteristik yang unik dan berbeda baik dalam hal pengelolaan dan permasalahan yang dihadapi. Permasalahan ini timbul karena banyak hal meliputi kondisi geografis, kondisi sosial ekonomi dan kondisi pertahanan keamanan di wilayah perbatasan. Permasalahan tersebut dapat memicu permasalahan lain yang mungkin timbul dari permasalahan yang ada. Penataan ruang

sebagai salah satu instrumen untuk mengelola dan merencanakan wilayah dan kawasan, diharapkan dapat memberikan alternatif solusi untuk menyelesaikan permasalahan kawasan perbatasan sebagai salah satu kawasan strategis di Indonesia.

Penataan ruang sebagai instrumen pengelolaan dan perencanaan kawasan perbatasan di Indonesia telah disebutkan di dalam tujuan Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang konsep pengelolaan wilayah perbatasan bukan hanya dari aspek pengelolaan sumberdaya namun juga pengelolaan patok batas negara yang sering menjadi konflik di wilayah perbatasan. Konsep pengelolaan kawasan perbatasan sebagai kawasan strategis juga telah diatur secara jelas oleh undang-undang tersebut. Konsep pengelolaan ini dirancang dan dilaksanakan oleh pemerintah secara sistematis. Wewenang pemerintah secara umum dalam hal pengelolaan kawasan perbatasan sebagai kawasan strategis dapat dilihat pada Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang pada pasal 8 terkait pelaksanaan tata ruang kawasan strategis. Isi dari undang-undang tersebut juga diperjelas oleh Peraturan Pemerintah nomor 47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Penetapan tersebut meliputi penetapan kawasan strategis, perencanaan tata ruang kawasan strategis, pemanfaatan ruang kawasan strategis dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis. Pelaksanaan tata ruang kawasan strategis ini dilaksanakan pada wilayah perencanaan tingkat nasional hingga tingkat kabupaten/kota. Keluaran dari rencana tata ruang kawasan strategis nasional khususnya kawasan perbatasan ini menjadi pertimbangan penting bagi Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) untuk mengelola dan merencanakan kawasan perbatasan. Selain pelaksanaan tata ruang kawasan strategis, kawasan perbatasan di Indonesia juga termasuk dalam bagian dari rencana tata ruang nasional. Menurut Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang didukung oleh Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional menyebutkan bahwa kawasan strategis, yang dalam hal ini merupakan kawasan perbatasan, perencanaan tata ruangnya mendukung perencanaan kawasan strategis baik pada tingkat nasional hingga tingkat kabupaten/kota.

(3)

yang diatur dalam Undang-Undang nomor 17 tahun 2007. Kebijakan tersebut juga didukung dan dijelaskan oleh Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Kedua produk rencana tersebut akan dijabarkan pada masing-masing daerah dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) serta Rencana Kerja Pemerintah Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKP SKPD). Seluruh produk rencana pembangunan daerah, khususnya produk rencana di kawasan perbatasan, akan menjadi acuan bagi Badan Pengelola Perbatasan Daerah untuk mengelola kawasan perbatasan.

3.2 Kajian Kebijakan Pengelolaan Kawasan Perbatasan Indonesia

Saat ini kawasan perbatasan belum dikelola secara baik dan belum adanya konsepsi pembangunan yang jelas, komprehensif dan terintegrasi. Kegiatan pembangunan yang ada masih berupa rencana pembangunan parsial dengan pendekatan yang sangat sektoral. Sebagai contoh adanya eksploitasi kawasan hutan (legal dan ilegal) dengan sasaran pokok pertumbuhan ekonomi atau pemenuhan kebutuhan masyarakat lokal. Oleh sebab itu, maka perlu adanya pengkajian wilayah perbatasan di wilayah Indonesia. Pengkajian wilayah perbatasan Indonesia agar lebih kuat dan tidak menyalahi aturan nasional maupun internasional maka perlu diatur dalam peraturan yang berlaku di wilayah negara Indonesia atau peraturan yang berlaku secara internasional. Peraturan Internasional yang mengatur tentang Hukum Laut Internasional didasarkan pada UNCLOS 1982 pasal 49 ayat 1. Berdasarkan Undang-Undang nomor 10 tahun 2004 tentang Peraturan Pembentukan Perundang-Undangan bahwa dalam menentukan kebijakan batas Negara Kesatuan Republik Indonesia diatur dalam undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden, keputusan menteri, dan peraturan daerah. Undang-undang yang mengatur dan mengkaji tentang kawasan perbatasan meliputi Undang-Undang nomor 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara, Perairan Indonesia, dan Undang-Undang nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Terdapat tiga peraturan pemerintah yang mengkaji kawasan pebatasan Negara Indonesia, yaitu Peraturan Pemerintah nomor 38 tahun 2002 tentang Daftar Koordinat Geografis Titik Pangkal Kepulauan Indonesia, Peraturan Pemerintah nomor 15 tahun 1984 tentang

Pengelolaan Sumber Daya Hayati Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Peraturan Pemerintah nomor 62 tahun 2010 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Terdepan, dan Peraturan Pemerintah nomor 64 tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Peraturan presiden yang mengkaji batas wilayah Negara Indonesia adalah Peraturan Presiden nomor 12 tahun 2010 tentang Badan Nasional Pengelolan Perbatasan, Peraturan Presiden nomor 21 tahun 2007 tentang Dewan Kelautan Nasional, Peraturan Presiden nomor 81 tahun 2005 tentang Badan Koordinasi Keamanan Laut, dan Peraturan Presiden nomor 78 tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar. Keputusan Mentri yang mengkaji wilayah perbatasan Negara Indonesia diatur dalam Peraturan Mentri Dalam Negeri nomor 2 tahun 2011 tentang Pedoman Badan Pengelolan Perbatasan Daerah, Keputussan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 30 tahun 2010 Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan, dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 8 tahun 2009 tentang Peran Serta dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Peraturan Daerah yang mengatur tentang kajian wilayah perbatasan salah satu contonya adalah Peraturan Gubernur Jawa Tengah nomor 1 tahun 2011 tentang Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Provinsi Jawa Tengah. Hukum dan peraturan baik yang berlaku di dunia Internasional maupun di Nasional ini sebaiknya digunakan sebagai pedoman dalam memanfaatkan kawasan perbatasan, agar dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin demi kepentingan Negara dan masyarakat Indonesia. Banyaknya peraturan ini sebaiknya dimanfaatkan untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI, agar tidak terjadi tumpang tindih antara pihak-pihak yang berkepentingan.

3.3Keterpaduan Kebijakan Penataan Ruang dengan Kebijakan Pengelolaan Kawasan Perbatasan Indonesia

Penataan ruang sebagai payung kebijakan dalam pengelolaan kawasan perbatasan memiliki arti penting dalam setiap elemen kebijakan pengelolaan kawasan perbatasan. Bentuk arti penting ini ditunjukkan dengan adanya klausul-klausul yang terkait pertahanan nasional dan kesejahteraan masyarakat yang menyeluruh di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bentuk keterpaduan kebijakan tersebut ditunjukkan secara jelas dengan adanya arahan penataan ruang kawasan strategis baik dari lingkup nasional maupun lingkup daerah. Penataan ruang kawasan strategis khususnya kawasan perbatasan ini merupakan salah satu upaya dalam pengelolaan kawasan perbatasan yang terintegrasi.

(4)

kepada suatu lembaga tersendiri yang dibentuk oleh Keputusan Presiden Nomor 12 tahun 2010 tentang Badan Nasional Pengelola Perbatasan, untuk merencanakan dan mengelola kawasan perbatasan negara di Indonesia. Amanah utama yang disampaikan dan harus dilaksanakan adalah perencanaan dan pengelolaan kawasan perbatasan negara sebagai kawasan strategis nasional yang tercantum dalam Rencana Tata Ruang Nasional. Tugas utama pengelolaan dan perencanaan kawasan perbatasan sebagai kawasan strategis nasional meliputi perencanaan kawasan perbatasan sebagai kawasan strategis nasional, perencanaan tata ruang kawasan perbatasan sebagai kawasan

strategis nasional, pemanfaatan ruang kawasan perbatasan sebagai kawasan strategis nasional dan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perbatasan sebagai kawasan strategis nasional. Sedangkan untuk pengelolaan wilayah perbatasan pada tingkat daerah akan dikelola oleh Badan Pengelola Perbatasan Daerah yang telah diatur pembentukannya oleh Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 tahun 2011 tentang Pedoman Pembentukan Badan Pengelola Perbatasan Daerah. Fungsi badan ini, yaitu untuk mengelola kawasan perbatasan hingga tingkat perencanaan ruang dan pemanfaatan ruang hingga kekajian perencanaan dan pengelolaan sektoral (Gambar 1).

Gambar 1. Diagram Keterpaduan Pengelolaan Kawasan Perbatasan Negara Indonesia

Diagram keterpaduan pengelolaan kawasan perbatasan negara Indonesia menggambarkan bahwa masing-masing kebijakan (kususnya kebijakan tata ruang dan perbatasan wilayah) memiliki integrasi satu dengan yang lainnya. Integrasi tersebut harus diikuti oleh instansi-instansi yang mempunyai wewenang untuk mengelola wilayah perbatasan dan tata ruang. Pihak yang berwenang mengelola wilayah perbatasan dan tata ruang harus bekerja sama dengan BNPP untuk mengelola kawasan perbatasan Indonesia dengan baik. Tujuannya agar wilayah

perbatasan terjaga keamananya, perekonomian dan kesejahteraan meningkat, serta tidak terjadi kesenjangan sosial, sehingga pulau-pulau yang berada di perbatasan dan daratan yang ada dapat layak huni, misalnya untuk dikembangkan sebagai

(5)

Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dapat diintegrasi dengan undang-undang perbatasan wilayah Indonesia. Batas wilayah Indonesia diatur dalam Undang-Undang nomor 3 tahun 2002, Undang-Undang-Undang-Undang nomor 43 tahun 2008, Undang-Undang nomor 6 tahun 1996, Undang-Undang nomor 5 tahun 1983, dan Undang-Undang nomor 27 tahun 2007.

Penataan Ruang Kawasan Strategis Nasional dapat diintegrasikan dengan Peraturan Presiden nomor 12 tahun 2010 tentang BNPP. BNPP adalah suatu badan yang mengelola batas wilayah negara dan kawasan perbatasan, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang nomor 43 tahun 2008 tentang wilayah negara. Penataan ruang berfungsi untuk mencari kawasan sesuai potensi sumberdaya yang dimiliki agar dapat dimanfaatkan dengan baik. Setelah diketahui rencana penataan ruang kawasan strategis nasional maka selanjutnya akan dikelola dan dikembangkan oleh BNPP baik dari provinsi, kabupaten/kota. Bidang yang mempunyai wewenang untuk mengelola adalah Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan dan Bidang Pengelolaan Infrastruktur Kawasan.

Peraturan Pemerintah tentang Rancangan Pembangunan Jangka Panjang, Menengah, dan Pendek dapat dikelola oleh Badan Pengelolaan Perbatasan Daerah. Peraturan Daerah mengenai penataan ruang kawasan strategis kepulauan, provinsi, dan kabupaten/kota juga dapat dikelola oleh Badan Pengelolaan Perbatasan Daerah.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa dari beberapa kebijakan yang ada terkait penataan ruang sebagai payung utama dalam pengelolaan kawasan perbatasan yang memiliki keterpaduan dalam pelaksanaannya. Bentuk keterpaduan ini ditunjukkan dengan amanah pada Undang-Undang Penataan Ruang nomor 26 tahun 2007 yang menyebutkan bahwa perlunya perencanaan tata ruang kawasan strategis baik nasional maupun hinggal lingkup daerah. Kawasan strategis nasional yang salah satunya adalah kawasan perbatasan negara ini telah dilaksanakan pengelolaannya oleh Badan Nasional Pengelola Perbatasan. Perencanaan kawasan strategis di tingkat daerah akan dilaksanakan oleh Badan Pengelola Perbatasan Daerah yang memiliki tugas pokok dan fungsi yang sama dengan Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan. Tugas pokok dan fungsi Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Badan Pengelola Perbatasan Daerah terkait penataan dan perencanaan ruang meliputi penetapan kawasan perbatasan sebagai kawasan strategis, perencanaan ruang kawasan perbatasan sebagai kawasan strategis, pemanfaatan ruang kawasan perbatasan

sebagai kawasan strategis dan pengendalian ruang kawasan perbatasan sebagai kawasan strategis.

Terima kasih kepada Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) Kementrian Pedidikan Nasional Republik Indonesia yang telah mendukung pada program BEASISWA UNGGULAN kepada penulis, dan terima kasih kepada Panitia Seminar Nasional 2012 Program Magister dan Doktor, Universitas Brawijaya Malang atas kesempatan yang telah diberikan pada penulis untuk dapat ikut berpartisipasi dalam rangkaian acara ini.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kehutanan. 2009. Penetapan DAS Prioritas dalam rangka Pembangunan Jangka Kalimantan Barat). Tesis. Tidak Diterbitkan. Semarang: Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro. Imam Indratno. 2010. Pengembangan Kawasan

Perbatasan Negara Indonesia – Malaysia (Kalimantan-Serawak-Sabah) dalam Perspektif Penataan Ruang. Makalah. Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung : Bandung.

Keputusan Presiden No. 21 Tahun 2007 tentang Dewan Kelautan Nasional. Jakarta

Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan N0. 30 Tahun 2010 tentang RPZKKP. Jakarta Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 8

Tahun 2009 tentang PSPM Pengembangan Wilayah Pulau-pulau Kecil. Jakarta

Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2002 tentang Daftar Koordinat, Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. Jakarta Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 1964 tentang

Pengelolaan Sumber Daya Hayati Zona Ekonomi Eksekutif Indonesia. Jakarta Peraturan Pemerintah No. 62 Tahun 2010 tentang

Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Terdepan. Jakarta

(6)

Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional. Jakarta Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2005 tentang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Jakarta

Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2011 tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak, Serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas. Jakarta

Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil . Jakarta

Peraturan Presiden No.81 Tahun 2005 tentang BK Keamanan Laut. Jakarta

Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan. Jakarta

Peraturan Presiden No. 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar . Jakarta

Peraturan Meteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 2011 tentang Pedoman Badan Pengelolaan Perbatasan Daerah. Jakarta

Peraturan Gubernur No. 1 Tahun 2011 tentang Rencana Strategis Wilayah Perbatasan Pulau-Pulau Kecil.

Putra, Rizal Darma. 2010. Manajemen Pengelolaan Perbatasan Laut dan Keamanan Perbatasan. Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia. Jakarta

Pusat Kajian Administrasi Internasional Lembaga Administrasi Negara. 2004. Kajian Manajemen Wilayah Perbatasan Negara. Jakarta

Sabarno Hari. 2001. Kebijakan/ Strategi Penataan Batas dan Pengembangan Wilayah Perbatasan. http://wilayahperbatasan.com

Sobirin, A.R. 2002. Perpetaan di Indonesia. Berita Topografi, Dittop TNI-AD

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen Pasal 25 A tentang Wilayah Negara. Jakarta

Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional. Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia No. 27 Tahun

2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksekutif Indonesia. Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun

2008 tentang Wilayah Negara. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 Tahun

Gambar

Gambar 1. Diagram Keterpaduan Pengelolaan Kawasan Perbatasan Negara Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

berlakunya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan berdasarkan tata ruang yang berlaku tetap sesuai dengan tata ruang sebelumnya namun

Pelaksanaan kebijakan ruang terbuka hijau di Kota Pekanbaru tidak sepenuhnya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang juncto Peraturan Daerah

Pada Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah Provinsi Sumatera Utara yang secara substansi telah sesuai dengan Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang,

Dalam kaitannya dengan penataan ruang Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang menjelaskan bahwa segala bentuk kegiatan pemanfaatan ruang harus dilakukan

Penelitian kepustakaan, dilakukan dengan usaha memahami peraturan perundang-undangan bidang tata ruang, seperti: Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang,

bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional,

MUATAN • Rencana Tata Ruang • Rencana Pembangunan • Rencana Perumahan • Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN

bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, maka Peraturan Daerah Kabupaten Purworejo Nomor 6 Tahun 2005 tentang Rencana Umum Tata Ruang Wilayah