Laporan
Jang Disusun
Oleh
219/III-Dep./’60 200
-L A P O R A N
Jang Disusun Oleh
S E K S I I N D U S T R I P A N G A N
ISI LAPORAN SEKSI INDUSTRI PANGAN DEWAN PERANTJANG NASIONAL
Prakata ………....………....………..…. Halaman Bab I “Umum” ………....………....……… 1 – 4
A. 10 prinsip pokok Seksi Pangan………....………….. 4
B. Angka kenaikan djumlah penduduk ………..……… 5 – 8 C. Penetapan presentase penambahan produksi tiap tahun ……… 8 – 9 Bab II Gambaran keadaan sekarang (th. 1958) menurut djenis
III. Produksi djagung dan nilai produksinja dalam tahun 1958 ... 11
IV. Produksi Katjang Tanah dan nilai produksinja dalam
B. Usaha Djangka Pandjang ………....……….. 19 – 20 C. Pengolahan bahan2 Makanan ………....……… 20 Bab V Untuk Bahan Makanan Chewani ………..…….. 35
Produksi dan nilainja ………....………... 35
1. Bidang perikanan darat dalam tahun 1958 ……….... 35
2. Bidang perikanan laut dalam tahun 1958 ……….. 38
3. Bidang kehewanan dalam tahun 1958 ……….. 39
Halaman Garis Tertulis Betulnja
37 Ke 1 dari bawah (hanja F……….) (hanja 7 kg/HA) 39 " 3 " atas …………Djumlah a. Djumlah 40 " 1 " " …………Nilai b. Nilai 41 " 1 " " …………Produksi c. Produksi 42 " 1 " " …………Djumlah d. Djumlah 43 " 1 " " …………Djumlah e. Djumlah 44 " 1 " " …………Produksi f. Produksi 45 " 1 " " …………Nilai g. Nilai 46 " 2 " " …………Productie h. Produksi 47 " 2 " " …………Daftar i. Daftar 60 " 5 " " 1000.000
--- x Rp. 6
6.500 = …….
1000.000
--- x Rp. 6.500 = 6
Rp 1.040 djuta atau dibulatkan satu mil-jar rupiah.
LAPORAN SEKSI “INDUSTRI PANGAN” DEWAN PERANTJANG NASIONAL
P R A K A T A
Seksi “Industri Pangan” dibentuk oleh Sidang Pleno Depernas pada tanggal 15 Desember 1959 di Bandung.
TUGAS SEKSI
1. Mendjelaskan keadaan sekarang:
a. Mendjelaskan produksi sekarang ( 1959 atau 1953)
Mendjelaskan produksi tiap djenis bahan makanan menurut berat dan nilai uang dan disusun menurut daerah-daerah.
b. Mendjelaskan anggaran jang tersedia dalam sektor Pemerintah (termasuk kredit dari bank Pemerintah) untuk produksi setiap bahan.
c. Mendjelaskan kegiatan oleh sector Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah/Partikelir.
d. Mendjelaskan pengolahan bahan-bahan makanan. e. Mendjelaskan distribusinja.
f. Mendjelaskan tenaga jang tersedia (djenis, djumlahnja) g. Kesimpulan atas a s/d f.
2. MENJELASKAN KEADAAN JANG MENDJADI TUDJUAN, DAN SUPAJA DITETAPKAN:
a. I. Tahun jang didjadikan target mulai selfsupporting.
II. Beberapa produksi jang ditudju dalam tahun itu, beserta dasar perhitungannja. b. Mendjelaskan kemungkinan penambahan produksi berdasarkan keadaan
sekarang dengan menjebut djumlah tambahan produksi.
c. Mendjelaskan djalan-djalan baru untuk tambahan produksi diser-tai biaja untuk djalan baru tersebut. Dalam hal ini djuga ke-mungkinan dengan djalan menggiatkan industri rumah tangga.
d. Mendjelaskan tempat-tempat dimana dilakukan tindakan-tindakan. e. Mendjelaskan peranan Pemerintah Pusat/pemerintah Daerah/Swasta. f. Mendjelaskan tenaga jang harus disediakan dan matjamnja.
g. Penilikan (research) jang harus dilakukan. h. Perbandingan dengan pengalaman diluar negeri.
i. Perentjanaan tahun-tahun 1961, 1962, 1963, 1964, 1965.
I. Rentjana Usaha.
II. Biaja Usaha (rupiah dan devisen). III. Hasil Usaha.
IV. Tenaga-tenaga jang diperlukan (djenisnja, djumlahnja).
V. Saran-saran dilapangan perdagangan (pengumpulan dan dis-tribusi). VI. Hal-hal lain jang dianggap seksi perlu.
3. TJARA PENJUSUNAN LAPORAN.
a. Seksi menundjuk suatu Komisi Redaksi jang terdiri dari tiga orang anggauta jang diberi tugas menjusun laporan Seksi.
b. Laporan seksi disusun sedemikian rupa hingga djelas:
1. U m u m .
2. Gambaran keadaan sekarang. 3. Gambaran keadaan jang diingini.
4. Rentjana usaha untuk mentjapai keadaan, disertai schema dari tahun-ketahun 1961 – 1966 mengenai biaja investasi jang diperlukan.
5. Keuntungan jang akan ditjapai. 6. Saran-saran lain.
SUSUNAN SEKSI
Ketua : Dr. Hadjidharmo Tjokronegoro. Wakil Ketua : Prof. Dr. Poerwo Soedarmo.
Anggauta2 : 1. Mr. Sudarisman Poerwokoesoemo. 2. Ruslan Widjajasastra.
3. Lahmuddin Dalimunthe. 4. Letkol. R.A. Rachman. 5. Drs. Imam Pratignjo. 6. F. Runturambi. 7. Semaun. 8. Supranoto. 9. Munasir. 10. Wikana.
Sekretaris : Drs. Saidus Sjahar.
Seksi Industri Pangan mengadakan rapat-rapatnja di Bandung. A. Hari Sabtu tanggal 5 Desember 1959 s/d hari Rabu tanggal
16-12-1959.
B. Hari Senin tanggal 11-1-1960 s/d hari Selasa 12-1-1960. C. Hari Kamis tanggal 25-2-1960 s/d hari sabtu tanggal
27-2-1960.
SUSUNAN SUB-SUB SEKSI.
I. 1. Dr. Hadjidharmo Tjokronegoro Ketua 2. Wikana
3. Moenasir
4. Mr. Soedarisman Poerwokoesoemo
Tugas : Membahas tugas-tugas Seksi mengenai produksi bahan makanan nabati.
II. 1. Prof. Dr. Poerwo Soedarmo Ketua
2. Drs. Imam pratignja 3. Soepranoto
4. Ruslan Widjajasastra
tugas : Membahas bahan makanan Chewani.
III. 1. F. Runturambi Ketua
2. Semaun
3. Lahmuddin Dalimunthe 4. Let.Kol. A. Rahman
Tugas : mengenai produksi gula, minjak kelapa, garam, mi-njak tanah dan rokok dan tembakau, tjengkeh kertas sigaret.
KEGIATAN-KEGIATAN/USAHA-USAHA SUB-SUB SEKSI.
Dalam sidang seksi tanggal 12 Djanuari 1960 malam memutuskan untuk:
Melandjutkan pekerdjaan kelompok-kelompok kerdja sebagai berikut: A. I. Kelompok kerdja I mengadakan rapatnja di Solo dari
tanggal 27 s/d 30 Djanuari 1960.
Rabu 27 Djanuari 1960 djam 09.00 – 13.00 Malam 23.00 – 20.00 ״
Kamis 28 Djanuari 1960 13.00 – 09.00 ״
Malam 23.00 – 20.00 ״
Djum’at 29 Djanuari 1960 13.00 – 09.00 ״
Malam 23.00 – 20.00 ״
Sabtu 30 Djanuari 1960 11.00 – 09.00 ״
II. Kamis 25 Pebruari 1960 13.00 – 09.00 ״
Djum’at 26 Pebruari 23.00 – 20.00 ״
B. I. Kelompok kerdja II, mengadakan rapatnja di Djakarta. Tanggal 15 Djanuari 1960 di Departemen Pertanian. 1960 ״ 21 ״ Rapat Sub Seksi
״ ״ ״ 1960 ״ 28 ״
4 ״ Pebruari 1960 ״ ״ ״
4 ״ Pebruari 1960 ״ ״ ״
II. Tanggal 25 Pebruari 1960 mengadakan penindjau-an ke Lembaga Virus dpenindjau-an Balai penjelidikpenindjau-an Perikpenindjau-anpenindjau-an Darat di Bogor.
C. Kelompok kerdja III mengadakan 6 hari rapat-rapatnja di Djakarta.
Mulai tanggal 18 Djanuari 1960 s/d 15 Pebruari 1960 di Se-kretariat Bapekan dan dua kali dari tanggal 25 s/d 26 Pebruari 1960.
Pada rapat ……..
-Pada rapat Seksi tanggal 27 Pebruari 1960 dibentuklah Panitia jang bertugas membuat laporan jang berdasar pada laporan-laporan sub-sub Seksi jang sudah disjahkan dalam rapat tersebut jang ter-diri dari:
1. Dr. Hadjidharmo Tjokronegoro
2. Prof. Dr. Poerwo Soedarmo
3. F. Runturambi
dibantu oleh Sekretaris Seksi.
Panitia mulai bekerdja setelah rapat 27 Pebruari 1960 s/d Selasa pagi tanggal 1 Maret 1960 di Bandung. Pada Selasa malam tanggal 1 Maret 1960 diteruskan di Djakarta sampai dengan Minggu tanggal 6 Maret 1960.
BAB I
U M U M
Bangsa Indonesia dengan tekad jang bulat telah membuktikan pe-ngorbanan jang ikhlas untuk mentjapai kemerdekaannja jang sedjak 17 Agustus 1945 telah dapat merebut kekuasaan politik dari bangsa Belanda.
Sampai sekarang sudah hampir 15 tahun Bangsa Indonesia berdju-ang mengconsolider dan memperkuat kedudukannja dengan berusaha se-kuat-kuatnja, mengatasi segala rintangan dalam negeri baikpun dari luar negeri.
Walaupun revolusi belum selesai, namun sudah lama dirasakan, bahwa kemerdekaan dan kedudukan politik jang sudah tjukup kuat itu, haruslah segera dapat memberikan perbaikan terhadap rakjat Indonesia dilapangan sosial ekonomis. Rakjat harus segera dibebaskan dari be-lenggu kemelaratan dan kemiskinan/taraf hidup jang rendah, baik se-bagai akibat pendjadjahan jang lama ataupun akibat jang tak boleh tidak dari setiap bangsa jang berdjuang dan berkorban.
Pembebasan rakjat dari kemelaratan dan kemiskinan bukan sadja dapat dilihat sebagai tudjuan revolusi, untuk mentjiptakan masjara-kat jang adil dan makmur, tetapi djuga dilihat sebagai pangkal ber-tolak untuk mewudjutkan masjarakat jang kuat dan agung, untuk tetap dapat mempertahankan kemerdekaannja dan mengembangkan kepribadian hingga dapat memberikan sumbangan jang berarti bagi umat manusia.
Untuk mentjapai masjarakat jang makmur itu, bagi Indonesia per-lu diadakan suatu “Rentjana Pembangunan Semesta” jang terpimpin berdasarkan perhitungan dan pertimbangan2 jang seba lengkap dan semesta pula, sehingga rentjana tersebut dapat dipertanggung dja-wabkan setjara teoritis dan pelaksanaan jang terdjamin dan praktis. Oleh karena itu dasar pokok untuk mengedjar kemakmuran jang relative lebih tinggi haruslah dimulai dengan melengkapi persediaan
bahan-bahan kebutuhan pokok sehari-hari dari rakjat jaitu bahan makanan dan pakaian/Sandang Pangan.
Dalam periode pembangunan 5 tahun ini (1961 – 1965) perioritet pertama harus diletakkan pada produksi bahan makanan rakjat jang tjukup, dapat dipakai oleh daja beli rakjat dan sampainja dita-ngan rakjat tepat pada waktu jang dibutuhkannja.
Seksi “Industri Pangan” Depernas bertugas dalam lapangan pe-rentjana Persediaan bahan makanan jang tjukup dan murah dan menja-rankan pada seksi-seksi lain terutama seksi distribusi untuk men-djamin penjebaran/pembagian bahan makanan jang sehat.
Seksi Pangan didalam merentjanakan Produksi pangan mendasar-kan rentjana ini atas 3 hal jaitu:
A. 10 prinsipe pokok jang telah disetudjui oleh Seksi. B. Angka kenaikan djumlah penduduk jang tertentu.
C. Penetapan persentase kenaikan produksi jang tertentu tiap ta-hun, jang sesuai dengan perkembangan djumlah penduduk.
A. 10 prinsipe pokok jang telah disetudjui oleh Seksi.
1. Tudjuan kearah taraf kehidupan jang sempurna ditjapai se-tjara bertingkat-tingkat, dalam hal ini selfsupporting dalam keperluannja minimum pangan merupakan tingkat per-tama.
Keterangan: a. Produksi beras harus mentjapai selfsup-porting selekas-lekasnja.
b. Demikian djuga produksi protein chewani.
2. Harus ada persesuaian paham antara Depernas dengan Peme-rintah mengenai djumlah dan perkembangan penduduk, djuga dalam hal djumlah tanah jang tersedia bagi persawahan per-kebunan kehutanan dan sebagainja.
Keterangan : Seksi Pangan menetapkan angka-angka jang ter-tentu mengenai djumlah penduduk dan kenaikan penduduk tiap tahun berdasarkan angka-angka jang tertjantum dalam buku statistik, Statis-tical Pocketbook of Indonesia” tahun 1958. Sebagai pangkal bertolak diambil djumlah pen-duduk dari tahun 1957, jaitu sebesai 86.300.000 (buku statistik hal 11).
Sebagai angka tambahan penduduk ditetapkan 1,7% untuk tiap tahun. Dasar perhitungannja adalah sebagai berikut: dalam halaman 13 bu-ku statistik ditjantumkan angka-angka kema-tian dan kelahiran untuk 15 daerah Swatantra tingkat II dalam djangka waktu 5 tahun (1953 s/d 1957). Dari angka-angka ke-matian dan kelahiran ini dapat ditetapkan
persentase tambahan penduduk untuk tiap tahun. Untuk tahun 1957 angka rata-rata tambahan pen-duduk adalah 1.768% Seksi Pangan memutuskan se-bagai angka kenaikan penduduk tiap tahun untuk djangka nokta 5 tahun pertama jang akan datang ini 1,7% dengan perhitungan, bahwa dengan naiknja taraf hidup dan berkembangnja kebudajaan, teru-tama dikalangan rakjat tani angka kelahiran akan menurun, sedangkan angka kematian belum terpe-ngaruhi.
3. Minimum requirement jang diperhitungkan oleh Lembaga Makanan Rakjat (rata-rata penduduk/19.000 kalori, protein 47,15 ter-masuk 7,90 gram protein chewani), diadjukan sebagai antjer-an-tjer usaha perlengkapan kekurangan protein diberikan prioritet. Suatu penjelidikan gizi nasional pada waktu jang tertentu untuk menilaikan perbandingan antara produksi bahan makanan konsumsi dan kesehatan penduduk.
Keterangan: Angka-angka keperluan minimum jang paling baru se-perti telah ditetapkan oleh Lembaga Makanan Rakjat adalah: rata-rata berat badan dari penduduk Indone-sia ada 34 kg dan memerlukan tiap hari 1900 kalori dan 47,15 protein, terdiri dari 39,25 gram protein nabati dan 7,9 gram protein chewani. Protein seba-njak 47,15 menghasilkan 188 kalori. Kekurangan akan kalori (1900 – 188 = 1711,40) diperoleh dari zat te-pung dan lemak dalam makanan. Setjara praktis tjukup-lah keperluan tubuh disebutkan hanja dalam kalori dan protein. Dalam hal mineral dan vitamin, selain jang telah terdapat dalam makanan jang menghasilkan kalori dan protein, keperluan mudah dipenuhi dengan sajuran dan buah-buahan (lihat lampiran) ……: “Per-baikan makanan oleh prof. Purwosudarmo”
4. Sumber-sumber sendiri berupa tenaga massa rakjat, bahan-bahan, alat-alat dan daja tjipta serta skill jang telah ada pada rak-jat hendak diutamakan dalam planning. Penjelidikan untuk sum-ber-sumber ini didjalankan dengan sadar. Harus ada kesunggu-han didalam pikiran untuk mendjalankan pembangunan ini sedapat mungkin dengan tenaga dan sumber sendiri.
Keterangan: disarankan supaja dalam rentjana pembangunan di-adakan research mengenai faktor-faktor jang telah ter-sedia, sehingga pembangunan didasarkan atas tenaga-tenaga dan sumber-sumber jang ada dengan tidak atau
hanja ………..
-sebagian jang paling perlu menggantungkan kepa-da import.
Sebagai Tjontoh misalnja: import patjul.
- sekian ribu untuk sentra padi, dengan tidak di-dasarkan atas produksi patjul dalam negeri dan alat-alat pertanian lainnja dalam negeri.
- Pembuatan pupuk kompos setjara massal dan ter-atur oleh rakjat tani, hingga dapat mengurangi import pupuk kimia.
5. Berbagai daerah jang telah membuktikan sangat tepat untuk menghasilkan misalnja ternak (Sumba), karet (Sumatera), kop-ra (Sulawesi), dalam hal memenuhi hal mana akan atau kebutuhan lain diusahakan sematjam inter-insulair barter antara pulau-pulau ini dengan misalnja Djawa sebagai produsen beras dan Kalimantan sebagai produsen ikan. Dalam hal ini diperhatikan hasil penjelidikan Lembaga Penjelidikan Tanah.
Seterusnja berhubung dengan soal pertahanan dan soal trans-port jang masih kurang harus pula dipikirkan pembentukan kesa-tuan ekonomi jang terdiri atas kelompok-kelompok pulau.
Keterangan: Dengan adanja kerdja sama antara kelompok-kelom-pok pulau ini jang merupakan unit-unit agronomical ini dapat pula memudahkan pemetjahan soal perta-hanan dan pengangkutan.
6. Transmigrasi jang antara lain diperlukan pula dalam persoalan perbaikan dilaksanakan dengan tudjuan membangunkan masjara-kat progresip.
Keterangan: Transmigrasi dilaksanakan bukan sadja untuk mem-perbesar produksi dibidang pertanian, melainkan djuga dibidang pembangunan, perindustrian dan pertambangan dan dibidang pertahanan diluar Djawa.
7. Setjara massal, kaum tani ikut sertakan dalam pembangunan de-ngan mempergunakan skill-skill jang telah ada.
Keterangan: Supaja tenaga rakjat jang ada dibimbing kearah tingkat jang mempertinggi ketjakapannja, misal-nja dibidang:
a. memperbaiki mutu dan memudahkan pengeringan ikan air tawar dengan suatu alat kompor jang mudah dalam pemakaiannja dan dengan harga da-lam kemungkinan daja beli rakjat, sehingga pengeringan tidak hanja tergantung kepada garam dan sinar matahari.
b. penjemurnaan …….
-b. penjempurnaan tjara penanaman tanah dengan la-rikan.
c. penanaman pekarangan sajur-sajuran dan pohon-pohon buah-buahan dan tanaman-tanaman lain jang berfaedah untuk penghasilan rakjat.
d. pengolahan kaju.
e. Pembuatan pupuk kompost.
8. Ahli-ahli pemikir, penjelidik, pentjipta dan jang telah ber-daja hendaknja diberikan bimbingan jang djelas.
9. Barang-barang jang tidak vital dihentikan importnja untuk sementara waktu dan barang-barang lain jang dapat dibuat di-dalam negeri diperkembangkan produksinja.
Keterangan: Barang jang tidak vital, termasuk barang-barang mewah dihentikan importnja untuk sementara wak-tu.
Barang-barang lain jang tidak vital jang da-pat diproduksi dalam negeri importnja djuga di-hentikan, misalnja antara lain: tjengkeh. Dengan djalan ini prpoduksi tjengkeh dalam negeri akan berkembang dengan lebih tjepat.
Dengan penghentian import barang-barang jang tidak vital, devisen dapat digunakan untuk meng-import barang-barang jang sangat berharga bagi pembangunan industri kita.
10. Seksi Industri Pangan berpendapat, bahwa rentjana pembangunan untuk menutup kebutuhan minimum akan bahan-bahan makanan terutama jang mengenai produksi zat telur nabati dan chewani harus didasarkan atas sjarat-sjarat:
- harus ditjapai dalam waktu jang sesingkat-singkatnja
- harus ditjapai dengan biaja jang seringan-ringannja menge-nai biaja rupiah, lebih-lebih lagi mengemenge-nai devisen
- rentjana untuk menutup keperluan minimum akan bahan maka-nan ini harus diberi prioritet atas rentjana-rentjana lain.
- setelah tudjuan ini tertjapai, barulah rentjana-rentjana pembangunan semesta lainnja diberi perhatian sepenuhnja. B. Angka kenaikan djumlah penduduk jang tertentu.
Sebagai pangkal pokok perhitungan digunakan angka da-lam Buku Statistik (Hal. 11) mengenai djumlah penduduk Indonesia untuk tahun 1957, jaitu 86.300.000.
Berdasarkan ini dan djumlah presentase kenaikan djumlah penduduk sebanjak 1,7% jang telah ditetapkan oleh Seksi
Pa-ngan, maka ……..
-ngan, maka djumlah penduduk adalah sebagai berikut:
Tahun 1958 ………. Dibulatkan 87.760.000 ״ .……… 1959 ״ 89.250.000 ״ .……… 1960 ״ 90.770.000 ״ .……… 1961 ״ 92.310.000 ״ .……… 1962 ״ 93.880.000 ״ .……… 1963 ״ 95.475.000 ״ .……… 1964 ״ 97.100.000 ״ .……… 1965 ״ 98.750.000 ״ .……… 1966 ״ 100.420.000 C. Penetapan persentase penambahan produksi tiap tahun.
Berdasarkan angka-angka persentase kenaikan djumlah pen-duduk untuk tiap tahun sebanjak 1,7% oleh Seksi pangan di-tetapkan 2% sebagai angka tambahan produksi bahan-bahan maka-nan, dengan alasan bahwa demikian pergeseran angka persentase keatas (lebih dari 1,7%) sudah dapat ditampung. Kalau ternja-ta kelak, bahwa angka persenternja-tase kenaikan ini ada kurang da-ri 1,7% maka kelihatan produksi bahan makanan ini dapat di-gunakan sebagai “ijseren stock”.
Untuk konsumsi minjak tanah diambil sebagai tambahan 10% tiap tahun, karena konsumsi minjak tanah akan bertambah djuga kare-na perkembangan pemakaian.
BAB II
GAMBARAN KEADAAN SEKARANG (TAHUN 1958) MENURUT DJENIS DAN NILAI UANGNJA
Produksi dari beberapa djenis bahan pada waktu sekarang, ber-dasarkan angka-angka pemerintah jang resmi adalah:
A. Untuk bahan makanan nabati.
Beras, kedelai, djagung, katjang tanah, ketela pohon, ketela ram-bat, katjang hidjau, katjang merah adalah sebagai berikut:
Beras (angka-angka dikutif dari Lampiran djawaban Sdr. Menteri Inti Produksi kepada pertanjaan Depernas, Daftar No. 4).
LUAS PANEN, PRODUKSI PADI DAN NILAI PRODUKSI DALAM TAHUN 1 9 5 8
DJUMLAH PADI
Propinsi ---NILAI DALAM RUPIAH
Propinsi Panen DJUMLAH PADI NILAI DALAM Rp. x 1000 ha
Produksi padi kering
x 1000 ton
Rata2 qt/ha
Djawa Barat 1.648 3.461 21,00 10.141.300.000
Kotapradja Dja-karta Raya
21 36 17,66
---Djawa Tengah 1.324 2.730 20,60 7.917.000.000
D. I. Jogjakarta 118 222 18,95 643.800.000
Djawa Timur 1.278 3.128 24,46 9.071.200.000
Djawa Madura 4.389 9.577 21,82 27.773.300.000
A t j e h 162 431 26,46 1.249.900.000
Sumatera Utara 349 849 24,36 2.462.100.000
Sumatera Barat 165 506 30,57 1.467.400.000
D j a m b i 60 162 27,24 362.500.000
R i a u 66 125 18,95 469.800.000
Sumatera Selatan 346 833 24,10 2.415.700.000
S u m a t e r a 1.148 2.906 25,31 8.427.400.000
Kalimantan Barat 235 318 13,55 922.200.000
Kalimantan Tengah 86 75 8,80 217.500.000
Kalimantan Selatan 192 353 18,37 1.023.700.000
Kalimantan Timur 51 77 15,17 223.300.000
Kalimantan 564 823 14,61 2.386.700.000
Sulawesi 377 848 22,52 2.459.200.000
Nusa Tenggara 435 952 21,87 2.760.800.000
M a l u k u 3 2 7,05 5.800.000
Irian Barat 1 0.5 5,86 1.500.000
INDONESIA 6.917 15.108 21,84 43.813.200.000
Kesimpulan2 mengenai produksi beras
Perbandingan antara padi kering dan beras adalah : 2 : 1
1. Produksi rata2 tiap HA di Djawa/ Madura untuk padi sawah dan padi ladang ada lebih rendah dari pada diluar Djawa, jaitu:
Djawa/Madura Luar Djawa
- padi sawah kering : 22,47 qt/HA 26,13 qt/HA - padi ladang kering : 11,71 qt/HA 13,08 qt/HA
2. Luas panen padi sawah, produksi padi (kering) dan produksi beras Djawa/Madura
Djawa/Madura Luar Djawa Indonesia
- luas panen : 4.124.000 HA 1.705.000 HA 5.829.000 HA - produksi padi kering : 9.266.000 ton 4.558.000 ton 13.724.000 ton - produksi beras : 4.633.000 ton 2.229.000 ton 6.862.000 ton 3. Luas panen padi ladang, produksi padi (kering) dan produksi beras
Djawa/Madura Luar Djawa Indonesia
- luas panen : 2.265.000 HA 827.000 HA 1.088.000 HA - produksi padi kering : 311.000 ton 1.074.500 ton 1.385.500 ton - produksi beras : 155.500 ton 537.250 ton 692.750 ton 4. Luas panen padi sawah dan padi ladang, produksi padi (kering) dan
produksi beras diseluruh Indonesia - Luas panen padi sawah dan
padi ladang : 5.829.000 + 1.088.000 = 6.917.000 HA - produksi padi (kering) : 13.724.000 + 1.385.500 = 15.109.500 ton - produksi beras : 6.862.000 + 692.750 = 7.554.750 ton 5. pemakaian beras per capita tiap tahun dan tiap hari, berdasarkan
produksi ini
Berdasarkan produksi beras diseluruh Indonesia dalam tahun 1958 se-banjak 7.554.750 ton dan djumlah penduduk sebesar 87.760.000, maka pemakaian beras per capita/tahun adalah hanja 7.554.750.000 Kg : 87.760.000 = 85.97 Kg, dibulatkan 86 Kg. Ini berarti, bahwa pemakaian per capita/hari adalah 86.000 gram : 365 = 236 gram.
II. Produksi KEDELAI dan nilai produksinja dalam tahun 1958
a. Produksi Kedelai (Angka2 dikutip dari “Djawaban sdr. Menteri Inti Produksi” kepada pertanjaan Depernas, Lampiran III Daftar no.5)
b. Nilai uangnja (Angka2 dikutip dari Daftar Departemen Pertanian: Nilai produksi kedelai dalam tahun 1958, hal. 3)
Luas Panen dan Produksi kedelai serta nilai produksi dalam tahun 1958
Propinsi Panen
x 1000
Produksi Rata2 qt/ha
Nilai dalam Rp.
Djawa Barat 27 19 6,95 117.800.000
Djawa Tengah 140 83 5,92 514.600.000
D.I. Jogja 23 15 6,54 93.000.000
Djawa Timur 343 255 7,45 1.581.000.000
Djawa/Madura 533 372 6,98 2.306.400.000
Propinsi Panen x 1000
Produksi Rata2 qt/ha
Nilai dalam Rp.
A t j e h 1,3 0,8 5,98 4.960.000
Sumatera Utara 7 5,3 7,54 32.860.000
Sumatera Barat 0,3 0,2 6,99 1.240.000
Sumatera Selatan 8,4 6,6 7,90 40.920.000
SUMATERA 17,0 12,9 7,59 79.980.000
Kalimantan Barat 0,6 0,4 6,43 2.480.000
Kalimantan Selatan 0,6 0,2 7,86 1.240.000
Kalimantan Timur 0,6 0,5 7,18 3.100.000
KALIMANTAN 1,4 1,1 6,96 6.820.000
SULAWESI 1,3 0,9 6,62 5.580.000
NUSA TENGGARA 91,7 34,4 6,65 213.280.000
INDONESIA 604,4 421,3 6,97 2.612.060.000
Kesimpulan2 mengenai produksi kedelai
1. Produksi rata2 tiap HA di Djawa/Madura untuk kedelai (6,98 qt/HA wose kering) lebih tinggi daripada diluar Djawa (6,80 qt/HA wose kering)
2. Luas panen kedelai di Djawa/Madura (553.000 HA) ada djauh lebih tinggi daripada diluar Djawa (71.400 HA).
3. Produksi kedelai (wose kering) di Djawa/Madura ada 372.000 ton dan diluar Djawa ada 49,3 ton.
4. Pemakaian kedelai per capita tiap tahun dan tiap hari, berdasarkan produksi ini.
Berdasarkan produksi kedelai diseluruh Indonesia dalam tahun 1958 sebanjak 421,3 ton dan djumlah penduduk sebesar 87.760.000, maka pemakaian kedelai per capita/tahun adalah:
421.300.000 Kg : 87.760.000 = 4,8 Kg dan per capita/hari : 4.8000 gr : 365 = 13 gram.
III. Produksi DJAGUNG dan nilai produksinja dalam tahun 1958
a. Produksi djagung (Angka2 dikutip dari “Djawaban sdr. Menteri Inti Produksi kepada pertanjaan2 Depernas, Lampiran III Daftar No. 5)
b. Nilai uangnja (Angka2 dikutip dari Daftar Departemen Pertanian: Nilai produksi djagung dalam tahun 1958)
LUAS PANEN DAN PRODUKSI DJAGUNG SERTA NILAI PRODUKSINJA TH. 1958
P r o p i n s i
DJAGUNG
NILAI DALAM Rp. Panen
x 1000 ha
Produksi pipilan kering x 1000 ton
Rata2 qt/ha
Djawa Barat 87 87 87 349.600.000
Kotapradja Djakarta 0,5 0,5 11,16
---Djawa Tengah 713 768 10,77 2.918.400.000
D. I. Jogjakarta 32 26 8,21 98.800.000
Djawa Timur 1.274 1.103 8,66 4.191.400.000
Djawa Madura 2.106,5 1.984,5 9,42 7.558.200.000
A t j e h 2 1,1 5,91 4.180.000
Sumatera Utara 16,7 16,8 10,08 63.840.000
Sumatera Barat 3 2,8 9,00 10.640.000
D j a m b i 4,6 3,7 8,00 14.060.000
R i a u 1,7 1,6 8,98 6.080.000
Sumatera Selatan 23,3 24,8 10,63 94.240.000
S u m a t e r a 51,3 50,8 9,89 193.040.000
Kalimantan Barat 13,4 11 8,14 41.800.000
Kalimantan Tengah 2 1,7 8,09 6.460.000
Kalimantan Selatan 2,7 2,2 8,05 8.360.000
Kalimantan Timur 3,6 3,3 9,23 12.540.000
Kalimantan 21,7 18,2 8,30 69.160.000
Sulawesi 206,5 162,2 8,00 616.360.000
Nusa Tenggara 7 5,9 8,44 22.420.000
M a l u k u 0,6 0,7 11,47 2.660.000
Irian Barat 343,1 393,2 11,46 1.494.160.000
INDONESIA 2.736,7 2.617,5 9,57 9.956.000.000
Kesimpulan2 mengenai produksi djagung
a. Produksi rata2 tiap HA di Djawa/Madura untuk djagung (9,42 qt/HA pipilan kering ada lebih rendah daripada diluar Djawa (10,06 qt/HA pipilan kering).
b. Luas panen djagung di Djawa/Madura (2.106.500 HA) ada lebih tinggi daripada diluar Djawa (630.200 HA).
c. Produksi djagung (pipilan kering) di Djawa/Madura ada 1.984.500 365 = 81,3 gram, dibulatkan = 81 gram.
IV. Produksi KATJANG TANAH dan nilai produksinja dalam tahun 1958
a. Produksi katjang tanah (Angka2 dikutip dari “Djawaban sdr. Menteri Inti Produksi kepada pertanjaan2 Depernas, Lampiran III Daftar No. 5)
b. Nilai uangnja (Angka2 dikutip dari Daftar Departemen Pertanian: Nilai produksi katjang tanah dalam tahun 1958)
LUAS PANEN DAN PRODUKSI KATJANG TANAH SERTA NILAI PRODUKSINJA TH. 1958
D. I. Jogjakarta 12 8 6,51 69.600.000
Kesimpulan2 mengenai produksi katjang tanah
a. Produksi rata2 tiap HA di Djawa/Madura untuk katjang tanah (6,85 qt/HA wose kering) lebih rendah daripada diluar Djawa (7,42 qt/HA wose kering)
b. Luas panen katjang tanah di Djawa/Madura (553.000 HA) ada lebih tinggi daripada diluar Djawa (48.000 HA).
c. Produksi katjang tanah (wose kering) di Djawa/Madura ada 195.000 ton dan diluar Djawa ada 35.550 ton.
d. Pemakaian katjang tanah rata2 per capita tiap tahun dan tiap ha-ri, berdasarkan produksi ini. Berdasarkan produksi katjang tanah diseluruh Indonesia dalam tahun 1958 sebanjak 230.500 ton dan djumlah penduduk sebesar 87.760.000, maka pemakaian katjang tanah per capita/tahun adalah 230.000.000 : 87.760.000 = 26,2 Kg dan per capita hari = 26200 gr : 365 = 71,8 gram, dibulatkan 72 gram.
V. Produksi KETELLA POHON dan nilai produksinja dalam tahun 1958
Produksi ketella pohon (Angka2 dikutip dari Daftar Departemen Pertanian : Produksi/Nilai produksi ketela pohon hal. 7)
Daftar: Produksi/nilai produksi ketela pohon dalam tahun 1985
Propinsi Luas (ha) Hasil ubi basah (ton)
Nilai dalam Rp.
Djawa Barat 239.000 2.047.000 1.719.480.000
Djawa Tengah 385.000 2.883.000 2.421.720.000
D.I. Jogja 46.000 211.000 177.240.000
Djawa Timur 405.000 2.899.000 2.435.160.000
Djawa/Madura 1.075.000 8.040.000 6.753.600.000
A t j e h 1.300 40.300 33.852.000
Sumatera Utara 12.800 136.000 114.240.000
Sumatera Barat 3.900 124.700 104.748.000
R i a u 1.600 47.500 39.900.000
D j a m b i 2.500 14.800 12.432.000
Sumatera Selatan 34.700 547.400 459.816.000
SUMATERA 56.800 910.700 764.988.000
Kalimantan Barat 28.600 278.700 234.108.000
Kalimantan Tengah 13.000 169.000 141.960.000
Kalimantan Selatan 4.100 31.200 26.208.000
Kalimantan Timur 6.000 47.700 40.068.000
KALIMANTAN 51.700 526.600 442.344.000
SULAWESI 47.000 270.000 226.800.000
NUSA TENGGARA 80.300 979.000 822.360.000
MALUKU 4.500 45.000 37.800.000
IRIAN BARAT 160 1.600 1.344.000
INDONESIA 1.315.500 10.972.900 9.217.236.000
Kesimpulan2 mengenai produksi ketela pohon
a. Produksi rata2 tiap HA di Djawa/Madura untuk ketella pohon (k.l. 75 qt/HA ubi basah),
b. Luas panen ketella pohon di Djawa/Madura (k.l. 11,56 qt/HA ubi basah) ada lebih
tinggi daripada diluar Djawa (240.000 HA).
c. Produksi ketella pohon (ubi basah) di Djawa/Madura ada 8.040.000 ton dan diluar Djawa ada (240.000 HA).
d. Pemakaian ketella pohon rata2 per capita tiap tahun dan tiap hari berdasarkan produksi ini. Berdasarkan produksi ketella pohon ini diseluruh Indonesia dalam tahun 1958 sebanjak 10.872.000 ton dan djumlah penduduk sebesar 87.760.000, maka pemakaian ketella pohon per capita/tahun adalah 10.872.000.000 : 87.760.000 = 123,88 Kg dan per capita hari = 339 gram.
VI. Produksi ketella rambat dan nilai produksinja dalam tahun 1958
Produksi dan nilai produksi ketella rambat (angka2 dikutip dari Departemen Pertanian : Produksi/nilai produksi ketela rambat hal. 8)
Daftar: Produksi/nilai produksi ketela pohon dalam tahun 1985
Propinsi Luas (ha) Ubi basah
(ton)
Nilai dalam Rp.
Djawa Barat 112.000 592.000 556.480.000
Djawa Tengah 101.000 592.000 556.480.000
D.I. Jogja 5.000 28.000 26.320.000
Djawa Timur 85.000 534.000 501.960.000
Djawa/Madura 303.000 1.746.000 1.611.240.000
A t j e h 1.000 10.100 9.494.000
Sumatera Utara 22.600 224.300 210.842.000
Sumatera Barat 2.800 37.300 35.062.000
R i a u 600 3.300 3.102.000
D j a m b i 1.000 4.900 4.606.000
Sumatera Selatan 9.000 51.000 47.940.000
SUMATERA 37.000 330.900 311.046.000
Kalimantan Barat 2.500 19.700 18.518.000
Kalimantan Tengah 900 3.500 3.290.000
Kalimantan Selatan 1.700 9.600 9.024.000
Kalimantan Timur 1.400 8.600 47.940.000
KALIMANTAN 6.500 41.400 38.916.000
SULAWESI 15.000 75.000 70.500.000
NUSA TENGGARA 65.700 595.000 559.300.000
MALUKU 2.600 20.600 19.364.000
INDONESIA 429.800 1.062.900 2.640.366.000
Kesimpulan2 mengenai produksi ketela rambat
a. Produksi rata2 16 HA di Djawa/Madura untuk ketella rambat (kurang lebih 57,6 qt/HA) ada lebih rendah daripada diluar Djawa (84 qt/ha ubi basah)
b. Luas panen ketella rambat di Djawa/Madura (303.000 ha) ada lebih tinggi daripada luar Djawa (126.800 HA).
c. Produksi ketella rambat di Djawa/Madura ada 1.746.000 ton ubi basah, diluar Djawa ada 1.062.900 ton. Di Indonesia ada 2.808.900 ton. d. Pemakaian ketella rambat rata2 per capita tiap tahun dan tiap hari
berdasarkan produksi ini. Berdasarkan produksi ketella rambat di Indonesia dan tahun 1958 sebanjak 2.808.900 ton dan djumlah pen-duduk sebesar 87.760.000, maka pemakaian ketella rambat per capita/ tahun = 2.808.900.000 kg : 87.760.000 = 32,1 Kg dibulatkan 32 Kg dan per capita/hari = 32.000 gr : 365 = 88 gram.
VII. Produksi katjang hidjau dan nilai produksinja dalam tahun 1958
Produksi dan nilai. Produksi katjang hidjau (angka2 dikutip dari Departemen Pertanian : Produksi/Nilai produksi katjang hidjau hal. 5)
Daftar: Produksi/nilai produksi katjang hidjau dalam tahun 1985
Propinsi Luas (ha) Hasil (ton) Nilai dalam Rp.
Djawa Barat 54.771.575 26.250.950 179.031.479
Djawa Tengah 52.390.598 25.199.900 146.915.417
D.I. Jogja 310.804 149.500 759.460
Djawa Timur 81.871.699 39.380.300 222.892.498
DJAWA/MADURA 189.144.676 90.980.650 549.598.854
SULAWESI 15.845 77.900 52.851
NUSA TENGGARA 29.577 14.800 78.884
INDONESIA 189.190.098 91.003.350 549.730.589
Kesimpulan2 mengenai produksi………
-Kesimpulan2 mengenai produksi katjang hidjau
a. Katjang hidjau diluar Djawa/Madura hanja ditanam di Sulawesi dan Nusa Tenggara; di Sumatera dan Kalimantan dan Maluku tidak.
b. Produksi rata2 tiap ha di Djawa dan Madura (50,2 qt/ha) ada lebih tinggi daripada diluar Djawa (k.l. 50 qt/ha)
c. Luas panen katjang di Djawa/Madura (189.144,676 ha) ada lebih tinggi daripada diluar Djawa (45.422 ha).
d. Produksi katjang hidjau di Djawa/Madura ada 90.980,65 ton dan di luar Djawa ada 22.700 ton.
e. Tidak diambil kesimpulan mengenai pemakaiannja, sebab di Kalimantan Sumatera dan Maluku tidak ditanam dan pada umum-nja tidak dianggap sebagai makanan pokok.
VIII. Produksi katjang merah dan nilai produksinja dalam tahun 1958
Produksi dan nilai produksi ada sebagai berikut (angka2 dikutip dari Departemen Pertanian : Produksi/Nilai produksi katjang merah hal. 6)
Daftar: Produksi/nilai produksi katjang merah dalam tahun 1985
Propinsi Luas (ha) Hasil (ton) Nilai dalam Rp.
Djawa Barat 4.613,1 3.221,4 26.479.908
I N D O N E S I A 4.613,1 3.221,4 26.479.908
Kesimpulan mengenai produksi katjang merah.
a. penanamannja di Indonesia hanja terbatas di produksi Djawa Barat sadja. b. Tidak mempunjai arti sebagai bahan makanan pokok.
Rekapitulasi mengenai Konsumsi bahan2 makanan nabati berdasarkan produksi sekarang :
Beras, kedelai, djagung, katjang tanah, ketella pohon, ketella rambat, katjang hidjau, katjang merah dalam tahun 1958 :
1. Produksi beras dalam tahun 1958 memberi makan rata2 per capita/hari sebanjak 236 gram dan per capita/tahun sebanjak 86 Kg.
2. Produksi kedelai dalam tahun 1958 memberi makan rata2 per capita/hari sebanjak 13 gram, dan per capita/tahun sebanjak 4,8 Kg.
3. Produksi djagung dalam tahun 1958 memberi makan rata2 per ca-pita/hari sebanjak 81 gram, dan per capita/tahun sebanjak 30 Kg.
4. Produksi katjang tanah dalam tahun 1958 memberi makan rata2 per capita/hari sebanjak 72 gram, dan per capita/tahun 26 Kg.
5. Produksi ketella pohon dalam tahun 1958 memberi makan rata2 per capita/hari sebanjak 340 gram, dan per capita/tahun 124 Kg.
6. Produksi ketella rambat dalam tahun 1958 memberi makan rata2 per capita/hari sebanjak 88 gram, dan per capita/tahun 32 Kg.
7. Dari bahan2 makanan nabati ini, dapat dianggap sebagai ba-han2 makanan pokok: Beras, Kedelai dan Djagung.
Bahan2 makanan lainnja seperti : Katjang tanah, ketella pohon dan ketella rambat dapat dipandang sebagai bahan makan tam-bahan sadja.
Beras, Kedelai dan Djagung mengandung protein nabati jang bermutu tinggi, sedangkan katjang tanah, ketella pohon dan ketella rambat tidak dan hanja dianggap sebagai penambah hidraat arang dalam makanan.
Bab III
Kegiatan oleh sektor Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah/Swasta da-lam bidang produksi Bahan Makanan Nabati
Usaha2 dalam bidang produksi Bahan Makanan Nabati adalah melulu dari pihak Pemerintah Pusat. Dalam hal ini Pemerintah daerah memegang peranan sebagai pembantu.
Usaha Pemerintah Pusat dalam bidang ini meliputi beras, dja-gung, ketella pohon dan ketella rambat, tetapi jang diutama-kan adalah beras. Tudjuan Pemerintah Pusat dengan usaha2 itu adalah untuk mentjapai selfsupporting mengenai beras dalam tahun 1962, dja-di dja-direntjanakan dalam tahun 1962 supaja produksi beras dalam nege-ri sudah dapat mentjukupi seluruh kebutuhan dan tidak perlu lagi mengimport beras.
Usaha Pemerintah ini terbagi dalam: Usaha djangka pendek. Usaha djangka pandjang.
A. USAHA DJANGKA PENDEK
Jang diutamakan adalah usaha djangka pendek ini, oleh karena self-supporting akan beras harus ditjapai dalam waktu jang se-singkat2-nja (dalam tahun 1962). Usaha ini diselenggarakan dengan djalan:
Intensifikasi tanaman padi (memperbaiki jang sudah ada), jang di-laksanakan dengan 2 djalan:
1. Gerakan intensifikasi massaal 2. Sentra padi
1. Intensifikasi Massaal
meliputi wilajah Indonesia seluruhnja, dilakukan serentak dan di-biajai setjara tambahan.
Tudjuan pokok adalah:
- memperbaiki saluran2 pengairan desa dengan djuga menggunakan pom-pa2 air.
- Memperluas pemakaian bibit2 unggul - Menambah pemakaian pupuk
- Pemberantasan hama/penjakit dengan mengusahakan alat2 dan obat2an - Menjelenggarakan perlombaan2
Usaha Intensifikasi Massaal ini diselenggarakan oleh Djawatan Per-tanian.
Sentra Padi
Tugasnja: - menjediakan kredit terpimpin (supervised credit), ar-tinja pemberian kredit jang disertai bimbingan cultuur-technis. Kredit ini berupa uang (untuk bekerdja) dan alat2/bahan2 untuk keperluan mempertinggi produksi, se-perti bibit unggul, pupuk, obat2an, alat2 pemberantasan hama dan alat2 pertanian. Kemudian rakjat tani, sesu-dah panen, mengembalikan kredit itu in natura (dengan padi) berdasarkan harga pemerintah.
Dengan djalan ini pemerintah dapat menguasai sebagian dari produksi padi, djadi Sentra padi ikut mendjamin pe-masukan padi pada Pemerintah.
- menampung penggilingan2 padi, hingga penggilingan2 padi ini pusat/pangkalan usaha Sentra padi, pusat pengumpulan /penjimpanan padi, pusat penggilingan padi mendjadi be-ras, pusat penjimpanan beras dan pusat/pangkalan penjaluran beras jang dikuasai pemerintah/kepada konsumen.
2. Perluasan areal irigasi dengan projek2 sedang dan ke-tjil (no. 3)
Projek2 ini adalah:
- penjelesaian saluran2 detail di 3 projek di Sumatera Selatan - pembuatan2 dam baru di 2 sungai di Sumatera Selatan - penjelesaian saluran2 detail di 2 tempat di Djawa
- penjelesaian pembuatan dam baru serta bangunan2 pengairan di 1 tempat di Djawa
- menjelesaikan pembuatan waduk di 1 tempat di Djawa.
Dari projek2 irigasi djangka pendek ini akan didapatkan tambahan areal sawah:
dalam tahun 1960 – luas 10.200 HA 53.500 ״ – 1961 ״ ״ HA 17.500 ״ – 1962 ״ ״ HA 12.600 ״ – 1963 ״ ״ HA
5.000 ״ – 1964 ״ ״ HA Djumlah besar ada 98.800 HA Dalam tahun 1962 akan ada tambahan areal sawah seluas 60.000 HA, jaitu dengan selesainja seksi pengairan pertama dari projek Djatiluhur. Dengan demikian, maka dalam djangka waktu pendek akan ada tambahan areaal seluas 98.800 + 60.000 = 158.800 HA.
Sesudah seluruh projek Djatiluhur selesai, maka dalam tahun 1964 ada tambahan areal sawah lagi seluas 180.000 HA, djadi semuanja ada 338.800 HA.
B. Usaha Djangka Pandjang
1. Kanalisasi tanah pasang-surut di Kalimantan dan Sumatera.
2. Waduk Djatiluhur (Tjitarum)
3. Pembukaan tanah kering (ladang2 alang2) di Sumatera Timur, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan dan mendirikan disini perusahaan2 pertanian jang dimekanisasi.
ad. 1. Kanalisasi tanah pasang surut
Tudjuannja ialah membuka persawahan baru didaerah rawa dengan meng-gali saluran2 jang menghubungkan daerah ini dengan sungai besar jang keadaan pengairannja dipengaruhi oleh pasang-surut laut. Dengan de-mikian, permukaan air dalam saluran2 itu ikut serta naik dan turun dan zat2 asam jang terkandung dalam rawa2 itu dapat dikeluarkan. Setelah 2 tahun lamanja tanah2 itu dapat ditanami padi.
Pekerjaan ini sudah mulai pada awal tahun 1958 di Kalimantan.
Menurut rentjana ini akan digali saluran induk di Kalimantan antara Bandjarmasin dan Pontianak sepandjang 760 KM dan di Sumatera antara Palembang dan Tandjong Balai sepandjang 840 KM.
Pada tiap 5 KM saluran induk akan digali dikanan-kirinja, saluran2 sekunder jang pandjangnja masing2 25 KM. Di kanan-kirinja saluran2 sekunder ini akan digali saluran tertiair jang menghubungkan saluran2 sekunder itu dengan tanah2 jang akan didjadikan sawah baru. Dengan tjara ini, maka pada tiap KM saluran induk akan dapat dibuka masing2 12.500 HA di kanan dan kiranja saluran induk itu.
Kalau seluruh projek pasang-surut selesai, maka ini berarti bahwa: - di Kalimantan diperoleh tambahan sawah seluas 3.800.000 HA - di Sumatera 4.200.000 ״ ״ ״ ״ HA Djumlah besar 8.000.000 HA ad. 2. Waduk Djatiluhur
Sesudah selesai waduknja akan diperoleh tambahan pengairan sawah se-luas 240.000 HA. Sawah ini tadinja hanja dapat ditanami 1 x dalam satu tahun. Sesudah waduknja serta saluran2nja selesai akan dapat di-tanam 2 x dalam satu tahun. Selain untuk pengairan, waduk ini diguna-kan djuga untuk pembangkitan tenaga hydrolistrik sebesar 150.000 KW.
ad. 3. Pembukaan tanah kering 2.500 HA dan tiap unit akan ditanami dengan padi ladang 500 HA, dengan polowidjo 500 HA dengan pupuk hidjau 1.500 HA.
ANGGARAN jang tersedia dalam sektor Pemerintah
A N G G A R A N B E L A N D J A
UNTUK MENAIKKAN PRODUKSI DENGAN DJALAN INTENSIFIKASI (PC dan IM) PENGELUARAN
No. O b j e k 1959/1960
(Rupiah) 1960/1961 (Rupiah) 1961/1962 (Rupiah) K e t e r a n g a n
I PADI CENTRA :
1. Belandja Pegawai 10.000.000 28.000.000 84.000.000
2. ״ Barang 78.716.000 547.450.000 3.142.000.000 Termasuk kredit untuk petani
3. ״ Modal 32.267.000 94.750.000 83.300.000
4. Training kader 1.320.000 3.960.000 6.000.000 Termasuk training kader
Penggilingan padi Djumlah I 122.503.500 674.160.000 3.315.300.000
II INTENSIFIKASI UMUM :
1. Bibit padi unggul 12.800.000 240.000.000 400.000.000 Mempunjai tegenpost
2. Obat2-an untuk pemberantasan hama/ penjakit
17.325.000 26.900.000 28.600.000
3. Pompa tekanan tinggi 9.000.000 9.000.000 2.400.000
4. Perbaikan irigasi desa 30.000.000 25.000.000 20.000.000
5. Pompa air untuk irigasi 8.500.000 17.000.000 42.500.000
6. Pupuk buatan 97.650.000 435.000.000 306.000.000 Mempunjai tegenpost
7. Pembibitan tanaman pupuk hidjau 2.000.000 5.000.000 5.000.000
8. Alat-alat pertanian 12.000.000 15.000.000 33.000.000 Mempunjai tegenpost
9. Penjaluran/instruksi 10.000.000 6.000.000 6.000.000 Pertjetakan folder dan
buku2 instruksi.
10. Perlombaan/gerakan 10.000.000 10.000.000 10.000.000
Djumlah II 209.275.000 778.900.000 853.500.000
C. PENGOLAHAN bahan2 makanan 1. Jang mengenai PADI
Sebagai produksi padi di-olah sendiri oleh rakjat dengan djalan ditumbuk untuk didjadikan beras tumbuk.
Sebagian ketjil dari beras tumbuk ini diolah lebih landjut (dibikin beras putih) di penggilingan2 beras milik swasta.
Sebagian produksi padi dibeli oleh Pemerintah dari rakjat dan diolah di penggilingan2 padi swasta dengan upah giling.
2. Jang mengenai KEDELAI
Sebagian produksi jang tidak di-export diolah oleh rakjat dan didjadikan tempe, tahu, ketjap dan tautjo untuk selandjutnja dikonsumsi sebagai lauk pauk.
3. Jang mengenai DJAGUNG
Sebagian jang tidak diexport diolah oleh rakjat sendiri (digiling) mendjadi beras djagung untuk untuk selandjutnja dikonsumsi sebagai nasi djagung. Sering kali dimakan djuga nasi tjampuran (beras dan beras djagung).
4. Jang mengenai KATJANG TANAH
Sebagian produksi jang tidak di-export dibuat minjak katjang tanah oleh rakjat dengan alat2 jang sederhana.
5. Jang mengenai KETELLA POHON
Sebagian produksi dibuat gaplek (ketella pohon jang dikeringkan) oleh rakjat untuk bahan konsumsi atau bahan export. Dalam hal ini gaplek diolah dulu mendjadi tepung gaplek.
Sebagian produksi dibuat tepung tapioca untuk bahan export atau konsumsi dalam negeri. Pembuatan tepung tapioca ini didjalankan setjara ketjil2an oleh rakjat atau setjara besar2an dalam pabrik2 tapioca.
D. DISTRIBUSI bahan2 makanan
Jang didistribusikan oleh Pemerintah hanja beras (berasal dari padi milik pemerintah atau dari import).
Badan jang mengatur pembelian padi dari rakjat penggilingan padi, import beras dan distribusi beras adalah sekarang Dewan Bahan Makanan dengan apparatur2nja di daerah Swatantra ting-kat I dan II. Penggilingan padi mendjadi beras didjalankan di perusahaan2 penggilingan padi milik swasta jang mendapat upah giling dari Pemerintah.
Distribusi selandjutnja diselenggarakan melalui pedagang2 gros-sier, kemudian pengetjer2 dan koperasi2, jang bertugas menjam-paikannja kepada umum, pegawai negeri termasuk alat2 negara.
Distribusi ini hanja didjalankan di kota2. Di desa2 tidak di-adakan distribusi beras.
E. Tenaga jang ………..
-E. Tenaga jang tersedia dan tenaga jang dibutuhkan pada Djawatan Pertanian Rakjat.
Mengenai instansi2 lain jang bersangkutan tidak diperoleh bahan.
FORMASI DIBUTUHKAN KEKURANGAN
MENENGAH ATAS
1. Umum 596 213
-KEBUTUHAN TENAGA PADA DJAWATAN PERIKANAN DARAT
FORMASI DIBUTUHKAN KEKURANGAN
UNIVERSITEE 18 1) 110 92
AKADEMI 29 223 194
MENENGAH 89 430 341
1) Tidak termasuk pendidikan universiter semuanja
BAB IV GAMBARAN JANG DIINGINI
A. Tahun jang didjadikan target mulai selfsupporting, produksi jang ditudju dalam tahun itu beserta dasar perhitungannja dan djumlah tambahan produksi.
Menurut rentjana Pemerintah djangka PENDEK seperti sudah di-gambarkan diatas mengenai kegiatan Pemerintah Pusat, maka tahun 1963 telah didjadikan target mulai selfsupporting akan beras.
Tentang hal produksi beras dalam tahun itu jang ditudju ialah: sebanjak 9.830.000 ton. Jang diperhitungkan untuk kebutuhan konsum-si pada tahun 1962 adalah 9.310.000 ton, berdasarkan djumlah pen-duduk sebesar 93.611.000 dan pemakaian beras per capita/tahun sebanjak 100 kg.
Dengan usaha Intensifikasi Massaal dan Sentra Padi direntjanakan ditjapai produksi beras sebanjak 9.4 djuta ton x)
Tambahan karena projek irigasi sedang/ketjil 0.1 djuta ton Tambahan karena selesainja Waduk Djatiluhur 0.3 djuta ton 9.8 djuta ton
x) (tambahan karena Intensifikasi massaal = 500.000 ton, karena Sentra Padi = 1.350.000 ton, bersama = 1.850.000 ton).
Dengan demikian sudah akan ada kelebihan beras sebanjak 9.800.000 ton – 9.311.000 ton = 489.000 ton untuk keperluan buffer-stock.
Lihat selandjutnja : Ichtisar Target dari rentjana Padi Centra dan Intensifikasi Massal dibawah ini.
I C H T I S A R ……….
-I C H T -I S A R T A R G E T
Dari rentjana Padi Centra dan Intensifikasi Massaal
O b j e k Unit: 1959/60 1960/61 1961/62 K e t e r a n g a n
a. Penduduk Djiwa 90.330.000 91.956.000 93.611.000
b. Konsumsi beras per capita setahun Kg. 100 100 100
c. Kebutuhan akan beras Ton 9.033.000 9.196.000 9.361.000
d. PADISENTRA (PC):
1. Djumlah sentra Buah 42 125 500 1/ 1/ dimaksudkan untuk
mengintegrasikan seluruh PP dengan PC.
2. Luas wilajah Ha 100.000 500.000 3.000.000
3. Bibit unggul Ton 5.000 25.000 150.000
4. P u p u k Ton 10.000 50.000 300.000
5. Hasil padi (pengembalian kredit) Ton 60.000 300.000 1.800.000 2/ 2/ 6 km. padi kering
giling dari tiap ha. 6. Tambahan hasil beras diwilajah PC
diban-dingkan dengan tahun 1958/59
Ton 45.000 225.000 1.350.000
e. PENGGILINGAN PADI (PP):
Djumlah jang diintegrasikan dengan PC Buah 20 100 676 3/ 3/ djumlah PP jang ada
menurut angka sta-tistik Dep. Per-industrian (1957).. f. INTENSIFIKASI MASSAL (IM)
1. Areal terluas jang diprojektor Ha 303.000 1.240.000 2.000.000
2. Bibit unggul Ton 3.200 60.000 100.000
3. P u p u k Ton 30.300 124.000 75.000 6. Hasil tambahan beras diwilajah IM
diban-dingkan dengan tahun 1958/59 Ton 75.750 310.000 500.000
g. Beras jang harus dikuasai pemerintah Ton 1.250.000 1.250.000 1.250.000
h. Produksi beras sawah seluruhnja Ton 8.100.000 8.515.000 9.830.000
i. Kekurangan beras (c-h) = impor Ton 933.000 681.000
-j. Beras jang dikuasai PC/PP (d.5) Ton 30.000 150.000 900.000
k. Diperlukan pembelian beras dalam negeri (g – (I + j)
B. Djalan2 baru untuk mentjapai selfsupporting akan beras dalam tahun 1962 tanpa import, berdasarkan angka-angka Pemerintah.
Diantara bahan makanan nabati, Seksi Industri pangan menganggap bahwa beras dan kedelailah jang ter-penting. Sebabnja, susunan protein beras dan kedelai tinggi nilai biologiknja, hingga suatu kombinasi antara protein beras dan protein kedelai dalam makanan kita walaupun belum menjamai, tapi sudah mendekati nilai protein hewani, hingga besar manfaatnja bilamana keper-luan minimum akan protein nabati dalam makanan kita dipenuhi semuanja oleh kombinasi beras dan kedelai
Berdasarkan pertimbangan ini, maka Seksi Indus-tri Pangan berpendapat untuk menitikberatkan perhatian-nja kepada penambahan produksi beras dan kedelai dalam perentjanaannja menambah produksi bahan makanan nabati lainnja seperti djagung, katjang tanah, ketella pohon, ketella rambat dan katjang hidjau dipertahankan kepada taraf jang telah ditjapai sekarang (dalam tahun 1958). dengan demikian maka hendaknja bahan makanan ini diang-gap sebagai makanan tambahan sadja, tjuma untuk memenuhi djumlah kalori, terketjuali djagung jang djuga mengan-dung banjak protein.
Seksi Industri Pangan berpendapat pula, bahwa un-tuk mendapatkan nilai gizi jang lajak, susunan bahan makanan nabati dalam makanan kita dipenuhi atau dilebihi keper-luan minimumnja, hanja oleh beras dan kedelai.
Menurut pandangan jang paling baru dari Lembaga makanan Rakjat (dibawah pimpinan Sdr. Prof. Dr. Poerwo Soedarmo M.D.) maka penduduk Indonesia beratnja rata2 ada 34 kg dan rata2 memerlukan sehari minimum 1900 kalori dan 47,15 gr pro-tein dalam makanannja (lihat lampiran). Propro-tein sebanjak 47,15 gr harus dipenuhi oleh protein nabati sebanjak 39,25 gr dan oleh protein hewani 7,9 gr.
Untuk memenuhi ………
-Untuk memenuhi keperluan akan protein nabati sebanjak 39,25 gr sehari ini, dapat dibuat suatu kombinasi, terdiri dari beras 300 gr dan kedelai 50 gr sehari.
Beras 300 gr menghasilkan : 1095 kalori dan protein 22,5 gr. kedelai 50 gr menghasilkan 221 kalori dan protein 17,5 gr. hingga djumlah bersama 1316 kalori dan 40 gr protein, hingga dengan demikian keperluan akan protein nabati (39,25 gr) sudah dilebihi sedikit, sedangkan keperluan akan kalori masih kurang 584 (1900-1316)
Kekurangan akan kalori mudah ditutup dengan tambahan bahan makan-an lainnja jmakan-ang mengmakan-andung hidrat armakan-ang (misalnja: gula, djagung, ketella pohon, ketella rambat, katjang tanah, buah2an dan lain2) dan bahan makanan jang mengandung lemak (misalnja: minjak goreng, santan, katjang dll.), ditambah lagi dengan kalori jang didapat dari protein hewani. Berdasarkan perhitungan ini, maka tiap penduduk memerlukan untuk 1 tahun beras sebanjak 365 x 300 gr = 109,5 kg, dan kedelai 365 x 50 gr = 15,25 kg.
Mengenai kebutuhan beras Seksi Industri Pangan menetapkan pe-makaian per capita/tahun sebanjak 115 kg. kelebihannja, jaitu 115 kg – 109,5 kg = 5,5 kg per capita/tahun dapat digunakan sebagai “buffer stock”.
Seksi Industri Pangan telah menetapkan tahun 1962 sebagai permu-laan pelaksanaan program produksi beras dan kedelai berdasarkan per-hitungan ini tahun. Dalam tahun 1961 harus dipersiapkan dengan baik segala sjarat untuk pelaksanaan program ini.
Rentjana Pemerintah untuk menthukupi persediaan beras dalam tahun 1961 seperti termaksud dalam djawaban Sdr. Menteri Inti Produksi kepada pertanjaan2 Depernas. Lampiran III daftar 6 mengenai “Ichtiar target dari rentjana Padi centra dan Intensifikasi Massal” menjebut-kan, bahwa:
1. kebutuhan akan beras dalam tahun 1961, berdasarkan tafsiran djum-lah penduduk sebanjak 91.956.000 dengan pemakaian 100 kg per capita/tahun adalah 9.196.000 ton.
2. produksi beras dalam tahun 1961 direntjanakan sebesar 8.515.000 ton, djadi kekurangannja adalah 9.196.000 – 8.515.000 = 681.000 ton jang akan ditutup dengan import.
Menurut angka2 dari Departemen pertanian, luas panen padi sawah dalam tahun 1958 ada : 4.124.000 ha. kekurangan beras dalam tahun 1961 ada 681.000 ton jang akan ditutup import.
Djalan baru jang pertama jang direntjanakan Seksi Industri Pangan bertudjuan meniadakan import itu dan menambah produksi beras dalam negeri untuk menutup kekurangan beras itu.
Djalan baru ini adalah mengadakan pemupukan jang luas dengan pupuk Za (1 qt Za/ha dan Ds (½ qt Ds/ha).
Menurut buku ……….
-Menurut buku “Menudju Masjarakat Tani Makmur” dari Departemen Pertanian (lihat halaman 6 bagian bawah) dikemukakan, bahwa dengan pemupukan seperti tersebut diatas dapat ditjapai tambahan hasil se-banjak 25 – 30% per ha. Kita ambil sadja angka jang paling rendah ialah 25%. Pemupukan luas ini didjalankan di Djawa dan Madura sadja dengan pertimbangan, bahwa distribusi pupuk lebih mudah didjalankan di Djawa/Madura daripada diluar Djawa.
Luas panen padi sawah di Djawa/Madura dalam tahun 1958 ada 4.124.000 ha. Kepada sebahagian luas panen padi di Djawa/ Madura inilah kita bebankan penambahan produksi sebanjak 681.000 ton beras jang oleh Pemerintah direntjanakan untuk diimport tahun 1961.
Dengan pemupukan seperti tersebut diatas, tiap ha dapat menghasilkan lebih rata2 25%. Hasil padi sawah di Djawa dalam tahun 1958 ada 4.663.000 ton beras (9.226.000 ton padi kering) menurut Departemen Pertanian. Tambahan produksi beras sebanjak 681.000 ton ada 12,46% atau dibulatkan 13% daripada produksi beras dari 4.124.000 ha sawah di Djawa sebesar 4.663.000 ton. Dengan pemupukan tersebut diatas dapat ditjapai produksi lebih sebanjak 25% rata2. Djadi harus dilaksanakan pemupukan atas tanah seluas 13/25 x 4.124.000 ha = 2.144.480 ha.
Pupuk jang diperlukan untuk ini adalah : 2.144.480 qt Za (á 1 qt Za/ha) dan 1.072.240 qt Ds. atau 214.448 ton Za dan 107.224 ton Ds. harga dari pupuk sebanjak ini kalau diambil sebagai dasar 1 ton Za dan 1 ton Ds masing2 $ USA 55 c.i.f. jaitu : 214.448 ton + 107.244 ton = 321.692 ton á $ USA 55 c.i.f. = $ USA 17.691.960 atau 17.691.960 x Rp. 45,- devisen = Rp. 896.138.200 devisen.
Import beras sebanjak 681.000 ton á Pound Sterling Inggris 32 c.i.f. berharga 681.000 x ₤ 32 = ₤ 21.792.000 atau 21.792.000 x Rp. 126,- devisen = Rp. 2.745.792.000 devisen.
Ini berarti, bahwa dengan pemupukan luas jang digambarkan diatas, diperoleh penghematan Rp. Devisen sebanjak 2.745.792.000 – 896.138.200 = Rp. 1.849.653.800 devisen.
Produksi beras sendiri, ialah tersedianja beras itu setjara desentralisasi di negeri sendiri berarti pula meringankan beaja distribusi bila dibandingkan dengan distribusi beras import jang tiba di negeri di tempat2 pelabuhan dan msih harus diangkut ke pedalaman.
Jang harus dipikirkan ialah: distribusi pupuk sebanjak 321.692 ton jang teratur hingga mentjapai tudjuannja dan kelak masuk tegen post-nja. Seksi berpendapat bahwa pembelian dan distribusi pupuk ini selu-ruhnja dikuasai oleh Pemerintah.
Karena hanja 13/25 atau ± ½ dari djumlah areal sawah jang perlu pe-mupukan, maka dengan ini, apparat2 jang bersangkutan dapat memilih areal jang termudah dalam distribusi pupuk.
C. DUA DJALAN BARU UNTUK MENTJAPAI SELFSUPPORTING BERAS DALAM T A H U N 1962
Untuk mentjapai tudjuan selfsupporting mengenai beras dalam tahun 1962, Seksi Industri Pangan merentjanakan 2 djalan baru jaitu:
1. Melalui pemupukan jang luas
Melalui pemupukan setjara luas dengan (lebih luas dari pada untuk tahun 1961), 1 qt + Za/ha dan ½ qt Ds/ha seperti jang telah dipaparkan diatas.
Jang didjadikan dasar perhitungan ialah: djumlah penduduk dalam tahun 1962 sebanjak jang telah ditetapkan oleh Seksi Industri Pangan jaitu: 93.880.000 dan keperluan beras sebanjak 115 kg per capita setahun. Ini berarti, bahwa dalam tahun 1962 harus diproduksi beras sebanjak 93.880.000 x 115 kg = 10.796.200 ton. Dibandingkan dengan tahun 1961, berarti ini suatu tambahan produksi sebanjak 10.796.200 – 9.169.000 = 1.600.200 ton.
Diatas sudah didjelaskan bahwa dengan pemupukan seluas 2.144.480 ha ditjapai tambahan produksi sebesar 681.000 ton beras.
Luas tanah jang harus dipupuk dengan tjara tersebut diatas adalah 1.600.200
--- x 2.144.480 ha = 5.039.001 ha dibulatkan 5.039.000 ha. 681.000
Djadi untuk mendapatkan tambahan hasil beras sebanjak 1.600.200 ton dalam tahun 1962, harus dipupuk sawah seluas 5.039.000 ha.
Ini berarti semua luas tanah di Djawa (4.124.000 ha ditambah dengan 5.039.000 ha - 4.124.000 = 915.000 ha diluar Djawa).
Keperluan pupuk Za untuk ini (1 qt Za/ha) ada 5.039.000 qt atau 503.000 ton, dan pupuk Ds (½ qt Ds/ha) ada ½ x 5.039.000 = 251.900 ton.
Kedua djenis pupuk bersama ada 503.000 ton + 251.950 ton = 754.950 ton á $ U.S.A. 55 c.i.f. per ton = $ USA 4.124.000 = Rp. 1.868.501.250,- devisen.
Angka2 ini kelak dapat ditindjau kembali, kalau sudah diketahui dengan pasti berdasarkan pengalaman dalam tahun 1961, berapa besar rata2 per ha tambahan produksinja dengan pemupukan itu.
Djuga sesudah diketahui berapa tambahan luas ha sawah jang telah dioleh dari usaha pengeluasan irrigasi sedang dan ketjil serta seksi per-tama project Djatiluhur, jang akan memperbesar produksi beras.
2. Dengan penanaman Padi Gendjah Harum/tjiptaan Jagus diseluruh Djawa/Madura Djalan baru kedua untuk mentjapai selfsupporting beras dalam tahun 1962, jaitu dengan menanam Padi Gendjah Harum, padi djenis baru dari Klabu. Ada kemungkinan besar, bahwa mulai dengan tanaman padi rendengan diachir tahun 1961 bibit2 pada Gendjah Harum ini sudah dapat disebarkan diselu-ruh areal sawah hanja di Djawa dan Madura sadja untuk sementara ini. Artinja pada achir tahun 1962 sudah bisa ditjapai selfsupporting, de-ngan tidak menggunakan pupuk kimia sama sekali.
Perhitungannja adalah sebagai berikut:
Luas sawah di Djawa dan Madura berdasarkan angka2 tahun
1958 = 4.124.000 ha. Untuk dapat mentjukupi kebutuhan beras dalam tahun 1962, produksi beras harus sebanjak 10.796.200 ton. Berdasarkan angka2 produksi tahun 1958, maka:
1. Produksi padi sawah diluar Djawa ada : 4.458.000 ton 2. Produksi padi ladang di Djawa/Madura ada : 311.000 ton 3. Produksi padi ladang diluar Djawa ada : 1.073.500 ton Total ada 5.842.000 ton padi kering atau 2.921.000 ton beras.
Produksi padi sawah di Djawa ada 9.266.000 ton padi kering (rata2 per ha 22,47 qt padi kering atau 4.633.000 ton beras). Ditahun 1962 harus diproduksi 10.796.200 ton beras. Produksi beras dari padi sawah di luar Djawa dan padi ladang di Djawa/Madura dan diluar Djawa ada 2.921.000 ton. Masih ada kekurangan sebesar 10.796.200 ton - 2.921.000 ton = 7.875.108 ton beras.
Kalau untuk sementara waktu dalam hal penjebaran bibit padi ini belum mungkin disebarkan diluar Djawa, produksi sebanjak itu ha-rus dipikulkan kepada sawah2 di Djawa dan Madura, maka hal ini berarti, bahwa produksi rata2 per ha harus 7.875.108 (ton beras) =
4.124.000 ha 1,99 ton beras = 19,9 qt beras atau 39,8 qt padi kering.
Hal ini mungkin tertjapai kalau didasarkan pada pengalaman2 jang sudah ada, bahwa ditanam sawah jang sedang dengan tidak mema-kai pupuk, produksi padi Gendjah Harum ada 52,5 qt padi kering/ha. Untuk tidak terlalu berspekulasi, hendaknja diadakan perhitungan jang berikut, jaitu sebahagian ditanam dengan pupuk kimia, dan sebahagian lagi tidak.
Jang tidak dipupuk, misalnja produksinja per ha rata2 ada paling sedikit 30 qt padi kering. Tafsiran ini adalah safe untuk padi Gendjah Harum. Jang dipupuk, produksinja misalnja ada rata2 paling sedikit 60 qt padi kering. (Sudah ada pengalaman dengan pemupukan padi Genjah Harum, jai-tu dapat mentjapai produksi sebesar 97,5 qt/ha padi basah = 73,125 padi kering.)
Produksi jang harus ditjapai ada 7.875.108 ton beras atau dua kali padi kering = 15.750.160 ton = 157.502.160 qt padi kering.
1.124.000 ha dengan pemupukan 1 qt Za/ha + ½ qt Ds/ha. Hasil 1.124.000 x 60 qt = 67.440.000 qt padi kering. Sisa tanah seluas 3.000.000 ha (4.124.000 – 1.124.000) tidak dipupuk. Hasilnja : 30.000.000 x 30 qt = 90.000.000 qt padi kering.
Total 67.440.000 qt + 90.000.000 qt = 157.440.000 qt padi kering. Ar-tinja target 157.502.160 qt praktis sudah tertjapai.
Pupuk jang dibutuhkan:
1.124.000 qt Za dan 562.000 qt Ds. Total 1.687.000qt = 168.700 ton á $ USA 2.55 c.i.f. = $ USA 9.278.500 á Rp. 45 devisen = Rp. 417.532.500 devisen.
Djalan baru kedua ini semata-mata didasarkan atas hasil penanaman dengan bibit gendjah Harum. Angka2 kelebihan telah dapat dibuktikan di Jajasan Penjelidikan Keilmiahan Pertanian di Klaten dan djuga oleh Dinas Perta-nian Rakjat di Jogjakarta.
Klaten mentjapai hasil dengan tidak memakai pupuk ditanah jang sedang baiknja 79 qt padi basah/ha = 52,5 qt padi kering.
Jogja (Dinas Pertanian Rakjat) dengan pemupukan mentjapai hasil 97,5 qt padi basah = 73,125 qt padi kering.
Angka2 produksi per Ha dengan dan tanpa memakai pupuk, baru dapat di-ketahui dengan pasti sesudah panen dalam bulan April jang akan datang di Klaten.
D. DJALAN BARU penanamanKEDELAI untuk mentjapai kebutuhan gizi
Seksi Industri Pangan telah menetapkan, bahwa untuk mentjapai nilai gizi jang minimum mengenai bahan makanan nabati, harus diberi per capita/tahun 109,5 Kg beras dan 18,25 Kg kedelai atau capita/hari 300 gram beras dan 50 gram kedelai.
Ini berarti bahwa: - untuk tahun 1962 dengan djumlah penduduk seba-njak 93.880.000 harus diproduksi kedelai sebaseba-njak 93.880.000 x 18,25 Kg = 1.713.310 ton. – Untuk tahun 1963, dengan penduduk sebanjak 95.475.000 dibutuhkan produksi kedelai sebanjak 95.475.000 x 18,25 Kg = 1.742.419 ton.
Menurut angka2 resmi, luas panen kedelai di Djawa/Madura dalam tahun 1958 ada 533.000 ha. Djadi kalau untuk sementara waktu hanja Djawa/Madura sadja jang dibebani produksi kedelai untuk tahun 1962
sebanjak 1.713.310 ton, maka produksi per ha harus 1.713.310 ton : 533.000 = 32,12 qt/ha.
Untuk tahun 1963 dibutuhkan kedelai sebanjak 1.742.419 ton dan produksi per ha harus 1.742.419 ton : 533.000 = dibulatkan 33 qt/ha.
Untuk tahun 1964 dibutuhkan 97.100.000 x 18,25 Kg = 1.772.075 ton atau rata2 per ha 33,24 qt.
Untuk tahun 1965 dibutuhkan produksi kedelai sebanjak 98.750.000 x 18,25 Kg = 1.802.188 ton. Produksi rata2 per ha harus 1.802.188 : 533.000 = dibulatkan 36 qt.
Seleksi kedelai jang didjalankan oleh sdr. Jagus di Jajasan Lembaga Penjelidikan Keilmiahan di Klaten sudah mentjapai taraf jang tinggi, artinja tidak lama lagi sudah akan tertjiptakan bebe-rapa djenis kedelai baru jang tinggi produksinja. Sekarang sudah ada petundjuk2 kearah itu, sebab sudah ada individu2 jang berpeng-hasilan teoritis 60 – 80 qt/ha wose kering. Dengan petundjuk2 ini maka produksi rata2 per ha jang dibutuhkan, jaitu untuk tahun 1962 – 32,12 qt/ha, untuk tahun 1963 – 33 qt/ha, untuk tahun 1964 – 33,24 qt/ha dan untuk tahun 1965 – 36 qt/ha dapat ditjapai dengan mudah, apa lagi kalau kedelai djenis baru ini sudah dapat ditanam diseluruh Indonesia dengan luas panen (dalam tahun 1958) sebe-sar 604.400 ha.
Kapan akan mulai dapat disebarkan benih2 kedelai djenis baru ini belum dapat dipastikan searang. Mungkin sekali 2 tahun lagi, dalam tahun 1962 dan kalau tidak dalam tahun 1963.
Peranan Pemerintah Pusat/pemerintah Daerah/Swasta
Untuk melaksanakan produksi padi Gendjah Harum dan ke-delai djenis baru ini, Jajasan “Lembaga Penjelidikan Keilmi-ahan Pertanian” sebagai Swasta telah mempunjai rentjana (li-hat lampiran no….)
Dalam pelaksanaan rentjana ini, Pemerintah Pusat dan Pemerin-tah Daerah dimohon bantuannja untuk pengawasan pelaksanaan rentjana ini.
Tenaga jang harus disediakan (lihat lampiran no….) Research jang harus dilakukan
Telah direntjanakan oleh Jajasan tersebut. (lihat lampiran no….)
Perbandingan dengan pengalaman diluar negeri Tidak diperoleh bahan perbandingan. RENTJANA USAHA
Rentjana usaha jang tertentu belum dapat dibuat; harus menunggu hasil2 pelaksanaan pertama daripada rentjana ini. Djadi rentjana dari tahun ke tahun hendaknja disusun kelak, didasarkan pada hasil2 jang njata akan diperoleh.
KEUNTUNGAN
Sudah djelas, bahwa keuntungan jang akan ditjapai ada banjak sekali.
SARAN-SARAN LAIN