BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Air merupakan senyawa kimia yang memiliki peranan penting bagi kehidupan mahluk hidup. Selain makanan dan udara, kebutuhan yang paling utama adalah air. Bagi manusia, air diperlukan untuk melangsungkan kehidupan sebagai air minum. Sekitar 75% komponen tubuh manusia terdiri dari air, dan kebutuhan air pada orang dewasa sebanyak 1,5 – 2 liter setiap hari untuk menjaga keseimbangan tubuh dan membantu proses metabolisme (Slamet, 2007). Manusia dapat mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) atau terserang penyakit jika
Kekurangan cairan dalam tubuh (Suriawiria, 1996). Manusia dapat bertahan hidup dua atau tiga minggu tanpa makan. Namun, hanya bisa bertahan dua atau tiga hari tanpa minum. Sehingga dapat dipastikan bahwa kebutuhan air minum semakin meningkat seiring dengan angka pertumbuhan masyarakat (Suripin, 2002).
Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan nomor 167 tahun 1997, pengertian AMDK adalah air yang telah diolah dan dikemas serta aman untuk dikonsumsi. Air minum dalam kemasan harus memenuhi persyaratan air minum dalam kemasan (AMDK) yang diatur sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor SNI-01-3553-2006. Hingga saat ini keberadaan AMDK sangat diminati oleh masyarakat karena dinilai lebih higenis dan praktis untuk memenuhi kebutuhan air minum sehari – hari. Sampai tahun 2010 tercatat sebanyak 567 perusahaan AMDK di Indonesia mampu menjual air minum sebanyak 13,5 liter per tahun. Pemanfaatan AMDK sangat dirasakan oleh masyarakat, karena AMDK merupakan solusi bagi masyarakat untuk mengkonsumsi air siap pakai (Amrih, 2005).
air bawah tanah. Batas normal kadar nitrat pada air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/2010 pada air minum adalah 50 mg/liter.
Zat organik adalah suatu senyawa yang tersusun dari senyawa atau kombinasi Carbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O2) bersama dengan Nitrogen (N). Kehadiran zat
organik dalam air dapat ditentukan dengan mengukur bilangan Permanganat (KMnO4 =
Kalium Permanganat). Bilangan permanganat menunjukkan banyaknya zat organik yang mampu teroksidasi oleh kalium permanganat dalam suasana asam dan pemanasan.Adanya zat organik dalam air menunjukkan bahwa air tersebut telah tercemar oleh kotoran manusia hewan atau oleh sumber lain. Zat organik merupakan bahan makanan bakteri atau mikroorgtanisme lainnya. Makin tinggi kandungan zat organik didalam air, maka semakin jelas bahwa air tersebut telah tercemar.
Sifat senyawa-senyawa organik pada umumnya tidak stabil dan mudah dioksidasi secara biologis atau kimia, antara lain menjadi CO2 dan H2O. Adanya bahan-bahan
organik dalam air erat hubungannya dengan terjadinya perubahan sifat-sifat dari air, sebagaimana telah diutarakan terutama dengan timbulnya warna, bau, rasa dan kekeruhan yang tidak diinginkan. Adanya zat organik dalam air dapat diketahui dengan menentukan angka permanganatnya. Walaupun KMnO4 sb oksidator yang dipakai tidak dapat mengoksidasi semua zat organik yang ada, namun cara ini sangat praktis dan cepat pengerjaannya.
Standar kandungan bahan organik dalam air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/2010 maksimal yang diperbolehkan adalah 10 mg/l. Baik WHO maupun UD Public Health Service tidak mencantumkan angka standar ini dalam standar kualitas air minum yang ditetapkannya. Pengaruh terhadap kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh penyimpangan terhadap standar ini yaitu timbulnya baru yang tidak sedap pada air mimun dan dapat menyebabkan sakit perut.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum:
Mahasiswa mampu mengetahui apa saja alat, fungsi, bahan dan cara analisis kimia nitrat (NO3) dan zat organik (KMnO4) pada sampel air minum
1.2.2 Tujuan Khusus:
Untuk mengetahui fungsi alat yang di gunakan dalam analisis kimia nitrat (NO3) dan zat organik (KMnO4) pada sampel air minum
Untuk mengetahui bahan yang di gunakan dalam analisis kimia nitrat (NO3) dan zat organik (KMnO4) pada sampel air minum
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Air Minum
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010, air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Jenis air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002, meliputi :
1. Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga 2. Air yang didistribusikan melalui tangki air
3. Air Kemasan
4. Air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman yang disajikan kepada masyarakat.
2.2 Sumber Air Minum
Menurut Chandra (2007), air yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih dan aman. Batasan – batasan sumber air yang bersih dan aman tersebut antara lain :
a. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit b. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun. c. Tidak berasa dan tidak berbau.
d. Dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah tangga e. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen
Kesehatan.
Air yang terdapat dipermukaan bumi ini dapat berasal dari berbagai sumber. Berdasarkan letak sumbernya, air dapat dibagi menjadi :
1. Air Angkasa (Hujan)
2. Air Permukaan
Air permukaan yang meliputi badan – badan air semacam sungai, danau, telaga, waduk, rawa, air terjun dan sumur permukaan, sebagian besar berasal dari air hujan yang jatuh kepermukaan bumi. Air hujan tersebut kemudian akan mengalami pencemaran baik oleh tanah, sampah, maupun lainnya.
3. Air Tanah
Air tanah (groundwater) berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi yang kemudian mengalami perkolasi atau mengalami penyerapan ke dalam tanah dan mengalami proses filtrasi secara alamiah. Proses – proses yang telah dialami air hujan tersebut, di dalam perjalanannya ke bawah tanah, membuat air tanah menjadi lebih baik dan lebih murni dibandingkan air permukaan. Air tanah biasanya bebas dari kuman penyakit dan tidak perlu mengalami proses purifikasi atau penjernihan serta persediaannya cukup di sepanjang tahun, walaupun saat musim kemarau. Tetapi air tanah juga mengandung zat – zat mineral dalam konsentrasi yang tinggi seperti magnesium, kalsium, dan logam berat.
2.3 Syarat Kualitas Air Minum
Penyediaan air bersih, selain kualitasnya, kuantitasnya pun harus memenuhi standart yang berlaku. Untuk pengelolaan air minum, harus diperiksa kualitas airnya sebelum didistribusikan kepada masyarakat. Sebab, air baku belum tentu memenuhi standart, maka sering dilakukan pengolahan air untuk memenuhi standart air minum.
Kualitas air yang digunakan sebagai air minum sebaiknya memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010, meliputi : 1. Parameter wajib
a. Persyaratan Fisik
Air yang berkualitas baik harus memenuhi persyaratan fisik yaitu, tidak berasa, tidak berbau, dan tidak berwarna (maksimal 15 TCU), suhu udara maksimum ± 3ºC, dan tidak keruh (maksimum 5 NTU)
b. Persyaratan mikrobiologi
2. Parameter Tambahan a. Persyaratan Kimia
Air minum yang akan dikonsumsi tidak mengandung bahan – bahan kimia (organik, anorganik, pestisida dan desinfektan) melebihi ambang batas yang telah ditetapkan, sebab akan menimbulkan efek kesehatan bagi tubuh konsumen.
b. Persyaratan Radioaktivitas
Kadar maksimum cemaran radioaktivitas dalam air minum tidak boleh melabihi batas maksimum yang diperbolehkan.
2.4 Pengertian Nitrat
Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat nitrogen sangat mudah terlarut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan. Nitrifikasi yang merupakan proses ok sidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat dengan bantuan mikroorganisme adalah proses yang penting dalam siklus nitrogen (Effendi, 2003).Distribusi horisontal kadar nitrat semakin tinggi menuju ke arah pantai dan kadar tertinggi biasanya ditemukan di perairan muara. Hal ini diakibatkan adanya sumber nitrat dari daratan berupa buangan limbah yang mengandung nitrat (Hutagalung dan Rozak, 1997).
2.5 Dampak Nitrat (NO3) Yang Terkandung Di Dalam Air Minum
Nitrat toksikosis pada manusia terjadi melalui enterohepatic metabolisme dari nitrates ke amonia, nitrite dengan menjadi seorang intermediate. Nitrites mengoksidkan yang besi atom dalam hemoglobin dari Ferrous Besi (2 +) untuk Ferric Besi (3 +), membuat ia tidak dapat membawa oksigen. Kondisi ini disebut methemoglobinemia dan dapat mengakibatkan kekurangan oksigen di jaringan organ. Methemoglobinemia dapat diobati dengan methylene biru, yang mengurangi ferric besi (3 +) dalam sel darah yang terkena kembali ke Ferrous Besi (2 +).
(Mo) dan Besi (Fe) tinggi dari konsentrasi nitrat karena dikurangi dari assimilation nitrat dalam tanaman. Tinggi nitrat pemupukan juga berkontribusi untuk meninggikan tingkat nitrat dalam tanaman.
Bayi yang makan air atau formula yang dibuat dengan air yang tinggi di nitrat dapat mengembangkan kondisi yang dokter panggilan methemoglobinemia. Kondisi ini juga disebut "baby blue syndrome" karena kulit tampak biru-abu-abu atau lavender dalam warna.Semua bayi di bawah usia enam bulan beresiko keracunan nitratBeberapa bayi mungkin akan lebih sensitif dibandingkan yang lain. Bayi menderita "sindrom bayi biru" memerlukan perawatan medis segera karena kondisi yang dapat mengakibatkan koma dan kematian jika tidak segera diobati.
Bila perawatan ibu menelan air yang mengandung nitrat, jumlah nitrat di dalam air susu ibu dapat meningkat. Meskipun tidak ada kasus yang "biru-bayi sindrom" telah dikaitkan dengan nitrat dalam air susu ibu, mungkin dianjurkan untuk perawatan perempuan untuk menghindari air minum yang berisi lebih dari 50 milligrams per liter nitrat-nitrogen.Beberapa penelitian ilmiah telah menemukan bukti-bukti yang menyatakan bahwa perempuan yang minum nitrat-kejangkitan air selama kehamilan lebih mungkin untuk memiliki bayi lahir dengan cacat. Nitrat ingested oleh ibu juga dapat menurunkan jumlah oksigen yang tersedia pada janin.
Orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru, beberapa enzim warisan cacat, kanker atau mungkin lebih sensitif terhadap efek dari racun nitrat dibandingkan yang lain. Selain itu, beberapa ahli percaya bahwa jangka panjang proses menelan air di nitrat tinggi dapat meningkatkan resiko beberapa jenis kanker.
2.6 Pengertian Zat Organik
Zat organik adalah zat yang pada umumnya merupakan bagian dari binatang atau tumbuh tumbuhan dengan komponen utamanya adalah karbon, protein, dan lemak lipid. Zat organik ini mudah sekali mengalami pembusukan oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut.
anaerob. Dimanapun limbah organik berada, jika tidak dimanfaatkan oleh fauna perairan lain, seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya; maka akan segera dimanfaatkan oleh mikroba; baik mikroba aerobik (mikroba yang hidupnya memerlukan oksigen); mikroba anaerobik (mikroba yang hudupnya tidak memerlukan oksigen) dan mikroba .fakultatif (mikroba yang dapat hidup pada perairan aerobik dan anaerobik).
2.7 Dampak Zat Organik ((Kmno4) Yang Terkandung Di Dalam Air Minum
Dampak zat organik bagi tubuh yaitu menyebabkan bau dan rasa tidak enak dan menyebabkan sakit perut bila dikonsumsi. Bahan organik yang larut dalam air akan mengalami penguraian dan pembusukan. Akibatnya kadar oksigen dalam air turun dratis sehingga biota air akan mati. Jika pencemaran bahan organik meningkat, kita dapat menemui cacing Tubifex berwarna kemerahan bergerombol. Cacing ini merupakan petunjuk biologis (Bioindikator) parahnya pencemaran oleh bahan organik dari limbah pemukiman.
Dikota-kota, air got berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau yang menyengat. Didalam air got yangdemikian tidak ada organisme hidup kecuali bakteri dan jamur. Dibandingkan dengan limbah industri, limbah rumah tangga di daerah perkotaan di Indonesia mencapai 60% dari seluruh limbah yang ada.
2.7 Permenkes 492 Tahun 2010 Tentang Standar Kualitas Air Minum
Persyaratan air minum Parameter Satuan Kadar
maksimum yang diperbolehkan
Keterangan
Nitrat, sebagai N
mg/L 50
Zat organik (kmno4)
mg/L 10
HASIL
3.1 Waktu Dan Tempat Pratikum
Hari/Tanggal : Senin/15 Februari 2016 Pukul : 8.30 WIB – 11.30 WIBTempat : Laboratorium Fisika Poltekkes Kemenkes Padang
3.2 Alat Dan Bahan 3.2.1 Alat
Nama Alat Jumlah
Timbangan Gelas Kimia 100 ml
Labu Ukur 100 ml Buret Desikator Pipet Tetes Erlenmeyer 100 ml
Kompor Listrik Pipet Gondok 10 ml
Corong Gelas Ukur 100 ml Gelas Kimia 50 ml
3.2.2 Bahan
3.3.1 Pemeriksaan Nitrat (NO3) Pada Sampel Air Minum
Rumus pengenceran:
Cara perhitungan larutan:
Labu ukur = 100 ml Larutan induk NO3 = 100 ppm
Pembuatan larutan pereaksi
Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Siapkan larutan standar 0, 0.25, 0.50, 1.0, 1.5, dan 2.0 ppm yang berasal dari larutan induk Nitrat (NO3) 100 ppm.
Bilas buret menggunakan aquades.
Lalu masukan larutan induk nitrat ke dalam buret.
Lalu masukan larutan induk ke dalam labu ukur menggunakan buret sesuai dengan perhitungan hasil dari rumus pengenceran.
Tambahkan aquades kedalam labu ukur 100 ml atau sampai tanda batas garis labu ukur.
Homogenkan sebanyak 12 kali.
Untuk sampel, pipetkan sampel air 10 ml dengan pipet gondok dan tuangkan kedalam erlenmeyer 100 ml.
Tambahkan masing-masing NaCl 30 % dan 10 ml H2SO4 pekat menggunakan
pipet ukur ke dalam erlenmeyer. Dinginkan.
Tambahkan 0,5 ml brusin asam sulfat. Homogenkan 12 kali.
Panaskan di atas kompor listrik dengan suhu 95oC selama 25 menit.
Dinginkan.
Setelah dingin periksa dengan spektrofotometr dengan panjang gelombang 410 nm.
Cara kerja spektrofotometer: 1. Nyalakan alat spektrofotometer.
2. Isi cuvet dengan larutan blanko, standar dan sampel. 3. Atur panjang gelombang.
4. Masukan cuver satu per satu ke dalam spektrofotometri.
5. Lalu tekan tombol 0 ABS 100%T, tunggu sampai keluar kondisi setting blank (dalam bentuk teks).
Catat hasil yang didapatkan dan buat grafiknya Konsentrasi Absorban
3.3.2 Pemeriksaan Bahan Organik (Kmno4) Pada Sampel Air Minum
Pembuatan larutan pereaksi
Isi 2 erlenmeyer dengan memasukan masing-masing 100 ml sampel air minum dan isi 1 erlenmeyer dengan aquadest 100 ml menggunakan pipet gondok. Tambahkan masing-masing erlen meyer 5 ml asam sulfat 4N.
Titrasi dengan 0,01 N KMnO4 sampai berubah warna menjadi merah muda.
Tunggu sampai 5 menit agar sampel stabil.
Panaskan erlenmeyer menggunakan kompor listrik sampai mendidih. Tambahkan 10 ml asam oksalat 0,01 N sampai sampel bewarna bening. Titrasi dengan 0,01 KMnO4 sampai bewarna merah muda.
Catat pemakaian 0,01 KMnO4.
Hasil pemakaian KMnO4 :
Sampel 1 7,2 Sampel 2 6,7 Aquadest 6,1
Zat organik = 1000/100{(10+t) x f KMnO4 – 10} x 0,1 x BE KMnO4
mg/l ( sebagai KMnO4 )
= 1000/100{(10+6,66) x 10 – 10} x 0,1x 0,0316 = 10 {(16,66) x 10 – 10}x 0,1 x 0,0316
= 10 {16,66 – 10} x 0,1 x 0,0316 = 10 {156,6} x 0,1 x 0,0316 = 1566 x 0,1 x 0,0316 = 4,948 ppm
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1Hasil
No. ANALISIS HASIL STANDAR
PERMENKES 1. Nitrat (NO3) 2,76 mg/l Maks 50 mg/l 2. Zat organik
(KMnO4)
4,948 mg/l Maks 10 mg/l
4.2 Pembahasan
mg/l , Jadi sampel yang diperiksa adalah air yang memenuhi standar sesuai dengan syarat-syarat atau ketentuan dari permenkes.
Dari pratikum pemeriksaan parameter KMnO4 sampel air minum didapatkan
hasilnya yaitu 4,948 mg/l. Dan standar Mn permenkes no 492 tahun 2010 = maks 10 mg/l. Jadi sampel yang diperiksa adalah air yang memenuhi standar sesuai dengan syarat-syarat atau ketentuan dari permenkes.
Titik kurva kalibrasi pemeriksaan Nitrat (NO3) yang paling mendekati pada garis yaitu pada kosentarasi 1,5 mg/l dan 2 mg/l sehingga didapatkan hasil kosentrasinya adalah 2,76 mg/l.
BAB V
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pada pengukuran NO3 sampel air minum di buat larutan blanko, standar dan sampel yang telah sesuai dengan prosedur yang telah di tentukan, kemudian masukan larutan tersebut ke dalam cuvet lalu ukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 410 nm.
Dari pratikum pemeriksaan parameter NO3 sampel air minum didapatkan hasilnya yaitu 2,76 mg/l. Dan standar Fe permenkes no 492 tahun 2010 = maks 50 mg/l. Jadi sampel yang diperiksa adalah air yang memenuhi standar sesuai dengan syarat-syarat atau ketentuan dari permenkes.
Dari pratikum pemeriksaan parameter KMnO4 sampel air minum didapatkan
mg/l. Jadi sampel yang diperiksa adalah air yang memenuhi standar sesuai dengan syarat-syarat atau ketentuan dari permenkes.
4.2 Saran
Dengan mengetahui kualitas air bersih secara fisik seperti warna ,bau dan rasa, diharapkan kepada masyarakat agar dapat memilah mana air layak untuk di minum dan mana yang tidak, serta air tersebut telah melalui proses pengolahan terlebih dahulu dan telah memenuhi syarat yang telah di terapkan. Masyarakat juga harus mengetahui bagaimana bau dan rasa air yang mengandung zat organik agar masyarakat dapat meminimalisir terjangkitnya penyakit dalam lingkungan masyarakat seperti penyakit sakit perut.
DAFTAR PUSTAKA
Distribusi Terbuka. [on line]. www.pitoyo.com. Diakses pada 16 februari 2016.
Depkes RI, 1990. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 492/Menkes/Per/IX/2010.Jakarta. Slamet, Soemirat. 2007. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Syamsi, 2009. Kandungan Nitrat/ NO3 dan Nitrit/NO2 Pada Perairan Tawar. (Online)
(http://illonkjie.blogspot.com/2010/04/kandungan-Nitrat-no3-dan-Nitritno2-pada. Dia kses tanggal 16 februari 2016.
Takeuchi Yoshito. 2009. Analisis Unsur (
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_ dasar/pemurnian-material/analisis-unsur/)