• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAP.COM - JOIJOI - JOURNAL | UNAIR - UNIVERSITAS AIRLANGGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TAP.COM - JOIJOI - JOURNAL | UNAIR - UNIVERSITAS AIRLANGGA"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

11

was recorded. Patients, corrected with spectacles, were evaluated using Bagolini glasses test, Worth Four Dot Test, Synophtophore, and TNO stereo test.

Results: Most patiens indicated fusion by the Bagolini glasses, Worth Four Dot Test, and Synophtophore. Six patients indicated scotoma by the Bagolini glasses, and one patient showed suppression. On TNO test, stereoacuty levels were normal in 12 patients. Twenty four patiens indicated reduced or absent of stereoacuity. Synophtophore evaluation showed 10 orthophoria patiens , 25 esotropia patients and one patient missed the test.

Conclusion: Anisometropia does not correlate significantly to the depth of amblyopia. There is a correlation between anisometropia and binocular vision.

Key words: anisometropia, binocular vision, amblyopia

Pengertian anisometropia sampai sekarang

PENDAHULUAN

masih diperdebatkan. Beberapa penulis seperti Pengukuran fungsi penglihatan adalah penting

Sloane, Pickwell, Vaughan dan Duke Elder sebab dapat membantu menentukan penglihatan

menyebutkan pengertian anisometropia merupakan binokuler sejak awal. Kelainan tajam penglihatan

terminologi yang diberikan pada suatu kondisi dapat mempengaruhi penglihatan binokuler. Adanya

dimana refraksi pada kedua mata adalah tidak sama. perbedaan tajam penglihatan antara mata kanan dan

Perbedaan kelainan refraksi antara mata kanan dan kiri lebih sensitif mempengaruhi penglihatan

1 kiri bisa ringan sampai berat. Sloane 1979, membagi

binokuler.

menjadi beberapa tingkatan yaitu: pertama Untuk tercapainya penglihatan tunggal

perbedaan refraksi antara kedua mata kurang dari diperlukan tiga syarat yang harus terpenuhi yaitu faal

1,5D dimana kedua mata masih dapat dipakai masing-masing mata harus baik, seluruh otot-otot

bersama sama dengan fusi yang baik dan luar kedua mata dapat bekerja sama dengan baik

2,3 stereoskopik, kedua perbedaan refraksi antara

dan susunan saraf pusat yang baik.

kedua mata 1,5D sampai 3D (perbedaan silinder Penanganan anisometropia secara dini penting oleh

lebih bermakna dibandingkan sferis) dan ketiga karena berbagai hal atau masalah dapat terjadi yaitu

perbedaan refraksi lebih dari 3D. supresi, gangguan penglihatan binokuler, ambliopia

Penglihatan binokuler adalah penglihatan yang dan akhirnya berkembang menjadi mikrostrabismus

mempergunakan kedua mata secara serentak ataupun makrostrabismus

penderita unit rawat jalan mata RSU Dr. Soetomo disertai koordinasi tingkat tinggi sedemikian rupa

Surabaya usia sekolah dengan perbedaan refraksi sehingga menghasilkan sensasi penglihatan

antara mata kanan dan kiri. tunggal. Worth (1901), membagi penglihatan

binokuler menjadi 3 tingkat yaitu persepsi simultan, Besar sampel: fusi dan penglihatan stereoskopis.

Persepsi simultan adalah kemampuan untuk melihat secara serentak dua bayangan yang

4,5 kemampuan seseorang menyatukan dua bayangan

sampel 30 + 10% = 33 orang retina mata kanan dan kiri yang sesuai, baik di fovea

maupun diluar fovea, menjadi satu bayangan Kriteria inklusi: Keadaan umum baik, terdapat tunggal. Sedangkan gerakan reflek dari kedua mata perbedaan refraksi antara mata kanan dan kiri, tidak untuk mendapatkan kedudukan binokuler yang tepat didapatkan kelainan segmen anterior maupun sehingga fusi sensoris dapat dipertahankan disebut posterior yang mengganggu visus, tidak didapatkan fusi motorik. Fusi motorik hanya dimiliki oleh retina makrostrabismus, tidak pernah menjalani operasi

2,3,6

perifer. strabismus, bersedia mengikuti penelitian. Penglihatan stereoskopik adalah pengaturan

Kriteria eksklusi:tidak kooperatif, terdapat kelainan relatif dari persepsi kedalaman obyek visual, normal

2,3,7 segmen anterior yang memungkinkan terjadinya

60 detik busur atau lebih kecil.

ambliopia seperti ptosis, paska pembedahan Ambliopia secara klinis didefinisikan sebagai

palpebra, kekeruhan kornea dan katarak, terdapat penurunan tajam penglihatan dengan koreksi terbaik

kelainan segmen posterior seperti kelainan retina dimana pada pemeriksaan klinis tidak didapatkan

dan kelainan saraf optik. gangguan organis pada mata dan tidak dapat

dikoreksi maksimal serta tidak ada lesi pada lintasan Variabel yang diamati adalah: anisometropia, penglihatan di system saraf pusat, dapat unilateral penglihatan binokuler, ambliopia, umur dan jenis

6,8

atau bilateral. kelamin.

BAHAN DAN METODE Definisi operasional

Penelitian ini bersifat deskriptif (observasional Anisometropia. menurut Sloane, Pickwell, dan cross sectional) dengan tujuan umum untuk Vaughan dan Duke Elder yaitu suatu kondisi dimana mengetahui hubungan antara anisometropia dengan refraksi pada kedua mata tidak sama. Sloane 1979, penglihatan binokuler pada anak usia sekolah di unit membagi menjadi beberapa tingkatan: pertama rawat jalan mata RSU Dr. Soetomo Surabaya dan perbedaan refraksi antara kedua mata kurang dari tujuan khusus untuk mengukur derajat 1,5D dimana kedua mata masih dapat dipakai anisometropia, mengukur penglihatan binokuler bersama sama dengan fusi yang baik dan pada penderita anisometropia dan menghitung jumlah stereoskopik, kedua perbedaan refraksi antara penderita anisometropia yang mengalami ambliopia. kedua mata 1,5D sampai 3D (perbedaan silinder

Sebagai hipotesa adalah ada hubungan antara lebih bermakna dibandingkan sferis) dan ketiga derajat anisometropia dengan kedalaman perbedaan refraksi lebih dari 3D.

penglihatan binokuler dan ada hubungan antara Tajam penglihatan diperiksa dengan derajat anisometropia dengan ambliopia. menggunakan kartu Snellen atau kartu E. Bila Penelitian dilakukan di unit rawat jalan mata terdapat kelainan refraksi visus dikoreksi sampai RSU Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian dilakukan menghasilkan refraksi terbaik. Penglihatan binokular mulai bulan November 2005 sampai mencapai tunggal adalah suatu sistem penglihatan pada kedua jumlah sampel terpenuhi. Populasi penelitian adalah mata secara serentak disertai koordinasi tingkat

HUBUNGAN ANTARA BESARNYA ANISOMETROPIA DENGAN KEDALAMAN

PENGLIHATAN BINOKULER DAN AMBLIOPIA PADA ANAK USIA SEKOLAH

DI UNIT RAWAT JALAN MATA RSU DR. SOETOMO SURABAYA

I S S N . 1 6 9 3 - 2 5 8 7

J O I

Jurnal Oftalmologi Indonesia

Jurnal Oftalmologi Indonesia Vol. 5, No. 1, April 2007 : Hal. 58 - 64

J O I

59

Jurnal Oftalmologi Indonesia Vol. , No. , 5 1 April 2007

Yulianti Kuswandari, Hamidah M. Ali

Bag./SMF Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSU Dr. Soetomo Surabaya

Hubungan Antara Besarnya Anisometropia

(2)

Frekuensi %

Distribusi penderita menurut kelainan refraksi dan anisometropia Pemeriksaan Worth Four Dot Test jauh

didapatkan fusi 28 (77.8%) dan supresi 8(22.2%), sedangkan untuk dekat 33 (91.7%) fusi, supresi 2(5.6%) dan didapatkan diplopia pada 1 subjek. Pada penelitian yang dilakukan oleh Tomac S (2001), Jumlah subjek penelitian anisometropia dengan pemeriksaan Worth Four Dot tes jarak jauh penderita ambliopia, rata-rata 1.83 dimana dari 36 subjek dengan fusi 15 orang (60%), supresi 9 orang (36%)

9

penelitian sebanyak 22(61.1%) tidak didapatkan dan diplopia 1 orang (4%). ambliopia. Terbanyak didapatkan pada visus 6/7.5.

Sedangkan pada visus 6/8.5,6/10 dan 6/12 masing-masing 2 (5.6%). Visus 6/20, 6/40, 6/60 dan 2/60 masing-masing 1(2.8%). Penelitian yang dilakukan David RW, (2001), didapatkan rata-rata tajam penglihatan yang baik adalah 20/20 sedang tajam penglihatan yang lebih jelek adalah antara 20/20 sampai 20/432.

Sesuai dengan derajat penglihatan dari Maples 26 orang(72.2%) didapatkan hasil superimposed, dan paling sedikit 1(2.8%) simultan. Sedangkan supresi terjadi pada 9(25.0%) subjek penelitian. Tomac S (2001), menjelaskan subjek penelitian pada pemeriksaan dengan Worth Four Dot tes yang supresi dan diplopia menunjukkan bahwa disini hubungan antara anisometropia dan ambliopia lebih Pada pemeriksaan penglihatan binokuler tinggi dari pada subjek penelitian yang pada dengan Bagolini, fusi terdapat pada 80.6% subjek pemeriksaan didapatkan fusi dengan perbandingan yang berarti 29 orang, satu subjek didapatkan p= 0.0054: p= 0.0001. Rata-rata besar anisometropia supresi dan 6 orang (16.7%) didapatkan skotoma. 2.33D dan rata-rata ambliopia sebesar 7 baris Sedangkan pada penelitian yang dilakukan Tomac S dimana tidak didapatkan fusi pada jarak jauh. Pada (2001), semua penderita sebanyak 25 (100%) pemeriksaan jarak dekat menunjukkan supresi

9

didapatkan fusi. 3(12%) dan pada jarak jauh juga supresi. Pada 7 tinggi sehingga menghasilkan suatu persepsi Didapatkan jumlah subjek sebanyak 36 orang.

8 Laki-laki berjumlah 11(30.6%) sedangkan

bayangan tunggal. Pemeriksaan menggunakan uji

perempuan sebanyak 25(69.4%). empat titik dari Worth, uji kaca beralur Bagolini, uji

Kelompok umur terbanyak adalah >9-12 tahun prisma base out 4 Δ, synoptophore dan Tes TNO.

yaitu 14 orang (38-9%), sedangkan termuda adalah Kriteria ambliopia menurut Duke Elder adalah

umur 6 tahun sebanyak 1 orang (2.8%). Pada penurunan tajam penglihatan yang secara

penelitian yang dilakukan oleh David RW (2001), optalmoskopis tak ditemukan kelainan pada retina

rata-rata umur semua subjek penelitian adalah 105 ataupun kelainan lintasan aferen penglihatan.

bulan (8.75 tahun dengan rentang umur antara 37 Penilaian perbedaan yaitu dua tingkat dari bawah

10

pada Snellen Chart. sampai 174 bulan). Umur responden pada saat penelitian antara 6

sampai 17 tahun. Jenis kelamin responden laki-laki dan perempuan.

Cara Kerja

Dicatat data umum meliputi nama, umur, jenis kelamin. Tajam penglihatan diperiksa dengan menggunakan kartu Snellen. Dicatat berapa besar kelainan refraksi dan apakah terdapat ambliopia. Segmen anterior diperiksa menggunakan slit lamp sedangkan segmen posterior dengan oftalmoskop direk. Pemeriksaan penglihatan binokuler dengan tes Bagolini menggunakan kaca beralur Bagolini, kemudian dilakukan tes empat titik dari Worth untuk melihat apakah terdapat diplopia, supresi atau normal. Pemeriksaan synoptophore meliputi persepsi simultan, fusi dan stereoskopis. Selanjutnya dilakukan tes stereoskopis dengan menggunakan tes TNO.

Didapatkan kelainan refraksi terbanyak adalah

HASIL DAN PEMBAHASAN miopia astigmat sebanyak 13(36.1%), miopia

sedang sebanyak 12(33.3%), miopia ringan 7(19.4%) dan miopia berat sebanyak 4(11.1%). Sedangkan untuk besarnya anisometropia terbanyak adalah 0.25D - 1.50D sebanyak 29 orang (80.6%), kedua >1.50D - 3.00D sebanyak 6 orang (16.6%) dan >3.00 sebanyak 1 orang (2.8%). Rata-rata anisometropia 1.0139 dengan nilai terendah 0.25 dan nilai tertinggi 4.00. Menurut penelitian David RW 2001, didapatkan jumlah subjek penelitian dengan kelainan refraksi miopia, hipermetropia, astigmat miopia, astigmat hipermetropia dengan rentang antara 0.5 sampai >10. Subjek penelitian dengan anisometropia miopia 138 orang, anisometropia hipermetropia 139 orang, astigmat miopia 44 orang dan astigmat hipermetropia 40

Hubungan Antara Besarnya Anisometropia

Hubungan Antara Besarnya Anisometropia

Tabel 1.

Distribusi penderita anisometropia menurut jenis kelamin dan

Frekuensi %

Distribusi penderita menurut beratnya ampbliopia dan

Visus Skor Frekuensi %

Distribusi penderita anisometropia pada pemeriksaan Bagolini

Frekuensi %

Distribusi penderita anisometropia pada pemeriksaan Worth Four Dot Test (WFDT)

(3)

subjek penelitian yang mengalami supresi dan Pemeriksaan dengan tes stereoskopis TNO diplopia pada jarak jauh dan dekat didapatkan didapatkan rata-rata 359.2857 detik busur. hubungan yang tidak bermakna antara Terbanyak penderita dengan penglihatan binokuler anisometropia dengan ambliopia pada kedua grup. sebesar 60 detik busur yaitu: 9 orang (25.0%)

9 sedangkan paling sedikit pada 800 detik busur yaitu

(p=0.7143: p= 0.5476).

1(2.8%). Penderita yang tidak mempunyai stereoskopis sebanyak 6(16.7%) subjek. Pada penglihatan binokuler normal tajam penglihatan

2,3,7

stereoskopiknya 60 detik busur atau lebih kecil .

Cooper dkk 1979, menggunakan tes stereoskopik TNO mendapatkan hasil 98 detik busur (4 tahun) dan 72 detik busur (5 tahun). Dari penelitian Hamidah pada murid taman kanak-kanak di Sidoarjo pada tahun 2000 dengan menggunakan Worth Four Dot Test untuk fusi dan Titmus test untuk penglihatan stereoskopis didapatkan hasil rata- rata penglihatan stereoskopik 75.17 detik busur dimana 74.88% mempunyai penglihatan binokuler normal atau lebih

11

baik . Penelitian Tomac S (2001), hasil rata-rata 19 Pada pemeriksaan penglihatan binokuler subjek penelitian dengan penglihatan stereoskopis dengan synoptophore yang terdiri dari persepsi positif adalah 634.7 detik busur (median: 240 detik simultan, fusi dan stereoskopis, terbanyak berupa busur). Enam orang (24%) didapatkan stereoskopis esotropia untuk persepsi simultan dan fusi serta normal, 13 orang (52%) stereoskopis yang menurun stereoskopis positif yaitu: 17 orang (47.2%) dan dan 6 orang (24%) tidak didapatkan stereoskopis. paling sedikit ortoforia dengan stereoskopis negatif

yaitu 1 orang (2.8%). Sebanyak 11 orang (30.6%) mempunyai penglihatan binokuler, ortoforia dengan stereoskopis positif, 5 orang (13.9%) didapatkan esotropia tanpa stereoskopis. Sedangkan 2 orang (5.6%) tidak didapatkan persepsi simultan, fusi maupun stereoskopis.

Hubungan antara anisometropia dengan hasil tes Bagolini secara statistik tidak bermakna (p=0.675) dan lemah hubungannya dengan koefisien korelasi 0.072.

Hubungan anisometropia dengan Worth Four Dot test dengan kooefisien korelasi -0.343 , didapatkan hubungan yang signifikan pada p=0.040 (< 0.05)

Koefisien korelasi pada pemeriksaan synoptophore dengan anisometropia didapatkan

hasil 0.575 pada level <0.01 yaitu p= 0.000 berarti KESIMPULAN

didapatkan hasil korelasi yang signifikan. 1. Ada hubungan antara derajat anisometropia Pada pemeriksaan stereoskopis dengan tes dengan kedalaman penglihatan binokuler.

TNO didapatkan hasil 0.611 dengan korelasi yang 2. Tidak ada hubungan antara derajat anisometropia signifikan < 0.01 yaitu p= 0.000. dengan ambliopia.

Korelasi antara anisometropia dengan ambliopia pada penelitian ini tidak signifikan dengan

SARAN

koefisien korelasi 0.134. Ada ketidak sesuaian

Adanya anisometropia secara statistik hubungan antara anisometropia dengan ambliopia.

bermakna mempengaruhi penglihatan binokuler Tetapi beberapa peneliti mencatat bahwa semakin

seseorang sehingga pemeriksaan secara dini dan tinggi derajat anisometropia semakin tinggi juga

12 penjelasan kepada penderita dan orangtua penting

derajat ambliopianya. Malik et al, 1968

untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut mendapatkan bahwa ada tendensi penderita akan

akibat terganggunya penglihatan binokuler seperti mempunyai tajam penglihatan yang lebih baik bila

ambliopia, strabismus baik mikrostrabismus maupun anisometropianya lebih rendah. Peneliti lain seperti

makrostrabismus. Tomac S (2001), menyebutkan bahwa tidak ada

hubungan antara derajat anisometropia dengan derajat ambliopia, tetapi pada anisometropia yang disebabkan ambliopia dengan beda >3.29 terjadi penurunan penglihatan binokuler bahkan sampai tidak didapatkan penglihatan binokuler.

Penelitian David RW (2001), menunjukkan

DAFTAR PUSTAKA

bahwa anisometropia miopia lebih dari 2D atau

1. Akmam SM,1981. Refraksi Subyektif. Bagian Ilmu Penyakit

anisometropia hipermetropia lebih dari 1D secara

Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta

bermakna meningkatkan insiden terjadinya 2. Asbury T, Burke MJ, 1995. Strabismus. In: Vaughan DG, th ambliopia dan menurunkan fungsi penglihatan Asbury T, Riordaneva P, Ed, General Ophthalmology. 14 binokuler dibandingkan dengan subjek penelitian Ed. Appleton & Lange, p 240-260

3. Burian H.M, Von Noorden GK, 1974. Binocular Vision and

yang tidak mengalami anisometropia (p= 0.05).

Ocular Motility. The CV Mosby Co, Saint Louis. p 25-29,

35-Peningkatan derajat anisometropia pada miopia 36, 264-268

maupun hipermetropia meningkatkan insiden dan 4. Catalano N, 1989. Atlas of Occular Motility. WB. Saunders derajat keparahan ambliopia. Sedangkan astigmat and Co, Philadelphia. p 44-65

5. C a u s e o f , 2 0 0 4 . B i n o c u l a r F u n c t i o n s .

miopia ataupun astigmat hipermetropia lebih dari www.causeof.org. Accessed June 1 2004st

1.5D juga meningkatkan insiden terjadinya ambliopia 6. Chen SC et al, 2004. Visual Acuity Measurement of dan derajat keparahannya serta menurunkan fungsi Simulated Prosthetic Vision: A Virtual Reality Simulation penglihatan binokuler ( p= 0.05). Study. American Board of Opticianry. P 4-9

7. Cline D et al, 1980. Dictionary of Visual Science. Chilton,

Pada pemeriksaan dengan kaca beralur

Philadelphia, p 10

Bagolini 6 penderita didapatkan skotoma, satu 8. Cochran WG, 1977. Sampling Techniques. John Wiley & supresi dan 29 fusi. Penelitian Tomac S (2001), Sons, Inc, Canada.p 57

dengan kaca beralur Bagolini seluruh (25) subjek 9. Dale RT, 1982. Fundamental of Ocular Motility and Strabismus. Grune and Stratton Inc, New York. p 29-35

penelitian didapatkan fusi. Pemeriksaan dengan

10. Duke Elder et al, 1968. System of Ophthalmology. Vol IV.

kaca beralur Bagolini lebih mengarah pada fusi Henry Kimpton. London. p 677-709

perifer daripada fusi fovea. 11. Eddyanto, 1992. Prevalensi mata juling pada murid SDN Adanya skotoma fovea tidak berarti tidak ada Kabupaten Dati II Sidoarjo. Laboratorium Ilmu Penyakit Mata

Fakultas Kedokteran UNAIR/RSU Dr. Soetomo Surabaya

fusi pada pemeriksaan dengan Worth Four Dot tes

12. Gonzalez C, 1992. Strabismus and Ocular Motility. William

jarak jauh dibabdingkan dengan jaraj dekat. & Wilkins. London. p 4-24

Perbedaan respon ditunjukkan pada pemeriksaan 13. Gupta BJ, 2000. Monofixation Syndrome. E-medicine th

jarak dekat. journal 2000. [Medline] Accessed October 13 2004

J O I

Hubungan Antara Besarnya Anisometropia

Hubungan Antara Besarnya Anisometropia

Tabel 7.

Distribusi penderita anisometropia pada pemeriksaan

Frekuensi %

Distribusi penderita anisometropia pada pemeriksaan stereoskopis

Detik busur Frekuensi %

Hubungan antara anisometropia dengan Bagolini, Worth Four Dot test, Synoptophore, TNO tes dan Ambliopia

Spearman’s rho Bagolini WFDT Sinoptofor TNO Ambliopia

Anisometropia Correlation 0.072 -0.343 0.575 0.611 0.134 Coefficient

Sig.(2-tailed) 0.675 0.040 0.000 0.000 0.438

N 36 36 36 36 36

(4)

14. Hamidah MA, 1988. Ambliopia pada kelainan refraksi usia sekolah di RSU Dr. Soetomo Surabaya. Laboratorium Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran UNAIR/RSU Dr. Soetomo Surabaya

15. Hamidah MA, 1995. Mikrostrabismus. Laboratorium Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran UNAIR/RSU Dr. Soetomo Surabaya

16. Hamidah MA, 2003. Binocular Vision Among Children In Second Grade Of Kindergaten School In Surabaya. Folia Medica Indonesiana. Vol 39 No 3 July- September 2003, 195- 199

17. Handoyo ND, 1994. Perkembangan Visus dan

Binokularitas pada Anak. Seminar Strabismus pada Anak dan Rekonstruksi Mata. PIT XXII Perdami. Semarang. pp 1-12

18. Hedges TR et al, 2000. Neuro-Ophthalmology. Section 5, Part 1. In: Liesegang TJ, Deutsch TA, Grand MG Ed, Basic and Clinical Science Course

19. Kanski JJ, 2003. Strabismus. Clinical Ophthalmology. Fifth edition. Chapter 16: 516-33

20. Rutstein RP, Coeliss D, 1999. Relationship between anisometropia, amblyopia, and binocularity. Optom Vis Sci Apr;76(4):229-33

21. Sanjoto Hardjowijoto, 1980. Batas Antara Penglihatan Binokuler Normal danAbnormal. Universitas Padjadjaran , 1-6,12-34

22. Simons K, 1981. Stereoacuity norms in young children. Arch Ophthalmol, 99:434-445

23. Simons K, 1981. A comparation of the Frisby, Random Dot E, TNO, and Randot Circles Stereotest in Screening and Office Use. Arch Ophthalmol,99:446-52

24. Sudigdo Sastroasmoro, Sofyan Ismael, 1995. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Bag Ilmu Kesehatan Anak Fak Kedokteran UI, Jakarta

25. Sugiyono, 2005. Statistik untuk Penelitian. CV Alfabeta, Bandung

26. Tomac S, Birdal E, 2001. Effects of anisometropia on binocularity. J Pediatr Ophthalmol Strsbismus Jan-Feb; 38(1):27-33

J O I

64

Jurnal Oftalmologi Indonesia Vol. , No. , 5 1 April 2007

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu perlu dilakukan suatu kajian mengenai berapa potensi PAD yang dimiliki oleh Kabupaten Blora, dimana diharapkan dengan kajian ini bisa menemukan

transfer pricing yang masih dalam bentuk Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007 yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2008 masih yang belum ada aturan pelaksanaanya

Anderson (2006) mengemukakan bahwa dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang tersedia melaui Internet, keterampilan siswa

Jarak Microphone dari Loudspeaker 2012    

Budaya atau kebudayaan juga bisa dikatakan sebagai kerangka acuan perilaku kehidupan bagi masyarakat pendukungnya berupa nilai-nilai kebenaran, keindahan, keadilan ,

Adapun teknik pengambilan samplingnya yaitu dengan teknik sampling purposif (Purposive Sampling) dan Multi Stage Random Sampling. Teknik sampling purposif. Teknik disebut

Instrumen Penilaian kinerja Individu PNS meliputi : (1) Penilaian kinerja berdasarkan pada Sasaran Kinerja Individu (SKI) yang dilakukan dengan membandingkan antara realisasi

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 Tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia