Buatlah pemecahan dilema etik untuk kasus berikut menggunakan salah satu model pembuatan keputusan etik.
KASUS
Tuan A (70 tahun) menderita COPD stadium akhir dan di rawat di ruang ICU. Saat masih sadar penuh (compos metis), Tuan A mengatakan kepada dokter dan perawat bahwa tidak ingin dilakukan tindakan apapun seandainya kondisinya mengalami perburukan. Saat ini Tuan A mengalami hipoksemia, terpasang ventilator dan mengalami penurunan kesadaran. Keluarga ingin agar Tuan A mendapatkan perawatan yang terbaik.
JAWAB
Pengambilan keputusan etik dalam model proses keperawatan dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut (Morton, P. G., et al, 2008)
1. Kumpulkan bukti yang relevan
Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan guna memahami situasi secara menyeluruh.
2. Identifikasi masalah
Dalam mengidentifikasi masalah harus melibatkan orang lain dan gunakan sumber konsultasi yang tepat.masalah komunikasi dan batasan legal sering kali merupakan bagian dari masalah etik, namun beberapa masalah dapat diselesaikan dengan komunikasi yang lebih baik atau konseling legal tanpa analisis etik.
3. Analisis masalah menggunakan prinsip dan aturan etik
Dalam langkah ini, pengidentifikasian orang yang bertanggungjawab dan berwenang mengambil keputusan menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Baik itu dari pasien jika kompeten maupun dari keluarga sesuai dengan aturan etik yang ada.
4. Analisis alternatif dan tindakan
5. Evaluasi dan refleksi
Setelah tindakan dilakukan, masalah etik, proses resolusi dan hasilnya harus dianalisis kembali. Hasil dari tindakan tersebut harus disesuaikan dengan maksud dan tujuanya. Evaluasi khususnya bermanfaat apabila dilakukan dalam suasana yang tidak menghakimi dan tidak mengancam yang kondusifuntuk melakukan refleksi dan perubahan yang konstruktif.
Sesuai dengan kasus di atas, pengambilan keputusan dalam upaya pemecahan dilema etik yang terjadi dapat menggunakan Otonomi sebagai model pengambilan keputusan. Menghormato otonomi merupakan menghormati kemampuan individu untuk menentukan nasibnya sendiri, yaitu kemampuan mempertimbangkan dengan hati-hati tindakan dan keputusan hidup, dan bertindak menurut pertimbangan tersebut tanpa adanya campur tangan orang lain. Persetujuan tindakan adalah penerapan dari prinsip menghormati otonomi dalam tatanan perawatan kesehatan. Dalam kasus dijelaskan bahwa Tuan A mengatakan kepada dokter dan perawat bahwa tidak ingin dilakukan tindakan apapun seandainya kondisinya mengalami perburukan. Sebagai perawat dan tenaga kesehatan yang merawat Tuan A, persetujuan terhadap pernyataan Tuan A harus mempertimbangkan apakan Tuan A telah mendapatkan informasi yang adekuat, mempunyai kemampuan untuk memahami pilihan yang diambil Tuan A, serta apakah Tuan A sudah mempertimbangkan dengan hati-hati sehingga Tuan A mengambil keputusan tersebut dalam proses perawatan yang dilakukan. Usaha untuk menghormati otonomi terhadap Tuan A atau kepada pasien, sebagai perawat atau tim medis harus jujur kepada pasien dan keluarga pasien terkait kondisi Tuan A dan membantu mengambil keputusan terkait tindakan yang direkomendasikan atau yang harus dilakukan.
oleh Tuan A sebagai pemegang kekuasaan pengacara dalam perawatan kesehatan. Yang terpenting apabila memungkinkan, wali adalah seseorang yang mengetahui dan dapat mewakili pilihan dan kepentingan Tuan A sebagai pasien berkenaan dengan pemilihan teraoi.
Konsisten dengan sifat otonomi, persetujuan yang diberikan sebagai bagian dari persetujuan tindakan merupakan hal yang sukarela. Pasien bukanlah subyek paksaan , penipuan atau kebohongan. Pasien yang mendapat informasi lengkap dan bebas memberikan persetujuan memiliki hak untuk membuat keputusan otonomi, terlepas apakah keputusan sesuai dengan yang orang lain fikirkan tentang apa yang harus dilakukan, sepanjang tidak menyakiti orang lain.
Tuan A yang dirawat di ruang ICU biasa mengalami gangguan otonomi dan kapasitas pengambilan keputusan akibat sakit kritis dan penatalaksanaanya. Meskipun penting dalam setiap interaksi perawatan kesehatan perawat harus sering dan seksama melakukan pengkajian terkait kemampuan Tuan A untuk memahami pilihan terapi dan pengambilan keputusan di ICU.Tetap menghormati otonomi Tuan A sebagai pasien bisa ditunjukan melalui pengambil keputusan pengganti atau arahan lanjutan. Menghormati seseorang adalah prinsip utama yang melandasi otonomi.
Daftar Pustaka