• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEMISKINAN DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEMISKINAN DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

KEMISKINAN DI INDONESIA DALAM

PERSPEKTIF EKONOMI

:

Sebuah Kajian Pemodelan

MODEL (KERANGKA) KAJIAN

(2)
(3)

PENDAHULUAN

Negara Indonesia secara geografis dan klimatalogis merupakan negara yang mempunyai potensi ekonomi yang sangat tinggi. Dengan garis pantai yang terluas di dunia, iklim yang memungkinkan untuk pendaya gunaan lahan sepanjang tahun, hutan dan kandungan bumi yang sangat kaya, merupakan bahan (ingredient) yang utama untuk membuat negara Indonesia menjadi negara yang kaya. Suatu perencanaan yang bagus yang mampu memanfaatkan semua bahan baku tersebut secara optimal, akan mampu mengantarkan negara Indonesia menjadi negara yang makmur. Ini terlihat pada hasil hasil Pelita III s/d Pelita V yang dengan pertumbuhan ekonomi rata rata 6% - 7% membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan penduduk yang tertinggi di dunia. Dan Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat julukan “Macan Asia”.

(4)

Thailand, Philipina), dimana tingkat Gini ratio menunjukan tingkat penurunan yang cukup berarti.

Beberapa study empiris , dengan pendekatan time series yang bersifat cross-section study memberikan kesimpulan yang beragam. Deininger dan Squire (1995 , 1996) menyimpulkan bahwa ada korelasi positif antara pertumbuhan ekonomi suatu negara dengan peningkatan angka kemiskinan. Namun studi yang dilakukan oleh World Bank (1990), Fields dan Jakobson (1989) dan Ravallion (1995), menunjukan tidak ada korelasi antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kemiskinan. Kajian kajian empiris di atas pada hakekatnya adalah menguji hipotesis Kuznets di mana hubungan antara kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan hubungan negatif, sebaliknya hubungan pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesenjangan ekonomi adalah hubungan positif. Hubungan ini sangat terkenal dengan nama kurva U terbalik dari kuznets. Maka kedua studi yang mempunyai hasil bertolak belakang tersebut, justru menguatkan hipotesis dari Kuznets dengan kurva U terbalik. Kuznets menyimpulkan bahwa pola hubungan yang positif kemudian menjadi negatif, menunjukkan terjadi proses evolusi dari distribusi pendapatan dari masa transisi suatu ekonomi pedesaan (rural) ke suatu ekonomi perkotaan (urban) atau ekonomi industri.

Pertanyaannya adalah; mengapa pertumbuhan ekonomi dan pendapatan yang tinggi di Indonesia tidak diikuti dengan penurunan kemiskinan yang signifikan ?

Mengapa di Indonesia terdapat korelasi positif antara laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan kesenjangan pendapatan antara kaya dan miskin yang semakin tinggi ?

(5)

Faktor apa yang mempengaruhi ?

Faktor faktor apa yang membuat pola pemiskinan di Indonesia mengikuti kurva U terbalik dari Kuznets ?

Dapat disimpulkan bahwa, di samping variable pertumbuhan ekonomi dan pendapatan, ada variables dominan lainnya , yang berperann dalam mempengaruhi pola kemiskinan.

Pertumbuhan ekonomi dan pendapatan serta variabel lainnya sangat mempengaruhi pola kemiskinan di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendapatan adalah kondisi yang utama (necessary condition) tetapi perlu variabel-variabel pendukung lainnya (sufficient conditions) untuk menekan angka kemiskinan.

Tujuan penulisan ini adalah melakukan identifikasi terhadap sufficient conditions sehingga bisa disusun model ekonomi yang lebih akurat untuk kasus di Indonesia. Dengan teridentifikasikannya necessary conditions dan sufficient conditions pengambil keputusan lebih mudah untuk membuat kebijakan, membuat analisa, atau peramalan yang dapat menjadi acuan dalam pembuatan kebijakan yang terkait dengan usaha untuk menekan kemiskinan.

Tinjauan Filsafat

Tinjauan teologi dan etika terhadap kemiskinan

(6)

teologi juga mempertanyakan apakah pengentasan kemiskinan tersebut menjadi kewajiban negara atau kewajiban masing masing individu untuk berusaha sendiri. Para penulis

berpendapat bahwa pengentasan kemiskinan menjadi

kewajiban negara, baik dilihat dari sisi moral, maupun amanat yang sudah tertera dalam Undang Undang Dasar 1945.

Tinjauan Ontologi

Ontologi merupakan komponen ilmu filsafat yang menkaji tentang keberadaan suatu obyek. Dalam kaitannya dengan kemiskinan, ontologi berusaha untuk menkaji definisi dari suatu obyek yang sedang diteliti, yaitu: kemiskinan.

Kajian definisi dari kemiskinan dapat dilihat dari beberapa kajian. Menurut Badan Pusat Statistik (2000) kemiskinan

(7)

disebabkan karena faktor non alamiah, yaitu adanya kesalahan manfaat dari obyek yang dikaji. Tujuan dari kajian kemiskinan di Indonesia adalah untuk mengetahui gambaran atau peta kemiskinan di Indonesia, baik dilihat dari geographis, tingkat pendidikan dan peubah peubah yang mempengaruhi kemiskinan. Dengan diketahuinya peta kemiskinan tersebut maka akan memudahkan bagi pengambil keputusan untuk membuat kebijakan untuk mengentaskan kemiskinan.

Kajian Epistemologi

(8)
(9)

GAMBARAN KEMISKINAN di INDONESIA

Salah satu prasyarat keberhasilan program program pembangunan sangat tergantung pada ketepatan pengidentifikasian target group dan target area. Dalam program pengentasan nasib orang miskin, keberhasilannya tergantung pada langkah awal dari formulasi kebijakan, yaitu mengidentifikasikan siapa sebenarnya “si miskin” tersebut dan di mana si miskin itu berada. Kedua, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan melihat profil kemiskinan. Profil kemiskinan dapat dilihat dari karakteristik karakteristik ekonominya seperti sumber pendapatan, pola konsumsi/pengeluaran, tingkat beban tanggungan dan lain lain. Juga perlu diperhatikan profil kemiskinan dari karakteristik sosial-budaya dan karakteristik demografinya seperti tingkat pendidikan, cara memperoleh fasilitas kesehatan, jumlah anggouta keluarga, cara memperoleh air bersih dan sebagainya.

Pertanyaan kedua mengenai penyebaran kemiskinan dapat dilihat dari karakteristik geografisnya, yaitu dengan menentukan di mana penduduk miskin terkonsentrasi. Untuk kasus indonesia, aspek geografis ini bisa terbagi dalam

penyebaran kota dan desa, di Jawa dan di luar Jawa

(10)

kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan. Untuk kebutuhan makanan digunakan patokan 2100 kalori perhari. Sedangkan pengeluaran kebutuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan, sandang, serta aneka barang dan jasa. Pengeluaran bukan makanan ini dibedakan antara perkotaan dan pedesaan. Pola ini telah dianut secara konsisten oleh BPS sejak tahun 1976. Sayogyo dan Sam F.Poli dalam menentukan garis kemiskinan menggunakan ekuivalen konsumsi beras per kapita. Konsumsi beras untuk perkotaan dan pedesaan masing masing ditentukan sebesar 360 kg dan 240 kg per kapita per tahun (BPS, 1994). Sebaliknya Bank Dunia menggunakan standard mata uang dollar Amerika Serikat, yaitu untuk dekade 1980, standar pengeluaran untuk makanan adalah 50 dolar AS untuk pedesaan dan 75 dolar AS untuk per kapita per tahun (berdasarkan kurs dasar dollar 126 terhadap rupiah pada tahun 1971). BPS dalam mengadopsi ukuran dari Bank Dunia melakukan penyesuaian dengan pola dasar konsumsi pada tahun 1971, dan kemudian disesuikan dengan kenaikan harga (inflasi) dari bahan makanan pokok. Penyebaran kemiskinan, karakteristik demografis, karakteristik pekerjaan, sumber penghasilan, dan pola konsumsi penduduk miskin dan kaya, terlihat dalam data.

(11)
(12)

mencantumkan faktor tersebut sebagai basic human needs and tersebut menghadapi masalah masalah mandegnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya pengangguran yang diikuti dengan tingkat kemiskinan yang meningkat serta turunnya indikator makro ekonomi lainnya. Kenyataan ini mendorong timbulnya mashab baru dalam bidang ekonomi, yaitu perlunya campur tangan pemerintah dalam upaya mempercepat pemulihan di bidang ekonomi. Timbullah model model pembangunan ekonomi, di mana intinya memberikan peran kepada pemerintah untuk mengarahkan jalannya pertumbuhan ekonomi. Guidance development atau planned economy menjadi motor pertumbuhan ekonomi di hampir semua negara berkembang, termasuk Indonesia.

(13)

yaitu tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pertumbuhan pendapatan yang tinggi, tingkat inflasi yang rendah, kestabilan nilai tukar rupiah, rendahnya tingkat pengangguran dan perbaikan sarana perekonomian. Planned economy ini terbagi dalam lima Pelita (pembangunan lima tahun) di mana tahap pertama berakhir pada tahun 1997, yang kemudian diikuti dengan tahap ke II Pelita, yaitu tahap take of.

Model pembangunan Indonesia mengikuti model pembangunan Rostow.

Tahapan model pembangunan Rostow jelas terlihat dalam tahapan tahapan pelita di Indonesia.

Tahap pertama adalah mengubah pola traditional economy yang berbasis pertanian tradisional (pangan, low added value crops) menuju pola indsustrial economy, di mana kegiatan ekonomi bertumpu pada industri. Ciri utama adalah, pertama self sustaining dalam bidang pangan. Yang kedua, pertumbuhan ekonomi meningkat tajam, capital-labor ratio semakin meningkat, share industri dalam pertumbuhan ekonomi semakin besar (bahkan mulai menggeser peranan sektor pertanian).

(14)

pembangunan mulai diserahkan kepada swasta. Pemerintah lebih bersifat pendorong, melalui peraturan dan kestabilan politik. Beberapa indikator utama dalam tahap ini adalah yang pertama, terjadinya perubahan teknologi dalam pengelolaan baik sektor industri maupun pertanian. Ratio capital to labor semakin meningkat. Yang kedua, peran penanaman modal asing dalam pembangunan ekonomi semakin tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dari peran swasta domestik maupun negara. Selanjutnya, growth model bertumpu pada akumulasi kapital melalui pasar modal. Ini berarti peran rakyat dalam pembangunan mulai diaktifkan, terutama dalam akumulasi modal melalui transaksi di pasar modal.

Tahap keempat adalah take-of. Pada tahap ini peran pemerintah pada pembangunan ekonomi hanyalah sebagai fasilitator, bukan lagi inisiator. Peran swasta sangat tinggi dalam pembangunan. Market mechanism mulai diperkenalkan. Local currency memasuki international trading.

Dengan berakhirnya tahapan I pelita (tahun 1997), Indonesia sudah mulai tahap take-of atau tahap tinggal landas. Dan tahap kedua Pelita memang secara implisit diarahkan untuk memulai tahap take-of.

(15)
(16)

dengan meningkatnya kesenjangan pendapatan, namun dalam jangka panjang peningkatan pendapatan akan diikuti dengan penurunan kesenjangan pendapatan. Phenomena ini dikenal dengan nama “Kurva U terbalik dari Hipotesis Kuznets”. Pertanyaannya adalah berapa lama jangka pendek itu? Dan berapa lama jangka panjang itu? Kapan titik balik dicapai?

(17)

kemiskinan atau mungkin le bih tepatnya adalah kesejahteraan pun bisa meningkat dinegara negara yang berbasis pertanian.

BEBERAPA INDIKATOR PENGUKURAN

KEMISKINAN

Kemiskinan bisanya diukur dari kesenjangan dalam distribusi pendapatan. Artinya kemiskinan diukur dari tingkat pendapatan. Biasanya pendepatan yang dipergunakan adalah pendekatan aksiomatik (axiomatic approach), yaitu dengan memakai tiga alat ukur:

(18)

Ukuran Atkinson mengukur ketimpangan distribusi pendapatan , yaitu sbb :

Di mana parameter ketimpangan 0 <  < ,berarti semakin

tinggi nilai  semakin tidak seimbang pembagian pendapatan antar golongan.

Gini ratio merupakan alat ukur yang umum dipergunakan dalam studi empiris, yaitu dengan formula:

tingkat pemerataan yang sempurna , dan semakin besar nilai Gini maka semakin tidak sempurna tingkat pemerataan pendapatan.

(19)

tinggi. Ranis, Ravallion dan Datt memasukan faktor seperti tingkat kemudahan mendapatkan pendidikan yang murah, hak mendapatkan informasi, layanan kesehatan yang mudah dan murah, perasaan aman baik dalam mendapatkan pendidikan dan lapangan kerja, dan lain lain.

Intinya adalah dalam mengukur kemiskinan, banyak variabel non keuangan yang harus diperhatikan. Variabel keuangan (tingkat pendapatan) bukanlah satu satunya variabel yang harus dipakai dalam menghitung kemiskinan.

Namun kalau pengambil keputusan, lebih menitikberatkan pada cross variable study dalam mengatasi masalah kemiskinan, maka berarti kemiskinan akan diatasi dengan cara meningkatkan kesejahteraan dalam arti yang luas.

PENANGGULANGAN KEMISKIKAN DI INDONESIA

Model pembangunan Indonesia mengikuti pola growth model dari Rostow. Secara umum pola dari Rostow adalah memperbesar kue pembangunan baru kemudian dibagi. Karena intinya Rostow adalah pemupukan modal melalui kegiatan industri untuk menggantikan peran pemerintah dalam pembangunan. Ciri utamanya adalah strategi untuk menarik investasi dengan upah kerja yang murah, pajak yang rendah, dan monopoli serta konsentrasi pada beberapa investor dan jenis industri.

(20)

1. Inpres Desa Tertinggal, tujuannya adalah menciptakan layanan pendidikan yang gratis untuk pendidikan dasar sampai menengah.

4. Inpres obat obatan, tujuannya adalah untuk memberikan obat obatan yang murah kepada masyarakat miskin

5. Inpres inpres lainnya, yang prinsipnya adalah meningkatkan kesejahteraan penduduk pedesaan. Di samping inpres inpres tersebut, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan kebijakan yang tujuannya adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan penduduk pedesaan, misalkan :

1. Ketentuan mengenai Kredit Usaha Tani, untuk memudahkan petani mendapatkan modal untuk mengolah tanah

2. Ketentuan mengenai kredit perbankan (KIK atau kredit candak kulak) tujuannya adalah memberikan kemudahan rakyat untuk mendapatkan modal untuk usaha diluar sektor pertanian.

3. Pembebasan pajak untuk hasil pertanian. 4. Subsidi atas pupuk dan obat obatan pertanian

(21)

6. Pola KKPA untuk sistim transmigrasi terpadu, tujuannya adalah menjamin para transmigran mendapatkan penghasilan yang tetap dan alat produksi.

7. dan lain lain.

c. Strategi keuangan dan industri yang mengarah pembentukan modal di sektor industri kecil dan menengah

2. Strategi penciptaan lapangan kerja melalui : a. Penyebaran pusat pusat industri

b. Penyebaran sektor sektor industri. Industrialisasi tidaka bertumpu pada satu sektor saja, tetapi bertumpu pada beragam sektor, misal pertanian, perikanan, pariwisata, komunikasi dan lain lain. c. Kebijakan yang menjamin keamanan dan kepastian

(22)

3. Pengawasan government expense yang lebih menekankan pada balanced budget.

4. Menentukan parameter parameter kesejahteraan.

PENUTUP

Dengan mengasumsikan bahwa negara bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya, maka menjadi kewajiban negara untuk menekan angka kemiskinan. Atau lebih tepatnya, negara bertanggung jawab akan kesejahteraan penduduknya. Kesejahteraan haruslah menjadi ukuran yang utama, jauh lebih baik hanya sekedar meningkatkan pendapatan penduduk. Ini berarti negara harus memperhatikan faktor faktor lainnya selain faktor keuangan. Dengan meningkatnya kesejahteraan maka negara akan banyak mendapatkan manfaat yang banyak. Baik dari segi keuangan (pendapatan pajak meningkat) atau faktor non keuangan, misalkan keamanan lebih terjamin, kebanggaan berbangsa meningkat dan lain lain.

(23)

Daftar Pustaka

1.

Mankiw, N. Gregory, “Macro Economics”, New York: Worth Publishers, fourth edition , 1997

2.

Hess, Peter and Ross, Peter, “Development Economics : Theories, evidence, and policies”, the Dryden Press – Harcourt Brace College Publisher,

3.

Branson, H. Williem and Litvack, M. James, “Macro economics”, New York: Harper & Row, Publishers, second edition, 1981

4. Romer, David, “Advanced Macro Economics”, The McGraw-Hill Companies, Inc., 1996.

5. Turnovsky, J. Stephen, “Macroeconomic Analysis and Stabilization policy”, Cambridge: Cambridge University Press, 1981

6. Gillis, Malcom, “Economics of Development”, New York: W.W. Norton Company, Third Edition, 1992

7. Basri, Faisal, “Perekonomian Indonesia Menjelang Abad 21”, Jakarta: Penerbit Erlangga, 1997.

8. Badan Pusat Statistik, “Buletin Ringkas BPS”, BPS, Maret 1999

9. Tambunan, Tulus, ”Perekonomian Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999

10.Badan Perencanaan Pembangunan Nasional,”panduan Program Inpres Desa Tertinggal, Jakarta: Badan

Perencanaan Pembangunan Nasional, 1993

(24)

Tabel 1 : Jumlah Kesempatan Kerja , Angkatan Kerja (juta orang) tahun 1991 - 1997

91 92 93 94 95 96 97

Kesempatan kerja 76,4 78,5 79,2 82,0 83,9 85,7 87,1

Angkatan kerja 78,5 80,7 81,5 85,8 87,9 90,1 93,1

Angk.Ker. yg tidak

tertampung

- % jumlah 2,1 2,2 2,3 3,8 4,0 4,4 4,2

- % 2,68 2,73 2,82 4,43 4,55 4,89 4,60

[Sumber : diolah dari data BPS (Sakernas) dan ILO, 1999]

Tabel 2 : Jumlah Penggangguran dan Inflasi, PDB ( %) 1991 s/d 1997

Pengangguran Inflasi PDB Kesempatan Krj

91 2,68 9,52 00 00

(25)

93 2,82 9,77 7,14 0,89

94 4,43 9,24 7,54 3,54

95 4,55 8,64 8,21 2,32

96 4,89 6,47 7,99 2,14

97 4,60 11,06 4,65 1,63

[Sumber : data BPS dan Tajul Kholiwati, Inflasi dan Solusinya, hal.75, Tambunan, Tulus, Perekonomian Indonesia, hal..91]

Tabel 3 : Perkembangan Gini Ratio dan PDB (rata rata p.t ) 1965-1997 (%)

Growth PDB Gini Ratio

1965 – 1970 2,7 0,35

1971 – 1980 6,0 0,40

1981 – 1990 5,4 0,30

1991 – 1997 7,4 0,33

(26)

Tabel 4 : Tingkat Pengangguran

Agustus 1997 Agustus 1998 Perubahan

Penganguran Terbuka

- Jumlah (ribuan org) 4197,3 5062,5 865,2

- % (4,68) (5,46) --

Setengah Menganggur

- jumlah (ribuan org) 28365,5 32120,0 3754,5

- % (31,66) 34,64) --

Bekerja Penuh

- Jumlah (ribu org) 57040,0 55552,4 (1487,6)

- % (63,66 (59,90)

[Sumber : Sakernas]

Catatan : Berkerja Penuh - 35 jam atau lebih per minggu

Tabel 5 : Perkiraan Jumlah TK yang terkena PHK per sektor Ekonomi,

(27)
(28)

Tabel 6 : Jumlah penduduk miskin dan tidak miskin menurut

Wilayah, tahun 1990 (persen)

Wilayah Daerah Miskin Tidak miskin

Jumlah

Jawa + Bali Kota 26,82 20,38 21,36

Desa 29,80 42,22 40,32

Total 56,61 62,60 61,68

Luar Jawa Kota 10,46 8,65 8,93

Bali Desa 32,93 28,75 29,39

T o t a l 43,39 37,40 38,32

Indonesia Kota 37,28 29,03 30,29

desa 62,72 70,97 69,71

T o t a l 100,00 100,00 100,00

[Sumber : diolah dari data Susenas, 1990]

Tabel 7 : Jumlah Penduduk Miskin setelah Krisis Keuangan

(29)

01 1993 8,7 17,2 25,9

02 1997 9,6 24,9 34,5

03 1998 17,6 31,9 49,5

04 Feb.1999 15,7 32.7 48,4

05 Ags.1999 12,4 25,1 37,5

[Sumber : diolah dari data Susenas, 1990]

(30)

Y Shock model adalah model yang cukup komprehensip untuk mengukur faktor faktor yang mempengarahui pergerakan Y, atau tingkat produksi nasional. Model ini digunakan untuk mengukur variabel-variabel yang bisa mempengaruhi Y.

(31)

Secara matematis model dapat ditulis sbb:

Yt = [ + (1 - a) aLK] Kt + (1 - a)(1 + aLA) At + aLGGt

Dimana :

(32)

(1 - a)(1-aLA)At : Parameter Tehnologi

aLGGt : Parameter Government (pengeluaran pemerintah) .

Model Pemerataan Pendapatan (Gini Ratio).

Secara matematis model tersebut dapat ditulis sbb:

1 n n

Gini = --- yi - yj  2n2 – y I=1 j=1

(33)

Model Solusi Masalah

(34)
(35)

Gambar

Tabel 2 :  Jumlah Penggangguran dan Inflasi, PDB  ( %)  1991 s/d 1997
Tabel  3  :  Perkembangan Gini Ratio dan PDB (ratarata p.t ) 1965-1997 (%)
Tabel 4 :  Tingkat Pengangguran
Tabel 6 : Jumlah penduduk miskin  dan tidak miskinmenurut               Wilayah, tahun 1990  (persen)

Referensi

Dokumen terkait

Gresik Jawa Timur 13 Titik Dwi Setyowati 201510706851 SD NEGERI KEDANYANG Desa Kedanyang No. Raya

Algoritma yang digunakan dalam berbagai tahap mesin sesuai dengan alfabet bahasa Inggris, yang membuatnya lebih mudah untuk mendukung skrip lain yang secara

Kegiatan awal a) Guru mengucapkan salam, b) Apersepsi: tanya jawab tentang materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Kegiatan inti, a) Sebelum melakukan diskusi kelompok, guru

Berdasarkan pada tujuan penelitian yang telah dirumuskan dan pengolahan data menggunakan metode probabilistik model Continuous review (s,S) System, maka dapat diperoleh

Berikut ini adalah contoh candi yang termasuk corak candi Jawa Tengah bagian Selatan, kecuali «.. Candi

media internet sebagai sarana jual beli baru yang akan mengubah kebiasan konsumen dalam berbelaja (Dholakia, Kahn, Reeves, Rindfleish, Stewart dan Taylor,

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana1) implementasi pendidikan seks yang Islami menurut Abdullah Nashi Ulwan pada keluarga petani di Kelurahan Bulu Tana, 2)

Konsep &amp; Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Kesehatan Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan.. Jakarta: