• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi Bimbingan dan Konseling 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Materi Bimbingan dan Konseling 2"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

LATAR BRLAKANG PENGERTIAN BIMBINGAN, PENGERTIAN KONSELING DAN HUBUNGAN ANTARA BIMBINGAN DAN KONSELING.

A. LATAR BELAKANG

Guru bukan hanya sebagai seorang yang mentransfer ilmu pengetahuan yang dimiliki kepada peserta didiknya akan tetapi haruslah menjadi seorang yang dapat memberikan alternatif-alternatif kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar sehingga peserta didik yang dihadapi tidak putus semangat untuk melakukan proses belajar. Oleh karena itu seorang guru seyogyanya dalam melihat hal-hal yang dapat menghambat tercapainya tujuan dari proses belajar mengajar yang telah ditentukan.

Hal yang urgen bagi guru adalah bagaimana agar dapat meminimalisir masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik dengan memberikan alternatif kepada siswa yang mengalami / memiliki masalah yang dapat menghalangi tercapainya tujuan proses belajar mengajar dengan jalan menawarkan berbagai jalan keluar yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh peserta didik. Satu hal yang perlu diperhatikan oleh guru adalah pengetahuan tentang bimbingan dan konseling agar dapat memberikan alternatif bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar.

B. PENGERTIAN BIMBINGAN

Istilah bimbingan adalah arti dari “Guidance” itu sendiri selain diartikan bimbingan atau bantuan juga diartikan: pimpinan, arahan, pedoman, petunjuk. Kata “Guidance” berasal dari kata dasar “To Guide”; mempedomani, menjadi petunjuk jalan, mengemudikan. Adapun dalam pembahasan karya tulis ini Guidance dipergunakan untuk pengertian bimbingan atau bantuan.

Adapun pengertian bimbingan yang lebih formulatif adalah bantuan yang diberikan kepada individu (dalam hal ini) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan dan mengatasi hambatan.

Untuk dapat memperoleh pengertian yang lebih jelas, dibawah ini akan dikutip beberapa defenisi:

(2)

2. Menurut Jear Book of Education 1955 Bimbingan adalah “sesuatu proses membantu individu melalui usaha sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial”.

Bimbingan merupakan bantuan dan tuntunan yang mengandung pengertian bahwa bimbingan harus memberikan bantuan kepada yang dibimbingnya, serta menentukan arah kepada yang dibimbingnya. keadaan ini seperti yang terkenal dalam dunia pendidikan “tut wuri handayani” yaitu, bahwa didalam memberikan bimbingan, arah diserahkan kepada yang dibimbingnya; hanya dalam keadaan yang memaksa, bimbingan, mengambil peranan secara aktif didalam memberikan bimbingan. Tidaklah pada tempatnya apabila pembimbing memberikan individu yang dibimbingnya terlantar keadaanya, bila ia telah nyata-nyata tidak dapat mengatasi persoalannya. bimbingan itu dapat diberikan kepada siapa saja yang yang membutuhkan, baik secara individual maupun secara kelompok tanpa memandang keadaan umur (of any age)

Dari pengertian pengertian diatas dapatlah ditarik beberapa pengertian bimbingan yaitu:

 Bahwa bimbingan merupakan suatu proses yang terus menerus “continuous process”

 Bimbingan merupakan suatu proses membantu individu

 Bantuan yang diberikan adalah bentuan psikologis agar individu dapat mengembangkan dirinya secara maksimal sesuai dengan potensi atau kemampuannya.

 Tujuan utama bimbingan adalah agar individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.

 Untuk melaksanakan bimbingan diperlukan petugas yang memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam bidang bimbingan dan koseling.

(3)

mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik didalam keluarga, sekolah dan masyarakat.

C. PENGERTIAN KONSELING

Konseling berasal dari istilah Inggris “Counseling” yang di Indonesiakan menjadi “Konseling”. Istilah ini memiliki arti perembungan, pemberian nasehat, penyuluhan, penerangan atau penyelidikan, pengintaian dan kata penyuluhan mengindikasikan bahwa hanya satu pihak yang aktif yaitu orang yang memberi penerangan / penyuluhan.

Untuk mendapatkan pengertian yang lebih memadai tentang konseling, dibawah ini akan dikemukan beberapa pendapat, antara lain:

1. Donald G. Mortenson and Alan M. Sehmuller, dalam bukunya yang berjudul: “Guidance in Today’s”, menyatakan:

Konseling dapat diartikan sebagai suatu proses hubungan seorang dengan seorang, dimana yang seorang dibantu oleh yang lain untuk meningkatkan dan kemampuannya dalam menghadapi masalahnya. (Donal. G. Mortenson Dan Alan. M. Schuller, 1976).

2. Herbert M. Surks, Jr dan Bufford Steffler, merumuskan batasan konseling yang lebih terurai dalam bukunya yang berjudul “Theories of Counseling”, yang dikutip dari pandat J.W. Gustad, adalah sebagai berikut:

(4)

anggota masyarakt yang berbahagia dan lebih produktif. (Herbert M. Burks, Jr. dan Bufford Steffler, 1979).

3. C.G Wrenn memberikan pendapatnya sebagai berikut:

Menurut Wreen yang dimaksud dengan konseling adalah relasi antara pribadi yang dinamis antara dua orang yang berusaha untuk memecahkan sebuah masalah dengan mempertimbangkan secara bersama-sama, sehingga pada akhirnya orang yang lebih muda atau orang yang mempunyai kesulitan yang lebih banyak diantara keduanya dibantu oleh yang lain untuk memecahkan masalahnya berdasarkan penentuan diri sendiri. (C.G Wreen, 1951).

Apabila ditelaah pendapat tersebut maka konseling itu dapat dilaksanakan oleh orang tidak memiliki/mempunyai keahlian khusus sebagai tenaga professional.

D. HUBUNGAN ANTARA BIMBINGAN DAN KONSELING

Jika kita teliti antara pengertian bimbingan dan pengertian konseling, akan kita dapati adanya sifat-sifat yang khas yang ada pada konseling.

Hal ini dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Konseling merupakan salah satu metode dari bimbingan, sehingga pengertian bimbingan lebih luas dari pada pengertian konseling. Karena itu konseling merupakan guidance merupakan konseling.

2. Dalam konseling sudah ada masalah yang tertentu, yaitu masalah yang dihadapi oleh conselee. Pada Guidance lebih bersifat preventif atau pencegahan, sedangakan pada konseling lebih bersifat kuratif korektif. Guidance dapat diberikan sekalipun tidak ada suatu masalah. Keadaan ini tidak berarti bahwa pada bimbingan sama sekali tidak ada segi kuratif dan sebaliknya pada konseling tidak ada segi prevektif. Dalam penyuluhan kita dapati segi preventif pula dalam arti menjaga atau mencegah jangan sampai timbul masalah yang lebih mendalam. 3. Konseling pada prinsipnya dijalankan secara individual, yaitu antara coselor

(5)

Karena ada sifat-sifat yang khas inilah maka dipakailah istilah “konseling” disamping “bimbingan”.

PRINSIP-PRINSIP DAN ASAS-ASAS BIMBINGAN DAN KONSELING A. Pengertian Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling

Prinsip yang berasal dari asal kata ” PRINSIPRA” yang artinya permulaan dengan sautu cara tertentu melahirkan hal–hal lain , yang keberadaanya tergantung dari pemula itu, prinsip ini merupakam hasil perpaduan antara kajian teoriitik dan teori lapangan yang terarah yang digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan yang dimaksudkan. (Halaen,2002,: 63)

Prinsip bimbingan dan Konseling memnguraikan tentang pokok – pokok dasar pemikiran yang dijadikan pedoman program pelaksanaan atau aturan main yanh harus di ikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan dapat juga dijadikan sebagai seperangkat landassan praktis atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.

Prayitno mengatakan : ” Bahwa prinsip merupaka hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan” jadi dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip – prinsip bimbingan dan konseling merupakan pemaduan hasil – hasil teori dan praktek yang dirumuskan dan dijadikan pedoman sekaligus dasar bagi peyelengaran pelayanan.

B. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling

Prinsip-prinsip BK merupakan pemanduan hasil-hasil teori dan praktek yang dirumuskan dan dijadikan pedoman dan dasar bagi penyelenggaraan pelayanan.

1. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan :

(6)

b. Bimbingan dan konseling berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu dan memperhatikan tahap-tahap atau berbagai aspek perkembangan individu, serta memberikan perhatian utama kepada perbedaan invidual yang menjadi orientasi pokok pelayanan.

2. Prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individu

Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental atau fisus individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah maupun disekolah, dan yang menjadi faktor timbulnya masalah pada individu adalah kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan.

3. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan program pelayanan

a. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari upaya pendidikan dan pengembangan individu.

b. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dngan kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga serta disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan terendah sampai tertinggi.

4. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan tujuan pelaksanaan pelayanan

a. Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk mengembangkan invidu sehingga keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh individu hendaknya atas kemauan individu itu sendiri.

b. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.

(7)

Prinsip BK disekolah menegaskan bahwa penegakan dan penumbuh kembangan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah hanya mungkin dilakukan oleh konselor profesional yang sadar akan profesinya, dan mampu menerjemahkan ke dalam program dan hubungan dengan sejawat dan personal sekolah lainnya, memiliki komitmen dan keterampilan untuk membantu siswa dengan segenap variasinya disekolah, dan mampu bekerja sama serta membina hubungan yang harmonis-dinamis dengan kepala sekolah.

C. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling

Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut.

1. Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.

2. Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.

(8)

4. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.

5. Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.

6. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.

7. Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

8. Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

(9)

boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai dan norma tersebut.

10. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif yang baik lebih sedikit dibandingkan dengan pemberian ASI eksklusif yang tidak baik, lebih dari

Dari aspek tata kelola pemerintahan yang baik, program dan kegiatan pembangunan akan diarahkan untuk meningkatkan kualitas birokrasi dan tata kelola pemerintahan yang

Permasalahan yang dikaji dan diidentifikasi dalam penelitian ini yaitu pengaruh dari penggunaan Variasi metode Pembelajaran oleh guru kimia SMA 9 Semarang terhadap siswa,

Citra Ishihara terdiri dari banyak plate dimana setiap plate memiliki objek berupa angka maupun alur tertentu, warna objek (object color), dan warna latar

Rumah Perawatan Psiko-Neuro-Geriatri atau yang lebih dikenal dengan “Puri Saras” adalah klinik kesehatan yang bergerak dalam bidang layanan kesehatan jiwa, mulai beroperasi sejak

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan Hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul

52 Ibid., h.. kategori media standar maupun non standar. Sebagaiman kita ketahui bahwa sekarang ini kita telah berada pada dimensi kemajuan teknologiyang sangat dan

Berawal dari bentuk tersebut sesuai dengan tema perancangan yang diambil Wujud Ekspresionisme adalah kebebasan berekspresi yang diwujudkan, selain Ekspresi yang