BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sektor pertanian sangat berperan penting terhadap kelangsungan hidup umat manusia. Sudah sejak lama sektor pertanian menjadi sektor vital dalam pembangunan umat manusia. Karena tidak hanya sebagai sumber pendapatan petani melainkan juga sebagai sumber pendapatan Negara dan sebagai penanggung jawab ketersediaan pangan bagi umat manusia. Sektor pertanian ini sudah digalakkan semenjak jaman Rasulullah S.A.W. Daratan Madinah yang semula subur semakin dikembangkan industri di bidang pertaniannya. Bahkan itu terjadi walaupun di masa perang.
Jumhur ulama berselisih pendapat mengenai profesi yang paling baik adalah profesi dalam perniagaan, pertukangan ataupun pertanian. Menurut Imam An-Nawawi dalam Shahihnya, pekerjaan yang baik dan afdhal ialah pertanian. Inilah pendapat yang sahih kerana ia merupakan hasil tangannya sendiri dan ia juga memberi manfaat kepada diri sendiri, umat Islam dan kepada binatang. Di samping itu bidang pertanian juga membawa para petani kepada sifat tawakkal. (Al-Majmuk: 9/54 & Shahih Muslim Syarh Imam An-Nawawi).
Kepentingan bidang pertanian pada pandangan Islam dapat dilihat dari banyaknya ayat al-Quran yang menyebutkan mengenai hasil tanaman dan buah- buahan yang beragam. Kegiatan pertanian dari aspek aqidah dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah. Hal ini kerena tanda kebesaran Allah SWT. dapat dilihat dengan jelas dalam proses kejadian tumbuh-tumbuhan atau tanaman. Melakukan usaha pertanian lebih membuat seseorang itu memahami hakikat sebenarnya tawakal kepada Allah SWT. dan beriman kepada kekuasaan-Nya.
Begitu mulianya profesi dibidang pertanian ini lah yang melatar belakangi makalah ini dibuat. Karena, Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Yaitu Khalifah yang turun temurun dan berkelanjutan untuk melestarikan alam. Alangkah mulianya jika manusia andil peran dalam pelestarian alam. Untuk melestarikan alam ini tentu yang diperlukan Pangan bagi seluruh makhluk., dan profesi dibidang pertanian inilah yang menjamin pangan bagi seluruh makhluk Allah.
1.2 Rumusan Masalah
- Apa pengertian profesi?
-Macam-macam profesi yang baik dalam perspektif islam?
-Konsep pertanian dalam islam?
-Bagaimana pandangan islam dalam profesi di bidang pertanian?
1.3 Tujuan
-Untuk mengetahui pengertian profesi.
-Untuk mengetahui macam-macam profesi yang baik dalam perspektif islam.
-Untuk mengetahui konsep pertanian dalam islam.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Profesi
Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris "Profess", yang dalam bahasa Yunani adalah "Επαγγελια", yang bermakna: "Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen".
Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi, dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer, pertanian, teknik, dan desainer.
Berikut beberapa istilah profesi yang dikemukakan oleh para ahli :
1) SCHEIN, E.H (1962)
“Profesi adalah suatu kumpulan atau set pekerjaan yang membangun suatu set norma yang sangat khusus yang berasal dari perannya yang khusus di masyarakat.”
2) HUGHES, E.C (1963)
“Peprofesi menyatakan bahwa ia mengetahui lebih baik dari kliennya tentang apa yang diderita atau terjadi pada kliennya.”
3) DANIEL BELL (1973)
“Profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan memperoleh sertifikat yang dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung jawab pada keilmuan tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan mengimplikasikan kompetensi mencetuskan ide, kewenangan ketrampilan teknis dan moral serta bahwa perawat mengasumsikan adanya tingkatan dalam masyarakat.”
4) PAUL F. COMENISCH (1983)
5) KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA
“Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu.”
6) K. BERTENS
“Profesi adalah suatu moral community (masyarakat moral) yang memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama.”
7) SITI NAFSIAH
“Profesi adalah suatu pekerjaan yang dikerjakan sebagai sarana untuk mencari nafkah hidup sekaligus sebagai sarana untuk mengabdi kepada kepentingan orang lain (orang banyak) yang harus diiringi pula dengan keahlian, ketrampilan, profesionalisme, dan tanggung jawab.”
8) DONI KOESOEMA A
“Profesi merupakan pekerjaan, dapat juga berwujud sebagai jabatan di dalam suatu hierarki birokrasi, yang menuntut keahlian tertentu serta memiliki etika khusus untuk jabatan tersebut serta pelayanan baku terhadap masyarakat.”
Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :
1) Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman selama bertahun-tahun.
2) Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
3) Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
4) Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup, dan sebagainya. Maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
2.2 Macam-Macam Profesi yang Baik dalam Perspektif Islam
Bekerja adalah wajib bagi setiap umat islam dan setiap pekerjaan haruslah halal dan berkah dari apa yang diusahakan. Adapun beberapa pekerjaan yang baik menurut islam diantaranya:
1) Di Bidang Pertanian
Sabda Rasulullah s.a.w. yang artinya:
"Tidaklah seseorang mukmin itu menyemai akan semaian atau menanam tanaman lalu dimakan oleh burung atau manusia melainkan hanya akan menjadi sedekah".
2) Di Bidang Perusahaan
Sabda Rasulullah s.a.w. yang artinya:
"Sebaik-baik usaha ialah usaha seorang pengusaha apabila ia bersifat jujur dan nasihat-menasihati”
3) Di Bidang Perniagaan
Rasulullah s.a.w. pernah meletakkan para peniaga yang jujur dan amanah kepada kedudukan yang sejajar dengan para wali, orang yang benar, para syuhada', dan orang-orang soleh dengan sabda yang artinya:
"Peniaga yang jujur adalah bersama para wali, orang-orang siddiqin, para syuhada' dan orang-orang soleh".
Rasulullah juga menyatakan bahawa sembilan persepuluh dari rezeki itu adalah pada perniagaan.
2.3 Konsep Pertanian Dalam Islam
(Yasin : 34-35)
Kepentingan sektor pertanian dalam kehidupan manusia dan keperluannya begitu jelas sejak dulu. Sejak sekian lama sektor pertanian sentiasa diberikan penekanan oleh ahli agronomi dalam kajian dan tulisan mereka.
Dalam Islam, kegiatan pertanian merupakan salah satu daripada pekerjaan yang mulia dan amat digalakkan. Kepentingannya tidak dapat dinafikan lagi apabila hasil industri ini turut menyumbang kepada hasil makanan negara selain merupakan sumber pendapatan petani.
Banyaknya ayat al-Quran yang menyebutkan mengenai hasil tanaman dan buah-buahan yang pelbagai menunjukkan betapa pentingnya bidang pertanian pada pandangan Islam. Antaranya Allah berfirman dalam surah Al An'aam ayat 99 yang bermaksud :
“Dan Dialah yang menurunkan hujan dari langit lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu segala jenis tumbuh-tumbuhan, kemudian Kami keluarkan daripadanya tanaman yang menghijau, Kami keluarkan pula dari tanaman itu butir-butir (buah-buan) yang bergugus-gugus; dan dari pohon-pohon tamar (kurma), dari mayang-mayangnya (Kami keluarkan) tandan-tandan buah yang mudah dicapai dan dipetik; dan (Kami jadikan) kebun-kebun dari anggur dan zaitun serta delima, yang bersamaan (bentuk, rupa dan rasanya) dan yang tidak bersamaan. Perhatikanlah kamu kepada buahnya apabila ia berbuah, dan ketika masaknya. Sesungguhnya yang demikian itu mengandungi tanda-tanda (yang menunjukkan kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang beriman.”
selanjutnya dipaparkan juga tentang manusia, asal usul dan kehadirannya di bumi. Nah, ayat ini menguraikan kumpulan hal-hal yang disebut di atas, bermula dengan menegaskan bahwa Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau.
Untuk lebih menjelaskan kekuasaan-Nya ditegaskan lebih jauh bahwa, Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.
Lebih dari itu, ayat ini menerangkan bahwa air hujan adalah sumber air bersih satu-satunya bagi tanah. Sedangkan matahari adalah sumber semua kehidupan. Tetapi, hanya tumbuh-tumbuhan yang dapat menyimpan daya matahari itu dengan perantaraan klorofil, untuk kemudian menyerahkannya kepada manusia dan hewan dalam bentuk bahan makanan organic yang dibentuknya.
Dari penjelasan ini dapat diambil pemahaman bahwa Allah Swt memberikan gambaran :
1) Tentang proses tumbuh-tumbuhan sebagai gambaran bagi manusia untuk berusaha itu harus butuh proses.
2) Dan dalam proses tersebut tentunya manusia butuh berinteraksi dengan manusia lain (baik berupa berekonomi) untuk mencapai tanaman yang bagus dan baik.
3) Kemudian dari proses tumbuhan yang membagi-bagikan zat-zat yang di dapat oleh bagian dari tumbuhan kepada buah dan bijinya itu, menggambarkan kepada manusia untuk selalu berbagi dengan sesame.
4) Perlunya cahaya matahari dan air hujan dalam hal bercocok tanam.
5) Pemahaman bagi manusia tentang Maha Kuasanya Allah Swt.
Dari aspek akidah kegiatan pertanian dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah SWT. Tanda-tanda kebesaran Allah dapat dilihat dengan jelas dalam proses kejadian tumbuh-tumbuhan atau tanaman. Apabila seseorang itu melakukan usaha pertanian, ia akan membuat seseorang itu lebih memahami hakikat sebenarnya dari konsep tawakal dan beriman kepada kekuasaan-Nya. Yang memberikan hasil tetap datangnya dari Allah SWT.
2.4 Profesi di Bidang Pertanian Menurut Perspektif Islam
Di zaman sekarang kita dihadapkan pada banyaknya jenis dan macam pekerjaan. Pekerjaan atau mata pancaharian seseorang kian bertambah banyak sesuai dengan bertambahnya penduduk dan semakin khususnya keahlian seseorang.
berpendapat bahwa pertanian adalah yang paling baik. Sedangkan Imam Al-Mawardi dan Imam An-Nawawi berpendapat bercocok tanamlah yang paling baik karena beberapa alasan:
Pertama:
Bercocok tanam adalah merupakan hasil usaha tangan sendiri. Dalam Shohih Al-Bukhori dari Miqdam bin Ma’dikariba rodhiyallohu’anhu dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda:
نناكن منللنسنون ههييلنعن ههللا ىللنصن دنوهادن ههللا ىنبهنن نلنأنون ههدهين لهمنعن نيمه لنكهأيين نيأن نيمه اررييخن طلهقن امراعنطن ددحنأن لنكنأن امن
ههدهين لهمنعن نيمه لهكهأيين
“Tidaklah seorang memakan makanan yang lebih baik dari orang yang memakan dari hasil usaha tangannya, dan adalah Nabi Dawud ‘alaihi salam makan dari hasil tangannya sendiri.”
Dan yang benar adalah apa yang di-nash-kan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yaitu hasil tangannya sendiri. Maka bercocok tanam adalah profesi terbaik dan paling utama karena merupakan hasil pekerjaan tangan sendiri.
Kedua:
Bercocok tanam memberikan manfaat yang umum bagi kaum muslimin bahkan binatang. Karena secara adat manusia dan binatang haruslah makan dan makanan tersebut tidaklah diperoleh melainkan dari hasil tanaman dan tumbuhan.
Dan telah shohih dari Jabir rodhiyallohu ‘anhu dia berkata: telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:
ونههفن رهييطلنلا تهلنكنأن امن ون ةرقندنصن ههلن ههنيمه قنرهسه امن ون ةرقندنصن ههلن ههنيمه لنكهأه امن نناكن للنإه اسرريغن سهرهغيين مملهسيمه نيمه امن
ةرقندنصن ههلن نناكن للنإه ددحنأن ههؤهزنريين لن ون ةرقندنصن ههلن
“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman tersebut bagi penanamnya menjadi sedekah, apa yang dicuri dari tanamannya tersebut bagi penanamnya menjadi sedekah, dan tidaklah seseorang merampas tanamannya melainkan bagi penanamnya menjadi sedekah”. (HR Muslim)
Dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan:
“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman kemudian memakan tanaman itu manusia, binatang, dan burung melainkan bagi penanamnya menjadi sedekah hingga hari kiamat.”
Ketiga:
Bercocok tanam lebih dekat dengan tawakkal. Ketika seseorang menanam tanaman maka sesungguhnya dia tidaklah berkuasa atas sebiji benih yang dia semaikan untuk tumbuh, dia juga tidak berkuasa untuk menumbuhkan dan mengembangkan menjadi tanaman, tidaklah dia berkuasa membungakan dan membuahkan tanaman tersebut. Tumbuhnya biji, pertumbuhan tanaman, munculnya bunga dan buah, pematangan hasil tanaman semua berada pada kekuasaan Allah SWT. Dari sinilah nampak nilai tawakkal dari seorang yang bercocok tanam. Sedangkan Abu Yahya Zakariya Al-Anshori As-Syafii menambahkan: “Seutama-utamanya matapencaharian adalah bercocok tanam karena lebih dekat dengan sikap tawakkal, bercocok tanam juga memberikan manfaat yang umum bagi semua makhluk, dan secara umum manusia butuh pada hasil pertanian. Az-Zarkasyi berkata bahwa semua orang memperhatikan makanan karena tidak ada yang tidak butuh kepada hasil bercocok tanam (makan) dan tidaklah kehidupan tegak tanpa adanya makanan.
Menurut sejarah Islam, setelah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, Baginda telah menggalakkan usaha pertanian agar ditingkatkan. Bumi Madinah ketika itu sebenarnya subur perlu diusahakan dengan lebih giat. Dalam hubungan ini, kaum Muhajirin yang berhijrah bersama Baginda diaturkan supaya bekerjasama dengan kaum Ansar yaitu penduduk asal Madinah di dalam usaha-usaha pertanian.
Hal seumpama ini sesuai dengan riwayat Rafi‘ bin Hadij bahwa di zaman Rasulullah telah diingatkan oleh beberapa orang bapa-bapa saudara Baginda yaitu Rasulullah melarang daripada perkara yang memberi manfaat kepada kami, lalu kami bertanya: Apakah perkara tersebut?:
“Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mempunyai tanah hendaklah dia mengerjakannya dengan bertani atau (jika dia tidak berupaya melakukannya) hendaklah menyerahkannya kepada saudaranya supaya diusahakan dan janganlah dia menyewakannya (sekalipun) hanya sepertiga, seperempat dan makanan asasi.”(Hadis riwayat Abu Dawud)
yang terbengkalai akan mendapat hak milik kekal terhadap tanah tersebut berdasarkan pendapat kebanyakan ulama. Peruntukkan ini jelas memberi intensif kepada pengusaha-pengusaha bidang pertanian yang menggarap tanah yang terbengkalai atau mati. Perkara ini disebutkan dalam riwayat Aisyah Radhiallahu ‘anha, Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang memakmurkan (menggarap) tanah yang tidak dimiliki oleh siapapun maka dia lebih berhak terhadapnya”.(Hadis riwayat Al-Bukhari)
Walau bagaimanapun kita telahmempunyai peraturan atau undang-undang tanah, maka kita tidak boleh menggunakan tanah dengan sewenang-wenang, tanpa izin dari pemilik tanah tersebut.
Dalam Al-Qur’an tentang pertanian banyak dibicarakan mulai dari macam tumbuhan hingga zakat yang harus dikeluarkan. Teknologi pertanian sendiri diartikan sebagai penerapan ilmu pengetahuan dalam rangka pendayagunaan sumber daya alam (pertanian) untuk kesejahteraan manusia. Tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi terkait dengan sumber daya alam dapat dirujuk pada QS. Yaasiin:
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan.” (QS Yaasiin: 33)
Ayat di atas menunjukkan bahwa pada awalnya bumi ibarat planet yang mati karena tidak ada kehidupan didalamnya. Namun dalam perkembangannya bumi menjadi tempat yang sesuai bagi kehidupan dan Allah menyediakan tanaman bagi manusia. Selain berfungsi sebagai penyuplai oksigen bagi kehidupan, dari tanaman juga dapat dipanen hasilnya, misalnya diambil biji atau buahnya untuk dikonsumsi. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa pada dasarnya tanaman harusnya dibudidayakan agar dapat digunakan sebagai makanan. Tanpa adanya budidaya maka tanaman yang ada tidak akan mampu memenuhi kebutuhan manusia. Oleh sebab itu ayat ini diikuti dengan ayat berikutnya:
“Dan kami jadikan padanya kebun – kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air.” (QS Yaasiin: 34)
Dijadikannya kebun–kebun menunjukkan Allah membimbing manusia untuk berbudidaya. Saat ini peran saudara-saudara kita dari Teknik Pertanian sangat penting karena mereka mampu memperbaiki cara budidaya dengan menemukan alat-alat budidaya sehingga produktivitas tanaman dapat optimal. Pada awalnya mereka mengambil air dari mata air untuk menyirami tanaman dan memberi minum ternak, kemudian mengalirkannya menjadi saluran irigasi dan Allah menurunkan hujan bukanlah tanpa makna apalagi hanya menyebabkan banjir tapi Allah menurunkan hujan agar manusia dapat berkpikir dan memanfaatkannya. Misalnya menjadi cadangan air untuk sawah tadah hujan dan saat ini diciptakan pula bendungan-bendungan yang mampu menampung air hujan sehingga air hujan ini memberi makna bagi manusia sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Baqarah 22:
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu dengan hujan itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu menyekutukan Allah, padahal kamu mengetahui.”
Proses budidaya menjadikan produksi pertanian dapat melebih dari yang dibutuhkan oleh pemilik kebun sehingga memunculkan teknologi baru yaitu pengolahan hasil pertanian. Sebagaimana dalam ayat selanjutnya:
“Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?.” (QS Yaasiin: 35)
Kemampuan manusia dalam pengolahan hasil pertanian yang cukup mendapat sorotan Al-Qur’an adalah pengolahan buah/biji menjadi minuman bukannya makanan:
“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rizqi yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar–benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkannya.” (QS An Nahl: 67)
Pada awal perkembangan teknologi pengawetan makanan, maka teknologi yang berkembang adalah pengeringan dan pembuatan minuman. Pembuatan minuman menjadi perhatian dalam Al-Qur’an karena adanya kemungkinan untuk menjadi minuman yang diharamkan yaitu yang mengandung alkohol dan itu berlangsung hingga kini. Rizki yang baik menjadi pilihan yang harus dikembangkan dan ini yang seharusnya menjadi landasan bagi calon-calon ahli pengolahan pangan untuk menjadikan makanan yang baik dan halal. Makanan yang kita produksi haruslah makanan yang baik dan halal, inilah inti ayat di atas.
Dalam Islam, jika pertanian merupakan satu-satunya bidang yang seseorang boleh lakukan untuk mencari nafkah bagi diri sendiri dan keluarganya, maka hukum bertani itu adalah fardu ‘ain baginya. Sementara itu, adalah menjadi fardu kifayah pula kepada sesiapa yang mampu melakukannya demi kepentingan semua orang untuk menyediakan pangan (makanan) yang cukup bagi semua.
Menurut Dr. Zainal Azam Abd. Rahman seorang cendikiawan Islam dalam tulisan beliau dalam Akhbar Berita Harian pada tanggal 6 Januari 2005, kegiatan pertanian menjadi fardu kifayah kerana manfaatnya bagi orang lain lebih besar daripada manfaat pribadi. Kebanyakan fuqaha' Islam berpendapat bahwa pertanian lebih baik atau utama pada pandangan Islam dan suatu gerakan yang amat besar dibandingkan dengan sektor yang lainnya, karena pertanian dapat menjamin kecukupan makanan bagi bangsa dan Negara. Maka ini sangat diridhai sekali oleh Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah dalam surah Abasa ayat 27 – 32:
“Lalu Kami tumbuhkan di bumi biji-bijian.(27) Dan buah anggur serta sayur-sayuran.(28) Dan zaitun serta pohon-pohon kurma.(29) Dan taman-taman yang menghijau subur.(30) Dan berbagai-bagai buah-buahan serta bermacam-macam rumput.(31) Untuk kegunaan kamu dan binatang-binatang ternakan kamu.(32)”
Tentulah menjadi masalah yang besar jika sebuah negara itu banyak bergantung kepada negara lain untuk mendapatkan bahan makanan. Ini karena dikhawatirkan terjadinya peperangan, bencana alam di negara pemasok yang menyebabkan kelangkaan bahan makanan. Pandangan itu tepat, jika ditinjau dari keadaan beberapa negara saat ini dimana krisis ekonomi, peperangan, dan terjadi bencana alam yang menyebabkan kurangnya bahan makanan di negara tersebut.
Sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang berarti:
"Andainya kiamat tiba dan pada tangan seseorang diantara kamu ada sebatang anak kurma, maka hendaklah dia segera menanamnya." (Hadis riwayat Imam Ahmad).
Demikianlah pentingnya kegiatan pertanian hingga pada akhir zaman pun, bidang ini tidak boleh diabaikan kerana ia adalah sumber terpenting bagi kehidupan manusia sebagai penyumbang bahan makanan (pangan). Allah SWT menjanjikan insentif istimewa kepada pengusaha sektor pertanian sesuai dengan kedudukannya sebagai sektor yang sangat digalakkan. Kita dapati Allah SWT menjanjikan sesuatu yang lebih bagi petani dan pengusaha sektor ini, baik dipendapatan maupun pahala dari Allah SWT. Bagi umat Islam, bidang pertanian adalah cara mudah untuk mendapatkan pahala dan ganjaran dari Allah, selain menerima manfaat atau pendapatan halal.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
"Tiada seorang Muslim pun yang bertani, lalu hasil pertaniannya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang, melainkan dia akan menerima pahala atas hal itu." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
"Tiada seorang lelaki menanam sesuatu tanaman, melainkan Allah menetapkan baginya ganjaran sebanyak jumlah buah yang dihasilkan oleh tanaman berkenaan." (Hadis riwayat Imam Ahmad)
"Carilah rezeki dari khazanah bumi." (Hadis riwayat at-Tabrani)
Rasullallah sendiri adalah contoh unggul. Rasuluullah SAW sejak kecil sudah terlibat dengan aktifitas peternakan. Baginda sendiri adalah seorang pengembala kambing. Baginda pernah menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu:
"Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing."
Dan sabda Rasulullah SAW lagi:
“Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga mengembala kambing keluargaku di Ajyad.”
Pada masa baginda Rasulullah SAW baru tiba di Madinah, Baginda telah menggalakkan agar usaha dalam bidang pertanian ditingkatkan. Bumi Madinah yang sebenarnya subur perlu diusahakan dengan lebih giat. Kaum Muhajirin yang berhijrah bersama Baginda diaturkan supaya dapat bekerjasama dengan kaum Ansar yaitu penduduk asal Madinah dalam mengusahakan kegiatan pertanian. Dalam sebuah hadis, Rasulullah diriwayatkan bersabda yang artinya:
“Barangsiapa yang memiliki tanah, hendaklah dia mengusahakannya, namun jika dia tidak berupaya melakukannya, maka hendaklah diberikan kepada saudaranya (supaya diusahakan) dan janganlah dia menyewakannya.” (Hadis riwayat Abu Daud)
Hakikat betapa Islam sangat menggalakkan sektor pertanian jelas dilihat daripada peruntukan dalam syariah berdasarkan hadis Rasulullah SAW yaitu barangsiapa yang mengusahakan (mengolah) tanah kerajaan dengan baik, maka dia pantas mendapat hak milik kekal terhadap tanah tersebut. Hal ini berdasarkan pendapat kebanyakan ulama.
Berdasarkan pendapat mazhab Malik, hak milik yang diperoleh itu adalah hak milik sementara saja, jika setelah mendapat hak milik tanah itu, lalu dibiarkan tak terurus kembali dan ada orang lain yang mengurusnya maka hak milik dapat berpindah. Hukum di atas adalah berdasarkan kepada hadis Nabi bermaksud:
“Barangsiapa yang mengurus tanah yang tidak dimiliki oleh siapapun (tak terurus), maka dia lebih berhak terhadapnya." (Hadis riwayat Imam Ahmad, Malik dan Bukhari)
Seorang produsen makanan harus memperhatikan setiap bahan yang digunakan. Perhatikan dan cari tahu dari apa bahan tersebut dibuat. Makanan dari hewan banyak yang diharamkan (berdasarkan hadits), sedang dari tumbuhan umumnya diperbolehkan. Penyembelihan hewan harus dengan cara yang baik dan menyebut nama Allah SWT saat penyembelihan.
Hasil pertanian dan olahannya yang tidak kita konsumsi maka semestinya menjadi bagian untuk diperjual-belikan agar dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia.
Dari Rifaah bin Rafi’ah ra. bahwasanya Rasulullah SAW pernah ditanya: “pekerjaan mana yang paling baik?”. Beliau menjawab: “karya tangan seseorang dan tiap-tiap penjualan yang baik.” (HR Bazzar. Hadits shahih menurut Akim).
Hadits di atas menunjukkan bahwa pekerjaan yang baik ada dua yaitu memproduksi dan menjual yang baik. Memproduksi sendiri (atau menjadi produsen) menjadikan kita yakin tentang kehalalan bahan yang kita produksi. Apabila kita tidak mampu melakukannya maka jadilah penjual yang baik yaitu mengetahui kehalalan barang yang dijual dan cara penjualan yang halal (ini penting bagi calon ahli teknologi industry pertanian). Kadangkala produk yang kita jual adalah produk halal namun karena dijual pada saat yang tidak tepat menjadikan kiat melakukan penjualan yang tidak baik. Misalnya coklat adalah produk yang baik dan halal sehingga menjadi barang dagangan yang baik, namun jika kita menjual dalam kaitan dengan perayaan hari besar agama lain atau valentine day yang merupakan perayaan cinta bebas yang tidak diajarkan dalam Islam, maka kita telah melakukan penjualan yang tidak baik.
Dalam jual beli juga harus memperhatikan kaidah-kaidah agama.
1) Tidak menjual barang yang diharamkan: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan jual minuman keras, bangkai, babi dan berhala.”(HR Bukhari dan Muslim); kucing, anjing (kecuali untuk berburu) (HR Muslim dan Nasai), 2) Tidak menjual dengan dua harga. Rasulullah SAW melarang dua jual beli dalam satu akad jual beli (HR Ahmad dan Nasai). Tidak halal dua syarat dalam satu akad jual beli (HR Lima Imam).
3) Memuji barang yang dijual melebihi kondisi bahan. “Rasulullah SAW melarang najay (memuji yang berlebihan terhadap barang dagangan agar pembeli tertipu).” (HR Bukhari dan Muslim)
Ahmad); Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan menimbun kecuali orang yang salah.”(HR Muslim)
5) Benar dalam takaran/timbangan dasarnya ada di beberapa ayat antara lain QS Al-An’am : 152:
….
“dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil.”; QS Al-Israa’ : 35: “dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar…..”; dan QS Al Muthaffifii : 1–3:
“Celakalah orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka menguranginya.”
Sebagaimana yang telah diuraikan diatas. Sektor pertanian sangat mendapatkan perhatian bahkan sejak jaman Rasulallah SAW yang sangat fokus terhadap perkembangan dan kemajuan di bidang pertanian. Serangkaian teori ditemukan oleh kaum intelektual dan dipraktikkan hingga membuahkan hasil melimpah di tanah-tanah negeri Muslim. Panen pun meningkatkan tingkat kesejahteraan. Ini semua bermuara pada pengetahuan umat Islam yang memadai tentang pertanian.
Tak hanya soal cara memanen. Mereka telah tahu bagaimana memilih lahan bagi tanaman mereka. Mana yang cocok dan mana pula yang tidak. Sistem pengairan bermunculan dan memicu perkembangan teknologi di bidang ini. Mereka hapal bagaimana membuat pupuk dan komposisi penggunaannya.
Dalam bukunya yang terkenal, Kitab al-Filaha (buku tentang Pertanian), cendekiawan dari Andalusia atau Spanyol, Ibnu al-Awwan, menjelaskan sejumlah langkah memulai bertani. Hal pertama yang perlu diketahui mengenai pertanian adalah lahan pertanian itu. Apakah lahan tersebut baik atau tidak untuk ditanami.
Ia mengingatkan, siapa yang mengabaikan masalah itu tak akan menuai keberhasilan saat menggarap lahan pertanian. Ini bermakna para petani perlu memiliki pengetahuan tentang lahan, karakteristiknya, jenisnya, dan tanamannya.
apakah lembut, keras, berpasir, hitam, putih, kuning, merah, ataupun kemerah-merahan. Pengetahuan dasar tentang lahan harus didukung dengan langkah lain untuk mencapai hasil pertanian memuaskan. Untuk hal ini, umat Islam telah mengembangkan teknologi sistem irigasi. Bentuknya memang berbeda-beda di setiap wilayah, ada yang sederhana dan ada pula yang lebih canggih.
Sejarawan al-Hamdani mengisahkan salah satu bentuk sistem irigasi yang ada di Yaman, yang disebut dengan alSamman. Ini merupakan sumber air terkenal. Kedalamannya mencapai tiga meter. Di sekitarnya, terdapat sejumlah sumur dan telaga buatan sebagai penampung air. Sisi-sisinya dibatasi dengan batu.
Pengembangan sistem irigasi lainnya untuk keperluan pertanian terdapat di Irak. Tepatnya, di Fowkhara Gate di tepi Sungai al-Nahrawan, Samarra. Adam Mitz, dalam Al-Hadarah alIslamiyyah, menyebutkan bahwa ilmuwan Muslim saat itu telah mampu mengalirkan air dari sumbernya dengan menggunakan pipa.
Mereka mempunyai sejumlah alat-alat teknik yang bermanfaat untuk mengukur ketinggian tanah dan menggali saluran irigasi di bawah tanah. Akhirnya, ujar Mitz, para ilmuwan itu menemukan sejumlah mesin untuk mengukur tingkat air sungai. Dengan berbagai penemuannnya, pertanian islam telah berkembang. Sejak awal pupuk telah menjadi perhatian. Bahkan, telah muncul pemikiran komposisi penggunaan pupuk. Ilmuwan Muslim, Ibnu al-Hajjaj al-Ishbili, melalui bukunya Al-Muqni' fi al-Filahah, menjelaskan bahwa seorang petani mesti tahu jika lahan pertanian tak dipupuk, kemampuannya akan melemah. Disisi lain, ia berkata agar penggunaan pupuk tak berlebihan. Bila ini terjadi, tanah akan terbakar oleh pupuk. Dengan pandangan yang disampaikan Ibnu al-Hajjaj ini, pengetahuan pertanian umat Islam saat itu telah mencapai taraf yang tinggi. Sejalan pada masa sekarang, penggunaan pupuk harus sesuai aturan pemakaian.
Pentingnya pemupukan untuk lahan pertanian; Ibnu Bassal, Ibnu Hajjaj, dan Ibnu al-Awwam memberikan penjelasan luas mengenai tipe pupuk dan tingkat kecocokan pupuk pada tanaman dan lahan tertentu.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah membaca uraian diatas. Tentunya sekarang kita mengetahui bahwa profesi di bidang pertanian dalam pandangan islam adalah profesi yang amat mulia karena bercocok tanam merupakan hasil dari tangan sendiri sebagaimana sabda Nabi Muhammad Solallahu’alaihi wasallam:
نناكن منللنسنون ههييلنعن ههللا ىللنصن دنوهادن ههللا ىنبهنن نلنأنون ههدهين لهمنعن نيمه لنكهأيين نيأن نيمه اررييخن طلهقن امراعنطن ددحنأن لنكنأن امن
ههدهين لهمنعن نيمه لهكهأيين
“Tidaklah seorang memakan makanan yang lebih baik dari orang yang memakan dari hasil usaha tangannya, dan adalah Nabi Dawud ‘alaihi salam makan dari hasil tangannya sendiri”.
Juga profesi dibidang pertanian dapat menolong umat manusia serta binatang karena tidak ada kebutuhan paling pokok melainkan makanan dan itu berasal dari tumbuhan.
Semoga apa yang kita sedang pelajari saat ini dapat kita amalkan setelah menjadi sarjana nanti. Karena,profesi dibidang pertanian ini amat mulia dan tidaklah menjadi sia-sia pekerjaan ini melainkan apa-apa yang ditanam menjadi sedekah sesuai sabda Rasulullah SAW:
ونههفن رهييطلنلا تهلنكنأن امن ون ةرقندنصن ههلن ههنيمه قنرهسه امن ون ةرقندنصن ههلن ههنيمه لنكهأه امن نناكن للنإه اسرريغن سهرهغيين مملهسيمه نيمه امن
ةرقندنصن ههلن نناكن للنإه ددحنأن ههؤهزنريين لن ون ةرقندنصن ههلن
3.2 Saran
Sebaiknyanya pertanian dan petani di Indonesia lebih diperhatikan lagi oleh pemerintah agar tidak terjadi lagi krisis pangan di kemudian hari, seperti yang sedang berlangsung saat ini.
Serta masyarakat Indonesia terutama yang muslim seharusnya sudah mulai terbiasa untuk bercocok tanam karena dapat memenuhi kebutuhan pangan sendiri, serta mendapat ganjaran dan pahal dari Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Pertanian Dalam Perspektif Islam. Handout
http://bemjagribisnisuin.blogspot.com/2009/03/pertanian-dalam-perspektif-islam. (Selasa, 10 September 2013 pukul 18.45)
Arkib. 2006. Pertanian Menurut Islam. Handout
http://www.aspirasindp.com/arkib/PertanianmenurutIslam.htm l (Selasa, 10 September 2013 pukul 18.48)
Azam, zainal. 2012. Islam Tuntut Umat Usahakan Pertanian Hingga Akhir Zaman. Handout
http://pasbukitbendera.com/index.php?option=com_content&task=view&id=147&Itemid=45 (Selasa, 10 September 2013 pukul 18.50)
http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2002/ic44_2002.htm l (Selasa, 10 September 2013 pukul 18.50)
http://nurhidayat.lecture.ub.ac.id/files/2011/11/Teknologi-Pertanian-dalam-Perspektif Islam.pdf (Selasa, 10 September 2013 pukul 18.55)
http://id.wikipedia.org/wiki/Profesi (Selasa, 10 September 2013 pukul 19.20)
http://carapedia.com/pengertian_definisi_profesi_info2177.html (Selasa, 10 September 2013 pukul 19.24)
http://pakarcomputer.blogspot.com/2012/02/pengertian-profesi-menurut-para-pakar.htm l (Selasa, 10 September 2013 pukul 19.30)