• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Keluarga Teungku Di Tiro Dalam Perang Di Aceh Besar 1874-1911

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peran Keluarga Teungku Di Tiro Dalam Perang Di Aceh Besar 1874-1911"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM DAERAH TIRO

2.1Geografis

Tiro adalah sebuah kecamatan di daerah Sigli, Aceh Pidie, Aceh. Tiro sendiri

terbagi menjadi beberapa desa yang dipimpin oleh seorang keuchik.29 Statistik daerah Kecamatan Tiro terdiri dari sembilan belas desa yaitu Blang Rikui, Panton Beunot,

Dayah Cot, Dayah Kampung Baro, Dayah Baroh, Dayah Teungoh, Pulo Keunari,

Pulau Tambo, Peunadok, Pulo Glumpang, Mancang, Panah, Pulo mesjid, Trieng

Cudo Tunong, Mampree, Trieng Cudo Baroh, Rabo, Pulo Siblah, dan Lhok Igeuh.

Ibu kota Kecamatan Tiro berada di Desa Mancang.30

Daerah Tiro memiliki batas wilayah kecamatan sebagai berikut: sebelah utara

berbatasan dengan Kecamatan Mutiara Timur. Sebelah timur berbatasan dengan

kecamatan Glumpang Tiga. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Sakti dan

Kecamatan Titeu. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tangse. Kecamatan

Tiro memiliki luas sebesar 255 km2. Daerah ini terletak di hamparan dan lembah

pegunungan bukit barisan. Rata-rata ketinggian adalah 20-180 m diatas permukaan

laut. Secara klimatologi memiliki curah hujan rata-rata 1,485.6 mm/tahun dengan

suhu rata-rata berkisar 26-27o

29

Keuchik adalah sebutan masyarakat Aceh kepada kepala desa yang berfungsi sebagai pelaksana roda pemerintahan desa. Lihat Alfian, Segi-segi Sosial Budaya Masyarakat Aceh, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977, hlm. 55.

30

Kecamatan Tiro/Truseb Dalam Angka 2012, Pidie: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sigli, 2012, hlm. 1.

(2)

Pada masa perang Aceh, daerah Tiro memainkan peran yang sangat penting.

Hal ini disebabkan daerah Tiro belum dikuasai Belanda dan letaknya yang jauh dari

pantauan kompeni Belanda. Faktor lain yang membuat daerah Tiro ini menjadi

penting karena pendapat menyatakan bahwa pimpinan ulama Pidie saat itu adalah di

Tiro.31 Kenyataannya bahwa masyarakat Aceh sangat menghormati tokoh ulama

untuk dijadikan panutan dan penunjuk arah dalam kehidupan. Sehingga para laskar

Aceh berangkat ke Tiro untuk meminta pertolongan pasca Keraton Aceh jatuh ke

tangan Belanda.

Daerah Tiro terletak di pedalaman Sigli di kaki Gunung Halimon. Oleh karena

itu, daerah ini merupakan salah satu daerah penyuplai kebutuhan angkatan perang

yang berada di Aceh Besar. Selain itu, daerah Tiro menjadi pusat informasi bagi bagi

para laskar Aceh melalui Teungku Chik Dayah Cut mengenai keadaan di kawasan

Pidie dan sekitarnya.

Statistik daerah Kecamatan Tiro kecamatan tiro terdiri dari 43 dusun dengan

jumlah rumah tangga sebanyak 2061 ruta dan 7412 jiwa penduduk. Pemerintahan

desa masing-masing dipimpin oleh keuchik gampong dan kepala dusun, untuk

mempermudah administrasi desa dibantu oleh aparat desa antara lain sekretaris

keuchik serta perangkat desa.

31

(3)

2.2Pendidikan Keagamaan

Sebelum kedatangan Belanda, eksistensi pendidikan agama di daerah Aceh

sudah sangat kuat. Hal ini dibuktikan keberadaan meunasah32 dan dayah yang

dijadikan sebagai sarana pendidikan agama Islam di Aceh. Di sisi lain, realitas bahwa

masyarakat Aceh merupakan penganut agama Islam fanatik yang menempatkan

ajaran-ajaran Islam sebagai satu-satunya basis nilai dan sistem pandangan dunia

(world view).33

Di daerah Tiro sendiri, sebelum kedatangan Belanda telah berdiri sebuah

dayah yang yang dipimpin oleh Teungku Chik Dayah Cut. Beliau sendiri merupakan

paman dari Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman yang maju sebagai panglima

perang Laskar Aceh dalam menghadapi Belanda di Aceh Besar. Dayah tersebut Keberadaan lembaga dayah dan meunasah bagi pengembangan pendidikan di

Aceh sangatlah penting, dan kehadirannya sangat dibutuhkan dalam membentuk umat

yang berkualitas, jujur, cerdas, rajin dan tekun beribadah yang kesemuanya itu sarat

dengan nilai ke islaman. Oleh karena itu, dayah dan meunasah di Aceh tidak sulit

untuk dijumpai dan tersebar di seluruh Aceh.

32

Meunasah adalah suatu lembaga pendidikan agama Islam yang berada di tiap-tiap desa di Aceh. Meunasah mempunyai fungsi sebagai tempat beribadah, belajar, musyawarah, pusat informasi, tempat kenduri massal di kampung, tempat menginap bagi musafir dan juga tempat pejabat-pejabat kampung memutuskan dan memecahkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Lihat Snouck Hurgronje, Aceh Di Mata Kolonialis, Jakarta: Yayasan Soko Guru, 1985, hlm. 68.

33

Nirzalin, “Krisis Agensi Politik Teungku Dayah Di Aceh”, dalam Ringkasan Disertasi,

(4)

menjadi tempat bagi para santri yang datang dari segala penjuru Aceh untuk belajar

ilmu Agama Islam.

Selain dari dayah yang dipimpin oleh Teungku Chik Dayah Cut di daerah

Tiro, di Pidie juga terdapat beberapa pusat pendidikan agama Islam seperti di Langga,

Langgo, Sriweue, Simpang, Ie Leubeue (Ayer Labu). Namun daerah Tiro mempunyai

daya tarik sendiri bagi para santri yang ingin menuntut ilmu kesana. Hal ini

disebabkan kepintaran Teungku Chik Dayah Cut dalam bidang agama Islam yang

sudah sangat dikenal di hampir daerah diseluruh Aceh.34

Wilayah Tiro tampil terhormat dikarenakan kehadiran kader-kader ulama dan

terdapatnya makam keramat tokoh-tokoh pendahulunya. Tidak ada orang yang berani

membawa senjata di kawasan ini, walaupun pada masa perang sekalipun. Hukum dan

landasan agama mejadi landasan yang kuat di daerah Tiro. Hasilnya masyarakat yang

dibesarkan di daerah Tiro merasa sudah ditakdirkan untuk mendalami hukum agama

yang mulia sehingga Tiro terkenal sebagai daerah yang kuat dalam penegakan syariah

dan hukum-hukum agama Islam.

35

Status atau gelar teungku di Aceh terkait erat dengan kualitas kewibawaan

personal serta pengetahuan tentang Agama Islam yang kuat bukan berdasarkan

genealogis (keturunan). Seseorang yang dinyatakan mempunyai kemampuan yang 2.3 Kedudukan Teungku

34

Snouck Hurgronje, op. cit., hlm. 28. 35

(5)

baik dan layak menyandang status teungku akan nampak dari keseharian dan tingkah

lakunya. Hal itu terlihat dari kemampuannya memimpin acara keagamaan dan

menjadi panutan masyarakat dalam penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan.

Kemudian layak atau tidaknya seseorang digelar teungku juga dilihat dari ketaatannya

dalam aktivitas sehari-hari.36

Pada periode Kerajaan Aceh Darussalam peranan teungku sangat dominan.

Dengan kualitas intelektualnya, mereka tidak hanya mampu mempengaruhi struktur

Hubungan kekuasaan teungku dengan masyarakat Aceh tidak dibangun

berdasarkan kekayaan ekonominya tetapi semata-mata berdasarkan ilmu, spiritual dan

ikatan ideologis keagamaannya dengan masyarakat. Di aceh, sawah dan kebun bukan

sesuatu yang langka di miliki masyarakat. Hal ini menyebabkan mereka tidak

bergantung pada sumber ekonomi teungku dayah bahkan sebaliknya teungku

dayahlah yang bergantung secara ekonomi pada masyarakat melalui bantuan-bantuan

agama seperti shadaqah, infaq, nadzar, dan jakeut (zakat).

Di daerah Tiro bahkan seluruh Aceh pada masa kesultanan, gelar teungku

dayah dapat dikatakan sebagai seorang ulama. Keputusan dan tindakan mereka yang

sangat dihormati masyarakat dan di anggap sebagai sebuah fatwa yang harus

dilaksanakan. Masyarakat memandang para teungku (ulama) sebagai umat yang di

istimewakan Tuhan dan merupakan pewaris nabi. Sakralitas teungku dayah yang

disokong oleh pengetahuan agama dan kekuatan spiritualnya melahirkan kepercayaan

bahwa mereka merupakan tokoh yang suci dan keramat (karamah).

36

(6)

pemerintahan namun dapat mengendalikannya. Hal ini ditunjukkan pada posisi

struktural mereka sebagai Qadhi Malikon Ade (Ketua Mahkamah Agung) dan

diplomat yang handal dalam urusan-urusan internasional. Oleh karena itu, tidak

mengherankan konsep agama dan politik yang menjadi kebijakan kerajaan banyak

lahir dari mereka.37

Eksistensi para teungku yang sangat besar di Aceh menyebabkan Perang Aceh

melawan Belanda di bawah agensi teungku. Mereka mengubah pandangan

masyarakat dari perang mempertahankan negara menjadi perang mempertahankan

negara dan agama Islam sekaligus. Keberhasilan para teungku melakukan

transformasi perang ini sebagai perang agama atau jihad fi sabilillah (perang di jalan

Allah) menyebabkan mereka dan para pengikutnya tidak lagi memaknai Belanda

sebagai musuh negara tetapi sebagai musuh agama atau kafir.38

37

Anthony Reid, Asal Mula Konflik Aceh, Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera Hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005, hlm. 91.

38

Nirzalin, op. cit., hlm. 19.

Menurut para teungku, kematian dalam arena perang bukanlah sesuatu yang

harus ditakuti tetapi kematian merupakan awal dari kebahagian karena diyakini

masuk surga sebagai seorang syuhada (syahid). Kegigihan, fanatisme dan tindakan

yang mengidelogi dibawah kendali teungku menyebabkan perang Aceh-Belanda ini

berlangsung lebih dari 30 tahun. Belanda juga mengakui Perang Aceh merupakan

perang terlama di nusantara yang menghabiskan banyak biaya. Suatu perlawanan

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diketahui bahwa pelaksanaan putusan Lembaga Adat Aceh dalam menyelesaikan sengketa pada masyarakat Aceh khususnya

Lokasi merupakan daerah wilayah pengembangan. Berada di kawasan Cagar Budaya. Berada di pusat kota. Dapat dicapai dengan mudah dari berbagai tempat diseputaran kota

Dari hasil rapat tersebut mereka bersepakat untuk mendirikan organisasi MUNA (Majelis Ulama Nanggroe Aceh) sebagai organisasi yang siap mendukung dan mengawal jalannya

Untuk mendukung kelangsungan pemberlakuan syariat Islam di Aceh, maka Pemerintah Aceh telah membentuk lembaga-lembaga penegak syariat Islam di daerah tersebut

masyarakat di Aceh Barat, khususnya penduduk asli datang menimba ilmu kepada beliau dan di rundeng tersebut kala itu tercatat sebagai tempat yang sangat baik

Peran Majlis Ta’lim dalam meningkatkan semangat beribadah di kecamatan kluet tengah yaitu sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan agama, Majlis Ta’lim dalam masyarakat telah

Fungsi-fungsi ini dijalankan oleh perangkat Gampong yaitu Keuchik ( Keuchik istilah peraturan daerah ), Teungku Sago/Waki Teungku (Imeum Meunasah istilah

Meskipun hal tersebut tergolong sulit dalam menjalin kerjasama yang baik dengan tokoh agama tidak menutup kemungkinan bahwa permasalahan klasik tersebut mampu hilang