Evaluasi penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien bedah di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar
Teks penuh
(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ii.
(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. iii.
(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN PERSEMBAHAN. Manusia yang memiliki sikap bijaksana ialah manusia yang telah memahami segala aspek pengendalian rasa diatas rasa. Pengorbanan di dalam menjalankan kehidupan secara tulus ikhlas tanpa mengeluh sedikitpun, dan telah siap akan getirnya kehidupan ini. Engkau manusia yang terlahir membawa karma, buruk baik kehidupanmu jadikanlah sumber ilmu pengetahuan yang akan menuntunmu menjadi sosok manusia yang berbudhikan dharma sejati. Aku adalah kamu, kamu adalah aku yang akan mengajariku dan menuntunku untuk memhami sang ilmu pengetahuan itu. Perdalam lah ilmu pengetahuanmu dengan sikap penyatuan pikiram,ucapan, dan tindakan agar selalu selaras sehingga ilmu pengetahuan itu akan berguna bagi masa depanMu. -I Made Kari, St.. Karya ini saya persembahkan untuk: Leluhur Nusantara ( Buddha – Siwa) yang selama ini senantiasa melindungi, menjaga, memberikan kekuatan di dalam menjalankan kehidupan serta menuntunku; Orang tua, Kakak dan serta keluargaku tercinta yang selalu mendukung dalam bentuk apapun; Sahabat yang selalu memberikan semangat dan dukungan; Teman – teman yang telah membantuku; Dosen pembimbing dan penguji yang senantiasa membantu dan mengajarkan ku banyak hal. Serta Almamaterku Universitas Sanata Dharma yang ku banggakan. iv.
(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. v.
(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. vi.
(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PRAKATA Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul „‟ Evaluasi Penggunaan Antibiotika Profilaksis Pada Pasien Bedah di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar‟‟ dengan baik dan lancar. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm). Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ibu Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 2. Ibu Maria Wisnu Donowati, M.Si.,Apt. selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah membimbing, mendampingi, memberikan motivasi dan saran serta selalu meluangkan waktu selama proses penyusunan skripsi ini. 3. Bapak Christianus Heru Setiawan, M.Sc., Apt. dan ibu Putu Dyana Christasani, M.Sc., Apt. selaku Dosen Penguji yang telah memberikan saran dan bantuan selama proses penyusunan skripsi ini. 4. Bapak Gung Aris, Ibu Seli, Ibu Elisa sebagai tim Perawat di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar atas segala bantuan dan dukungannya kepada penulis selama melakukan penelitian untuk skripsi ini. 5. Ibu Christofori Maria Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., Apt., Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., Ibu Putu Dyana Christasani, M.Sc., Apt. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan saran, motivasi dan dukungan. 6. Keluarga tercinta, ayah, ibu, tante, paman, kakakku atas segala dukungan, perhatian, nasihat dan doa yang diberikan. 7. Sahabat – sahabat tercinta yang selalu memberikan dukungan dan nasihat selama penyusunan skripsi ini 8. Teman – teman FSMA 2014 serta teman – teman Fakultas Farmasi USD atas kebersamaan dan dukungannya.. vii.
(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. viii.
(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL.................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................... ii HALAMAN PENGESAHAN...................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA....................................................... v PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH...................................... vi PRAKATA.................................................................................................... vii DAFTAR ISI................................................................................................. ix DAFTAR TABEL......................................................................................... x DAFTAR GAMBAR.................................................................................... x DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. x ABSTRACT.................................................................................................. xi ABSTRAK.................................................................................................... xii PENDAHULUAN........................................................................................ 1 METODE PENELITIAN............................................................................. 3 HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................... 5 KESIMPULAN DAN SARAN..................................................................... 11 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 12 LAMPIRAN.................................................................................................. 15 BIOGRAFI PENULIS.................................................................................. 22. ix.
(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR TABEL Tabel I. Distribusi karakteristik responden di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar................................................................................ 5 Tabel II. . Jenis Antibiotika Profilaksis responden di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar....................................................... 6. DAFTAR GAMBAR Gambar 1.. Hasil pemeriksaan mikrobiologi usap alat............................. 16 DAFTAR LAMPIRAN. Lampiran 1.. Perhitungan rata – rata data sekunder.....................................17. Lampiran 2.. Surat ethical clearence penelitian evaluasi penggunaan antibiotika profilaksis di rumah sakit Surya Husada Ubung Denpasar................................................................................. 20. Lampiran 3.. Surat ijin pengambilan data di rumah sakit Surya Husada Ubung Denpasar..................................................................... 21. x.
(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT. Surgery may pose the risk of occurrence of infection is the presence of the fish contamination with bacteria, known as operation wound infection (Surgery Wound Infection), thus required the use of prophylactic antibiotics that are safe, are effective bacteria. This research aims to know the use of antibiotic prophylaxis for surgical precision of which include the granting of this type of antibiotic prophylaxis and timeliness of antibiotic prophylaxis. This is a descriptive research using a retrospective data from medical record, including the determination of the type of antibiotic prophylaxis and the determination of the time antibiotic. From medical record data will be evaluated the accuracy of the selection of the type and the time of the granting of antibiotic prophylaxis in surgical patients. The results showed most respondents were women (69.1%) and characteristics of the majority of respondents age ≤ 30 years old (54.4%). type of surgery most of the respondents is SC (41.2%). the results showed that prophylactic antibiotics used by third generation cephalosporins (39.7%) have a broad spectrum of work that is effective against gram-positive bacteria as well as gram negative. From around the time of the evaluation respondents obtained the grant of a prophylactic antibiotic one hour before surgery amounted to (100%).. Keywords: Surgery, Antibiotics, Prophylactic Surgery. xi.
(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK. Tindakan pembedahan dapat menimbulkan resiko terjadinya infeksi akibat adanya kontaminasi dengan bakteri yang dikenal dengan infeksi luka operasi (ILO), dengan demikian diperlukan penggunaan antibiotika profilaksis yang aman, bersifat bakterisid dan efektif melawan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotika profilaksis bedah yang meliputi ketepatan pemberian jenis antibiotika profilaksis dan ketepatan waktu pemberian antibiotika profilaksis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan data retrospektif dari rekam medis, meliputi penetapan jenis antibiotika profilaksis dan penetapan waktu pemberian antibiotika. Dari data rekam medis akan dilakukan evaluasi ketepatan pemilihan jenis dan waktu pemberian antibiotika profilaksis pada pasien bedah. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden adalah perempuan (69,1%) dan karakteristik umur responden sebagian besar ≤ 30 Tahun (54,4%). Jenis pembedahan responden sebagian besar adalah Sectio Caesarea (SC) (41,2%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotika profilaksis yang paling banyak digunakan adalah golongan sefalosporin generasi ketiga (39,7%) yang memiliki spektrum kerja luas yang efektif terhadap bakteri gram positif maupun gram negatif. Dari seluruh responden memperoleh evaluasi waktu pemberian antibiotika profilaksis 1 jam sebelum pembedahan sebesar (100%). Kata Kunci : Operasi, Antibiotika, Profilaksis Bedah. xii.
(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PENDAHULUAN Infeksi luka operasi (ILO),didefinisikan sebagai infeksi yang terjadi pada atau di dekat sayatan bedah dalam waktu 30 hari setelah prosedur operasi atau dalam waktu satu tahun jika ada implan yang tertinggal (Salkind dan Rao, 2011). Sumber bakteri penyebab ILO dapat berasal dari pasien, dokter dan tim, lingkungan dan peralatan operasi (National Collaborating Centre for Women‟s and Children‟s Health, 2008). Infeksi luka operasi berdampak pada komplikasi dan dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas dan beban ekonomi. Peningkatan beban ekonomi akibat ILO disebabkan karena bertambahnya waktu perawatan yang mengakibatkan biaya penanganan infeksi luka semakin meningkat. Peningkatan beban rumah sakit akibat ILO terjadi di Amerika Serikat adalah lebih dari 1,5 miliar dolar US (Harbrath et al., 2000). Salah satu pendekatan yang untuk mengurangi dan mencegah ILO adalah dengan memberikan antibiotika profilaksis. Antibiotika profilaksis yang digunakan secara tepat dapat mengurangi risiko infeksi luka setelah operasi (Parveen et al., 2013). Rekomendasi klinik pemberian antibiotika perioperatif adalah diinfuskan dalam waktu satu jam sebelum sayatan, berdasarkan bukti kualitas pasien yang konsisten dan berkualitas baik. Khusus untuk vankomisin atau fluoroquinolones dapat diberikan 2 jam sebelumnya(Salkind dan Rao, 2011). Tujuan profilaksis antibiotika adalah pemberian obat untuk mencegah infeksi luka operasi selama berlangsungnya proses pembedahan. Berdasarkan konsensus, bukti yang berorientasi pada penyakit, praktik biasa, pendapat ahli, atau rangkaian kasus, profilaksis antibiotika perioperatif harus konsisten dengan pedoman yang diterbitkan dan profilaksis antibiotika perioperatif pada umumnya harus dihentikan dalam waktu 24 jam setelah selesai operasi (Salkind dan Rao, 2011). Data dari World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa angka kejadian infeksi luka operasi di dunia berkisar 5%-34%. Infeksi luka operasi di United Kingdom memiliki angka kejadian infeksi luka operasi sekitar 10% (Yuwono, 2016). Sedangkan menurut DEPKES RI tahun 2011 angka kejadian. 1.
(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ILO pada rumah sakit pemerintah di Indonesia sebanyak 55,1% (Asyifa et al., 2012). Sebanyak 30-90% penggunaan antibiotika profilaksis tidak dilakukan secara tepat, baik waktu pemberian dan durasi. Intensitas penggunaan antibiotika profilaksis yang relatif tinggi menyebabkan risiko morbiditas, dan mortalitas serta menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotika. Tingginya resistensi terhadap antibiotika memiliki dampak yang signifikan terhadap masalah kesehatan terutama masalah terapi (Radji et al., 2014). Strategi manajemen yang efektif diperlukan untuk mengurangi infeksi pasca operasi dengan memberikan antibiotika profilaksis diberikan pada waktu yang tepat untuk jangka waktu yang sesuai dan untuk prosedur bedah yang tepat (Munckhof, 2005). Jenis antibiotika juga harus diberikan secara tepat karena bakteri yang menyebabkan infeksi pasca operasi berbeda-beda, tergantung pada kondisi dan jenis operasi, serta pola penyebaran mikroorganisme di lokasi operasi (Di Piro et al., 1997). Dasar pemilihan jenis antibiotika untuk tujuan profilaksis antara lain antibiotika harus sesuai dengan sensitivitas dan pola bakteri patogen terbanyak pada kasus bersangkutan, berspektrum sempit untuk mengurangi risiko resistensi bakteri, memiliki toksisitas rendah, tidak menimbulkan reaksi merugikan terhadap pemberian obat anestesi, bersifat bakterisida, dan harganya terjangkau. Oleh karena itu, penelitian ini tertarik untuk mengkaji ketepatan penggunaan antibiotik profilaksis di rumah sakit Surya Husada Ubung Denpasar dengan mengkaji ketepatan dari segi jenis antibiotika sesuai dengan pola bakterinya, dan ketepatan waktu pemberian antibiotika profilaksis sesuai dengan prosedur bedah.. 2.
(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Rumusan Masalah 1. Apakah pemberian jenis antibiotika profilaksis pada pasien bedah di rumah sakit surya husada ubung denpasar sudah tepat? 2. Apakah waktu pemberian antibiotika profilaksis pada pasien bedah di rumah sakit surya husada ubung denpasar sudah tepat? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui ketepatan jenis dan waktu pemberian antibiotika profilaksis pada pasien bedah di rumah sakit Surya Husada Ubung Denpasar. Metode Penelitian Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian dilakukan dengan rancangan deskriptif dan jenis penelitian secara case series yaitu pengumpulan data variabel untuk mendapatkan gambaran ketepatan penggunaan antibiotika pasca operasi pada pasien dalam waktu tertentu. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui gambaran ketepatan penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien bedah pada periode waktu Maret 2016 sampai Februari 2017. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Responden Penelitian Responden penelitian yang digunakan adalah seluruh pasien bedah di rumah sakit Surya Husada Ubung Denpasar yang mendapat terapi antibiotika profilaksis yang memenuhi kriteria inklusi pada periode Maret 2016 – Februari 2017. Kriteria Inklusi Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu a.. Pasien bedah berusia diatas 12 tahun. b.. Pasien yang menerima antibiotika profilaksis sebelum operasi. 3.
(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Kriteria Eksklusi Kriteria eksklusi dalam penelitian ini yaitu pasien bedah dengan data rekam medis penggunaan antibiotika tidak jelas dan data kondisi pasien sesudah operasi tidak lengkap. Bahan Penelitian Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar rekam medis pasien bedah di rumah sakit Surya Husada Ubung Denpasar pada periode tahun 2016 – 2017. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu formulir pengumpulan data berupa formulir data rekam medis yang terdiri dari data karakteristik pasien (usia dan jenis kelamin), profil penggunaan antibiotika (jenis antibiotika, dan waktu penggunaan), dan kondisi terakhir pasien pasca terapi antibiotika. Data akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan acuan permenkes 2011. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah sakit Surya Husada Ubung denpasar pada bulan Agustus sampai dengan November tahun 2017. Analisis Data Data yang telah terkumpul dianalisis dalam bentuk tabel dengan cara memasukkan seluruh data yang diperoleh, kemudian diolah secara statistik deskriptif yang digunakan untuk melaporkan dalam bentuk distribusi frekuensi dan presentase dari masing – masing data.Variabel yang diteliti meliputi jenis antibiotika pilihan yang digunakan, dan waktu penggunaan. Melalui hasil uji statistik deskriptif maka persentase ketepatan penggunaan antibiotik profilaksis dapat diketahui.. 4.
(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Hasil dan Pembahasan 1. Karakteristik Demografi Responden Jumlah subyek penelitian ini adalah 68 responden di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar. Karakteristik responden pada penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia. Tabel I. Distribusi karakteristik responden di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar. Karekteristik. N. Presentase (%). (68) A.. Jenis Kelamin. Laki-laki. 21. 30,9. 47. 69,1. < = 30 Tahun. 37. 54,4. > 30 Tahun. 31. 45,6. SC. 28. 41,2. Appendectomy. 8. 11,8. Orif. 4. 5,9. Excisi. 4. 5,9. Hemoroidektomy. 3. 4,4. Appendictomy + Pervorasi. 3. 4,4. Herniotomy. 2. 2,9. Tonsilectomy. 2. 2,9. Remove Impian. 2. 2,9. Irigasi Sinus Bilateral. 1. 1,5. Isthmolobectomy. 1. 1,5. Kuretase + Bonegraft. 1. 1,5. URS. 1. 1,5. Turp. 1. 1,5. Inasi. 1. 1,5. Debridement. 1. 1,5. Laparatomy. 1. 1,5. Tubectomy + Curatage. 1. 1,5. Transuaginal Hysterectomy. 1. 1,5. Miomectomy. 1. 1,5. Inguinal Orchidectomy. 1. 1,5. Perempuan B.. C.. Usia. Jenis Pembedahan. 5.
(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Tabel II. Jenis Antibiotika Profilaksis responden di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar.. Karakteristik. N (68). Presentase (%). Ketepatan jenis. Keterangan/Halaman. 27. 39,7. Tepat. 1. Hal 138. Sefotaksim + Sefiksim. 2. 2,9. Tidak tepat. 1 dan 2. Levofloksasin. 1. 1,5. Tepat. 1. Hal 138 2. Hal 322. Seftriakson. 7. 10,3. Tepat. 1. Hal 138. Sefotaksim + Sefadroxil. 21. 30,9. Tidak tepat. 1 dan 2. Sefotaksim + Sefixim. 1. 1,5. Tidak tepat. 1 dan 2. Sefadroksil. 1. 1,5. Tidak tepat. 1 dan 2. Seftriakson + Sefiksim. 2. 2,9. Tidak tepat. 1 dan 2. Sefiksim. 2. 2,9. Tidak Tepat. 1 dan 2. Ampicillin + Sulbaktam. 1. 1,5. Tepat. 1. Hal 138. Sefoperazone. 1. 1,5. Tidak tepat. 1 dan 2. Sefoperazone + Sefiksim. 1. 1,5. Tidak tepat. 1 dan 2. A. Jenis Antibiotika Profilaksis Sefotaksim. Keterangan analisis yang digunakan: 1. 2.. IDSH 2013 Esensial Antibiotik. Berdasarkan karakteristik responden diatas didapatkan bahwa responden terbesar di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar adalah perempuan sebanyak 47 orang (69,1%) dengan usia ≤ 30 tahun sebanyak 37 orang atau sebesar (54,4%), dengan jenis pembedahan terbanyak yaitu Sectio Caesarea (SC) sebanyak 28 orang atau sebesar (41,2%). Dengan jenis pemberian antibiotika terbanyak yaitu Sefotaksim sebanyak 27 orang atau sebesar (39,7%), dan semua responden di berikan 1 jam sebelum di lakukan operasi sebasar 68 orang atau sebesar 100%. Penelitian ini sajalan dengan penelitian Zazuli., et al (2015) dan Lisni., et al (2013) bahwa sebagian besar pasien yang menjalani operasi adalah perempuan sebanyak 93 orang (68,38%) dan 84 pasien dengan perbandingan pasien perempuan (64,3 %). Dengan jumlah 124 orang (91,18%) masuk ke dalam kelompok usia dewasa, dengan jenis pembedahan pasien yang paling banyak. 6.
(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. adalah Sectio Caesarea (SC) sebanyak 23,81 % dan responden menggunakan antibiotika sefalosporin generasi III yaitu sefotaksim yaitu sebesar 22 orang atau sebesar 15,38%, dan pemberian antibiotika dengan lama operasi selama 1 jam yaitu sebesar 49 orang atau sebesar 58,33%. Jenis antibiotika profilaksis yang umum di gunakan di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar sudah sesuai dengan pedoman esensial antibiotik 2014 dan IDSH 2013 yaitu seftriakson, sefotaksim, levofloksasin, amoksisilin + sulbaktam. Dari data penggunaan antibiotika profilaksis yang digunakan di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar, terdapat beberapa jenis antibiotika profilaksis yang tidak sesuai dengan pedoman esensial antibiotik 2014 dan IDSH 2013 yaitu Sefotaksim + Sefspam, Sefotaksim + Sefadroksil, Sefotaksim + Sefiksim,. Sefadroksil,. Seftriakson. +. Sefspam,. Sefiksim,. Sefoperazone,. Sefoperazone + Sefiksim.. Pembahasan 1. Ketepatan pemberian jenis antibiotika profilaksis pada pasien bedah di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar. Berdasarkan karakteristik jenis pemberian antibiotika responden sebagian besar menggunakan antibiotika profilaksis yaitu Sefotaksim sebanyak 27 orang (39,7%). Selama ini jenis antibiotika golongan sefalosporin generasi III yang paling sering digunakan yaitu seftriakson, sefotaksim, sefopherason dan seftizoksim. Sefalosporin generasi ke-3 terutama sefotaksim merupakan jenis antibiotika yang paling sering digunakan untuk profilaksis perioperatif. Sefotaksim diindikasikan untuk penggunaan profilaksis perioperatif pada berbagai macam prosedur pembedahan untuk menurunkan tingkat insidensi terjadinya infeksi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang didapatkan bahwa sebagian besar jenis operasi yang dijalani oleh pasien di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar adalah Sectio Caesarea (SC) sebanyak 28 orang (41,2%). Selain itu digunakan sefotaksim dan sefadroksil (30,9%) pada prosedur pembedahan abdominal atau saluran gastrointestinal. Sefadroksil (sefalosporin generasi. 7.
(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. pertama) digunakan karena memiliki spectrum aktivitas yang sempit dan aktif terhadap staphylococci dan streptococci, waktu paruh serum yang sedang, dan terbukti efektif (Farthing., et al, 2009). Hal ini diperkuat oleh ASHP dalam Tatalaksana Terapi Profilaksis Antimikroba pada Pembedahan yang menyatakan bahwa sefadroxile menjadi pilihan yang utama karena harganya yang relatif terjangkau, durasi aksi yang cukup panjang, dan memiliki aktivitas terhadap sebagian besar patogen penginfeksi operasi bersih atau bersih-terkontaminasi (Bratzler.,et al, 2005). Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa sefalosporin generasi pertama atau kedua (diantaranya yaitu sefazolin dan sefuroksim) sama efektifnya dengan sefalosporin generasi ketiga untuk profilaksis perioperatif pada pasien yang menerima pembedahan obstetrik dan ginekologi, saluran empedu, kardiovaskular, atau ortopedik (Phoolcharoen., et al, 2012) Selain itu juga sefalosporin ini aktif terhadap kuman gram positif maupun gram negatif. Mekanisme kerja umum dari sefalosporin yaitu menghambat sintesis dinding sel mikroba, dengan cara menghambat reaksi transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel sehingga bakteri akan mengalami lisis. Namun kepekaan terhadap betalaktamasenya yang lebih rendah dari pada penisilin (Hoan Tjai, 2009). Pada penelitian ini tidak di temukan data pola kuman di ruang bedah dan ruang rawat inap pacsa pembedahan, Namun peneliti memperoleh data hasil pemeriksaan Mikrobiologi usap alat. Hasil demikian menunjukkan bahwa alat yang digunakan di ruang pembedahan negatif terhadap kuman patogen. Dari penjelasan diatas, dapat dikatakan bahwa pemilihan jenis antibiotika profilaksis generasi III yaitu sefotaksim untuk pasien bedah di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar sudah sesuai dengan antibiotika profilaksis untuk mencegah infeksi luka operasi sesuai dengan Pedoman esensial antibitoka 2014, IDSA 2013 dan Wattimena 2001.. 8.
(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 2. Ketepatan Waktu Pemberian Antibiotika Profilaksis Pada Pasien Bedah di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar. Berdasarkan karakteristik ketepatan pemberian antibiotika responden yaitu semua responden di berikan 1 jam sebelum di lakukan operasi sebanyak 68 orang atau sebesar (100%). IDSA 2013 menyatakan antibiotika profilaksis di berikan dalam waktu 60 menit atau kurang menjelang insisi. Berdasarkan wawancara yang dilakukan di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar didapatkan bahwa pemberian antibiotika dimulai saat pengiriman pasien dari tempat rawat inap/saat berada di ruang emergensi sampai ke dalam ruangan bedah. Hal senada disebutkan oleh Dudley HAF,et.al,2010 bahwa proses pembedahan biasanya dimulai pengiriman pasien dari ruangan rawat inap atau ruangan emergensi ke ruangan bedah. Pasien diberikan antibiotika profilaksis 1 – 2 jam sebelum operasi sesuai dengan instruksi. Pasien di posisikan ke posisi yang sesuai dengan pembedahan dan diberikan anestesi, hal ini bertujuan untuk mengurangi kesadaran pasien dan menghilangkan rasa nyeri sehingga pasien tidak trauma dalam menghadapi pembedahan dan pasien tidak sadar. Untuk pembedahan diatas dari 2 jam biasanya penggunaan antibiotika profilaksis diberikan kembali dengan dosis yang sama saat pemberian pertama agar tujuan pemberian antibiotika profilaksis dapat terpenuhi. Pembedahan dalam waktu yang lama dikarenakan proses yang pembedahan yang salah, pengaruh anestesi. Pembedahan diatas 1 – 2 jam biasanya terjadi pada operasi tertentu yang sulit atau terjadi hal – hal yang tidak diinginkan contohnya terjadi pendarahan, penurunan kesadaran pasien, serta kesalahan prosedur yang menyebabkan waktu pembedahan menjadi lama. Operasi yang lama biasanya berpeluang terkena infeksi yang cukup besar. Maka diberikan antibiotika profilaksis kembali sesuai dengan dosis awal (Kharisma dan Sikma Ratih, 2006). Permenkes (2011) menyatakan bahwa penggunaan antibiotika oleh pasien harus memperhatikan waktu, frekuensi dan lama pemberian sesuai rejimen terapi. 9.
(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. dan memperhatikan kondisi pasien. Lamanya pemberian antibiotika adalah dalam jangka waktu 24 jam. Selanjutnya harus dilakukan evaluasi berdasarkan data mikrobiologis dan kondisi klinis pasien serta data penunjang lainnya (Permenkes, 2011). Berdasarkan pernyataan antara ketepatan waktu pemberian antibiotika sebelum operasi dengan teori dan prosedur-prosedur yang ada, dapat disimpulkan bahwa ketepatan pemberian antibiotika sebelum operasi di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar sudah sesuai prosedur menurut pedoman IDSA 2013, Wattimena 2001, Permenkes 2011.. Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini tidak diperoleh data pola kuman di ruang bedah dan di ruang rawat inap di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar, sehingga pada penelitian ini malakukan evaluasi penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien bedah secara reverensi.. 10.
(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PENUTUP Kesimpulan 1. Berdasarkan ketepatan pemberian antibiotika sebagian besar responden diberikan Sefotaksim sebanyak 27 (39,7%). Pemberian Sefotaksim yang diberikan dapat mencegah terjadinya infeksi luka operasi pasca pembedahan di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar. 2. Berdasarkan uji karakteristik waktu pemberian antibiotika responden di Rumah Sakit Surya Husada Denpasar di dapatkan bahwa semua responden di berikan 1 jam sebelum di lakukan operasi sebasar 68 (100%).. Saran 1. Untuk peneliti selanjutnya, perlu dilakukan penelitian yang berkelanjutan dengan kategori evaluasi terkait ketepatan dosis antibiotika profilaksis paska bedah untuk melihat efektifitas penggunaan antibiotika profilaksis selama waktu proses pembedahan berlangsung. 2. Untuk RS surya husada ubung denpasar, perlu untuk memiliki rincian kultur bakteri pada pola kuman yang ada di ruang pembedahan, sehingga memudahkan untuk melihat data pola kuman di ruang pembedahan secara jelas sehingga dapat lebih pasti untuk penggunaan antibiotika profilaksis sesuai tepat dan mencegah terjadinya resist. 11.
(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. DAFTAR PUSTAKA. Aiken, A., 2011. Antibiotic propylaxis for prevention of surgical site infection. Global. Forum. on. Baderial. Diseases.. New. Delhi. (Online),. http://www.cddep.org/sites/default/files/dr_alex_aiken_0.pdf Asyifa, A., Suarnianti, Mato, R., 2012. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Infeksi Luka Operasi di RSUP DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Stikes Nani Hasanuddin Makassar, 1 (2), 105-108. Burke A, Cunha, MD,MACP,2014, Esensial Antibiotik, Jakarta, EGC, hal 320323. Bratzler DW, Houck PM., 2005. Antimicrobial prophylaxis for surgery: an advisory statement from the National Surgical Infection Prevention Project. Am J Surg., 189 (4), 395-404. DiPiro JT. Talbert RL, Matzke GR, Well BG, Posey LM., 1997. Pharmacotherapy, A pathophysiologic Approach. Dudley HAF, Eckersley JRT, Paterson-Brown S. 2010. Pedoman Tindakan Medik dan Bedah. Jakarta : EGC Evans RS, Classes, DC, Pestotnik SL, et al., 1994. Improving empiric antibiotic selection using computer decision support. Archives of Internal Medicine, 154(8), 878-884. Farthing K, Ferrill MJ, Jones B, Mazur JN (Eds.). 2009. Drug facts & comparison: pocket edition. Walters Kluwer: United States HoanTjay, T. Rahardja K. 2009. Obat-Obat Penting : Khasiat, Penggunaannya danEfek Sampingnya. Ed 7. Jakrata : PT Elex Media Computindo. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011 Tentang Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Terapi Antibiotik. Kharisma and SikmaRatih. 2006. Prophylaxis antibiotic utilization study in orthopaedic surgery which cases are open fracture grade II and III (Study at SMF Orthopaedic and Traumatology Dr. Soetomo Hospital Surabaya Lisni, Ida., Adi Permana, Tatang ., Sutrisno, Entris . 2013. Evaluasi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Bedah Di Salah Satu Rumah Sakit Kota Bandung. Jurnal Farmasi Galenika Volume 01 No. 02 ISSN: 2406-9299. 12.
(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. McEvoy GK (ed.). 2008. American Hospital Formulary Service (AHFS) drug information. The American Society of Health System Pharmacists Inc.: Bethesda. Munckhof, W., 2005. Antibiotic for surgical prophylaxis. Australian Prescribe, 28(2), 38-40. National Collaborating Centre for Woman and Children‟s Health. Surgical site infection: Prevention and Treatment Surgical Site Infection. National Institute for Health and Clinical Eccellence. 2008. Parveen A., Shaheen, K., Shaik MQ, Ali SW, Hussain SM, Ali SA, Mohd AH, Muhinuddin, M., 2013. Prescribing pattern of antibiotics in post operative patient in a teaching hospital. Indo American Journal of Pharmaceutical Research, 4(1), PERMENKES RI. 2011. Pedoman Umum Penggunaan Antibiotika. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI. Phoolcharoen N, Nilgate S, Rattanapuntamanee O, Limpongsanurak S, Chaithongwongwatthana S. 2012. A randomized controlled trial comparing ceftriaxone with cefazolin for antibiotic prophylaxis in abdominal hysterectomy. Int J Gynaecol Obstet. 2012;119(1):11–3.doi: 10.1016/j.ijgo.2012.04.023 Radji M, Aini F dan Fauziah S., 2014. Evaluation of antibiotic prophylaxis administration at the orthopedic surgery clinic of tertiary hospital in Jakarta Indonesia. Asian Pac J Trop Dis., 4(3), 190-193. Rusdiana, Nita., Safitri, Meta., Resti, Anis. 2016. Evaluasi Penggunaan Antibiotika Profilaksis Pada Pasien Bedah Sesar Terencana Di Rumah Sakit Ibu Dan Anak “X” Di Tangerang. Social Clinical Pharmacy Indonesia Journal (Vol. 1, No.1, 2016) ISSN Online: 2502-8413 Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta Salkind AR. dan Rao KC.2011 Antibiotic propilaxis to prevent surgical site infection. American Family Physician, 85(5), hal 586. Wattimena, J.R.,et al., 2001. Farmakologi dan Terapi Antibiotik. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. World Health Organization. Global Guidelines for the prevention of surgical site infection (Online), http://www.who.int/gpsc/ssi-prevention-guidelines/en/. 13.
(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Zazuli, Zulfan., Sukandar, Elin., Lisni, Ida. 2015. Evaluasi Penggunaan Obat pada Pasien Bedah di Suatu Rumah Sakit Swasta di Bandung. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, Vol. 4 No. 2, hlm 87–97 ISSN: 2252–6218.. 14.
(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. LAMPIRAN. 15.
(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Gambar 1. Hasil pemeriksaan mikrobiologi usap alat. 16.
(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Lampiran 1. Perhitungan rata – rata data sekunder. Statistics. Jenis_Kelamin N. Valid Missing. Jenis_Pembeda. Jenis_Antibioti. han. ka. Usia. 68. 68. 68. 68. 0. 0. 0. 0. Jenis_Kelamin Cumulative Frequency Valid. Percent. Valid Percent. Percent. Laki-Laki. 21. 30,9. 30,9. 30,9. Perempuan. 47. 69,1. 69,1. 100,0. Total. 68. 100,0. 100,0. Usia Cumulative Frequency Valid. Percent. Valid Percent. Percent. < = 30 Tahun. 37. 54,4. 54,4. 54,4. > 30 Tahun. 31. 45,6. 45,6. 100,0. Total. 68. 100,0. 100,0. 17.
(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Jenis_Pembedahan Cumulative Frequency Valid. Debridement. Percent. Valid Percent. Percent. 1. 1,5. 1,5. 1,5. 28. 41,2. 41,2. 42,6. Appenbectomy. 8. 11,8. 11,8. 54,4. Herniotomy. 2. 2,9. 2,9. 57,4. Orif. 4. 5,9. 5,9. 63,2. Hemoroidektomy. 3. 4,4. 4,4. 67,6. Tonsilectomy. 2. 2,9. 2,9. 70,6. Laparatomy. 1. 1,5. 1,5. 72,1. Tubectomy + Curatage. 1. 1,5. 1,5. 73,5. Transuaginal Hysterectomy. 1. 1,5. 1,5. 75,0. Miomectomy. 1. 1,5. 1,5. 76,5. Inguinal Orchidectomy. 1. 1,5. 1,5. 77,9. Excisi. 4. 5,9. 5,9. 83,8. Remove Impian. 2. 2,9. 2,9. 86,8. Irigasi Sinus Bilateral. 1. 1,5. 1,5. 88,2. Isthmolobectomy. 1. 1,5. 1,5. 89,7. Kuretase + Bonegraft. 1. 1,5. 1,5. 91,2. URS. 1. 1,5. 1,5. 92,6. Turp. 1. 1,5. 1,5. 94,1. Inasi. 1. 1,5. 1,5. 95,6. Appendictomy + Pervorasi. 3. 4,4. 4,4. 100,0. 68. 100,0. 100,0. SC. Total. 18.
(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Jenis_Antibiotika Cumulative Frequency Valid. Sefotaksim. Percent. Valid Percent. Percent. 27. 39,7. 39,7. 39,7. Sefotaksim + sefiksim. 2. 2,9. 2,9. 42,6. Levofioxacin. 1. 1,5. 1,5. 44,1. Seftriakson. 7. 10,3. 10,3. 54,4. 21. 30,9. 30,9. 85,3. Sefotaksim+ Sefiksim. 1. 1,5. 1,5. 86,8. Sefadroksil. 1. 1,5. 1,5. 88,2. Seftriakson+ Sefiksim. 2. 2,9. 2,9. 91,2. 1. 1,5. 1,5. 92,6. Sefiksim. 2. 2,9. 2,9. 95,6. Ampicillin+ Sulbaktam. 1. 1,5. 1,5. 97,1. Sefoperazone. 1. 1,5. 1,5. 98,5. Sefoperazone + Sefiksim. 1. 1,5. 1,5. 100,0. 68. 100,0. 100,0. Sefotaksim+ Sefadroksil. Tidak Menggunakan Antibiotik. Total. 19.
(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Lampiran 2. Surat ethical clearence penelitian evaluasi penggunaan antibiotika profilaksis di rumah sakit Surya Husada Ubung Denpasar.. 20.
(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Lampiran 3. Surat ijin pengambilan data di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar.. 21.
(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. BIOGRAFI PENULIS Penulis. skripsi. berjudul. “. Evaluasi. Penggunaan Antibiotika Profilaksis Pada Pasien Bedah Di Rumah Sakit Surya Husada Ubung Denpasar” dengan nama lengkap Ni Kadek Nita Susanti, lahir di Sumbersari,19 Juli 1996. Penulis merupakan anak bungsu dari dua bersaudara pasangan I Made Awan dan Ni Ketut Suardeni. Pendidikan yang telah di tempuh oleh penulis, yaitu SD Negeri 1 Nambaru ( 2002 – 2008), SMP Negeri 1 Parigi ( 2008 – 2011), dan SMA Negeri 2 Mengwi Badung ( 2011-2014). Pada tahun 2014, penulis melanjutkan pendidikan sarjana di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Selama menempuh pendidikan sarjana, penulis pernah mengikuti kegiatan kepanitian internal maupun eksternal, diantaranya anggota Devisi konsumsi CBIA periode 2016/2017, sekretaris kepanitian Dayak Nite periode 2016.. 22.
(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. Tabel formulir instrumen penelitian. 23.
(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 24.
(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 25.
(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 26.
(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 27.
(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 28.
(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 29.
(42)
Gambar
Dokumen terkait
Skripsi yang berjudul “Strategi Pemenangan Partai Demokrat Dalam Pemilu Legislatif Kabupaten Karo 2014” ini penulis susun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana
For example, before a host interface has been allocated an IP address, it sends a Dynamic Host Con fi guration Protocol (DHCP) request packet with the Limited Broadcast Address as
Apabila hingga waktu 30 (tiga puluh) hari yang ditentukan Mitra Usaha /Pembeli tidak melakukan pembayaran apa pun, maka Mitra Usaha /Pembeli akan dengan suka
MODEL KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK BERMAIN PERAN UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK DENGAN HIGH FUNCTIONING AUTISM DISEKOLAH DASAR INKLUSIF Universitas
Dengan model pembelajaran yang berbeda dapat meningkatkan semangat belajar siswa serta sebagai sarana untuk meningkatkan hasil proses belajar mengajar pada mata
Masih terdapatnya kesenjangan sementara tercapainya pemerataan kesejahteraan ekonomi dan sosial baik bagi masyarakat umum merupakan tujuan umum perseroan maupun koperasi
Latihan khusus yang fokus pada peningkatan daya ledak telah berhasil mengembangkan teknik khusus yang meliputi gerakan eksplosif di mana proses adaptasinya
Di lingkungan peradilan agama para hakim menggunakan pedoman Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai hukum materiil dalam menyelesaikan perkara- perkara yang