• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRACT. adalatr K-labil, maka ekstraksi K dengan jenis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRACT. adalatr K-labil, maka ekstraksi K dengan jenis"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh: La Ode Safuant), Roedtry Poerwonto2), Anas D.

Swild),

Sobiy')

ABSTRACT

The aims of the reseach wos. to find soil K extraction method wich suitable for pineapple. The research was conducted using randomized blocked desigrr with five soil K satus:

Ksr:0

kg KaO ha-r,

g;:

70 kg KzO ha'r, Km

:

140 kg I(2O hdr, Kt = 210 kB KzO

ha\

and Kst

:280

kg K2O ha'. The soil K exraition methods suitable for pineapple in the Incepisols of Darrraga were Bray-I, Bray-Z, HCI 25o/o,

Mehlich, NILOAc pH 4.8, NILOAc pH 7.0 and

Olsen-Key words: correlatin, soil tes! potessium nutrient exraction method.

PENDAIIT'LUAI\

Kalium

(K)

merupakan unsur hara

yang dibutuhkan dalam jumlatr banyak untuk

mendukung

pertumbuhan

tanaman

nenas

(Malezieux dan Bartholomew 2003). Tetapi ketersediaannya

dalam

tanah

umumnya

rendah, sehingga kekurangan K selalu menjadi

faktor

pembatas

untuk

meningkatkan

pertumbuhan dan produksi tanamanan nenas, karena sebahagian besar K tanah berada dalam

bentuk tidak

tersedia.

Untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktifitas tanaman nenas,

perlu dilakukan pemupukan dengan kalium, karena menunrt

Kelly

(1993) tanaman nenas

membutuhkan

kalium

dalam

jumlah

yang banyak

untuk

metabolisme karbohidrat dan

nitrogen

dan untuk

berfungsinya stomata secara normal.

Pemupukan

yang

rasional

dan

berimbang

dapat

tercapai apabila

dalam

pemupukan memperhatikan stafus hara dan

dinamika hara tanah serta kebutuhan tanaman

akan hara tersebut untuk mencapai produksi yang

optimum.

Pendekatan

ini

dapat dilak-sanakan dengan

baik dan

menguntungkan

apabila

rekomendasi pemupukan dilandasi

oleh

hasil

penelitian kalibrasi

uji

tanah.

Menurut Evans (1987) bahwa, kalibrasi uji

tanah

merupakan program

uji

yang

baik,

karena

secara

cepat dapat

memberikan

informasi

untuk

mengidentifikasi tingfut kekurangan atau kecukupan suatu unsur hara

dan

jumlah

unsur hara yang akan diberikan jika kekurangan.

Rekomendasi pemupukan berdasarkan

uji

tanah

sangat disarankan

karena

lebih rasional serta sifatnya yang kuantitatif dan

lebih

ilmiah.

Namun demikian, Mutchers (1995) menyatakan bahwa tidak ada metode

uji

tanah yang sempurna Suatu metode yang

bagus untuk tanatr tertentu, belum tentu bagus

untuk

jenis

tanah

lainnya.

Oleh karena

itrl

setiap metode harus dilakukan studi korelasi dan kalibrasi untuk berbagai jenis tanatr dan tanaman.

Bentuk

K

yang tersedia bagi tanaman adalatr K-labil, maka ekstraksi

K

dengan jenis

pengekstrak

tertentu

haruslah

dapat

mengekstak

K-labil.

Berbagai

metode

ekstraksi

telah

diperkenalkan, namun yang paling banyak digunakan

di

berbagai negara

adalah NII+OAc

pH

7.0. yang menghasilkan

Kdd.

Bohn

el al.

(1979) mengemukakan

bahwa

Kdd

memiliki

korelasi yang cukup baik dengan kemampuan penyediaan

K

tanatl selama musim tanam. Namun eksfraksi

K

dengan metode tersebut untuk menentukan

K-dd dalam tanah tidak cukup bila

K

yang tidak

dapat

dipertukarkan berkontribusi

nyata

terhadap nutrisi tanaman (Cox et

al.

1999).

Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan

'

untuk

mendapatkan

metode

ekstraksi hara

K

tanah

yang

sesuai untuk

tanaman nenas.

t)

SnfPengaiar Pda Jurusot Agrotehtotogi Fafultas Pertanian IJnivercitas Haluoleo, Kcndari

2)

Staf Pengaiar Pada DepanemenAgrotnmi dan Honifutura IPB, Bogu

(2)

BAHAN

DAI{

METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian

ini

dilakukan

di

Kebun Percobaan Fakultas Pertanian

[PB,

Sawah

Baru,

Darmaga

dari

Maret 2004

sampai Desember

2006.

Analisis tanah dan jaringan

tanaman dilakukan

di

Laboratorium Departemen

llmuTanah

dan

Sumberdaya

Lahan, Fakultas Per&anian

IPB,

Bogor, dan

Laboratorium Pusat Penelitian Tanah Bogor. Rancangan Percobaan

Penelitian kolerasi uji tanah hara kalium

untuk

tanaman nenas disusun berdasarkan

Rancangan

Acak

Kelompok

(RAK)

yang

terdiri atas lima status hara

K:

Ksr = 0 kg KzO

har,

Kr:

70 kg K2O ha'r, Km

=

140

kt

KrO

ha I,

Kt

:

210 kg K2O ha-r, dan Kst

:

280 kg K2O

ha-'.

Setiap perlakuan diulang sebanyak

tiga kali,

sehingga

jumlah

unit

perlakuan adalah 15 unit perlakuan.

Pengolahan Tanah

Tanah terlebih dahulu dibersihkan dari sisa-sisa tanaman

dan

gulmq

selanjutnya

dilakukan

pengolahan

tanah

dengan

menggunakan

cangkul

sebanyak

dua

kali.

Pengolahan

pertama dilakukan

untuk

membuat

bongkahan-bongkahan tanah, selanjutnya dilakukan pengolahan kedua untuk

menghaluskan tanah dan membersihkan tanah

dari

sisa-sisa

akar

tanaman.

Setelah

pengolahan

tanah

selesai,

maka

dilakukan pembuatan petak-petak percobaan dengan

ukuran 3 m x 2 m dengan tinggi 20

cm.

Jarak antar petak percobaan adalah 30 cm danjarak

antar ulangan 50 cm.

Pembuatan Status

llara

K

Kegiatan

awal

setelah pengolahan

tanah adalah pembuatan status

hara

yaitu mulai

dari

sangat rendah

(OX),

rendah

(l/4

X),

sedang

Qn

X), tinggi (3/4

X)

dan sangat

tinggi

(X).

Dimana

X

adalah jumlah

K

yang

diberikan untuk mencapai

0.6 me

lil100

g

tanah

dengan pengekstrak

NILOAc pH

7.0

(Suleman et al.20A0). Untuk mencapai kadar

hara

0.6

me

K/100

g

tanah

dibutuhkan pemberian kalium sebanyak 280

kg

K2O per hektar.

Sumber hara

untuk

pembuatan status

hara

K

adalah dari pupuk

KCI

(60% K2O).

Cara pemberiannya dilakukan dengan cara sebar secara merata pada permukaan tanah di setiap

unit

percobaan, kemudian dicangkul sehingga tercampur secat'a merata dengan tanah dan dibiarkan selama 8 bulan. Sebelum

dilakukan pengolahan tanah dan pemberian

kapur serta aplikasi pemupukan pada setiap

status

hara

terlebih dahulu

dilakukan pengambilan sampel tanah pada setiap status

hara

untuk

dianalisis dengan menggunakan metode ekstraksi uji tanah hara K seperti: HCI 25Yo,

Olsen,

Bray-l,

Bray-2,

Mehlich,

NILOAc

pH

4.8

dan NILOAc

pH

7.0.

Metode analisis tanah dilakukan berdasarkan

metode analisis

uji

tanah yang disusun oleh Suleman dan Eviati (2002).

Pengapuran dan Penanaman

Sebelum

pengapuran,

contoh

tanah

secara komposit

diambil

pada setiap status

hara

tanah

yang telah

dibuat,

kemudian

dianalisis untuk mengetahui kadar

hara

K

tanah yang terekstrak oleh berbagai metode

ekstraksi. Pengapuran dengan kapur dolomit (CaMe(CO)z) dilakukan

2

minggu sebelum tanam dengan dosis

I

x Al-dd yang dilakukan dengan cara disebar secara merata keseluruh

permukaan

petak

unit

percobaan,

dan

dicangkul hingga merata

dengan

tanah.

Selanjutnya

pada petak

percobaan yang

berukuran 3 m

x

2 m ditanami bibit tanaman nenas Smooth Cayenne Subang dengan jarak

tanam 75 cm x 30 cm.

Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharahaan

tanaman

meliputi pengendalian

gulmq

hama

dan

penyakit. Untuk mengendalikan serangan patogen yang

merusak

akar, maka setiap

lubang tanam

diberi Furadan-3G sebanyak

2

g

per lubang sebelum penanaman. Tanaman juga disemprot

dengan

Diazinon

untuk

mengendalikan

penyakit dengan volume semprotan 400 liter

har

pada konsentrasi 1.5

ppm,

sedangkan penyiangan dilakukan setiap bulan sekali.

Pengamatan

Parameter

yang

diamati

meliputi

3 aspek yaitu; harq pertumbuhan dan produksi

tanaman sebagai berikut

:

(l).

Kadar hara

K

tanah

pada

setiap

status

hara

K

tanah

dilakukan

I

kali

yaitu

sebelum pengolahan

tanah,(2). Serapan

hara

diukur

pada

saat tanaman berbunga. Serapan hara = Kadar hara

x

berat kering

daun"D"

tanaman nenas

(3)

Sampel

helai

daun

yang

dianalisis adalah

daun"D" yaitu daun paling muda yang sudah

mencapai pertumbuhan maksimal, biasanya

juga

merupakan daun yang paling panjang.

Bahagian dasar daun yang putih yang tidak mengandung

klorofil

dibuang (Jones

et

ol.

l99l),

(3).

Jumlah

daun pada saat tanaman

berumur

6

bulan dan

9

bulan sesudatr tanam

serta pada saat tanaman mulai berbunga (4). Tinggi tanaman pada saat tanaman berumur 6

bulan dan

9

bulan sesudah tanam serta pada

saat

tanaman

mulai

berbunga"

(5).

Umur tanaman

pada saat

berbunga

dan

umur tanaman pada saat panen,

(5).

Panjang dan

diameter

buah,

(7).

Berat

buah dan berat

makhota pertanaman, serta produksi buah per hektar.

Analisis Data

Data hasil pengamatan dianalisis dengan

sidik

ragam.

Apabila

hasil

analisis

menunjukkan pengaruh yang nyata pada taraf

nyata 0.05,

dilakukan

uji

ortogonal untuk mengetahui

pola

respon tanaman terhadap pemberian berbagai dosis pupuk K, sedangkan

untuk mengetahui dosis pupuk K yang optimal terhadap produksi tanaman nenas, dilakukan

analisis regresi.

Analisis Korelasi

Untuk menghitung korelasi antara kadar

hara

K

tanah yang terekstrat oleh berbagai

metode ekshaksi dengan

kadar

hara dan serapan hara

K

daun'D"

serta produksi buah

tanaman nenas

(ton

har),

dianalisis dengan

analisis korelasi

linier

sederhana sebagai

berikut:

rxiYi-(x{)€I1)

HASIL

DAI\[

PEMBAIIASAI\

Nilai

K

Terekstrak Pada Berbagai Status

Ilara

K

Tanah

Setelah dilakukan pemberian hara

K

ke dalam tanah dalam bentuk pupuk KCI dan

dibiarkan selama

I

bulan, maka diharapkan bahwa unsur K dari pupuk KCI yang diberikan telah mencapai kondisi steady state, dimanaK pupuk yang diberikan

ke

dalam tanah telah

berubah menjadi

K

tanah.

Namun demikian

faktor-faklor

lainnya

seperti

heterogenitas

tanah akan turut berpengaruh terhadap kadar

dan dinamika hara

K

tanah, sehingga dapat

berpengaruh

pula

terhadap

pertumbuhan

tanaman.

Untuk mengetahui kadar hara

K

tanah, maka sebelum dilakukan penanaman,

terlebih dahulu dilakukan pengambilan sampel

tanah

secara

komposit

pada setiap

unit perlakuan status hara

K

tanah dan dianalisis

dengan berbagai metode ekstraksi seperti yang

disajikan pada Tabel I

Hasil analisis

uji

tanah hara

K

tanah

Inceptisols Darmaga dengan pengekstrak HCI

25o

,

Olsen,

Bray-I,

Bray-Z,

Mehlich, NFLOAc

pH

4.8 dan NFIqOAc

pH

7.0 pada

setiap status hara pada Tabel

l,

menunjukkan

bahwa nilai uji tanah K yang terekstrak, secara

umum mengalami peningkatan sesuai dengan

semakin meningkatnya status hara

K

tanah

dari

sangat rendah

hingga

sangat tinggi, namun demikian ada

nilai uji

tanah hara

K

pada ulangan yang berbeda yang mempunyai

nilai uji tanah hara

K

lebih rendah pada tanah

yang

berstatus

hara

K

lebih tinggi

jika

dibandingkan dengan

nilai

uji

tanah hara

K

pada tanah yang mempunyai status hara

K

yang lebih

rendah.

Berdasarkan

nilai uji

K

tanah tersebut,

juga terlihat

bahwa setiap

metode ekstraksi

mempunyai kemampuan

yang

berbeda

untuk

mengekstrak

hara

K

tanah. Nilai K terekstrak dari ke tujuh metode

eksktraksi

hara

K

tanah mempunyai nilai

kisaran yang'lebar; HCl25o/o

(l0l

-

518 ppm

KzO), Olsen (4.2

-

105.7 ppm K2O), Bray-l

(1.10

-

61.20 ppm KzO), Bray-2 (9.00

-

95,90

ppm K2O), Mehlich

(47

-

561 ppm KzO),

NILOAc

pH

4.8 (56

-

510 ppm KzO), NILOAc pH 7.0 (61

-

516.15 ppm K2O).

fr=

(4)

Tabel

I

Nilai

uji

hara K tanah Inceptisol Darmaga yang terekstrak oleh berbagai metode ekstraksi pada berbagai kondisi status hara K tanah

Kondisi

Status K HCt25% Olsen Bray-l

Bray-Z

Mehlich

hara K tanah K terekstrak oleh

NlIaOAc NHTOAc 4.8 7.0 SRI SR2 SR3

RI

R2 R3

MI

M2 M3

TI

T2 T3

sTl

ST2 ST3 14E.00 101.00 164.00 169.00 18r.00 244.00 205.00 r65.00 256.00 244.00 234.00 293.00 214.00 235.00 5 t 8.00 12.50 4.20 10.70 24.20 21.00 31.80 12.80 36.40 28.80 25.40 36.10 26.20 27.70 28.60 105.70 6.30

l.l0

6.50 8.90 8.50 19.30 15.10 19.s0 20.80 20.40 t7.20 25.40 t6.20 t6.20 61.20 14.20 9.00 17.30 28.20 22.50 38.1 0 31.00 23.80 47.40 39.00 34.50 50.40 29.10 34.10 95.90 99.00 47.00 102.00 129.00 120.00 210.00 167.00 r25.00 220.00 175.00 193.00 265.00 r80.00 t77.00 561.00 100.00 56.00 103.00 l17.00 t22.00 197.00 160.00 135.00 218.00 200.00 185.00 242.A0 r 7s.00 178.00 510.00

tl7.3t

61.00 122.00 t22.00

tt7.3t

206.46 159.54 1 50.1 5 229.92 t97.07 197.07 244.00 187.69 t92.38 516. r 5

Analisis tanah dilakukan contoh kering 105"C).

di

l,aboratorium Pusat Penelitian Tanah Bogor (dihitung berdasarkan

Nilai uji

tanah hara

K

tersebut belum

mempunyai

arti

agronomis

sebelum

dikorelasikan dengan komponen pertumbuhan

atau

produksi

yang

mempunyai

nilai ekonomis, karena tidak semua unsur hara

K

yang terekstrak dari tanatr oleh suatu batran

pengekstrak

tersebut

dapat diserap

oleh

tanaman, oleh karena

itu

perlu dicari metode

ekstraksi

yang

hanya mengekstrak hara

K

yang dapat diserap oleh tanaman nenas.

Pemilihan Metode Ekstratai Hara

K

Untuk memperoleh metode ekstraksi

hara

K

yang baik untuk tanaman nenas, nilai

uji

K

tanah yang terekshak

oleh

beberapa

pengekstrak tersebut dikorelasikan dengan

kadar hara

K

daun

"D"

dan serapan hara

K

daun

"D",

serta

produksi tanaman nenas.

Koefisien korelasi antara

nilai

uji

hara

K

dengan kadar hara

K

dan serapan hara K daun

"D,

serta produksi buah

tanaman nenns

disajikan padaTabel2.

Tabel

2

Hasil analisis korelasi antara kadar

lrara

K

tanah yang terekstrak oleh berbagai metode

ekstraksi dengan kadar hara K daun "D'0, serapan

dra

K daun

"D",

dan produksi tanaman nenas

Metode ekstraksi Kadar hara

K

hara

K

Produksi HCl25o/o Olsen Bray-1 Bray-2 Mehlich NH4OAc pH 4.8 0.58* 0.56* a.440^ 0.55* 0.57* 0.52* 0.55* 0.55* 0.64* 0.60* 0.67** 0.65** 0.61* 0.63* 0.63+ 0.45' 0.58* 0.59* 0.54* 0.57* 0.56t NH4OAc DH 7.0

Keterangan : n

= l5;

*t

= nyata pada taraf n

tidak nyata.

(5)

Berdasarkan

nilai

koefesien korelasi antara

nilai uji

tanah hara

K

yang terekstrak oleh berbagai metode ekstraksi dengan kadar

K daun"D" dan serapan hara K daun

"D"

serta

produksi

tanaman nenas,

tampak

bahwa

pengekstrak Bray-l

danBray-Z memberikan

korelasi

yang nyata

dengan kadar

hara K

daun"D" dan serapan hara

K

daun

"D"

serta

korelasi yang sangat nyata dengan produksi

buah.

Pengesktrak

HCI

25yo,

Mehlich,

NIIaOAc

pH

4.8,

NII+OAc

pH

7.0

memberikan koefisien korelasi

yang

nyata dengan kadar hara dan serapan hara

K

serta

produksi, sedangkan pengekstrak Olsen tidak memberikan korelasi yang nyata dengan kadar

hara dan serapan hara

K,

tetapi mempunyai korelasi yang nyata dengan produksi.

Hasil

penelitian

ini

menunjukkan

bahwa

Bray-l, Bray-2,HCl25Yo,

Mehlich,

NlIrOAc

pH

4.8,

NlIrOAc pH

7.0

dan

Olsen

merupakan pengekstrak terpilih dalam menduga kebutuhan pupuk

K

untuk

tanaman

nenas

pada tanah

lnceptisol Darmaga. Tan (1996) mengemukakan bahwa

pengekstrak

NlIrOAc,

Mehlich,

Bray-I,

dan metode Morgan digunakan untuk mengekstrak

K

tersedia.

Selanjutnya Nursyamsi (2002) melaporkan bahwa pengekstrak Mehlich, HCI 25o/o,

Bray-I,

Bray-2,

NlIrOAc

pH

4.8,

NFITOAc

pH

7.0

merupakan pengekstrak

terpilih

dalam menduga kebutuhan pupuk

K

untuk

tanaman

jagung

pada

lnceptisols Sukabumi. Pada penelitian

yang

dilakukan

untuk

mengetahui metode ekstraksi hara

K

untuk tanaman kedelai menunjukkan bahwa

diantara pengekstrak:

Mehlich,

HCI

25yo,

Olsen,

Bray-I,

Bray-2,

NFITOAo

pH

4.8,

NFLOAc pH 7.0 ternyata pengekstrak Bray-l

dan Bray-2

merupakan pengestrak terbaik untuk tanah lnceptisol Subang Jabar (Sutriadi

dan Nursyamsi,2002).

Walaupun terdapat

tujuh

metode

ekstraksi

yang

dapat

digunakan

untuk menduga status hara

K

tanah untuk tanaman

nenas,

tetapi

dalam

pengujian selanjutnya akan menggunakan

nilai

uji

tanah hara

K

tanah yang terekstrak oleh metode ekstraksi

Bray-1

karena metode

ini

mempunyai koefisien korelasi yang

lebih

tinggi

dengan

produksi

jika

dibandingkan dengan koefisien korelasi yang dicapai oleh metode ekstraksi

Bray-2, HCl25yo, Mehlich, NFIqOAc pH 4.8,

NHTOAc

pH

7.0 dan Olsen. . Disamping itu, metode

Bray

-l

dalam

aplikasinya telah banyak dikenal

di

berbagai laboratorium dan

dapat

digunakan secara bersamaan untuk

mengeksrak hara P unfuk tanaman nenas.

Tingginya koefisien

korelasi

antara

produksi

dengan

nilai

K

terekstrak oleh pengekstrak

Bray-I,

dapat digunakan sebagai

petunjuk batrwa metode

Bray-l

dapat mengekstrak hara

K

tanah yang dqpat tersedia

dan

dimanfaatkan

oleh

tanaman

nenas.

Dengan demikian maka jumlah hara

K

yang terkestrak dapat

meng

jumlatr hara

K yang tersedia bagi tanaman nenas.

Widjaja-Adi

dan Widjik (1984) mengemukakan bahwa metode pengekstrak yang baik harus bersifat selektif, artinya hanya mengekstrak

bentuk-bentuk

hara

yang

dapat

diser4

atau

dimanfaatkan oleh tanaman.

Jumlah l)aun dan Tinggi Tanaman

Hasil analisis ragam pengaruh kadar hara

K

tanah terhadap jumlah daun tanaman

n€nas

menunjukkan

bahwa kadar hara

K

tanah tidak memberikan pengaruh yaryj nyata terhadap

jumlah

daun dan

tinggi

tanaman nenas pada saat tanaman berumur 6 bulan dan

9

bulan sesudah

tanam.

Namun demikian, kadar hara

K

tanah memberikan pengaruh

yang nyata terhadap jurnlah daun pada saat

tanaman berbunga

dan

berpengardh

qftgat

nyata

terhadap

tinggi

tanaman

pada

saat tanaman berbunga.

Untuk

mengetahui

pola

respon pengaruh kadar hara

K

tanah terhadap jumlah

daun dan tinggi tanaman nenas, dilakukan

uji

ortogonal seperti

disajikan pada

Tabel

3.

Flasil uji ortogonal menunjukkan bahwa kadar

hara

K

tanah memberikan pengaruh yang bersifat

linier

terhadap pertambahan jumlah

daun dan tinggi tanaman nenas.

(6)

Tabel

3.

Pengaruh kadar hara K tanah terhadap jumlah daun dan tinggi tanaman pada saat 6 dan 9

bulan sesudah tanam dan pada saat tanaman berbunga

Kadar K tanatl Jumlatr Daun

(helai)

Tinggi Tanaman (cm) (ppm

KzO)

6

Bulan

9

Bulan

Berbunga

6

Bulan

9

Bulan

Berbunga

4.63 12.23 18.47 21.00 31.20 31.82 32.72 3

l.l5

32.35 32.72 45.38 46.28 46.55 46.12 48.00 46.23 47.82 49.10 50.65 49.97 63.73 67.26 65.28 70.06 70.42 87.t6 9t.42 92.59 93.26 96.73 99.93 106.r8 t08.27 l10.53 I I 1.75 F

test

tn

tn

* Pola

respon

Lt

Qt

Lt

Qt

L** Qt

tn

L'Q"

tn

+*

LtQt

L+*

Qt

Keterangan: F test digunakan untuk mengetahui pengaruh kadar hara K tanah terhadap jumlah daun dan tinggi tanaman. Pola respon

L

:

Linier, dan Pola

respon

Q

:

kuadratik.

t*

=

nyata pada taraf nyata 0.01,

t

:

nyata pada taraf nyata 0.05, tn

:

tidak nyata. Sebagai salah satu unsur hara penting

bagi tanaman, ketersediaan hara kalium tanah

menjadi salah satu

faktor

penting

yang mempengaruhi pertambahan jumlah daun dan

tinggi

tanaman nenas

di

lapangan. Tabel 3

menunjukkan bahwa, meskipun

pada

saat tanaman berumur 6 bulan dan 9 bulan sesudah

tanaman belum nampak pengaruh perbedaan

kadar hara kalium tanatr terhadap jumlah daun dan tinggi tanaman, tetapi ada kecenderungan bahwa semakin tinggi kadar hara kalium tanah

akan

diikuti

peningkatan

jumlah

daun dan

tinggi

tanaman. Tanatr dengan kadar hara

kalium 31.2 ppm K2O menghasilkan tanaman

yang

tinggi

dan

jumlah

daun yang banyak.

Berarti bahwa untuk memperoleh petumbuhan

tanaman nenas yang

baik

yang mempunyai

kadar

hara kalium 31.2 ppm K2O

perlu dilakukan pemupukan dengan kalium.

Pemberian

pupuk kalium

sangat

penting untuk mendukung pertumbuhan daun

dan pertambahan tinggi tanaman nenas. Hal

ini

disebabkan karena unsur

hara

kalium

merupakan aktifator dari banyak enzim-enzim untuk berlansungnya respirasi dan fotosintesis

(Taiz

dan

Z,eiger

l99l).

Kalium

juga diperlukan untuk akumulasi dan translokasi

karbonat

yang baru

saja dibentuk

oleh tanaman dari hasil fotosintesis (Banuelos er a/.

2002).

Sebaliknya tanaman yang kekurangan

hara

kalium

cenderung menunjukkan gejala

klorosis, pinggiran

daun

mengering akibat

rendahnya kandungan

air

dalam

daun,

produksi

daun

berkurang,

bentuk

daun

abnormal

dan gula

peleduksi

meningkat,

fotosintesis terganggu

dan

pembentukan

karbohidrat berkurang (Brady 1990).

Serapan

llara

N, P dan

K

Hasil

analisis ragam

menunjukkan

bahwa

kadar hara

K

tanah

memberikan

pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar hara N, P,

K

tanaman nenas. Penambahan

K

dibutuhkan untuk meningkatkan penyerapan

K,

sehingga

dapat

memenuhi kebutuhan

tanaman nenas karena

unsur

hara

K

merupakan unsur hara yang dibutuhkan dalam

jumlah

banyak

untuk

mendukung

pert-umbuhan

tanaman nenas (Malezieux dan

Bartholomew

2003).

Banuelos et

al.

(2002) mengemukakan

bahwa

kalium

memegang

peranan penting dalam

fungsi

sel termasuk

pengaturan:

(l)

turgor,

(2)

keseimbangan

muatan,

dan

(3)

potensial membran dan

aktivitas

membran

sitosol.

Pemeliharaan

turgor

tanaman

sangat

penting

untuk

berfungsinya

proses

fotosintesis

dan

metabolisme secara

baik.

Tanaman juga membutuhkan

K

untuk

pembentukan ATP, yang dihasilkan dalam proses fotosintesis dan

respirasi

(Havlin

et

al.

1999), karena ATP

merupakan

sumber

energi

utama

bagi berlangsungnya proses metabolisme tanaman.

Total

penyerapan

N

dan

sintesis

protein mengalami penurunan pada tanaman

yang

kekurangan

K

(Havlin

et

al.

1999).

Berarti bahwa, peningkatan serapan hara

K

pada tanaman yang tumbuh pada tanah yang

mempuyai kadar hara

K

y*g

tinggi

akan

meningkatkan serapan hara

N

serta sintesis

protein.

Penyerapan

K

akan

meningkatkan

tekanan

turgor

sel

penjaga" keadaan ini menyebabkan stomata membuka sehingga

meningkatkan

asimilasi

COz

selama

fototsintesis.

Dengan

demikian

maka

dibutuhkan pembentukan

ATP

dalam jumlah

AGRIPLAS,YoIuae

19

Nomot

02Mei

20(t9, ISSN08&|'0U8

(7)

yang banyak untuk mentranslokasikan asimilat

ke

berbagai organ tanaman yang kemudian

digunakan

untuk

pertumbuhan

maupun

ditimbun

dalam organ penyimpanan seperti

buah.

Oleh

karena

itu,

dalam

kondisi demikian tanaman akan menyerap hara P dan

N

dalam jumlah banyak karena kedua unsur

hara

tersebut merupakan

unsur

penyusun senyawa ATP.

Peningkatan

aktivitas

fotosintesis sebagai akibat adanya suplai hara

K

yang

cukup, memungkinkan tanaman mempunyai

pertumbuhan

yang

pesat

termasuk

pem-bentukan

dan

pertumbuhan

akar

tanaman.

Pertumbuhan akar menjadi lebih baik karena

adanya

suplai

asimilat

yang cukup

yang

dihasilkan dalam proses fotosintesis.

Hal

ini menyebabkan pertumbuhan

dan

perkem-bangan

akar

tanaman menjadi

lebih

pesat.

Dengan demikian maka tanaman nenas dapat

menyerap unsur hara

N

dan P dalam jumlah

yang banyak.

Tabel

4.

Pengaruh kadar hara

K

tanah terhadap serapahan hara

N,

P dan

K

daun

"D"

tanaman nenas

Kadar hara K

tanah

Serapan hara daun

"D"

(ppm

KO)

HaraN (g/helai) Hara P (g/helai) Hara K (e/helai)

4.63 12.23 t8.47 21.00 31.20 61.74 72.72 79.64 82.70 77.00 t7.25 20.67 18.50 23.72 21.28 58.05 84.24 154.67 199.4t 180.09 F test

**

**

:**

=

Pola

resJon

.

L**

Q**

L*

L** Q**

Keterangan:

F

test digunakan untuk mengetahui pengaruh kadar hara

K

tanah

dan

pupuk

K

terhadap serapan hara N, P dan K tanaman nenas. Pola

respon

L

:

Linier, dan Pola respon

Q:

kuadratik.

**

:

nyata pada taraf nyata 0.01, tn

:

tidak nyata.

Hasil

uji

ortogonal pada

Tabel

4,

menunjukkan bahwa peningkatan kadar hara

K

tanah selain memberikan pengaruh yang bersifat

linier,

juga

menuqiukkan pengaruh

yang bersifat kuadratik terhadap serapa.n hara

N dan P, berarti bahwa peningkatan kadar hara

K

tanah dapat meningkatkan serapan hara

N

dan P, tetapi pada kadar hara

K

yang semakin

tinggi akan mengurangi serapan hara

N

dan P

bagi

tanaman

nenas.

Namun

demikian pengaruh pemupukan

K

masih

tetap

me-nunjukkan

pengaruh

yang

bersifat

linier

terhadap peningkatan serapan hara N dan P.

Ketika

pupuk

K

diberikan kedalam

tanah maka setelah bereaksi dengan air dalam

larutan tanah,

kation

K*

akan bergerak ke

kompleks

pertukaran

sehingga

dapat

menggeser

kation lainnya

dari

kompleks pertukaran. Demikian

juga

apabila kadar

K

tanah

semakin meningkat

maka

kompleks pertukaran akan didominasi oleh

K.

Dalam

kondisi

demikian, kation-kation

lain

seperti

ca2*, Na*, Mg2*,

N4*,

Mn2*, dan Al3* akan

bergerak

ke

dalam

larutan tanah sehingga

mudah tersedia untuk diserap oleh tanaman,

tetapi apabila tidak digunakan oleh tanaman

maka

kation-kation tersebut

akan

mudah

tercuci sehingga menjadi tidak tersedia bagi

tanaman. Apabila kadar

Mn

dan

Al

berada

dalam

jumlah

yang banyak, dapat meracuni

tanaman. Selain itu, Al juga dapat mengikat P sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan serapan hara

N

dan P pada kondisi status hara K tanah

yang sangat tinggi.

Peningkatan

serapan

hara

K

disebabkan oleh tingginya kadar hara K tanah.

Namun demikian, dengan meningkatnya kadar

hara

K*

dalam tanah, akan

menyebabkan

kompetisi dengan kation lain seperti Ca2* dan

Mg'-

untuk diserap oleh tanaman, sehingga

penyerapa\an K^yang tinggi dapat mengurangi

penyerapan

Ca"

dan

Mg'*

(Havlin

et

al.

1999).

Demikian pula Jones (1998)

men-jelaskan bahwa konsentrasi

K

yang

tinggi

akan

menghambat serapan

Mg

dan

Ca

sehingga menyebabkan terjadinya defisiensi Mg dan

Ca.

Disisi lain, keseimbangan Ca dan

Mg terhadap K dalam tanarnan sangat penting.

Ketidak seimbangan antara kadar hara dalam

tanah dan

jaringan

tanaman

dapat

menyebabkan

laju

pertumbuhan tanaman

(8)

berkurang, sehingga serapan hara

Kjuga

akan semakin menurun.

Produksi Tanaman Nenas

Hasil

analisis ragam pengaruh kadar

hara

K

tanah terhadap berbagai komponen

produksi tanaman nenas, menunjukkan bahwa

kadar hara

K

tanah memberikan pengaruh

yang sangat nyata terhadap diameter buah, dan

pengaruh nyata terhadap; panjang buah, berat

buah tanpa mahkot4 dan produksi buah per

hektar.

Tetapi

tidak

memberikan pengaruh

yang nyatz

terhadap

berat

mahkota dan padatan terlarut total.

Rata-rata pengaruh kadar hara kalium

tanah terhadap komponen produksi pada Tabel

5,

menunjukkan

bahwa kadar

hara

K

memberikan pengaruh yang bersifat linier dan

sangat nyata terhadap berat buah, panjang

buah, diameter buah, dan produksi buah (ton har). Peningkatan kadar kalium tanah sampai

31.20

ppm KzO,

masih

diikuti

oleh

peningkatan:

berat buah, berat

mahkota,

panjang buah, diameter buah, dan produksi buah

(ton har),

sedangkan pengaruh kadar hara

K

terhadap parameter berat mahkota dan

padatan

terlarut

total tidak

menunjukkan

pengaruh yang nyata.

Tabel

5.

Pengaruh kadar hara

K

tanah terhadap berat buah, berat

mahkota,

panjang buah, diameter buah, produksi buah dan padatan terlarut total

Kompen produksi tanaman nenas

Kadar

hara

K

tanah

(ppm K2O)

Berat Berat

Padang

Diameter

Produksi

Padatan

Buah*

Mahkota

Buah

(cm) Buah Buah*

terlaru

(e)

(s)

(cm)

(ton/ha)

total (%)

4.63 12.23 18.47 21.00 31.20 1555 t759 1830 1843 1993 281

28t

284 304 28s 17.38 18.59 18.90 18.68 19.78 t2.51 13.04 t3.22 13.16 13.49 62.21 70.35 73.20 73.73 79.71 t4.92 t5.12 15.50 15.27 14.94 F

test

+

tn Pola

resoon

L**

OE

Ltn

Qt'

L+*

Qt

L** Qt

* LT*

Q'

tn Ltn

Q'

Keterangan: F test digunakan untuk mengetahui pengaruh kadar hara K tanah terhadap berat buah,

berat mahkot4 panjang buah, diameter buah, produksi buah dan padatan terlarut total. Pola respon

L

= Linier, dan Pola respon Q

:

kuadratik.

t*

:

nyata pada taraf nyata 0.01,

*

=

nyata pada

taraf

nyata 0.05,

tn =

tidak

nyata.

*(Buah

tanpa makhota).

Hasil

tersebut

di

atas menunjukkan

bahwa tanah yang mempunyai kandungan hara

K

sebesar

4.63

ppm

K2O,

sangat

membutuhkan

pemupukan

kalium

untuk meningkatkan kadar hara

K

tanah sehingga

dapat mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman s@ara

optimal.

Hal

ini

ditunjukkan oleh adanya pengaruh peningkatan kadar hara

tanah terhadap berbagai komponen produksi tanaman nenas yang bersifat linier. Tabel 5,

menunjukkan batrwa peningkatan kadar hara

kalium

tanah

menujukkan pengaruh yang bersifat

linier

terhadap berbagai para meter

komponen

produksi

tanaman nenas: berat

buah

(g),

berat mahkota

(g),

paqiang buah

(cm), diameter buah (cm), dan produksi buah

(ton har).

Hasil

tersebut

di

atas menunjukkan

bahwa unsur hara kalium sangat dibutuhkan

oleh

tanaman

nenas

unfuk

memperoleh

produksi

yang

tinggi.

Malezieux

dan

Bartholomew (2003) mengemukakan bahw4 kalium dibutuhkan dalam jumlah yang banyak

untuk

mendukung pertumbuhan tanaman

nenas. Kekurangan kalium akan mengurangi

produksi

fotosintesis

dan

selanjutnya

pertumbuhan tanaman, berat buah dan tunas

buah (Kelly ,1993). Kekurangan kalium juga

menyebabkan

buah yang

dihasilkan mempunyai kandungan gula dan asam yang rendah dan berwarna pucat (Py et

al.

1987\.

SIMPULAI\I

Berdasarkan uraian pada hasil

pembahasan, maka dapat disimpulkan:

dan

(1)

(9)

Metode ekstaksi hara

K

pada anah Inceptisol Darmaga yang sesuai unfuk tanaman nenas

adalah

HCI

25o/o,

Olsen,

Bray-I,

Bray-2, Mehlich, NII+OAc

pH

4.8 dan NlIaOAc pH 7.0.; dan (2) Pertumbuhan dan serapan hara N,

P, K

serta

produksi tanaman

nenas

dipengaruhi oleh kadar hara tanah .

UCAPAI\

TERIMAKAStrI

Penulis

menyampaikan

rasa

terimaksih kepada

MENRISTEK

R.I,

dan Pusat Penelitian Buah-Buah Tropika (PKBT), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada

Masyarakat,IPB, Bogor, yang telah membiaya

penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Banuelos

MA,

Graciadeblas

B,

Cubero B, and

Navarro

AR.

2W2.

Inventory and

functional characterization

of

the

hak potassium tansporters

of

rice.

Plant

Physiolory, l3O: 784-795.

Bohn HL, BL MacNeal and GA O'Connor. 1979.

Soil Chemistry.

A

Wiley Interscience Publication. John Wiley and Son.

Brady

NC.

1990. The Nature and Properties

of

Soi/s. 106 . Ed. New York: Macmillan.

Cox AE, BC Joern, SM Brouder, and

D

Gao.

1999.

Plant

available

Potassium assessment

with

a

modified sodium tetraphenylboron method. Soil Sci Soc. Am. J.63:902-911.

Evans

CE.

1987. Soil test calibration.Di dalam:

J.R.

Brown,

editor.

Soil

Testing: Sampling, Correlation, Calibration and

Interpretation Madison, Wisconin, USA: SSSA Spec. Pub.

No.2l.

Soil Sci. Soc.

Amer. hlm 23-29

Havlin JL, Beaton JD, Tisdale SL,

and

Nelson

WL.

1999. SoiI Fertility and Ferlitizer; An Introduction to Nutrient Management. Sixth edition. New Jeney: Prentice Hall'

Upper Saddle River.

Jones

JB.

1998. Plant Nutrition Manual. New

York: CRC hess.

Jones JB, Wolf B, and Mills

HA.

1991. Plont Analysis Hsnbooh a Procticql Sampling, Preparalion, Analysis, and Interpretation Guide. USA: Macro.Micro Pub. Inc.

Kelly DS. 1993. Nutritional disorders. Di dalam:

Broadley

RH,

Wasman

III

RC,

and Sinclair EC . Editor. Pineapple Pests and Disordes. Ausfialia. Queensland Dept. of Primary Indusfties. Hln 33

-42.

Malezieux E and Bartholomew

DP.

2003. Plant

Nutrition.

di

dalam: Bartholomew DP, Paul RE and Rohrbach KG. Edited. The Pineapple Botany, Prodaction and Uses.

USA. New York. CABI Pulising. Hlm. 143-166.

Mutscher

H.

1995. Measurement and assessment

of soil potassium. IPI Res. Topics No.4. lnt. Potash

lnst-Nursyamsi

D.

2002. Studi korelasi uji tanah hara

K

tanah Oxisol dan lnceptisols untuk Jagung (Zea mrys). J. Tanah Trop. No.

l5: 59-68.

Py C, Lacoeuilhe JJ and Teisson

C.

1987. The Pineapple, Cultivation and Uses. Editions G.-P. Maisonneuve, Paris.

Suleman, Eviati S, Atikah, dan Sri Adiningsih J.

2000. Hubungan kuantitas dan intensitas kalium untuk menduga kemampuan tanah dalam persediaan hara kalium. Di dalam: Prosiding Seminar Nasional Reorientasi

Pendryagunaan Sumberdaya Tanah,

Iklim dqn Pupuk. Cipayung -Bogor, 3l Oktober

-

2 Nopember 2000. hlm

125-140.

Suleman dan

Eviati.

2002. Metode Analisis Uji Tanah.

Bogor:

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

Sutriadi MT, dan Nursyamsi

D.

2002. Pemilihan

metode ekstraksi hara

K di

Ultisols, Inceptisols, dan Vertisols untuk Kedelai

(Glycine

max

L.

Menil).

Makalah Dipresentasekan pada: Seminar Nasional

Sumber

Daya

Lahan.

Hotel

Safari

Garden, Cisarua"

6-7

Agustus 2002.

Bogor:

PuslitbangEnak Bekerjasama dengan HITI dan MKTI.

Tan

KH.

1996. Soil Sampling, Preparation, and

Analysis. Madison Avenue, New York. Mprcel Dekker,lnc.

TaizL,

and Zeiger

E.

1991. Plant Physiologt,

California;

The

Benjamin/ Cummings Pub.Co., lnc.

Widjaja-Adhi

IPG,

dan

Widjik

IM.

1984. Pemilihan dan kalibrasi uji tanah hara P

untuk

tanaman kentang pada Tanah

Hydric Dystrandepts.

Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk, 3:4246.

Gambar

Tabel  I  Nilai  uji  hara  K  tanah  Inceptisol  Darmaga  yang  terekstrak  oleh  berbagai  metode  ekstraksi pada  berbagai  kondisi  status  hara  K  tanah
Tabel  4.  Pengaruh  kadar  hara  K  tanah  terhadap  serapahan hara  N,  P dan  K  daun  "D"  tanaman nenas
Tabel  5.  Pengaruh  kadar hara  K  tanah  terhadap berat buah,  berat  mahkota,  panjang  buah, diameter  buah,  produksi  buah dan  padatan  terlarut total

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian pada peserta didik kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Sungai Raya, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pendekatan

Dalam menganalisis dampak ketergantungan yang besar pada ekspor sumber daya alam terhadap ciri hubungan negara-masyarakat, penting untuk menekankan bahwa terdapat dua fokus

TARGET KINERJA PROGRAM DAN KERANGKA PENDANAAN RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF.. DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMASI KABUPATEN

1. Kristiawan Heru Widianto, S.Th. Heri Surawan, S.Si. Eko Nugroho, S.Si. Kurniawan Diwanto Wijaya, S.Si. Selanjutnya juga telah dibuat tata tertib panitia ad hoc berlaku

Klaster Neuroscience ini dibuat untuk mempermudah mahasiswa program pendidikan Doktor dalam menentukan kesesuaian antara minat keahlian yang ingin dicapai dengan

Kajian ini bertepatan dengan dapatan kajian yang dijalankan oleh Tuan Azlyna (2013), Noraini dan Zamri (2016) menyatakan bahawa sikap guru dalam melaksanakan PBS

Tak menutup kemungkinan juga bahwa buruh-buruh bangunan yang ada di pemukiman bangsal perumahan Royal Spring dan perumahan Bumi Aroepala dulunya adalah golongan