PENERAPAN INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARDS (IFRS) DALAM PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN PADA PT. PLN (PERSERO) CABANG MEDAN

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENERAPAN INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING

STANDARDS (IFRS) DALAM PENYAJIAN LAPORAN

KEUANGAN PADA PT. PLN (PERSERO) CABANG MEDAN

Marudut Marulitua Barus

1

, Daulat Sihombing

2

, Jatongam Nainggolan

3

1Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Methodist Indonesia, 2,3Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Methodist Indonesia

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat penerapan standar akuntansi keuangan berbasis International Financial Reporting Standards (IFRS) yang dalam hal ini diambil pada PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) dengan membandingkan laporan keuangan antara PT. PLN (Persero) Cabang Medan dengan PT. PLN (Persero) Pusat.

Penelitian ini dilaksanakan di PT. PLN (Persero) Cabang Medan yang berkedudukan di Jl. Listrik No. 12 Medan. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 14 sampai dengan tanggal 28 Maret 2013 mulai observasi langsung sampai dengan interview dengan akuntan yang bersangkutan.

Untuk mengetahui sejauh mana Standar Akuntansi Keuangan International Financial Reporting Standards (SAK IFRS) diterapkan pada perusahaan, digunakan metode penelitian wawancara langsung dengan pihak yang berkaitan agar mendapatkan data dan informasi yang akurat, metode dokumentasi serta metode kepustakaan. Dan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisa kualitatif, dimana penulis hanya menganalisa dengan menggunakan kalimat-kalimat deskriptif dari data yang ada.

Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa SAK IFRS telah diterapkan di Indonesia oleh beberapa perusahaan yang telah go public, diantaranya termasuk PT. PLN (Persero) Pusat. PT. PLN(Persero) Pusat telah menerapkan SAK berbasis IFRS dalam penyajian laporan keuangannya, hal tersebut dapat dilihat berdasarkan format laporan keuangan yang disusun oleh perusahaan sama dengan format yang diatur dalam IFRS.Berbeda dengan PT. PLN (Persero) Cabang Medan yang masih mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 tentang Penyajian Laporan Keuangan. PT PLN (Persero) Cabang Medan menggunakan PSAK sebagai acuan dalam penyajian laporan keuangannya dikarenakan ruang lingkup perusahaan yang masih sederhana dibandingkan dengan PT. PLN (Persero) Pusat yang jauh lebih luas.

Dapat disimpulkan bahwa keberadaan SAK IFRS sangat membantu perusahaan dalam mengembangkan kinerja pengelolaan perusahaan agar dapat tumbuh menjadi perusahaan kelas dunia.

Kata Kunci : Standar Akuntansi Keuangan, SAK IFRS, Perusahaan Listrik NegaraLaporan

Keuangan

1.

PENDAHULUAN

Laporan keuangan merupakan media komunikasi yang digunakan untuk menghubungkan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan berupa informasi akuntansi. Secara umum, laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan laba ditahan, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan sarana pertanggungjawaban yang dibuat dan disajikan oleh manajemen sebagai pihak internal atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Oleh karena itu, laporan keuangan haruslah bermanfaat untuk sebagian besar pengguna dalam pengambilan keputusan.

(2)

Pengertian laporan keuangan sendiriadalah laporan yang menyajikan informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan oleh para stakeholder perusahaan. Laporan keuangan harus disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan yang diterima secara umum atau generally accepted accounting principles yang disingkat dengan GAAP. Suatu prinsip akuntansi dan pelaporan keuangan yang diterima pada suatu negara belum tentu diterima secara umum pada negara lain. Sifat generallyaccepted memiliki pengertian diterima oleh semua kelompok pengguna laporan keuangan, yaitu para stakeholder perusahaan.

Standar-standar akuntansi dan pelaporan keuangan yang digunakan pada setiap negara belum tentu sama. Untuk membangun sistem akuntansi dan pelaporan keuangan yang seragam dibutuhkan standar akuntansi keuangan yang dapat diterima secara internasional maupun global. Sehingga GAAP bukan lagi kepanjangan dari Generally Accepted Accounting Principles, melainkan Globally Accepted Accounting

Principles. Harmonisasi atas standar-standar akuntansi dan pelaporan keuangan di seluruh dunia mutlak

harus dilakukan sebelum membentuk standar akuntansi keuangan global. Untuk itu perlu dibentuk pula lembaga penyusun standar akuntasi global yang memperoleh legitimasi dari negara-negara penggunanya. Penggunaan standar akuntansi dan pelaporan keuangan juga dapat menambah kepercayaan investor terhadap laporan keuangan perusahaan-perusahaan nasional. Oleh karena alasan itulah International

Accounting Standard Board (IASB) kemudian mengeluarkan International Financial Reporting Standards

(IFRS) sebagai standar akuntansi dan pelaporan keuangan baru yang dapat dipakai oleh

perusahaan-perusahaan besar dalam penyusunan laporan keuangannya.

PT. PLN (Pesero) adalah sebuah BUMN yang mengurusi semua aspek kelistrikan yang ada di Indonesia. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan besar milik negara yang memberikan peran besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu PT. PLN (Persero) memerlukan suatu standar yang dapat diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan. Dengan dikeluarkannya International

Financial Reporting Standards (IFRS)dapat menjadi suatu pedoman pengelolaan keuangan dalam kegiatan

usaha. Penerapan akuntansi dalam laporan keuangan menjadi salah satu komponen mutlak yang harus dimiliki oleh perusahaan jika mereka ingin mengembangkan usahanya. Keberadaan dan penerapan IFRS sendiri tentunya telah banyak diketahui dan diterapkan dalam laporan keuangan apalagi dengan mulai diberlakukannya penerapan IFRS secara keseluruhan untuk perusahaan di Indonesia pada tahun 2012. Identifikasi Masalah adalah sebagai berikut:

1. Mengkaji sejauh mana penerapan IFRS oleh perusahaan di Indonesia. Pada tahun 2009, Indonesia belum mewajibkan perusahaan-perusahaan listed di BEI menggunakan IFRS, melainkan masih mengacu kepada standar akuntansi keuangan nasional atau PSAK. Namun pada tahun 2010 bagi perusahaan yang memenuhi syarat, adopsi IFRS sangat dianjurkan. Pada tahun 2012, Dewan Pengurus Nasional IAI bersama-sama dengan Dewan Konsultatif SAK dan DSAK telah menerapkan standar akuntansi yang mendekati konvergensi penuh kepada IFRS.

2. Dalam penerapannya IFRS sendiri mengalami banyak pro dan kontra yang menyebabkan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam penerapannya. Dalam hal ini penulis mengambil lokasi penelitian pada perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang jasa pelayanan publik agar perusahaan tersebut mampu untuk menyajikan laporan keuangan yang sesuai dengan IFRS.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Pengembangan pengetahuan tanpa berlandas kerangka dasar yang jelas berisiko memunculkan berbagai permasalahan baik terjadinya perbedaan cara pandang antar para pemerhati akuntasi maupun terjadinya pengembangan standar akuntansi yang tidak selalu selaras dengan tujuan.

Kerangka dasar pertama standar akuntansi keuangan internasional diterbitkan oleh IASC Board di tahun 1989. Kerangka dasar tersebut berjudul Framework for the Preparation and Presentation of Financial

Statements (selanjutnya disebut Framework). Pada tahun 2001 IASB, sebagai dewan standar pengganti

(3)

akuntansi keuangan yang didokumentasikan di SFAC (Statement of Financial Accounting Concepts).

Framework dan SFAC diklaim memiliki banyak perbedaan dalam banyak hal.

Standar-standar akuntansi dan pelaporan keuangan yang digunakan pada setiap negara belum tentu sama. Untuk membangun sistem akuntansi dan pelaporan keuangan yang seragam dibutuhkan standar akuntansi keuangan yang dapat diterima secara internasional maupun global. Sehingga GAAP bukan lagi kepanjangan dari general accpeted accounting principles melainkan globally accepted accounting

principles. Harmonisasi atas standar-standar akuntansi dan pelaporan keuangan di seluruh dunia mutlak

harus dilakukan sebelum membentuk standar akuntansi keuangan global. Untuk itu, perlu dibentuk pula lembaga penyusun standar akuntansi global yang memperoleh legitimasi dari negara-negara penggunanya. Kieso, dkk (2008:32) menyatakan bahwa sekelompok standar dan aturan-aturan yang koheren harus dihasilkan. Kerangka kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai laporan keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan komparabilitas antar laporan keuangan perusahaan.

Oleh sebab itu, Prihadi (2012:4) menyatakan bahwa IFRS menjawab tantangan bagaimana pelaporan keuangan harus dilakukan. Arus besar dunia sekarang ini sedang menuju ke dalam satu standar pelaporan.

International Financial Reporting Standards (IFRS) adalah pedoman penyusunan laporan keuangan

yang dapat diterima secara global. IFRS yang ada saat ini mengalami sejarah yang cukup panjang dalam proses terbentuknya. Mulai dari terbentuknya IASC/IAFB, IASB sehingga menjadi IFRS seperti yang ada saat ini. Jika semua negara menggunakan IFRS, berarti negara tersebut telah mengadopsi sistem pelaporan keuangan secara global sehingga memungkinkan pasar dunia mengerti tentang laporan keuangan perusahaan di negara tersebut berasal.

Pengadopsian IFRS juga berlaku di Indonesia. Pengadopsian ini akan berlaku secara penuh pada tahun 2012. Dengan mengadopsi IFRS, perusahaan-perusahaan di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan daya informasi pada laporan keuangan. Selain itu, pengadopsian IFRS diharapkan memberikan kemudahan dalam pemahaman laporan keuangan dengan menggunakan SAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang dikenal secara internasional, serta meningkatkan arus investasi global dan menurunkan biaya modal melalui pasar modal global.

Dalam melakukan implementasi IFRS, terdapat tiga hal yang menjadi perhatian manajemen, yaitu konsekuensi perpajakan dan legal, sistem informasi akuntansi dan pelaporan keuangan.

Penerapan IFRS pada suatu perusahaan harus dilakukan berawal dari laporan keuangan yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi lokal (local GAAP). Penerapan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Rekonsilisasi terhadap laporan keuangan yang disusun berdasarkan local GAAP sehingga sesuai dengan IFRS.

2. Menyusun laporan keuangan secara terpisah dengan langsung mengacu kepada IFRS. Dengan mengadopsi IFRS, Indonesia akan mendapatkan tujuh manfaat sekaligus, yaitu:

1. Pertama, meningkatkan kualitas Standar Akuntansi Keuangan (SAK). 2. Kedua, mengurangi biaya SAK.

3. Ketiga, meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan. 4. Keempat, meningkatkan komparabilitas laporan keuangan.

5. Kelima, meningkatkan transparasi keuangan.

6. Keenam, menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana melalui pasar modal.

7. Ketujuh, meningkatkan efisiensi penyusunan laporan keuangan.

Dengan mengadopsi penuh IFRS, laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) tidak memerlukan rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS. Berikut adalah perbedaan mendasar antara PSAK dan IFRS:

(4)

2. Jika nilai historis lebih rendah maka disajikan sebesar nilai historis, sedangka IFRS nilai historis tetap dipergunakan.

3. IFRS ada kecenderungan penyajian nilai harta dan kewajiban sebesar nilai wajar. 4. IFRS menyajikan perbandingan nilai wajar dengan historis.

5. Pada IFRS ada perubahan istilah dan komponen laporan keuangan. 6. Penggunaan profesional judgment.

Ada tiga permasalahan utama yang dihadapi oleh Indonesia dalam melakukan adopsi penuh IFRS. Permasalahan pertama adalah kurang siapnya infrastruktur seperti DSAK sebagai financial accounting

standard setter di Indonesia. Permasalahan yang kedua adalah kondisi peraturan perundang-undangan yang

belum tentu sinkron dengan IFRS. Permasalahan yang ketiga adalah kurang siapnya sumber daya manusia dan dunia pendidikan di Indonesia.

Kerangka dasar IFRS memberikan uraian terkait dengan basis penyusunan dan karateristik kualitatif laporan keuangan yang harus dipenuhi, sehingga berguna bagi pengambilan keputusan para penggunanya. Terdapat empat karateristik utama laporan keuangan yang harus dipenuhi sehingga laporan keuangan dapat bermanfaat bagi pengambilan keputusan sebagimana dijelaskan pada kerangka dasar IFRS. Keempat karateristik tersebut adalah:

1. Dapat dipahami : suatu informasi bermanfaat apabila dapat dipahami atau understandable oleh para penggunanya. Para pengguna laporan keuangan adalah pihak-pihak yang berasal dari berbagai kalangan dengan latar belakang pendidikan, profesi dan budaya yang berbeda-beda. Laporan keuangan harus disajikan dengan bahasa yang sederhana, singkat, formal dan mudah dipahami. Namun perlu diketahui, penyajian informasi yang mudah dipahami ada kalanya sulit dilakukan. Laporan keuangan sering diharuskan menggunakan istilah-istilah ilmu keuangan ataupun industri yang sulit dipahami oleh orang-orang awam. Penyajian informasi tersebut tetap harus dilakukan karena sangat relevan bagi setiap pengguna laporan keuangan.

2. Relevansi : informasi yang ada pada laporan keuangan harus relevan dengan pengambilan keputusan. Sebab jika tidak,maka laporan keuangan tidak akan memberikan manfaat bagi para penggunanya dalam melakukan evaluasi keuangan entitas bisnis tersebut. Agar relevan, informasi yang ada pada laporan keuangan harus memiliki nilai prediktif sehingga dapat digunakan dalam melakukan prediksi keuangan. Suatu informasi dikatakan relevan apabila disajikan dengan memperhatikan prinsip materialitas.

3. Dapat dipercaya : informasi yang ada pada laporan keuangan akan sangat bermanfaat apabila disajikan dengan andal atau dapat dipercaya. Suatu laporan keuangan dapat dipercaya apabila disajikan secara jujur. Di samping itu, laporan keuangan harus disajikan dengan prinsip substanceover form atau penyajian yang lebih mengutamakan hakikat ekonomi ketimbang hakikat formal. Laporan keuangan juga harus disajikan dengan prinsip kehati-hatian atau konservatif dan lengkap.

4. Dapat dibandingkan : informasi yang ada pada laporan keuangan harus memiliki sifat daya banding. Untuk mencapai kualitas tersebut, laporan keuangan harus disajikan secara komparatif dengan tahun-tahun sebelumnya. Laporan keuangan yang disajikan secara komparatif sangat bermanfaat karena dapat digunakan untuk melakukan prediksi keuangan. Agar memiliki daya banding, laporan keuangan juga harus menggunakan teknik-teknik dan basis-basis pengukuran dengan konsisten.

Menurut kerangka konseptual IFRS, tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan yang bermaanfaat bagi sebagian besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.Informasi keuangan ditujukan untuk memenuhi informasi sebagian besar pemakai laporan keuangan. Laporan keuangan menyajikan informasi perubahan posisi keuangan dan tidak diwajibkan menyediakan informasi non keuangan. Laporan keuangan menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship) dan pertaggungjawaban sumber daya entitas yang telah dipercayakan kepadanya.

(5)

Tujuan khusus laporan keuangan adalah menyajikan secara wajar dan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum mengenai posisi keuangan dan hasil usaha. Sedangakan dalam Standar Akuntansi Keuangan dijelaskan tentang tujuan laporan keuangan yang isinya: ”Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.”

Perangkat laporan keuangan menurut IFRS yang dijelaskan oleh Purba (2010:27) terdiri dari : 1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca).

2. Laporan Laba Rugi Komprehensif .

3. Laporan Perubahan Ekuitas yang menunjukkan semua perubahan ekuitas dan perubahan-perubahan yang muncul dari transaksi-transaksi dengan pihak pemegang saham dalam kapasitas mereka sebagai pemilik perusahaan.

4. Laporan Arus Kas.

5. Catatan atas Laporan Keuangan yang berisi informasi terkait dengan kebijakan akuntansi yang signifikan dan catatan-catatan penjelasan-penjelasan.

6. Laporan Posisi Keuangan pada Periode Komperatif paling awal suatu entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau melakukan penyajian kembali secara retrospektif atau apabila dilakukan reklasifikasi atas akun-akun yang ada pada laporan keuangan.

Berikut merupakan penjelasan dari kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan berdasarkan International Financial Reporting Standards (IFRS).

1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca).

Laporan posisi keuangan atau yang sering disebut Neraca, melaporkan aset, liabilitas, dan modal entitas pada tanggal tertentu.

2. Laporan Laba Rugi Komprehensif

Laporan laba komprehensif adalah laporan yang mengukur keberhasilan kinerja perusahaan selama periode tertentu. Informasi tentang kinerja perusahaan digunakan untuk menilai dan memprediksi jumlah dan waktu atas ketidakpastian arus kas masa depan.

3. Laporan Perubahan Ekuitas

Laporan perubahan ekuitas merupakan salah satu unsur laporan keuangan lengkap yang harus disajikan oleh perusahaan.Laporan perubahan ekuitas menyajikan informasi tentang perubahan ekuitas perusahaan antara awal dan akhir periode pelaporan yang mencerminkan naik turunnya aset netto perusahaan selama periode, baik yang berasal dari setoran atau distribusi kepada pemilik atau yang berasal dari hasil atau kinerja perusahaan selama periode berjalan. Perubahan ekuitas yang berasal dari kinerja perusahaan menggambarkan jumlah total penghasilan dan beban (termasuk keuntunga dan kerugian) yang diakibatkan oleh aktivitas perusahaan selama periode tersebut.

4. Laporan Arus Kas

Laporan arus kas merupakan laporan yang menyajikan informasi tentang arus kas masuk dan arus kas keluar dan setara kas suatu entitas untuk suatu periode tertentu.Melalui laporan arus kas, pengguna laporan keuangan ingin mengetahui bagaimana entitas menghasilkan dan menggunakan kas dan setara kas. 5. Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan adalah salah satu unsur laporan keuangan yang menyajikan informasi tentang penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam rangka pengungkapan yang memadai.

Tujuan dari catatan atas laporan keuangan yaiu menyajikan informasi, deskripsi naratif atau disaggregasi pos-pos yang disajikan di dalam laporan keuangan utama, dan informasi mengenai transaksi atau peristiwa yang tidak diakui. Catatan disajikan di dalam suatu cara yang sistematis, dan harus dilakukan

cross-reference dengan informasi terkait lainnya di dalam laporan keuangan.

(6)

Lokasi Penelitian

PenelitIan ini dilakukan di PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) Cabang Medan yang beralamat di Jl. Listrik No. 12 Medan.

Sumber Data

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data primer dan data sekunder dimana data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Dalam hal ini data primer yang didapatkan penulis adalah hasil wawancara langsung dengan informan dari PT. PLN (Persero) Cabang Medan dan data sekunder yang digunakan oleh penulis dalam penulisan ilmiah ini adalah sejarah singkat perusahaan, struktur organisasi perusahaan, serta laporan keuangan berupa laporan laba rugi, laporan posisi keuangan (neraca), serta laporan arus kas.

Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, penulis menggunkan teknik analisa kualitatif. Analisa kualitatif artinya dimana penulis menganalisa dengan menggunakan kalimat-kalimat deskriptif dari data yang ada.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Akuntansi memegang peranan penting dalam entitas karena akuntasi adalah bahasa bisnis (business

language). Akuntansi menghasilkan informasi yang menjelaskan kinerja keuangan entitas dalam suatu

periode tertentu dan kondisi keuangan entitas pada tanggal tertentu.Informasi akuntansi tersebut digunakan oleh para pemakai agar dapat membantu dalam membuat prediksi kinerja di masa mendatang.Berdasarkan informasi tersebut berbagai pihak dapat mengambil keputusan terkait dengan entitas.

Akuntansi merangkum transaksi yang terjadi dalam sebuah entitas kemudian memproses dan menyajikannya dalam bentuk laporan yang diberikan kepada para penggunanya. Laporan tersebut dinamakan laporan keuangan.Laporan keuangan untuk tujuan umum dibuat untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar pengguna laporan keuangan. Pengguna laporan keuangan beragam dengan memliki kebutuhan yang berbeda.Oleh karena itu, untuk menyusun laporan keuangan diperlukan sebuah standar akuntansi.

Saat ini, Indonesia telah mengadopsi standar akuntansi internasional yang dikenal dengan International Financial Reporting Standards (IFRS). IFRS disusun oleh International Accounting Standard Board (IASB). Perkembangan terakhir yang menunjukkan keinginan untuk menyusun satu standar akuntansi yang berkualitas secara internasional semakin menguat.Indonesia sendiri telah mengadopsi IFRS secara penuh pada tahun 2012.

Arus globalisasi yang semakin deras telah menghilangkan batas-batas geografis dalam melakukan investasi dan perdagangan dan mengarah kepada pembentukan satu sistem keuangan dan pasar modal global. Dalam penerapannya, perusahaan yang menggunakan IFRS adalah perusahaan yang telah go public. PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) merupakan bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbentuk perusahaan perseroan (Persero). Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu pelaku kegiatan ekonomi yang penting di dalam perekonomian nasional, yang bersama-sama dengan pelaku ekomoni lain yaitu swasta (besar-kecil, domestik-asing) untuk membangun demokrasi ekonomi demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) termasuk PT. PLN (Persero) mengakui ingin menciptakan perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang, unggul dan terpercaya. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaannya PT. PLN (Persero) dituntut untuk menerapkan standar akuntansi internasional dalam penyajian laporan keuangannya. Laporan keuangan merupakan cerminan dari kegiatan perusahaan apakah telah menghasilkan kinerja yang sesuai dengan yang diharapkan. Standar yang seharusnya digunakan oleh PT. PLN (Persero) saat ini adalah standar yang mengacu pada International Financial Reporting Standards (IFRS).

(7)

Perbedaan yang mendasar antara International Financial Reporting Standards (IFRS) dengan Pernyataan Standar Akuntansi Indonesia (PSAK) terhadap penyajian laporan keuangan yaitu, IFRS dalam IAS No.1 tentang Presentation of Financial Statement menyatakan bahwa laporan keuangan harus disusun dengan elemen laporan posisi keuangan, laporan laba komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan dan laporan posisi keuangan pada periode komperatif paling awal apabila suatu entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau melakukan penyajian kembali secara retrospektif atau apabila dilakukan reklasifikasi atas akun-akun yang ada pada laporan keuangan. Sedangkan menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan menyatakan bahwa sama seperti IAS No. 1 namun menjelaskan lebih rinci informasi yang harus disajikan pada catatan atas laporan keuangan.

Untuk dapat mengetahui apakah perusahaan telah menerapkan International Financial Reporting Standards (IFRS) maka hal pertama yang dilakukan penulis adalah wawancara langsung dengan pihak keuangan perusahaan. Proses wawancara yang dilakukan dengan narasumber merupakan wawancara tidak terstruktur yang hasilnya akan berguna dalam proses penelitian ini.

Menurut hasil dari wawancara yang dilakukan dengan pihak narasumber dari perusahaan adalah PT. PLN (Persero) Cabang Medan saat ini belum mengacu pada standar akuntansi internasional yang dikenal dengan International Financial Reporting Standards (IFRS). Hal ini dapat terlihat dari penyusunan laporan keuangan yang dilakukan oleh PT. PLN (Persero) Cabang Medan yang masih menggunakan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).

Penerapan International Financial Reporting Standards (IFRS) pada perusahaan-perusahaan di Indonesia masih sulit dilakukan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kurang siapnya infrastruktur seperti DSAK sebagai finacial accounting standard setter di Indonesia, kondisi peraturan perundang-undangan yang belum tentu sinkron dengan IFRS, serta kurang siapnya sumber daya manusia dan pendidikan di Indonesia.

PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cabang Medan adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa pelayanan kepada masyarakat yang menghasilkan pendapatan dari penjualan tenaga listrik. Laba perusahaan dihasilkan setelah penjualan (bruto) dikurangi dengan seluruh beban usaha, beban kepegawaian, serta beban pemeliharaan.

Dalam penyajian laporan keuangan pada PT. PLN (Persero) Cabang Medan belum mengacu pada standar akuntansi berbasis International Financial Reporting Standards (IFRS). Hal ini dapat terlihat dari penyajian laporan keuangan yang disusun oleh pihak manajemen perusahaan yang masih mengacu pada PSAK.Penyajian laporan keuangan pada PT. PLN (Persero) Cabang Medan masih mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1.

Perusahaan menghasilkan empat laporan keuangan yaitu, laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.Laporan perubahan ekuitas tidak disajikan secara tersendiri oleh perusahaan tetapi dapat dilihat dari laporan neraca perusahaan.

Secara umum, PT. PLN (Perse ro) Cabang Medantelah mengetahui tentang pengadopsian International Financial Reporting Standards (IFRS) akan tetapi dalam pelaksanaannya, PT. PLN (Persero) Cabang Medan belum dilakukan.

Menurut hasil wawancara dengan pihak perusahaan serta berdasarkan data yang penulis dapatkan dari perusahaan PT. PLN (Persero) Cabang Medan, dapat disimpulkan bahwa perusahaan masih menerapkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan belum mengacu pada International Financial Reporting Standards (IFRS).

Namun pada penerapannya, perusahaan hanya menyajikan empat laporan keuangan yaitu, laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan.

Laporan laba rugi menunjukan hasil kinerja perusahaan selama satu periode.Laporan laba rugi yang disusun oleh perusahaan berasal dari pendapatan usaha dikurangi dengan seluruh beban.Pendapatan PT. PLN (Persero) Cabang Medan berasal dari penjualan tenaga listrik dikurangi dengan potongan penjualan

(8)

dan biaya beban lalu ditambah dengan penyambungan pelanggan dan lain-lain sehingga didapat pendapatan usaha bersih. Pendapatan usaha tersebut dikurangi dengan seluruh beban, yaitu beban usaha, beban pemeliharaan, dan beban kepegawaian.

Menurut IFRS, laporan laba rugi disusun berdasarkan laporan laba rugi komprehensif dengan menyajikan total laba rugi komprehensif untuk sutau periode,yang dipisahkan menjadi laba atau rugi dan laba rugi komprehensif lain. Total laba rugi komprehensif dapat disajikan pada laporan laba rugi komprehensif tunggal, atau pada pendekatan dua laporan yaitu suatu laporan laba rugi dan laporan laba rugi komprehensif. Di dalam pendekatan dua laporan, laporan laba rugi menyajikan semua pos penghasilan

(income) dan beban (expenses) sampai dengan laba atau rugi, dan laporan laba rugi komprehensif

menyajikan pos laba rugi komprehensif lain.

Berbeda dengan laporan laba rugi komprehensif yang disusun oleh PT. PLN (Persero) Pusat yang berkedudukan di Jakarta yang telah mengadopsi IFRS dalam penyajian laporan keuangannya. Laporan laba rugi komperehensif yang disusun oleh PT. PLN (Persero) Pusat disajikan dengan pendekatan tunggal, laba rugi yang disajikan pertama dan segera diikuti oleh laba rugi komperehensif lain.

Laporan posisi keuangan yang lebih dikenal dengan neraca menyajikan aset, liabilitas, dan ekuitas per tanggal pelaporan tertentu. Terdapat perbedaan penggunaan bahasa antara PSAK dengan IFRS.PSAK masih menggunakan Neraca dalam penyajian laporan keuangannya, sedangkan IFRS menyebutnya dengan Laporan Posisi Keuangan.PT. PLN (Persero) Cabang Medan yang masih berbasis PSAK dalam penyajian laporan keuangannya menggunakan kata Neraca dalam laporannya.

Pada laporan Neraca PT. PLN (Persero) Cabang Medan menyajikan jumlah aktiva yang terdiri dari aktiva tetap, aktiva lain-lain, dan aktiva lancar.Lalu diikuti dengan jumlah ekuitas dan kewajiban perusahaan.Ekuitas pada PT. PLN (Persero) Cabang Medan menjelaskan tentang modal saham, tambahan modal serta saldo laba. Kewajiban pada PT. PLN (Persro) Cabang Medan hanya menyajikan kewajiban jangka pendek.Penyusunan laporan neraca pada PT. PLN (Persero) Cabang Medan sudah mengikuti standar yang berlaku yaitu PSAK.

Laporan posisi keuangan yang dikeluarkan oleh PT. PLN (Persero) Pusat tidak jauh berbeda dengan laporan yang dikeluarkan oleh PT. PLN (Persero) Cabang Medan. Hanya terdapat beberapa perbedaan yang mendasar, antara lain:

1. PT. PLN (Persero) Cabang Medan menggunakan kata aktiva dalam penyajian laporannya, sedangkan PT. PLN (Persero) Pusat telah menggunakan aset, akun kewajiban yang dicatat dalam laporan keuangan PT. PLN (Persero) Cabang Medan dicatat dengan menggunakan akun liabilitas pada PT. PLN (Persero) Pusat.

2. Laporan posisi keuangan menurut IFRS terdiri dari aset yang mencakup aset tidak lancar dan aset lancar, ekuitas yang mencakup ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepentingan nonpengendali, serta liabilitas yang mencakup liabilitas jangka panjang dan liabilitas jangka pendek.Dalam hal in PT. PLN (Persero) Pusat telah menerapkannya dalam penyajian laporan posisi keuangan.

IFRS tidak menguraikan urutan atau format pos mana yang harus disajikan di dalam Laporan Posisi Keuangan. Akan tetapi standar menguraikan tentang sub-klasifikasi yang menetapkan bahwa tambahan informasi yang diberikan, di dalam laporan posisi keuangan atau di dalam catatan atas laporan keuangan, yang terkait dengan sub- klasifikasi pos lini yang disajikan:

1. Pos lini yang berbeda yang membentuk saldo properti, pabrik, dan peralatan yang mencerminkan dalam suatu sifat yang relevan terhadap entitas.

2. Piutang dagang dan piutang lain-lain yang membedakan antara dagang, pihak yang terkait dan lain-lain. 3. Hutang dagang dan hutang lain-lain yang membedakan antara pihak yang terkait, pendapatan yang

ditangguhkan dan yang masih terhutang.

4. Pengelompokkan ekuitas seperti ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepentingan non pengendali.

(9)

Laporan arus kas memberikan suatu kajian mengenai dampak aktifitas suatu entitas atas sumber daya kasnya.Aktivitas tersebut disajikan sebagai aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.

Pada PT. PLN (Persero) Cabang Medan, laporan arus kas disusun berdasarkan tiga aktivitas utama perusahaan, yaitu aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Aktivitas langsung. Aktivitas operasi yang disajikan oleh PT. PLN (Persero) Cabang Medan menjelaskan adanya penerimaan serta pengeluaran kas berdasarkan aktivitas operasi perusahaan, aktivitas investasi perusahaan menyajikan investasi pendirian tetap, investasi pendirian tetap sambungan baru, investasi barang gerak atau inventaris, droping dari kantor pusat untuk investasi. Dan aktivitas pendanaan menjelaskan tentang aktivitas yang menimbulkan perubahan besaran atau ukuran pinjaman dari suatu entitas.

Dalam penyajiannya, IFRS menerapkan metode yang digunakan yaitu metode langsung, sedangkan PSAK sendiri tidak mengatur metode apa yang digunakan, kecuali untuk perusahaan publik harus menggunakan metode langsung.

PT. PLN (Persero) Pusat menambahan adanya pengungkapan tambahan dalam penyajian laporan arus kasnya.pengungkapan ini menjelaskan jumlah saldo kas dan setara kas yang signifikan yang dimiliki entitas, tetapi tidak tersedia untuk penggunaannya, harus diungkapkan. Pengungkapan semacam itu harus disertai dengan catatan eksekutif dari manajemen yang menjelaskan pembatasan dalam akses dana tersebut. Laporan perubahan ekuitas menggambarkan posisi pengaruh perubahan ekuitas yang menunjukkan secara terpisah total jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan non-pengendali. Untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal dan akhir periode secara terpisah mengungkapkan masing-masing perubahan yang timbul.

Pada PT. PLN (Persero) Cabang Medan, laporan perubahan ekuitas tidak disajikan secara tersendiri melainkan dicatat bersamaan dengan laporan neraca. Laporan ekuitas yang ada dalam neraca menjelaskan modal saham, tambahan modal, serta saldo laba.

Sedangkan menurut aturan dalam standar akuntansi IFRS, laporan perubahan ekuitas seharusnya disusun secara tersendiri sebagai satu kesatuan dalam laporan keuangan.Laporan perubahan ekuitas juga mengungkapkan jumlah ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk serta kepada kepentingan nonpengendali. Dalam hal ini, PT. PLN (Persero) Pusat telah menerapkannya dalam penyajian laporan perubahan ekuitas.

5.KESIMPULAN

1. PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) merupakan bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbentuk perusahaan perseroan (Persero). Bergerak di bidang jasa, melayani masyarakat dalam memenuhi kebutuhan listrik. Adalah visi PT. PLN (Persero) untuk menjadi perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang, unggul, dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani. Dengan demikian, perusahaan dituntut untuk mengelola kinerja perusahaan dengan baik, termasuk dalam pengelolaan keuangan agar menggunakan standar keuangan internasional yang mengacu pada International Financial Reporting Standards (IFRS) sebagai dasar dalam penyajian laporan keuangan. 2. Penerapan Standar Akuntansi Keuangan pada penyajian laporan keuangan sudah cukup baik, hal ini dapat penulis simpulkan dari hasil laporan keuangan yang disusun oleh pihak manajemen. Dalam penerapannya, PT. PLN (Persero) Cabang Medan masih menggunakan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dalam menyajikan laporan keuangannya. Sedangkan PT. PLN (Persero) Pusat telah mengacu pada IFRS.

3. Terdapat beberapa perbedaaan penggunaan istilah dalam laporan keuangan PT. PLN (Persero) Cabang Medan yang masih mengacu pada PSAK dengan PT. PLN (Persero) Pusat yang telah mengadopsi IFRS sebagai dasar penyajian laporan keuangannya. Diantaranya, kewajiban menjadi liabilitas, aktiva menjadi aset, neraca menjadi laporan posisi keuangan, dan laporan laba rugi menjadi laporan laba rugi komprehensif.

(10)

4. PT. PLN (persero) Cabang Medan menyajikan empat laporan keuangan yaitu Laporan neraca, laba rugi, arus kas, serta catatan atas laporan keuangan. Sedangkan PT. PLN (Persero) Pusat menyajikan laporan keuangan lengkap yang terdiri atas Laporan posisi keuangan, laba rugi komprehensif, arus kas konsolidasi, perubahan ekuitas konsolidasi, dan catatan atas laporan keuangan.

DAFTAR PUSTAKA

Ankarath, Nandakumar, dkk. 2012. Memahami IFRS Standar Pelaporan Keuangan Internasional. Penerjemah Priyo Darmawan. Jakarta: PT. Indeks.

Bragg, Steven M. 2012. Panduan IFRS. Penerjemah: Thomas Sumarsan. Jakarta: PT. Indeks.

Fakultas Ekonomi Universitas Methodist Indonesia. 2012. Pedoman Penulisan Skripsi. Medan, Universitas Methodist Indonesia.

Harahap, Sofyan Syafri. 2005. Teori Akuntansi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Hery. 2009. Akuntansi Keuangan Menengah 1. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

Kieso, Donald E, Jerry J. Weygandt and Terry D. Warfield. 2008. Intermediate Accounting. Penerjemah Emil Salim. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Prihadi, Toto. 2012. Memahami Laporan Keuangan Sesuai IFRS dan PSAK. Jakarta: PPM. Purba, Mariasi P. 2010. International Financial Reporting Standard. Yogyakarta: Graha Ilmu. Warsono bin Hardono, Sony. 2011. Adopsi Standar Akuntansi IFRS. Yogyakarta: AB Publisher.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :