jurnal

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

JURNAL JURNAL Atr

Atr aumaaumatic care tic care untuk untuk meningkatkan meningkatkan tingkat kooptingkat kooperatif anak eratif anak usia 1-3 usia 1-3 tahuntahun A C Mustamu

A C Mustamu

...

...

Alva Cherry Mustamu, Alva Cherry Mustamu, Magister Keperawatan Magister Keperawatan Universitas Muhamadiyah Universitas Muhamadiyah Yogyakarta; Yogyakarta;

Jl. Raya Saparua, Saparua, Jl. Raya Saparua, Saparua, Maluku Tengah. Maluku Tengah. alvamustamu@gmail.com alvamustamu@gmail.com +6285293134452. +6285293134452. ... ... INTISARI INTISARI Latar belakang

Latar belakang  : Pasien anak sering mengalami prosedur tak terduga  : Pasien anak sering mengalami prosedur tak terduga yang menyebabkan rasa sakit dan meningkatkan kecemasan serta yang menyebabkan rasa sakit dan meningkatkan kecemasan serta ketidakkooperat

ketidakkooperatifan. Pelaksanaifan. Pelaksanaan an perawatan paperawatan pada anak sakda anak sakit di rumahit di rumah sakit

sakit tidak tidak hanya hanya pada pada kesehatan kesehatan murni, murni, tetapi tetapi juga juga harus harus ada ada upayaupaya untuk

untuk membamembantu ntu meningkatkan meningkatkan tingkat tingkat kooperatif kooperatif yangyang memungkinkan

memungkinkan anak anak dapat dapat bekerja bekerja sama sama dengan dengan perawat perawat dalamdalam mencapai tujuan perawatan.

mencapai tujuan perawatan. Tujuan

Tujuan  : Untuk mengetahui hubungan antara penerapan perawatan  : Untuk mengetahui hubungan antara penerapan perawatan atraumatik dengan tingkat kooperatif pasien usia 1-3 tahun selama atraumatik dengan tingkat kooperatif pasien usia 1-3 tahun selama  perawatan di

 perawatan di rumah sakit.rumah sakit. Metode :

Metode :Quota sampling digunakan untuk merekrut 23 Quota sampling digunakan untuk merekrut 23 perawat dan 23perawat dan 23  pasien usia

 pasien usia 1-3 t1-3 tahun ahun yang dirawat yang dirawat di di bangsal anak. bangsal anak. Lembar observasiLembar observasi dan chek li

dan chek list digunakan untuk st digunakan untuk menilai penerapan perawatan atraummenilai penerapan perawatan atraumatikatik dalam prosedur tetap harian dan tingkat kooperatif.

dalam prosedur tetap harian dan tingkat kooperatif. Hasil :

Hasil :Sebanyak Sebanyak 23 pasien usia 1-3 tahun yang dirawat di 23 pasien usia 1-3 tahun yang dirawat di bangsal anakbangsal anak dan 23 perawat mengambil bagian dalam penelitian ini. Dilaporkan dan 23 perawat mengambil bagian dalam penelitian ini. Dilaporkan 65.2% penerapan perawatan atraumatik dalam prosedur tetap harian 65.2% penerapan perawatan atraumatik dalam prosedur tetap harian oleh perawat dalam kategori cukup sedangkan 60.9% orang anak oleh perawat dalam kategori cukup sedangkan 60.9% orang anak menunjukan tingkat kooperatif yang tinggi selama perawatan. Ada menunjukan tingkat kooperatif yang tinggi selama perawatan. Ada hubungan antara penerapan perawatan atraumatik dengan tingkat hubungan antara penerapan perawatan atraumatik dengan tingkat kooperatif anak usia 1-3 tahun (rho: 0.434, p: 0.039).

kooperatif anak usia 1-3 tahun (rho: 0.434, p: 0.039). Kesimpulan

Kesimpulan  : Perawatan atraumatik dapat diterapkan selama anak  : Perawatan atraumatik dapat diterapkan selama anak menjalani

menjalani perawatan perawatan di di rumah rumah sakit. sakit. Jika Jika penerapan penerapan perawatanperawatan atraumatik dapat

atraumatik dapat dilakukan dengan dilakukan dengan baik baik maka respon maka respon kooperatifkooperatif untuk

untuk mencapai mencapai tujuan tujuan perawatan perawatan akan akan berada berada pada pada tingkat tingkat yangyang tinggi dalam segala umur, jenis kelamin maupun lamanya hari tinggi dalam segala umur, jenis kelamin maupun lamanya hari  perawatan.

 perawatan. Kata Kunci

Kata Kunci: Penerapan Perawatan Atraumatik, Tingkat Kooperatif,: Penerapan Perawatan Atraumatik, Tingkat Kooperatif, Anak usia 1-3 tahun, toddler

(2)

JOURNAL

Atraumatic care to increase the level of cooperative toddler A C Mustamu

Alva Cherry Mustamu,  Nursing Master Students

University of

Muhammadiyah Yogyakarta

Jl. Raya Saparua, Saparua, Maluku Tengah. alvamustamu@gmail.com +6285293134452

...

ABSTRACT

Background:  Toddler patients often experience unexpected procedures that cause pain and increase the anxiety and uncooperative. Implementation of child care in hospitals not only on purely medical, but also there must be an effort to help increase the level of cooperation that allows children to work together with nurses in achieving treatment goals.

Objective: To determine the relationship between atraumatic care and toddler cooperative during hospitalization

Methods: Quota sampling was used to recruit 23 nurses and 23 patients aged 1-3 years who were treated at the children's ward. Observation sheet and check list used to assess the application of atraumatic care in daily operating procedures and cooperative level.

Results: A total of 23 patients aged 1-3 years and 23 nurses took part in this study. 65.2% reported in the application of the procedure remain atraumatic care daily by nurses in the category enough, while 60.9% of children showed a high level of cooperation during treatment. There were relationship between the application of atraumatic care and the level of cooperative children aged 1-3 years (rho: 0.434, p: 0.039).

Conclusion:  Atraumatic care can be applied for children undergoing treatment in hospitals. If the application of atraumatic care can be done then the cooperative response will be at a high level in every age, gender and duration of treatment days.

Keywords: atraumatic care, Level Cooperative, Children aged 1-3 years, toddler

(3)

Pendahuluan

ecara khusus, pasien anak sering mengalami  prosedur tak terduga yang menyebabkan rasa sakit dan meningkatkan kecemasan serta ketidakkooperatifan1. Komplikasi jangka panjang terkait psikologis perawatan berhubungan dengan usia, tingkat keparahan penyakit, dan  jumlah prosedur invasif 2. Prosedur invasif bukan saja dirasa menakutkan bagi anak-anak tetapi  juga dirasakan oleh orang tua3.

Meskipun staf melihat bahwa tindakan tersebut adalah tindakan yang sederhana seperti mengukur suhu rektum, anak-anak sering melihat tindakan tersebut sebagai tindakan yang sangat menakutkan4. Anak-anak sering menunjukkan ketidak-kooperatifan terhadap tindakan yang menggunakan jarum dan prosedur invasif lainnya5. Hal tersebut menimbulkan gejala seperti distress perilaku selama tindakan6-11. Kegiatan pelaksanaan pelayanan dan perawatan kesehatan anak yang dilaksanakan di rumah sakit sebaiknya tidak hanya pada kesehatan murni terhadap anak sakit, tetapi juga harus ada upaya untuk membantu meningkatkan tingkat kooperatif pada anak yang memungkinkan anak  bisa bekerja sama dengan perawat dalam mencapai tujuan pengobatan12. Atraumatic care merupakan bentuk perawatan terapeutik dalam tatanan pelayanan kesehatan anak melalui  penggunaan tindakan untuk mengurangi distres fisik maupun distres psikologis yang dialami anak maupun orang tua13.  Atraumatic care difokuskan dalam upaya pencegahan terhadap trauma dengan adanya dukungan sosial keluarga, lingkungan perawatan yang terapeutik, dan sikap perawat yang penuh dengan perhatian agar  pasien anak akan merasa nyaman selama  perawatan sehingga akan mempercepat proses  penyembuhan14.

Implementasiatraumatic care pada anak yang dirawat di rumah sakit dapat menurunkan trauma pada anak dan orang tua akibat prosedur invasif. Alasan tersebut membuat perawat dituntut untuk memberikan pelayanan perawatan yang berkualitas kepada anak maupun orang tua dengan pelaksanaan atraumatic care  sehingga dapat meminimalkan kecemasan pada anak saat hospitalisasi15. Tujuan penelitian ini adalah untuk

mengetahui hubungan antara penerapan atraumatic care dengan tingkat kooperatif.

Metode Perekrutan Responden

Pasien usia 1-3 tahun sebanyak 23 orang direkrut di Bangsal Melati 1 anak dan Bangsal Kenanga RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dengan  pertimbangan sedang terpasang infus, tidak mengalami penurunan kesadaran dan mengalami keterbatasan mental serta tidak terpasang NGT. Sedangkan 23 perawat direkrut di kedua bangsal yang sama dengan pertimbangan tingkat  pendidikan ners dan diploma III dan sedang  bertugas aktif.

Penilaian

Tindakan perawat dievaluasi menggunakan lembar observasi tindakan rutin ruangan yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Seorang  perawat wajib melakukan semua tindakan rutin sampai selesai meliputi jam 07.00 wib sarapan, (b) 09.00 wib medikasi, (c) 10.00 injeksi melalui infus, (d) 11.00 wib pengukuran suhu dan nadi, (e) 12.00 wib makan siang, (f) 13.00 wib makan obat, (g) 15.30 wib makan obat, (h) 17.00 wib makan malam, (i) 18.00 wib injeksi melalui infus, serta (j) prosedur yang tidak rutin seperti pemasangan infus kepada seorang responden anak. Tingkat kooperatif anak dievaluasi menggunakan chek list yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Penilaian dilakukan selama perawat melakukan tindakan. Analisis

Skoring pada penerapan perawatan atraumatik yaitu (1= baik, 2= cukup, 3= Buruk) sedangkan skoring pada tingkat kooperatif yaitu (1= tinggi, 2= sedang, 3= rendah). Hubungan antar kedua variabel digunakan analisis uji korelasi Spearman Rank (Rho) dengan (p < 0.05).

(4)

Hasil A. Karakteristik Responden

Tabel 1 menunjukan bahwa perawat yang  bertugas di Bangsal Melati 1 anak dan Bangsal Kenanga RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten paling banyak berjenis kelamin  perempuan yaitu 19 orang (82.6%). Jika dilihat dari tingkat pendidikan, sebagian besar  perawat yang bertugas di kedua bangsal ini merupakan lulusan diploma III yaitu sebanyak 22 orang (95.7%). Lama kerja perawat di Bangsal Melati 1 anak dan Bangsal Kenanga RSUP Dr, Soeradji Tirtonegoro Klaten sebagian besar sudah lebih dari 10 tahun yaitu 12 perawat (52.2%).

Responden anak yang berumur 1 tahun sebanyak 12 orang (52.2%) dan anak yang  berumur 2 tahun sebanyak 6 orang (26.1 %). Sedangkan anak berumur 3 tahun hanya 5 orang (21.7%). Sebagian besar responden anak yang sedang dirawat berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 14 orang (60.9%). Lama perawatan responden lebih dari 7 hari 10 orang (43.5%). B. Penerapan Perawatan Atraumatik

Tabel 3 menunjukan bahwa sebagian  besar perawat melakukan penerapan perawatan

atraumatik pada anak usia 1-3 tahun ada pada kategori cukup yaitu 15 orang perawat (65.2%). Masih ada yang dalam kategori buruk yaitu 1 orang perawat (4.3%).

C. Tingkat Kooperatif

Tabel 4 menunjukan bahwa 14 (60.9%) orang anak menunjukan tingkat kooperatif yang tinggi saat menjalani tindakan keperawatan selama dirawat sedangkan ada 8 (34.8%) orang anak yang menujukan tingkat kooperatif sedang. Terdapat 1 (4.3%) orang anak yang menunjukan tingkat kooperatif yang rendah.

Tabel 5 menunjukan bahwa jenis kelamin laki-laki mempunyai tingkat kooperatif yang relatif lebih tinggi yaitu 9 anak (39.1 %) dibandingkan dengan anak yang berjenis kelamin  perempuan yaitu 5 anak (21.8%). Tabel 5 juga menunjukan bahwa 1 anak (4.3%) berjenis kelamin laki-laki mempunyai tingkat kooperatif rendah sedangkan tingkat kooperatif sedang  pada anak berjenis kelamin laki-laki dan  perempuan adalah sama dengan masing-masing

4 anak (17.4%).

Tabel 6 menunjukan bahwa lama  perawatan lebih dari 7 hari mempunyai tingkat kooperatif lebih tinggi yaitu 8 anak (34.7 %) dibandingkan dengan anak yang dirawat 1 sampai 3 hari dan 4 sampai 7 hari. Tabel 6 juga menunjukan bahwa 1 anak (4.3%) dengan lama

(5)

 perawatan 1 sampai 3 hari mempunyai tingkat kooperatif rendah. Tingkat kooperatif sedang  juga ditemukan pada anak yang mempunyai lama perawatan 1 sampai 3 hari dan 4 sampai 7 hari dengan masingmasing 3 anak (13 %).

D. Hubungan Antara Penerapan Perawatan Atraumatik Dengan Tingkat Kooperatif

Berdasarkan analisis diatas, diperoleh nilai  p=0.039 lebih kecil dari taraf signifikansinya (p < 0.05). jadi hipotesis yang mengatakan ada hubungan antara penerapan perawatan atraumatik dengan tingkat kooperatif anak usia 1-3 tahun selama dilakukan perawatan di Bangsal Melati I anak dan Kenanga RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten diterima.

Diskusi

Perawat yang bekerja di tempat perawatan akut merupakan pemberi pelayanan kesehatan yang paling penting. Pada saat klien masuk ke dalam sistem pelayanan kesehatan karena mereka membutuhkan perawatan akut, maka keperawatan menjadi bentuk pelayanan kesehatan yang paling esensial. Banyak rumah sakit yang mengurangi presentase perawat terdaftar (registered nurse) yang bekerja di unit  perawatan sehingga tanggung jawab perawat terhadap aktifitas perawatan dasar secara langsung diberikan pada klien menjadi  berkurang16

Ketepatan melakukan pendekatan merupakan bagian dari perawatan akan mempengaruhi proses kesembuhan anak. Anak yang dirawat dalam waktu 1-2 hari akan dihadapkan pada lingkungan yang baru yaitu lingkungan rumah sakit yang dirasakan tidak

nyaman bagi anak. Berbagai peraturan jelas membatasi kebebasan anak, apalagi harus mengikuti prosedur perawatan dengan peralatan- peralatannya seperti pengambilan darah untuk  pemeriksaan, injeksi, infus dan pemeriksaan lain dimana anak harus menyesuaikan yang kadang-kadang tidak mudah17

Reaksi anak terhadap penyakit dan hospitalisasi didasarkan pada usia  perkembangan, pengalaman sebelumnya dengan hospitalisasi, tersedianya orang yang mendukung, keterampilan koping dan keseriusan diagnosa. Pengalaman sebelumnya dapat dengan mudah meningkatkan ketakutan terhadap sesuatu yang sudah diketahui meningkatkan kecenderungan pola pikir bahwa mereka akan mengalami prosedur yang lebih invasif dan traumatik pada saat mereka dihospitalisasi. Faktor-faktor inilah yang membuat mereka lebih rentan terhadap dampak emosional dari hospitalisasi dan menyebabkan kebutuhan mereka menjadi berbeda secara signifikan dibandingkan pasien-pasien lain18

Mayoritas anak adalah bayi dan usia 1-3 tahun, kelompok usia yang paling rentan terhadap dampak hospitalisasi. Dalam penelitian ini peneliti menemukan suatu fakta bahwa anak usia 1 tahun cenderung lebih kooperatif terhadap nyeri dibandingkan dengan usia 2-3 tahun19Bayi yang lebih tua (dalam hal ini usia 1 tahun) menunjukan respon tubuh terlokalisasi dan dengan secara sengaja menarik diri dari area yang terstimulasi, menangis dengan keras, ekspresi wajah menunjukan nyeri dan atau marah, resistensi fisik terutama mendorong stimulus menjauh setelah terjadi nyeri. Sedangkan anak kecil (usia 2-3 tahun) menunjukan respon menangis dengan keras  bahkan berteriak, memukul-mukulkan lengan dan kaki, berusaha mendorong stimulus menjauh sebelum nyeri terjadi, tidak kooperatif, memerlukan restrein fisik, meminta agar prosedur dihentikan, bergelayut pada orang tua, perawat, atau orang bermakna lainnya20

Intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak-anak juga dapat menyebabkan rasa sakit dan kecemasan. Kontrol nyeri yang tidak memadai

(6)

selama prosedur medis dapat memiliki efek merugikan jangka-panjang, terutama di kalangan toddler 29. Jika dipandang dari proses tumbuh kembang, anak usia 1 tahun belum mampu untuk melokalisasi nyeri yang dirasakan dan kemampuan untuk berbahasa masih terbatas  bahkan belum bisa bicara dibandingkan usia 2-3 tahun akhirnya anak usia 2-3 tahun menjadi tidak kooperatif pada saat dilakukan tindakan keperawatan maupun medis. Anak usia tiga tahun jauh lebih berpengalaman dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Penguasaan bahasa,  pemahaman dan kemampuan menggunakannya  pun jauh lebih luas21

Saat dilakukan observasi pada saat  perawat melaksanakan tindakan keperawatan, anak usia 3 tahun dapat mengkomunikasikan kemauan mereka seperti ingin meminum obat dengan menggunakan teh manis, ingin memegang thermometer, menanyakan kapan mereka keluar dari rumah sakit. Oleh karena mereka dapat mengkomunikasikan tentang apa yang mereka inginkan serta sudah mempunyai  pengalaman tentang sebelumnya tentang nyeri, akibatnya usia 3 tahun ini menjadi sangat tidak kooperatif. Kemauan kekuatan mereka (usia 2-3 tahun) sering diperlihatkan dalam perilaku yang negatif pada saat pengasuh berusaha untuk mengarahkan tindakan mereka22

Analisis menunjukan coofisien korelasi (rho) sebesar 0.434 dengan nilai signifikan (p) sebesar 0.039. ini berarti ada hubungan yang  bermakna antara penerapan perawatan atraumatik dengan tingkat kooperatif anak usia 1-3 tahun walaupun dalam kategori sedang (0.400- 0.599). Dapat dikatakan bahwa jika  penerapan perawatan atraumatik dapat dilakukan dengan baik maka respon kooperatif untuk mencapai tujuan perawatan akan berada pada tingkat yang tinggi dalam segala umur, jenis kelamin maupun lamanya hari  perawatan.

Meskipun hospitalisasi dapat dan biasanya menimbulkan stress bagi anak-anak, tetapi hospitalisasi dapat juga memberikan manfaat  bagi anak-anak. Manfaat yang paling nyata adalah pulih dari sakit, tetapi hospitalisasi juga dapat memberikan kesempatan pada anak untuk

mengatasi stress dan merasa kompeten dalam kemampuan koping mereka. Penelitian Coyne (2006) menemukan bahwa anak-anak membutuhkan informasi yang memadai saat akan dilakukan tindakan, selama dilakukan tindakan dan setelah dilakukan tindakan untuk mengurangi stres dan pengalaman yang tidak menyenangkan pada saat itu27

Manfaat psikologis perlu dipertimbangkan dan dimaksimalkan selama hospitalisasi untuk memberikan pengalaman sosialisasi yang baru  bagi anak yang dapat memperluas hubungan interpersonal mereka. Strategi keperawatan yang tepat untuk mencapai tujuan ini harus kembali lagi didasarkan pada penjabaran prinsip  prinsip atraumatic care23. Penelitian Klassen et al   (2008) menemukan bahwa pemberian terapi musik, mengajarkan anak bernyanyi dengan atau tidak dengan teman-teman sebayanya selama  perawatan dapat mengurangi nyeri tindakan dan

kecemasan.

Bagi anak-anak, hospitalisasi dan  penyakit merupakan pengalaman yang penuh tekanan, utamanya karena perpisahan dengan lingkungan normal dimana orang lain berarti, seleksi koping terbatas dan perubahan status kesehatan. Tujuan utama yang penting dari keperawatan adalah untuk membuat suatu  pengalaman yang positif. Hal positif memang harus dilakukan dengan benar dan tepat karena seperti yang diketahui bahwa atraumatic care tidak hanya untuk meredam cidera yang bersifat  psikologis, tetapi juga fisik 24

Saat perawatan, orang tua harus benar- benar dilibatkan agar anak dapat merasa lebih nyaman menjalani perawatan. Orang tua harus didorong untuk tetap tinggal dengan anak-anak yang masih muda selam mungkin, khususnya ibu sehingga perilaku akibat perpisahan dapat diminimalkan25. Moghaddam et al (2011) menemukan bahwa perawat dapat memanfaatkan kekuatan unik dari orang tua dalam membantu adaptasi, memudahkan dan mempercepat  pemulihan anak-anak mereka28

Kegiatan pelaksanaan pelayanan dan  perawatan kesehatan anak yang dilaksanakan di rumah sakit sebaiknya tidak hanya pada kesehatan murni terhadap anak sakit, tetapi juga

(7)

harus ada upaya untuk membantu meningkatkan tingkat kooperatif pada anak yang memungkinkan anak bisa bekerja sama dengan perawat dalam mencapai tujuan  perawatan bersama26

KESIMPULAN

Ada hubungan yang signifikan antara  penerapan perawatan atraumatik dengan tingkat kooperatif anak usia 1-3 tahun. Jika penerapan  perawatan atraumatik dapat dilakukan dengan  baik maka respon kooperatif untuk mencapai tujuan perawatan akan berada pada tingkat yang tinggi dalam segala umur, jenis kelamin maupun lamanya hari perawatan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Blount, R. L., Zempsky, W. T., Jaaniste, T., Evans, S., Cohen, L. L., Devine, K. A., et al.. Management of pediatric pain and distress due to medical procedures. 4th ed.  New York: Guilford Press. 2009. p171−188. 2. Rennick, J. E., & Rashotte, J.. Psychological outcomes in children following pediatric intensive care unit hospitalization: A systematic review of the research. Journal of Child Health Care, 2009; 13(2):128−149

3. Franck, L. S., Allen, A., Cox, S., & Winter, I.. Parents' views about infant pain in neonatal intensive care. Clinical Journal of Pain, 2005; 21(2):133−139.

4. Rennick, J. E., Johnston, C. C., Dougherty, G., Platt, R., & Ritchie, J. A. Children's  psychological responses after critical illness and exposure to invasive technology. Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics, 2002: 23(3):133−144.

5. Taddio, A., Shah, V., Gilbert-MacLeod, C., & Katz, J. Conditioning and hyperalgesia in newborns exposed to repeated heel lances.JAMA, 2002; 288(7):857−861

6. Gibbins, S., Stevens, B., Beyene, J., Chan, P. C., Bagg, M., & Asztalos, E.. Pain  behaviours in extremely low gestational age infants. Early Human Development, 2008; 84(7):451−458.

7. Harrison, D., Boyce, S., Loughnan, P., Dargaville, P., Storm, H., & Johnston, L. Skin conductance as a measure of pain and stress in hospitalised infants.Early Human Development, 2006;82(9):603−608

8. Holsti, L., Grunau, R. E., Oberlander, T. F., & Osiovich, H.. Is it painful or not? Discriminant validity of the Behavioral Indicators of Infant Pain (BIIP) scale.Clinical Journal of Pain, 2008;24(1):83−88.

9. Johnston, C. C., & Strada, M. E.. Acute pain responses in infants: A multidimensional description. Pain, 1986;24(3):373−382.

10. Oberlander, T. F., Grunau, R. E., Whitfield, M. F., Fitzgerald, C., Pitfield, S., & Saul, J. P.. Biobehavioral pain responses in former extremely low birth weight infants at four months' corrected age. Pediatrics., 2000;105(1):e6

11. Shah, V. S., Taddio, A., Bennett, S., & Speidel, B. D.. Neonatal pain response to heel stick vs venepuncture for routine blood sampling. Archives of Disease in Childhood Fetal & Neonatal Edition, 1997;77(2):F143−144.

12. Potter & Perry. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik Edisi 4 Volume 1. Jakarta : EGC. 2005.  p735

13. Supartini, Y. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC. 2004.  p50-59.

14. Hidayat, A. A. . Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Selemba Medika. 2005. p14

15. McMurtry, C. M., McGrath, P. J., Asp, E., & Chambers, C. T.. Parental reassurance and pediatric procedural pain: A linguistic description.Journal of Pain, 2007;8(2):95−101

16. Turner, H. N. . Complex pain consultations in the pediatric intensive care unit.AACN Clin Issues, 2005;16(3):388−395.

17. Melnyk, B. M., Feinstein, N., & Fairbanks, E. Two decades of evidence to support implementation of the COPE program as standard practice with parents of young

(8)

unexpectedly hospitalized/critically ill children and premature infants.Pediatric  Nursing, 2006;32(5):475−481.

18. Kline, W. H., Turnbull, A., Labruna, V. E., Haufler, L., DeVivio, S., & Ciminera, P. Enhancing pain management in the PICU by teaching guided mental imagery: A quality-improvement project. J Pediatr Psychol, 2010;35(1):25−31

19. Klein, V. C., Gaspardo, C. M., Martinez, F. E., Grunau, R. E., & Linhares, M. B. Pain and distress reactivity and recovery as early  predictors of temperament in toddlers born

 preterm.Early Hum Dev,

2009;85(9):569−576.

20. Johnston, C. C., Filion, F., Campbell-Yeo, M., Goulet, C., Bell, L., McNaughton, K., et al. Kangaroo mother care diminishes pain from heel lance in very preterm neonates: A crossover trial. BMC Pediatr, 2008;8 (13): 1471-2431.

21. Johnston, C. C., Filion, F., & Nuyt, A. M. Recorded maternal voice for preterm neonates undergoing heel lance. Advances in Neonatal Care, 2007;7(5):258−266. 22. Johnston, C. C., Stevens, B., Pinelli, J.,

Gibbins, S., Filion, F., Jack, A., et al. Kangaroo care is effective in diminishing  pain response in preterm neonates. Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine, 2003;157(11):1084−1088

23. Balcı Akpınar, R., & Çelebioğlu, A. Çocuklarda enjeksiyon uygulamaları ve dikkat edilmesi gereken noktalar. (The  principles of administering parenteral medication to children).Sendrom, 2003;17(1):106−108

24. Diggle L, Deeks J. Effect of needle length on incidence of local reactions to routine immunisation in infants aged 4 months: randomised controlled trial.  BMJ : British

 Medical Journal . 2000;321(7266):931-933. 25. Sinha, M., Christopher, N. C., Fenn, R., &

Reeves, L. Evaluation of nonpharmacologic methods of pain and anxiety management for laceration repair in the pediatric emergency department. Pediatrics, 2006;117(4):1162 – 1168

26. Weydert JA, Shapiro DE, Acra SA, Monheim CJ, Chambers AS, Ball TM. Evaluation of guided imagery as treatment for recurrent abdominal pain in children: a randomized controlled trial.  BMC  Pediatrics. 2006;6(29)1471-2431.

27. Coyne,I. Children's experiences of hospitalization. J Child Health Care. 2006; 10(4): 326 – 336.

28. Bsiri-Moghaddam K, Basiri-Moghaddam M, Sadeghmoghaddam L, Ahmadi F. The Concept of Hospitalization of Children from the View Point of Parents and Children.

 Iranian Journal of Pediatrics.

2011;21(2):201-208.

29. Klassen, J.A., Liang. Y., Tjosvold. L., Klassen.T.P., Hartling.L. Music for Pain and Anxiety in Children Undergoing Medical Procedures: A Systematic Review of Randomized Controlled Trials. Ambulatory Pediatrics. 2008;8(2)11-28.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :