BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Proses Penelitian di Lapangan
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuanitatif dengan menjelaskan fenomena yang dijumpai pada Puskesmas Rowosari, yang dimana pengumpulan data secara kuantitatif dengan cara melampiran data beberapa obat yang sering keluar selamat satu tahun, pada tahun 2014. Kemudian pengumpulan data deskriptif dilakukan dengan cara wawancara mendalam yang berpedoman pada panduan wawancara dengan bantuan alat perekam suara dan kamera untuk mendokumentasi proses penelitian. Wawancara mendalam dilakukan pada 7 orang informan meliputi asisten apoteker, bidan, dokter umum, dokter gigi, penanggung jawab pola penyakit, IC5 dan 1 orang informan petugas Dinkes bagian perencanaan obat.
1. Proses Pekerjaan Lapangan
Beberapa langkah yang dilakukan peneliti hingga mendapatkan data dan subjek peneliti adalah Tahap pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melakukan survey terkait Perencanaan Obat di Puskesmas Rowosari kota Semarang dengan cara melihat dokumen-dokumen yang berkaitan dengan proses perencanaan meliputi laporan LPLPO setiap bulan adakah kekurangan atau kelebihan obat yang terjadi pada satu tahun terakir.
Setelah melakukan survey maka peneliti membuat surat ijin penelitian dari Universitas Dian Nuswantoro yang di tembuskan ke badan Kesatuan
Bangsa dan Politik selanjutnya surat ijin dikirimkan ke Dinas Kesehatan Kota Semarang kemudian surat dari Dinas Kesehatan saya serahkan ke Puskesmas untuk meminta ijin melakukan penelitian kepada IC5 di Puskesmas Rowosari Semarang selama 1 bulan. Setelah konsultasi dan mendapatkan ijin dari IC5 untuk mewawancarai subjek penelitian dan sebagai crosscheck. Proses dilanjut mewawancarai subjek penelitian pertama dengan asisten apoteker, kemudian kepada dokter umum, dokter gigi dan bidan, kemudian dilanjutkan ke petugas pola penyakit, lalu sebagai informan croscheck IC5 dan Petugas Dinkes bagian perencanaan obat.
B. Gambaran Umum Puskesmas Rowosari
1. Sejarah Singkat Puskesmas RowosariPuskesmas merupakan suatu organisasi kesehatan fungsional yang berfungsi memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu bagi masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk beberapa kegiatan pokok.
Puskesmas Rowosari adalah unit pelaksanaan teknis DKK Semarang yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan diwilayah kerja Puskermas Rowosari dan berdiri pada Senin pon tanggal 27 juli 1998 yang disahkan oleh Soetresno.
2. Deskripsi Lingkungan Puskesmas Rowosari
Puskesmas Rowosari berada di jalan raya Rowosari kecamatan Tembalang kabupaten Rowosari di Kota Semarang dengan luas wilayah 1.883 m2. Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Rowosari pada
tahun 2014 yaitu 40.931 jiwa dengan laki-laki 20.596 jiwa dan perempuan 20.335 jiwa dengan jumlah KK 12.100.
Wilayah kerja 5 kelurahan yaitu:
a. Kelurahan Rowosari b. Kelurahan Meteseh c. Kelurahan Tembalang d. Kelurahan Kramas e. Kelurahan Bulusan Dengan batas wilayah kerja:
a. Sebelah timur kab.Demak b. Sebelah Barat kec.Candisari c. Sebelah selatan kec.Banyumanik d. Sebelah Utara kel.Mangunharjo
Jumlah posyandu balita sebayak 53 dengan rincian:
a. Pratama: 1 b. Madya: 28 c. Purnama: 19 d. Mandiri: 5 e. Poksila : 12 a) Visi
“ Puskesmas Andalan Masyarakat.”
b) Misi
a. Menyelenggarakan pembangunan Kecamatan berwawasan kesehatan.
b. Mendorong kemandirian masyarakat dan keluarga untuk hidup sehat.
c. Memelihara dan meningkatkan pelayanan yang bermutu merata dan terjangkau.
d. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan individu keluarga masyarakat dan lingkungan.
C. Hambatan dan kesulitan dalam penelitian
Hambatan dalam penelitian ini terletak pada subjek penelitian yang memiliki kesibukan masing-masingkarena wawancara dilakukan ketika subjek pelayanan sedang bekerja sehingga waktu wawancara hanya sebentar karena jika terlalu lama dapat mengganggu pekerjaan subjek penelitian tersebut.
D. Keterbatasan penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik penelitian deskriptif kuantitatif, dimana peneliti harus mewawancara secara mendalam pada subjek peneliti. Karena peneliti ini baru pertama melakukan penelitian sehingga mungkin saat melakukan wawancara mendalam masih kurang.
E. Karakteristik subjek penelitian
Peneliti ini merupakan penelitian deksriptif dengan pendekatan studi kasus untuk mencari informasi sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui informasi secara pasti mengenai gambaran perencanaan kebutuhan obatdi Puskesmas Rowosari Semarang.
Prosedur pengambilan subjek penelitian berdasarkan kriteria subjek lapangan yaitu petugas Puskesmas bagian Apoteker di Puskesmas Rowosari Semarang. Subjek penelitian adalah seorang petugas apoteker di puskesmas Rowosari.
Tabel 4.1
Karakteristik Subjek Penelitian
no Kode SP Umur Pendidikan Jabatan Masa Kerja 1 SP1 29 tahun D3 Farmasi Asisten Apoteker 6 tahun 2 IC1 40 tahun S1 kedokteran
umum Dokter Umum 7 tahun
3 IC2 34 tahun S1 dokter gigi Dokter gigi 3 tahun 4 IC3 51 tahun D3 kebidanan Bidan koordinasi 16 tahun 5 IC4 34 tahun S1 kesehatan
Masyarakat epidemiolog 5 tahun 6 IC 5 40 tahun S2 kesehatan
Masyarakat
Kepala Puskesmas 4 tahun 7 IC6 38 tahun S2 profesi
kedokteran
Kepala Seksi farmamin dan perbekalan kesehatan
2 tahun
SP: subjek penelitian (petugas Asisten Apoteker) IC: informan crosscheck
F. Hasil penelitian
Diskusi terhadap subjek petugas apoteker di Puskesmas Rowosari Semarang mengenai peran petugas, prosedur dan kebijakan puskesmas yang digunakan untuk merencanakan kebutuhan obat di Puskesmas. Petugas apoteker di Puskesmas Rowosari bernama Mira, informan berumur 29 tahun dan sudah bekerja 6 tahun di Puskesmas rowosari sebagai asisten apoteker, pedidikan terakir informan adalah D3 apoteker.
Dalam perencanaan obat SP tidak hanya terlibat sendiri. Dalam perencanaan obat di puskesmas juga membutuhkan IC1, IC2, IC3, IC4, IC5, IC6.
Keterlibatan IC1, IC2, IC3 di perencanaan obat bertugas untuk meyakinkan dan memastikan bahwa obat yang akan di pesan tidak akan ada kekurangan atau kelebihan stok karena apabila IC1, IC2,IC3 terlibat dalam perencanaan maka berarti puskesmas harus mengelauarkan dana sendiri yaitu dana BPJS atau JKN. Selain itu IC2 bertanggung jawab sebagai pejabat e-purchasing yang berpedoman pada e-catalog. Berdasarkan keterangan dari IC3 jika pembelian dilakukan dengan pedoman e-catalog pembelian tersebut dikatakan legal.
Keterlibatan IC5 memiliki peran yang cukup penting karena memiliki kewewenangan dalam segala keputusan. Dalam membuat perencanaan, melakukan pelaksanaan, serta melakukan evaluasi merupakan hal yang harus melibatkan IC5 sebagai pemegang keputusan tertinggi. Termasuk dalam proses perencanaan obat di Puskesmas, IC5 berperan dalam mengkoreksi dan menyetujui yang sudah dibuat oleh SP baik dengan dana BPJS atau dengan perantaran Dinkes yang obat sudah tersedia di IF.
Keterlibatan IC6 memiliki peran yang cukup penting karena membelanjakan obat untuk stok di IF dan nantinya di bagikan ke setiap puskesmas sesuai permintaan dan persetujuan. Sebelum membelanjakan biasanya IC6 juga mengecek atau mengkoreksi perencanaan obat yang dibuat oleh puskesmas dan memiliki
kewenangan untuk mengkompilasi sebelum memberikan dan membagikan ke Puskesmas-Puskesmas khususnya di Puskesmas rowosari. Jadi menurut hasil wawancara dapat dibuktikan bahwa di kotak 1
Kotak 1
Bagaimana peran dalam proses perencanaan obat
“disini sebagai AA ya merencanakan kebutuhan obat setiap tahunnya” (SP)
“… saya ikut merencanakan dan mengoreksi namun obat yang pembeliannya dilakukan dengan menggunakan dana JKN” (IC1)
“… selain terlibat di perencanaan obatnya saya juga bertanggung jawab dengan pemesanan obat menggunakan purchasing, dengan pedoman e-catalog yang disetujui oleh Kepala Puskesmas dan Dinas” (IC2)
“... saya ikut karena butuh pertimbangan khusus untuk pembelian menggunakan dana JKN atau BPJS” (IC3)
“ ... peran saya ikut berperan dengan mengecek hasil perencanaan dan meng-ACC” (IC4)
“… saya bertanggung jawab mengkompilasi perencanaan dan membelanjakan perencanaan obat yang dibuat oleh puskesmas” (IC5)
“… saya bertanggung jawab mengkompilasi perencanaannya itu dan dibelanjakan oleh Dinas” (IC6)
2. Prosedur perencanaan obat
Dalam prosedur perencanaan obat proses perencanaan dilakukan oleh SP setiap satu tahun sekali, dengan menggunakan LPLPO pemakaian selama satu tahun lalu. Jumlah pemakaian satu tahun lalu dihitung dari jumlah keluarnya macam dan jumlah obat setiap harinya, karena SP selalu merekap macam dan jumlah obat yang tiap hari keluar.
Setelah mengetahui jumlah pemakaian obat yang keluar dalam satu tahun terakir maka dilakukan perhitungan sesuai dengan usulan Dinkes yaitu dengan menggunakan rumus konsumsi. Yaitu hasil obat yang keluar di tahun sebelum ditambahkan sepuluh persen untuk stok cadangan.
Setelah mendapatkan hasil perencanaan obat di tahun depan, maka SP memberikan ke IC5 untuk mendapatkan koreksi dan persetujuan untuk di berikan ke Dinkes. Dari hasil laporan pemakaian dan permintaan yang nantinya di berikan ke IC6 maka IC6 yang berwewenang untuk memutuskan berapa banyak obat yang diberikan di setiap Puskesmas, sebelum di laporan permintaan di berikan ke IF. Jadi menurut hasil wawancara dapat dibuktikan dengan melihat kotak 2.
Kotak 2
Bagaimana proses perencanaan obat?
“proses perencanaan dilakukan 1 tahun sekali, dengan menggunakan LPLPO tahun lalu” (SP1)
Melihat dari hasil rekapan yang setiap hari yang juga dibuat oleh SP merupakan salah satu pedoman untuk membuat perencanaan obat di Puskesmas Rowosari selain rumus yang diberikan oleh Dinas.
Dengan melihat rekapan yang setiap hari di buat maka dapat terlihat stok yang masih banyak dan stok yang sudah mulai kosong atau sedikit, serta macam obat apa saja yang sering keluar atau yang jarang keluar.
Dari hasil rekapan yang setiap hari dibuat tersebut, maka dapat mempermudah menghitung perencanaan obat yang dibutuhkan oleh Puskesmas Rowosari. Dengan cara memasukan hasil rekapan harian yang kemudian menjadi hasil rekap bulanan yang di isikan ke LPLPO lalu dapat memperkirakan berapa jumlah dan macam obat yang dibutuhkan oleh puskesmas Rowosari dengan menggunakan rumus konsumsi.
Didalam proses permintaan obat terdapat 2 macam pemesanan yaitu pemesanan melalui Dinkes dan pemesanan yang dilakukan sendiri dengan menggunakan dana BPJS atau JKN. Jika pemesanan dilakukan melalui Dinkes maka sebelum di berikan di Dinkes tidak lupa untuk meloporkan ke IC5 karena IC5 mengkoreksi dan meng-ACC dan jika pemesanan menggunakan dana BPJS maka sebelum dikoreksikan ke IC5 , IC1, IC2, IC3 juga berwewenang untuk mengkoreksi dan mengusulkan obat yang sebaliknya ditambah atau dikurangi, karena menyangkut dana kas yang ada di Puskesmas. Setelah di ACC oleh IC5 maka segera permintaan dilakukan ke Dinkes. Kemudian Dinkes yang berwewenang untuk memutuskan berapa banyak obat yang akan di
drop ke Puskesmas Rowosari dan ke Puskesmas-Puskesmas lain.Jadi menurut hasil wawancara dapat dibuktikan dengan melihat kotak3 Kotak 3
Bagaimana proses permintaan?
“dilihat dari yang paling banyak keluar, membuat LPLPO setiap pertengahan tahun kemudian diberikan IC5 untuk mendapat persetujuan dan tandatangan, kemudian baru dilanjutkan ke Dinkes (SP)
Bagaimana sistem pelaporan permintaan kebutuhan obat dari puskesmas?
“ Simpus di rekap dengan LPLPO yang dikirm ke DKK.”(IC6)
Bagaimana kewenangan anda dalam perencanaan obat di Puskesmas? “ saya disini berwewenang untuk menyetujui hasil perencanaan namun tidak langsung mbak, saya juga ngecek dulu.” (IC5)
bagaimana peran kepala Puskesmas dalam perencaaan kebutuhan obat? “ sama dengan yang tadi ya, saya ngecek sebelum meng-acc dan mbak mira harus mempertimbangkan keputusan saya” (IC5)
selaku Kepala Puskesmas bagaimana tanggung jawab anda dalam perencanaan obat?
“…ya saya bertanggung jawab sebagai eksekutor yang menandatangani kebutuhan pengadaan obat” (IC5)
Apakah dan Bagaimana peran keterlibatan anda dalam perencanaan obat?
“ terlibat, saya ikut memberi pertimbangan untuk obat yang pengadaannya dilakukan sendiri, dilakukan sendiri itu menggunakan dana BPJS” (IC1)
“ ya saya terlibat, pertanyaan sama kaya tadi ya mbak” (IC3) “ saya ga terlibat sama sekali dalam masalah obat” (IC4)
“ya saya terlibat, ya itu saya mengkompilasi dulu sebelum membelanjakan” (IC6)
Setelah melakukan proses permintaan dan di setujui oleh IC5 lalu diberikan ke Dinkes pada pertengan tahun. Dinkes menerima laporan-laporan permintaan yang diberikan puskesmas-puskesmas maka pihak Dinkes juga berwewenang untuk meng-ACC hasil laporan permintaan setiap puskesmas. Setelah di-ACC oleh Dinkes maka Dinkes yang memberikan ke IF untuk diadakan distribusi di setiap puskesmas.
Distribusi dilakukan oleh Dinkes setiap 3 bulan sekali untuk obat yang sudah pasti dan 1 bulan sekali untuk kebutuhan obat yang mendadak atau terjadi kekurangan. Berdasarkan hasil wawancara, disrtibusi dapat dilakukan 3 bulan sekali atau 1 bulan sekali untuk kebutuhan mendadak, karena terkadang terdapat obat tergolong wabah jadi jarang sekali ada namun tiba-tiba ada dan banyak yang terjangkit. Karena setiap bulan Dinkes mangadakan pertemuan dengan semua Puskesmas di Semarang, jadi dapat mengerti kekurangan atau kelebihan obat yang terjadi di setiap puskesmas.
Jadi menurut hasil wawancara dapat dibuktikan dengan melihat kotak 4
Kotak 4
Bagaimana distribusi/ jangka waktu permintaan obat?
“ditribusi biasanya dilakukan 3 bulan sekali atau satu bulan sekali”
Sesuai prosedur perenanaan obat di Puskesmas Rowosari terdapat jadwal proses untuk merencanakan permintaan obat. Sesuai yang sudah ditetapkan oleh Dinkes bahwa laporan dan permintaan di Kumpulkan setiap pertengahan tahun maka proses perencanaan di lakukan oleh SP setiap satu bulan sebelum pengumpulan di lakukan.
Dilakukan sebulan sebelum pengumpulan agar IC5 juga memiliki waktu untuk mengecek kembali hasil permintaan obat yang akan di berikan ke Dinkes.
Jadi menurut hasil wawancara dapat dibuktikan dengan melihat kotak 5
Kotak 5
Kapan melakukan proses perencanaan obat?
“proses perencanaan dilakukan 2 minggu sebelum hari H pengumpulan, karena membutuhkan data penghapusan dan ada bulan tidak mendapat kiriman obat yang karena kita mengumpulkan hasil perencanaan obat pada pertengahan tahun”
Perencanaan telah dibuat oleh SP dengan keputusan IC5 dan IC6 semua sudah menyetujui perencanaan yang di buat SP berarti sudah standar, namun terjadinya kekurangan atau kelebihan stok obat masih saja terjadi di puskesmas tidak terkecuali puskesmas Rowosari. Droping sudah di lakukan oleh IF ke masing-masing puskesmas berdasarkan
jumlah yang sudah dibuat dan disetujui oleh Dinkes, maka tidak jarang juga ditemukan kasus kekurangan atau kelebihan stok obat di setiap puskesmas, tidak terkecuali puskesmas Rowosari.
Di Puskesmas Rowosari dan puskesmas lain apabila mengetahui kemungkinan kelebihan stok, maka SP selalu mengembalikan ke IF dengan membuat berita acara kepada Dinkes.
Jika terjadi kekurangan stok obat biasanya puskesmas Rowosari memiliki solusi, yaitu dengan cara meminta lagi ke IF dengan menggunakan berita acara atau melakukan pengadaan sendiri, dengan menggunakan dana BPJS atau JKN yang dimiliki oleh Puskesmas atau bisa dikatakan uang kas.
Jika terjadi kekurangan stok obat biasanya IC1 dan IC2 menyarankan untuk pasien beli diluar atau atotek luar dengan resep yang sudah saya buat. Bidan IC3 memberi pengertian untuk membeli diluar sesuai dengan resep yang sudah saya buat, atau membuat racikan sendiri apabila obat harus diberikan di luar tubuh.
Jadi menurut hasil wawancara dapat dibuktikan dengan melihat kotak 6
Kotak 6
Apa yang dilakukan jika terdapat stok obat yang didapati memiliki kelebihan?
“jika ada kelebihan stok maka asisten apoteker mengembalikan ke gudang obat dengan cara menulis di berita acara, siapa tahu puskesmas lain membutuhkan” (SP)
“kalau kurang ya minta lagi kegudang farmasi atau melakukan pengadaan sendiri menggunakan JKN” (SP)
Bagaimana penanggulangan jika terjadi stok obat yang tidak tersedia? “… disuruh beli diluar atau apotek luar dengan resep yang sudah dibuat oleh saya” (IC1)
“… disuruh beli diluar dengan resep yang sudah saya buat” (IC2)
“… diberi pengertian untuk membeli diluar, sesuai dengan resep yang sudah saya buat, atau membuat racikan sendiri apabila obat harus diberikan di luar tubuh” (IC3)
Bagaimana jika terjadi kekosongan obat atau kelebihan obat dipuskesmas?
“jika kekurangan akan memesan kembali ke IF atau pengadaan sendiri dengan biaya jkn dengan perhitungan yang benar, jika kelebihan akan dikembalikan ke IF dengan melaporkan ke Dinkes dengan membuat berita acara” (IC5)
Pernahkan terjadi kekosongan obat di gudang obat? Jika terjadi bagaimana penanganannya?
“kadang ada tapi kebanyakan karna kekosongan pabrik dan tidak mampu maka terjadi kekosongan sebenarnya karena dari rencana nasional yang belum beres karena di e-catalog jumlah pabrik yang mengadakan atau yang memproduksi amoksilin paling hanya 1 atau 2. Dia kapasitas produksi terbatas padahal pengguna obat BPJS tidak hanya dari peerintah dan Puskesmas saha contoh apotek yang bekerja sama dengan BPJS dan Rumah Sakit Swata. Mereka tidak terdaftar di perencanaan. Maka dari tahun ini aka nada yang berhubungan dengan pemerintah maka harus membuat
emonev itu” (IC6)
Disetiap makanan atau barang yang dibuat oleh pabrik tidak terkecuali obat pasti terdapat tanggal kadaluarsa yang sudah di tentukan oleh pabrik. Maka terjadinya kadaluarsa di obat juga dapat terjadi.
Puskesmas Rowosari juga tidak terhindar dari masalah kadaluarsa pada obat, namun terjadinya kadaluarsa tidak sering terjadi, karena apabila diperkirakan akan terjadi kelebihan stok maka akan di kembalikan ke IF dengan menulis di berita acara yang kemudian dapat digunakan untuk puskesmas lain apabila membutuhkan tambahan secara mendesak.
Apabila benar terjadi kadaluarsan maka akan dikembalikan ke IF dengan membuat berita acara dan pemusnahan akan dilakukan oleh IF, dan bukan Puskesmas.
Jadi menurut hasil wawancara jawaban informan dapat dibuktikan dengan melihat kotak 7
Kotak 7
Apakah pernah terjadi kadaluarsa?
“jika ada obat yang kadaluarsa maka akan di kembalikan ke IF untuk dilakukan pemusnahan namun sebelumnya membuat berita acara”
Keputusan yang dilakukan oleh Puskesmas tidak pernah terlepas hubungan dengan Dinkes, karena keputusan tertinggi terdapat pada Dinkes, jadi segala laporan dan permintaan selalu sesuai persetujuan dan usulan selalu diberikan oleh Dinkes.
Tidak terkecuali dalam perencanaan obat Dinkes sudah mengusulkan rumus untuk perencanaan obat yang akan buat oleh puskesmas. Dan puskesmas rowosari menggunakan rumus yang di usulkan oleh Dinkes yaitu rumus konsumsi dengan perhitungan jumlah pemakaian tahun lalu di tambah dengan 10% dari pemakaian tahun lalu. Namun tidak semua usulan yang dibuat SP selalu langsung disetujui oleh IC5, karena bisa jadi terjadi kelebihan stok karena berbagai pertimbangan. setelah disetujui oleh IC5 hasil perhitungkan juga belum pasti langsung disetujui oleh atasan Dinkes, mengingat dana yang turun untuk obat atau stok yang ada di pabrik.
Jadi menurut hasil wawancara jawaban informan dapat dibuktikan dengan melihat kotak 8
Kotak 8
Apakah metode perencanaan obat saat ini merupakan usulan Dinkes? “ya, usulan Dinkes” (SP)
Obat yang sudah di droping dari IF ke setiap puskesmas maka akan di simpan di lemari obat masing-masing puskesmas. Cara penyimpanan dan penataan yang baik dapat mempengaruhi kemudahan dalam mencari obat dan menutup kemungkinan adanya kejadian kadaluarsa pada obat.
Di puskesmas Rowosari penataan obat berbentuk salep dan sirup di letakkan di lokasi yang sama atau di lorong yang sama dan dilihat sesuai abjad, fifo, atau fefo expired yang terdekat diletakkan didepan agar mengurangi kemungkinan terjadi kadaluarsa. Dan obat berbentuk pil diletakan di lorong yang berbeda karena memiliki jumlah yang lebih
banyak dan macamnya juga lebih banyak. Obat pil juga di simpan di lemari penyimpanan dengan melihat kesesuaian abjad agar mudah dalam pencarian obat lalu kesesuaian fifo atau fefo agar mengurangi dampak adanya kadaluarsa dalam stok obat.
Jadi menurut hasil wawancara jawaban informan dapat dibuktikan dengan melihat kotak 9
Kotak 9
Bagaimana tataletak penyimpanan obat dalam lemari obat?
“tata letak penyimpanan dalam lemari bentuk salep sirup dilihat dari abjad, fifo dan fefo expired terdekat d letakan di depan agar tidak terjadi kadarluarsa” (SP)
Setiap puskesmas berada di bawah peraturan Dinkes masing-masing kota. Segala perencanaan, proses kerja sampai evaluasi semuanya masih dibawah peraturan Dinkes. Proses perencanaan obat juga dibawah peraturan Dinkes seperti metode perhitungan sampai melaporkan ke Dinkes.
Dalam perencaan obat metode perhitungan merupakan hal penting, dari perhitungan dengan cara konsumsi, epidemiologi dan metode kombinasi yaitu metode yang menggabungkan antara konsumsi dan epidemiologi. Metode yang di usulkan ke Puskesmas yaitu metode konsumsi namun untuk program menggunakan metode epidemiologi. Maksud untuk penyakit program adalah penyakit yang di sebabkan oleh wabah.
Sesuai yang sudah di bicarakan diatas usulan perencanaan obat yang digunakan untuk SP yaitu sesuai usulan Dinkes. Puskesmas
Rowosari menggunakan rumus yang di usulkan oleh Dinkes yaitu rumus konsumsi dengan perhitungan jumlah pemakaian tahun lalu di tambah dengan 10% dari pemakaian tahun lalu dari jumlah keluarnya macam dan jenis obat.
Jadi menurut hasil wawancara jawaban informan dapat dibuktikan dengan melihat kotak 10
Kotak 10
Rumus / metode apa yang digunakan dalam perencanaan obat?
“mengikuti usulan dinkes yaitu perencanaan dengan menggunakan metode konsumsi” (SP)
“rumus konsumsi yang sesuai kebutuhan tahun lalu di tambah 10%.” (IC5) metode apa yang digunakan puskesmas untuk permintaan obat di Dinkes?
“…menggunakan metode konsumsi dan untuk program menggunakan metode epidemiologi. Contoh dari program yaitu seperti penyakit yang sebabkan oleh wabah seperti HIV, Leptospirosis, TB paru yang dalam waktu tertentu dapat menyebar.” (IC6)
Pedoman apa yang sering digunakan dalam perencanaan kebutuhan obat?
“metode konsumsi dengan jumlah tahun lalu ditambah 10%” (IC6)
Apakah sudah sesuai metode yang digunakan puskesmas untuk permintaan obat ke Dinkes?
Perencanaan obat dibuat tiap tahunnya, didalam manajemen puskesmas terdapat P1 adalah perecanaan, P2 adalah pelaksanaan, dan P3 adalah penilaian atau pemantauan. Yang dimaksud evaluasi disini dapat dikatakan seperti P3 yaitu penilaian. Pihak puskesmas khususnya SP dan IC5 dapat melakukan penilaian atau evaluasi terhadap (P1) perencanaan dan (P2) pelaksanaan pengadaan atau pengeluaran obat yang ada di puskesmas rowosari.
Melakukan evaluasi adalah hal yang wajar, namun pengevaluasian dalam masalah obat tidak di lakukan SP atau pihak puskesmas.
Jadi menurut hasil wawancara jawaban informan dapat dibuktikan dengan melihat kotak 11
Kotak 11
Apakah saudara melakukan evaluasi perencanaan obat sebelumnya? “Tidak, tidak pernah melakukan evaluasi dalam perencanaan obat sebelumnya.”
Setiap rencana atau pelaksanaan pasti memiliki kendala di masing-masing kegiatan. Di puskesmas Rowosari kegiatan perencanaan obat merupakan kegiatan yang rutin dilakukan.
Karena kegiatan perencanaan obat merupakan hal yang rutin dilakukan maka SP tidak memiliki kendala yang terlalu menyulitkan karena kendala yang dialami SP adalah masalah waktu.
Dalam prosedur perencanaan obat terdapat kendala adalah hal yang biasa. Kendala tidak hanya di rasakan pada SP saja akan tetapi juga di rasakan IC.
(IC1, IC2 dan IC3) merasakan adanya kebijakan pemkot membuat droping obat yang bisa dikatakan sedikit, mungkin karena di pabrik habis atau dana yang turun tidak sesuai. Jika IC6 merasa bahwa kendala dikarenakan kosong pabrik obat generic terbatas, jika paten terhalang dengan peraturan.
Jadi menurut hasil wawancara jawaban informan dapat dibuktikan dengan melihat kotak 12
Kotak 12
Kendala-kendala yang sering ditemui saat melakukan perencanaan obat?
“apa ya? ….. tidak ada, kecuali waktu” (SP)
“ … dropnya sedikit, pembelian oleh kebijakan pemkot.” (IC1)
“… ya itu mbak drop sedikit, padahal sudah memesan secara benar namun kadang di pabrik habis, jadi harus menunggu.” (IC2)
“ … Drop sedikit, pembelian oleh kebijakan pemkot.” (IC3) “… tidak ada kendala” (IC4)
“… kosong pabrik obat generic terbatas, jika paten terhalang dengan peraturan” (IC6)
Dalam perencanaan obat SP memerlukan beberapa proses, dari membutuhkan dokumen yang dihitung untuk menemukan pola penyakit yang ada di Puskesmas jadi kita dapat mengetahui penyakit yang sering terjadi dan menjadi penyakit tertinggi di wilayah kerjanya atau penyakit yang jarang terjadi.
(IC1, IC2, IC3, IC4), adalah informan crosscheck yang melaporkan setiap harinya pola penyakit.
(IC1) biasanya menggunakan rekapan tiap bulan, memasukan ke Simpus penyakit, jika BPJS menggunakan p-care dan ini dilakukan setiap hari dan kegiatan ini dilakuikan oleh asisten atau bida dilatakan dilakukan oleh perawat. (IC2) biasanya juga menggunakan hasil rekapan yang dibuat tiap bulan. Subjek triangulasi (IC3 dan IC4) menggunkaan buku laporan tiap bulan yang dikumpulkan sesuai program kerja. Jadi menurut hasil wawancara dapat dibuktikan dengan melihat kotak 13
Kotak 13
Dokumen apa saja yang digunakan untuk menemukan pola penyakit di puskesmas?
“… rekapan tiap bulan, memasukan ke Simpus penyakit, jika BPJS menggunakan p-care.” (IC1)
“… rekapan yang dibuat tiap bulan” (IC2)
“… buku laporan tiap bulan yang dikumpulkan sesuai program kerja.” (IC3) “… buku yang dilaporkan tiap bulan sesuai pokja” (IC4)
Apakah dalam proses perencanaan yang di buat saat ini sesuai? “…ya sudah sesuai” (IC5)
Setiap puskesmas memiliki wilayah kerjanya masing-masing dengan kondisi yang secara garis besarnya berbeda-beda pula, meliputi masalah jumlah penduduk, masalah lingkungan, serta masalah kebiasaan penduduk.
Di Puskesmas Rowosari misalnya secara garis besar wilayahnya berada di dua lingkungan misalnya yang pertama bisa dikatakan masuk ke pedalaman atau kampung memiliki lingkungan yang berdebu dan diwilayah dengan kondisi yang baik.
Di lingkungan yang masuk ke pedalaman penduduknya memiliki kebiasaan yang masih perlu banyak belajar karena disana bisa dikatakan memiliki penetahuan tentang kesehatan yang masih minim, jadi membuat kemungkinan dalam terjangkit penyakit masih tinggi, karena wilayahnya berdebu jadi penyakit tertinggi bisa dikatakan adalah penyakit ISPA.
Di lingkungan yang baik atau bersih penduduknya dominan adalah mahasiswa karena wilayahnya dekat kampus UNDIP. Dan biasanya mahasiswa memiliki sifat yang masih tidak jauh dengan kebiasaannya di tempat asal. Semisal si mahasiswa memiliki kebiasaan yang masih mementingkan kebersihan jadi di kosan iya masih berusaha agar tidak terjangkit penyakit seperti gatal-gatal atau penyakit DB apabila si mahasiswa memiliki kebiasaan yang buruk maka terkena penyakit seperti gatal atau DB dapat terjangkit dengan mudah.
Di Puskesmas rowosari (IC1, IC2, IC3) selalu melaporkan dengan membuat rekapan setiap hari yang dilakukan oleh perawat masing-masing program. Dan (IC4) ya selalu setelah melihat langsung atau biasa disebut PE. Dan sebulan sekali dilakukan perhitunganpola penyakit.
Jadi menurut hasil wawancara dapat dibuktikan dengan melihat kotak 14
Kotak 14
Apakah anda melaporkan mengenai kondisi penyakit yang sering ada diwilayah kerja?
“… selalu melaporkan penyakit apa saja yang hari ini di periksa dan membuat rekapan yang dilakukan oleh perawat” (IC1)
“ ya selalu dilaporkan” (IC2)
“… ya selalu dilaporkan dan rekapan dibuat setiap hari dan dilakukan oleh perawat”(IC3)
“ … ya selalu melaporkan, di masalah P2B2” (IC4)
Berapa bulan sekali dilakukan perhitungan pola penyakit di Puskesmas?
“ sebulan sekali” (IC4)
Setiap puskesmas berada di bawah peraturan Dinkes masing-masing kota. Didalam kegiatan apapun, sebaiknya ada pemberitahuan ke Dinkes. Begitu pula dengan alur dalam mengerjakan perencanaan obat.
Setelah Puskesmas membuat perencanaan obat dimasing-masing Puskesmas dan mengirim ke IC6 maka tim perancang mengumpulkan data dari puskesmas nanti disusun kembali oleh IC6 untuk melakukan persetujuan Kepala Dinas, menunggu anggaran turun lalu IC6 menyesuaikan antara hasil perhitungan dengan anggaran yang turun, itu merupakan tanggung jawab tim IC6.
karena tidak semua obat yang sudah direncanakan pengadaannya dilakukan oleh DInkes maka terdapat 2 macam pengadaan obat yaitu yang melakukan pengadaan sendiri dengan anggaran BPJS dan pengadaan yang dilakukan oleh Dinkes yang berada di IF. Pengadaan yang dilakukan sendiri tidak lepas dari perijinan Dinkes, Puskesmas juga melaporkan hasil perencanaan yang di lakukan. Dan obat yang ada harus terdaftar di e-catalog, karena jika ada di e-catalog maka tergolong obat legal.
Jadi menurut hasil wawancara dapat dibuktikan dengan melihat kotak 14
Kotak 15
Bagaimana alur prosedur perencanaan obat?
“tim perancang mengumpulkan data dari puskesmas nanti kita susun rencana obat yang dari DKK melakukan persetujuan Kepala Dinas, jika Kepala Dinas sudah menyetujui rencana obat kita tinggal menunggu anggaran dapatnya berapa. Dari anggarandisesuaikan karena bisa jadi tidak terbeli semua atau bisa terbeli semua namun jumlah stok tidak sesuai entah kebanyakan atau kurang. Yang menyesuaikan tim, tim meminta anggaran baru melakukan pengadaan biasanya dibagi 2 di e-catalog bisa dilakukan sendiri melalui e-purcashing atau diluar e-catalog yang dikumpulkan nanti kita kirim ke unit lelang dan pengadaan”
ALUR
Gambar 4.1 Alur perencanaan Obat
PETUGAS PENGELOLA OBAT (ASISTEN
APOTEKER)
Dokter umum, dokter gigi, bidan Kepala Puskesmas Dinas Kesehatan Kota IF Dilakukan droping ke puskesmas SIMPUS