• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL MASTERY LEARNING TERHADAP EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN PASSING BAWAH BOLAVOLI (STUDI PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 PACET)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH MODEL MASTERY LEARNING TERHADAP EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN PASSING BAWAH BOLAVOLI (STUDI PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 PACET)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL MASTERY LEARNING TERHADAP EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN PASSING BAWAH BOLAVOLI

(STUDI PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 PACET)

Septialinda Ristyaningtyas*

Abstrak, Model mengajar merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Guru berperan dalam mengatur dan mngkondisikan lingkungan belajar agar siswa dapat belajar dengan aman dan nyaman. Model mastery learning diharapkan dapat

memperlancar proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan pendekatan

diskriptif kuantitatif, desain penelitian Randomized control group posttest only design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pacet. Pengambilan sampel dengan menggunakan cluster random sampling yaitu pengambilan sampel bukan individu melainkan kelompok. Cara memperoleh data menggunakan angket Formative Class Evaluation untuk mengetahui efektivitas dalam pembelajaran passing bawah bolavoli ditinjau dari pendapat siswa dan hasil belajar siswa untuk mengetahui kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor. Dari hasil analisis menggunakan tabel formative evaluation scoring sheet didapatkan rata-rata 3 kali pertemuan dari 4 komponen pokok yang ada dalam angket FCE untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen mempunyai rata-rata hasil keseluruhan yang sama yaitu nilai 4 kategori baik. Hasil belajar siswa untuk kelompok kontrol mendapatkan rata-rata kelas sebesar 79,54. Persentase siswa lulus KKM sebesar 81,58% dan yang tidak lulus sebesar 18,42%. Sedangkan kelompok eksperimen mendapatkan rata-rata kelas sebesar 83,77. Persentase siswa lulus KKM sebesar 94,87% dan siswa yang dinyatakan tidak lulus sebesar 5,13%. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) ada pengaruh penerapan model mastery learning terhadap efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli. 2) besar pengaruh model mastery learning berdasarkan dari hasil uji t menunjukkan bahwa nilai 3,5807 > 1,6645 dan adanya peningkatan efektivitas sebesar 3,5807 atau sebesar 2,59%.

Kata Kunci : Model Mastery learning, Efektivitas, dan Passing Bawah.

*) Mahasiswa Jurusan Pendidikan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Surabaya, angkatan 2009, email: [email protected]

(2)

Pendahuluan

Pada kegiatan pembelajaran Penjasorkes ada dua proses yang berlangsung yaitu kegiatan belajar dan kegiatan mengajar. Proses interaksi ini melibatkan guru sebagai sumber informasi dan siswa sebagai subyek didik. Guru akan mengajarkan berbagai materi sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Materi yang akan diajarkan tentu harus direncanakan sedemikian rupa agar tujuan pembelajaran tercapai. Persiapan yang dilakukan adalah mendesain pembelajaran mulai dari menyiapkan materi yang sesuai dengan karakteristik siswa, menentukan metode mengajar yang sesuai dengan kondisi sekolah dan kemampuan siswa, dan menentukan alat atau media pembelajaran, dalam hal ini model mengajar merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar.

Model mengajar Mastery Learning, yang dalam istilah Benjamin Bloom disebut learning for mastery, adalah pendekatan mengajar yang mengacu pada penetapan kriteria hasil belajar. Kriteria tingkat keberhasilan belajar meliputi: pengetahuan, konsep, keterampilan, sikap dan nilai (Syah, 2010:196). Implementasi mastery learning pada proses pembelajaran sesuai dengan peranannya yang sangat penting, para guru mempunyai tugas-tugas pokok dalam mengelola, merencanakan, mengevaluasi, dan membimbing kegiatan belajar mengajar dengan sebaik-baiknya disamping memahami siswa dengan segala karakteristiknya, mengetahui tujuan apa yang harus dicapai setelah adanya proses pembelajaran sehingga terjadi proses pengalaman belajar yang baik. Guru juga perlu memiliki beberapa prinsip mengajar yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal siswa di dalam merangsang strategi pembelajaran ataupun melaksanakan pembelajaran. Peningkatan potensi internal itu salah satunya dengan menerapkan jenis-jenis strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa mampu mencapai kompetensi secara penuh utuh dan kontekstual strategi pembelajaran tersebut dikenal dengan strategi mastery learning. Strategi mastery learning dapat diterapkan secara tuntas sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan, terutama dalam level mikro yaitu mengembangkan individu dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini tidak menuntut perubahan besar-besaran baik dalam kurikulum maupun pembelajaran, tetapi yang penting adalah merubah

(3)

strategi guru terutama berhubungan dengan waktu. Perhatian guru terhadap waktu bukan waktu yang dibutuhkan untuk mengajar melainkan waktu yang digunakan peserta didik untuk belajar sampai taraf penguasaan bahan sepenuhnya (mastery learning).

Peneliti melihat bahwa dalam praktik di lapangan seperti dalam mengajar mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk permainan bolavoli media atau alat bantu yang digunakan dalam menyajikan materi pada umumnya disampaikan melalui metode demonstrasi langsung tanpa menggunakan alat bantu lainnya. Menurut observasi peneliti terhadap Bapak Agus Siswanto salah satu guru Penjasorkes di SMA Negeri 1 Pacet pada tanggal 10 November 2012, belum pernah digunakan peralatan yang menunjang untuk media penyampaian materi ajar pendidikan jasmani seperti Liquid Crystal Display Projector (LCD), komputer dan ruang multimedia. Oleh karena itu perlu adanya model mengajar baru yaitu Model Mastery Learning yang yang didalamnya terdapat 5 tahap pembelajaran salah satunya adalah penggunaan alat-alat audio-visual. Berdasarkan uraian tersebut diharapkan penelitian ini dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli khususnya untuk kelas XI SMA Negeri 1 Pacet.

Masalah Penelitian

Penentuan model mengajar guru menjadi salah satu faktor tercapainya tujuan pembelajaran mata pelajaran Penjasorkes di sekolah. Fokus utama penelitian ini adalah ingin mengungkap pengaruh model mastery learning terhadap efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli, kelas XI. Permasalahan tersebut selanjutnya dirinci sebagai berikut.

1. Adakah pengaruh Model Mastery Learning Terhadap Efektivitas Pembelajaran Passing Bawah Bolavoli pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pacet?

2. Seberapa besar pengaruh Model Mastery Learning Terhadap Efektivitas Pembelajaran Passing Bawah Bolavoli pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pacet?

(4)

Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengaruh model mastery learning terhadap efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli. Secara lebih terperinci tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui pengaruh Model Mastery Learning terhadap efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pacet.

2. Untuk mengetahui besar pengaruh Model Mastery Learning terhadap efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pacet.

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan pendekatan deskriptif kuantitatif, yakni penelitian yang dilakukan secara ketat untuk mengetahui hubungan sebab akibat diantara variabel-variabel (Maksum, 2009:48). Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Randomized Control group Posttest Only Design, yakni menggunakan kelompok kontrol, subjek ditempatkan secara acak sehingga antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dianggap setara. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengaruh model mastery learning, sedangkan variabel terikat adalah efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli.

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Pacet dengan populasi seluruh siswa kelas XI. Pengambilan sampel dengan menggunakan cluster random sampling. “Cluster random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak yang diambil bukan individu, melainkan kelompok atau area yang kemudian disebut cluster” (Maksum, 2009:43). Kemudian didapatkan kelas XI IPA 1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas XI IPS 1 sebagai kelompok kontrol.

Ada dua jenis instrumen yang dipakai dalam penelitian ini, yakni Formative Class Evaluation (FCE) dan hasil belajar siswa.

1. Lembar Kuesioner Formative Class Evaluation (FCE). Yang dimaksud dengan angket atau kuesioner FCE adalah untuk mengetahui efektivitas

(5)

pembelajaran Penjasorkes dari sisi pendapat siswa. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Lembar kuisioner Formative Class Evaluation terdiri dari 9 pertanyaan yang didalamnya terdapat 4 komponen pokok berisi hasil, kemauan, metode dan kerjasama. Kuesioner ini diberikan setelah guru selesai memberikan materi. Penilaian jawaban dari masing-masing item pertanyaan adalah nilai 3 untuk alternatif jawaban “Ya”, nilai 1 untuk alternatif jawaban “Tidak”, dan nilai 2 untuk alternatif jawaban “Tidak Tahu”. Kategori skor lembar FCE adalah nilai 5 dengan kategori sangat baik, 4 dengan kategori baik, 3 dengan kategori sedang, 2 dengan kategori kurang, dan 1 dengan kategori kurang sekali. 2. Hasil Belajar Siswa. Yang dimaksud dengan ketuntasan hasil belajar siswa

adalah tingkat keberhasilan guru dalam mengajarkan materi pelajaran Penjasorkes dan diukur dengan tiga komponen, yaitu psikomotor dengan bobot 50%, Kognitif dengan bobot 30%, dan Afektif dengan bobot 20%. Dalam penelitian ini ketiga komponen ketuntasan belajar siswa diambil pada saat siswa melakukan pembelajaran di kelas dan tugas gerak di lapangan. Hasil tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabel pembobotan nilai pada masing-masing komponen. Ketuntasan hasil belajar Penjasorkes menggunakan standar ketuntasan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang dipakai di SMA Negeri 1 Pacet dengan nilai minimum sebesar 75. Dalam penelitian ini penentuan batas kelulusan menggunakan Penilaian Acuan Norma (PAN). Menurut Mahardika (2010:260) penentuan batas kelulusan dengan menggunakan sistem PAN didasarkan pada nilai rata-rata kelas dan simpangan bakunya.

Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner untuk FCE dan penilaian tiga komponen hasil belajar (kognitif, afektif dan psikomotor) kepada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Secara garis besar prosedur penelitian dapat diuraikan sebagai berikut.

(6)

a. Tahap persiapan

1. Memberikan pembekalan kepada ketiga observer mahasiswa Jurusan Pendidikan Olahraga angkatan 2009 sebagai petugas pengamat dan pengumpul data komponen afektif dan psikomotor.

2. Materi pembekalan terkait dengan tujuan penelitian, karakteristik sampel, instrumen penelitian, dan prosedur pengumpulan data.

3. Poin 1 dan 2 tersebut di atas dilakukan di Surabaya. b. Tahap pelaksanaan

1. Pertemuan pertama

Pelaksanaan pembelajaran kelompok kontrol hari selasa tanggal 20 Nopember 2012 pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 08.30 WIB yaitu materi passing bawah bolavoli di lapangan yang dilakukan oleh guru. Ketiga observer melakukan pengamatan dan penilaian terhadap komponen afektif kepada siswa. Selesai kegiatan pembelajaran, peneliti memberikan angket FCE untuk diisi siswa berdasarkan pengalaman yang didapat selama pembelajaran berlangsung.

Pelaksanaan pembelajaran kelompok eksperimen hari selasa tanggal 20 Nopember 2012 pukul 08.30 WIB sampai dengan pukul 10.00 WIB yaitu materi passing bawah bolavoli di kelas dengan menggunakan model mastery learning yang dilakukan oleh guru. Pembelajaran yang dilakukan di kelas adalah kegiatan presentasi materi passing bawah bolavoli. Ketiga observer melakukan pengamatan dan penilaian terhadap komponen afektif kepada siswa. Selesai kegiatan pembelajaran, dilakukan penilaian terhadap komponen kognitif untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menerima pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan peneliti memberikan angket FCE untuk diisi siswa berdasarkan pengalaman yang didapat selama pembelajaran berlangsung.

2. Pertemuan kedua

Pelaksanaan pembelajaran kelompok kontrol hari selasa tanggal 27 Nopember 2012 pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 08.30 WIB yaitu materi passing bawah bolavoli di lapangan yang dilakukan oleh guru. Ketiga observer melakukan pengamatan dan penilaian terhadap

(7)

komponen afektif kepada siswa. Selesai kegiatan pembelajaran, peneliti memberikan angket FCE untuk diisi siswa berdasarkan pengalaman yang didapat selama pembelajaran berlangsung.

Pelaksanaan pembelajaran kelompok eksperimen hari selasa tanggal 27 Nopember 2012 pukul 08.30 WIB sampai dengan pukul 10.00 WIB yaitu materi passing bawah bolavoli di lapangan yang dilakukan oleh guru. Ketiga observer melakukan pengamatan dan penilaian terhadap komponen afektif kepada siswa. Selesai kegiatan pembelajaran, peneliti memberikan angket FCE untuk diisi siswa berdasarkan pengalaman yang didapat selama pembelajaran berlangsung.

3. Pertemuan ketiga

Pelaksanaan pembelajaran kelompok kontrol hari selasa tanggal 04 Desember 2012 pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 08.30 WIB yaitu penilaian psikomotor dan kognitif passing bawah bolavoli. Ketiga observer melakukan pengamatan dan penilaian terhadap komponen psikomotor dan afektif kepada siswa. Selesai kegiatan pembelajaran, dilakukan penilaian komponen kognitif untuk mengetahui seberapa jauh siswa memahami materi setelah tiga kali pertemuan mendapatkan materi passing bawah bolavoli, dan dilanjutkan dengan peneliti memberikan angket FCE untuk diisi siswa berdasarkan pengalaman yang didapat selama pembelajaran berlangsung.

Pelaksanaan pembelajaran kelompok eksperimen hari selasa tanggal 04 Desember 2012 pukul 08.30 WIB sampai dengan pukul 10.00 WIB yaitu penilaian psikomotor materi passing bawah bolavoli. Ketiga observer melakukan pengamatan dan penilaian terhadap komponen psikomotor dan afektif kepada siswa. Selesai kegiatan pembelajaran, peneliti memberikan angket FCE untuk diisi siswa berdasarkan pengalaman yang didapat selama pembelajaran berlangsung.

Analisis data secara kuantitatif dilakukan setelah data dari responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah: mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab

(8)

rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh model mastery learning terhadap efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli, maka digunakan penghitungan secara manual dan menggunakan program komputer Statistical Package For The Social Sciences (SPSS). Data-data tersebut diolah dan hasil akhir berupa persentase.

Pendidikan Jasmani

Menurut Maksum (2009:60) “Pendidikan Jasmani, yang dalam kurikulum disebut secara paralel dengan istilah lain menjadi Pendidikan Jasmani, Olahragadan Kesehatan merupakan salah satu mata pelajaran yang disajikan di sekolah, mulai dari SD sampai dengan SMA”. Pendidikan Jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan (CDC, 2000; Disman, 1990; Pate dan Trost, 1998 dalam Maksum, 2009:61).

Pengalaman gerak yang didapatkan siswa dalam Pendidikan Jasmani merupakan kontributor penting bagi peningkatan angka partisipasi dalam aktivitas fisik dan olahraga yang sekaligus juga merupakan kontributor penting bagi kesejahteraan dan kesehatan siswa (Siedentop, 1990; Ratliffe, 1994; Thomas and Laraine, 1994; Stran and Ruder, 1996; CDC, 2000 dalam Maksum, 2009;61). Untuk itu tidak mengherankan peningkatan kualitas dan efektivitas proses belajar mengajar (PBM) Pendidikan Jasmani selalu menjadi fokus perhatian semua pihak yang peduli terhadap pendidikan.

Model Mastery Learning

Konsep mastery learning sebenarnya bukanlah barang baru dalam bidang pendidikan, karena telah dikembangkan oleh Carleton Wasburne dan teman-temannya pada tahun 1920 dan Henry C. Morrison di Laboratory School Universitas Chicago tahun 1926. Model mastery learning kemudian dikembangkan oleh Bloom dan Carrol pada tahun 1963 berdasarkan

(9)

penemuannya mengenai “Model School Learning” (Suryosubroto dalam Istiarsono, 1997:99). Model mengajar mastery learning menurut Benjamin Bloom disebut learning for mastery pada dasarnya merupakan pendekatan mengajar yang mengacu pada penetapan kriteria hasil belajar.

Dalam pedoman yang dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional yang dimaksud dengan mastery learning adalah pendekatan pembelajaran yang mempersyaratkan siswa agar menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu (Depdiknas, 2003-2004:9). Menurut Oemar Hamalik dalam Istiarsono (2001:85), mastery learning adalah suatu strategi pengajaran yang diindividualisasikan dengan menggunakan pendekatan kelompok.sedangkan menurut Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati dalam Istiarsono (1993:96) mastery learning adalah pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan setiap unit pelajaran baik secara perseorangan maupun kelompok, dengan kata lain apa yang dipelajari siswa dapat dikuasai sepenuhnya. Efektivitas Pembelajaran

Gambaran umum tentang efektivitas mengajar menurut Maksum (2009:65) adalah ditandai oleh gurunya yang selalu aktif dan siswanya secara konsisten aktif belajar. Dalam lingkungan pembelajaran yang efektif, siswa tidak bekerja sendiri melainkan selalu diawasi oleh gurunya dan mereka tidak mempunyai banyak waktu yang terbuang begitu saja. Jalannya aktivitas belajar begitu aktif, sibuk, dan menantang bagi siswa akan tetapi masih berada diantara tingkat perkembangan dan kemampuan siswanya. Diharapkan siswa dapat menerima pesan atau instruksi dari gurunya dengan baik dan dapat melakukan latihan secara independen mempelajari sesuatu sesuai dengan tujuan pembelajarannya.

Passing Bawah Bolavoli

“Passing bawah adalah mengoperkan bola kepada teman sendiri dalam satu regu dengan suatu teknik tertentu, sebagai langkah awal untuk menyusun pola serangan kepada regu lawan” Pardijono dan Hidayat (2011:19). Sedangkan menurut Lestari 2008:175) “Passing bawah adalah sebuah passing yang dilakukan pemain dengan menggunakan lengan bawahnya untuk memukul bola yang jatuh setinggi pinggang”. Didalam permainan bolavoli, memainkan bola dengan teknik

(10)

passing bawah ada kalanya harus dilakukan dengan satu tangan yang mana posisi bola tidak memungkinkan dilakukan dua tangan jika bola jatuh jauh dari posisi pemain baik di depan maupun di samping kanan atau kiri.

Hasil Penelitian Data Formative Class Evaluation (FCE)

Data yang diperoleh dari lapangan maka akan didiskripsikan menggunakan penghitungan kuisioner angket Formative Class Evaluation (FCE) dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran passing bawah bolavoli sesuai pendapat siswa.

1. Kelompok kontrol

Tabel 1 Rekapitulasi FCE Pertemuan I, II, III

Komponen Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori

Hasil 2,76 5 2,62 4 2,55 4 Kemauan 2,59 3 2,61 3 2,66 3 Metode 2,47 3 2,55 3 2,53 3 Kerjasama 2,72 4 2,72 4 2,84 4 Nilai Akhir Pertemuan 2,65 4 2,62 4 2,63 4

Tabel 2 Rekapitulasi 3 Pertemuan

Komponen Nilai 3 Pertemuan

Nilai Kategori

Hasil 2,64 4

Kemauan 2,62 3

Metode 2,52 3

Kerjasama 2,76 4

Nilai Akhir Pertemuan 2,64 4

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pembelajaran dari tiga kali pertemuan komponen hasil mendapatkan nilai 2,64 dikategori baik, komponen kemauan mendapatkan nilai 2,62 di kategori sedang, komponen metode mendapatkan nilai 2,52 di kategori sedang, komponen kerjasama mendapatkan nilai 2,76 di kategori baik. Nilai akhir yang didapat dari tiga kali pertemuan yaitu 2,64 di kategori baik. Dari hasil tersebut dikatakan

(11)

bahwa proses pembelajaran pada saat penelitian menurut pendapat siswa berjalan dengan baik.

2. Kelompok eksperimen

Tabel 3 Rekapitulasi FCE Pertemuan I, II, III

Komponen Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III Nilai Kategori Nilai Kategori Nilai Kategori

Hasil 2,61 4 2,74 5 2,69 4 Kemauan 2,60 3 2,86 4 2,82 4 Metode 2,51 3 2,79 4 2,90 5 Kerjasama 2,86 5 2,87 5 2,88 5 Nilai Akhir Pertemuan 2,64 4 2,80 5 2,81 5

Tabel 4 Rekapitulasi 3 Pertemuan

Komponen Nilai 3 Pertemuan

Nilai Kategori

Hasil 2,68 4

Kemauan 2,76 3

Metode 2,73 4

Kerjasama 2,87 5

Nilai Akhir Pertemuan 2,75 4

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa pembelajaran dari tiga kali pertemuan komponen hasil mendapatkan nilai 2,68 dikategori baik, komponen kemauan mendapatkan nilai 2,76 di kategori sedang, komponen metode mendapatkan nilai 2,73 di kategori baik, komponen kerjasama mendapatkan nilai 2,87 di kategori sangat baik. Nilai akhir yang didapat dari tiga kali pertemuan yaitu 2,75 di kategori baik. Dari hasil tersebut dikatakan bahwa proses pembelajaran pada saat penelitian menurut pendapat siswa berjalan dengan baik.

Data Hasil Belajar

Data ketuntasan hasil belajar siswa menunjukkan tingkat keberhasilan guru dalam mengajarkan suatu materi pelajaran di kelas. Ketuntasan hasil belajar siswa diukur meliputi tiga komponen yaitu: (1) Psikomotor memiliki bobot 50%, (2) Kognitif memiliki bobot 30%, dan (3) Afektif memiliki bobot 20%. Dalam

(12)

penelitian ini ketiga komponen ketuntasan belajar siswa diambil pada saat siswa melakukan pembelajaran di kelas dan tugas gerak di lapangan. Hasil tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabel pembobotan nilai pada masing-masing komponen.

1. Nilai ranah afektif

Tabel 5 Rekapitulasi Afektif Kelompok Kontrol

Analisis Nilai Pertemuan Nilai Akhir

1 2 3

Rerata Kelas 83,33 86,89 91,24 87,16

Siswa diatas Rerata 21 19 19 20

Siswa dibawah Rerata 17 19 19 18

Nilai Tertinggi 100,00 100,00 100,00 100,00 Nilai Terendah 60,42 78,06 85,71 74,73 Jumlah Siswa L KKM 32 38 38 36 Jumlah Siswa TL KKM 6 0 0 2 Persentase Kelulusan Siswa Lulus KKM 84,21% 100,00% 100,00% 94,74% Siswa Tidak Lulus KKM 15,79% 0,00% 0,00% 5,26%

Tabel 6 Rekapitulasi Afektif Kelompok Eksperimen

Analisis Nilai Pertemuan Nilai Akhir

1 2 3

Rerata Kelas 84,41 90,88 85,94 87,08

Siswa diatas Rerata 18 21 18 19

Siswa dibawah Rerata 21 18 21 20

Nilai Tertinggi 100,00 100,00 100,00 100,00 Nilai Terendah 72,21 79,72 72,37 74,77 Jumlah Siswa L KKM 29 39 35 34 Jumlah Siswa TL KKM 10 0 4 5 Persentase Kelulusan Siswa Lulus KKM 74,36% 100,00% 89,74% 88,03% Siswa Tidak Lulus KKM 25,64% 0,00% 10,26% 11,97%

2. Nilai ranah psikomotor

Tabel 7 Rekapitulasi Psikomotor Kelompok Kontrol

No. Hasil Tes Nilai Akhir

1 Rerata Kelas 74,49

(13)

No. Hasil Tes Nilai Akhir 3 Siswa di bawah rerata 22

4 Nilai tertinggi 100,00

5 Nilai terendah 52,22

6 Jumlah siswa lulus KKM 16 7 Jumlah siswa tidak lulus KKM 22

Persentase Kelulusan

8 Siswa lulus KKM 41,03%

9 Siswa tidak lulus KKM 56,41%

Tabel 8 Rekapitulasi Psikomotor Kelompok Eksperimen

No. Hasil Tes Nilai Akhir

1 Rerata Kelas 83,81

2 Siswa di atas rerata 21 3 Siswa di bawah rerata 18

4 Nilai tertinggi 100,00

5 Nilai terendah 61,81

6 Jumlah siswa lulus KKM 32 7 Jumlah siswa tidak lulus KKM 7

Persentase Kelulusan

8 Siswa lulus KKM 82,05%

9 Siswa tidak lulus KKM 17,95%

3. Nilai ranah kognitif

Tabel 9 Rekapitulasi Kognitif Kelompok Kontrol dan Eksperimen

No. Hasil Tes Kelompok

Kontrol

Kelompok Eksperimen

1 Rerata Kelas 81,43 80,01

2 Siswa di atas rerata 18 16

3 Siswa di bawah rerata 20 23

4 Nilai tertinggi 100,00 100,00

5 Nilai terendah 56,52 66,29

6 Jumlah siswa lulus KKM 26 30

7 Jumlah siswa tidak lulus KKM 12 9 Persentase Kelulusan

8 Siswa lulus KKM 68,42% 76,92%

(14)

4. Nilai Akhir Hasil Belajar

Tabel 10 Rekapitulasi Hasil Belajar Kelompok Kontrol dan Eksperimen

Analisis Nilai Nilai Akhir

Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen

Rerata Kelas 79,54 83,77

Siswa diatas Rerata 18 20

Siswa dibawah Rerata 20 19

Nilai Tertinggi 89,47 92,16 Nilai Terendah 64,20 73,10 Jumlah Siswa L KKM 31 37 Jumlah Siswa TL KKM 7 2 Persentase Kelulusan Siswa Lulus KKM 81,58% 94,87%

Siswa Tidak Lulus KKM 18,42% 5,13%

Uji Hipotesis

Data yang akan disajikan berupa data yang diperoleh dari hasil belajar tes passing bawah bolavoli kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jumlah sampel yang digunakan kelompok kontrol adalah sebanyak 38 siswa dan kelompok eksperimen sebanyak 39 siswa.

1. Deskripsi data

Tabel 11 Deskripsi Data Kelompok Eksperimen dan Kontrol Deskripsi Data Kelompok Beda

Eksperimen Kontrol Mean 83,77 79,54 4,23 Standar Deviasi 4,50 5,67 -1,17 Varian 20,28 32,19 -11,91 Nilai Minimum 73,10 64,20 8,90 Nilai Maksimum 92,16 89,47 2,69 Besar Perbedaan 2,59%

Berdasarkan tabel 11 disajikan deskripsi data dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen memiliki rata-rata hasil tes passing bawah bolavoli sebesar 83,77 dengan standar sebesar 4,50, varian sebesar 20,28, nilai minimum yang diraih oleh siswa sebesar 73,10 dan nilai maksimum yang dapat diraih siswa sebesar 92,16. Sedangkan untuk kelompok kontrol didapatkan nilai rata-rata sebesar 79,54 dengan standar

(15)

deviasi sebesar 5,67, varian sebesar 32,19, nilai minimum yang diraih oleh siswa sebesar 64,20 dan nilai maksimum yang dapat diraih siswa sebesar 89,47.

Nilai beda rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah sebesar 4,23 dengan standar deviasi sebesar -1,17, varian sebesar -11,91, nilai beda antara siswa kelompok eksperimen yang memiliki nilai minimum dan siswa kelompok kontrol sebesar 8,90, sedangkan nilai beda antara siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang memiliki nilai maksimum sebesar 2,69. Hal ini berarti pengaruh model mastery learning untuk pembelajaran passing bawah bolavoli antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol ternyata memberikan rata-rata peningkatan yang positif yaitu sebesar 2,59%.

2. Uji beda rata-rata a. Uji Normalitas

Tabel 12 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data

Variabel N ( ) hitung ( ) tabel Keterangan Kelompok Eksperimen 39 5,00183 5,99146 Normal Kelompok Kontrol 38 3,17172 5,99146 Normal b. Uji Homogenitas

Tabel 13 Hasil Uji Homogenitas Antar Kelompok

Kelompok Keterangan

Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

1,58761165 3,970 Homogen

c. Uji T

Tabel 14 Hasil Uji T

Keterangan

3,5807 1,6645 Ha diterima

Dengan mengkonsultasikan nilai pada tabel maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima karena nilai

(16)

3,5807 > 1,6645 Dengan kata lain bahwa ada pengaruh nilai efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli ditinjau dari pemberian model mengajar. Berdasarkan analisis ada perbedaan persentase sebesar 2,59% antara nilai efektivitas pembelajaran kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.

Pembahasan

Dalam bagian ini akan dibahas tentang perbedaan efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Efektivitas yang dimaksud adalah dilihat dari tanggapan siswa terhadap proses pembelajaran yang diciptakan oleh guru melalui pengisian angket FCE dan hasil belajar siswa dengan menggunakan penilaian ranah afektif 20%, psikomotor 50%, kognitif 30%.

Angket FCE memuat empat komponen indikator efektivitas pembelajaran berupa komponen hasil, kemauan, metode dan kerjasama yang dijabarkan melalui sembilan butir pertanyaan. Sedangkan untuk hasil belajar siswa, ranah afektif diamati oleh 3 observer yang bertugas mengamati dan menilai sikap siswa yaitu perilaku berkarakter (disiplin dan sungguh-sungguh) dan perilaku sosial (berpendapat dan mendengarkan), ranah psikomotor juga diamati dan dinilai oleh 3 observer yaitu tentang kemampuan keterampilan siswa meliputi presentasi, sikap permulaan, sikap perkenaan sikap akhir pada saat melakukan passing bawah bolavoli, selanjutnya adalah ranah kognitif, pada ranah ini siswa diminta mengerjakan 4 butir soal tanpa membuka buku, kemudian akan didapatkan hasil kognitif siswa. Dari ketiga ranah tersebut akan didapatkan hasil akhir belajar siswa baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.

1. Perbedaan berdasarkan angket FCE

Dalam penelitian ini efektivitas pembelajaran dibuktikan salah satunya dengan instrumen formative class evaluation (FCE) yaitu mengetahui efektivitas proses pembelajaran dengan melihat tanggapan siswa. Dari seluruh tanggapan siswa nilai efketivitas pembelajaran penjasorkes sebagaimana terlihat pada gambar 15 berikut ini.

(17)

Gambar 15 Efektivitas Pembelajaran Berdasarkan Angket FCE Keterangan:

Nilai 5 : Sangat Baik Nilai 4 : Baik

Nilai 3 : Sedang Nilai 2 : Kurang Nilai 1 : Kurang Sekali

Dari grafik tersebut dapat dilihat pada nilai akhir pertemuan bahwa tidak terdapat perbedaan antara nilai efektivitas pembelajaran antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Tetapi jika melihat 4 komponen yaitu hasil, kemauan, metode dan kerjasama terdapat beberapa perbedaan yaitu pada komponen metode dimana nilai kelompok eksperimen adalah 4 (baik) dan nilai kelompok kontrol 3 (sedang). Komponen kerjasama juga terdapat perbedaan nilai kelompok eksperimen adalah 5 (sangat baik) dan nilai kelompok kontrol 4 (baik).

2. Perbedaan berdasarkan hasil belajar siswa

Dalam penelitian ini efektivitas pembelajaran dibuktikan selain menggunakan FCE tetapi juga menggunakan instrumen hasil belajar siswa. Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan penelitian, dan hasil penelitian tentang pengaruh model mastery learning terhadap efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan dari ketiga ranah hasil belajar yaitu ranah afektif 20%, ranah psikomotor 50%, ranah kognitif 30% menunjukkan hasil yang baik. Hal ini dapat dibuktikkan

4 3 4 5 4 4 3 3 4 4 0 1 2 3 4 5 6

Hasil Kemauan Metode Kerjasama Nilai Akhir Pertemuan Eksperimen Nilai Kontrol Nilai

(18)

berdasarkan gambar 16 yaitu perbedaan hasil belajar siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Gambar 16 Efektivitas Pembelajaran Berdasarkan Hasil Belajar

Berdasarkan gambar 16 terlihat besar perbedaan hasil belajar antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen seperti yang telah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya mengenai perbedaan hasil belajar di halaman 58. Persentase siswa yang lulus kelompok eksperimen mencapai 94,87%, siswa tidak lulus sebesar 5,13%, sedangkan persentase siswa yang lulus kelompok kontrol sebesar 81,58% dan siswa tidak lulus sebesar 18,42%. Jika melihat perbedaan besar persentase kelulusan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat disimpulkan bahwa model mastery learning memberikan pengaruh terhadap efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli sehingga dapat membantu guru dalam kegiatan belajar mengajar.

Simpulan dan Saran Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan pada bab IV, dapat dikemukakan simpulan sebagai berikut:

1. Terdapat pengaruh model mastery Learning terhadap efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli. Dibuktikan berdasarkan pendapat siswa (FCE) selama 3 kali pertemuan, secara keseluruhan menunjukkan hasil dengan

83 ,77 20 19 92,16 73,10 37 2 94,87% 5,13% 79,54 18 20 89,47 64,20 31 7 81,58% 18,42% Re ra ta K elas Sis w a d iat as Re ra ta Sis w a d ib aw ah Re ra ta N ilai T ertin ggi N ilai T ere n d ah Ju m lah Sis w a L KK M Ju m lah Sis w a TL KK M % S is w a Lu lu s KK M % S is w a Ti d ak Lu lu s KK M Analisis nilai

Analisis Hasil belajar

Eksperimen Kontrol

(19)

kategori yang baik dan penilaian ketuntasan hasil belajar siswa yang meliputi aspek afektif 20%, psikomotor 50%, dan kognitif 30% selama 3 kali pertemuan, secara keseluruhan menunjukkan hasil yang sangat baik yakni persentase kelulusan siswa yang lulus KKM mencapai 94,87% dan siswa tidak lulus KKM sebesar 5,13%.

2. Besar pengaruh model mastery learning terhadap efektivitas pembelajaran passing bawah bolavoli yaitu memberikan peningkatan positif sebesar 3,5807 atau sebesar 2,59%. Hasil uji t menunjukkan bahwa nilai 3,5807 >

1,6645. Maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang antara kemampuan

passing bawah bolavoli kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan menggunakan model mastery learning.

Saran

1. Sesuai dengan hasil penelitian maka sebaiknya pengaruh pembelajaran dengan menggunakan model mastery learning ini dijadikan acuan bagi para guru pengajar dalam usaha untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah khusunya pada pembelajaran materi passing bawah bolavoli.

2. Bagi peneliti selanjutnya pengembangan model mengajar selanjutnya perlu diadakan penelitian sejenis dengan pengaruh model mastery learning pada pembahasan pendidikan jasmani dengan pokok bahasan dan materi yang lain. 3. Bagi guru penjasorkes bisa menggunakan model mengajar dengan

penggunaan model mastery learning pada materi pembelajaran penjasorkes yang lain.

Daftar Pustaka

Badudu dan Zain. 2011. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Din, Achmad. Tanpa Tahun. Penerapan Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning.

(online) tersedia di:

file:///D:/11-01-2013%20PEMAPARAN%20SIDANG%20SKRIPSI/materi%20maste ry%20learning/penerapan-pembelajaran-tuntas-mastery.html pada 13 Januari 2013.

Istiarsono, Zen. Tanpa Tahun. Penerapan Mastery Learning pada Pembelajaran. (online) tersedia di: http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=ciri-ciri%20model%20mengajar%20mastery%20learning&source=web&c

(20)

d=1&cad=rja&ved=0CCgQFjAA&url=http%3A%2F%2Fpelangiilmu. jurnal.unesa.ac.id%2Fbank%2Fjurnal%2FPenerapan_Mastery_Learni ng_pada_Pembelajaran_%28zen_Istiarsono%29.pdf&ei=Ah_yUJ2TO IrZkgXXxIHYCg&usg=AFQjCNHa_vZtPP4d58H6Oy72fL5eLpm2G w&bvm=bv.1357700187,d.bmk pada 13 Januari 2013.

Junaidi. Tanpa Tahun. Titik Persentase atas Distribusi Chi-Square . (online) tersedia di: http://junaidichaniago.wordpress.com pada 13 Januari 2013.

Lestari, Nova. 2008. Melatih Bolavoli Remaja. Tanpa Kota: Citra Aji Parama. Mahardika, I Made Sriundy. 2010. Evaluasi Pengajaran. Surabaya: Unesa

University Press

Maksum, A. 2009. Kualitas Guru Pendidikan Jasmani di Sekolah Antara Harapan dan Kenyataan. Makalah dipresentasikan dalam forum penelitian Balitbang Depdiknas.

Maksum, A. 2008. Metode penelitian dalam olahraga. Surabaya: Tanpa Penerbit. Maksum, A. 2007. Statistik dalam olahraga. Surabaya: Tanpa Penerbit.

Pardijono dan Hidayat, T. 2011. Bolavoli. Surabaya: Unesa University Press. Prakoso, Bayu Budi. 2012. Perbandingan Efektivitas Pembelajaran Dikjasorkes

Ditinjau Dari Latar Belakang Guru Pemula. Tanpa Kota: Tanpa Penerbit.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tim Penyusun. 2006. Panduan Penulisan dan Penilaian Skripsi. Surabaya: Unesa University Press.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Cemerlang.

Wahab, Abdul Azis. 2007. Metode dan Model-model Mengajar. Bandung: Alfabeta.

Wijaya, Made Agus dan Astono. 2006. Hibah Penelitian Asisten Deputi Olahraga Pendidikan Deputi Bidang Pemberdayaan Olahraga Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Laporan akhir tidak diterbitkan.Surabaya: Program Pasca Sarjana Program Studi Pendidikan Olahraga Unesa.

Gambar

Tabel 1 Rekapitulasi FCE Pertemuan I, II, III
Tabel 3 Rekapitulasi FCE Pertemuan I, II, III
Tabel 6 Rekapitulasi Afektif Kelompok Eksperimen
Tabel 8 Rekapitulasi Psikomotor Kelompok Eksperimen
+5

Referensi

Dokumen terkait

Infusa daun bandotan (Ageratum conyzoides Linn.) mempunyai efek larvisida terhadap larva nyamuk Culex sp. 1.5

Dari hasil pengujian dan trial mix, superplasticizer tipe glenium-170 produk dari BASF dengan kandungan 1,1% sudah memenuhi syarat-syarat beton SCC dan silica fume

The objective of the study is to find the true meaning of the forty-day journey in the Mojave Desert conducted by the main characters, Paulo and Chris as seen in

It describes and identifies the grammatical cohesive devices used in the English Department theses of Dian Nuswantoro University especially in the background section in the

Alvi Mubaroq, Ginanjar. Yogyakarta: Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas

Penelitian ini bertujuan 1) Untuk mengetahui bentuk hubungan komunikasi antarpribadi yang terjalin antara guru dan siswa di kelas XII IPS 2 SMA Negeri 9 Marusu

[r]

memang harus ada di dalam jual beli lada agar harga yang akan diberikan. waktu transaksi tidak berbeda mungkin yang tidak boleh itu kalau