• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAKIKAT PENDIDIKAN JASMANI: Kolaborasi Aspek Belajar, Bermain, Dan Olahraga Untuk Pengembangan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HAKIKAT PENDIDIKAN JASMANI: Kolaborasi Aspek Belajar, Bermain, Dan Olahraga Untuk Pengembangan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

HAKIKAT PENDIDIKAN JASMANI:

Kolaborasi Aspek Belajar, Bermain, Dan Olahraga

Untuk Pengembangan Kecerdasan Majemuk (

Multiple Intelligences

)

Oleh:

Agus Kristiyanto

Dosen Pada Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan FKIP Universitas Sebelas Maret

Pendahuluan

Hakikat Pendidikan Jasmani memiliki berbagai titik pandang dalam rumusannya. Salah satu benang merah yang dapat dirumuskan dari pendidikan melalui media aktivitas fisik tersebut adalah terkait dengan pengembangan kecerdasan. Kecerdasan dalam pengertian yang luas sebenarnya tercipta dari sebuah rancangan pembelajaran yang berorientasi pada gerak, permainan, dan olahraga. Gerak, permainan dan olahraga merupakan pilar penyangga dari sebuah bangunan penting yang disebut pendidikan jasmani. Kebutuhan akan gerak, permainan, dan olahraga merupakan sebuah “naluri” yang dimiliki oleh manusia dalam setiap taraf perkembangan. Artinya, Pendidikan Jasmani sebenarnya tidak hanya diperlukan untuk membentuk kecerdasan anak-anak yang sedang tumbuh, melainkan diperlukan juga untuk “memperbaiki” kecerdasan orang dewasa, bahkan bagi lansia. Dengan demikian, Pendidikan jasmani itu memiliki konsep sepanjang hayat, Life Long Physical Education.

Dalam tataran budaya kita sebagian besar masyarakat masih menganut pemahaman kecerdasan dalam dimensi yang sempit. Kecerdasan dipahami dengan berfokus pada pengetahuan dan kecakapan relatif yang berguna di lingkungan sekolah semata. Kriteria dangkal kecerdasan dibangun dengan memaknai kecerdasan anak berdasarkan hasil tes standar dan tes bakat. Tes tersebut didasarkan pada kefasihan berbicara, keluasan penguasaan kosa kata, atau kecakapan dalam berhitung. Kriteria kecerdasan tersebut memang masih

(2)

relevan, tetapi kurang komprehensif terutama bila dikaitkan dengan situasi kontemporer yang menuntut life skills hasil belajar lebih dari sekadar kecerdasan hasil tes IQ (Intelligence Quotient).

Bagaimanakah dengan Multiple Intelligence atau Kecerdasan Majemuk? Adalah Howard Gardner yang mula pertama menemukan dan mengembangkan Teori Multiple Intelligence atau Kecerdasan Majemuk (KM). Teori KM mengembangkan suatu kriteria yang pragmatis tentang suatu kecerdasan, yaitu bahwa cerdas itu adalah” kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam masyarakat”, artinya bahwa fokus penggunaan kecerdasan berada pada tataran situasi kehidupan nyata. Dengan demikian, kecerdasan yang sebenarnya tentu jauh lebih banyak kriterianya dibandingkan hanya sekedar kecerdasan hasil tes IQ. Gardner mengembangkan Multiple Intelligences ke dalam 8 (delapan) jenis kecerdasan yang meliputi: (1) bahasa, (2) logika mathematika, (3) musikal, (4) kinestesis tubuh, (5) spasial, (6) naturalis, (7) interpersonal, dan (8) intrapersonal. (Thomas R Hoerr, 2007).

Rancangan belajar di sekolah seharusnya dikembangkan dengan diilhami oleh pemahaman tentang Multiple Intelligences atau Kecerdasan Majemuk (KM) ini. Artinya bahwa setiap anak atau siswa pada dasarnya memiliki kecerdasan masing-masing. Sekolah tidak boleh hanya menggunakan indikator kemampuan bahasa dan mathematik untuk memilih dan memilah antara siswa yang cerdas dan tidak cerdas. Kecerdasan yang sebenarnya adalah kemampuan untuk menciptakan produk dan menciptakan solusi untuk memecahkan masalah di masyarakat. Dengan demikian rancangan kurikulum mata pelajaran di sekolah sudah seharusnya berorientasi pada tujuan-tujuan memfasilitasi anak agar potensi produksi dan kemampuan solusi terbentuk. Pembelajaran di sekolah harus dirancang bagi terkembangkannya kecerdasan majemuk pada para siswa.

(3)

Potensi untuk mengembangkan kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences sebenarnya dimiliki oleh semua mata pelajaran yang diberikan secara formal di sekolah untuk semua jenjang yang ada. Namun demikian, sepertinya Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani merupakan mata pelajaran yang memiliki potensi terbesar untuk mengembangkan kecerdasan majemuk pada anak untuk setiap jejang pendidikan. Tujuan Pendidikan Jasmani adalah untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum melalui medium aktivitas jasmani. Rumusan yang demikian memberikan konsekuensi bahwa pembelajaran Pendidikan Jasmani dapat mencapai multiaspek tujuan belajar, yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor secara simultan.

Kajian ilmiah tentang potensi Pembelajaran Pendidikan Jasmani bagi pengembangan Multiple Intelligence atau Kecerdasan Majemuk berguna sebagai dasar berfikir bagi diselenggarakannya riset penyusunan model pembelajaran pendidikan jasmani. Kajian ilmiah diperlukan sebagai embrio bagi riset penyusunan model atau prototipe pembelajaran pendidikan jasmani untuk mengembangkan Multiple Intelligence atau Kecerdasan Majemuk.

Kajian Pustaka

Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) menurut Gardner meliputi 8 (delapan) jenis, yakni kecerdasan: Bahasa, Logika Matematika, Musikal, Kinestesis Tubuh, Spasial, Naturalis, Interpersonal, Intrapersonal (Thomas R Hoerr, 2007). Definisi Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) model Gardner sebagaimana dirinci dalam tabel berikut ini:

(4)

Tabel 1. Jenis Kecerdasan dan Definisinya (Gardner dalam Thomas R Hoerr, 2007)

Kecerdasan Definisi

Bahasa Kepekaan pada makna dan susunan kata

Logika Matematika Kemampuan untuk menangani relevansi/argumentasi serta mengenali pola dan urutan

Musikal Kepekaan terhadap pola titinada, melodi, irama, dan nada. Kinestesis Tubuh Kemampuan untuk menggunakan tubuh dengan terampil

dan memegang atau mengendalikan obyek dengan cakap. Spasial Kemampuan untuk mengindera dunia secara akurat dan

menciptakan kembali atau mengubah aspek-aspek dunia tersebut.

Naturalis Kemampuan untuk mengenali dan mengklasifikasi aneka spesies, flora dan fauna dalam lingkungan.

Interpersonal Kemampuan untuk memahami orang dan membina hubungan

Intrapersonal Akses pada kehidupan emosional diri sebagai sarana untuk memahami diri sendiri dan orang lain.

Kerangka fikir Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) adalah ”bahwa semua anak sebenarnya memiliki kecerdasan”. Kecerdasan yang dimiliki oleh setiap anak berbeda-beda. Sistem sekolah selama ini hanya menggunakan sebagian kecil indikator kecerdasan untuk menentukan cerdas dan tidaknya anak. Indikator yang digunakan sebatas pada kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika mathematika. Kecerdasan yang lain, seperti kecerdasan musikal, kinestesis tubuh, spasial, naturalis, interpersonal, dan intrapersonal belum terakomodasi secara proporsional dalam sistem persekolahan kita.

Sekadar penjelasan tambahan, banyak tokoh-tokoh dunia yang sukses sebagai icon dunia berdasarkan kecerdasan masing-masing,

(5)

Tabel 2. Tokoh Dunia dengan Kecerdasan yang berbeda (Gardner dalam Thomas R Hoerr, 2007)

Kecerdasan Tokoh Dunia

Bahasa Winston Churchil, Barbara Jordan, Doris K Goodwin

Logika Matematika Bill Gates, Stephen Hawking, Benjamin Banneker.

Musikal Ray Charles, Harry Connick Jr., Carly Simon. Kinestesis Tubuh Michael Jordan, Michelle Kwan, Mia Hamm. Spasial Maya Lin, Mary Angelbreit, Frank Lloyd

Wright.

Naturalis Charles Darwin, Jane Goodall, George Lewis. Interpersonal Collin Powel, Martin Luther King Jr., Deborah

Tannen.

Intrapersonal Eleanor Roosevelt, Anne Frank, Bill Moyers.

Joyful Learning Pendidikan Jasmani Untuk Kecerdasan Majemuk

Dewasa ini, para praktisi pendidikan banyak yang berkonsentrasi mengupayakan proses pembelajaran yang berpihak pada kebutuhan pengembangan kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) siswa. Terdapat banyak model pembelajaran yang mungkin dapat diadopsi oleh para guru penjas agar pembelajaran yang dikelola lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Salah satu bentuk pembelajaran tersebut berkonsep pada Joyful Learning atau belajar yang menyenangkan. Disain atau rancangan pembelajaran tersebut kemudian dielaborasi konsepnya menjadi konsep PAIKEM ( Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Konsep pembelajaran Penjas yang mengandung unsur PAIKEM merupakan prasarat dasar bagi pembelajaran yang membentuk kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) siswa.

Konsep PAIKEM dalam pembelajaran penjas sebenarnya merupakan pemaknaan tiap guru dalam mengembangkan suatu pembelajaran yang inovatif.

(6)

Setiap guru memiliki semacam ”hak prerogratif” agar pembelajaran yang dikelolanya menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan bermakna bagi siswa-siswanya. Artinya, bahwa PAIKEM dalam pembelajaran penjas bukan merupakan persoalan mengatur bentuk pembelajaran, melainkan sebuah ruh atau nafas pembelajaran penjas. Bentuknya boleh bervariasi yang bergantung pada daya kreasi guru, yang penting ruh pembelajaran hasil kreasi guru tersebut mengandung unsur Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.

Unsur Aktif terkait dengan rancangan pembelajaran yang lebih mengedepankan pada proporsi aktivitas yang lebih banyak kepada siswa. Pemahaman tentang sebuah makna dan pengalaman belajar ditempuh oleh siswa melalui aktivitas dengan waktu berpartisipasi secara optimal.

Unsur Inovatif sebenarnya bukan berkonotasi sebagai sesuatu yang luar biasa, tetapi dipahami sebagai: ”sesuatu pekerjaan yang biasa, tetapi dilakukan dengan cara yang tidak biasa”. Guru melakukan sesuatu yang biasa dilakukan, namun dengan cara yang tidak biasa dilakukan. Inovasi pembelajaran Penjas bukan merupakan sesuatu yang revolusioner, tetapi pembelajaran yang selalu terbuka secara fleksibel untuk menerima perubahan-perubahan pada komponen-komponen inti pembelajaran, seperti: komponen siswa, guru, serta tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Unsur Kreatif lebih mengarah pada persoalan ide-ide original guru dalam mengembangkan solusi menghadapi keterbatasan dan kendala di lapangan. Guru yang kreatif adalah guru yang mampu mengelola pembelajaran, walau dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Kreativitas guru juga tampak dari kemampuannya dalam melakukan modifikasi peralatan, lapangan, atau aturan-aturan permainan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keterbatasan para siswanya.

Unsur Efektif terkait dengan persoalan kemampuan rancangan proses pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran apa pun bukan merupakan sesuatu yang berguna jika tidak efektif untuk mencapai

(7)

tujuan pembelajaran itu sendiri. Pembelajaran penjas yang efektif mengandung aktivitas yang bermakna untuk mengantarkan seluruh siswa menjadi insan yang terdidik secara penjas.

Unsur Menyenangkan sebagaimana telah dijelaskan di depan, lebih tergantung pada merancang cara mengajar guru. Guru adalah manager, leader, dan decision maker atau pengambil keputusan. Guru yang bijaksana akan mengambil keputusan untuk mengembangkan cara mengajar yang menyenangkan bagi para siswanya. Iklim atau suasana pembelajaran yang menyenangkan akan meningkatkan partisipasi dan hasil pembelajaran penjas.

Selanjutnya, PAIKEM dalam pembelajaran penjas tersebut harus juga mensertakan berbagai komponen yang bervariasi yang meliputi : (1) multimedia, (2) multimetode, (3) praktik dan bekerja dalam tim, (4) memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar, (5) kombinasi di dalam dan di luar kelas, dan (6) pengembangan multiaspek dalam belajar yang meliputi: logika, etika, dan sebagainya.

Gambar 1. Pendidikan Jasmani Sepanjang Hayat (Life Long Physical Education)

(8)

Inovasi Pembelajaran dan Pencapaian Tujuan Penjas

Inovasi pembelajaran Pendidikan Jasmani kendatipun merupakan sebuah keharusan, namun dalam aplikasinya harus tetap mengarah pada upaya pencapaian tujuan Pendidikan Jasmani. Jika inovasi merupakan sebuah cara, maka cara tersebut tetap berorientasi pada pencapaian tujuan Pendidikan Jasmani. Antara upaya inovatif dan pencapaian tujuan terjadi sebuah ikatan yang kuat dan jelas. Inovasi dalam pembelajaran Penjas justru diharapkan mempertegas dan memperkuat arah menuju pencapaian tujuan Pendidikan Jasmani tersebut. Formulasi dan tujuan Pendidikan Jasmani yang relevan perlu lebih digali dan dipahami oleh guru, untuk mempertegas pengembangan inovasi pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian tujuan. Berbagai definisi dan tujuan Pendidikan Jasmani yang masih relevan dengan situasi kekinian, dapat disajikan sebagai berikut.

Nixon dan Jewett (1990) berpendapat bahwa Pendidikan Jasmani adalah satu fase dari proses pendidikan keseluruhan yang menggunakan kemampuan gerak individu secara sukarela, tetapi bermakna langsung terhadap perkembangan mental, emosional, dan sosial. Konsekwensinya, pendidikan jasmani harus dirancang secara khusus untuk memberikan pengaruh yang baik terhadap jasmani, emosi, sosial, dan intelektual.

Frost (1995) berpendapat bahwa Pendidikan Jasmani adalah bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang memberikan sumbangan terhadap perkembangan individu melalui media aktivitas jasmani dan gerak siswa. Semua urutan pengalaman belajarnya dirancang dengan hati-hati untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan, perkembangan, dan perilaku setiap siswa.

Masih banyak ahli memberikan definisi dan formulasi tujuan Pendidikan Jasmani, namun semuanya mengarah pada sebuah pengertian bahwa perilaku fisik dan gerak yang ditunjukkan dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani sebenarnya sekadar merupakan “alat” untuk mengembangkan potensi siswa secara keseluruhan yang meliputi fisik, mental-kognitif, dan sosial. Sudahkah

(9)

pembelajaran Penjas yang selama ini kita rancang telah mengarah pada pencapaian tujuan tersebut ? Jika jawabnya belum, maka inovasi pembelajaran merupakan pilihan untuk lebih memperbaiki keadaan, yakni memfasilitasi para siswa agar menjadi seorang yang terdidik dalam Pendidikan Jasmani.

Karakteristik seseorang yang terdidik dalam Pendidikan Jasmani diuraikan oleh Physical Education Outcomes Committee of The National Association of Physical Education and Sport (NASPE) sebagaimana telah dikutip Arma Abdullah dalam Harsuki (2003), memiliki ciri-ciri: (1) Telah mempelajari berbagai macam keterampilan yang diperlukan untuk melakukan berbagai aktivitas jasmani, (2) segar atau bugar secara jasmaniah, (3) berpartisipasi secara teratur dalam aktivitas jasmani, (4) mengetahui implikasi dan manfaat dari keterlibatannya dalam aktivitas jasmani, dan (5) menghargai aktivitas jasmani dan sumbangannya kepada gaya hidup yang sehat.

Pembahasan

Membedah potensi pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk pengembangan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences), dibangun oleh berbagai pertimbangan logis, antara lain: (1) kebutuhan akan tahap-tahap perkembangan berdasarkan usia kronologis anak, dan (2) konsep joyful learning, yakni belajar yang menyenangkan dan mengandung unsur interaktif antar siswa atau siswa dengan lingkungan belajarnya.

(10)

Gambar 2. Perkembangan Usia Kronologis dan Rancangan untuk Pengkondisian Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Latihan-latihan (train and exercise) yang dirancang dalam aktivitas pendidikan jasmani berorientasi pada tahap perkembangan usia kronologis (Chronological Age), karakteristik keterampilan (Skills) untuk membentuk perkembangan kemampuan-kemampuan yang mengarah pada kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences). Seperti disajikan pada Gambar 2.

Identifikasi dan mendorong penggunaan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) di sekolah memang bukan perkara yang mudah dilakukan. Namun hal tersebut harus tetap diupayakan oleh setiap guru pendidikan jasmani mulai dari hal-hal yang sederhana. Penggunaan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) di sekolah oleh guru telah diformulasikan dan dipraktekkan di New City School di St Louis, Missouri, Amerika Serikat. Guru Pendidikan Jasmani dapat membantu siswa untuk mengembangkan kecerdasan tertentu secara sendiri-sendiri atau simultan dengan cara memodifikasi kegiatan. Contoh modifikasi sebagaimana diilustrasikan dalam tabel 3 berikut:

(11)

Tabel 3. Mendorong Penggunaan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) di Sekolah

Kecerdasan Yang dapat dilakukan Guru (Model New City School)

Yang dapat dilakukan Guru di kelas Penjas (Model Ilustrasi Agus

Kristiyanto) Bahasa Mendorong penggunaan

kata-kata yang tak lazim,

melibatkan siswa dalam debat dan presentasi lisan,

menunjukkan puisi untuk menyampaikan emosi.

Mendorong siswa dalam - penggunaan istilah teknis

olahraga dalam bahasa Inggris sejak dini, seperti:

Start, Finish, In, Out, Double, Single, dll.

- Penggunaan umpan balik secara verbal atas penampilan sendiri atau penampilan teman sekelas.

Logika Matematika

Menggunakan diagram venn untuk membandingkan, menggunakan grafik, tabel dan bagan waktu,

mendemonstrasikan dengan benda-benda nyata, meminta siswa untuk menunjukkan urutan.

Mendorong siswa:

- Mampu mengkomparasikan besaran waktu, jarak, kecepatan, sudut pantulan, sudut tolakan, dsb dalam aktivitas jasmani yang dilakukan.

- Mendemonstrasikan tugas

gerak dengan

menggunakan benda-benda nyata (media) yang sesuai.

- Menunjukkan kemampuan menghitung pola, urutan, jumlah regu, dan jumlah anggota regu.

Musikal Mengubah lirik lagu untuk mengajarkan konsep. Mendorong siswa

menambahkan musik dalam drama, menciptakan rumus atau hafalan berirama.

Mendorong siswa:

- Melakukan aktivitas individu atau kelompok dengan menggunakan instruksi lirik dan lagu melalui ekspresi gerakan tubuh secara keseluruhan atau bagian-bagian tubuh.

- Memilih iringan musik yang sesuai untuk gerakan senam dan tari.

- Mampu berkreasi tentang rumus gerakan ritmik dan

(12)

nilai-nilai ketukan.

Kinestesis Tubuh Mendorong siswa agar melakukan kegiatan bergerak dengan menggunakan tangan (manipulatif), kesempatan berakting, berekspresi gerak secara bebas.

Mendorong siswa:

- Melakukan aktivitas manipulatif lengan-tangan, maupun manipulatif tungkai-kaki dengan media atau alat belajar yang sesuai.

- Melakukan aktivitas lokomotor melalui berbagai aktivitas atletik maupun bentuk-bentuk permainan Spasial Menggambarkan peta,

memimpin kegiatan visualisasi, menyediakan kesempatan untuk

memperlihatkan pemahaman melalui gambar, merancang bangunan dan pakaian

Mendorong siswa:

- Mampu menirukan gerakan dan mengembangkannya dengan cara mengamati foto atau gambar ilustrasi. - Mampu memilih kostum

olahraga dengan pilihan model dan warna yang sesuai (matching) Naturalis Menggunakan alam terbuka

sebagai kelas, mengadakan percobaan-percobaan, memelihara tanaman dan binatang di kelas dan siswa bertanggung jawab

terhadapnya.

Mendorong siswa: - Untuk gemar

menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar yang efektif, seperti sungai, ladang, tebing, hutan. - Melakukan outbond activity

dengan memanfaatkan ternak dan tumbuh-tumbuhan sebagai media belajar.

Interpersonal Menggunakan pembelajran kerjasama, menugaskan kerja kelompok, menciptakan situasi yang membuat siswa saling mengamati dan memberi masukan.

Mendorong siswa: - Senang melakukan

kompetisi olahraga beregu. - Terbiasa bersikap terbuka

dalam memberikan dan menerima umpan balik dalam akativitas olahraga yang dilakukan dalam suatu kelompok Intrapersonal Membiarkan siswa bekerja

dengan iramanya sendiri, membantu siswa menyusun dan memonitor target-target pribadi.

Mendorong siswa:

- Terbiasa dengan bentuk pembelajaran inklusi, yakni sebuah pembelajaran Penjas yang memfasilitasi

(13)

setiap anak memulai dengan kemampuan awal masing-masing (Entry

Behavior).

- Secara periodik melakukan battery test, yakni tes performansi olahraga yang terdiri dari beberapa item, setiap anak diberi bekal kemampuan untuk menskor sendiri untuk setiap itemnya.

Kesimpulan dan Saran

Pendidikan Jasmani adalah pendidikan yang memiliki potensi besar untuk mencerdaskan anak secara simultan. Kecerdasan simultan mengarah pada terbentuknya kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences . Kecerdasan majemuk (KM) merupakan indikator yang didasari oleh kerangka berfikir bahwa setiap anak sebenarnya tumbuh dan berkembang dengan kecerdasan yang berbeda-beda. Cerdas bukan sekadar bermakna dangkal yang terkait dengan hasil tes IQ semata, cerdas juga bukan hanya menyangkut kemampuan bahasa dan logika matematika. Cerdas dalam pandangan Multiple Intelligences model Gardner mencakup 8 (delapan) bidang kecerdasan yaitu: (1) bahasa, (2) logika mathematika, (3) musikal, (4) kinestesis tubuh, (5) spasial, (6) naturalis, (7) interpersonal, dan (8) intrapersonal.

Guru Pendidikan Jasmani sudah seharusnya memiliki kompetensi mengajar yang mendorong para siswa mengembangkan kecerdasan majemuk. Pendidikan Jasmani adalah pendidikan melalui medium aktivitas fisik yang memfokus pada pencapaian seluruh ranah tujuan belajar. Ranah kognitif, afektif, dan psikomotor, secara simultan dikembangkan dalam sebuah rancangan belajar yang standar. Namun demikian, guru masih memerlukan langkah tambahan untuk dapat menerapkan inovasi pembelajaran yang mengarah pada pengembangan kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences).

(14)

Pengembangan kecerdasan majemuk ini sangat mungkin dilakukan melalui pembelajaran pendidikan jasmani, karena pendidikan jasmani memiliki nilai : (1) pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan siswa sesuai tahap perkembangannya, (2) pendidikan yang mengembangkan potensi fisik, kognitif, dan sosio emosional secara simultan, dan (3) pendidikan jasmani berisi aktivitas: Pengembangan, Permainan dan Olahraga, Aktivitas Uji Diri, Aktivitas Ritmik, Akuatik, dan Outdoor Education.

(15)

Daftar Pustaka

Agus Kristiyanto, (1997). “Spektrum Gaya Mengajar Pendidikan Jasmani”. Jurnal Dwijawarta. Edisi April-Juni: hal. 40-44.

______________, dkk, (1998). Akuntabilitas PPL Pendidikan Jasmani. Penelitian Kelompok – Surakarta: FKIP UNS.

______________, (2000). Kompetensi Umpan Balik Mahasiswa Praktikan PPL Pendidikan Jasmani. Penelitian Kelompok. Surakarta: FKIP UNS.

______________, (2008). “Merancang Model Pembelajaran Paikem Pendidikan Jasmani”. Makalah Disajikan dalam Seminar Nasional Pembaharuan

Pendidikan Jasmani di Sekolah, Banjarmasin Kalsel 27 Nopember

2008.

Frost, R.B. (1995). Physical Education: Foundations, Practices and Principles. Reading: Addison Wesley Publishing Company.

Harsuki, (2003). Perkembangan Olahraga Terkini: Kajian Para Pakar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Hoerr, Thomas R., (2007). Buku Kerja Multiple Intelligences: Pengalaman New City School di St. Louis Missouri dalam Menghargai Aneka Kecerdasan Anak. Terjemahan Ary Nilandari. Bandung: Penerbit Kaifa.

Metzler, Michael W., (2000). Instructional Models for Physical Education. Boston: Allyn and Bacon.

Mosston, Muska, (1991). Teaching Physical Education. Columbus L Bell and Howell Companies.

Nixon, J.E. & Jewett, A.E., (1990). An Introduction to Physical Education. Philadelphia: Saunders College Publishers.

Santrock, John W., (2002). Life-Span Development. Dubuque: W.Mc. Brown Communications, Inc.

Siedentop, D., (1990). Physical Education: Introductory Analysis. Dubuque: W.Mc. Brown Communications, Inc.

(16)

Lampiran Power Point Presentasi

HAKIKAT PENDIDIKAN JASMANI: Kolaborasi Aspek Belajar, Bermain, Dan

Olahraga

Untuk Pengembangan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Oleh:

Agus Kristiyanto Jurusan POK FKIP UNS

PERTANYAAN BESAR YG HARUS KITA JAWAB HARI INI • Pendidikan Jasmani itu

sebuah aktivitas BELAJAR, BERMAIN, atau BEROLAHRAGA ? (Hakikat 1) • Dapatkah Pendidikan Jasmani Mengembangkan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelegences) ? (Hakikat 2)

ONTOLOGI PENDIDIKAN

JASMANI

• Nixon dan Jewett berpendapat bahwa Pendidikan Jasmani adalah satu fase dari proses pendidikan keseluruhan yang menggunakan kemampuan gerak individu secara sukarela, tetapi bermakna langsung terhadap perkembangan mental, emosional, dan sosial.

• Frost berpendapat bahwa Pendidikan Jasmani adalah bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang memberikan sumbangan terhadap perkembangan individu melalui media aktivitas jasmani dan gerak siswa.

(17)

KARAKTERISTIK SESEORANG YANG TERDIDIK DALAM

PENDIDIKAN JASMANI

• Telah mempelajari berbagai macam keterampilan yang diperlukan untuk melakukan berbagai aktivitas jasmani

• Segar atau bugar secara jasmaniah,

• Berpartisipasi secara teratur dalam aktivitas jasmani,

• Mengetahui implikasi dan manfaat dari keterlibatannya dalam aktivitas jasmani, dan • Menghargai aktivitas jasmani dan

sumbangannya kepada gaya hidup yang sehat. (The National Association of Physical Education and Sport (NASPE)

DIMENSI BELAJAR

• Membentuk, Merubah, dan Meningkatkan Kemampuan (Dalam Ranah: Kognitif, Afektif, Psikomotor, dan Fisik),

Kemampuan yang terbentuk relatif permanen.

• Mengoreksi (Intervensi) Kemampuan. • Mengoptimalkan Potensi Bawaan.

DIMENSI BERMAIN

• Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang multi-interpretatif: suka menggunakan alat (Homo Faber), suka bermain (Homo Ludens). Menggunakan alat dan bermain merupakan manifestasi dorongan untuk hidup.

• Bermain itu merupakan dasar (instingtif) manusia dalam mengapresiasikan waktu luang yang dimilikinya.

(18)

DIMENSI OLAHRAGA

• Olahraga adalah pengorganisasian

dimensi BERMAIN (Play) sehingga menjadi bentuk PERMAINAN (Games) yang memiliki sifat KOMPETITIF

(Contest) dan diwujudkan dalam ekspresi secara JASMANIAH (Physical).

• Penonjolan Dimensi Olahraga adalah terletak pada Kompetitif, yakni : citius, altius, fortius.

RELASI ANTARA PLAY, GAMES, DAN SPORTS (Model Allen Guttmann)

PLAY Spontaneous Organized (GAMES) Non Competitive Competitive (Contest) Intellectual Physical (SPORTS)

(19)

KOLABORASI DIMENSI BELAJAR, BERMAIN, DAN BEROLAHRAGA

BERMAIN BEROLAHRAGA

BELAJAR

PENDIDIKAN JASMANI

PENJAS, Play, Learning,

Sport

• PENJAS – BERMAIN (PLAY): Isi Penjas bukan bentuk permainan spontan, tetapi bermain yang di-organized menjadi permainan yang

bermakna.

• PENJAS – BELAJAR (LEARNING): Penjas mengkondisikan siswa untuk belajar dalam multi ranah, bahkan didesain menuju pengembangan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) • PENJAS – OLAHRAGA (SPORT): Jika cabang

olahraga Bolavoli dipilih sebagai isi kegiatan Penjas, maka bukan berarti pembelajaran penjas itu mengajar tentang bolavoli, tetapi pembelajaran penjas melalui permainan (Games) bolavoli.

BAGAIMANA MULTIPLE INTELLIGENCES DAPAT DIKEMBANGKAN MELALUI

PENJAS?

• Hasil proses peramuan dimensi

BELAJAR, BERMAIN, DAN OLAHRAGA

memberikan konsekwensi besar bagai terbentuknya 8 (delapan) komponen kecardasan majemuk (Multiple

Intellegences).

• Penjas itu pada prinsipnya memilih kandungan OLAHRAGA, kandungan

BERMAIN, dan kandungan BELAJAR

(20)

ONTOLOGI KECERDASAN MAJEMUK (MULTIPLE INTELLIGENCE)

• Adalah Howard Gardner yang mula pertama menemukan dan mengembangkan Teori

Multiple Intelligence atau Kecerdasan Majemuk

(KM). Teori KM mengembangkan suatu kriteria yang pragmatis tentang suatu kecerdasan, yaitu

bahwa cerdas itu adalah” kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam

masyarakat”, artinya bahwa fokus penggunaan

kecerdasan berada pada tataran situasi

kehidupan nyata. Dengan demikian, kecerdasan yang sebenarnya tentu jauh lebih banyak

kriterianya dibandingkan hanya sekedar kecerdasan hasil tes IQ.

KERANGKA FIKIR KECERDASAN

MAJEMUK (MULTIPLE INTELLIGENCES)

• ”Bahwa semua anak sebenarnya memiliki kecerdasan”. Kecerdasan yang dimiliki oleh setiap anak berbeda-beda. Sistem sekolah selama ini hanya menggunakan sebagian kecil indikator kecerdasan untuk menentukan cerdas dan tidaknya anak. Indikator yang digunakan sebatas pada kecerdasan bahasa dan

kecerdasan logika mathematika. Kecerdasan yang lain, seperti kecerdasan musikal, kinestesis tubuh, spasial, naturalis, interpersonal, dan

intrapersonal belum terakomodasi secara proporsional dalam sistem persekolahan kita.

(21)

JENIS KECERDASAN MAJEMUK (MULTIPLE INTELLIGENCE)

• Gardner mengembangkan Multiple Intelligences ke dalam 8 (delapan) jenis kecerdasan yang meliputi: o Bahasa o Logika mathematika o Musikal o Kinestesis tubuh o Spasial o Naturalis, o Interpersonal o intrapersonal.

KESIMPULAN

• Pendidikan Jasmani merupakan pendidikan melalui aktivitas gerak (Physical Activity),

rancangan bermain (Play) yang dikemas dalam bentuk permainan (Games) yang bersifat

Physical kemudian memiliki makna belajar

(Learning) di dalamnya.

• Hasil dari aktivitas tersebut adalah untuk mengembangkan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intellegences) yang merupakan manifestasi pencapaian insan yang terdidik secara Penjas / Melek Penjas (Physical

Gambar

Tabel  1.  Jenis  Kecerdasan  dan  Definisinya  (Gardner  dalam Thomas  R  Hoerr, 2007)
Tabel  2.  Tokoh  Dunia  dengan  Kecerdasan  yang  berbeda  (Gardner  dalam Thomas R Hoerr, 2007)
Gambar  1.  Pendidikan  Jasmani  Sepanjang  Hayat  (Life  Long  Physical  Education)
Gambar  2.  Perkembangan  Usia  Kronologis  dan  Rancangan  untuk  Pengkondisian  Kecerdasan  Majemuk  (Multiple  Intelligences)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil tes kemampuan berpikir kritis yang dilakukan setelah implementasi pembelajaran IPBA berbasis kecerdasan majemuk, diperoleh peningkatan kemampuan

Berdasarkan hasil penelitian pembahasan diperoleh simpulan bahwa perangkat pembelajaran (RPP dan LKS) lingkaran berbasis kecerdasan majemuk Gardner yang berorientasi pada prestasi

Cara untuk mengembangkan kecerdasan majemuk pada metode pembelajaran dari masing-masing rumpun materi pelajaran tersebut, penulis akan menggunakan dua macam cara

(2) Model CERDAS efektif digunakan dalam pembelajaran IPA dengan indikator berikut: (i) implementasi model CERDAS mampu meningkatkan empat jenis kecerdasan majemuk, yaitu

Untuk mengetagui evaluasi siswa MTs Negeri Bandung Tulungagung setelah penerapan strategi pembelajaran berbasis Multiple Intelligences (kecerdasan majemuk) pada

Adapun didalam praktek pembelajaran berbasis multiple intelligences ini adalah memacu kecerdasan yang terlihat unggul pada diri siswa dengan cara semaksimal dan

Aspek kecerdasan jamak pada tokoh utama dalam majalah Bobo meliputi: (1) kecerdasan linguistik yang berupa (a.) kemampuan mendongeng, (b.) penggunaan fungsi retorika

Padahal pendidikan dan pembelajaran yang mendasarkan pada kecerdasan majemuk, menurut Asri Budiningsih, membuka kesempatan pada para siswa untuk kritis dan mungkin