• Tidak ada hasil yang ditemukan

BLOK MENTAL HEALTH NURSING MAKALAH ANALI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BLOK MENTAL HEALTH NURSING MAKALAH ANALI"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BLOK MENTAL HEALTH NURSING

MAKALAH ANALISIS JURNAL

“Keefektifan Latihan Asertif dalam Mengurangi Resiko Perilaku

Kekerasan”

AI LELLY ROSMAYA G1D013021

LUSIANA FADILAH G1D013056

MARTA MAGDALENA G1D013019

FISKA AFIFAH G1D013074

RISKA TRI ISMUWARDANI G1D013080

AYU FEBRIANI G1D013065

DWI SETYANINGSIH G1D013063

SARAH RASMITA G1D013049

SEPTIANA PRABAWATI G1D013050

BUDHI KURNIAWAN G1D013035

GALIH ARYA NUGRAHA G1D013076

KELOMPOK 4

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah analisis jurnal tentang keefektifan latihan asertif dalam mengurangi resiko perilaku kekerasan.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari semua anggota Kelompok Empat Blok Mental Health Nursing sehingga memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu terima kasih untuk semua anggota kelompok yang telah berperan dalam penyusunan makalah ini.

Terlepas dari itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini, baik dari penyusunan, kalimat, tata bahasa, atau yang lain. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik untuk memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan baik bagi kelompok empat maupun kelompok lain.

Purwokerto, April 2016

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk meluaki seseorang, baik secara fisik maupun psikologis (Keliat, 2009). Penyebabnya bisa karena kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk, mengadopsi perilaku kekerasan, Kerusakan sistem limbik, lobus frontal atau temporal, ketidakseimbangan neurotransmiter, kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri kurang, kehilangan orang yang dicintai dan atau pekerjaan. Ditandai dengan Emosi yang tidak adekuat, muka merah, pandangan tajam, nafas pendek, berkeringat, sakit fisik, penyalahgunaan obat dan tekanan darah, pada pembicaraan lebih mendominasi, bawel, suka berdebat, dan meremehkan.

Angka kejadian perilaku kekerasan dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring semakin kompleknya permasalahan yang dihadapi manusia. Berdasarkan data pencatatan Rekam Medis (RM) Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada periode bulan Januari sampai Maret 2015, ditemukan masalah keperawatan pada klien rawat inap yaitu Halusinasi 4.021 klien, Resiko Perilaku Kekerasan 3.980 klien, Defisit Perawatan Diri 1.026 klien dan Waham 401 klien. Data di atas menunjukan kasus Perilaku Kekerasan menempati urutan ke dua di Rumah Sakit Jiwa Surakarta, dan mengalami peningkatan yang paling pesat.

(4)

yang tergolong popular dalam terapi perilaku (behavior). Latihan asertif merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain. Latihan asertif ini diberikan pada individu yang mengalami kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-haknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain melecehkan dirinya, tidak mampu mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung. latihan asertif merupakan rangkuman yang sistematis dari ketrampilan, peraturan, konsep atau sikap yang dapat mengembangkan dan melatih kemampuan individu untuk menyampaikan pikiran, perasaan, keinginan dan kebutuhannya dengan penuh percaya diri dan kejujuran sehingga dapat berhubungan baik dengan lingkungan sosialnya. Terapi asertif ini menurut beberapa penelitian dapat memperpendek lama fase intensif pada penderita gangguan jiwa dengan risiko kekerasan.

Oleh karena itu, makalah ini membahas mengenai pengaruh latihan asertif dalam memperpendek fase intensif dan menurunkan gejala perilaku kekerasan sehingga mahasiswa dapat mengaplikasikannya diranah kerja dalam upaya mempercepat penyembuhan penderita gangguan jiwa dengan risiko perilaku kekerasan.

1.2 Tujuan

(5)

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Resume Jurnal A. Pendahuluan

Perilaku kekerasan merupakan respon kemarahan maladaptif dalam bentuk perilaku menciderai diri, orang lain dan lingkungan,.Perilaku kekerasan adalah alasan masuk yang utama di rumah sakit jiwa dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang yaitu 538 kasus (53,01%) dengan rerata lama hari rawat di ruang intensif psikiatri 7 – 8 hari, lama hari rawat ditentukan oleh pemendekan fase intensif pasien. Ruang Intensive Psyciatric Care Unit (IPCU) merupakan ruang perawatan untuk pasien dalam kondisi akut, perilaku kekerasan merupakan diagnosa keperawatan terbanyak di ruang IPCU.

Strategi preventif untuk mencegah terjadinya perilaku kekerasan berupa peningkatan kesadaran diri perawat, edukasi pasien dan latihan asertif (Stuart, 2013). Peningkatan kesadaran diri dilakukan dengan meningkatkan kemampuan perawat sehingga mampu menggunakan diri secara terapeutik. Edukasi pasien berisi latihan komunikasi dan cara yang tepat untuk mengekspresikan marah. Latihan Asertif merupakan salah satu terapi spesialis untuk melatih kemampuan komunikasi interpersonal dalam berbagai situasi (Stuart & Laraia, 2005).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan asertif dalam memperpendek fase intensif dan menurunkan gejala perilaku kekerasan di ruang IPCU RSJ.dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.

B. Metode

(6)

kekerasan(SAK PK) dan 30 orang kelompok kontrol yang hanya mendapatkan standar asuhan keperawatan perilaku kekerasan(SAK PK).

C. Hasil

Karakteristik dari 60 pasien yang dijadikan responden dalam penelitian ini rerata usia 31,50 tahun dengan usia termuda 18 tahun dan tertua 54 tahun, jenis kelamin terbanyak laki – laki (66,7%), jenjang pendidikan terbanyak SD (35%), sebagian besar tidak bekerja (75%), sebagian besar tidak kawin (65%), rerata lama menderita gangguan jiwa 75,32 bulan dengan lama sakit terpendek 1 bulan dan terpanjang 240 bulan (2 tahun), rerata frekuensi dirawat adalah yang ke 2,47, jumlah responden yang dirawat untuk pertama kali (pasien baru) merupakan yang terbanyak (43,3%), Schizophrenia paranoid merupakan diagnosa medis terbanyak (68,3%), terapi medis oral terbanyak kombinasi Typikal + Atypikal (30%) dan mendapatkan terapi antipsikotik injeksi (60%), rerata lama hari rawat responden perlakuan adalah 3,57 hari dan responden perlakuan 5 hari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fase intensif pasien lebih cepat pada kelompok perlakuan daripada kelompok kontrol dengan nilai p < 0.001 dan didapatkan penurunan gejala perilaku kekerasan yang lebih besar pada kelompok perlakuan daripada kelompok kontrol dengan nilai p < 0.001.

D. Pembahasan

(7)

perlakuan maupun kelompok kontrol berada dalam kondisi akut / intensif (skor mGAF-R < 30), hampir semua pasien yang dijadikan responden masuk rumah sakit dengan alasan melakukan tindakan kekerasan terutama yang diarahkan kepada orang lain atau lingkungan. Skor mGAF-R 11 – 20 merupakan kondisi dimana pasien menunjukkan menderita akibat pengabaian atau dalam bahaya mencederai diri sendiri dan orang lain. Skor mGAF-R 21 – 30 merupakan kondisi dimana pasien menunjukkan ketidakmampuan fungsional pada hampir seluruh area (Vylder, 2012 ; Werbeloff, 2015). Fase intensif pasien setelah pemberian AT dan SAK PK pada kelompok perlakuan dan setelah pemberian SAK PK pada kelompok kontrol Skor mGAF-R setelah diberikan latihan asertif dan standar asuhan keperawatan perilaku kekerasan mengalami peningkatan nilai p 30 menunjukkan pasien sudah tidak berada dalam fase intensif / fase akut sehingga pasien dapat dipindahkan ke sub akut / ruang perawatan non intensif. (Pokjakep.RSJ.RW. Lawang, 2011).

(8)

kekambuhan (Gaebel dan Riesbeck, 2014). Latihan asertif (Assretiveness Training) mengajarkan pasien untuk berperilaku asertif yang dilakukan dalam 4 sesi pertemuan, pada sesi 1 pasien dilatih untuk dapat mengenali diri merubah pikiran dan perasaan serta latihan berperilaku asertif, sesi 2 pasien dilatih untuk mengungkapkan keinginan dan kebutuhan serta cara memenuhinya, pada sesi 3 pasien dilatih untuk menjalin hubungan sosial dalam memenuhi kebutuhannya, pada sesi 4 pasien dilatih untuk mempertahankan perubahan perilaku asertif dalam berbagai situasi. Salah satu unsur dalam penilaian GAF (Global Assesment of Function) adalah fungsi sosial, pada sesi 3 diajarkan melatih pasien membina hubungan sosial dalam memenuhi kebutuhannya, melatih pasien menyelesaikan masalah terkait kebutuhan dan keinginan (problem solving) serta melatih pasien menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh pasien dan orang lain (conflict resolution).

(9)

tindakan (treatment) merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap lama hari rawat dengan nilai p 0.05). Tingginya gejala perilaku kekerasan akan mengakibatkan perilaku kekerasan yang merupakan salah satu respon marah yang diekspresikan dengan melakukan ancaman, mencederai orang lain, dan atau merusak lingkungan yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Keliat et al. 2011). Semakin tinggi skor perilaku kekerasan menunjukkan bahwa gejala perilaku kekerasan semakin berat hal ini berdampak juga terhadap memanjangnya lama hari rawat dan angka kekambuhan (relaps) pasien (Zhang, 2011).

(10)

PANSS - EC pada kelompok yang mendapatkan latihan asertif menunjukkan penurunan yang signifikan dengan nilai p <0.001.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pemendekan fase intensif dengan skor gejala perilaku kekerasan pada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan (nilai p >0.05) serta kekuatan hubungan yang sangat lemah (tidak ada) dimungkinkan karena penurunan gejala perilaku kekerasan juga dipengarui oleh terapi baik oral maupun injeksi yang diterima oleh responden perlakuan maupun kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat hubungan (korelasi) negatif pada responden perlakuan dimana harusnya semakin cepat pasien berada dalam kondisi tidak intensif (skor mGAF-R > 30) diikuti oleh penurunan gejala perilaku kekerasan. Hasil penelitian yang menunjukkan korelasi negatif bertentangan dengan pendapat dari Zhanget al. (2011) dimana pemendekan fase intensif akan diikuti oleh penurunan gejala perilaku kekerasan dan gejala perilaku kekerasan yang tinggi akan beresiko memanjangnya lama hari rawat dan beresiko untuk mengalami perawatan kembali (readministration). Korelasi negatif pada responden perlakuan dimungkinkan juga karena respon terhadap pengobatan yang diterima oleh responden perlakuan berbeda.Respon yang berbeda ini sesuai dengan pendapat Jimenes (2004) dimana respon terhadap tindakan (treatment) merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pemendekan fase intensif dan lama hari rawat.

E. Kesimpulan

(11)

2.2 Analisis Jurnal

Penelitian ini membuktikan bahwa terapi asertif efektif untuk memperpendek fase intensif dan menurunkan gejala perilaku kekerasan pasien. Terapi aserif diberikan kepada pasien dengan tetap mempertahankan standar asuhan keperwatan perilaku kekerasan. Latihan asertif ini dapat melatih kemampuan komunikasi interpersonal dalam berbagai situasi, dengan begitu dapat meningkatkan kesadaran diri pasien untuk menerima edukasi dengan baik mengenai cara tepat mengekspresikan marah, serta perawatn mampu menggunakan diri secara terapeutik saat memberikan edukasi dan perawatan.

Perilaku kekerasan merupakan salah satu kondisi kedaruratan psikiatri dimana pasien tersebut beresiko untuk menciderai diri sendiri, orang lain maupun lingkungan (Winkler, 2011). Salah satu penyebab dari perilaku kekerasan adalah harga diri rendah, yang akan mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan interpersonal sehingga dalam melakukan hubungan sosial individu tersebut seringkali berespin atau berperilaku adaptif. Latihan asertif dapat meningkatkan harga diri karena melatih komunikasi yang sesuai dengan situasi.

(12)

kontrol sebesar 2,69. Hasil tersebut menunjukan bahwa terapi aserif efektif untuk menurunkan respon perilaku kekerasan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terapi asertif berkontribusi terhadap respon perilaku, sosial, kognitif dan komposit perilaku kekerasan.

Faktor risiko individu melakukan kekerasan salah satunya adalah karena pola asuh kelurga. Anak secara tidak langsung akan belajar dari orang tuanya. Orangtua yang mendidik anaknya dengan kekerasan tentu akan berpengaruh kepada kesehatan mental anaknya. Mendukung jurnal utama yaitu terapi asertif pada kekerasan, Gowi et al (2012) melakukan penelitian tentang terapi asertif pada penurunan perilaku kekerasan orang tua pada anak usia sekolah. Penelitian tersebut menunjukan hasil terjadi peningkatan kemampuan komunikasi asertif lebih tinggi secara bermakna dibanding kelompok kontrol yang menunjukan penurunan yang bermakna. Latihan asertif mendukung orang tua memanahami dan menanggapu segala jenis respon emosi yang dimunculkan anak akibat dari kebutuhan anak yang tidak terpenuhi. latihan asertif membuat orang tua melatih diri untuk meneruima emosi diri sendiri, emosi anak. Orang tua juga akan memahami bahwa cara agresif dalam menghadapi keluhan anak tidak membawa dampak positif hubungan orangtua dan anak. Disebutkan dalam jurnal bahwa kunci keberhasilan latihan asertif bagi orang tua adalah kemampuan menjadi pendengar yang aktif. yaitu cukup mendengarkan 5-10 menit keluhan anak dengan penuh perhatian, mata sejajar dengan anak, berhadapan, rileks dan menahan diri untuk tidak langsung memberikan nasehat kepada anak. Temuan lain dalam terapi ini adalah terapi asertif juga meningkatkan kemampuan kognitif orang tua lebih tinggi secara bermakna pada kelompok intervensi.

(13)

pernah mendapatkan kekerasan fisik (77,5%) dankurang dalam mendapat dukungan sosial sebanyak (63,8%). Kelompok intervensi diberikan training asertif yaitu berupa membangun kesadaran diri, membangun hubungan dengan baik dan pelatihan ketegasan sedangkan kelomok kontrol tidak menerima intervensi apapun. Hasilnya yaitu terdapat perbedaan yang signifikan pre dan post pada pengetahuan aserif pada kelompok intervensi (1,45) dan kelompok kontrol (1,33) serta pada perilaku aserif yaitu pada kelompok intervensi (4,5) dan kelompok kontrol (3,03).

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat analisis jurnal ini bahwa terapi latihan asertif dapat diberikan pada penderita gangguan jiwa dengan risiko perilaku kekerasan untuk memperpendek lama fase intensif. Berkurangnya fase intensif maka lama rawat pasien dapat berkurang sehingga dapat menurunkan prevalensi penderita gangguan jiwa dengan risiko perilaku kekerasan. Latihan asertif ini dapat diaplikasikan pada orangtua dengan anak penderita gangguan jiwa dengan risiko perilaku kekerasan, pada anak remaja dengan risiko melakukan bullying serta pada program rehabilitasi pada pasien dengan perilaku kekerasan.

3.2 Implikasi Keperawatan

(14)

2. Perawat dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai latihan asertif misalnya mengetahui kekambuhan pada pasien yang telah diberikan latihan asertif.

3. Perawat dapat mensosialisasikan berupa penyuluhan latihan asertif kepada keluarga maupun masyarakat agar dapat menangani pasien resiko perilaku kekerasan dengan terapi asertif agar pasien dapat mengkomunikasikan dan mengekspresikan marah dengan optimal saat pasien berada dalam lingkungan komunitas.

4. Perawat dapat melakukan pemantauan atau meng follow up pasien yang telah

diberikan terapi asertif, untuk melihat adanya kekambuhan ataupun penurunan dalam melakukan perilaku kekerasan.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. (2007). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.

Gaebel. W & Riesbeck. M., (2014). Are there clinically useful predictors and early warning signs for pending relapse? Schizophrenia Research 152, 469-477 Gowi, A., Hamid, A. Y.S., & Nuraini, T. (2012). Penurunan perilaku kekerasan

orangtua pada anak usia sekolah melalui latihan asertif. Jurnal Keperawatan Indonesia Vol.15 No.3 : 201-206

Jiménez, et al., (2004). Observed predicated length of stay for an indicator of stay for an acute psychiatric departement, as an indicator of inpatient care

inefficiencies. Retrospective case-series study. BMC Health Service Research. 4 (4)

Keliat et al., (2011). Keperawatan Kesejatan Jiwa Komunitas: CMHN Basic Course. Jakarta: EGC

(15)

Keliat, B.A., & Akemat. (2009). Model Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC

Keliat, Budi Anna dkk. (2006). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 2.

Jakarta: EGC

Pokjakep.RSJ.RW. Lawang, (2011). Dokumen Akreditasi RSJ. Dr. Radjiman Wedioningrat Lawang

Sodikin, M., A., Wihastuti, T.A., & Supriati, L. (2015). Pengaruh latihan asertif dalam meperpendek fase intensif dan menurunkan gejala perilaku kekerasan di ruang intensive psychiatric care uniit (IPCU) RSJ. Dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang. Jurnal Ilmu Keperawatan, vol 3 no.2: 168-182 Stuart, G. W., & Laraia, M.T. (2005). Principles and practice of psychiatric nursing.

(8th edition). St Louis: Mosby

Wahyuningsih, D. et.al. (2011). Penurunan perilaku kekerasan pada klien skizofrenia dengan asserticeness training (AT). Jurnal Keperawatan Indonesia, vol. 14 no.1 : 51- 56

Winkler. D., et.al. (2011). Intensive care in psychiatry. European Psychiatry 26: 260-264 elsiviere doi: 101015/j.eurpsy.2010.10.008

Zhang. J., et al. (2011). Factors associated with length of stay and theh risk of readmission in an acute psychiatric inpatient facility: a retrospective study.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Uji LSD Skor Kerusakan Inti Hepatosit Mencit setelah Perlakuan pada Kelompok Kontrol, Perlakuan I, dan Perlakuan II. Kelompok P

Sikap ibu hamil tentang IMD setelah mendapatkan ante natal kelas pada kelompok kontrol dan perlakuan., sikap ditemukan bahwa median, skor minimum, skor maksimum pada kelompok

Hasil pengujian beda 2 mean kelompok kontrol dan perlakuan untuk variabel kadar TGFB1 dan IL-6 pada kondisi sebelum perlakuan pemberian. Vitamin D3 (Calcitriol) menunjukkan hasil

Sebelum dilakukan intervensi pemberian gabungan sugesti dan musik instrumentalia, semua responden pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yaitu sebanyak 22 orang,

Sebelum dilakukan intervensi pemberian gabungan sugesti dan musik instrumentalia, semua responden pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yaitu sebanyak 22 orang,

Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian pada 20 responden kelompok perlakuan dan 20 responden kelompok kontrol tentang pengaruh pemberian pendidikan kesehatan

PEMBAHASAN Nilai Derajat Edema Pasien CHF Sebelum dan Sesudah Pemberian Contrast Bath dengan Elevasi kaki 30° pada Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol Hasil pengukuran

Perbedaan Perubahan Skor Pengetahuan, Sikap dan Perilaku setelah Pemberian Edukasi Gizi antara Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol Nama Variabel Kelompok n Mean Rank