• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh Super Oxide. Dismutase Oral (SOD) terhadap kadar TGFβ1 dan Mean

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 5 HASIL PENELITIAN. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh Super Oxide. Dismutase Oral (SOD) terhadap kadar TGFβ1 dan Mean"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 5

HASIL PENELITIAN

5.1. Karakteristik Obyek Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh Super Oxide Dismutase Oral (SOD) terhadap kadar TGFβ1 dan Mean Platelete Volume (MPV) pada pasien penyakit ginjal diabetes stadium V yang menjalani hemodialisa. Obyek penelitian berjumlah 28 orang dibagi dalam dua kelompok sampel yaitu kelompok kontrol dengan jumlah sampel sebanyak 14 orang dan kelompok perlakuan dengan jumlah sampel juga sebanyak 14 orang. Kelompok perlakuan mendapatkan perlakuan dengan pemberian SOD, sedangkan kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan sebagaimana dimaksud dalam kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan mendapatkan perlakuan dengan pemberian SOD, sedangkan kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan sebagaimana dimaksud dalam kelompok perlakuan. Seluruh kelompok sampel tetap melanjutkan terapi yang diberikan sebelum dilakukan penelitian yaitu captopril 3 x 25mg, glicuidon 1x30mg tablet, as folat 3x400mcg, CaCO

3

3x500mg.

Sebelum melakukan analisis lebih lanjut, lebih dahulu dijelaskan

karakteristik obyek penelitian untuk masing-masing kelompok sampel. Selain

deskripsi singkat tentang karakteristik obyek penelitian, sekaligus dilihat

sejauhmana tingkat homogenitas karakteristik obyek penelitian itu berdasarkan

kelompok sampel. Karakteristik penelitian yang berupa variabel kualitatif, uji

homogenitas dilakukan menggunakan uji Chi Square. Karakteristik penelitian

yang berupa variabel-variabel kuantitatif, uji homogenitas dilakukan

(2)

menggunakan uji beda 2 mean dimana jenis ujinya didasarkan pada distribusi data variabel karakteristik itu. Jika distribusi data variabel bersifat normal, maka uji beda 2 mean menggunakan jenis analisis statistik parametrik yaitu uji t untuk beda 2 mean sampel independent. Namun apabila distribusi data bersifat tidak normal, maka uji beda 2 mean menggunakan jenis analisis statistik non parametrik yaitu uji Mann-Whitney.

Karakteristik jenis kelamin dan hasil uji homogenitas variabel karakteristik jenis kelamin dimaksud menunjukkan bahwa variabel jenis kelamin ternyata homogen antara kelompok sampel kontrol dan perlakuan. Nilai chi kuadrat didapatkan sebesar 2,286 dengan probabilitas sebesar 0,131 (p > 0,05) yang berarti tidak ada perbedaan proporsi jenis kelamin laki-laki atau perempuan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.

Tabel 5.1.

Perbandingan Jenis Kelamin Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan

Jenis Kelamin

Kontrol Perlakuan Uji Chi Square

n % N % Χ

2

P value

Laki-laki 9 64,3 5 35,7

2,286 0,131

Perempuan 5 35,7 9 64,3

Berdasarkan tabel 5.1. di atas, pada kelompok kontrol dari 14 orang sampel terdiri

dari 9 orang laki-laki (64,3 persen) dan 5 orang perempuan (36,7 persen),

sedangkan pada kelompok perlakuan dengan 14 orang sampel terdiri dari 5 orang

laki-laki (35,7 persen) dan 9 orang perempuan (64,3 persen). Dengan komposisi

(3)

jenis kelamin seperti diuraikan di atas didapatkan hasil pengujian bahwa variabel jenis kelamin homogen berdasarkan kelompok sampel.

Variabel karakteristik umur responden menunjukkan nilai rata-rata 51,00 tahun untuk kelompok perlakuan dengan standar deviasi 5,99 tahun dan sebesar 51,79 tahun untuk kelompok kontrol dengan standar deviasi sebesar 3,07 tahun.

Distribusi data variabel umur bersifat normal sehingga uji homogenitas untuk variabel umur digunakan uji parametrik uji t untuk beda 2 mean sampel independent. Hasil analisis uji beda 2 mean menggunakan uji t untuk sampel independent mendapatkan nilai t sebesar -0,437 dengan probabilitas 0,666 (p >

0,05). Hasil itu menunjukkan uji beda 2 mean yang tidak signifikan pada derajat signifikansi 5 persen, yang berarti bahwa rata-rata umur antar kedua kelompok sampel itu tidak berbeda secara meyakinkan atau dengan kata lain variabel karakteristik umur bersifat homogen. Deskripsi dan hasil pengujian karakteristik umur adalah sebagai berikut:

Tabel 5.2.

Perbandingan Umur Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan

Variabel

Kontrol n=14 Perlakuan n=14 Uji Beda 2 Mean Rerata + Std

Deviasi

Rata-rata + Std Deviasi

Nilai t P value

Umur (tahun)

51,79 + 3,07 51,00 + 5,99

-0,437 0,666 Berikut beberapa nilai baseline character yang kami uji degnan beda 2 mean didapatkan hasil p>0,05.

Dengan demikian karena semua variabel karakteristik bersifat homogen,

maka analisis dapat dilanjutkan pada pengujian terhadap variabel utama kadar

TGFβ1 dan MPV.

(4)

Tabel 5.3 Karakteristik Dasar sebelum perlakuan pada kelompok plasebo dan perlakuan SOD oral

Variabel

Kontrol n=14 Perlakuan n=14 Uji Beda 2 Mean Rata-rata +

Std Deviasi

Rata-rata+

Std Deviasi

Nilai Statistik

P value

BB (kg) 52.43+7.197 58.14+ 14.966 t = -309 0.093 TB (cm) 159.29 + 6.031 160.86 + 7.960 t = -872 0.072 Sistole

(mmHg)

147.86+ 13.114 147.14 + 9.945 t = - 387 0.533

Diastole (mmHg)

90.71+7.300 91.43 + 5.345 t = -294

0.071 Nadi

(x/menit)

178.64 +128.921 183.07+78.151 t = -162 0.508

HDL (mg/dl) 84.29 + 32.535 36.71+ 10.440 t = -295 0.325 LDL mg/dl) 84.29 + 32.535 88.79+28.837 t = -110 0.278 PLT (mg/dl) 201.86 + 76.439 181.93 + 38.440 t = -589 0.125 PDW 44.79 + 12.249 46.00 + 8.162 t = -1.287 0.103 Keterangan : HDL=High Density Lipoprotein, LDL=Low Density Lipoprotein, PLT= Platelet, PDW=Platelet Distribution Width, cm= centimeter, kg= kilogram, mg= milligram, mmHg= millimeter mercury, dl= desiliter.

5.2. Pengujian Variabel Utama

Pembuktian hipotesis ada pengaruh pemberian SOD terhadap kadar TGFΒ1 dan MPV dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

1. Menguji beda 2 mean kadar TGFβ1 dan MPV antara kelompok perlakuan

dan kelompok kontrol untuk masing-masing kondisi sebelum dan sesudah

pemberian SOD dengan uji beda 2 mean sampel independent. Dengan

langkah ini diharapkan pada kondisi setelah pemberian perlakuan

perbedaan mean kelompok kontrol dan kelompok sampel akan terjadi

(5)

perbedaan yang signifikan, sedangkan pada kondisi sebelum pemberian perlakuan tidak terjadi perbedaan yang signifikan, karena pada kondisi ini sama-sama tidak diberikan perlakuan pemberian SOD.

2. Menguji beda 2 mean kadar TGFβ1 dan MPV sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan untuk masing-masing kelompok sampel dengan uji beda 2 mean untuk sampel berpasangan. Dengan langkah ini diharapkan pada kelompok perlakuan akan terjadi perbedaan yang signifikan, sedangkan pada kelompok kontrol tidak terjadi perbedaan yang signifikan karena pada kelompok ini tidak diberikan perlakuan pemberian SOD.

3. Menguji beda 2 mean variabel perubahan kadar TGFβ1 (delta-TGFβ1) dan perubahan MPV (delta-MPV) dengan uji beda 2 mean untuk sampel independent. Dengan langkah ini diharapkan ada perbedaan signifikan beda 2 mean kedua variabel perubahan tersebut (delta-TGFβ1 dan delta- MPV) antar kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, karena kelompok perlakuan diharapkan mengalami perubahan setelah perlakuan sedangkan kelompok kontrol tidak berubah setelah perlakuan. Sebelum dilakukan pengujian beda 2 mean itu, terlebih dahulu juga dilakukan pengujian normalitas data variabel utama untuk memastikan jenis uji statistik yang akan digunakan untuk pengujian beda 2 mean dimaksud.

Langkah Pertama, variable kadar TGFβ1 dan MPV pada kondisi sebelum

perlakuan pemberian SOD, untuk data pada kelompok kontrol maupun kelompok

perlakuan berdistribusi normal. Dengan demikian uji beda 2 mean kadar TGFβ1

maupun MPV kelompok kontrol dan perlakuan pada kondisi sebelum perlakuan

itu dapat menggunakan uji beda 2 mean uji t untuk sampel independent. Hasil

(6)

pengujian beda 2 mean kelompok kontrol dan perlakuan untuk variable kadar TGFβ1 pada kondisi sebelum pemberian perlakuan pemberian SOD menunjukkan hasil pengujian yang tidak signifikan pada derajat signifikansi 5 persen (p > 0,05). Demikian pula hasil uji beda 2 mean variabel MPV kelompok kontrol dan kelompok perlakuan kondisi sebelum pemberian SOD tidak signifikan pada derajat signifikan pada derajat signifikansi 5 persen (p > 0,05).

Berdasarkan hasil pengujian kedua variabel di atas maka dapat dinyatakan bahwa variable kadar TGFβ1 dan MPV yang ada pada kelompok kontrol dan perlakuan pada kondisi sebelum perlakuan pemberian SOD tidak berbeda secara meyakinkan. Nilai mean dan standar deviasi serta hasil pengujian kadar TGFβ1 dan MPV kelompok kontrol dan perlakuan pada kondisi sebelum perlakuan adalah:

Tabel 5.4.

Perbandingan Kadar TGFβ1 dan MPV pada Kelompok Kontrol dan Perlakuan di Kondisi Sebelum diberikan Preparat Perlakuan.

Variabel

Kontrol n=14 Perlakuan n=14 Uji Beda 2 Mean Rerata +

Std Deviasi

Rata-rata + Std Deviasi

Nilai

Statistik P value TGFβ1

(pg/ml) 23326,9 +6029,37 21522,7 + 5639,24 t = 0,818 0,421 MPV

(fL) 9,94 + 1,47 10,19 + 0,90 t = -0,544 0591 Keterangan : TGFβ1 = Transforming Growth Factor beta 1, MPV =Mean Platelete Volume, pg = picogram, ml = millilitre, fL= femtolitre.

Data variable kadar TGFβ1 kelompok kontrol maupun kelompok

perlakuan pada kondisi sesudah perlakuan pemberian SOD berdistribusi normal,

sehingga pengujian beda dua mean kelompok kontrol dan kelompok perlakuan

(7)

pada kondisi sesudah perlakuan dapat menggunakan uji beda dua mean uji t untuk sampel independent. Sementara itu data variable MPV kelompok kontrol pada kondisi sesudah perlakuan pemberian SOD tidak berdistribusi normal, namun pada kelompok perlakuan berdistribusi normal sehingga uji beda dua mean kelompok kontrol dan perlakuan variable MPV sesudah perlakuan itu dapat menggunakan uji beda 2 mean uji t untuk sampel independent. Hasil pengujian beda 2 mean kelompok kontrol dan perlakuan untuk variable kadar TGFβ1 dan MPV pada kondisi sesudah perlakuan pemberian SOD menunjukkan hasil pengujian beda 2 mean yang signifikan pada derajat signifikansi 5 persen (p <

0,05) baik untuk variable kadar maupun MPV. Hal itu berarti setelah mendapat perlakuan pemberian SOD variable kadar TGFβ1 dan MPV mengalami perubahan secara meyakinkan. Data mean dan standar deviasi variable TGFβ1 dan variable MPV sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok perlakuan dapat disajikan dalam table sebagai berikut:

Tabel 5.5.

Perbandingan Kadar TGFβ1 dan MPV Kelompok Kontrol dan Perlakuan pada Kondisi Sesudah diberikan Preparat Perlakuan.

Variabel

Kontrol n=14 Perlakuan n=14 Uji Beda 2 Mean Rata-rata +

Std Deviasi

Rata-rata Std Deviasi

Nilai Statistik

P value

TGFβ1 (pg/ml)

22456,6 + 6843,0 15203,9 + 3956,5

t = 3,433 0,002**

MPV (fL) 9,11 + 2,03 7,64 + 0,42 t = 2,665 0,013*

Keterangan : *) Signifikan pada derajat signifikansi 5 persen.

**) Signifikan pada derajat signifikansi 1 persen.

TGFβ1 = Transforming Growth Factor beta 1, MPV =Mean Platelet Volume, pg

= picogram, ml = millilitre, fL= femtolitre

(8)

Dengan demikian hipotesis pertama yang menyatakan bahwa “Ada pengaruh pemberian SOD terhadap kadar TGFΒ1 pada pasien penyakit ginjal diabetes Stadium V yang Menjalani Hemodialisa”, dapat dibuktikan kebenarannya.

Demikian pula hipotesis kedua yang menyatakan bahwa “Ada pengaruh pemberian SOD terhadap kadar MPV pada pasien penyakit ginjal diabetes Stadium V yang Menjalani Hemodialisa”, juga dapat benar-benar terbukti secara meyakinkan. Jadi dengan pemberian SOD belum dapat mempengaruhi kadar TGFβ1 dan kadar MPV.

Langkah Kedua, variable kadar TGFβ1 sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok kontrol berdistribusi normal, maka uji beda 2 mean sebelum dan sesudah perlakuan itu dapat menggunakan uji beda 2 mean uji t untuk sampel berpasangan.. Sementara variable MPV sebelum perlakuan pada kelompok kontrol berdistribusi normal, namun sesudah perlakuan tidak berdistribusi normal sehingga uji beda dua mean sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok kontrol atas variable MPV itu masih dapat menggunakan uji beda 2 mean uji t untuk sampel berpasangan.

Hasil pengujian beda 2 mean variabel kadar TGFβ1 dan MPV sebelum

dan sesudah perlakuan pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa beda 2 mean

kedua variable utama tersebut tidak berbeda secara signifikan pada derajat

signifikansi 5 persen (p > 0,05). Dengan demikian berarti variabel TGFΒ1

maupun MPV pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah pemberian SOD tidak

mengalami perubahan yang meyakinkan.

(9)

Tabel 5.6.

Perbandingan Kadar TGFβ1 dan MPV Sebelum dan Sesudah diberikan Plasebo pada Kelompok Kontrol

Variabel

Sebelum n=14 Sesudah n=14 Uji Beda 2 Mean Rata-rata+

Std Deviasi

Rata-rata+

Std Deviasi

Nilai

Statistik P value TGFβ1

(pg/ml) 23326,7 + 6029,37 22456,6 + 6843,05 t = 0,371 0,716 MPV (fL) 9,94 + 1,47 9,11 + 2,03 Z = 1,360 0,197 Keterangan: * Signifikan pada Derajat Signifikansi 5 persen. TGFβ1 = Transforming Growth Factor beta 1, MPV =Mean Platelet Volume, pg = picogram, ml = millilitre, fL= femtolitre

Selanjutnya data variabel kadar TGFβ1 dan MPV sebelum dan sesudah perlakuan pemberian SOD pada kelompok perlakuan semuanya berdistribusi normal. Maka pengujian beda 2 mean sebelum dan sesudah perlakuan untuk kedua variable pada kelompok perlakuan dapat menggunakan uji beda 2 mean uji t untuk sampel berpasangan.

Hasil pengujian beda 2 mean variabel kadar TGFβ1 maupun MPV sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok kontrol menunjukkan hasil perbedaan yang signifikan pada derajat signifikansi sebesar 5 persen (p < 0,05).

Hal itu dapat diartikan bahwa setelah mendapatkan perlakuan pemberian SOD,

variabel TGFβ1 mengalami perubahan secara meyakinkan, demikian pula

variabel MPV juga mengalami peruabahan yang meyakinkan. Variabel kadar

TGFβ1 setelah perlakuan pemberian SOD mengalami perubahan yang menurun

secara meyakinkan, demikian pula variable MPV setelah perlakuan pemberian

SOD mengalami perubahan menurun secara signifikan.

(10)

Dengan demikian hipotesis pertama yang menyatakan bahwa : “Ada pengaruh pemberian SOD terhadap kadar TGFβ1 pada pasien penyakit ginjal diabetes Stadium V yang Menjalani Hemodialisa” dapat dibuktikan kebenarannya. Hipotesis kedua yang menyatakan bahwa: “Ada pengaruh pemberian SOD terhadap MPV pada pasien penyakit ginjal diabetes Stadium V yang Menjalani Hemodialisa” juga sudah dapat benar-benar terbukti secara meyakinkan.

Tabel 5.7.

Perbandingan Kadar TGFβ1 dan MPV Sebelum dan Sesudah diberikan SOD oral pada Kelompok Perlakuan

Variabel

Sebelum n=14 Sesudah n=14 Uji Beda 2 Mean Rata-rata +

Std Deviasi

Rata-rata + Std Deviasi

Nilai Statistik

P value

TGFβ1

(pg/ml) 21522,7 + 5639,24 15203,9 + 3956,45 t = 5,815 0,001**

MPV

(fL) 10,19 + 0,90 7,54 + 0,42 t = 10,028 0,001**

Keterangan: * Signifikan pada Derajat Signifikansi 5 persen.

** Signifikan pada Derajat Signifikansi 1 persen.

TGFβ1 = Transforming Growth Factor beta 1, MPV =Mean Platelet Volume, pg

= picogram, ml =mililiter, fL= femtolitre

Langkah Ketiga, pembuktian hipotesis pertama dan kedua itu juga dapat

dilakukan dengan menggunakan pengujian atas variabel perubahan TGFβ1

(delta-TGFβ1) dan perubahan MPV (delta-MPV). Variabel perubahan TGFβ1

(delta-TGFβ1) merupakan selisih TGFβ1 sebelum perlakuan dengan TGFβ1

sesudah perlakuan, sedangkan variabel perubahan MPV (delta-MPV) merupakan

selisih MPV sebelum perlakuan dengan MPV sesudah perlakuan. Maka apabila

(11)

rata-rata variabel perubahan (delta) itu positif menunjukkan adanya penurunan setelah ada perlakuan, dan sebaliknya jika rata-rata variabel perubahan (delta) itu negatif berarti setelah ada perlakuan variabel itu mengalami peningkatan.

Distribusi data variable delta_TGFβ1 pada kelompok kontrol maupun perlakuan bersifat normal sehingga uji beda mean keduanya menggunakan uji beda dua mean uji t untuk sampel independen. Sementara itu data variable delta_mpv pada kelompok kontrol tidak berdistribusi normal namun pada kelompok perlakuan berdistribusi normal sehingga uji beda dua mean keduanya dapat menggunakan uji beda dua mean uji t untuk sampal independen. Hasil perhitungan beda 2 mean dengan uji t untuk sampel independent antara mean variabel delta-TGFβ1 pada kelompok kontrol dan perlakuan menunjukkan bahwa kedua mean itu berbeda secara meyakinkan pada derajat signifikansi 5 persen (p

< 0,05). Sehingga hipotesis pertama yang menyatakan bahwa : “Ada pengaruh pemberian SOD terhadap kadar TGFβ1 pada pasien penyakit ginjal diabetes Stadium V yang Menjalani Hemodialisa” dapat dibuktikan kebenarannya.

Demikian pula hasil pengujian beda mean variabel delta-mpv pada kelompok

kontrol dan kelompok perlakuam menggunakan uji beda dua mean uji t untuk

sampel independen juga berbeda secara meyakinkan pada derajat signifikansi 5

persen (p < 0,05). Sehingga hipotesis kedua yang menyatakan bahwa : “Ada

pengaruh pemberian SOD terhadap kadar MPV pada pasien penyakit ginjal

diabetes stadium V yang Menjalani Hemodialisa” juga dapat dibuktikan

kebenarannya.

(12)

Data perbandingan rata-rata dan standar deviasi variable Delta-TGFβ1 dan Delta-mpv baik pada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan dapat disajikan dalam table sebagai berikut :

Tabel 5.8.

Perbandingan Delta-TGFβ1 dan Delta-MPV pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan

Variabel

Kontrol n=14 Perlakuan n=14 Uji Beda 2 Mean Rata-rata +

Std Deviasi

Rata-rata+

Std Deviasi

Nilai

Statistik P value Delta-TGFβ1

(pg/ml) 870,05 + 8769,61 6318,76 + 4065,78 t = -2,109 0,045*

Delta-MPV

(fL) 0,93 + 2,28 2,56 +0,95 t = -2,618 0,015*

Keterangan : * Signifikan pada Derajat Signifikansi 5 persen.

** Signifikan pada Derajat Signifikansi 1 persen.

TGFβ1 = Transforming Growth Factor beta 1, MPV =Mean Platelet Volume, pg

=picogram, ml =mililiter, fL= femtolitre

Pada pengujian hipotesis ketiga yaitu “Ada korelasi antara kadar TGFβ1

dan MPV pada pasien penyakit ginjal diabetes Stadium V yang Menjalani

Hemodialisa” digunakan analisis korelasi product momen Pearson. Hasil

pengujian korelasi antar variabel TGFβ1 dan menunjukkan bahwa variabel

TGFβ1 tidak berhubungan secara meyakinkan dengan kadar MPV pada derajat

signifikansi sebesar 5 persen (p > 0,05). Maka hipotesis ketiga itu belum dapat

dibuktikan kebenarannya. Hasil analisis korelasi antara variabel TGFβ1 dan MPV

adalah sebagai berikut

(13)

Tabel 5.9.

Hasil Analisis Korelasi antara TGFβ1 dan MPV.

Korelasi antar Variabel Model Analisis

Korelasi Nilai Korelasi (r)

Nilai Probabilitas/

Signifikansi Kadar TGFβ1 (pg/ml)–

MPV(fL) (post) PM-Pearson 0,011 0,969

Keterangan : *) Signifikan pada derajat signifikansi 5 persen. TGFβ1 = Transforming Growth Factor beta 1, MPV =Mean Platelet Volume, pg = picogram, ml =mililiter, fL= femtolitre

Gambar 12. Grafik perbandingan kadar TGFβ1 (pg/ml) pada kelompok kontrol dan perlakuan.

Ka da r T GF -β1 (p g/m l)

23326,9+ 6029,37

22456,6 + 6843,0

21522,7 + 5639,24

15203,9 + 3956,5

= sebelum

Kelompok kontrol Kelompok Perlakuan

= sesudah

P = 0,716

P = 0,045 25000

20000

15000

10000

5000

0

(14)

Gambar 13. Grafik perbandingan kadar MPV pada kelompok kontrol dan perlakuan.

Ka da r MPV ( fL )

9,94 + 1,47

9,11 + 2,03

10,19 + 0,90

7,54 + 0,42 = sebelum

Kelompok Kontrol Kelompok Perlakuan

= sesudah

P = 0,197

P = 0,001

10

8

6

4

2

0

Gambar

Tabel  5.3  Karakteristik  Dasar  sebelum  perlakuan  pada  kelompok  plasebo  dan  perlakuan SOD oral
Gambar  13.  Grafik  perbandingan  kadar  MPV  pada  kelompok  kontrol  dan  perlakuan

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil observasi siklus 2 tentang keterampilan tolak peluru gaya samping terdiri dari enam aspek yang meliputi ; (1) tehnik memegang peluru, (2) Teknik meletakkan peluru pada

Gambar 6.1 Grafik Perkembangan Pendapatan Daerah dari PAD Kabupaten Sijunjung Tahun

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Isozim esterase dapat dijadikan marka genetik bagi Kanesia 1 (terbentuk satu pita spesifik) dan Kanesia 6 (satu pita spesifik); isozim

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi

17 Tahun 2006 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan adalah untuk menambah pendapatan atau devisa negara sebagai alat untuk

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dari suplementasi tepung katuk ( Sauropus androgynus ) dengan level pemberian yang berbeda terhadap profil komponen

Komposisi campuran di antara bahan elektrolit SDCC dalam katod perlu dititikberatkan kerana peratus campuran yang tidak sesuai boleh menyebabkan serbuk katod komposit yang

CADS2 merupakan skenario yang menerapkan konsep interband, dimana pada penelitian ini akan menggunakan frekuensi yang berbeda yaitu frekuensi 1800 MHz dengan