Pengembangan Model
Conservation Scout:
Pengenalan Mini
Konservasi di Sekolah dasar untuk Pembelajaran Berbasis Lingkungan
Dea Fradistya Ritmawanti
Program Studi PGSD, FKIP, Universitas Sanata Dharma Tromol Pos 29, Mrican, Yogyakarta
Email : [email protected]
Abstrak
Pembelajaran berbasis lingkungan melibatkan siswa maupun guru secara aktif untuk menjadikan lingkungan sebagai sarana belajar dan bagian dari kehidupan yang perlu dijaga. Melalui pembelajaran berbasis lingkungan, penanaman nilai peduli lingkungan dapat ditanamkan sejak dini pada anak. Penanaman nilai peduli lingkungan dapat diterapkan dengan salah satu model belajar yaitu Conservation Scout (CS). Conservation Scout (CS) merupakan suatu langkah konservasi sederhana (mini konservasi) yang dapat digunakan untuk mengenalkan kepada anak mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Melalui observasi dan beberapa literatur, Conservation Scout (CS) dapat dikembangkaan menjadi empat cara yaitu : (1) minitrip ke lokasi konservasi lingkungan seperti Pusat Studi Lingkungan (PSL); (2) aksi peduli lingkungan melalui kampanye dan peer tutoring ; (3) kebun konservasi atau pojok konservasi di sekolah; dan (4) area konservasi di dalam kelas. Dengan diterapannya model Conservation Scout (CS) ini diharapkan dapat melibatkan anak secara aktif sebagai duta lingkungan yang peduli dan berani mengajak sesamanya untuk menjaga lingkungan alam sekitarnya.
Kata kunci : Pembelajaran berbasis lingkungan, model conservation scout, peduli lingkungan, konservasi.
I. PENDAHULUAN
Berbagai perilaku pengrusakan lingkungan dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan sering terjadi saat ini. Beberapa fakta menunjukkan adanya perilaku yang tidak peduli terhadap lingkungan bahkan sering ditemui di lingkungan seperti masih terdapat mahasiswa yang meninggalkan sampah di ruang kuliah atau di sembarang tempat saat berada di lingkungan kampus, adanya genangan air atau banjir di jalan-jalan tertentu di Yogyakarta saat musim penghujan akibat semakin banyaknya pembangunan gedung atau mall dan semakin sempitnya daerah resapan air, tidak adanya penghijauan atau penanaman pohon di tepi jalan untuk beberapa wilayah dan sebagainya. Jika hal tersebut terus menerus dan dibiarkan terjadi, maka lingkungan dan kehidupan di dalamnya akan terancam. Sebagai akibatnya, generasi yang akan datanglah yang menanggung dampak negatif dari perilaku tidak peduli lingkungan tersebut. Mereka mungkin akan mengalami berbagai krisis lingkungan di tanah mereka sendiri. Oleh karena itu, penanaman sikap peduli lingkungan atau sikap menjaga, mengkonservasi, dan melestarikan lingkungan sangat perlu ditanamkan sejak usia dini kepada anak-anak.
peserta didik, khususnya anak-anak. Davis (1998) menuliskan bahwa hubungan antara anak dengan alam sekitarnya merupakan landasan yang penting dan kuat untuk membangun hubungan yang baik antara manusia dengan alam. Anak-anak adalah pembelajar yang aktif, kreatif, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta mencintai dunia dan lingkungannya. Anak dengan aktif dapat mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri dan akan belajar secara bermakna saat mereka belajar dengan melakukan (learning by doing) dan bermain di lingkungan. Dengan mengetahui karakteristik anak inilah, hendaknya penanaman nilai peduli terhadap lingkungan dilakukan dengan memfasilitasi anak berdasarkan tingkat perkembangannya yaitu melalui suatu kegiatan atau aksi nyata di lingkungan alam. Kegiatan ini dapat disebut sebagai kegiatan outdoor. Putri (2006) menyatakan bahwa pendidikan outdoor bukan berarti sekedar memindahkan pembelajaran ke luar kelas, melainkan lebih pada pemanfaatan lingkungan yang ada sebagai obyek dalam pembelajaran. Dengan demikian, kegiatan outdoor merupakan salah satu bentuk pembelajaran berbasis lingkungan.
Pembelajaran berbasis lingkungan dapat diterapkan dengan berbagai cara sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Bagi anak usia sekolah dasar, pembelajaran ini dapat dilakukan dengan mengajak mereka untuk menanam tanaman atau memelihara hewan di kebun konservasi sekolah, melakukan suatu perjalanan ke lingkungan alam (hutan lindung, daerah konservasi, dan sebagainya), melakukan aksi untuk peduli terhadap lingkungan, dan sebagainya. Cara-cara pengembangan tersebut dapat dirangkum menjadi satu rangkaian pembelajaran dengan model Conservation Scout. Model Conservation Scout diharapkan mampu menciptakan generasi yang kreatif dalam mewujudkan kepedulian mereka terhadap lingkungannya dan dapat memanfaatkan lingkungan dengan baik. Sebagaimana dalam taksonomi Bloom, mereka tidak lagi menjadi generasi yang “remembering”, tetapi paling tidak sudah di tahap “understanding” bahkan “creating”. Tindakan nyata mereka sebagai generasi emas Indonesia yang cinta terhadap lingkungan akan meminimalisir beberapa permasalahan yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Dengan demikian, pembelajaran berbasis lingkungan bagi anak-anak SD melalui model Conservation Scout (CS) menjadi sangat penting untuk direalisasikan.
II. METODE
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan observasi (pengamatan) dan dokumentasi sebagai teknik pengambilan datanya. Tahapan penelitian dibagi menjadi 4 (Sanjaya, 2013 : 135) yaitu tahap (1) dalam bentuk kegiatan memunculkan ide dan diikuti dengan melaksanakan studi pendahuluan dengan melakukan survei lapangan dan survei kepustakaan ; tahap (2) tahap pengembangan model yakni mengimplementasikan model awal dan menilainya dari sudut pandang proses pada lokasi dan subyek penelitian yang sangat terbatas ; tahap (3) adalah tahap uji coba model yang terdiri atas kegiatan uji coba terbatas ; tahap (4) adalah tahap validasi model sebagai kegiatan pasca-pengembangan, salah satunya melalu kegiatan pelaporan.
pembelajaran berbasis lingkungan yang menarik bagi anak-anak seperti hutan jati, pengembangbiakan burung-burung langka, lobster, dan tanaman obat.
Teknik pengumpulan data dilaksanakan melalui pengamatan atau observasi dan dokumentasi selama tiga kali 3 pertemuaan yang dilaksanakan pada 2, 16, dan 23 Oktober 2014. Satu pertemuan terakhir dilaksanakan oleh peserta dan guru pembimbing di sekolah masing-masing sebagai implementasi tahap ke-4. Rangkaian kegiatan Conservation Scout
(CS) ini dimulai dengan CS I yang dilaksanakan pada Kamis, 2 Oktober 2014. Pada tahap pertama, anak melakukan kegiatan eksperimen pada pos-pos eksperimen yang disediakan oleh panitia. Melalui berbagai eksperimen tersebut, anak mendapatkan kesempatan untuk mempelajari sekaligus mempraktekkan pengalaman belajar terkait pemanfaatan lingkungan yang baik, dampak perilaku merusak lingkungan, konservasi, maupun upaya peduli lingkungan yang dikemas melalui berbagai eksperimen sederhana dan menyenangkan bagi peserta. Beberapa pos eksperimen tersebut diantaranya “Mozaik Daun”, “Pengaruh Bau Pada Jangkrik”, “Tempat Pensil Dari Botol Bekas”, “Polusi Air”, dan sebagainya. Hasil pengamatan pada pertemuan pertama menunjukkan adanya kemampuan anak-anak membawakan pesan cinta lingkungan melalui sharing dan refleksi di akhir kegiatan.
Pengamatan kedua dilaksanakan pada Kamis, 16 Oktober 2014. Kegiatan yang dilakukan pada CS II ini adalah peserta diajak untuk mengawetkan spesimen tanaman paku-pakuan dengan resin dan membuat poster tentang peduli dan cinta lingkungan. Penjelasan tersebut tidak terlepas dari makna konservasi yaitu pemanfaatan tanaman atau hewan-hewan yang telah mati misalnya untuk diawetkan dan digunakan sebagai salah satu sumber belajar maupun penelitian secara morfologinya. Hasil pengamatan pada pertemuan kedua adalah kemampuan anak untuk menghasilkan awetan spesimen dan poster tentang peduli lingkungan yang dibuat sendiri oleh anak-anak.
Pengamatan ketiga dilaksanakan pada Kamis, 23 Oktober 2014. Pada CS III ini, peserta diajak melakukan beberapa kegiatan seperti pengenalan konservasi reptil, membuat
mini conservation garden dengan menanam tanaman pada botol bekas air mineral, dan mendapat penjelasan mengenai peer tutoring serta kampanye sebagai syarat untuk menjadi duta lingkungan bagi sekolahnya. Hasil pengamatan yang ke-3 ini adalah antusiasme anak ketika mereka berinteraksi dengan reptil dan kemampuan anak menanam tanaman obat pada botol/gelas bekas air mineral.
Tahap terakhir dari rangkaian kegiatan ini dilaksanakan di sekolah masing-masing peserta sebagai wujud implementasi kegiatan yang sudah didapatkan selama tiga kali pertemuan di PSL. Setiap peserta melakukan kampanye dan peer tutoring di sekolah masing-masing. Pengawasan kegiatan ini dilakukan oleh guru pembimbing dan dokumentasi dilakukan oleh masahiswa PGSD yang melakukan Program Pengakraban Lingkungan di sekolah tersebut. Dari 32 sekolah yang terlibat aktif dalam kegiatan di PSL, ada 17 sekolah yang siswanya berhasil melaksanakan kampanye dan peer turoting, serta menjadi duta konservasi lingkungan.
Melalui pengamatan yang telah dilakukan selama tiga kali di Pusat Studi Lingkungan (PSL) dan satu kali pelaporan dari masing-masing sekolah, maka model pembelajaran
Conservation Scout dapat dikembangkan menjadi beberapa tahap yang sistematis. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
Terarium adalah model menanam tanaman hias di dalam tempat atau wadah yang tembus pandang dan ditata sehingga tampak seperti taman.
Pengembangan model Conservation Scout sebagai pembelajaran berbasis lingkungan ini dapat diterapkan oleh berbagai sekolah sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada peserta didiknya. Penerapan model ini juga memberikan pengaruh positif terhadap penguasaan konsep peduli lingkungan maupun pendidikan lingkungan itu sendiri.
IV. KESIMPULAN
Conservation Scout (CS) adalah model pembelajaran berbasis lingkungan yang dapat diterapkan melalui empat tahap sistematis yaitu: (1) minitrip ke lokasi konservasi lingkungan seperti Pusat Studi Lingkungan (PSL); (2) aksi peduli lingkungan melalui kampanye dan peer tutoring; (3) kebun konservasi atau pojok konservasi di sekolah; dan (4) area konservasi di dalam kelas. Penerapan model ini bertujuan untuk menanamkan nilai peduli lingkungan pada anak sejak usia dasar. Model ini berhasil dilaksanakan di Pusat Studi Lingkungan (PSL) Sanata Dharma dengan melibatkan 38 SD mitra PGSD Universitas Sanata Dharma di wilayah Yogyakarta, baik SD Negeri maupun SD Swasta. Jumlah pesertanya adalah 76 siswa dan 38 guru pendamping. Hasil penerapan model menunjukkan terlibatnya 17 sekolah yang siswanya berhasil menjadi duta lingkungan melalui kampanye peduli lingkungan dan peer tutoring.
V. DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Lorin W. & Krathwohl, David R. 2001. Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen. Terjemahan oleh Agung Prihantoro. 2010. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Davis, Julie. 1998. “Young Children, environmental education and the future”. Journal of
Education and the Environment, (11).
Muksin. 2009. Outbound For Kids. Yogyakarta : Cosmic Books.
Putri, V., S., I., S. 2006. Mendidik Generasi Muda dengan Pendidikan Lingkungan. Online Library, WWF – Indonesia, Samarinda.