• Tidak ada hasil yang ditemukan

Toksisitas Ekstrak Daun sirsak Anona Mur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Toksisitas Ekstrak Daun sirsak Anona Mur"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hama merupakan salah satu faktor kendala dalam melakukan usaha untuk meningkatkan produksi pangan. Jumlah hama yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman yang menjadi inang bagi hama, oleh karena itu sering disebut organisme pengganggu tanaman (OPT). Salah satu hama yang dapat merusak suatu tanaman adalah hama ulat grayak. Ulat grayak (Spodoptera litura F., Lepidoptera, Noctuidae) merupakan salah satu hama daun

yang sangat merugikan karena hama ini dapat memakan semua tanaman. Hama ulat grayak mempunyai sifat “polyfag” (makan semua tanaman) sehingga ulat grayak bukan hanya menyerang tanaman, tetapi juga memakan bagian daun mulai dari tepi hingga bagian atas atau bawahnya bahkan hingga tersisa epidermis atau tulang daunnya saja. Hama ini sering mengakibatkan penurunan produktivitas bahkan kegagalan panen karena menyebabkan daun menjadi robek, terpotong-potong dan berlubang. Bila tidak segera diatasi, maka daun tanaman di areal pertanian akan habis dan dapat menyerang suatu tanaman dengan sangat cepat, bahkan dalam sehari suatu tanaman dapat habis daunnya karena diserang oleh gerombolan ulat grayak (Samsudin, 2008). Sehingga dampak yang ditimbulkan dari kerusakan tanaman ini yang paling utama adalah penurunan hasil produksi dari tanaman tersebut yang juga merugikan manusia yang mengambil manfaat atau hasil dari tanaman.

(2)

Hama ini dinamakan Ulat grayak karena mempunyai sifat “polyfag” (makan semua tanaman) sehingga ulat grayak bukan hanya menyerang tanaman padi, tetapi ulat grayak (Spodoptera litura) malah lebih sering menyerang tanaman cabai, bawang merah, kedelai dan lain-lain. Hama ini dapat menyerang dari satu tanaman ke tanaman lain dengan sangat cepat, bahkan dalam sehari suatu tanaman dapat habis daunnya karena diserang oleh gerombolan ulat grayak. Salah satu cara untuk mengendalikan hama ulat grayak adalah dengan menyemprotkan pestisida pada tanaman yang diserang ulat grayak.

Ulat grayak (Spodoptera litura F, Lepidoptera, Noctuidae) merupakan salah satu hama daun yang sangat merugikan karena hama ini bersifat polifag atau mempunyai kisaran inang yang luas meliputi kedelai, kacang tanah, kubis, ubi jalar, kentang, dan lain-lain. Hama ini sering mengakibatkan penurunan produktivitas bahan kegagalan panen karena menyebabkan daun menjadi robek, terpotong-potong dan berlubang. Hama ini dapat menyerang suatu dengan sangat cepat, bahkan dalam sehari satu tanaman dapat habis daunnya karena diserang oleh gerombolan ulat grayak bila tidak segera diatasi maka daun tanaman di sekitar areal pertanian akan habis (Samsudin, 2008).

(3)

Larva instar 1 dan 2 akan tinggal berkelompok di sekitar kulit telur dan memakan epidermis daun bagian bawah. Penyerangan ulat ini menyerang pada malam hari. Pada siang hari, ulat grayak bersembunyi di dalam tanah atau di tempat-tempat teduh seperti dibalik daun (Direktorat perlindungan tanaman pangan, 1985). Pengendalian terhadap hama ulat grayak pada tingkat petani umunnya masih menggunakan insektisida yang berasal dari senyawa kimia sintesis, seperti Dichloro-Diphenyl-Trichloro-ethane (DDT). Penggunaan insektisida kimia

sintensis dapat menyebabkan dampak negatif yang cukup serius. Jika dikaji lebih dalam pestisida atau yang disebut juga dengan insektisida mempunyai dampak negatif bagi kehidupan ekosistem lainya. Penggunaan insektisida kimia sintesis sering menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan biotik maupun abiotik (Hidayat, dalam skripsi 2012). Hal ini terjadi karena pestisida sintetik dapat menimbulkan dampak residu dan mengakibatkan terjadinya pencemaran pada tanah, air, dan udara. Selain itu juga dapat menimbulkan resurgensi hama, ”outbreak” hama sekunder. Jika masih diperlukan pengendalian Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT) dengan menggunakan pestisida, maka dapat dipilih pestisida yang berasal dari bahan-bahan nabati yang ada di alam atau dikenal dengan nama pestisida nabati.

(4)

tumbuhannya dan tidak meruksak tingkat kesuburan tanah. Salah satunya adalah dengan pemanfaatan mikroorganisme seperti jamur, bakteri, dan virus untuk menekan peningkatan populasi hama. Selain dengan pemanfaatan mikroorganisme, untuk mengendalikan populasi dan serangan hama tanaman dapat juga dengan pemanfaatan ekstrak tanaman (insektisida nabati).

Penelitian mengenai pemanfaatan ekstrak tanaman telah banyak dilakukan agar diperoleh/diketahui alternatif pengendalian hama yang lebih murah, aman terhadap lingkungan, dan dapat diterima oleh para petani. Dengan demikian ketergantungan petani terhadap insektisida kimia (sintesis) dapat dikurangi bahkan dapat dihilangkan, sehingga konsep pertanian ekologis atau pertanian berkelanjutan dapat diwujudkan.

Penggunaan berbagai macam tanaman untuk insektisida nabati ini dikenal dan digunakan sejak dahulu. Salah satu contoh insektisida tersebut adalah ekstrak Chrysanntemun caniriae (bunga krisan) yang mengandung bahan aktif phyretum dan asam krismat sebagai pembasmi serangga (Rahman, dalam skripsi 2009). Tumbuhan lain yang sudah digunakan adalah Calanchoe pinnata yang mengandung Bryophylin (Unang, 1994).

(5)

nabati yang dapat dimanfaat untuk pengendalian hama. Laporan dari berbagai propinsi di indonesia menyebutkan lebih dari 40 jenis flora atau tumbuhan berpotensi sebagai insektisida nabati (Direktorat Jendral Perkebunan, 1994). Tumbuhan yang diketahui berpotensi sebagai sumber insektisida nabati yang potensial antara lain famili Meliaceae, Annonaceae, Piperanceae, Asteraceae, Zingibaraceae dan Leguminosae. Contoh tanaman Annonaceae yang pontensial antara lain sirsak (Annona muricata), srikaya (Annona squamosa) dan buah nona (Annona reticulate). Beberapa ekstrak bagian tanaman tersebut terbukti aktif sebagai insektisida nabati sebagai antifeedant, penghambat perkembangan, serta penghambat penularan (Dadang & Prijono, 1999).

Pestisida nabati dapat dibuat dengan menggunakan teknologi tinggi dan dikerjakan dalam skala industri. Namun, dapat pula dibuat dengan menggunakan teknologi sederhana oleh kelompok tani atau perorangan. Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, antara lain asimisin, bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi senyawa acetogenin, akan bersifat “antifeedant” bagi serangga, sehingga menyebabkan serangga tidak mau makan/ tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Pada konsentrasi rendah dengan pemberian oral bersifat racun perut dan dapat menyebabkan kematian (Septerina,2002; Kardinan, 2005).

(6)

daun sirsak dengan dosis 6 gram ke dalam toples yang telah berisi 20 ekor rayap. Ekstrak daun sirsak dapat digunakan untuk pengendalian hama dan berpengaruh meningkatkan mortalitas larva.

Salah satu bahan dasar pestisida alami, yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan hama tanaman ulat grayak adalah daun sirsak. Dari tanaman sirsak telah berhasil diisolasi beberapa senyawa acetogenin antara lain akan bersifat asimisin, bulatacin dan squamosin. Senyawa acetogenin anti feedant bagi ulat grayak, sehingga menyebabkan ulat grayak tidak mau makan. Pada konsentrasi rendah bersifat racun perut dan dapat menyebabkan kematian.

Untuk itu, perlu dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan ekstrak daun tanaman sirsak (Annona muricata) sebagai pestisida alami yang ramah lingkungan dengan judul: Toksisitas Ekstrak daun sirsak (Annona muricata L) terhadap mortalitas ulat grayak (Spodoptera litura F).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang mendasar dari penelitian ini adalah : “Bagaimanakah pengaruh ekstrak daun sirsak (Annona muricata) terhadap mortalitas ulat grayak (Spodoptera litura F.)?”.

Dari rumusan masalah di atas, dapat dijabarkan menjadi dua pertanyaan penelitian sebagai berikut:

(7)

2. Pada pemberian konsentrasi berapakah yang paling efektif terhadap mortalitas ulat grayak?

C. Tujuan Penelitian

Bertolak dari masalah yang telah dirumuskan, tujuan utama dari penelitian ini adalah dapat ditentukan, sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui pengaruh daun sirsak terhadap mortalitas ulat grayak. 2. Untuk mengetahui konsentrasi daun sirsak yang paling efektif terhadap

mortalitas ulat grayak.

D. Manfaat Penelitian 1. Teoritis

Bagi peneliti, dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang manfaat pestisida nabati daun sirsak yang dapat dijadikan sebagai pengendalian hama terhadap hama ulat grayak.

2. Praktis

 Memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat luas dan petani tentang alternatif pemanfaatan daun sirsak (Annona muricata L) dalam bentuk pestisida nabati sebagai alternatif pestisida pembunuh penyakit.

(8)

 Memberikan informasi kepada para petani dan masyarakat bahwa daun sirsak dapat dijadikan salah satu usaha penyediaan pestisida nabati untuk menghasilkan produksi tanaman yang lebih banyak.

 Memberikan informasi kepada mahasiswa untuk menjadikan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

3. Pendidikan

(9)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

1. Tinjauan Pustaka

A. Tinjauan Umum Ulat Grayak(Spodoptera litura F.)

Menurut pracaya (2005) Spodoptera litura F. Ini diisebut ulat grayak karena ulat ini dalam jumlah yang sangat besar sampai ribuan menyerang dan memakan tanaman pada waktu malam hari sehingga tanaman akan habis dalam waktu yang sangat singkat. Serangan ulat grayak ini perlu diwaspadai karena pada siang hari tidak tampak dan biasanya bersembunyi di tempat yang gelap dan didalam tanah maupun bagian belakang daun, namun pada malam hari ulat grayak melakukan aktifitas serangan yang hebat dan bahkan dapat menyebabkan kegagalan panen, mungkin itulah sebabnya maka serangga ini disebut sebagai ulat grayak. Ulat grayak ini termasuk dalam keluarga Nectuidae, yang berasal dari bahasa latin noctua yang artinya ‘burung hantu’.

Menurut kalshoven (1981) ulat grayak diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Animalia

Class : Insekta Ordo : Lepidoptera Family : Noctuidae Genus : Spodoptera

Spesies : Spodoptera litura F.

(10)

Ulat grayak memiliki bermacam-macam jenis umumnya termasuk genus spodoptera. Hama ini tersebar hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia, yaitu di daerah tropis dan subtropis. Bila keadaan mendukung, populasi gerombolan ulat grayak akan berbaris disawah yang satu ke sawah yang lainnya dan memakan daun-daun sehingga hanya akan menyisakan tulang daun dan batangnya saja. Ulat grayak merupakan serangga hama yang sangat mengganggu bagi tanaman pertanian yang ada di Asia. Spodoptera litura F. merupakan hama perusak daun yang bersifat mempunyai polifag (makan semua tanaman). Sehingga ulat grayak bukan hanya menyerang tanaman padi, tetapi ulat grayak (Spodoptera litura) malah lebih sering menyerang tanaman cabai, bawang merah, kedelai dan

lain-lain.

Pada siang hari ulat grayak tidak terlihat, karena umumnya bersembunyi di tempat-tempat yang teduh, di bawah batang dekat leher akar atau di dalam tanah/pangkal rumput tanaman. Pada malam hari ulat grayak akan keluar dan melakukan serangan. Serangga ini merusak pada stadia larva, yaitu memakan daun sehingga menjadi berlubang-lubang. Biasanya dalam jumlah besar ulat grayak bersama-sama pindah dari tanaman yang telah habis dimakan daunnya ke tanaman lainya (Sudarmo, 1991).

a) Siklus Hidup

(11)

a. Telur

Telur S.litura F. yang baru diletakkan berwarna putih mutiara atau kuning sampai kehijau-hijauan, lalu akan terjadi perubahan warna pada saat menetas, berbentuk bulat dengan permukaan agak bergerigi dan berdiameter 0,5 mm. Telur diletakkan berkelompok di bawah permukaan daun atau di bagian leher daun. Satu kelompok telur rata-rata terdiri dari 25-500 butir telur yang menetas dalam waktu tiga sampai lima hari.

Gambar 2.1 Telur Spodoptera litura F.

b. Larva

(12)

Menurut Direktorat Jendral Perkebunan (1994), instar pertama tubuh larva berwarna hijau kuning, panjang 2,00 sampai 2,74 mm dan tubuh berbulu-bulu halus, kepala berwarna hitam dengan lebar 0,2-0,3 mm. Instar kedua, tubuh berwarna hijau dengan panjang 3,75-10,00 mm, bulu-bulunya tidak terlihat lagi pada ruas abdomen pertama terdapat garis hitam mengikat pada bagian dorsal terdapat garis putih memanjang dari thoraks hingga ujung abdomen, pada thorkas terdapat empat buah titik yang berbaris dua-dua. Larva instar ketiga memiliki panjang tubuh 8,0-15,0 mm dengan lebar kepala 0,5-0,6 mm. Pada bagian kiri dan kanan abdomen terdapat garis zig-zag berwarna putih dan bulatan hitam sepanjang tubuh. Instar keempat dan kelima agak sulit dibedakan. Untuk panjang tubuh instar keempat 13-20 mm dan instar kelima 25-35 mm. Yang mempunyai ciri khas dari ulat grayak yaitu pada ruas perut yang keempat dan kesepuluh terdapat bentuk bulan sabit berwarna hitam yang dibatasi garis kuning pada samping dan punggungnya (Pracaya, 2005).

(13)

www.gerbangpertanian.com/2012/11/mengdalikan-ulat-grayak-pada-tanaman.html

c. Pupa

Saat larva mencapai instar, akan menggali tanah dan akan terbentuk pupa. Masa prapupa (Gambar 2.3a), merupakan stadium saat larva tidak makan dan tidak aktif bergerak. Pada masa ini tubuh larva memendek. Prapupa berkisar antara satu sampai dua hari. Pupa ulat grayak (Gambar 2.3b) membentuk kokon, biasanya berada didalam tanah atau pasir (Sudarmo, 1991). Cocoon atau pupa berwarna coklat kemerah-merahan sampai coklat tua mengkilat (Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan, 1985).

Gambar 2.3 (a) prapupa, (b) pupa d. Imago/Ngegat

(14)

kuning. Sayap belakang biasanya berwarna putih (Gambar 2.4) (Ardiansyah, 2007). Panjang badan berkisar antara 15-20 mm dengan rentang sayap 13-42 mm. Lama imago berkisa antara 9-18 hari. Sayap ngengat bagian depan berwarna coklat atau keperakan, dan sayap belakang berwarna keputihan dengan bercak hitam (Marwoto dan Suharsono dalam skipsi Nia Marlina Rahman 2009 )

Gambar 2.4 Kupu-kupu dewasa

b) Perilaku dan Fisiologi

Ulat Grayak merupakan hewan noctural, yaitu aktif pada malam hari untuk mencari

makanan dan perilaku kawin untuk metamorfosis baru. Pada siang hari mereka akan

bersembunyi di dalam tanah. Hama ini biasanya bersembunyi ditempat yang lembab.

Ulat ini digolongkan ke dalam serangga, sifat perilaku ini bersifat herbivora yang penting

dalam kaitanya dengan insektisida serangga dan tanaman adalah tetntang bagaimana

langkah-langkah serangga dalam memberikan tanggapan (Respons) terhadap rangsangan

(stimulus) dari tanaman sehingga serangga herbivora datang dan memakan tanaman

tersebut (Untung,1993).

Beberapa cara yang dilakukan serangga dalam memilih dan menentukan makanan

(15)

dan yang kedua adalah kekurangan nutrisi maka akan dirasakan oleh organ perasa

internal, dalam keadaan tersebut serangga bergerak atau mencari sumber makanan yang

lain yang memberi pengaruh positif (Waldbaeur & friedman, dalam skripsi Nia Marlina

Rahman 2009).

Menurut Schmuttere (1990, dalam Melanie et al., 2002) aktifitas makanan

(antifeedant) serangga dapat terhenti disebabkan pengaruh zat kimia terutentu yang

menstimulasi kemoresptor kemudian dilanjutkan pada sistem saraf pusat serangga. Pada

proses selanjutnya pengaruh zat dapat merusak jaringan tertentu yaitu organ pencernaan,

kelenjar penghasil enzim atau jaringan syaraf serangga.

Sistem pencernaan larva menyesuaikan diri dengan kelangkaan makanan. Jika

makanan tersebut langka, sistem pencernaan mereka menahan dan memproses nutrisi

secara efesien. Ketika makanan melimpah atau banyak makanan, makanan akan cepat

habis tidak efisien dan larva mengkomsumsi lebih banyak makanan daripada kebutuhan

hidup yang diperlukan (Elis, 2004). Menurut Sastrodiharjo (1979) penyerapan makanan

terjadi pada saluran bagian tengah (midgut) karena memiliki struktur yang tidak

memiliki lapisan kutikula, sedangkan pada saluran bagian depan (foregut) dan saluran

akhir (hindgut) dilapisi oleh kutikula.

Sistem pernapasan pada serangga umumnya menggunakan sistem trakhea. Sistem

trakhea merupakan sistem trakhea merupakan sistem untuk mengambil oksigen dari udara

dan distribusikan ke dalam tubuh kemudian dikeluarkan berupa karbondioksida

(Winatasasmita, 1996). Oksigen ini masuk melalui stigma atau spirakel yang memiliki

katup mengalir kedalam trakhea dan diteruskan ke trakheolus, yaitu cabang trakhea yang

ukurannya lebih kecil. Dari trakheolus inilah oksigen akan mengalir ke seluruh jaringan

tubuh. Akhir dari sistem trakhea ini adalah kulit tubuh dan gas yang dikeluarkan berupa

(16)

Sistem sirkulasi pada serangga disebut sistem pembuluh. Cairan tubuh yang mengalir

pada serangga disebut hemolimfa yang dipompa oleh organ yang disebut jantung. Jantung

akan mengembang karena adanya kontraksi otot jantung. Dengan adanya gerak ini

haemolimfa akan mengalir ke seluruh tubuh dengan membawa zat makanan ke seluruh

jaringan dan organ. Selain itu, sistem ini juga membawa zat buangan seperti amonia, urea

dan asam amino ke dalam tabung malphigi sebagai bagian dari sistem ekresi

(Sastrodiharjo, 1979).

c) Peranan Ulat Grayak Sebagai Hama

Larva yang masih muda akan merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa

epidermis bagian atasnya saja, sehingga daun tersebut menjadi transparan karena hanya

tersisa tulang dan daunnya saja. Larva ini kemudian merusak tulang daun dan

kadang-kadang menyerang polong-polongan. Biasanya larva berada di bawah permukaan daun

dan menyerang secara serentak dan berkoloni atau berkelompok (Direktorat Perlindungan

Tanaman Pangan, 1985). Serangan berat akan menyebabkan tanaman menjadi gundul

karena daun dan buah akan habis dimakan ulat (Gambar 2.5). Serangan berat pada

umumnya terjadi pada musim kemarau panjang dan akan menyebabkan defolisasi daun

(17)

Gambar 2.5 Gejala hama ulat grayak

(18)

d) Pengendalian Ulat Grayak (Spodopteralitura F.)

Berkembangnya resistensi hama terhadap insektisida yang diikuti meningkatnya kesadaran masyarakat akan dampak buruk penggunaan insektisida secara intensif, mendorong perlunya pengendalian hama secara terpadu dengan menekan penggunaan insektisida kimia dan mempertahankan kelanjutan sistem usaha tani (Carter 1989). Untuk mengatasi ulat grayak memang agak sulit karena seringkali terjadi secara mendadak dan tidak pernah diduga sebelumnya. Untuk mengendalikan ulat grayak diantaranya dengan pengendalian secara mekanik, fisik, maupun dengan menggunakan cara penyemprotan dengan menggunakan pestisida. Teknik ini bertujuan untung menekan atau mengurangi populasi hama. Selain itu, menggenangi lahan pertanian terutama pada stadia vegetatif akhir dan pengisian polong untuk mematikan ulat grayak yang berdiam diri di dalam tanah pada siang hari (Pracaya, 2005).

Selain dengan pengendalian secara mekanis, untuk mengendalikan dan mengurangi populasi ulat grayak juga dapat dilakukan dengan cara biologi. Pengendalian secara biologi terhadap hama ulat grayak yaitu dengan menggunakan Borrelinavirus litura dan bakteri Bacillus thuringiensis. Pengendalian lainya yaitu dengan menggunakan bahan insektisida kimia lainya dengan cara disemprot, rotasi tanaman, light trap dan penggunaan tanaman perangkap (Pracaya, 2005).

(19)

Sirsak (Annona muricata) termasuk tanaman tahunan yang dapat tumbuh dan berbuah sepanjang tahun, apabila air tanah mencukupi selama pertumbuhannya (Radi, 1999). Tanaman ini merupakan tanaman dari famili Annonaceae. Tanaman sirsak berasal dari Bangsa Belanda yang pertama kali membawa benih atau bibit sirsak ke Indonesia, meskipun tanaman ini aslinya bukan berasal dari Eropa, melainkan dari Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Sirsak memiliki pohon tinggi menjulang, bahkan ketinggiannya bisa mencapai 10 meter. Tanaman sirsak bisa mencegah erosi tanah (Hasnawati, 2004). Tanaman ini ditanam secara komersial untuk diambil daging buahnya. Di Indonesia tanaman sirsak merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak tumbuh di pekarangan rumah dan di ladang-ladang. Tanaman ini dapat hidup pada tempat yang ketinggiannya kira-kira 1000 meter di atas permukaan laut (Menurut Sunaryono. 1990). Dalam skripsi Nia Marlina Rahman 2009, curah hujan yang baik untuk pertumbuhan pohon sirsak antara 1500-200 mm per tahun.

(20)

Tanaman sirsak dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae ( Tumbuhan )

Subkingdom : Tracheobionta ( Tumbuhan berpembuluh ) Super Divisio : Spermatophyta ( Menghasilkan biji ) Divisio : Magnoliophyta ( Tumbuhan berbunga ) Kelas : Magnoliopsida ( Dikotil / berkeping dua ) Sub Kelas : Magnoliidae

(21)

 Pohon

Pohon sirsak berkayu keras dan bercabang sedikit. Arah cabangnya tidak menentu. Batang sirsak umumnya kecil, tetapi agak liat sehingga tidak mudah patah untuk menahan bakal calon buah. Batang berkayu, bulat, bercabang. Pohon berwarna coklat dan memiliki model Troll dengan ketinggian pohon mencapai 8-10 meter dan diameter batang 10-30 cm. Akar tanaman sirsak ini monokotil atau akar tunggal berupa tunggang dan berwarna coklat muda (Radai, 1991). Akar dapat menembus tanah sampai kedalaman 2 meter, sehingga bisa mencegah erosi tanah (Sunarjono, 2003 dalam skripsi Nia Marlina Rahman 2009).

 Daun

Daun sirsak berbentuk bulat telur atau lanset, ujung runcing, tepi rata, pangkal meruncing dan pertulangannya menyirip. Panjang tangkai 5 mm dan pada permukaan bagian atas yang halus berwarna hijau tua sedangkan pada bagian bawahnya mempunyai warna yang lebih muda.

 Bunga

(22)

berjumlah 6 sepal yang terdiri atas 2 lingkaran, bentuknya hampir segitiga, tebal dan kaku. Berwarna kuning keputih-putihan , dan setelah tua mekar, kemudian lepas dari dasar bungnya. Bunga keluar dari ketiak daun, cabang, ranting atau pohon. Bunga umumnya sempurna, tetapi terkadang hanya bunga jantan atau betina dalam satu pohon. Daun mahkota berwarna hijau muda dan berbentuk delta atau mirip segitiga klaver. Bila mendekati mekar, mahkota bunga ini berubah menjadi kuning muda ( gambar 2.6) (Radi, 1991).

 Buah

Buah sirsak termasuk buah semu. Buah tanaman ini berasal dari satu bunga dengan banyak bakal buah tetapi membentuk satu buah. Buah sirsak memiliki duri sisik halus. Apabila sudah tua daging buahnya berwarna putih, lembek, dan berserat dengan banyak biji di dalam daging buahnya.

Buah sirsak yang normal dan sudah cukup matang mempunyai berat ± 500 gram. Bentuk buah bagian ujung agak membulat lonjong dengan diameter ± 5 cm, diameter bagian tengah ± 7 cm, serta panjang keseruruhan bagian buah ± 17 cm. Kerapatan duri maksimal 2-3 buah per 4 cm (diukur bagian buah yang durinya paling panjang) (Radi,1991).

b) Kandungan dalam Tanaman Sirsak

(23)

dapat dimakan , 20% kulit buah, 8,5% daun, dan 4% sisa dasar bunga. Sirsak mengandung vitamin A, B, C, dan kandungan lainnya adalah sukrosa 2,54%, dextrose 5,05%, dan levulosa 0,06%.

Dalam daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, minyak esensial, reticuline, loreximine, annomurine, higenamine. Daun sirsak selain bermanfaat sebagai pestisida tetapi juga bermanfaat sebagai penghambat sel kanker dengan menginduksi apoptosis, antidiare, analgetik, anti disentri, anti asam anthelmitic, dilatasi pembuluh darah, menstimulasikan sistem pencernaan, mengurangi depresi atau stress. Biji dan daunya dapat digunakan sebagai insektisida alami. Selain kandungan tersebut ada juga kandungan yang lain seperti senyawa yang bersifat acetogenin, antara lain asimisin, bulatacin, dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin yang memiliki keistimewaan sebagai anti feedent bagi serangga, sehingga dalam hal ini menyebabkan serangga tidak mau makan/ tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan pada konsentrasi rendah dengan pemberian oral bersifat sebagai racun perut yang bisa mengakibatkan hama ulat grayak mati. Ekstrak daun sirsak dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi hama ulat grayak dan hama-hama lainnya (Septerina, 2002; Kardinan, 2005). Selain itu juga daun sirsak sering digunakan sebagai bahan-bahan obat tradisional.

C. Tinjauan umum Pestisida

(24)

yang berarti hama, sedangkan kata “cide” yang berati membunuh atau membasmi. Pengertian umum dari pestisida tersebut adalah pembunuh hama. Pestisida ini mempunyai bagian-bagian yang sangat penting dalam membasmi hama dan penyakit pada tumbuhan. Macam-macam pestisida terbagi menjadi beberapa golongan atau kelompok yaitu insektisida, fungisida, rodentisida, herbisida, nematisida, bakterisida, virusida dan lain-lain (Dalam Wikipedia/pestisida).

Pestisida ini digunakan untuk mengendalikan serangan yang disebabkan oleh beberapa jenis serangga. Untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam usaha tani, dalam menggunakan pestisida tersebut, karena pestisida mempunyai dosis yang berbeda. Pengetahuan tentang siklus hidup serangga sangat menentukan efektifitas pengendalian hama. Siklus hidup serangga umumnya melalui tahap yang disebut metamorfosis, yakni perubahan bentuk telur, larva, kepompong, dan serangga dewasa. Selanjutnya harus diketahui tahap metamorfosis serangga tersebut yang akan menjadi perusak pada tanaman (Edah, 2003).

(25)

ini dapat masuk ke dalam sistem pernapasan dan sekaligus mematikan hama tanaman tersebut.

Pengendalian serangan hama ulat grayak pada tanaman dapat dikendalikan dengan menggunakan dua jenis pestisida tersebut, yaitu pestisida kimia sinteti dan pestisida nabati.

1. Pestisida kimia sintetis

Pestisida kimia sintesis ialah pestisida yang dibuat di dalam pabrik melalui proses kimiawi, yang banyak mengandung zat logam berat, seperti air raksa, timah, arsenat, seng dan fosfor (Kartasapoetra, 1993). Penggunaan pestisida kimia sintesis mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan diantaranya mudah diaplikasikan dan cepat terlihat hasilnya. Namun, dibalik penggunaan pestisida kimia sintetis juga bukan tanpa masalah. Penggunaan pestisida sintesis yang berlebihan dan tidak tepat dapat menyebabkan dampak negatif yang cukup serius. Jika dikaji lebih dalam pestisida atau yang disebut juga dengan insektisida mempunyai dampak negatif bagi kehidupan baik pada tumbuhan, hewan maupun manusia. Hal ini karena pestisida sintetik dapat menimbulkan dampak residu dan mengakibatkan terjadinya pencemaran pada tanah, air, dan udara. Dampak ini lebih besar dibandingkan sulfur oksida dalam hal proses dekomposisi dan konservasi nutrien (Jumpowati, 1999).

2. Pestisida nabati

(26)

dijadikan pestisida dari tumbuhan, misalnya: akar tuba (mengandung racun rotenon), daun tembakau (mengandung nikotin), tanaman bunga Pyrethrum (mengandung racun Pyrethrum) (Kartasapoetra, 1993). Oleh karena itu pestisida terbuat dari bahan alami maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan, relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang dan terurai kembali (Rukmana, 1994).

Pestisida nabati merupakan hasil dari ekstraksi bagian tertentu yang dapat dijadikan bahan pestisida dari tanaman baik dari daun, buah, biji atau akar. Biasanya bagian tanaman tersebut mengandung senyawa atau metabolit sekunder dan memiliki sefat racun terhadap hama dan penyakit tertentu (Rumah Agrobisnis, 2007).

(27)

D. Tinjauan Umum Uji Hayati dalam Penentuan LC50 1. Uji Hayati Secara Umum

Uji hayati adalah pendugaan secara kuantitatif senjumlah bahan aktif dengan mengukur efek bahan tersebut terhadap mikroorganisme yang dijadikan objek pengujian. Prinsip metode hayati didasarkan pada pengukuran atau gejala fisiologi dari hewan yang diujikan (Prijono, 1994). Rismunandar (1993) menyatakan bahwa gejala golongan serangga yang mengalami metamorfosis yang dimulai dari fase-fase kemudian menjadi ulat, kepompong dan menjadi ulat dewasa, yang akan memakan daun-daun pada tanaman sehingga merugikan hasil produksi pada tanaman. Sehingga fase tersebut sangat berbahaya, diantara fase-fase tersebut yang sangat berbahaya yaitu pada fase-fase ulat atau larva.

Berdasarkan Environmental Protection Seris (dalam Nurramdhan, 2005) terdapat beberapa istilah yang sering digunakan dalam uji hayati diantaranya ialah LC50(Lethal Concentration) yang dilakukan untuk mengetahui jumlah kematian

50% dari jumlah hewan uji akibat toksisitas senyawa kimia atau limbah yang akan diujikan. Kematian tersebut tergantung dua faktor, yaitu besarnya konsentrasi yang diberikan dan lamanya waktu pengujian.

Dalam penentuan LC50 terdapat dua tahapan yang dilakukan, tahap

(28)

5 konsentrasi pada setiap pengujian (Rand & Petrocelli, 1985 dalam Nurramdhan, 2005)

2. Metode Uji Hayati pada Serangga

Terdapat beberapa metode untuk menentukan nilai LC50 dari suatu jenis pestisida terhadap serangga tertentu. Metode uji hayati yang bisa dilakukan cukup beragam. Prijono (1994) menyatakan bahwa metode pengujian pestisida adalah sebagai berikut :

a. Metode residu pada daun, uji ini biasanya dilakukan untuk pengujian awal aktivitas sediaan bahan alam terdapat setangga pemakan daun.

b. Pengujian efek kontak, pada pengujian residu daun senyawa aktif masuk kedalam tumbuh serangga dapat melalui sistem saluran pencernaan bersama makanan atau melalui kutikula. Dari hal tersebut dapat diketahui efek kontak.

c. Metode pencampuran makanan, cara ini bisa dilakukan pada senyawa yang mudah menguap. Ekstrak yang telah dilarutkan kemudian dicampur dengan makanan yang sebelumnya dihaluskan dalam pengujian ekstrak tanaman yang berupa padatan biasanya dinyatakan dalam ppm.

(29)

Senyawa aktif yang terdapat pada pestisida dapat masuk melalui sistem pernafasan baik berupa gas maupun dalam butiran gas halus yang masuk melalui stigma atau spirakel yang berakhir ke saluran-saluran trakea dan pada akhirnya akan masuk kedalam jaringan.

2. Kerangka Pemikiran

Hama dan penyakit merupakan sesuatu yang tidak bisa lepas dari tanaman. Jumlah hama dan penyakit yang tak terkendali dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman yang menjadi inang bagi hama dan penyakit tersebut, oleh karena itu sering disebut organisme pengganggu tanaman (OPT). Hama ini dinamakan ulat grayak karena mempunyai sifat polyfag (makan semua tanaman) sehingga ulat grayak bukan hanya menyerang tanaman, tetapi juga memakan bagian daun mulai dari tepi hingga bagian atas atau bawahnya bahkan hingga tersisa epidermisnya saja. Hama ini dapat menyerang suatu tanaman dengan sangat cepat, bahkan dalam sehari suatu tanaman dapat habis daunnya karena diserang oleh gerombolan ulat grayak. Sehingga dampak yang ditimbulkan dari keruksakan tanaman ini yang paling utama adalah penurunan hasil produksi dari tanaman tersebut yang juga merugikan manusia yang mengambil manfaat atau hasil dari tanaman.

(30)

tanaman padi tanpa helai daun. Pengendalian hama tanaman ini merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam usaha tani.

Beberapa jenis pestisida sangat efektif dalam menendalikan hama dan penyakit di lahan-lahan pertanian. Jenis pestisida kimia memberikan dampak pengaruh yang sangat besar terhadap organisme atau lingkungan yang bukan sasarannya. Salah satu komponen penting dalam pengendalian hama terpadu adalah dengan menggukan pestisida nabati, karena pestisida tersebut sangat ramah lingkungan dan baik digunakan. Beberapa hasil dari penelitian menunjukan bahwa bagian tanaman ada yang bersifat toksis sehingga dapat dijadikan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama tersebut (Menurut Balfes, et al. 1994 dalam skripsi Hidayat 2012).

Pestisida nabati dapat berfungsi sebagai : (1) penghambat nafsu makan (anti feedant); (2) penolak (repellent); (3) penarik (atractant); (4) menghambat perkembangan; (5) pengaruh langsung sebagai racun dan (6) mencegah peletakkan telur (Setiawati, et al,2008).

(31)

Menurut Sudarmo (2005), daun sirsak mengandung bahan aktif annonain dan resin. Pestisida nabati daun sirsak efektif untuk mengendalikan hama ulat grayak, dan hama pengisap lainnya.

Memacu pada hal tersebut maka salah satu cara alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan penggunaan pestisida nabati daun sirsak untuk mengendalikan hama ulat grayak yang sifatnya ramah lingkungan terhadap ekosistem tersebut. Selain itu, penggunaan pestisida nabati dinilai sangat ekonomis karena bahan yang digunakan mudah diperoleh dari alam sekitar sehingga relatif lebih murah harganya pun.

3. Hipotesis

Terdapat pengaruh ekstrak daun sirsak (Annona muricata) terhadap mortalitas ulat grayak (Spodoptera litura).

(32)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

 Waktu

Dalam penelitian ini membutuhkan waktu kira-kira selama 2 bulan, yaitu dimulai

dari bulan September sampai dengan bulan Oktober 2013.

 Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Panawangan, Desa Nagarapageuh, Kecamatan

Panawangan, Kabupaten Ciamis-Jawa Barat.

B. Populasi dan Sampel

 Populasi

Populasi ulat grayak dalam penelitian ini dengan cara mengembangbiakan terlebih

dahulu. Ulat grayak ini didapatkan dari salah satu tempat bagian laboratorium hama

dan penyakit di Balai Penelitian dan Sayuran (BALITSA) Bandung.

 Sampel

Sampel yang digunakan adalah masing-masing ulat grayak yang ditempatkan

dalam 20 plot sebanyak 20 ekor.

C. Metode dan Desain Penelitian

 Metode

Mengacu pada penelitian sebelumnya, menurut Tenrirawe, A dan Pabbage, M.S.

Metode yang digunakan dalam penelititian ini adalah metode eksperimen yang

(33)

menggunakan Rancangan pola Acak Lengkap (RAL) dengan suatu faktor 4 perlakuan

5 kali ulangan yaitu:

P1 = Kontrol air

P2 = Konsentrasi ekstrak daun sirsak

P3 = Konsentrasi ekstrak daun sirsak

P4 = Konsentrasi ekstrak daun sirsak

Untuk menentukan jumlah ulangan dalam dalam penelitian, maka formula yang

digunakan adalah sebagai berikut:

4r – 4 = 14

4r = 14 + 4

4r = 18

r = 18 4 t = 4,5

t = 5 jumlah ulangan yang dilakukan adalah sebanyak 5 kali

keterangan: r = jumlah perlakuan

t = jumlah ulangan

Banyaknya pengulangan dalam penelitian ini adalah sebanyak 5 kali. Jadi jumlah

unit percobaan dalam penelitian ini adalah sebanyak 4 perlakuan x 5 ulangan = 20 unit

(34)

 Desain penelitian

D. Variabel Penelitian

Dalam penentukan variabel penelitian ini terdapat dua variabel yaitu:

a. variabel bebas : ekstrak daun sirsak (A. muricata)

b. variabel terikat : jumlah mortalitas ulat grayak (Spodoptera litura f)

Parameter utama pada penelitian ini adalah jumlah ulat grayak (Spodoptera litura f) yang mati oleh konsentrasi ekstrak daun sirsak yang berbeda. Ciri mortalitas ulat grayak (Spodotera litura f) yaitu ulat tidak bergerak (mati).

E. Alat dan Bahan Penelitian

Dalam penelitian ini memerlukan beberapa tahap diantaranya penyediaan daun

(35)

1. Alat dan bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah larva instar 3 Spodoptera litura F, daun sirsak, dan air.

F. Prosedur Pengumpulan Data

a) Mencari dan mengumpulkan ulat grayak (Spodoptera litura f)

Ulat grayak (Spodoptera litura f) didapatkan dari Kota Bandung, Jawa Barat di salah satu perternakan ulat. Kemudian di kumpulkan untuk dikembangbiakan dan dijadikan sampel

(36)

G. Teknik Analisis Data

Dari hasil pengamatan sementara, tingkat mortalitas ulat grayak digunakan untuk menganalisis pengaruh perlakuan melalui penggunaan Analisis of Variance (ANOVA). Menurut Gomez (1995), perhitungan yang dapat dilakukan adalah: 1. Analisis satu faktor

b. menghitung jumlah kuadrat perlakuan

JKperlakuan =

it=1X12−F.K

r

c. menghitung jumlah kuadrat galat JKgalat = JKumum – JKperlakuan

(37)

KTperlakuan=JKperlakuan t−1 b) Menghitung KT galat

KTgalat= JKgalat (r−1)(t−1)

5) Menghitung nilai F untuk menguji perbedaan nilai tengah

F=KTperlakuan KTgalat

6) Menentukan nilai F dari daftar

7) Membuat tabel ringkasan ANAVA satu faktor

Sumber

kuadrat (JK) tengah (KT)Kuadrat Fhitung Ftotal

(38)

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pertanian. 1994. Pedoman Pengendalian Botani. Jakarta: Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan.

Direktorat Perlindungan Pangan. 1985. Pengendalian Jasad Pengganggu Tanaman Palawija. Jakarta: Dirjen Pertanian Tanaman Pangan.

Edah, J. dan Novizan. 2003. Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman. Justika S. Baharsjah. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).

Hidayat, A. 2012. Pengaruh Daun Sirsak Terhadap Mortalitas Belalang Hijau. Ciamis : Skripsi Unigal

Kalsolven, L.G.E. 1981. Test of Crops in Indonesia. Jakarta: PT. Ikhtiar Baru-Van Hoeve.

Kardinan, A. 2005. Pektisida Nabati, Kemampuan dan Aplikasi. Bogor: PT. Penebar Swadaya.

Kartasapoetra, A.G. 1993. Hama Tanaman Pangand an Perkebunan. Jakarta: Pustaka Widiyatama.

Melanie, H., dkk. 2002. Bioaktivitas Ekstrak Daun Sosor Bebak Terhadap Larva Kumbangkoksi. Bandung: Buletin Jurusan Biologi MIPA UNPAD.

Nia Marlina Rahman. 2011. Toksisitas Ekstrak Biji Sirsak Terhadap Mortalitas Ulat Grayak. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

Pracaya. 2005. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta: PT. Penebar Swadaya. Prijono, D. 1994. Teknik Pemanfaatan Insektisida Botanis. Fakultas Pertanian

Institus Pertanian Bogor.

Radi, J. 1999. Sirsak, Budidaya dan Pemanfaatannya. Yogyakarta: Kanius. Rukmana, R. 1994. Bayam. Yogyakarta: Kanius.

(39)

Septerina, N.G. 2002. Pengaruh Ekstrak Daun Sirsak Sebagai Insektisida Rasional Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Paprika Varietas.

Http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s12002-niken-5526-ekstrak.

Sudarmo S. 1991. Pengendalian Serangga Hama Sayuran dan Palawija. Jakarta: Kanius.

Sunaryo, H. 1990. Ilmu Produksi Tanaman Buah-buahan. Bandung: Sinar Baru. Tenrirawe, A & Pabbage, M. S.” pengendalian penggerek batang jagung (Ostrinia

Furnacalis G) dengan ekstrak daun sirsak (Annona muricata L)”. Proseding seminar ilmiah & pertemuan tahunan PEI & PFI XVIII komda sul-sel, 2007.

Unang. 1994. Senyawa yang Bersifat Insektisida dalam Tanaman Indonesia. Seminar Nasional KBA.

Untung, K. 1993. Pengantar Pengendalian Hama Terpadu. Yogyakarta: Andi Offset.

Winatasasmita, D. 1996. Fisiologi Hewan dan Tumbuhan. Bandung: Universitas Terbuka.

Gambar

Gambar 2.2 larva Spodoptera litura F.
Gambar  2.3 (a) prapupa, (b) pupa
Gambar 2.4 Kupu-kupu dewasa
Gambar 2.5 Gejala hama ulat grayak

Referensi

Dokumen terkait

“ Uji Efektivitas Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.) Sebagai Bahan Pestisida Organik Terhadap Mortalitas Hama Walang Sangit ”.. Dengan demikian saya memberikan

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ulat yang paling banyak mati terdapat pada perlakuan P1 (pestisida nabati dari campuran daun gamal dan daun tembakau) karena

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pestisida nabati dari ekstrak akar mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap mortalitas hama ulat daun (Plutella

Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi yang tepat untuk digunakan sebagai pestisida nabati daun sirsak adalah konsentrasi 25% karena kandungan senyawa acetogenin, pada pada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari larutan pestisida nabati yaitu daun serai, sirsak dan babadotan terhadap pertumbuhan hama ulat

Senyawa yang digunakan sebagai pestisida nabati yang mengandung bahan aktif Papain, sehingga efektif untuk mengendalikan ulat dan hama penghisap (Juliantara, 2010).. Senyawa

Asikin (2011), melaporkan bahwa ekstrak daun putat dapat digunakan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama ulat grayak dan ulat jengkal dengan mortalitas larva

Judul Skripsi : Pengaruh Berbagai Konsentrasi Insektisida Nabati Larutan Tepung Biji dan Daun Sirsak (Annona muricata L.) terhadap Mortalitas Larva Ulat