Cerita tentang “Guru Gendheng” dan “Murid
Sableng”
Aprinus Salam
BEBERAPA Minggu belakangan ini, di salah satu stasiun televisi swasta ditayangkan sinetron serial Wiro Sableng: Pendekar Maut Kapak Naga Geni 212. Serial ini diangkat dari cerita silat karya Bastian Tito, yang pernah populer pada awal 80-an, dan telah berjumlah hingga puluhan judul. Saya termasuk yang mengikuti hampir sebagian besar karya-karya Tito.
Maka, kata orang, apakah itu film atau sinetron, yang jika berdasarkan “kisah” yang pernah populer, tayangan itu telah laku bahkan sebelum diputar (ditayangkan). Banyak contoh yang menceritakan hal tersebut. Untuk menyebutkan beberapa contoh, cerita spy 007 karya Fleming, karya-karya Sydney Sheldon, maupun seperti Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar yang legendaris itu, atau yang masih dan selalu aktual seperti kisah Superman, dan sebagainya.
Sebagaimana kecenderungan sinetron saat ini, selalu ada theme song-nya. Tidak terkecuali sinetron satu ini. Ia ingin menceritakan kisah kepahlawanan seorang pendekar bernama Wiro nan kocak dan sakti mandraguna, dengan segala kesablengannya membasmi berbagai ketidakbecusan yang terjadi di masyarakatnya. Kebetulan ia memiliki guru yang tidak kalah sakti dan nyentriknya yakni Eyang Sinto Gendheng.
Tulisan ini tidak mempersoalkan sejauh mana sinetron tersebut layak jual dan laku tontonan. Namun, bagaimana ketika secara sadar atau tidak beberapa orang ikut menyanyikan lagu temanya. Seperti mengingatkan kita bagaimana lagu
SEBETULNYA, saya sendiri tidak begitu memperhatikan secara persis lirik lagu serial Wiro Sableng. Yang justru mengherankan adalah ketika anak-anak, bahkan beberapa remaja pun ikut menyanyikan lagunya.
Mendengar lagu Wiro Sableng diulang-ulang, seperti memahami
grenengan-grenengan yang selalu kita lakukan kalau kita tidak puas terhadap suatu hal. Karena hanya grenengan yang mampu mengakomodasi berbagai persoalan; selain tentu saja protes secara terbuka/frontal. Ini tidak lain sebuah dimensi dari mekanisme kebudayaan kita, sehingga dengannya kehidupan bersama dapat selalu berjalan sebagai mestinya.
Maka dengan sedikit, plesetan bernyanyilah mereka, “...Wiro murid sableng, gurune guru gendheng...”. Bahkan selalu digongi dengan kalimat wou dasar guru gendheng. Dengan rasa geli, berseloroh, marah, dan dendam.
Dengan demikian, adalah menarik memperbincangkan nada-nada “postmodern” yang diulang-ulang tersebut. Misalnya, mengapa saya katakan anak-anak dan remaja (para pelajar pada umumnya) menyanyikannya dengan nada yang agak ditekan, seolah memuntabkan rasa kecewa dan kesal, terutama pada kalimat
gurune guru gendheng.
Adakah sebetulnya para murid kita menyimpan semacam rasa sayang sekaligus kemarahan pada guru-gurunya. Untuk itu, tidak ada salahnya kita melihat sistem pendidikan kita secara umum. Tersimpankah semacam “kesalahan” di dalamnya, sehingga para murid seolah dipaksa untuk melakukan reaksi-reaksi tertentu sebagai pembalasan untuk melakukan kompensasi-kompensasi, agar keseimbangan dan keharmonisan psikologis tetap terjaga.
Akan tetapi, karena tujuan tersebut, para murid diproses berdasarkan target-target yang harus dicapai sesuai dengan perhitungan-perhitungan periodik (kuartalan/semesteran). Target-target tersebut membuat sistem pendidikan menjadi tidak kreatif, atau minimal tidak terlalu memberi peluang kepada para siswa melakukan kreativitas dan menjadi manusia yang menaruh kepercayaan pada kemampuan kemanusiaannya. Target menjadi tujuan itu sendiri dan mengabaikan proses yang sebetulnya justru bagian penting.
Oleh karena ia diproses berdasarkan target-target kurikulum, tidak jarang pendidikan berjalan secara ketat, kaku, bahkan irasional. Juga di banyak kesempatan, tidak jarang pendidikan kita menempatkan gurunya sebagai orang yang tidak sekadar disegani, tapi lebih-lebih ditakuti. Maka muncul istilah guru killer.
Padahal, di lain pihak, sistem sosial kita telanjur memberi kepercayaan kepada seseorang yang secara “formal” telah menyelesaikan suatu jenjang pendidikan. Artinya, ada perbedaan “harga” terhadap seseorang yang secara formal berpendidikan atau tidak.
Terlepas dari apakah seseorang yang berpendidikan formal lebih bermutu atau tidak dibanding dengan mereka yang tidak memiliki “sertifikat formal”. Sebagai implikasi lebih lanjut, pendidikan kita membuat nasib seorang siswa ada di tangan gurunya.
Akibatnya, para murid tidak memiliki kesempatan/tidak berani untuk melakukan dialog atau proses terbuka apa yang selama ini dirasakannya sebagai sesuatu yang menekan. Konsekuensi lebih jauh, ia membalas dengan cara-cara tertentu yang aman. Nah, ungkapan gurune guru gendheng itu memang “pembalasan” dalam konotasi yang sesungguhnya. Mungkin ungkapan ini senada dengan “guru kencing berdiri, murid mengencingi guru”.
kebudayaan kita, sehingga dengannya kehidupan bersama dapat selalu berjalan sebagai mestinya.
Kita tidak tahu pasti di mana letak kesalahan sejarah ini sehingga kita selalu gagal memproyeksikan agar anak didik kita menjadi subyek-subyek yang memiliki integritas utuh, berani, bertanggung jawab, serta menjadi pribadi kreatif dan mandiri. Pada sisi lain pendidikan kita telah melahirkan para pelajar dengan kelas “lempar batu sembuny tangan”. Ada ketakutan yang tidak jelas, perlawanan terpendam, dan rasa tak percayua diri yang aneh.
Fenomena di atas sekaligus menjadi peringatan bagi para “guru bermasalah”, agar tidak terlalu sewenang-wenang dengan anak didiknya. Jika para guru tidak ingin dikatakan bahwa sebetulnya Anda tidak lebih sebagai orang
gendheng, seseorang yang memang dianggap kurang waras.
Jika uraian di atas tidak benar, maka sepantasnya pulalah jika para guru harus berbesar hati. Maksudnya, ada konotasi lain ketika ungkapan gendheng tidak semata-mata dengan tekanan penuh dendam dan marah.
Namun, tidak jarang pula tersembunyi nada-nada geli, berseloroh, rasa hormat, dan sayang. Resitasi kalimat tersebut tidak dimaksudkan dalam arti yang sesungguhnya.
Kata-kata seperti Sableng, Gendheng, Mbeling, Edan, (sayang, kebetulan semua contoh kok dalam bahasa Jawa) adalah semacam ungkapan salut atau penghormatan. Kembali ke sdinetron serial Pendekar Wiro Sableng, misalnya. Maka walau ia digelar sableng, agak setengah gila dan setengah konyol, sebetulnyalah ia serorang yang sangat cerdas dengan kesaktian hampir tak tertandingi. Jika ada kejahatan, kekisruhan, maka bila dia datang, semua akan beres.
Namun, seperti biasanya, “kesaktian” seseorang tidak muncul begitu saja. Biasanya ia mengalami tempaan yang berat dengan metode baik dan benar serta relevan, apakah itu bagi anak didik bersangkutan maupun bagi manusia dan masyarakatnya. Dan itu biasanya membutuhkan guru yang tak pula kalah saktinya.
Seperti diketahui, istilah kesaktian, kependekaran, memang pergeseran makna. Ia bisa erarti orang dengan kapasitas intelektual yang tinggi, atau seseorang yang ahli dalam bidangnya.
Dengannya, tidak heran jika kita pernah memberi gelar Soedjatmoko sebagai seorang pendekar ilmu-ilmu sosial. Atau, secara umum media massa membaptis Emha Ainun Nadjib sebagai Kiai Mbeling.
Juga tidak jarang, jika kita mengagumi kepandaian seseorang, kita menyebutkan sebagai “dasar orang edan”. Itu tak lain ada nada penghormatan bahwa ke-Mbelingan, ke-Edanan, atau ke-Gilaan, bisa b erarti positif. Dalam arti ketika seseorang dianggap memiliki kelebihan tertentu dibanding rata-rata orang biasa.