• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBENTUKAN KEBENARAN BERPIKIR DALAM MAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBENTUKAN KEBENARAN BERPIKIR DALAM MAS"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PEMBENTUKAN KEBENARAN BERPIKIR DALAM MASYARAKAT ISLAM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas UAS Mata Kuliah : Filsafat Ilmu Integratif Dosen Pengampu: Prof. Dr. Musa Asy’ari, M.A

Dr. H. Imam Kanafi, M.Ag

Oleh:

LILIK ADI NUGROHO NIM: 2052114005

PROGRAM PASCA SARJANA

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(2)

BAB I PENDAHULUAN

Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Rasulnya untuk

disampaikan kepada seluruh umat. Islam sebagai sumber dan jalan kebenaran yang berasal dari Allah ta’ala adalah pandangan hidup yang bukan saja diperuntukkan bagi kesejahteraan dan kebahagiaan ummat Islam melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Islam yang bersumber dari kebenaran ilahiyah baik yang terkandung dalam ayat-ayat al Qur’an dan sunnah Rasulullah saw adalah petunjuk jalan segala zaman. Demikian pula Islam mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, dengan Tuhannya dan dengan alam lingkungannya.

Sebagai agama yang menjadi rahmatan lil ‘alamin, maka tujuan hidup, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat adalah dalam rangka merealisasikan kebenaran ajaran Allah tersebut baik dalam skala pribadi maupun bermasyarakat dalam segala aspeknya.

Kunci kepribadian masyarakat Islam adalah akidah, syari’at dan akhlak Islam. Jika akidah memberikan arah tujuan pergerakan masyarakat, syari’at memberikan batasan-batasan cara maupun metode menempuh arah tujuan tersebut dengan benar maka akhlak menghiasi jalan menempuh tujuan tersebut sehingga indah dan

menyenangkan.

Da’wah Islam yang di bawa oleh Rasulullah saw adalah mata rantai terakhir dari perjalanan da’wah yang panjang untuk mengajak manusia bertaqwa dan mentauhidkan Allah ta’ala. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

ععضضوومع اللعإض ،ههلعمعجوأعوع ههنعسعحوأعفع اتتيوبع ىنعبع للجهرع لضثعمعكع ،يلضبوقع نومض ءضايعبضنولعا لعثعمعوع يلضثعمع نلعإض

هضذضهع توععضضوه اللعهع نعولهوقهيعوع ،ههلع نعوبهجععويعوع ،هضبض نعوفهوطهيع سهانلعلا لعععجعفع ،ةليعوضازعنومض ةلنعبضلع

:

نعييلضبضنلعلا مهتضاخع انعأعوع ةهنعبضللعلا انعأعفع لعاقع ؟ةهنعبضللعلا

Perumpamaanku dan nabi-nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun suatu rumah lalu dia membaguskannya dan memperindahnya kecuali ada satu labinah (tempat lubang batu bata yang tertinggal belum diselesaikan) yang berada di dinding samping rumah tersebut, lalu manusia mengelilinginya dan mereka

(3)

labinah (batu bata) di tempatnya ini”. Beliau bersabda: ”Maka akulah labinah itu dan aku adalah penutup para nabi”.1

Sebagai Nabi yang terakhir Muhammad SAW memiliki tugas sebagai penyempurna, ketika diibaratkan seperti bangunan sebagai finishing apabila tidak sempurna maka hasilnya tidak akan memberikan nilai yang diharapkan, seorang Rasul tentu berbeda dengan perumpamaan tadi karena Rasul merupakan utusan Allah, bahkan nama Muhammad SAW disejajarkan dalam syahadat dengan Allah SWT, dan seseorang tidak akan dikatakan beriman sebelum mengimani Rasulullah.

Rasulullah saw mampu menciptakan bangsa Arab menjadi satu masyarakat yang memikul risalah, menciptakan peradaban dan membuat suatu sejarah yang mengagumkan. Kerja keras, cinta dan kesungguhan beliau berda’wah berhasil memalingkan pandangan dunia dan menorehkan catatan gemilang dari bangkitnya sebuah generasi yang sebagian besar pengikutnya adalah orang-orang lemah dan tertindas.

Beliau palingkan khamr, maisir, nafsu syahwat dan nafsu perang demi kekuasaan kepada kerja keras mambangun peradaban yang modern, berkeadilan, kesamaan hak didepan hukum, terjaminnya kepemilikan pribadi dan teraturnya kepentingan bersama. Bahkan orang-orang tertindas itu -- para sahabat -- ketika tiba masa mereka menjadi gubernur atau kepala daerah tidak mewarisi dendam

kesewenangan atas kekuasaan dan keserakahan atas jabatan.

Buku Ma’alim Fith Thariq mencatat tiga hal utama yang memacu perubahan besar pada masyarakat Islam pada generasi pertama da’wah Islam. Pertama, mereka menuntut ilmu untuk suatu tindakan perubahan bukan semata-mata koleksi ilmu. Kedua, Mereka memutuskan hubungan dengan masa lalu jahiliyyah dan tak ingin kembali ke masa lalu walaupun sekejap. Ketiga, mereka tegak dihadapan al Qur’an dengan penuh kesiagaan, seperti seorang prajurit yang siap siaga menerima perintah.

Sukar membayangkan suatu perubahan dari masa lampau yang begitu jahiliyyah dan penuh kegelapan kepada keadaan yang gilang gemilang. Persoalan mendasar pada masa kini adalah bagaimana membangkitkan kembali masyarakat Islam sebagaimana masyarakat pada generasi pertama da’wah Islam. Sementara di tengah gempuran invasi pemikiran yang demikian dahsyat justru kelompok-kelompok ummat Islam tak segera menemukan format yang menyenangkan dalam bekerjasama,

(4)

sementara itu sebagian besar ummat Islam sedang bergelimang dalam kesenangan syahwat dunia yang melenakan.

Pembahasan dalam makalah ini berupaya mengungkapkan pemikiran Sayyid Quthb tentang dasar-dasar pembentukan masyarakat Islam terutama pembentukan dalam berpikir masyarakat yang memiliki kesamaan persepsi tentang hakikat kehidupan dunia dan akhirat, kesamaan cita-cita perjuangan Islam serta kesamaan komitmennya dihadapan Allah ta’ala.

Pembentukan kebenaran berpikir dalam masyarakat Islam sangatlah diperlukan, karena tidak sedikit dalam masyarakat yang telah kita temukan bahwa masyarakat acap kali mengikuti suatu hal yang sebenarnya tidak mereka ketahui, dalam istilah lain biasa kita sebut sebagai Taqlidul Am yang artinya adalah taqlid buta, yaitu mengikuti suatu hal tanpa melihat kebenarannya terlebih dahulu.

Hal in tentunya akan memberikan dampak negatif apabila dibiarkan terus menerus, apalagi masyarakat Indonesia yang sering kali menyukai hal-hal yang aneh dan sering kali mengultuskan sesuatu yang dianggap mereka sesuatu yang sakaral namun sejatinya itu adalah tindakan ikut-ikutan tanpa ada dasarnya.

Ta’asub atau fanatik masyarakat terhadap salah satu tokoh juga akan berpengaruh terhadap tindakannya, sikap fanatik ini biasanya akan melahirkan kebutaan dalam melihat suatu kebenaran, tentunya hal ini harus dicegah supaya penyakit ini tidak meraja lela tanpa harus merendahkan tokoh yang menjadi fanatikisme tersebut.

(5)

BAB II PEMBAHASAN

Kebenaran adalah suatu nilai utama di dalam kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusia atau martabat manusia selalu berusaha memeluk suatu kebenaran.2

Untuk membentuk pola pikir yang benar dalam masyarakat maka dibutuhkan langkah-langkah yang dapat membangun pola pikir yang benar sesuai dengan yang diajarkan oleh Islam. Dalam pembentukan ini dibutuhkan tahapan-tahapan yaitu dengan cara tadriji secara berkala. Langkah-langkah yang harus kita lakukan

merupakan sebuah konsep dasar dalam pembentukan masyarakat Islam. Dasar-dasar pembentukan masyarakat Islam adalah sebagai berikut:

1. Membebaskan Masyarakat dari Penghambaan Kepada selain Allah.

Pembebasan penghambaan kepada selain Allah dengan kata lain adalah menanamkan ke tauhidan. Ketauhidan merupakan langkah dasar untuk

menanamkan pola pikir supaya akal manusia memiliki cara berpikir bahwa hanya satu Tuhan yaitu Allah yang dapat memberikan kehidupan. Secara singkatnya yaitu menumbuhkan ketaqwaan terhadap Allah SWT.

Menurut Sayyid Quthb dalam setiap periode sejarah manusia, seruan untuk bertaqwa kepada Allah memiliki satu sifat kesamaan, yang menjadi seruan

terpenting sekaligus landasan pokok pembentukan masyarakat, yaitu:

Ketundukan seorang hamba kepada tuhannya, membebaskan diri dari

penghambaan atas sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah semata. Mengeluarkan mereka dari cengkraman ketuhanan dan hukum-hukum buatan manusia, mengeluarkan mereka dari kungkungan sistem-sistem nilai dan tradisi-tradisi buatan manusia kepada kekuasaan Allah, otoritas dan syari’at-Nya semata dalam segala ruang lingkup kehidupan.”

(6)

Dari pendapat Sayyid Quthb tersebut diatas dapat kita pahami bahwa pembebasan masyarakat dari penghambaan kepada selain Allah merupakan prinsip dari sebuah komitmen awal yang pada tahap selanjutnya menjadi dasar bagi tegaknya sistem nilai, otoritas dan syari’at Allah. Melihat sejenak dalam masyarakat kita saat ini dengan bertolak pada perkataan Sayyid Qutuhb diatas akan nampak, bahwa pola pikir masyarakat tentang ubudiyahnya ketika terdapat masyarakat yang

mengagungkan kepada sesuatu selain Allah baik itu harta, tempat-tempat pemujaan yag mereka anggap sakral, disinilah penerapan ketauhidan untuk mengubah pola pikir mereka dengan pola pikir yang memang sumbernya adalah Allah SWT.

Ketika ketauhidan belum terpaku pada individu dalam masyarakat, maka kehidupannya akan terombang ambing karena tidak memiliki pegangan. Timbullah sebuah keraguan yang akhirnya ketika banyak individu yang terjerumus kepada suatu keyakinan yang salah maka ia akan mengikuti gerak yang salah dan akhirnya ikut terpuruk dalam lembah yang salah.

Ketauhidan dipahami sebagai sebuah pondasi bagi tegaknya bangunan Islam, atau ruh kehidupan bagi manusia. Dengannya tauhid seluruh sistem kehidupan menjadi tegak, kokoh dan memberikan arti.

Muhammad Quthb berkata:

Sesungguhnya Allah tidak menurunkan kalimat la ilaha illallah hanya untuk sekedar diucapkan oleh lisan belaka. Tetapi agar kalimat itu berpengaruh dalam kehidupan nyata ummat manusia dan mengangkatnya ke tempat yang layak sesuai dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada mereka… kalimat ini membimbing individu, kelompok dan ummat agar menjadi suatu masyarakat yang berguna sesuai dengan

(7)

keinginan Allah, sehinngga berdiri diatas bumi umat yang berseru Tiada Tuhan Selain Allah”.

Demikianlah komitmen ketauhidan, ia tidak sekedar mengatur hubungan individu secara vertikal kepada Allah ta’ala, melainkan juga mencakup hubungan horizontal dengan sesama manusia dan seluruh makhluk, dan hubungan-hubungan ini harus sesuai dengan kehendak Allah.

Dr. Amin Rais berpendapat “Allah berkehendak memberikan visi kepada manusia tauhid untuk membentuk suatu masyarakat yang mengejar nilai-nilai utama dan mengusahakan tegaknya keadilan sosial. Pada gilirannya visi ini memberikan inspirasi bagi manusia-manusia tauhid untuk mengubah dunia sekelilingnya sesuai dengan kehendak Allah”5

Pembebasan masyarakat dari penghambaan kepada selain Allah akan membawa perubahan besar kearah kemajuan masyarakat. Hal ini di karenakan pandangan hidup tauhid tidak mempertentangkan antara dunia dan akhirat, antara yang nyata dan yang ghaib, yang imanen (berada dalam kesadaran) dan yang

transcendental(bersifat ghaib), antara jiwa dan raga. Bahkan konsep Islam tentang hal-hal tersebut di atas sangat jelas dan rasional. Berbeda dengan keyakinan lain selain tauhid.

Dari berbagai pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa pembebasan masyarakat dari penghambaan kepada selain Allah berfungsi mentransformasikan masyarakat menjadi memiliki sifat-sifat yang mulia yang terbebas dari belenggu ideologi, sosial, politik, ekonomi dan budaya yang bertentangan dengan ketauhidan.

2. Mengorganisir Masyarakat untuk Menghilangkan Kejahiliyahan.

Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Perlunya mengorganisir masyarakat ketika belum memiliki tatanan organisasi merupakan hal yang harus dipegang erat. Ketika masyarakat dalam keteraturan maka dengan mudah dapat terarah ketika ada individu-individu yang mungkin keluar dari jalur yang baik.

(8)

Sayyid Quthb menuliskan,

Masyarakat Islam tidak tidak dapat hadir secara sederhana dalam menegakkan kaidah-kaidah keyakinan (syahadat) dalam hati individu-individu muslim sebanyak apapun jumlah mereka, tanpa mereka menjadi sebuah kelompok yang aktif, serasi dan bekerjasama dan bekerja di bawah kepemimpinan sendiri terbebas dari kepemimpinan jahiliyyah

Inilah pergerakan yang konstruktif yang memindahkan unsur keyakinan kepada perilaku praktis. Tentu saja hal ini tidak akan terwujud hanya dengan

penjelasan lisan atau tabligh semata melainkan juga melalui pewarisan nilai-nilai atau yang dikenal dengan pendidikan dan pembinaan.

Hasan al Banna menyebut proses ini adalah:

ءلؤه نيب نم فوفصلا ةئبعتو دونجلا دادعإو راصنلا ريختو نيوكتلا

نيوعدملا

.

7

Pembentukan dan penempatan para juru da’wah Islam, mengordinasikan serta menggerakkannya untuk menjalin hubungan dengan masyarakat luas sebagai objek da’wah.

Objek da’wah adalah masyarakat luas, meskipun ada pertanyaan kenapa harus ada orang-orang yang menyeru untuk berbuat kebaikan bukankah orang-orang yang berbuat dosa nantinya akan menerima ganjarannya sendiri? Barang siapa yang berbuat maka dia akan mengetam sesuai dengan perbuatannya.

Ketika ada statement diatas maka dengan mudah akan terjawab, bahwa perbuatan buruk itu layaknya sebuah penyakit menular, kalau tidak dibasmi maka akan menular ke yang lain. Alasan sederhana inilah yang dapat menjelaskan tentang statement yang mengatakan siapa yang beramal buruk maka dia akan menerima keburukan juga sehingga keburukannya hanya akan dirasakan oleh yang berbuat.

6 Sayyid Quthb, op.cit, h.51

(9)

Allah ta’ala mensifati mereka yang bekerjasama dalam menyeru kepada kebaikan sebagai khairu ummah.

Allah berfirman dalam surat ali Imran 104:

رضكعنومهلوا نضعع نعووهعنوتعوع فضورهعومعلوابض نعورهمهأوتع سضانلعللض توجعرضخوأه ةلملعأه رعيوخع موتهنوكه

مهههرهثعكوأعوع نعونهمضؤومهلوا مهههنومض موههلع ارتيوخع نعاكعلع بضاتعكضلوا لههوأع نعمعآ وولعوع هضللعلابض نعونهمضؤوتهوع

نعوقهسضافعلوا

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Prof. Dr. Miqdad Yaljun menguraikan bahwa masyarakat terbaik atau khairu ummah memiliki berdasarkan karakteristiknya yaitu, Pertama, Masyarakat yang senantiasa memiliki semangat meyebarkan kebaikan. Kedua, masyarakat yang memilki semangat ukhuwwah insaniyyah. Ketiga, masyarakat yang senantiasa memperluas persatuan dan kekuatan. Keempat, masyarakat yang berorientasi kepada kemaslahatan bersama. Kelima, masyarakat yang memiliki semangat tunduk pada peraturan. Keenam, masyarakat yang semangat meraih kemajuan di berbagai bidang.8

Terkait dengan apa yang dikatakan oleh Prof. Dr. Miqdad Yaljun bahwa menyebarkan kebaikan bukan berati memaksa orang lain untuk berbuat baik,

melainkan dengan menggunakan cara yang baik. Masyarakat yang memiliki semangat ukhuwah insaniyah adalah masyarakat yang senang menolong kepada yang

membutuhkan pertolongan dan tidak mengharapkan imbalan kecuali hanya dari Allah SWT. Masyarakat yang senantiasa memperluas persatuan dan kesatuan adalah

masyarakat yang cinta damai dan dapat mendamaikan ketika terjadi perseteruan. Masyarakat yang berorentasi untuk kemaslahatan bersama merupakan

masyarakat yang senantiasa memikirkan orang lain, menginginkan orang lain bahagia, melakukan sesuatu untuk kemaslahatan orang banyak. Masyarakat yang memiliki semangat untuk tunduk kepada peraturan adalah masyaraka yang menyadari dan taat

8 Miqdad Yaljun, 2011, Peranan Pendidikan Akhlaq Islam dalam

(10)

kepada peraturan dan mampu mentaati pemimpinnya. Sedangkan masyarakat yang menginginkan kemajuan adalah masyarakat yang ingin memperbaiki hari-harinya supaya menjadi lebih baik dari hari yang ia berada pada masa lampau dan masa saat ini.

Sayyid Quthb menafsirkan masyarakat terbaik adalah dari aspek gerak da’wahnya yang begitu membumi, sebagaimana yang ia katakan:

.

دوجولا حرسم ىلع جرخت ةكرح بيبدلا ةفيطل ،ىرسملا ةيفخ ةكرح اهنإ

.

.

صاخ باسح اهلو ،صاخ ماقم اهل صاخ رود تاذ ةمأ ةمأ

.

9

Ia adalah suatu gerakan yang halus yang rahasia, suatu gerakan yang indah yang merayap perlahan, namun gerakan ini sanggup mengeluarkan ummat kepentas dunia, ummat yang memiliki peranan khusus, maqam khusus dan hisab yang khusus pula”.

Dalam perspektif Sayyid Quthb da’wah tak mesti harus melalui podium-podium, disambut oleh banyaknya pendengar atau gebyar kegiatan yang meriah. Melainkan da’wah merayap secara masif melalui keluhuran akhlaq setiap da’inya. Senantiasa berwajah ceria, memuliakan tetangga, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, menutup aib saudaranya, meringankan beban orang lain, dsb adalah gerakan da’wah indah yang merayap perlahan namun masif.

Dengan kata lain siapa pun memiliki kewajiban untuk berda’wah

menyebarkan kebaikan demi kebaikan. Untuk menyebarkan kebaikan tidak terkait dengan individu tertentu melainkan semua orang memiliki keharusan untuk menjalankan da’wah ini. Cara yang paling tepat adalah dengan memperbaiki diri sendiri dan menjadi suritauladan yang baik.

Al mawardi mengatakan: 10

كلع اعتبعتع سهانلعلا نوكهيع كسضفونعلض كسعفونع حولضصوأع

” “Perbaikilah dirimu niscaya manusia akan mengikutimu”.

Ketika diri kita baik, maka orang lain akan mengikuti kebaikan kita, dan apa yang kita katakan kepada orang lain dalam kebaikan maka orang akan percaya dengan

9 Sayyid Quthb,1412 H, Fii Dzilal al Qur'an, Beirut: Daar Asy Syuruq. jilid 1, hlm 447.

(11)

perkataan yang kita katakan karena telah ada pada diri seseorang yang baik tingkah laku maupun akhlaknya sebuah permisalan yang agung yang dapat dijadikan sebagai contoh.

Muhammad Mahmud al Hijazi berkata:

ىدهلا ىلإ ريغلا ةوعد ةبترم نأ كش لو ،كريغ عدا مث كسفن حلصأ

مهحاورأ ترهطو مهسوفن تكز لئلق دارفأ لإ اهاقلي لو ،ةيلاع ةبترم ريخلاو

انيقيو اناميإ تلتماو

.

11

Perbaikilah dirimu kemudian serulah kepada orang lain, dan jangan ragu sesungguhnya berda’wah kepada orang lain hingga mendapatkan petunjuk dan kebaikan adalah dejarat yang tinggi, dan derajat yang mulia itu tidak diberikan Allah kecuali kepada sebagian kecil manusia yang mensucikan jiwa dan ruhnya serta memenuhi dirinya dengan iman dan keyakinan.”

Pendapat lain tentang masyarakat terbaik adalah yang dikemukakan oleh al Qurthubi. Penyebab generasi pertama disebut sebagai masyarakat terbaik adalah karena kerapihan mereka bekerjasama dalam kebaikan, bahwasanya Abu Hurairah ra berkata:12

مضالعسوإضلوا ىلعإض لضسضالعسلعلابض موههقهوسهنع سضانلعللض سضانلعلا رهيوخع نهحونع

Kami manusia terbaik diantara manusia karena mengajak manusia secara terkoordinir kepada Islam.”

Hamzah Manshur berkata:

13

اهب ضوهنلل مازتللا نم لاع ردق ىلإ جاتحت ةميظعلا ةلاسرلا نإ

.

“Sesungguhnya risalah yang agung ini membutuhkan semua kekuatan terbaik dari komitmen untuk kebangkitannya

11 Muhammad Mahmud al Hijazy, 1413 H, at Tafsir al Wadhih, Beirut: Daar al Jaliil al Jadiid, jilid 3, hlm 340.

12 Imam al Qurthubi, 1384 H, al Jami’ li Ahkam al Qur’an, Qahirah: Daar al Kutub al Mishriyah, jilid 4, hlm 170.

(12)

Demikianlah da’wah membangun masyarakat Islam, ia merupakan sebuah kerja besar yang membutuhkan banyak sumber daya. Selanjutnya Hamzah Manshur menambahkan, “da’wah merupakan kepentingan mulia yang mendesak, jalan yang tidak terukur, jalur sulit pendakian yang banyak. Hal ini akan menumbuhkan keragu-raguan bersikap dan keinginan menarik diri dari aktifitas amal.” Lemahnya

perencanaan, minimnya keteladanan, serta tujuan yang samar adalah bukti pentingnya pengorganisasian da’wah.

Allah ta’ala berfirman dalam surat yusuf ayat 108:

انعأع امعوع هضللعلا نعاحعبوسهوع ينضععبعتلعا نضمعوع انعأع ةلرعيصضبع ىلععع هضللعلا ىلعإض وعهدوأع يلضيبضسع هضذضهع لوقه

نعيكضرضشومهلوا نعمض

Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

Inilah jalan da’wah yang Rasulullah teladankan bagi kita, ia memiliki beberapa unsur, gerak da’wah yang berkesinambungan, tujuan yang jelas, metode yang paripurna, pemimpin-pemimpin yang ikhlas dan para aktivis da’wah yang siap sedia.

3. Menjadikan Islam sebagai landasan prilaku individu dan hubungan antar sesama dalam Masyarakat.

Dalam segala perbuatan dan perkataan Islam dijadikan sebagai ukuran. Ketika tidak sesuai dengan Islam berarti telah keluar dari jalur, maka ia akan kembali kejalur awal supaya langkahnya tidak tersesat dan mulai melangkah lagi dengan memegang pedoman yang benar.

Sayyid Quthb menuliskan dalam Ma’alim fith Thariq:

-

،جهنملا اذه قفو ةدعاقلا هذه ىلع ةملسملا ةملا ينبي وهو ملسلا نإف

(13)

"

"

-

،اهنيكمتو اهتيوقتو ناسنلا ةيناسنإ زاربإ فدهتسي ناك امنإ ةديقعلا يه

يناسنلا نئاكلا يف ىرخلا بناوجلا عيمج ىلع اهءلعإو

14

Di atas kaidah dan manhaj Islam masyarakat di tegakkan, menjadi landasan bagi hubungan-hubungan antar individu-individu dalam kelompok dan terikat atas aqidah ini. Tidak lain tujuan utamanya adalah membangkitkan semangat kemanusiaan bagi manusia, mengembangkan, membuatnya menjadi kokoh, dan menjadi factor yang paling berpengaruh diantara semua aspek dalam kehidupan manusia.”

Tahapan ini merupakan tahapan yang progresif bagi soliditas masyarakat Islam. Berdasarkan Islam mereka selalu melakukan penilaian terhadap kualitas kehidupannya, etika, tradisi dan paham hidupnya. Tujuan hidupnya sangat jelas, ibadah, kerja keras dan bahkan jiwanya ditujukan kepada Allah. Sehingga setiap individu dalam masyarakat Islam tidak akan pernah terjerat pada nilai-nilai palsu atau bekerja tanpa nilai yang hakiki yaitu mencari keridhaan Allah.

Kembali kepada kemurnian pemahaman, ibadah serta nilai-nilai perjuangan adalah jalan yang seharusnya ditempuh oleh masyarakat muslim. Hilangnya

ashobiyah, tidak ada dosa warisan dan setiap orang bertanggung jawab terhadap amal masing-masing, perintah taat hanya pada kebenaran memberikan batasan yang jelas dan lugas akan posisi kemuliaan dalam Islam. Bahwa kemuliaan dalam Islam bukanlah karena nasab, dan dapat diraih dengan upaya normal manusia serta kemuliaan diukur dengan ketaqwaan menginspirasi semangat ibadah dan pengorbanan.

Maka hubungan dalam masyarakat Islam bukanlah hubungan bangsa melainkan suatu ummat dari keyakinan, masyarakat terbentuk di atas satu pijakan yang sama dalam hubungan kasih sayang dimana ikatan tersebut terbentuk karena kekuatan hubungan mereka kepada Allah.

Menjadikan Islam sebagai landasan prilaku dan hubungan dalam masyarakat juga menjamin terciptanya masyarakat yang berkeadilan secara mutlak. Perlindungan harta dan kehormatan, jaminan keamanan serta kesamaan di hadapan hukum adalah bukti pencapaian yang tinggi dari syari’at Islam.

(14)

BAB III KESIMPULAN

Untuk membentengi masyarakat dari perilaku taqlidul am dibutuhkan sebuah pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam, setiap tindakan harus mencerminkan akan pemikiran yang ada pada tiap individu dalam suatu masyarakat, sebelum melakukan tindakan manusia senantiasa berpikir. Bahkan dalam sebuah mahfudhot dikatakan “ Berpikirlah sebelum engkau berbuat”.

Untuk mewujudkan hal itu bukanlah sesuatu yang mudah, dibutuhkan seluruh kekuatan yang terbaik dan usaha yang maksimal. Usaha tersebut dinamakan dengan da’wah, yaitu mengajak atau menyeru ke jalan yang benar, jalan yang diridhloi Allah SWT.

Dalam masyarakat Islam tentunya Islamlah sebagai pengendali dalam bertindak, ketika tidak cocok dengan Islam maka tindakan yang akan dilakukan tentunya akan diurungkan, hal itu dapat terjadi apabila terdapat pemahaman tentang Islam sebagai agama yang benar, secara singkatnya adalah memahami ajaran yang terkandung dalam Islam.

Agama yang benar di sisi Allah Adalah Islam. Ketika umat Islam telah memahami akan ajaran Islam maka akan terdapat sebuah keselarasan yang sejajar tentang ajaran dan prilaku. Prilaku yang tidak mencerminkan akan ajaran Islam merupakan akibat tidak adanya pemahaman tentang ajaran Islam. Maka dalam sebuah perkumpulan masyarakat dibutuhkan pada pemahaman ini.

Ketika pemahaman ini telah terbentuk maka akan melahirkan pola pikir yang benar, pola pikir yang kritis terhadap sebuah permasalahan, yang mana ketika hadir sebuah permasalahan pengembalian permasalahan tersebut hanya kepada Allah SWT, Tuhan tempat bergantung dalam segala urusan.

Tiga prinsip utama yang telah dijelaskan diatas, yaitu: Membebaskan

masyarakat dari penghambaan kepada selain Allah, mengorganisir masyarakat untuk menghilangkan kejahiliyahan, dan menjadikan Islam sebagai landasan prilaku individu dan hubungan antar sesama dalam masyarakat merupakan kegiatan da’wah untuk mewujudkan pola pikir masyarakat yang benar.

(15)

menghilangkan kejahiliyahan, kejahiliyahan yang diartikan sebagai kebodohan yaitu kebodohan dikarenakan tidak mengerti akan kebenaran yang datangnya dari Allah SWT. Keseimbangan antara hubungan individu dengan masyarakat serta individu dengan Allah SWT telah seimbang karena menjadikan Islam sebagai landasan prilaku.

Ada sebuah slogan yang diucapkan oleh K.H. Imam Zarkasyi sebagai motivasi dalam menjalankan hidup “ Sekali hidup hiduplah yang berarti, berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja”. Nampaknya slogan ini

memberikan sebuah motivasi dan saran kepada seluruh manusia supaya senantiasa menjadikan hidup ini dengan hidup yang berarti, bermanfaat bagi seluruh umat. Semoga sekelumit tulisan ini dapat memberikan manfaat buat kita. Amin.

(16)

al Banna Hasan, Majmu’ah Rasail al Imam Hasan al Banna, Mesir : Daar ad Da’wah,

Al Mawardi, Adab ad-Dunya wa ad-Diin, Daar al Maktabah al Hayah, 1986 M

al Qurthubi Imam, al Jami’ li Ahkam al Qur’an, Qahirah: Daar al Kutub al Mishriyah, 1384 H.

Amin Rais Muhammad, Cakrawala Islam antara Cita dan Fakta, Bandung: Mizan,1987.

Bukhari, Shahih al Bukhari, Beirut : Daar Thuq an Najah, 1422 H.

Inu Kencana Syafi’i, Filsafat Kehidupan (Prakata), Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Mahmud al Hijazy Muhammad, , at Tafsir al Wadhih, Beirut, Daar al Jaliil al Jadiid, 1413 H.

Manshur Hamzah : Hakadza ‘Alimtuny Da’wah al Ikhwan, 1419 H.

Quthb Muhammad, La Ilaha Ilallah Aqidatun wa Syari’atun wa Minhaju Hayatin, Mesir : Darul Wathan, 1413 H.

Quthb Sayyid, Fii Dzilal al Qur'an, Beirut: Daar Asy Syuruq, 1412 H.

Quthb Sayyid, Ma’alim fi athThariq, Beirut: Daar asy Syuruq.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian dengan judul “Motivasi Menjadi Jurnalis Dalam Rubrik Swara Kampus di Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat (Studi Kualitatif Terhadap Motivasi Mahasiswa

Berdasarkan data hasil analisis yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran kooperatif metode two stay two stray dapat

Calon mahasiswi Teknik Lingkungan ini berharap semua mahasiswa baru nantinya bisa mengikuti kegiatan yang positif agar terhindar dari hal-hal buruk jangan sampai

70.. mengerjakan tugas rumah yang diberikan guru, melanggar tata tertib sekolah, tidur dalam kegiatan pembelajaran, dan membuat gaduh kelas sehingga kegiatan

Stieltjes mengidentifikasikan dua rute jalan kereta api yang menghubungkan Semarang dengan daerah-daerah kerajaan di pedalaman selatan Jawa Tengah, yang disebut sebagai rute

18 Bagi Kierkegaard tujuan utama hidup manusia adalah kembali kepada Tuhan dan bagi Heidegger manusia harus memahami dirinya sendiri dalam dunia ini dan bersama-sama

Bagi mereka yang ingin memperoleh produk bermanfaat dengan anggaran terbatas dan upaya penggantian lampu yang rendah untuk efek cahaya dan masa pakai yang lebih

Nektar dalam kantung madu tercampur dengan saliva lebah yang berasal dari kelenjar hipofaringeal dan kelenjar saliva, sehingga nektar tersebut memiliki kadar gula