PROGRAM MAGISTER
BIDANG KEAHLIAN MANAJEMEN ASET INFRASTUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
DALAM PENGEMBANGAN
KAWASAN TIMUR KABUPATEN
PASURUAN UNTUK
MENGURANGI DISPARITAS
WILAYAH
NOVERINA KURNIASARI 3115207803
MATA KULIAH:
SISTEM WILAYAH, LINGKUNGAN DAN HUKUM PERTANAHAN
DOSEN:
DAFTAR ISI
II.2.1. PENYEBAB DISPARITAS WILAYAH... 13
II.3. PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR UNTUK MENGURANGI DISPARITAS WILAYAH...15
BAB IIIGAMBARAN UMUM WILAYAH... 19
III.1. GAMBARAN UMUM KABUPATEN PASURUAN...19
III.1.1. KONDISI GEOGRAFIS... 19
IV.1. RENCANA RUANG WILAYAH... 34
IV.2. POTENSI WILAYAH DAN RENCANA PENGEMBANGAN ... 36
IV.2.1. KECAMATAN LEKOK... 36
IV.2.1. KECAMATAN GRATI... 37
IV.2.1. KECAMATAN REJOSO...38
IV.2.1. KECAMATAN NGULING... 39
IV.3. KEBUTUHAN INFRASRUKTUR...40
IV.3.1. RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN JALAN... 40
IV.3.2. RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN IRIGASI... 41
IV.3.3. RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN AIR BERSIH... 41
IV.3.4. RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN DRAINASE LINGKUNGAN... 42
IV.3.5. RENCANA PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR PERSAMPAHAN DAN AIR LIMBAH 42 IV.3.6. RENCANA PENGEMBANGAN ENERGI LISTRIK... 43
IV.3.8. RENCANA PENGEMBANGAN JARINGAN TELEKOMUNIKASI... 43
BAB VKESIMPULAN DAN SARAN... 44
V.1. KESIMPULAN...44
V.2. SARAN...46
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Hubungan antara Sistem, Ekonomi, Infrastruktur...9
Gambar 2. Sistem Infrastruktur Dalam Pengelompokan...10
Gambar 3. Peta Wilayah Administratif Kabupaten Pasuruan...19
Gambar 4. Danau Ranu Grati...30
Gambar 5. IPAL Komunal di Desa Sumberdawesari...31
Gambar 6. Rencana Struktur Ruang Kabupaten Pasuruan...35
Gambar 7. Rencana Pola Pertanian Terpadu...38
Gambar 8. Rencana Pengembangan Wilayah Timur Kabupaten Pasuruan...40
DAFTAR TABEL Tabel 1. Jenis Industri di Kabupaten Pasuruan... 4
Tabel 2. Kategori Pendapatan Per-Kapita Masing-masing Kecamatan di Kabupaten Pasuruan..5
Tabel 3. Faktor Pemicu Ketimpangan dan Instrumen yang dapat digunakan untuk menghadapinya 14 Tabel 4. Statistik Geografi dan Luas Daratan Kabupaten Pasuruan Tahun 2016...20
Tabel 5. Jumlah Penduduk Per-Kecamatan Kabupaten Pasuruan...21
Tabel 6. Saluran dan Bangunan Irigasi Kabupaten Pasuruan...22
Tabel 7. Drainase Lingkungan di Kabupaten Pasuruan...25
Tabel 8. Jumlah Desa Ber-Listrik di Kabupaten Pasuruan...28
Tabel 9. Potensi dan Rencana Pengembangan Wilayah Timur Kabupaten Pasuruan...44
BAB I PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG
Salah satu penyebab disparitas (ketimpangan) wilayah menurut Sjafrizal (2012) adalah konsentrasi ekonomi wilayah, sehingga pertumbuhan ekonomi akan cenderung lebih cepat pada suatu daerah dimana konsentrasi kegiatan ekonominya cukup besar. Wilayah yang mempunyai faktor-faktor ekonomi yang baik, mendorong untuk menjadi daerah yang lebih maju, dan menjadi pusat kegiatan ekonomi, sedangkan daerah lainnya akan tertinggal.
Disparitas wilayah ini juga tampak pada pembangunan di Kabupaten Pasuruan. Sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Provinsi Jawa Timur Tahun 2011-2031 , Kabupaten Pasuruan mempunyai potensi ekonomi sebagai Kawasan East Java Industrial Integreted Zone (EJIIZ) dan juga sebagai Kawasan Industri Besar. Pada daerah ini banyak terdapat industri-industri dari mulai industri besar sampai dengan industri informal, selain itu juga terdapat kawasan industri yang disebut dengan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER). Menurut data yang diperoleh dari BPS (Kabupaten Pasuruan Dalam Angka, 2014), industri-industri yang terdapat di Kabupaten Pasuruan, tampak pada tabel berikut:
Tabel 1. Jenis Industri di Kabupaten Pasuruan
Jenis Industri/ Industrial Type Satuan Jumlah/ Total
2012 2013
1. Industri/ Industry Unit 19.315 19.695
Besar Sedang/ Large and Medium Scale Unit 842 890
Kecil/ Small Scale Unit 1.260 1.287
Informal/ Informal Unit 17.213 17.518
Sumber: Kabupaten Pasuruan Dalam Angka, BPS, 2014
Gempol, Kecamatan Pandaan, Kecamatan Purwosari, Kecamatan Sukorejo dan Kecamatan Bangil. Tercatat hanya dua perusahaan besar yang bisa mempekerjakan banyak tenaga di wilayah timur. Satu berada di Grati, yakni perusahaan pengelolaan hewan ternak, dan satu lagi di Rejoso yakni perusahaan pakan ternak. Selebihnya industri yang ada di kawasan ini lebih banyak di kelas menengah (Geliat Ekonomi Kabupaten Pasuruan,Jawa Pos, 2014).
Kesenjangan pertumbuhan ekonomi antar kecamatan juga terjadi di Kabupaten Pasuruan. Sesuai dengan penelitian Nuraini, Ida, 2009 untuk pendapatan per-kapita wilayah Timur mayoritas rendah, sedangkan untuk wilayah Barat mayoritas sedang. Hal ini dapat terlihat dari tabel berikut:
Tabel 2. Kategori Pendapatan Per-Kapita Masing-masing Kecamatan di Kabupaten Pasuruan
Sumber: Nuraini, Ida, 2009
merata dan berkeadilan . Arah pembangunan jangka panjang Kabupaten Pasuruan pada lima tahun ketiga ini mengarah kepada sasaran-sasaran demi terwujudnya pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan. Tingkat pembangunan semakin merata di seluruh kecamatan dan desa sehingga kesenjangan antar wilayah di kabupaten Pasuruan menjadi berkurang, terutama yang berkenaan dengan isu wilayah Timur dan Barat. Dari sisi pemerataan pembangunan, yang menjadi topik utama adalah bagaimana pemenuhan kebutuhan perumahan yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukungnya. Hal ini terkait dengan pengadaan dengan jaringan infrastruktur transportasi serta ekonomi yang handal dan terintegrasi antara daerah satu dengan yang lainnya. Dengan tersedianya infrastruktur yang merata, sejatinya akan tercipta lapangan pekerjaan yang memadai bagi masyarakat Kabupaten Pasuruan. Hal ini tentunya tidak terlepas dari kesiapan sumber daya manusia, sehingga dibutuhkan peningkatan kualitas infrastruktur pendidikan yang memadai.Sehingga penyerapan tenaga kerja di daerah Kabupaten Pasuruan lebih optimal, tidak mengandalkan impor tenaga kerja dari luar atau daerah lain.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa wilayah Barat telah berkembang cukup baik dengan didukung oleh industri dan pertaniannya. Perkembangan di wilayah Barat juga terkait oleh kondisi infrastruktur yang cukup mendukung perkembangan wilayah tersebut. Sedangkan wilayah Timur, merupakan daerah yang kurang berkembang dikarenakan kurangnya sektor industri yang berkembang di wilayah tersebut. Hal disebabkan lemahnya kondisi infrastruktur di daerah tersebut. Sebagian besar masyarakat di wilayah Timur adalah nelayan dan petani, yang sangat memerlukan dukungan infrastruktur, permodalan serta program pemberdayaan yang lain. Oleh karenanya untuk mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah Barat dan Timur perlu dilakukan kajian untuk mengetahui kebutuhan infrastruktur untuk pengembangan wilayah Timur Kabupaten Pasuruan.
I.2. PERMASALAHAN
1. Identifikasi potensi-potensi yang bisa dikembangkan pada wilayah Timur Kabupaten Pasuruan
2. Identifikasi kebutuhan infrastruktur untuk mendukung pengembangan potensi-potensi pada wilayah Timur Kabupaten Pasuruan
I.3. TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui potensi-potensi yang bisa dikembangkan dan rencana pengembangan pada wilayah Timur Kabupaten Pasuruan
2. Mengetahui kebutuhan infrastruktur untuk mendukung pengembangan potensi-potensi pada wilayah Timur Kabupaten Pasuruan
I.4. RUANG LINGKUP
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. INFRASTRUKTUR
II.1.1. Pengertian Infrastruktur
Pengertian Infrastruktur menurut beberapa ahli dalam Kodoatie, R.J., 2005 yaitu:
a. Menurut American Public Works Association(Stone, 1974 Dalam Kodoatie,R.J.,2005), adalah fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan-pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan sosial dan ekonomi.
b. Menurut Grigg, 1988 infrastruktur merujuk pada sistem fisik yang menyediakan transportasi pengairan, drainase, bangunan-banguna gedung, dan fasilitas publik yang lain yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi.
Sistem infrastruktur merupakan pendukung utama fungsi-fungsi sistem sosial dan sistem ekonomi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Sistem infrastruktur dapat didefinisikan sebagai fasilitas-fasilitas atau struktur-struktur dasar, peralatan-peralatan, instalasi-instalasi yang dibangun dan yang dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan sistem ekonomi masyarakat (Grigg, 2000).
Gambar 1. Hubungan antara Sistem, Ekonomi, Infrastruktur Sumber: Grigg, 1998 dalam Kodoatie 2005
Dari gambar diatas dapat dikatakan bahwa lingkungan alam merupakan pendukung dasar dari semua sistem yang ada. Peran infrastruktur sebagai mediator antara sistem ekonomi dan sosial dalam tatanan kehidupan manusia dengan lingkungan alam menjadi sangat penting. Infrastruktur yang kurang (bahkan tidak) berfungsi akan memberikan dampak yang besar bagi manusia. Sebaliknya infrastruktur yang berlebihan untuk kepentingan manusia tanpa memperhitungkan kapasitas daya dukung lingkungan akan merusak alam yang pada hakekatnya akan merugikan manusia termasuk makhluk hidup yang lain. Berfungsi sebagai suatu sistem pendukung sistem sosial dan sistem ekonomi, maka infrastuktur perlu dipahami dan dimengerti secara jelas terutama bagi penentu kebijakan.
II.1.2. Jenis Infrastruktur
Dari definisi-difinisi di atas, infrastruktur dibagi dalam 13 kategori (Grigg, 1988) sebagai berikut :
1. Sistem penyediaan air : waduk, penampungan air, transmisi dan distribusi, dan fasilitas pengolahan air (treatment plant),
2. Sistem pengelolaan air limbah : pengumpul, pengolahan, pembuangan, dan daur ulang,
3. Fasilitas pengelolaan limbah (padat),
4. Fasilitas pengendalian banjir, drainase, dan irigasi, 5. Fasilitas lintas air dan navigasi,
6. Fasilitas transportasi : jalan, rel, bandar udara. Termasuk di dalamnya adalah tanda-tanda lalu lintas, fasilitas pengontrol,
8. Sistem kelistrikan : produksi dan distribusi, 9. Fasilitas gas alam,
10. Gedung publik : sekolah, rumah sakit, 11. Fasilitas perumahan publik,
12. Taman kota sebagai daerah resapan, tempat bermain termasuk stadion, 13. Fasilitas komunikasi.
Tiga belas jenis infrastruktur tersebut kemudian lebih diperkecil pengelompokannya (Grigg 1988; Grigg dan Fontane, 2000) sebagai berikut: 1. Transportasi (jalan, jalan raya, jembatan),
2. Pelayanan transportasi (transit, bandara, pelabuhan), 3. Komunikasi,
4. Keairan (air, air buangan, sistem keairan, termasuk jalan air yaitu sungai, saluran terbuka, pipa),
5. Pengelolaan limbah (sistem pengelolaan limbah padat), 6. Bangunan, serta
7. Distribusi dan produksi energi.
Tujuh kelompok tersebut apabila digambarkan tampak sebagai berikut:
Gambar 2. Sistem Infrastruktur Dalam Pengelompokan
II.2. DISPARITAS WILAYAH
Disparitas antar wilayah adalah perbedaan tingkat PDB per kapita yang dapat diakibatkan pertumbuhan yang berbeda antar wilayah. Setiap negara selalu mempunyai wilayah yang maju secara ekonomi dan ada pula yang tertinggal. Perbedaan ini terletak pada perkembangan sektor-sektor ekonominya, baik sektor pertanian, pertambangan, industri, konstruksi, perdagangan, transportasi, komunikasi, sektor jasa seperti perbankan, asuransi, kesehatan, maupun sektor infrastuktur, perumahan dan lain sebagainya. Pembangunan wilayah yang merata tidak berarti setiap wilayah mempunyai tingkat pertumbuhan atau perkembangan yang sama, atau mempunyai pola pertumbuhan yang seragam untuk setiap wilayah. Pengertian pembangunan wilayah yang merata mengarah kepada pengembangan potensi wilayah secara menyeluruh sesuai kapasitas dan potensi yang dimiliki, sehingga dampak positif dari pertumbuhan ekonomi terbagi secara seimbang kepada seluruh wilayah atau daerah. Pada dasarnya tujuan akhir dari pembangunan wilayah yang seimbang adalah untuk meningkatkan taraf hidup penduduk di wilayah pedesaan/daerah belakang sehingga taraf hidupnya sejajar atau setara dengan taraf hidup penduduk di wilayah perkotaan/maju melalui pembangunan sektor pertanian, industri, perdagangan atau bisnis, fasilitas pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan (Alam, 2006 dalam Tetya, 2010).
Dampak dari ketimpangan pembangunan terhadap masyarakat dan daerah (Bappenas, 2004) :
1. Banyak wilayah-wilayah yang masih tertinggal dalam pembangunan Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan wilayah tertinggal, termasuk yang masih dihuni oleh komunitas adat terpencil antara lain: a. Terbatasnya akses transportasi yang menghubungkan wilayah
tertinggal dengan wilayah yang relatif maju. b. Kepadatan penduduk relatif rendah dan tersebar.
c. Kebanyakan wilayah-wilayah ini miskin sumber daya, khususnya sumber daya alam dan manusia.
e. Belum optimalnya dukungan sektor terkait untuk pengembangan wilayahwilayah ini.
2. Belum berkembangnya wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh Sebenarnya wilayah strategis dan cepat tumbuh ini dapat dikembangkan secara lebih cepat karena memiliki produk unggulan yang berdaya saing. Jika sudah berkembang, wilayah-wilayah tersebut diharapkan dapat berperan sebagai penggerak bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah-wilayah sekitarnya yang miskin sumber daya dan masih terbelakang. 3. Wilayah perbatasan dan terpencil kondisinya masih terbelakang
Permasalahan utama dari ketertinggalan pembangunan di wilayah perbatasan adalah arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking sehingga seolah-olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan daerah. Akibatnya, wilayah-wilayah perbatasan dianggap bukan merupakan wilayah prioritas pembangunan oleh pemerintah. Sementara itu daerah-daerah pedalaman yang ada juga sulit berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau.
4. Kesenjangan pembangunan antara kota dan desa Ketimpangan pembangunan mengakibatkan adanya kesenjangan antara daerah perkotaan dengan pedesaan, yang diakibatkan oleh:
a. Investasi ekonomi cenderung terkonsentrasi di daerah perkotaan b. Kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan masih banyak yang tidak
sinergis dengan kegiatan ekonomi di pedesaan
c. Peran kota yang diharapkan dapat mendorong perkembangan pedesaan, justru memberikan dampak yang merugikan pertumbuhan pedesaan
II.2.1. Penyebab Disparitas Wilayah
Menurut Word Bank, 2016 faktor-faktor pemicu disparitas/ ketimpangan adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Faktor Pemicu Ketimpangan dan Instrumen yang dapat digunakan untuk menghadapinya
Sumber: World Bank, 2016
Sedangkan menurut Syafrijal, 2012 faktor yang mementukan disparitas/ ketimpangan antar wilayah, antara lain yaitu:
a. Perbedaan Kandungan Sumberdaya Alam
b. Perbedaan Kondisi Demografis
Faktor lainnya yang juga mendorong terjadinya ketimpangan pembangunan antar wilayah adalah bilamana terdapat perbedaan kondisi demografis yang cukup besar antar daerah. Kondisi demografis yang dimaksud adalah perbedaan tingkat pertumbuhan dan stuktur kependudukan, perbedaan tingkat pendidikan dan kesehatan, perbedaan kondisi ketenagakerjaan dan perbedaan dalam tingkah laku dan kebiasaan serta etos kerja yang dimiliki masyarakat daerah bersangkutan. Kondisi demografis ini akan dapat mempengaruhi ketimpangan pembangunan antar wilayah karena hal ini akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja masyarakat pada daerah bersangkutan. Daerah dengan kondisi demografis yang baik akan cenderung mempunyai produktivitas kerja yang lebih tinggi sehingga hal ini akan mendorong peningkatan investasi yang selanjutnya akan meningkatkan penyediaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah bersangkutan. Sebaliknya, bila pada suatu daerah tertentu kondisi demografisnya kurang baik maka hal ini akan menyebabkan relative rendahnya produktivitas kerja masyarakat setempat yang menimbulkan kondisi yang kurang menarik bagi penanaman modal sehingga pertumbuhan ekonomi daerah bersangkutan akan menjadi lebih rendah.
c. Kurang Lancarnya Mobilitas Barang dan Jasa
d. Konsentrasi Kegiatan Ekonomi Wilayah
Terjadinya konsentrasi kegiatan ekonomi yang cukup tinggi pada wilayah tertentu jelas akan mempengaruhi ketimpangan pembangunan antar wilayah. Pertumbuhan ekonomi daerah akan cenderung lebih cepat pada daerah dimana terdapat konsentrasi kegiatan ekonomi yang cukup besar. Kosentrasi kegiatan ekonomi dapat disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena adanya sumberdaya alam yang lebih banyak pada daerah tertentu. Kedua, meratanya fastilitas transportasi, baik darat, laut dan udara, juga ikut mempengaruhi kosentrasi kegiatan ekonomi antar daerah. Ketiga, kondisi demografis (kependudukan) juga ikut mempengaruhi karena kegiatan ekonomi akan cenderung terkosentrasi dimana sumberdaya manusia tersedia dengan kualitas yang lebih baik.
e. Alokasi Dana Pembangunan Antar Wilayah
Alokasi investasi pemerintah ke daerah lebih banyak ditentukan oleh sistem pemerintahan daerah yang dianut. Bila sistem pemerintahan daerah yang dianut bersifat sentralistik, maka alokasi dana pemerintah akan cenderung lebih banyak dialokasikan pada pemerintah pusat, sehingga ketimpangan pembangunan antar wilayah akan cenderung tinggi. Akan tetapi jika sebaliknya dimana sistem pemerintahan yang dianut adalah otonomi atau federal, maka dana pemerintah akan lebih banyak dialokasikan kedaerah sehingga ketimpangan pendapatan akan cenderung rendah. Alokasi dana pemerintah yang anatara lain akan memberikan dampak pada ketimpangan pembangunan antar wilayah adalah alokasi dana untuk sektor pendidikan, kesehatan, jalan, irigasi dan dan listrik. Semua sektor ini akan memberikan dampak pada peningkatan pada peningkatan produktivitas tenaga kerja, pendapatan perkapita, dan pada akhirnya dapat meningkatkan pergerakan ekonomi didaerah tersebut.
II.3. Pembangunan Infrastruktur untuk Mengurangi Disparitas Wilayah
ke seluruh pelosok wilayah. Prasarana perhubungan yang dimaksudkan disini adalah fasilitas jalan, terminal dan pelabuhan laut guna mendorong proses perdagangan antar daerah. Sejalan dengan hal tersebut jaringan dan fasilitas telokomunikasi juga sangat penting untuk dikembangkan agar tidak ada daerah yang terisolir dan tidak dapat berkomunikasi dengan daerah lainnya. Disamping itu pemerintah perlu pula mendorong berkembangnya sarana perhubungan seperti perusahaan angkutan antar daerah dan fasilitas telekomunikasi. Bila hal ini dapat dilakukan, maka ketimpangan pembangunan antar wilayah akan dapat dikurangi karena usaha perdagangan dan mobilitas faktor produksi, khususnya investasi akan dapat lebih diperlancar. Dengan cara demikian, daerah yang kurang maju akan dapat pula meningkatkan kegiatan perdagangan dan investasi didaerahnya, sehingga kegiatan produksi dan penyediaan lapangan kerja akan dapat pula ditingkatkan. Semua ini akan mendorong proses pembangunan pada daerah yang kurang maju.
Infrastruktur memiliki peran yang luas dan mencakup berbagai konteks dalam pembangunan, baik dalam konteks fisik-lingkungan, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan konteks lainnya. Salah satu infrastruktur yang besar perannya dalam pengembangan dan pembangunan ruang, baik dalam lingkup negara ataupun lingkup wilayah adalah infrastruktur transportasi. Infrastruktur juga merupakandriving forcedalam pertumbuhan ekonomi. Perannya dalam mengembangkan sebuah wilayah tentu tak ada yang meragukannya lagi. Sehingga beberapa fakta empiris menyatakan bahwa perkembangan kapasitas infrastruktur di suatu wilayah akan berjalan seiring dengan perkembangan output ekonomi. Dalam konteks sistem industri, peran infrastruktur juga sangat vital karena mampu diyakini meningkatkan produktivitas dimana pada akhirnya akan berpengaruh pada meningkatnya kinerja ekonomi secara keseluruhan (Setiawan, 2011).
Menurut World Bank, 2016 menutup kesenjangan besar di sektor infrastruktur dapat mengurangi ketimpangan di Indonesia, antara lain:
1. Memperkecil kesenjangan infrastruktur di Indonesia akan membantu menjaga keberlangsungan pertumbuhan ekonomi.
kehilangan lebih dari 1 persen tambahan pertumbuhan GDP karena investasi yang kurang di sektor infrastruktur, khususnya transportasi. Memperkecil kesenjangan infrastruktur akan mendukung pertumbuhan melalui beberapa kanal. Selagi infrastruktur dibuat, dampak pembelanjaan akan mendukung pertumbuhan jangka pendek dan memberikan lapangan pekerjaan. Selagi investasi berubah menjadi bentuk infrastruktur, investasi swasta diramaikan dengan kapasitas yang produktif, produktivitas dan dukungan terhadap pertumbuhan jangka panjang. Peningkatan pertumbuhan ini dapat berdampak positif pada pendapatan dan konsumsi rumah tangga serta sumber daya fiskal yang lebih banyak, Pemerintah dapat menggunakannya untuk membiayai berbagai program yang membantu semua pihak di lapangan.
2. Investasi di sektor infrastruktur akan membuka banyak kesempatan kerja yang lebih baik bagi pekerja dengan keterampilan rendah.
Ini akan mendukung pembentukan lapangan pekerjaan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan ketimpangan. Survei menunjukkan bahwa permasalahan transportasi merupakan salah satu hambatan bisnis di sektor manufaktur yang merupakan sektor penting untuk menghasilkan lapangan pekerjaan, khususnya bagi pekerja dengan keterampilan dan penghasilan terbatas. Mengurangi hambatan ini akan meningkatkan produktivitas dan tingkat kompetisi di sektor infrastruktur. Jalan dan pelabuhan yang lebih baik juga akan memberikan petani akses yang lebih baik untuk pergi ke pasar, sehingga kelak meningkatkan produktivitas mereka dan keterampilan untuk membuat kesempatan kerja bagi pekerja di sektor pertanian.
3. Infrastruktur dapat membantu menghadapi ketimpangan kesempatan dengan meningkatkan akses terhadap layanan pemerintah.
baru. Perawatan jalan tingkat provinsi diperkirakan akan membutuhkan peningkatan jumlah anggaran (Bank Dunia 2012f).
BAB III
GAMBARAN UMUM WILAYAH
III.1. Gambaran Umum Kabupaten Pasuruan III.1.1. Kondisi Geografis
Kabupaten Pasuruan berada di wilayah tapal kuda Provinsi Jawa Timur dengan posisi yang sangat strategis di kawasan segitiga emas sebagai poros distribusi ekonomi 3 kawasan, yaitu jalur Surabaya- Jember Banyuwangi Bali; Surabaya Malang; dan Malang Jember Banyuwangi. Kondisi ini tentu sangat menguntungkan dalam upaya pengembangan ekonomi dan membuka peluang investasi di Kabupaten Pasuruan.
Secara geografis, Kabupaten Pasuruan berada diantara 112030 s/d 113030 Bujur Timur dan 7030 s/d 8030 Lintang Selatan dan berbatasan langsung dengan:
Utara : Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo dan Selat Madura Selatan : Kabupaten Malang dan Kota Batu
Timur : Kabupaten Probolinggo Barat : Kabupaten Mojokerto
Luas wilayah Kabupaten Pasuruan sebesar 1.474.015 km2, atau 147.401,50 Ha (3,13 persen luas Provinsi Jawa Timur), yang secara administratif terdiri dari 24 Kecamatan, 24 Kelurahan, 341 Desa, 1.969 Dusun, 2.991 RW, dan 8.563 Rukun Tetangga (RT). Dari 24 Kecamatan tersebut, wilayah terluas adalah Kecamatan Lumbang dengan luas wilayah 125,55 km2 (8,51 persen). Dari luas wilayah tersebut mayoritas peruntukan lahan adalah untuk pertanian, seperti tampak pada tabel di bawah ini:
Tabel 4. Statistik Geografi dan Luas Daratan Kabupaten Pasuruan Tahun 2016
Meskipun Kabupaten Pasuruan adalah daerah agraris, namun sektor industri pengolahan merupakan penyokong utama dalam perekonomian Kabupaten Pasuruan. Lebih dari 30% sektor industri mampu memberikan kontribusinya dalam pembentukan PDRB Kabupaten Pasuruan. Mata pencaharian penduduk pun mulai bergeser dari sektor pertanian ke sektor industri.
III.1.2.Penduduk
Kepadatan penduduk ini lebih tinggi dibanding tiga tahun sebelumnya yang masing-masing mencapai 1.065 jiwa per km2(2014), 1.056 jiwa per km2(2013), 1.039 jiwa per km2. Berikut adalah jumlah penduduk per-kecamatan di Kabupaten Pasuruan.
Tabel 5. Jumlah Penduduk Per-Kecamatan Kabupaten Pasuruan
Sumber: Kabupaten Pasuruan Dalam Angka, BPS, 2016
III.1.3. Kondisi Infrastruktur A. Infrastruktur Jalan
Berdasarkan data dari Bappeda Kabupaten Pasuruan 2013, sarana dan prasarana jalan di Kabupaten Pasuruan pada tahun 2013 dilihat dari kondisi permukaan jalan, diklasifikasikan dengan kondisi baik, sedang, rusak ringan dan rusak berat. Panjang jalan di Kabupaten Pasuruan seluruhnya 2315,89 Km dengan kondisi baik sepanjang 809,5 Km; kondisi sedang 677,21 Km; kondisi rusak ringan sepanjang 395,69 Km; dan kondisi rusak berat sepanjang 433,49 Km.
Sedangkan menurut status dan kondisi jalan, panjang jalan berstatus jalan Kabupaten sepanjang 2306,19 Km; dengan kondisi aspal 1761,56 Km; kondisi berkerikil 305,80 Km; dan yang masih kondisi jalan tanah sepanjang 238,83 Km. Sedang menurut kelas jalan, seluruh jalan kabupaten yang ada di Kabupaten Pasuruan adalah masuk kategori jalan Kelas III.
B. Infrastruktur Jaringan Irigasi
Di kabupaten Pasuruan terdapat 143.689,975 m saluran irigasi primer dan 107.232,375 m salurann irigasi sekunder dan 1.893 buah bangunan. Secara kompleks saluran irigasi di kabupaten Pasuruan mengalami penurunan fungsi . Gambaran irigasi di kabupaten pasuruan di paparkan melalui data dan mapping di bawah ini :
C. Infrastruktur Air Bersih
Kabupaten Pasuruan memiliki sumber daya air yang cukup berlimpah, salah satunya adalah Sumber Air Umbulan yang terletak di Desa Umbulan Kecamatan Winongan, namun penggunaannya belum bisa optimal. Dengan debit air rata-rata 5.500 lt/dt, sumber air ini akan digunakan sebagai sumber air baku bagi masyarakat Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik. Saat ini yang telah memanfaatkan Sumber Umbulan sebagai air baku adalah PDAM Kota Surabaya sebanyak 110 lt/detik, PDAM Kabupaten Pasuruan sebanyak 165 lt/det, irigasi dan kolam ikan sebanyak 500 lt/det, sedangkan sisanya sekitar 4.000 liter/detik dibiarkan mengalir ke sungai dan areal persawahan, dan selain itu dimanfaatkan pula untuk suplai Sungai Rejoso (Irtanto, 2012).
Untuk penyediaan air bersih, pemanfaatan sumber air baku di Kabupaten Pasuruan ditangani oleh PDAM Kabupaten Pasuruan. Pada saat ini sudah ada 8 (delapan) cabang dan 4 (unit kerja) yang meliputi :
D. Infrastruktur Drainase Lingkungan
Dalam rangka pengembangan dan penataan kawasan permukiman dan peningkatan taraf hidup masyarakat di Kabupaten Pasuruan, penanganan drainase merupakan salah satu prioritas yang perlu mendapatkan penanganan. Karena gangguan dan kerugian akan masalah banjir dan genangan telah mengakibatkan dampak penurunan kondisi sosial ekonomi masyarakat, kerusakan lingkungan pemukiman dan sektor-sektor ekonomi yang potensial.
Saat ini saluran drainase di kabupaten Pasuruan secara umum mengalami penurunan fungsi disebabkan karena adanya sedimentasi, sampah, saluran drainase yang belum sepadan serta penyempitan sungai karena kurangnya kesadaran masyarakat, selain itu ditunjang dengan pertumbuhan enceng gondok yang sangat pesat sehingga mengganggu sirkulasi di sungai.
Tabel 7. Drainase Lingkungan di Kabupaten Pasuruan
E. Infrastruktur Persampahan dan Air Limbah
Pengelolaan sampah dan air limbah di Kabupaten Pasuruan berada dibawah kewenangan Badan Lingkungan Hidup. Kegiatan pengelolaan sampah dimulai dari kegiatan pengumpulan sampah dari sumber sampah, pemindahan sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang selanjutnya dilakukan pengangkutansampah ketempat pusat pengelolaan sampah. Pada tahap pewadahan sampai dengan sampah terkumpul di TPS, pengelolaannya melibatkan masyarakat dan pengelola setempat untuk area komersial. Sedangkan pengelolaan sampah mulai dari TPS menuju ke TPA menjadi tanggungjawab sepenuhnya oleh pemerintah Kabupaten Pasuruan yaitu Badan Lingkungan Hidup.
yang dioperasikan adalah TPA Kenep dengan luas lahan aktif sebesar 26.118 m², sedangkan TPA Rebalas tidak dimanfaatkan karena berdasarkan hasil kajian tidak layak untuk dikembangkan dan dimanfaatkan.saat ini dilakukan di Desa Kenep Kecamatan Beji. TPA Kenep ini beroperasi sejak tahun 1989 pada lahan yang berupa jurang dengan kedalaman ±13 m (Depression Methode) TPA Kenep terletak dilahan seluas 2,5 Ha beroperasi dengan menggunakan sistem open dumping(penimbunan sampah pada lahan terbuka) dancontrolled landfillyang dilakukan dengan cara melapisi lahan yang akan dijadikan area penimbunan dengan lapisan geomembran. TPA di Kenep ini untuk melayani wilayah Kabupaten bagian barat. Tengah dan selatan yang jaraknya relatif dekat dengan lokasi TPA.
Sedangkan untuk Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Kabupaten Pasuruan terdapat 2 jenis yaitu
1. TPS Transfer Depo
Di Kabupaten Pasuruan terdapat 4 unit TPS Transfer depo yaitu TPS Kauman, TPS Pasar Bangil (Kidul Dalem), TPS Kelurahan Pandaan dan TPS Segok yang kapasitasnya adalah 10-20 m³ . Fasilitas yang ada di setiap TPS yaitu dibangun dengan lantai beton, bangunan penjagaan permanen, gerobak sampah yang beberapa dintaranya kondisinya sudah tidak layak pakai dan terdapat pula rumah kompos yang dilengkapi dengan instrumentasi proses pengomposan. 2. TPS Umum
TPS umum ini merupakan sebuah tempat penampungan sampah yang kapasitasnya 6 m³ atau lebih yang dilengkapi dengan landasan container. TPS umum ini di Kabupaten Pasuruan berjumlah 29 unit, yang tersebar di Kecamatan Bangil, Kacamatan Beji, Kecamatan Gempol, Kecamatan Pandaan, Kecamatan Prigen, Kecamatan Purwosari dan Kecamatan Sukorejo.
1. Terbatasnya sarana infrastruktur pengelolaan air limbah rumah tangga karena dibeberapa wilayah banyak dijumpai sarana pembuangan air limbah tidak tertata atau dikelola dengan benar.
2. Belum adanya sarana IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja) di Wilayah Kabupaten Pasuruan.
F. Energi Listrik
Wilayah Kabupaten menggunakan listrik yang bersumber dari PLN. Distribusi jaringan listrik sudah cukup merata dan menjangkau seluruh wilayah Kabupaten Pasuruan. Jaringan yang terdapat diKabupaten Pasuruan terdapat SUTR( Saluran Udara Tegangan Rendah) merata dipermukiman. SUTM (Saluran Udara Tegangan Menengah) , SUTT (Saluran UdaraTegangan Tinggi) , dan SUTET (Saluran Tegangan Extra Tinggi).
Tabel 8. Jumlah Desa Ber-Listrik di Kabupaten Pasuruan
Sumber: Kabupaten Pasuruan Dalam Angka, BPS, 2016
III.2. KECAMATAN LEKOK
Kecamatan Lekok dikenal sebagai daerah dataran rendah/ pesisir dengan ketinggian 5 m dpl hingga 20 m dpl dan luas wilayah 43,97 km2. Letak geografis Kecamatan Lekok berada pada posisi yang strategis, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
Kecamatan Lekok terdiri dari 11 Desa. Berdasarkan administrasi wilayah terkecil di bawah desa/ kelurahan terdapat 121 Rukun Warga (RW), dan sebanyak 395 Rukun Tetangga (RT).
Secara umum luas daratan Kecamatan Lekok adalah merupakan wilayah tegal/ tanah kering pertanian, yaitu sebesar 57%. Sehingga sampai saat ini sektor pertanian masih mendominasi sebagai sektor yang menciptakan kesempatan kerja, terutama di daerah pedesaan. Sebagian besar penduduk di Kecamatan Lekok bekerja di sektor perikanan tangkap dan peternakan sapi perah (Statistik Kecamatan Lekok,2015).
III.2.1. Kondisi Infrastruktur
Secara umum kondisi jalan di Kecamatan Lekok masih banyak yang rusak terutama di ruas jalan Pasinan kidul, pasir panjang, dan jatiarjo. Sedangkan jika melihat dari data Kabupaten Pasuruan yang telah diuraikan sebelumnya, untuk infrastruktur persampahan (TPA) dan drainase pada Kecamatan Lekok ini belum tersedia. Sedangkan untuk pemenuhan energi listrik, semua desa yang terdapat di Kecamatan Lekok telah memperoleh sambungan listrik.
Sanitasi di Kecamatan Lekok masih tergolong buruk dikarenakan masih banyaknya penduduk yang Buang Air Besar (BAB) ke sungai yaitu sekitar 50,61 % (Statistik Kecamatan Lekok, 2015). Sedangkan untuk pemenuhan air bersih di Kecamatan Lekok masih mengandalkan PDAM dari Kabupaten Pasuruan, tetapi debitnya tidak mencukupi sehingga penduduk mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih. Hal ini dikarenakan di kawasan pesisir, air yang ada berasa payau dan keruh sehingga tidak memenuhi standar kesehatan.
III.3. KECAMATAN GRATI
antara 0 3%. Wilayah Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan terdiri dari 15 Desa, yang terbagi menjadi 77 Dusun, 118 Rukun Warga (RW) dan 383 Rukun Tetangga (RT) dengan luas wilayah sebesar 57,70 Km2
Statistik geografis tanah di Kecamatan Grati didominasi oleh sawah yang mencapai 1.013,70 Hektar, kemudian permukiman 595,90 Hektar, tegal 2.448,90 Hektar, hutan negara 595,90 Hektar dan lainnya 348,90 Hektar.
Di Kecamatan Grati terdapat danau Ranu Grati yang merupakan objek pariwisata utama di wilayah ini. Danau ini bisa diakses dari Jalan Raya Surabaya-Probolinggo Km 64,5 kemudian berbelok ke selatan sekitar 1 Km. Obyek Wisata ini menyediakan berbagai permainan air atau persewaan perahu yang bisa digunakan oleh pelancong untuk menikmati keindahan alamnya.
Gambar 4. Danau Ranu Grati Sumber: www.pasuruan-travel.com
Selain Danau Ranu Grati, terdapat pula Pabrik Gula Kedawung yang menyediakan agrowisata berupa perjalanan mengelilingi perkebunan tebu di sekitar areal pabrik dengan menggunakan Lori. PG Kedawung didirikan pada tanggal 6 November 1889 oleh Belanda dan terletak di Desa Kedawung Wetan, bisa dicapai dari Jalan Raya Surabaya-Probolinggo Km 60 kemudian berbelok ke selatan sekitar 700 m.
III.3.1. Kondisi Infrastruktur
dan Plososari. Sedangkan untuk infrastruktur air bersih sudah tersedia dari PDAM Unit Grati, tetapi masih belum
Dari data sebelumnya (Kabupaten Pasuruan) di Kecamatan Grati sudah tersedia drainase lingkungan, tetapi drainase belum memadai. Hal ini terlihat dengan kurangnya fasilitas saluran drainase di tepi kiri dan kanan wilayah permukiman karena masih banyak tanah kosong baik berupa sawah maupun tegalan. Saluran alam ataupun sungai yang mengalami penyempitan dan alur berkelok-kelok (meandering) sehingga saluran tidak mampu untuk menampung air hujan dan mengakibatkan luapan air di daerah sekitarnya.
Untuk infrastruktur persampahan masih belum tersedianya TPA di Kecamatan Grati, sehingga pembuangan sampah masih dilakukan dengan cara tradisional. Kondisi Sanitasi juga belum begitu baik, karena masih banyak masyarakat yang menggunakan WC umum dan septic tank yang kurang memenuhi syarat. Tetapi di Kecamatan Grati ini terdapat satu-satunya IPAL Komunal yang ada di Kabupaten Pasuruan.
IPAL Komunal adalah instalasi pengolahan limbah yang digunakan secara bersama-sama oleh minimal 30 rumah tangga. IPAL Komunal ini terdapat di Desa Sumberdawesari, Kecamatan Grati dengan ukuran 3×16 meter, kedalaman 4 meter. IPAL ini mampu menampung limbah warga RT 03 RW 05 dan warga RT 04 RW 07 dengan populasi 75 KK (350 jiwa). IPAL Komunal ini dibangun oleh IWINS USAID untuk menjawab pentingnya sanitasi yang sehat, serta untuk menjawab keterbatasan lahan untuk septictank di perkampungan padat penduduk.
Sedangkan untuk pemenuhan energi listrik, semua desa yang terdapat di Kecamatan Grati telah memperoleh sambungan listrik.
III.4. KECAMATAN REJOSO
Kecamatan Rejpsp dikenal sebagai daerah dataran rendah/ pesisir dengan ketinggian 5 m dpl hingga 20 m dpl dan luas wilayah 35,51 km2. Letak geografis Kecamatan Lekok berada pada posisi yang strategis, yaitu jalur utama pantura Surabaya Bali dan Malang Banyuwangi. Hal tersebut menguntungkan dalam pengembangan ekonomi dan peluang investasi di Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan. Batas-batas wilayah Kecamatan Rejoso sebagai berikut:
Utara : Kecamatan Lekok Selatan : Kecamatan Winongan Timur : Kecamatan Grati Barat : Kota Pasuruan
Kecamatan Lekok terdiri dari 16 Desa, yang terbagi menjadi 74 Rukun Warga (RW) dan 275 Rukun Tetangga (RT)
Secara umum luas daratan Kecamatan Lekok adalah merupakan wilayah sawah/ pertanian, yaitu sebesar 57%. Sehingga sampai saat ini sektor pertanian masih mendominasi sebagai sektor yang menciptakan kesempatan kerja.
III.4.2. Kondisi Infrastruktur
Kondisi jalan di Kecamatan Rejoso banyak mengalami kerusakan, terutama pada ruas jalan Patuguran, Lingkunglawas, Ketegan, Jarangan, Manik Rejo, Sekarputih, dan Jarangan. Meskipun drainase lingkungan telah tersedia di Kecamatan ini tetapi kondisinya masih belum memadai, hal ini tampak dari kejadian banjir yang selalu terjadi setiap tahun di Kecamatan Rejoso.
Dilihat dari data Kabupaten Pasuruan yang telah diuraikan sebelumnya, untuk infrastruktur persampahan pada Kecamatan Rejoso ini belum terlayani dari TPA Kabupaten Pasuruan yang sudah ada, dan untuk pemenuhan energi listrik, semua desa yang terdapat di Kecamatan Rejoso telah memperoleh sambungan listrik.
III.5. KECAMATAN NGULING
Kecamatan Nguling di Kabupaten Pasuruan terletak diantara Kecamatan Lekok, Kecamatan Grati dengan Kabupaten Probolinggo, terbentang pada 7,30 8,30 Lintang Selatan dan 112030 113030 Bujur Timur. Wilayahnya merupakan dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian mulai 0 m dpl hingga 100 m dpl dengan kondisi permukaan tanah yang relatif datar karena sebagian besar merupakan daerah pesisir . Wilayah Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan terdiri dari 15 Desa, yang terbagi menjadi 75 Dusun, 116 Rukun Warga (RW) dan 340 Rukun Tetangga (RT) dengan luas wilayah sebesar 47,23 Km2.
Dengan luas 4260 Ha, Kecamatan Nguling terbagi menjadi 165 Ha area permukiman, 955 Ha area perswahan, 3053 Ha area lahan bukan sawah, dan lain-lain sebanyak 87 Ha. Penduduk Kecamatan Nguling wilayah pesisir mayoritas bekerja di sektor perikanan khususnya subsektor penangkapan ikan di laut (Statistik Kecamatan Nguling, 2016).
III.5.1. Kondisi Infrastruktur
Kondisi jalan di Kecamatan Rejoso banyak mengalami kerusakan, terutama pada ruas jalan Sebalong, Kedawang, Sanganom, Bandongan, Randuati, dan Kedawung. Sedangkan untuk drainase lingkungan telah tersedia tetapi kondisinya kurang memadai, karena setiap tahun pada Kecamatan ini masih terjadi banjir selain disebabkan luapan sungai juga karena buruknya drainase.
Untuk kebutuhan air bersih sudah ada jaringan PDAM dari unit Nguling, disamping itu sebagian besar penduduk sudah memanfaatkan air bersih baik yang berasal dari air kemasan, ledeng, sumur bor dan mata air. Tetapi kondisi sanitasi masih buruk, karena masih banyak penduduk yang Buang Air Besar (BAB) di sungai, yaitu sebanyak 41% (Statistik Kecamatan Nguling, 2015).
BAB IV PEMBAHASAN
IV. 1. Rencana Ruang Wilayah
Untuk meningkatkan pertumbuhan secara lebih merata, maka sangatlah perlu melihat potensi wilayah, sehingga dengan mengetahui potensi wilayah, maka wilayah tersebut akan dikembangkan sesuai dengan potensinya. Untuk itu perlu dilakukan tindakan untuk terwujudnya pembangunan yang lebih merata di Kabupaten Pasuruan.
Sesuai dengan arahan pengembangan pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pasuruan Tahun 2009-2029, struktur ruang wilayah Perkotaan Lekok, Grati, Rejoso dan Nguling ditetapkan sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK). Pusat Pelayanan Kawasan merupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau ibukota Kecamatan ataubeberapa desa/kelurahan yakni seluruh ibukota kecamatan yang tidak termasukdalam PKL yang memiliki fungsi dari masing-masing ibukota kecamatan tersebut antara lain pusat pelayanan umum, dan pemerintahan bagi desa-desa yangberada di wilayah administrasinya dan pusat perdagangan dan jasa bagi desa-desa yang berada di wilayah administra
Gambar 6. Rencana Struktur Ruang Kabupaten Pasuruan Sumber: RTRW Kabupaten Pasuruan 2009-2029
Sesuai dengan RTRW Kabupaten Pasuruan Tahun 2009-2029, strategi pengembangan pusat pelayanan sebagaimana dimaksud antara lain:
a. Mendorong pertumbuhan wilayah perdesaan yang lebih mandiri; b. Meningkatkan aksesbilitas antar perdesaan dan perkotaan;
c. Mengembangkan fungsi kawasan industri dan kawasan peruntukan industri non kawasan industri, serta perkotaan utama sebagai pendukung perkembangan Kawasan Perkotaan Gerbangkertosusila (GKS);
d. Meningkatkan peran perkotaan sebagai pusat pertumbuhan wilayah sesuai hierarki masing-masing;
e. Mengembangkan kota mandiri berbasis pendidikan yakni Airlangga City, sebagai pusat pelayanan sosial baru dengan fungsi utama pendidikan serta konservasi lahan dan air;
f. Mengintegrasikan pusat pengembangan baru dan lama sebagai satu sistem perkotaan khususnya sekitar pintu jalan tol dan pusat industri;
g. Membangun, mengembangkan dan mengintegrasikan jalur kawasan tujuan pariwisata dan daya tarik wisata secara optimal dan sinergi dengan perkembangan wilayah; serta
h. Mengembangkan kawasan agrowisata, ekowisata, agropolitan, dan minapolitan sebagai andalan pengembangan kawasan perdesaan di Wilayah Kabupaten Pasuruan.
Untuk meningkatkan pertumbuhan secara lebih merata, maka sangatlah perlu melihat potensi wilayah, sehingga dengan mengetahui potensi wilayah, maka wilayah tersebut akan dikembangkan sesuai dengan potensinya. Kecamatan Lekok, Kecamatan Grati, Kecamatan Rejoso dan Kecamatan Nguling termasuk dalam kawasan pesisir. Sesuai dengn RTRW Kabupaten Pasuruan, pengembangan kawasan pesisir sebagai salah satu kawasan strategis yang dikembangkan dengan upaya untuk memaksimalkan potensi perikanan lokal yang ada, dan mengurangi kemiskinan serta konflik sosial.
IV. 2. Potensi Wilayah dan Rencana Pengembangan IV.2.1. Kecamatan Lekok
Kecamatan Lekok memiliki populasi sapi perah terbanyak se-Kabupaten Pasuruan, hasil dari susu tersebut dapat dijadikan sebagai bahan baku industri minuman. Selain itu Kecamatan Lekok berpotensi untuk dikembangkan kawasan Minapolitan karena memiliki potensi perikanan tangkap dan perikanan budidaya yaitu tambak Udang dan Bandeng.
Kondisi eksisting saat ini komoditas perikanan tangkap mempunyai daya jual yang rendah karena ikan yang dihasilkan mengandung bahan berbahaya sebagai bahan pengawet, sehingga penghasilan nelayan rendah dan ikan tidak bisa masuk ke pangsa pasar yang lebih baik karena kualitasnya yang jelek, selain itu belum optimalnya fungsi Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
Selain potensi peternakan dan perikanan di Kecamatan Lekok terdapat PLTGU Grati PT. Indonesia Power yang berfungsi mensupply energi listrik di Jawa Timur khususnya, dan Jawa-Bali pada umumnya, dan Kecamatan ini ditetapkan sebagai kawasan strategis untuk kepentingan pertahanan dan Keamanan di Kabupaten Pasuruan Kawasan PUSLATPUR TNI-AL di Kecamatan Lekok.
IV.2.2. Kecamatan Grati
Produksi Padi di Kecamatan Grati sekitar 16.000 ton dengan produksi terbanyak di desa Kedawung Kulon, sekitar 4.000 ton. Produksi Jagung di Kecamatan ini juga tinggi, yaitu sekitar 4000 ton (Statistik Kecamatan Grati, 2015). Oleh karenanya Kecamatan Grati berpotensi untuk dikembangkan pertanian berupa padi, dan jagung. Selain itu di Desa Cukurgondang Kecamatan Grati juga sedang dikembangkan komoditas mangga garifta. Kedepannya sektor pertanian yang akan lebih dikembangkan yaitu padi, dan komoditas mangga grafita, yang mana rencana pengembangan komoditas ini untuk menjadi bahan pangan organik serta sebagai bahan baku industri pengolahan.
Selain sektor pertanian, terdapat sapi perah yang juga merupakan komoditas ternak andalan. Di Kecamatan Grati terdapat Koperasi Usaha Tani Ternak yang lini usaha utamanya adalah menampung susu sapi dari petani.
Di sektor perikanan, terdapat Danau Ranu Grati yang oleh masyarakat sekitar keberadaan danau tersebut dimanfaatkan untuk memelihara ikan. Berbagai jenis ikan tawar banyak dijumpai di keramba yang ada di Danau Grati.
Dari potensi-potensi di atas maka arah pengembangan untuk Kecamatan Grati yaitu:
a. sentra kawasan mangga garifta (agrowisata)
b. sistem perikanan mina padi, yaitu memanfaatkan air pada saat penanaman padi untuk kehidupan ikan.Sistem mina padi merupakan cara pemeliharaan ikan di sela-sela tanaman padi.
c. Hinterland kawasan minapolitan. d. Sistem pertanian terpadu
akan meningkatkan perekonomian petani. Bahan-bahan yang kualitasnya bagus juga akan diminati sebagai bahan baku industri, sehingga dengan sistem pertanian terpadu dapat meningkatkan nilai jual komoditas pertanian, peternakan dan perikanan. Berikut adalah gambaran sistem pertanian terpadu
Gambar 7. Rencana Pola Pertanian Terpadu Sumber: Bappeda Kabupaten Pasuruan, 2015 IV.2.3. Kecamatan Rejoso
Dengan wilayah yang berbatasan dengan pantai, sektor perikanan Kecamatan Rejoso berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan Minapolitan. Hal ini dikarenakan daerah ini memiliki potensi perikanan tangkap dan perikanan budidaya yaitu tambak Udang dan Bandeng. Selain potensi di sektor perikanan ada pula potensi di sektor peternakan, yaitu peternakan itik dan ayam buras. Disamping itu, pada Kecamatan Rejoso bagian Barat merupakan daerah subur yang memiliki sumber air, sehingga daerah tersebut sangat potensial untuk pengembangan pertanian dan hortikultura.
Arah pengembangan potensi-potensi yang ada di Kecamatan Rejoso yaitu: a.Sentra budidaya ikan
b.Hinterland Kawasan Minapolitan
IV.2.4. Kecamatan Nguling
Karena letak geografisnya yang berbatasan langsung dengan laut, potensi perikanan terbesar di kawasan pesisir yaitu sektor perikanan tangkap, selain itu terdapat beberapa usaha kecil yang bergerak di industri pengolahan ikan. Kondisi eksisting komoditas perikanan tangkap di Kecamatan Nguling saat ini sama seperti kondisi di Kecamatan Lekok, yaitu sektor perikanan tangkap mempunyai daya jual yang rendah karena ikan yang dihasilkan mengandung bahan berbahaya sebagai bahan pengawet, sehingga penghasilan nelayan rendah dan ikan tidak bisa masuk ke pangsa pasar yang lebih baik karena kualitasnya yang jelek.
Di sektor peternakan, Kecamatan Nguling memiliki populasi sapi potong terbanyak se-Kabupaten Pasuruan. Peran ternak potong sangat strategis sebagai sumber pendapatan petani. Untuk meningkatkan pendapatan petani maka pemeliharaan petani ternak diarahkan menjadi usaha komersial dengan pendekatan agribisnis.
Sesuai dengan RTRW Kabupaten Pasuruan Tahun 2009-2029, arahan rencana pengembangan Kawasan Peruntukan Industri non Kawasan Industri jenis industri tertentu pengolahan hasil pertanian termasuk perikanan diarahkan terpusat di Kecamatan Nguling. Dan untuk zona pengembangan kawasan pesisir, kawasan peruntukan industri di pesisir Kabupaten Pasuruan saat ini dikembangkan terutama di Kecamatan Nguling (dalam skala besar),sedangkan secara terbatas/kecil untuk mendukung pengolahan hasil perikanan dikembangkan di seluruh kecamatan di kawasan pesisir berupa kawasan peruntukan industri kecil/menengah pada rencana kawasan permukiman yang telah ditetapkan.
Dari potensi-potensi tersebut, dan sesuai dengan RTRW Kabupaten Pasuruan yang telah ditetapkan, arah pengembangan Kecamatan Nguling yaitu: a. Pengembangan sentra pengolahan dan pengelolaan hasil perikanan laut, serta
sentra perikanan darat untuk komoditas tertentu unggulan; b. Pengembangan pasar ikan Sedarum di Kecamatan Nguling;
Dari keempat Kecamatan wilayah Timur tersebut, apabila digambarkan rencana pengembangan kawasannya tampak sebagai berikut,
Gambar 8. Rencana Pengembangan Wilayah Timur Kabupaten Pasuruan
IV.3. Kebutuhan Infrastruktur
Untuk mendukung rencana pengembangan kawasan pada Kecamatan Lekok, Kecamatan Nguling, Kecamatan Grati dan Kecamatan Rejoso maka dibutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai dan mantap. Infrastruktur yang dibutuhkan tersebut antara lain dijelaskan pada sub-bab di bawah:
IV.3.1. Rencana Pengembangan Jaringan Jalan
Rencana pengembangan jaringan jalan untuk mendukung pengembangan wilayah Timur Kabupaten Pasuruan, meliputi:
a. Pembangunan Jaringan Jalan Nasional
1. Jalan tol Gempol - Pasuruan melewati Wilayah Kecamatan Beji (Junction di Desa Wonokoyo) Kecamatan Bangil Kecamatan Rembang Kecamatan Kraton Kecamatan Pohjentrek Wilayah Kota Pasuruan Wilayah Kecamatan Rejoso wilayah Kecamatan Grati;
Rencana kawasan Pengembangan Sektor peternakan unggas
Rencana kawasan Pertanian dan Budidaya Mangga Garifta
Rencana kawasan Industri untuk Pengolahan Sumber Daya Lokal Perikanan, Peternakan dan pertanian
2. Jalan tol Pasuruan Probolinggo melewati Wilayah Kecamatan Grati (menyambung dari Jalan tol Ruas Gempol - Pasuruan) Kecamatan Nguling
Wilayah Kabupaten Probolinggo & Wilayah Kota Probolinggo. b. Perbaikan pada ruas jalan yang rusak, yaitu pada:
1. Kecamatan Rejoso pada ruas: Patuguran, Lingkunglawas, Ketegan, Jarangan, Manik Rejo, Sekarputih, Jarangan
2. Kecamatan Lekok pada ruas: Pasinan kidul, pasir panjang, jatiarjo
3. Kecamatan Grati pada ruas: Ngopak, Kedawung Wetan, Kresek, Krajan, Krimun, Plososari
4. Kecamatan Nguling pada ruas: Sebalong, Kedawang, Sanganom, Bandongan, Randuati,Kedawung, Sebalong.
c. Pengembangan jalan penghubung utama antar Tempat Pelelangan Ikan dengan Kec. Sekitarnya;
d. Peningkatan jalan lingkungan yang mantap; e. Peningkatan kualitas jalan dan jembatan.
IV.3.2. Rencana Pengembangan Jaringan Irigasi
Untuk mendukung kegiatan pertanian dan mengurangi dampak banjir di wilayah Timur Kabupaten Pasuruan maka diperlukan:
a. Penyediaan dan pemantapan jaringan irigasi;
b. Pembangunan dan perbaikan pintu-pintu air, serta bangunan bendung yang berfungsi menampung air pada saat kemarau/kekeringan, dan mengurangi beban saluran pengairan/jaringan irigasi pada saat hujan/debit air
meningkat.
IV.3.3. Rencana Pengembangan Jaringan Air Bersih
Untuk rencana Pengembangan jaringan air bersih dalam rangka memenuhi kebutuhan air bersih khususnya di wilayah Timur Kabupaten Pasuruan, infrasruktur yang diperlukan antara lain:
a. Bagi masyarakat di daerah perkotaan, dengan mengupayakan peningkatan pelayanan PDAM dengan memasang sambungan-sambungan baru dan melalui hidran umum (bagi MBR).
c. Peningkatan sistem perpipaan dari PDAM maupun sistem perpipaan sederhana melalui HIPPAM.
IV.3.4. Rencana Pengembangan Jaringan Drainase Lingkungan
Untuk mengurangi dampak banjir di wilayah Timur Kabupaten Pasuruan maka diperlukan:
a. penyediaan dan pemantapan jaringan drainase lingkungan;
b. membuat saluran drainase yang terkoneksi dengan baik pada jaringan primer, sekunder maupun tersier, serta tidak menyatukan fungsi irigasi untuk drainase, dengan melakukan koordinasi dan sinkronisasi program dan hasil antara Pemerintah Propinsi dan Daerah dalam penanganan dan pengendalian bencana banjir, serta menyusun review masterplan penanganan dan pengendalian banjir secara terpadu baik menyangkut sarana maupun prasarananya.
IV.3.5. Rencana Pengembangan Infrastruktur Persampahan dan Air Limbah
Untuk kebutuhan infrastruktur persampahan di wilayah Timur Kabupaten Pasuruan, direncanakan:
a. Mengembangkan prasarana lingkungan dengan pengembangan sistem persampahan untuk skala lokal dengan mereduksi sumber timbunan sampah sejak awal guna menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat; peningkatan kualitas lingkungan melalui pengolahan limbah secara setempat bagi penghasil limbah, serta melakukan upaya reduce, reuse dan recycle terhadap timbulan sampah dan limbah secara terpadu;
b. Mereview kemungkinan memfungsikan kembali dan meningkatkan/ mengembangkan TPA Rebalas di Kecamatan Grati untuk melayani wilayah bagian timur;
c. Penyediaan Mandi Cuci Kakus (MCK) umum, agar masyarakat dapat menggunakan fasilitas MCK;
e. Peningkatan penyediaan sarana pengelolaan limbah cair rumah tangga skala komunal.
IV.3.6. Rencana Pengembangan Energi Listrik
Rencana pengembangan energi listrik di kawasan Lekok, Grati, Nguling dan Rejoso adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan PLTGU di Kecamatan Lekok, dan Gardu di Kecamatan Grati. 2. Peningkatan pelayanan listrik untuk kawasan-kawasan peruntukan industri
dan beberapa sentra industri yaitu di Kecamatan Nguling.
3. Pengembangan SUTT dan SUTR di Kecamatan Lekok, Grati, Nguling, Rejoso. 4. Peningkatan daya energi listrik pada daerah-daerah pusat pertumbuhan dan
daerah pengembangan berupa pembangunan dan penambahan gardu-gardu Induk listrik, Rejoso, dan Grati dengan penambahan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 150 Kwh.
IV.3.7. Rencana Pengembangan Jaringan Gas
Rencana pengembangan jaringan gas perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan energi pada kawasan industri di Kecamatan Nguling di masa yang akan datang. Rencana pengembangan jalur pipa gas PT. PGN menggunakan sistem tanam pada sisi jaringan jalan arteri (sempadan jalan) dan/atau ke depan dapat memanfaatkan ruang kosong pada konstruksi jalan tol yang melewati Kecamatan Grati (menyambung dari Jalan tol Ruas Gempol-Pasuruan) Kecamatan Nguling.
IV.3.8. Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. KESIMPULAN
Dari pembahasan sebelumnya didapat kesimpulan sebagai berikut:
1. Potensi yang bisa dikembangkan dan rencana pengembangan dari Wilayah Timur Kabupaten Pasuruan terlihat dalam tabel berikut:
Tabel 9. Potensi dan Rencana Pengembangan Wilayah Timur Kabupaten Pasuruan
No. Kecamatan Potensi Rencana Pengembangan
1. Lekok Perikanan tangkap dan Budidaya Air Payau
Rencana kawasan Perikanan Tangkap dan Budidaya untuk dikembangkan menjadi kawasan minapolitan
a. sentra kawasan mangga garifta (agrowisata)
b. sistem perikanan mina padi, c. Hinterland kawasan
c. Sentra peternakan unggas dan pertanian terpadu an dan pengelolaan hasil perikan-an laut, serta sentra perikanan darat untuk komoditas tertentu unggulan; b. Pengembangan pasar ikan
Sedarum di Kecamatan Nguling; c. Arahan pengembangan untuk
2. Infrastruktur yang dibutuhkan untuk menunjang rencana pengembangan terlihat pada tabel berikut:
Tabel 10. Kebutuhan Infrastruktur untuk Rencana Pengembangan Wilayah
No. Jenis
Infrastruktur Kebutuhan Infrastruktur untuk Pengembangan 1 Jalan a. Pembangunan Jaringan Jalan Nasional
b. Perbaikan pada ruas jalan yang rusak, yaitu pada:
c. Pengembangan jalan penghubung utama antar Tempat Pelelangan Ikan dengan Kec. Sekitarnya; d. Peningkatan jalan lingkungan yang mantap; e. Peningkatan kualitas jalan dan jembatan. 2 Jaringan Irigasi a. Penyediaan dan pemantapan jaringan irigasi;
b. Pembangunan dan perbaikan pintu-pintu air, serta bangunan bendung yang berfungsi
menampung air pada saat kemarau/kekeringan, dan mengurangi beban saluran
pengairan/jaringan irigasi pada saat hujan/debit air meningkat.
3 Jaringan Air Bersih a. Bagi masyarakat di daerah perkotaan, dengan mengupayakan peningkatan pelayanan PDAM dengan memasang sambungan-sambungan baru dan melalui hidran umum (bagi MBR).
b. Penyediaan air bersih di wilayah perdesaan dan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR); c. Peningkatan sistem perpipaan dari PDAM
maupun sistem perpipaan sederhana melalui HIPPAM.
4 Jaringan Drainase a. penyediaan dan pemantapan jaringan drainase lingkungan;
b. membuat saluran drainase yang terkoneksi dengan baik pada jaringan primer, sekunder maupun tersier, serta tidak menyatukan fungsi irigasi untuk drainase
5 Persampahan dan
Air lImbah a. Mengembangkan prasarana ling-kungan denganpengembangan sistem persampahan untuk skala lokal
b. Mereview kemungkinan mem-fungsikan kembali dan meningkat-kan/ mengembangkan TPA Rebalas di Kecamatan Grati untuk melayani wilayah bagian timur;
c. Penyediaan Mandi Cuci Kakus (MCK) umum, d. Pengembangan sanitasi lingkung-an
menggunakan sistem on-site,
No. Jenis
Infrastruktur Kebutuhan Infrastruktur untuk Pengembangan 6 Energi Listrik 1. Pengembangan PLTGU di Kecamatan Lekok, dan
Gardu di Kecamatan Grati.
2. Peningkatan pelayanan listrik untuk kawasan-kawasan peruntukan industri dan beberapa sentra industri di Kecamatan Nguling.
3. Pengembangan SUTT dan SUTR di Kecamatan Lekok, Grati, Nguling, Rejoso.
4. Peningkatan daya energi listrik pada daerah-daerah pusat pertumbuhan dan daerah-daerah pengembangan
7 Jaringan Gas Pengembangan jaringan gas perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan energi pada kawasan
industri di Kecamatan Nguling di masa yang akan datang. Rencana pengembangan jalur pipa gas PT. PGN menggunakan sistem tanam
8 Jaringan
Telekomunikasi
Penyediaan tower BTS secara bersama di Kecamatan Lekok, Grati, Rejoso, Nguling
V.2. SARAN
1. Perlu ada kajian khusus untuk kemungkinan pembuatan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), hal ini penting mengingat di Kabupaten Pasuruan belum terdapat IPLT.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pembangunan Daerah Kabupaten Pasuruan. 2015, Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan Timur Melalui Sinkronisasi dan Koordinasi Program dan Kegiatan Guna Mewujudkan Integrated Economics,Badan Pembangunan Daerah Kabupaten Pasuruan
Badan Pusat Statistik. 2015, Kabupaten Pasuruan dalam Angka tahun 2015, BPS Kabupaten Pasuruan.
Badan Pusat Statistik. 2016, Statistik Kabupaten Pasuruan tahun 2016, BPS Kabupaten Pasuruan.
Badan Pusat Statistik. 2015, Statistik Kecamatan Grati tahun 2016, BPS Kabupaten Pasuruan.
Badan Pusat Statistik. 2016, Statistik Kecamatan Lekok tahun 2015, BPS Kabupaten Pasuruan
Badan Pusat Statistik. 2016, Statistik Kecamatan Nguling tahun 2016, BPS Kabupaten Pasuruan.
Badan Pusat Statistik. 2016, Statistik Kecamatan Rejoso tahun 2015, BPS Kabupaten Pasuruan.
Irtanto, Hari Wahyudi, 2012, Kerjasama antar Daerah Dalam Pengelolaan Mata Air Umbulan Winongan Pasuruan Propinsi Jawa Timur, Jurnal Bina Praja Vol IV, No.2, Juni 2012, hal. 127-134
Kodoatie, Robert, 2005, Pengantar Manajemen Infrastruktur, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Nuraini, Ida, 2009, Potensi dan Ketimpangan Ekonomi Antar Kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Media Trend Vol IV, No. 1, Maret 2009, hal.21-44
Pemerintah Daerah Kabupaten Pasuruan, 2010, Buku Putih Sanitasi Kabupaten Pasuruan, Pasuruan
Perda RPJMD Kabupaten Pasuruan 2013-2018. 2013. Peraturan Daerah Kabupaten Pasuruan Nomor 16 Tahun 2013 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Pasuruan.
Perda RTRW Kabupaten Pasuruan 2009-2029. 2010. Peraturan Daerah Kabupaten Pasuruan Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pasuruan Tahun 2009-2029. Pasuruan.
Setiawan, Putu Rudi, 2011, Kajian Pustaka Keterkaitan Infrastruktur Publik dan Ekonomi, Artikel, Dirjen Tata Ruang BPN, Jakarta
Sjafrizal. 2012. Ekonomi Wilayah dan Perkotaan. Rajagrafindo, Jakarta
Tetya,Olti, 2010, Analisis Kesenjangan Pendapatan di Provinsi Kalimantan Selatan dan Faktor-faktor yang mempengaruhi, Tesis, Universitas Indonesia, Jakarta