• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KETERPADUAN STRATEGI PENGEMBANGAN KABUPATEN KOLAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB V KETERPADUAN STRATEGI PENGEMBANGAN KABUPATEN KOLAKA"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

Hal V-1

BAB V

KETERPADUAN STRATEGI PENGEMBANGAN KABUPATEN KOLAKA

5.1 ARAHAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN KOLAKA 5.1.1 TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kolaka nomor 16 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kolaka 2012 - 2032, Tujuan Penataan Ruang Kabupaten Kolaka adalah :

“mewujudkan ruang wilayah Kabupaten Kolaka yang berbasis pertanian dalam arti luas, kelautan dan perikanan, pertambangan, dan pariwisata yang berwawasan lingkungan,serasi dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat”

Memperhatikan rumusan tujuan penataan ruang, kapasitas sumber daya wilayah, kebijakan penataan ruang nasional dan provinsi untuk Kabupaten Kolaka, maka rumusan kebijakan penataan ruang Kabupaten Kolaka adalah sebagai berikut :

1. pelestarian dan peningkatan kualitas lingkungan hidup dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan daya dukung lingkungan hidup;

2. peningkatan kegiatan perkebunan yang disertai dengan pengembangan kegiatan industri perkebunan yang inovatif dalam rangka memberi nilai tambah bagi perekonomian wilayah;

3. peningkatan produksi pertanian dan perikanan dengan pengelolaan yang ramah lingkungan berkelanjutan;

4. pengembangan dan peningkatan kegiatan pertambangan beserta kegiatan pendukungnya yang berwawasan lingkungan berkelanjutan untuk menunjang pengembangan sektor unggulan lainnya;

5. pengembangan sistem prasarana dan sarana wilayah yang berkualitas sebagai pemicu perkembangan wilayah yang merata di seluruh kabupaten;

6. pengembangan dan peningkatan pusat-pusat ekonomi sebagai sentra pertumbuhan wilayah kabupaten;

7. pengembangan sistem jaringan transportasi darat, laut dan udara;

8. pengembangan mutu dan jangkauan pelayanan untuk sistem jaringan energi, sistem jaringan telekomunikasi, sistem jaringan sumberdaya air dan sistem pengelola lingkungan;

9. pengendalian dan Pelestarian Kawasan lindung;

10. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara; dan 11. Pengembangan kawasan pariwisata yang berwawasan lingkungan.

(2)

Hal V-2

Sedangkan strategi Penataan Ruang Kabupaten Kolaka adalah sebagai berikut:

1. Strategi pelestarian dan peningkatan kualitas lingkungan hidup dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan daya dukung lingkungan hidup, terdiri atas :

a. Strategi pelestarian dan peningkatan kualitas lingkungan hidup dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan daya dukung lingkungan hidup;

b. Melestarikan dan mengelola kawasan berfungsi lindung untuk fungsi ekologis, biologis, penelitian dan pariwisata terbatas;

c. Menetapkan tata batas yang tegas untuk kawasan berfungsi lindung termasuk kawasan konservasi;

d. Meningkatkan pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan; dan

e. Mengembalikan fungsi kawasan lindung yang telah rusak secara bertahap untuk dapat memelihara keseimbangan lingkungan.

2. Strategi peningkatan kegiatan perkebunan yang disertai dengan pengembangan kegiatan industri perkebunan yang inovatif dalam rangka memberi nilai tambah bagi perekonomian wilayah, terdiri atas :

a. menetapkan kawasan perkebunan kakao sebagai wilayah geografis penghasil produk perkebunan spesifik lokal yang perlu dilindungi;

b. menetapkan tata batas kawasan perkebunan kakao yang dijadikan wilayah geografis penghasil produk perkebunan spesifik lokal;

c. meningkatkan produksi lahan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi lahan perkebunan;

d. mendorong pengembangan kegiatan agroindustri perkebunan kakao yang ramah lingkungan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat; dan

e. mengembangkan prasarana dan sarana pendukung kegiatan usaha perkebunan.

3. Strategi peningkatan produksi pertanian dan perikanan dengan pengelolaan yang ramah lingkungan berkelanjutan, terdiri atas :

a. menetapkan lahan pertanian pangan berkelanjutan dalam rangka menuju ketahanan pangan daerah;

b. mengembangkan kawasan perikanan tangkap, kawasan perikanan budidaya, dan wisata bahari terpadu;

c. mengembangkan kawasan agropolitan dan produk unggulan perdesaan;

d. mengembangkan kawasan pesisir sebagai kawasan pantai unggulan;

e. menetapkan dan mengembangan kawasan minapolitan;

f. mengembangan pelabuhan perikanan yang disertai dengan industri pengolahan perikanan;

g. mengembangkan prasarana dan sarana kawasan perdesaan dan kawasan perikanan.

(3)

Hal V-3

4. Strategi pengembangan dan peningkatan kegiatan pertambangan dan kegiatan pendukungnya yang berwawasan lingkungan berkelanjutan untuk menunjang pengembangan sektor unggulan lainnya, terdiri atas :

a. mengembangkan pusat kegiatan industri pertambangan yang inovatif dan ramah lingkungan;

b. mengembangkan industri pertambangan dan industri turunan dari kegiatan pertambangan;

c. mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah yang ramah lingkungan untuk mendukung industri pertambangan; dan

d. mengembangkan dan meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana industri pertambangan.

5. Strategi pengembangan sistem prasarana dan sarana wilayah yang berkualitas sebagai pemicu perkembangan wilayah yang merata di seluruh kabupaten, terdiri atas :

a. mengembangan sistem transportasi multimoda;

b. mengembangkan pintu-pintu gerbang wilayah dari arah darat, laut, dan udara untuk mendukung perkembangan sektor unggulan wilayah;

c. mengembangkan jaringan jalan untuk menghubungkan antar pusat kawasan di pulau;

d. mengembangkan pelabuhan untuk meningkatkan pelayanan transportasi laut;

e. mengembangkan bandar udara untuk meningkatkan pelayanan transportasi darat;

f. mengembangkan sistem pelayanan transportasi untuk memudahkan angkutan penumpang dan barang;

g. mengembangkan sistem energi listrik untuk mendukung pengembangan wilayah, baik menggunakan energi terbarukan maupun yang tidak terbarukan;

h. mengembangan sistem telekomunikasi yang handal untuk meningkatkan pengembangan wilayah;

i. mengembangkan sistem sumberdaya air dengan memperhatikan aspek konservasi sumberdaya air, pendayagunaan sumberdaya air dan pengendalian daya rusak air; dan j. mengembangkan sistem pengelolaan lingkungan untuk memenuhi standar pelayanan

minimal bagi masyarakat.

6. Strategi pengembangan dan peningkatan pusat-pusat ekonomi sebagai sentra pertumbuhan wilayah kabupaten, terdiri atas :

a. mempertahankan dan meningkatkan pusat-pusat ekonomi yang telah berkembang;

b. mengembangkan pusat-pusat ekonomi yang merata dan berjenjang sesuai dengan skala pelayanannya;

c. mengembangkan pusat-pusat ekonomi sesuai dengan karakteristik wilayah untuk terciptanya pusat agropolitan, minapolitan dan sebagainya; dan

d. meningkatkan keterkaitan antarsistem pusat-pusat ekonomi.

(4)

Hal V-4

7. Strategi pengembangan sistem jaringan transportasi darat, laut dan udara, terdiri atas : a. mengembangkan jalan dalam mendukung pertumbuhan dan pemerataan pembangunan;

b. mengembangkan jalan arteri, kolektor dan lokal sebagai penghubung antar wilayah;

c. mengoptimalisasi pengembangan sistem transportasi massal dan infrastruktur pendukungnya;

d. mengoptimalkan tingkat kenyamanan dan keselamatan penerbangan; dan

e. mengendalikan kawasan sekitar bandara sesuai aturan keselamatan penerbangan.

8. Strategi pengembangan mutu dan jangkauan pelayanan untuk sistem jaringan energi, sistem jaringan telekomunikasi, sistem jaringan sumberdaya air dan sistem pengelola lingkungan, terdiri atas :

a. menambah dan memperbaiki sistem jaringan;

b. memperluas jangkauan listrik sampai ke pelosok desa;

c. menerapkan teknologi telekomunikasi berbasis teknologi modern;

d. membangun teknologi telekomunikasi pada wilayah-wilayah pusat pertumbuhan;

e. melindungi sumber-sumber mata air dan daerah resapan air;

f. mengembangkan jaringan drainase sesuai dengan jangkauan dan tingkat pelayanannya;

g. memanfaatkan sampah (Reduce, Reuse, Recycle) yang ada;

h. meningkatkan sarana dan prasarana pengolahan sampah;

i. pengelolaan sampah berkelanjutan; dan

j. meningkatkan sanitasi lingkungan untuk permukiman, produksi jasa dan kegiatan sosial ekonomi lainnya.

9. Strategi pengendalian dan pelestarian kawasan lindung, terdiri atas :

a. melarang melakukan kegiatan budidaya, kecuali yang tidak mengganggu fungsi lindung;

b. mengembalikan fungsi pada kawasan yang mengalami kerusakan, melalui penanganan secara teknis dan vegetatif;

c. memberikan ketentuan yang berlaku terhadap kegiatan yang sudah ada di kawasan lindung yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup;

d. mencegah perkembangan dan mengembalikan fungsi sebagai kawasan secara bertahap terhadap kegiatan budidaya yang mengganggu fungsi lindung berdasarkan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan;

e. meningkatkan kesadaran akan lingkungan melalui pendidikan, pariwisata, penelitian dan kerjasama pengelolaan kawasan; dan

f. menghindari kawasan yang rawan bencana sebagai kawasan terbangun.

(5)

Hal V-5

10. Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan, terdiri atas : a. mendukung penetapan kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan;

b. mengembangkan budidaya secara efektif didalam dan di sekitar kawasan pertahanan dan keamanan untuk menjaga fungsi dan peruntukannya;

c. mengembangkan kawasan lindung dan/ atau kawasan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan pertahanan dan keamanan negara sebagai zona penyangga; dan

d. turut serta memelihara dan menjaga aset-aset pertahanan dan keamanan.

11. Strategi pengembangan kawasan pariwisata yang berwawasan lingkungan, terdiri atas : a. mengembangkan objek wisata alam, sejarah dan budaya serta buatan;

b. mengembangkan objek wisata mangrove di wilayah pesisir pantai sepanjang By Pass Kolaka – Dawi-dawi;

c. memelihara, menjaga dan mengembangkan situs - situs peninggalan sejarah dan budaya;

d. meningkatkan sarana dan prasarana wisata yang ada di masing-masing objek wisata.

5.1.2 RENCANA STRUKTUR RUANG 5.1.2.1 Rencana Sistem Perkotaan

Kawasan perkotaan dicirikan sebagai tempat akumulasi penduduk, kegiatan ekonomi, memiliki fasilitas sarana dan prasarana yang memadai. Kabupaten Kolaka memiliki peranan sangat penting terhadap perekonomian Sulawesi Tenggara, oleh karenanya Kota Kolaka mampu berperan ganda selain berfungsi untuk mencegah terjadinya pola kegiatan dalam ruang yang dapat merusak lingkungan dan kelancaran arus pergerakan, juga mampu berperan sebagai penyangga sirkulasi peredaran barang dan jasa inter-regional maupun intra-regional.

Strategi pengelolaan kawasan kota-kota di Kabupaten Kolaka yang perlu diprioritaskan adalah perlunya memantapkan Perencanaan Tata Ruang Kawasan Perkotaan, pemanfaatan ruang dengan mengacu pada rencana yang ditetapkan (teknis dan rinci), serta dibarengi dengan mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang secara efektif.

Rencana pengembangan kawasan perkotaan yang perlu diprioritaskan adalah sebagai berikut:

• Mewujudkan sistem dan ketersediaan perumahan yang layak yang didukung dengan sarana, prasarana sosial ekonomi yang memadai terutama bagi masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah di perkotaan.

• Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyiapan prasarana dan permukiman.

• Penegakan hukum dalam rangka penataan bangunan perkampungan tradisional, serta penataan kawasan hijau dan hutan kota serta kawasan strategis lainnya yang menunjang pembangunan perkotaan.

• Meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana penunjang pelayanan sosial ekonomi masyarakat di daerah pinggiran serta daerah perdesaan.

(6)

Hal V-6

• Rencana pengembangan dan penataan ibukota Kabupaten Kolaka dan Kota antara lain Kota Pomalaa dan Rate-Rate.

• Mempertahankan kawasan/ruang terbuka hijau, minimal 30%.

Penetapan fungsi perkotaan di Kabupaten Kolaka dilihat dari adanya keterkaitan kawasan perkotaan satu dengan lainnya bertujuan untuk memperkuat kelompok kawasan-kawasan perkotaan yang terdapat di Kabupaten Kolaka. Mengingat kawasan-kawasan perkotaan sangat strategis peranannya dalam pengembangan wilayah secara keseluruhan, maka kawasan-kawasan perkotaan perlu diarahkan ke pertumbuhan dan pengembangannya agar mampu saling berinteraksi melalui keterkaitannya dan keteraturan fungsi-fungsi pengembangannya.

Pengembangan sistem ini diwujudkan melalui pusat-pusat perdesaan yang diberikan peluang untuk tumbuh dan berkembang secara bersama-sama, sehingga pembangunan perkotaan akan saling dukung dengan pembangunan perdesaan. Dalam mendorong pengembangan kawasan- kawasan perkotaan yang demikian ini, maka peran sistem prasarana wilayah dan kawasan perkotaan perlu diarahkan untuk tidak saja memperkuat hubungan keterkaitan antara kota sekitar dengan kawasan perkotaan induknya, akan tetapi juga dengan kawasan perkotaan sekitarnya.

Berikut akan dijelaskan mengenai wilayah perkotaan maupun perdesaan yang mempunyai fungsi dan peranan yang berbeda sesuai dengan potensi yang dimiliki, yaitu :

1. Ibukota Kabupaten Kolaka berada di Kecamatan Kolaka berada di Kelurahan Lamokato yang berkembang menjadi pusat pemerintahan. Dan Ibukota Kabupaten Kolaka ini menjadi Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Untuk pembangunan Kota Kolaka Ibukota Kabupaten Kolaka ini, harus ditunjang oleh kegiatan yang berskala lebih besar sebagai pusat perdagangan dan jasa, kesehatan, pendidikan, peribadatan, dan pelayanan umum dalam skala kabupaten, termasuk diantaranya adalah sarana transportasi skala kabupaten.

2. Ibukota Kecamatan yang berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLp), yaitu:

Kecamatan Pomalaa. Adapun fungsi dan perannya adalah;

a. Sebagai pusat pelayanan umum bagi kecamatan-kecamatan yang menjadi wilayah pengaruhnya.

b. Sebagai pusat perdagangan dan jasa maupun koleksi dan distribusi hasil-hasil sumber daya alam dari kecamatan-kecamatan yang menjadi wilayah pengaruhnya.

c. Untuk mendukung adanya peran dan fungsi tersebut maka fasilitas yang harus ada adalah, fasilitas kesehatan serta perdagangan dan jasa skala kecamatan dan ditunjang oleh sarana dan prasarana transportasi yang memadai.

3. Ibukota Kecamatan yang berfungsi sebagai ibukota kecamatan atau disebut PPK (Pusat Pelayanan Kawasan), dimana PPK merupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa. PPK (Pusat Pelayanan Kawasan) di Kabupaten Kolaka meliputi beberapa kecamatan meliputi: Kecamatan Wolo, Kecamatan Tanggetada dan Kecamatan Watubangga.

(7)

Hal V-7

Adapun fungsi dari masing-masing PPK (Pusat Pelayanan Kawasan) tersebut adalah ;

a. Pusat pelayanan umum, dan pemerintahan bagi desa-desa yang berada di wilayah administrasinya.

b. Pusat perdagangan dan jasa bagi desa-desa yang berada di wilayah administrasinya.

c. Fasilitas yang harus ada diantaranya adalah fasilitas pendidikan, kesehatan, pemerintahan, peribadatan maupun perdagangan dan jasa skala kecamatan.

Kajian terhadap sistem struktur perkotaan ini meliputi : rencana hierarki (besaran) perkotaan, rencana sistem dan fungsi perwilayahan. Struktur ini akan menggambarkan keterkaitan antar kawasan perkotaan dan perkotaan dengan perdesaan secara keseluruhan.

4. Ibukota Kecamatan yang berfungsi sebagai ibukota kecamatan atau disebut PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan), dimana PPL merupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa. PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan) di Kabupaten Kolaka meliputi beberapa kecamatan meliputi: Kecamatan Wundulako, Kecamatan Latambaga, Kecamatan Samaturu, Kecamatan Toari, Kecamatan Baula, Kecamatan Polinggona.

Rencana sistem perkotaan di wilayah Kabupaten Kolaka selengkapnya sebagaimana yang terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel-5.1:

Rencana Sistem Perkotaan Kabupaten Kolaka

No Ibukota

Kecamatan/Kabupaten

Hirarki

Fungsi Fungsi Utama

1 Kolaka PKW

Pusat Pelayanan antar Wilayah, Pusat Pemerintahan,

Pusat kegiatan Industri,

Pusat perdagangan interregional dan itraregional, Pusat pendidikan dan prasarana sosial lainnya, Konsentrasitrasi permukiman,

Pusat kegiatan perhubungan dan pergudangan, Kesehatan, pendidikan, peribadatan dan pelayanan umum dalam skala kabupaten.

2 Pomalaa PKLp

Pusat pemerintahan lokal, Konsentrasitrasi Permukiman,

Pengembangan Kegiatan Industri, kesehatan serta perdagangan dan jasa skala kabupaten,

Pusat kegiatan pertanian tanaman pangan.

3

Watubangga Tanggetada

Wolo

PPK

Pusat Pemerintahan Lokal, Pusat kegiatan pertambangan, Konsentrasi permukiman, Pengembangan Kegiatan Industri

Kesehatan serta perdagangan dan jasa skala kecamatan Pusat kegiatan pertanian tanaman pangan.

4

Wundulako Baula Latambaga Polinggona Samaturu

Toari

PPL

Pusat Pemerintahan Lokal,

Pusat Kegiatan Pertanian tanaman pangan, Konsentrasitrasi permukiman,

Pertanian, perikanan darat dan laut, perkebunan dan peternakan,

Pendidikan, kesehatan, pemerintahan, peribadatan maupun perdagangan dan jasa skala antar desa/kelurahan.

Sumber: RTRW Kabupaten Kolaka

(8)

Hal V-8

5.1.2.1 Rencana Sistem Jaringan Transportasi A. Rencana Sistem Jaringan Jalan

Dalam pembangunan sarana transportasi jalan, diharapkan tidak hanya memperhatikan faktor fisik wilayah saja tetapi juga memperhatikan faktor kebutuhan berdasarkan aspek sosial ekonomi dan budaya. Pengembangan sistem transportasi di Kabupaten Kolaka diharapkan mampu melayani keseluruhan satuan pemukiman dan menjangkau hingga pada lahan pertanian sehingga memudahkan akses dalam pengangkutan hasil produksi dan pergerakan arus manusia.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pembukaan jalur pada wilayah-wilayah yang tergolong terisolir.

Dalam pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Kolaka, kelas dan fungsinya harus disesuaikan dengan dimensi jalan menurut Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan yaitu :

1. Arteri Primer

a. Menghubungkan kota jenjang kesatu yang terletak berdampingan atau menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kedua;

b. Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 60 km/jam dan dengan lebar badan jalan tidak kurang dari 16 meter;

c. Mempunyai kapasitas yang lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata;

d. Lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang-aling, lalu lintas lokal dan kegiatan lokal;

e. Jumlah jalan masuk arteri primer dibatasi;

f. Tidak terputus walaupun memasuki kota;

g. Damaja tidak kurang dari 16 m;

h. Batas daerah pengawasan jalan yang diukur dari as jalan dengan jarak tidak kurang dari 20 meter.

 Jalan Arteri Primer di Kabupaten Kolaka meliputi:

1. Batas Kabupaten Kolaka Utara – Wolo, 24,070 km;

2. Wolo – batas Kota Kolaka, 53,150 km;

3. Jl. Abadi, 6,285 km, Jl. HKSN, 0,310 km, Jl.TPI, 0,653 km, Jl. Kartini, 1,071 km, Jl. Pemuda, 5,886 km, Jl. Pramuka, 1,610 km;

4. Simpang Kampung Baru – Rate Rate, 56,848 km;

5. Rate-rate (Batas Kab. Kolaka) – Batas Unaaha, 31,322 km.

 Rencana peningkatan jalan arteri primer (jalan penghubung lintas) meliputi : 1. Rate-rate – Lambandia – Batas Kab. Konawe, 73,80 km;

2. Tinondo – Solewatu –Sanggona – Likuwalanapo , 128,27 km.

(9)

Hal V-9

2. Kolektor Primer

a. Menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang kedua atau menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang ketiga.

b. Didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 40 km/jam.

c. Mempunyai kapasitas yang sama atau lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata.

d. Jumlah jalan masuk dibatasi dan direncanakan.

e. Tidak terputus walaupun masuk kota.

f. Damaja tidak kurang dari 14 m.

g. Batas daerah pengawasan jalan yang diukur dari as jalan dengan jarak tidak kurang dari 15 meter.

 Jalan Kolektor primer (K1) di Kabupaten Kolaka, meliputi : a. Simpang Kampung Baru – Pomalaa, 22,816 km;

b. Pomalaa – Wolulu, 32,878 km; dan

c. Wolulu – batas Kabupaten Bombana, 20,057 km.

d. Batas Kab. Kolaka/Kab.Bombana – Boepinang, 29,552 km.

 Jalan Kolektor Primer (K2) di Kabupaten Kolaka, meliputi : a. Rate-rate – Poli-polia, 20,20 km;

b. Poli-polia – Lapoa 53,60 km.

 Rencana Jaringan Jalan Kolektor Primer (K2), terdiri dari : a. Ladongi – Watubangga;

b. Wolo – Uluiwoi;

c. Samaturu – Lakuya;

d. Iwoimenggura – Tawoi awiyu.

 Jaringan Jalan Kolektor Primer K4 sepanjang 285,40 km.

3. Lokal Primer

a. Menghubungkan kota jenjang kesatu dengan persil atau menguhubungkan kota jenjang kedua dengan persil atau menghubungkan kota jenjang ketiga.

b. Damaja tidak kurang dari 6 m

c. Batas luas Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja) yang diukur dari as jalan tidak kurang dari 10 meter.

Ditinjau dari kondisi dan kebutuhan pengembangan di Kabupaten Kolaka, maka arahan lebar ruang manfaat jalan, ruang milik jalan dan ruang pengawasan jalan dapat dilihat pada tabel berikut.

Arahan pengembangan prasarana transportasi jalan direncanakan sesuai dengan dua jenis peran utama prasarana tranportasi jalan. Terkait peran utama pertama untuk mewujudkan pembangunan ekonomi, arahan pengembangan ditujukan untuk melayani prediksi akan permintaan transportasi masa datang.

(10)

Hal V-10

Perkembangan pusat-pusat pemukiman dan kegiatan serta hubungan dengan wilayah-wilayah lain di luar kabupaten. Terkait peran utama kedua untuk mewujudkan pemerataan pembangunan, arahan pengembangan ditujukan untuk menyediakan aksesibilitas yang baik ke kawasan-kawasan tertinggal. Selain prinsip di atas arahan pengembangan juga didasarkan atas orde kota, tingkat perkembangan kota dan hubungan antar wilayah yang lebih luas.

Tabel - 5.2 :

Arahan Rumaja, Rumija dan Ruwasja di Kabupaten Kolaka

No Kelas Jalan Rumaja Rumija Ruwasja

1 Jalan Arteri Primer

a. Pusat Perbelanjaan 15 - 20 15 - 20 8 – 15

b. Perumahan 15 - 20 15 - 20 5 - 10

c. Perdagangan 15 - 20 15 - 20 0 – 10

d. Fasilitas Umum 15 - 20 15 - 20 5 – 10

2 Jalan Kolektor Primer

a. Pusat Perbelanjaan 10 - 15 10 - 15 5 – 10

b. Perumahan 10 - 15 10 - 15 5 – 10

c. Perdagangan 10 - 15 10 - 15 0 – 10

d. Fasilitas Umum 10 - 15 10 - 15 5 – 10

3 Jalan Lokal Primer

a. Pusat Perbelanjaan 8 - 12 8 - 12 5 – 8

b. Perumahan 8 - 12 8 - 12 4 – 7

c. Perdagangan 8 - 12 8 - 12 5 – 10

d. Fasilitas Umum 8 - 12 8 - 12 5 – 10

B. Rencana Pengembangan Terminal

Keberadaan terminal dalam sistem transportasi perkotaan sangat penting dalam mendukung sistem pengangkutan yakni memperlancar pergantian moda angkutan dari suatu titik ke lokasi tujuan. Menurut Peraturan Pemerintah No. 43 tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalulintas Jalan mengklasifikasikan terminal penumpang menjadi 3 (tiga) masing-masing:

a. Terminal Penumpang tipe A, berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota antar propinsi (AKAP), dan/atau angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota dalam propinsi (AKDP), Angkutan kota (Angkot), dan/atau Angkutan pedesaan (Ades)

b. Terminal penumpang tipe B, berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam propinsi (AKDP), angkutan kota (Angkot), dan/atau angkutan pedesaan (Ades)

c. Terminal penumpang tipe C, berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan kota (Angkot) dan angkutan pedesaan (Ades).

Berdasarkan hasil pengamatan, pengembangan Terminal di Kabupaten Kolaka terbatas pada Terminal dengan klasifikasi Tipe B dan Tipe C dengan fasilitas terbatas yang dikelola secara parsial.

(11)

Hal V-11

Lokasi terminal yang ada belum terorganisir dan tidak terintegrasi dengan baik terhadap simpul- simpul kegiatan lokal dan wilayah.

Berdasarkan pertimbangan diatas, maka pengembangan sistem terminal di Kabupaten Kolaka adalah :

 Pengembangan terminal tipe B diarahkan berada pada pusat pelayanan kawasan pendukung pusat kegiatan wilayah yakni di Kecamatan Kolaka yakni Terminal Larumbalangi Desa Sembilan belas November Kecamatan Wundulako.

 Pengembangan terminal tipe C diarahkan berada pada pusat pelayanan kawasan pendukung pusat pelayanan kawasan seperti :

1. Kecamatan Lambandia;

2. Kecamatan Latambaga;

3. Kecamatan Pomalaa;

4. Kecamatan Tirawuta (Rate-rate);

5. Kecamatan Watubangga.

 Rencana pengembangan terminal tipe C meliputi terminal di:

1. Kecamatan Tanggetada;

2. Kecamatan Wolo;

3. Kecamatan Mowewe.

Pengembangan terminal diatas harus mempertimbangkan hal-hal berikut:

- Terminal harus dapat menjamin kelancaran arus angkutan baik orang maupun barang

- Lokasi Terminal hendaknya dapat menjamin penggunaan dan operasi kegiatan terminal yang efesien dan efektif.

Lokasi terminal hendaknya tidak mengakibatkan gangguan pada kelancaran arus kendaraan umum, keamanan lalu lintas dan lingkungan sekitarnya.

C. Rencana Pengembangan Pelabuhan Laut dan Penyeberangan

Pola angkutan laut sebagai suatu sistem jaringan transportasi yang dapat menjangkau wilayah sepanjang pantai bahkan menghubungkan daerah Kolaka dengan wilayah lainnya melalui berbagai jenis pelayaran. Rencana sistem jaringan transportasi laut meliputi :

(1) Tatanan kepelabuhanan di Kabupaten Kolaka terdiri atas : a. Pelabuhan pengumpul terdiri atas :

1. Pelabuhan Kolaka di Kecamatan Latambaga;

2. Pelabuhan Pomalaa di Kecamatan Pomalaa.

b. Pelabuhan pengumpan regional adalah : 1. Pelabuhan Pomalaa di Kecamatan Pomalaa;

2. Pelabuhan Tanggetada di Kecamatan Tanggetada 3. Pelabuhan Dawi-Dawi di Kecamatan Pomalaa

(12)

Hal V-12

4. Pelabuhan Toari di Kecamatan Toari 5. Pelabuhan Wolo di Kecamatan Wolo;

6. Pelabuhan Malombo di Kecamatan Samaturu.

c. Pelabuhan pengumpan lokal, terdiri atas :

1. Pelabuhan Wowatamboli di Kecamatan samaturu;

2. Pelabuhan Malaha di Kecamatan Samaturu;

3. Pelabuhan Babarina di Kecamatan Samaturu;

4. Pelabuhan Iwoimendaa di Kecamatan Wolo;

5. Pelabuhan Sani-sani di Kecamatan Samaturu;

6. Pelabuhan Lawulo di Kecamatan Samaturu;

7. Pelabuhan Mangolo di Kecamatan Latambaga;

8. Pelabuhan Anaiwoi di Kecamatan Tanggetada;

9. Pelabuhan Lalonggolosula di Kecamatan Tanggetada;

d. Pelabuhan khusus, terdiri atas:

1. Pelabuhan Pertamina di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga;

2. Pelabuhan khusus berupa pelabuhan pertamina dan pelabuhan khusus pertambangan terdiri atas :

a) Pelabuhan Pertamina di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga;

b) Pelabuhan Pertambangan di Kecamatan Pomalaa sebanyak 7 buah;

c) Pelabuhan Pertambangan di Kecamatan Wolo sebanyak 1 buah; dan d) Pelabuhan Pertambangan di Kecamatan Tanggetada sebanyak 1 buah.

(2) Alur pelayaran terdiri atas :

a. Alur pelayaran regional, terdiri atas : 1. Kolaka – Makassar;

2. Kolaka – Surabaya;

3. Kolaka – Jakarta;

4. Kolaka - Bajoe;

5. Kolaka – Siwa.

b. Alur pelayaran lokal yaitu yang menghubungkan antar pelabuhan rakyat di Kabupaten Kolaka.

D. Rencana Pengembangan Pelabuhan Udara

Transportasi udara adalah salah satu moda transportasi yang besar artinya dalam sistem transportasi dalam rangka rnembentuk struktur tata ruang di Kabupaten Kolaka. Saat ini di Kabupaten Kolaka hanya terdapat satu bandar udara yang beroperasi yakni Bandara Sangia Nibandera di Kecamatan Tanggetada. Panjang Runway 1400m x 30m. Jenis Pesawat ATR 42 (Maskapai Wings Air dan Expres Air). Pada RTRWP Sultra, Bandara Sangia Nibandera di Kecamatan Tanggetada merupakan jenis Bandara Pengumpan.

(13)

Hal V-13

Maksudnya bandara yang berperan melayani penumpang dengan jumlah kecil dan tidak mempunyai daerah cakupan atau layanan. Dan tujuan dari Bandara Sangia Nibandera saat ini masih ke Makasar saja.

Berdasarkan potensi fisik, ekonomi, sosial, pola pergerakan, serta pertumbuhan penduduk yang begitu pesat, maka perlu peningkatan pelayanan transportasi udara melalui beberapa strategi berikut:

• Sarana dan prasarana perhubungan udara yang ada di Kecamatan Tanggetada perlu ditingkatkan untuk mendukung kemampuan perhubungan udara Kabupaten Kolaka.

• Jalur dan frekewensi penerbangan bandara Sangia Nibandera di Kecamatan Tanggetada ditambah dan diharapkan nantinya akan menjadi bandara transit bagi jalur penerbangan ke Bandara Wolter Monginsidi Kendari. Disamping itu, ini diharapkan dapat menunjang keberadaan Kapet Bank Sejahtera dan pengembangan sirkulasi wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara (Kota Kendari, Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Konawe).

Rencana Sistem jaringan transportasi udara berupa tatanan kebandarudaraan di Kabupaten terdiri atas :

a. Bandar udara pengumpan adalah Bandar udara Sangia Nibandera di Kecamatan Tanggetada.

b. Bandar udara khusus adalah Bandar udara PT.Aneka Tambang di Kecamatan Pomalaa.

Selanjutnya ruang udara untuk penerbangan diatur lebih lanjut dengan peraturan perundangan yang berlaku.

E. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Energi Kelistrikan Rencana sistem jaringan energi di Kabupaten Kolaka, meliputi : (1) Pembangkit tenaga listrik di Kabupaten Kolaka terdiri atas :

a. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Kolaka di Kelurahan Balandete Kecamatan Kolaka (eksisting).

b. Rencana Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) : 1) PLTD Wolo

2) PLTD Samaturu 3) PLTD Kolaka 4) PLTD Mowewe 5) PLTD Tirawuta 6) PLTD Ladongi 7) PLTD Lambandia 8) PLTD Baula 9) PLTD Wundulako 10) PLTD Pomalaa 11) PLTD Tanggetada

(14)

Hal V-14

12) PLTD Watubangga

c. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Perpres Kolaka di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga, Desa Hakatotobu Kecamatan Pomalaa, dan PLTU PT. ANTAM di Kelurahan Dawi-dawi Kecamatan Pomalaa.

d. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang direncanakan terdiri atas:

1. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tamboli, terdapat di Kecamatan Samaturu;

2. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) terdapat di Kecamatan Uluiwoi; dan 3. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) terdapat di Kecamatan Wundulako.

e. Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro, terdapat di Kecamatan Wundulako.

f. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH):

1. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), terdapat di Kecamatan Wundulako.

2. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), terdapat di desa Lasiroku Kecamatan Wolo.

3. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), terdapat di desa Ulu Konaweha Kecamatan Samaturu.

g. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Kolaka khususnya desa-desa terpencil yag sulit dijangkau oleh jaringan listrik PLN.

(2) Jaringan prasarana energi di Kabupaten Kolaka terdiri atas : a. Jaringan pipa minyak dan gas bumi terdiri dari:

1. Rencana jaringan transmisi gas bumii nasional Pulau Sulawesi dengan sumber gas Pertamina dan Exspan di jalur Donggi – Pomalaa – Sengkang (Provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan);

2. Depo BBM adalah Depo Pertamina di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga Kabupaten Kolaka.

3. Depo BBG adalah Depo Pertamina di Kelurahan Induha Kecamatan Latambaga b. Jaringan transmisi tenaga listrik, terdiri atas :

1. Gardu induk terdapat di Kecamatan Kolaka;

2. Pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Menengah 150 KV Kendari – Kolaka – Iwoimendaa;

3. Pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Menengah 150 KV Kolaka – Tanggetada;

4. Rencana pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Menengah 150 KV menghubungkan Wotu – Kolaka Utara – Kolaka – Konawe – Kendari; dan

5. Rencana pembangunan sistem interkoneksi dan jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 KV yang interkoneksi dengan jaringan transmisi di Provinsi Sulawesi Selatan.

Sedangkan pengembangan energi alternatif berupa pengembangan energi terbarukan di Kabupten Kolaka perlu direncanakan untuk pemenuhan kebutuhan akan energi listrik.

(15)

Hal V-15

Pengembangan energi terbarukan tersebut meliputi : 1. Energi mikrohidro

2. Energi angin di wilayah pesisir

3. Energi surya di wilayah perdesaan dan terpencil 4. Energi gelombang di wilayah pesisir

5. Energi sumber nabati di wilayah perdesaan.

Adapun rencana pengembangan sistem jaringan listrik di Kabupaten Kolaka secara teknis adalah sebagai berikut:

1. Untuk rencana pengembangan jaringan listrik di arahkan untuk pengadaan listrik di wilayah pedesaan yang belum terlayani.

2. Dalam upaya peningkatan pelayanan jaringan listrik Di kabupaten Kolaka, bila menggunakan jaringan SUTT, guna menjaga keselamatan dan keamanan maka dalam radius 25 meter sekitar SUTT ini merupakan kawasan bebas bangunan. Namun pada kondisi tertentu bila sekitar jalur SUTT ini akan digunakan sebagai kawasan terbangun maka diarahkan agar kanan dan kiri jalur SUTT digunakan untuk jalan sejajar sehingga tidak langsung berhubungan dengan kawasan terbangun.

3. Bila menggunakan jaringan SUTT maka untuk gardu induk diberi pagar sehingga tidak digunakan untuk perumahan maupun pembangunan bangunan lainnya dan juga tanda bahaya.

4. Perencanaan dan pelaksanaan prasarana listrik memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

a. Setiap unit kediaman harus mendapat daya listrik dalam batas tertentu minimum untuk keperluan penerangan.

b. Penambahan jaringan listrik bisa dilakukan bersamaan dengan penambahan kavling perumahan sesuai dengan luas kavling yang dibangun.

c. Rencana penyaluran listrik sampai ke kavling-kavling akan mengikuti pola ruang dan jaringan jalan yang telah direncanakan, serta sesuai dengan rencana PLN yang telah ada.

Pendistribusiannya sampai ke rumah-rumah mencakup bagian-bagian sebagai berikut:

 Jaringan primer, merupakan jaringan distribusi tegangan menengah yang diarahkan pada sistem tegangan 20 KV. Untuk wilayah perencanaan, khususnya di sepanjang jaringan jalan utama dapat direncanakan berbentuk hantaran udara dengan tiang beton setinggi 14 meter.

 Jaringan sekunder, yaitu jaringan distribusi tegangan rendah dengan sistem tegangan 220/380 V. Jaringan ini pada umumnya berbentuk hantaran udara sebagaimana terdapat pada wilayah perencanaan, khususnya pada kompleks-kompleks perumahan yang ada.

d. Gardu distribusi, diperlukan untuk menurunkan tegangan dari 20 KV menjadi 220/380 V dan mendistribusikannya melalui jaringan tegangan rendah.

(16)

Hal V-16

e. Peremajaan jaringan dan mengganti jaringan distribusi hantaran udara kawat terbuka menjadi jaringan distribusi kabel udara (atau kabel tanah) disesuaikan dengan kondisi lahan yang ada.

f. Menambah jaringan distribusi baru, baik SUTR (Saluran Udara Tegangan Rendah) maupun SUTM (Saluran Udara Tegangan Menengah).

g. Penambahan kapasitas gardu distribusi lama yang melayani beban lama dan juga untuk memenuhi penambahan kebutuhan daya.

h. Membangun gardu distribusi baru disesuaikan dengan kemungkinan peningkatan kebutuhan daya listrik dan tumbuhnya pusat-pusat beban baru.

Sedangkan untuk rencana jaringan transmisi di Kabupaten Kolaka di rencanakan Pembangunan sistem interkoneksitas dan jaringan transmisi tegangan menengah yaitu pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Menengah 150 KV Kendari – Kecamatan Kolaka.

Gambar - 5.1 : Sempadan SUTT 150 kV Tanah Datar

Keterangan :

:Ruang bebas (daerah terlarang)

J1 :Jarak bebas (terdekat) untuk lapangan terbuka daerah luar kota

J3 = J5 :Jarak bebas (terdekat) terhadap pohon-pohon pada umumnya dan bagian bangunan tahan api

(17)

Hal V-17

F. Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan Rencana sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan terdiri atas :

1. Sistem Jaringan Persampahan, meliputi :

a. Tempat Penampungan Sementara (TPS) tersebar pada setiap kelurahan dan desa di setiap kecamatan;

b. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan sistem Sanitary Landfill untuk melayani timbulan sampah di kawasan perkotaan dan perdesaan yaitu rencana TPA Patioso di Kelurahan Induha Kecamatan Latambaga dengan luas kurang lebih 10 (sepuluh) hektar;

c. Pengelolaan sampah dilakukan dengan cara pengurangan sampah berupa pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah, dan/atau pemanfaatan kembali sampah (reduce-reuse-recycle) dan cara penanganan sampah terdiri atas : 1) Pemilahan sampah rumah tangga dilakukan dengan menyediakan fasilitas tempat

sampah organik dan anorganik di setiap rumah tangga, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial dan fasilitas lainnya;

2) Pengumpulan sampah dilakukan sejak pemindahan sampah dari tempat sampah rumah tangga ke TPS/TPS Terpadu sampai ke TPA dengan tetap menjamin terpisahnya sampah sesuai dengan jenis sampah;

3) Pengangkutan sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga ke TPS/TPST hingga ke TPA;

4) Pengolahan sampah dilakukan dengan mengubah karakteristik, komposisi dan jumlah sampah yang dilaksanakan di TPS/TPST dan TPA;

5) Pemrosesan akhir sampah dilakukan dengan pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan ke media lingkungan secara aman.

d. Rehabilitasi dan pengadaan sarana dan prasarana persampahan, bergerak dan tidak bergerak terdapat di setiap kecamatan.

2. Sistem Jaringan Air Minum, meliputi : a. Sistem jaringan perpipaan terdiri atas :

1) PDAM Pusat Kolaka melayani Kecamatan Kolaka dan Latambaga dengan prasarana pengolahan Instalasi Pengolahan Air Bersih (IPA) Kolaka bersumber dari Sungai Sakuli dan Sungai Poluloa;

(18)

Hal V-18

2) IKK Pomalaa melayani Kecamatan Pomalaa selain Kompleks ANTAM dengan prasarana pengolahan IPA Pomalaa bersumber dari Sungai Huko-huko;

3) IKK Wolo melayani sebagian Kecamatan Wolo meliputi Desa Lana, Iwoimopuro dan Kelurahan Wolo dengan prasarana pengolahan IPA Wolo bersumber dari Sungai Lana;

4) IKK Tamboli melayani sebagian Kecamatan Samaturu meliputi Desa Tamboli, Tosiba, Puu Tamboli, Wowa Tamboli dan Tonganapo dengan prasarana pengolahan IPA Tamboli bersumber dari Sungai Tamboli;

5) IKK Wundulako melayani sebagian Kecamatan Wundulako meliputi Kelurahan Kowioha, Wundulako, Ngapa, Desa Tikonu, Silea, Lamekongga dan Unamendaa dengan prasarana pengolahan IPA Wundulako bersumber dari Sungai Tikonu;

6) IKK Baula melayani sebagian Kecamatan Baula meliputi Desa Baula, Puulemo dan Puundoho dengan prasarana pengolahan IPA Baula bersumber dari Sungai Baula.

b. Sistem Jaringan Non Perpipaan yaitu pemanfaatan sumber air baku untuk air bersih secara langsung terdiri atas :

1) Sungai digunakan untuk melayani kawasan perdesaan yang belum terlayani jaringan perpipaan terutama penduduk yang bermukim di sepanjang sungai;

2) Mata air dan sumur dangkal digunakan untuk melayani kawasan perkotaan dan perdesaan di setiap kecamatan.

3. Sistem Jaringan Drainase, meliputi :

a. Drainase primer terdapat di sungai-sungai pada DAS dalam daerah meliputi DAS Larona, DAS Watunohu, DAS Tamborasi, DAS Iwoimendaa, DAS Langgomali, DAS Tamboli, DAS Konaweeha, DAS Mangolo, DAS Balandete, DAS Sabilambo, DAS Wundulako, DAS Mekongga, DAS Huko-huko, DAS Oko-oko, DAS Popalia, DAS Wolulu, DAS Poturua, DAS Peoho, DAS Toari, DAS Padamarang, DAS Poleang, DAS Roraya dan DAS Konaweeha;

b. Drainase sekunder di setiap kecamatan meliputi drainase pada tepi jalan perkotaan dan rawan genangan menuju drainase primer;

c. Drainase tersier di setiap kecamatan meliputi drainase pada tepi jalan perkotaan dan rawan genangan menuju drainase sekunder.

(19)

Hal V-19

4. Sistem Jaringan Air Limbah, meliputi :

a. Sistem pembuangan air limbah setempat secara individual tersebar pada kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan di setiap kecamatan;

b. sistem pembuangan air limbah terpusat dilakukan secara kolektif melalui jaringan pengumpul, diolah dan dibuang secara terpusat yang direncanakan pada kawasan perkotaan di Kecamatan Kolaka dan Pomalaa;

c. pengelolaan limbah cair non domestik berupa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) direncanakan pada kawasan industri di Kecamatan Kolaka dan Pomalaa.

(20)

Hal V-20

Gambar - 5.2 : Peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Kolaka

5.1.3 RENCANA POLA RUANG

5.1.3.1 Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung A. Kawasan Hutan Lindung

Berdasarkan UU No 41 Tahun 1999, hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

(21)

Hal V-21

Dengan adanya usulan perubahan kawasan hutan dalam revisi RTRWP Sulawesi Tenggara telah dipresentasikan oleh Gubernur di Kementerian Kehutanan pada tanggal 3 Desember 2009. Sesuai dengan ketentuan Pasal 19 ayat 1 UU No. 41 Tahun 1999, Menteri Kehutanan melalui Kepmenhut No. SK.803/Menhut-VII/2009 tanggal 15 Desember 2009 membentuk Tim Terpadu guna melakukan pengkajian terhadap usulan perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dalam usulan revisi RTRWP Sulawesi Tenggara. Dengan berdasarkan hal tersebut maka rencana luasan hutan lindung di Kabupaten Kolaka mengalami penurunan dalam jumlah luasannya pada tiap-tiap kecamatan.

Tabel - 5.3 :

Luas Kawasan Hutan Pada Kabupaten Kolaka Berdasarkan Pengkajian Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan 2010 No Kabupaten

Kolaka HK HL HPT HP HPK

Kawasan Hutan

APL Luas

(Ha) % 1 Update

Penunjukan 29.997 297.525 139.630 63.163 10.694 541.009 78,87 144.574 2 Usulan 18.445 269.626 154.582 37.144 3.022 482.818 70,39 202.765 3 Rekomendasi 21.965 291.745 133.646 42.405 11.019 500.781 73,01 184.802

Sumber: Hasil Penelitian Terpadu Dalam Rangka Pengkajian Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan Dalam Review rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2010

Wilayah Kabupaten Kolaka pada dasarnya termasuk pada Lokus Alaaha, Latoma dan Tawanga; Lokus Tamboli; Lokus Lambadia; dan Lokus Mataosu. Selanjutnya luas kawasan hutan lindung di Kabupaten Kolaka seluas 291.745 Ha atau sekitar 42,17 % dari keseluruhan wilayah kabupaten. Kawasan hutan lindung di Kabupaten Kolaka terdapat di Kecamatan Baula, Kecamatan Kolaka, Kecamatan Ladongi, Kecamatan Lalolae, Kecamatan Lambandia, Kecamatan Latambaga, Kecamatan Loea, Kecamatan Mowewe, Kecamatan Poli-polia, Kecamatan Pomalaa, Kecamatan Samaturu, Kecamatan Tinondo, Kecamatan Tirawuta, Kecamatan Uluiwoi, Kecamatan Wolo, dan Kecamatan Wundulako dengan luasan kurang lebih 291.745 Ha.

B. Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya

Kawasan resapan air pada dasarnya memiliki fungsi sebagai kawasan lindung terbatas atau sebagai kawasan lindung lainnya. Kawasan resapan air ini dapat berupa perkebunan tanaman tahunan ataupun hutan. Kawasan ini dapat dikembangkan sebagai areal perkebunan tanaman keras yang dimanfaatkan adalah hasil buah bukan kayunya, sehingga masih tetap memiliki fungsi lindung. Kawasan ini diarahkan pada wilayah yang memiliki kelerengan 25 - 40 %, dan diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai kawasan perlindungan bawahannya. Kawasan ini tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Kolaka.

(22)

Hal V-22

Kawasan resapan air sebagaimana dimaksud merupakan kawasan hutan konservasi ditetapkan seluas 21.965 Ha terdapat di Kecamatan Baula, Kolaka, Ladongi, Lalolae, Lambandia, Latambaga, Loea, Mowewe, Poli-polia, Pomalaa, Samaturu, Tinondo, Tirawuta, Uluiwoi, Wolo dan Wundulako.

C. Kawasan Perlindungan Setempat

Kawasan perlindungan setempat terdiri atas : 1. Sempadan pantai

Sempadan pantai adalah kawasan sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Sempadan pantai adalah deretan sepanjang tepi pantai Kolaka yang membujur dari arah utara Kecamatan Wolo sampai dengan Selatan Kecamatan Watubangga meliputi Kecamatan Watubangga, Kecamatan Tanggetada, Kecamatan Pomalaa, Kecamatan Wundulako, Kecamatan Baula, Kecamatan Kolaka, Kecamatan Latambaga, Kecamatan Wolo, Kecamatan Samaturu, Kecamatan Toari, dengan panjang pantai sekitar 293,45 km.

2. Sempadan sungai

Sempadan sungai terdapat pada sepanjang sungai dalam DAS Larona, DAS Watunohu, DAS Tamborasi, DAS Iwoimendaa, DAS Langgomali, DAS Tamboli, DAS Konaweeha, DAS Mangolo, DAS Balandete, DAS Sabilambo, DAS Wundulako, DAS Mekongga, DAS Huko-huko, DAS Oko-oko, DAS Popalia, DAS Wolulu, DAS Poturua, DAS Peoho, DAS Toari, DAS Padamarang, DAS Poleang, DAS Roraya dan DAS Konaweeha yang menyebar pada kawasan perkotaan dan perdesaan di setiap kecamatan, dengan ketentuan :

a. daratan sepanjang tepian sungai bertanggul dengan lebar paling sedikit 5 (lima) meter dari kaki tanggul dan sebelah luar;

b. daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 100 (seratus) meter dari tepi sungai;

c. daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi anak sungai; dan

d. daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi anak sungai.

3. Kawasan sekitar waduk

Kawasan sekitar waduk terdapat di Kecamatan Wolo dan Kecamatan Samaturu.

Pemanfaatan kawasan sekitar waduk lebih diarahkan untuk kegiatan konservasi dan budidaya non permukiman seperti perkebunan, pertanian, budidaya perikanan.

(23)

Hal V-23 4. Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Ruang Terbuka Hijau (RTH) yaitu Ruang Terbuka Hijau Perkotaan (RTHP) ditetapkan minimal 30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan perkotaan terdiri atas:

a. RTHP eksisting terdiri atas:

1. Hutan kota meliputi hutan kota belakang Stadion Gelora terdapat di Kelurahan Lalombaa Kecamatan Kolaka, hutan kota depan Terminal Larumbalangi terdapat di Desa 19 November Kecamatan Wundulako dan hutan kota samping Pasar Raya Mekongga terdapat di Kelurahan Lamokato Kecamatan Kolaka;

2. RTH taman kota meliputi Taman Kota Kastura terdapat di Kelurahan Laloeha Kecamatan Kolaka dan Taman Kakao terdapat di Kelurahan Sea Kecamatan Latambaga;

3. RTH jalur hijau jalan terdapat pada sepanjang ruas jalan dalam kota di Kecamatan Kolaka, Latambaga dan Wundulako;

4. lapangan terbuka meliputi Lapangan 19 November terdapat di Kelurahan Lamokato Kecamatan Kolaka, Lapangan Konggoasa terdapat di Kelurahan Laloeha Kecamatan Kolaka, Lapangan Lalombaa terdapat di Kelurahan Lalombaa Kecamatan Kolaka, Lapangan Wundulako terdapat di Kelurahan Kowioha Kecamatan Wundulako dan Lapangan Tikonu terdapat di Desa Tikonu Kecamatan Wundulako; dan

5. RTH Pemakaman meliputi Tempat Pemakaman Umum (TPU) German dan TPU Nasruddin terdapat di Kelurahan Sabilambo Kecamatan Kolaka, TPU Sumardi dan TPU Rasman terdapat di Kelurahan Lalombaa Kecamatan Kolaka, TPU Ince Amir dan TPU Supu terdapat di Kelurahan Laloeha Kecamatan Kolaka, TPU Mini dan TPU Dawo terdapat di Kelurahan Watuliandu Kecamatan Kolaka, TPU Rasyid dan TPU Lolo terdapat di Kelurahan Sea Kecamatan Latambaga, TPU Lahaji dan TPU Rusdin Sambolu terdapat di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga.

b. Rencana RTHP terdapat di setiap ibukota kecamatan.

D. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya

Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan, plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan pembangungan pada umumnya.

Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya terdiri atas : a. Kawasan cagar alam

yaitu Cagar Alam Lamedai ditetapkan seluas 635,16 (enam ratus tiga puluh lima koma enam belas) hektar terdapat di Kecamatan Tanggetada.

(24)

Hal V-24

b. Kawasan taman nasional

Kawasan taman nasional yaitu Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dengan luasan dalam wilayah kabupaten sebesar 12.825 (dua belas ribu delapan ratus dua puluh lima) hektar terdapat di Kecamatan Tirawuta, Loea, Ladongi, Dangia, Lambandia dan Aere.

c. Kawasan taman wisata alam

Kawasan Taman Wisata Alam yaitu Taman Wisata Alam Mangolo ditetapkan seluas 5.200 (lima ribu dua ratus) hektar terdapat di Kecamatan Latambaga.

d. Kawasan taman wisata alam laut

Kawasan Taman Wisata Alam Laut yaitu Taman Wisata Alam Laut di Kepulauan Padamarang ditetapkan seluas 36.000 (tiga puluh enam ribu) hektar terdapat di Kecamatan Wundulako.

e. Kawasan pantai berhutan bakau

Kawasan pantai berhutan bakau yaitu kawasan hutan mangrove ditetapkan pada pesisir pantai Kolaka – Pomalaa.

f. Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.

Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan yaitu cagar budaya kabupaten terdiri atas : 1) Situs Kompleks Makam Sangia Nibandera terdapat di Desa Tikonu Kecamatan

Wundulako;

2) Situs Kompleks Makam Raja-Raja Mekongga terdapat di Kelurahan Silea Kecamatan Wundulako;

3) Tambang nikel peninggalan Jepang terdapat di Kelurahan Tonggoni Kecamatan Pomalaa;

4) Situs Benteng Kerajaan Mekongga terdapat di Kecamatan Wundulako;

5) situs Gua WatuWulaa Silea terdapat di Kecamatan Wundulako;

6) Situs Makam Bokeo Latambaga terdapat di Kelurahan Sabilambo Kecamatan Kolaka;

E. Kawasan Rawan Bencana Alam

Kawasan rawan bencana adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. Kerawanan bencana di Kabupaten Kolaka dapat dibagi atas: tanah longsor, gerakan tanah, banjir, erosi, tsunami, dan gas beracun.

Kawasan rawan bencana alam terdiri atas : a. kawasan rawan tanah longsor

Kawasan rawan tanah longsor terdapat di Kecamatan Tirawuta, Latambaga, Kolaka, Samaturu, Baula, Watubangga dan Mowewe.

b. kawasan rawan gelombang pasang

Kawasan rawan gelombang pasang terdapat pada pesisir pantai di Kecamatan Iwoimendaa, Wolo, Samaturu, Latambaga, Tanggetada, Watubangga dan Toari.

(25)

Hal V-25

c. kawasan rawan banjir.

Kawasan rawan banjir di Kecamatan Tirawuta, Mowewe, Samaturu, Baula dan Kolaka F. Kawasan Lindung Geologi

Kawasan lindung geologi terdiri atas:

1) Kawasan rawan bencana alam geologi

Kawasan rawan bencana alam geologi terdiri atas :

a. kawasan rawan gempa bumi terdapat pada lokasi/titik kejadian gempa bumi yang pernah terjadi yaitu di Kecamatan Polinggona dan Tinondo serta berpotensi terjadi pada jalur patahan (sesar) terutama wilayah yang dilalui sesar naik dan turun di Kecamatan Poli-polia, Kolaka dan Pomalaa;

b. kawasan rawan gerakan tanah terdiri atas :

1. zona kerentanan tinggi terdapat di Kecamatan Wolo dan Uluiwoi;

2. zona kerentanan menengah terdapat di seluruh Kecamatan Uluiwoi dan Lalolae, sebagian Kecamatan Wolo, Samaturu, Latambaga, Kolaka, Mowewe, Tinondo, Tirawuta, Loea, Ladongi, Wundulako, Baula, Poli-polia, Lambandia dan Pomalaa;

3. zona kerentanan rendah terdapat di Kecamatan Wolo, Samaturu, Latambaga, Kolaka, Mowewe, Tinondo, Tirawuta, Loea, Ladongi, Wundulako, Poli-polia, Lambandia, Pomalaa, Tanggetada, Polinggona, Watubangga, Toari dan Baula.

c. kawasan rawan tsunami terdapat pada pesisir pantai di seluruh Kecamatan Samaturu, Latambaga, Kolaka, Wundulako, Baula dan Pomalaa serta pesisir pantai di sebagian Kecamatan Wolo dan Tanggetada;

d. kawasan rawan abrasi terdapat pada pesisir pantai di seluruh Kecamatan Watubangga dan Toari serta pesisir pantai di sebagian Kecamatan Wolo dan Tanggetada; dan e. kawasan rawan bahaya gas beracun terdapat di Kelurahan Mangolo Kecamatan

Latambaga.

2) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah.

Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah terdiri atas :

a. kawasan imbuhan air tanah yaitu Cekungan Air Tanah (CAT) meliputi CAT Kolaka, CAT Tanggetada, CAT Bungku, CAT Ambesea dan CAT Ewolangka; dan

b. sempadan mata air dengan radius 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air terdapat pada Mata Air Tahoa di Kecamatan Kolaka dan mata air Woiha di Kecamatan Tirawuta.

c. kawasan Karst.

Kawasan Karst terdapat di Kecamatan Wolo dan Uluiwoi.

5.1.3.2 Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya merupakan ruang untuk berbagai macam kegiatan eksploitasi guna kelangsungan hidup manusia dan kepentingan daerah.

(26)

Hal V-26

Yang diharapkan mampu memacu perkembangan wilayah kabupaten yang bersangkutan.

Kegiatan pada kawasan ini perlu diatur pemanfaatannya oleh karena kondisi fisik masing-masing wilayah/kawasan berbeda-beda dan memiliki sifat khusus yang berbeda-beda pula. Pendekatan yang digunakan untuk menentukan alokasi pemanfaatan ruang berbeda antara satu kawasan dengan kawasan yang lainnya.

Kawasan budidaya terdiri atas :

A. Kawasan Peruntukan hutan produksi Kawasan peruntukan hutan produksi terdiri atas:

a. Kawasan hutan produksi terbatas

Kawasan hutan produksi terbatas ditetapkan seluas 133.646 (seratus tiga puluh tiga ribu enam ratus empat puluh enam) hektar terdapat di Kecamatan Uluiwoi, Tinondo, Mowewe, Latambaga, Lalolae, Tirawuta, Loea, Ladongi, Poli-polia, Lambandia, Watubangga, Polinggona, Tanggetada, Pomalaa, Baula dan Wundulako.

b. Kawasan hutan produksi tetap

Kawasan hutan produksi tetap ditetapkan seluas 42.890 (empat puluh dua ribu delapan ratus sembilan puluh) hektar terdapat di Kecamatan Uluiwoi, Samaturu, Latambaga, Kolaka, Mowewe, Pomalaa, Tanggetada, Polinggona, Watubangga, Lambandia, Poli-polia dan Ladongi.

c. kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi.

Kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, ditetapkan seluas 11.137 (sebelas ribu seratus tiga puluh tujuh) hektar terdapat di Kecamatan Wundulako, Baula dan Pomalaa.

B. Kawasan Peruntukan Pertanian Kawasan peruntukan pertanian terdiri atas:

a. Kawasan pertanian tanaman pangan yang terdiri atas :

1. kawasan pertanian pangan lahan basah seluas 28.519 (dua puluh delapan ribu lima ratus sembilan belas) hektar dengan komoditi padi sawah terdapat di setiap kecamatan kecuali Kecamatan Uluiwoi; dan

2. kawasan pertanian pangan lahan kering dengan komoditi padi ladang dan palawija terdapat di Kecamatan Ladongi, Loea, Polinggona, Watubangga dan Toari.

b. kawasan pertanian hortikultura.

Kawasan pertanian hortikultura dengan komoditi tanaman sayuran dan buah-buahan terdapat di setiap kecamatan.

(27)

Hal V-27

c. kawasan perkebunan

Kawasan peruntukan perkebunan merupakan kawasan perkebunan campuran terdapat di setiap kecamatan dengan komoditi meliputi kakao, cengkeh, lada, jambu mete, kelapa dalam, kelapa sawit, kopi, vanili, kapuk, kemiri, enau, pinang, sagu, pala, asam jawa dan nilam.

d. kawasan peternakan yang terdiri atas : a. Ternak besar terdiri atas:

1. Ternak sapi terdapat di setiap kecamatan dengan sentra pengembangan di Kecamatan Watubangga;

2. Ternak kerbau terdapat di setiap kecamatan dengan sentra pengembangan di Kecamatan Tanggetada; dan

3. Ternak kuda terdapat di Kecamatan Watubangga dan Lambandia.

b. Ternak kecil terdiri atas:

1. Ternak kambing terdapat di setiap kecamatan dengan sentra pengembangan di Kecamatan Watubangga; dan

2. Ternak babi terdapat di setiap kecamatan dengan sentra pengembangan di Kecamatan Ladongi.

c. Ternak unggas meliputi ternak ayam dan bebek/itik terdapat di setiap kecamatan dengan sentra pengembangan di Kecamatan Baula..

Kawasan peruntukan pertanian direncanakan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) seluas 50.318 (lima puluh ribu tiga ratus delapan belas) hektar terdiri atas daerah irigasi seluas 15.646 (lima belas ribu enam ratus empat puluh enam) hektar dan lahan pengembangan potensi pertanian, yang selanjutnya ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

C. Kawasan Peruntukan Perikanan

Kawasan pengembangan perikanan di Kabupaten Kolaka dilakukan di perairan darat atau perairan umum dan di perairan pesisir dan laut. Di perairan darat, potensi kawasan berupa kolam-kolam. Demikian juga kawasan sekitar-sungai (DAS) dapat dimanfaatkan untuk pengembangan perikanan budidaya-kolam yang menggunakan air sungai sebagai media pemeliharaan. Sementara kawasan pesisir dan laut dapat dimanfatkan selain untuk pengembangan perikanan budidaya (pertambakan dan marikultur) juga perikanan tangkap (coastal fisheries). Keseluruhan potensi kawasan untuk pengembangan perikanan di Kabupaten Kolaka diuraikan berikut ini.

Kawasan peruntukan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) huruf c, terdiri atas:

(28)

Hal V-28

a. Kawasan peruntukan perikanan tangkap yang terdiri atas :

1. Kawasan peruntukan perikanan tangkap terdapat pada wilayah pesisir dan laut di Kecamatan Iwoimendaa, Wolo, Samaturu, Latambaga, Kolaka, Wundulako, Baula, Pomalaa, Tanggetada, Watubangga dan Toari dengan kewenangan pengelolaan wilayah laut kabupaten dari 0 (nol) sampai dengan 4 (empat) mil;

2. Sarana dan prasarana perikanan tangkap yaitu Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) terdapat pada PPI Dawi-dawi di Kecamatan Pomalaa dan PPI Mangolo di Kecamatan Latambaga.

b. Kawasan peruntukan budidaya perikanan yang terdiri atas : a. Budidaya perikanan terdiri atas :

1. Budidaya perikanan payau (Tambak, Sungai) terdapat di Kecamatan Wolo, Samaturu, Latambaga, Kolaka, Wundulako, Pomalaa, Tanggetada, Watubangga dan Toari;

2. Budidaya perikanan air tawar (Kolam, Sawah) terdapat di setiap kecamatan;

3. Budidaya perikanan laut dengan komoditi terdiri atas:

a) Budidaya Rumput Laut terdapat di Kecamatan Wolo, Samaturu, Latambaga, Kolaka, Wundulako, Pomalaa, Tanggetada dan Watubangga;

b) Budidaya Kerapu terdapat di Kecamatan Tanggetada dan Pomalaa;

c) Budidaya perikanan dengan Keramba Jaring Apung (KJA) terdapat di Kecamatan Tanggetada;

d) Budidaya teripang terdapat di Kecamatan Wolo, Samaturu dan Wundulako;

e) Budidaya kerang mutiara terdapat di Kecamatan Wolo, Samaturu dan Wundulako.

b. Sarana dan prasarana perikanan budidaya yaitu Balai Benih Ikan (BBI) meliputi BBI Mowewe terdapat di Kecamatan Mowewe, BBI Wundulako terdapat di Kecamatan Wundulako dan BBI Loea terdapat di Kecamatan Loea.

c. Kawasan pengolahan ikan

Kawasan pengolahan ikan terdapat pada Kawasan Industri Perikanan (KIP) seluas 3,5 (tiga koma lima) hektar di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga.

d. Kawasan minapolitan

Kawasan minapolitan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, terdapat di Kecamatan Wolo, Samaturu, Latambaga, Wundulako, Baula, Pomalaa, Tanggetada dan Watubangga.

e. Kawasan pulau-pulau kecil.

Kawasan pulau-pulau kecil, terdiri atas:

(29)

Hal V-29

a. Pulau-pulau kecil berpenghuni sebanyak 5 (lima) pulau meliputi Pulau Buaya, Pulau Lambasina Besar, Pulau Lambasina Kecil, Pulau Lemo dan Pulau Padamarang; dan b. Pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni sebanyak 8 (delapan) pulau meliputi Pulau Batumandi, Pulau Bubulan, Pulau Ijo, Pulau Kukusan, Pulau Laburoko, Pulau Lima, Pulau Maniang dan Pulau Pisang.

D. Kawasan Peruntukan Pertambangan

Kawasan peruntukan pertambangan merupakan Wilayah Pertambangan (WP) yang terdiri atas:

a. Wilayah Usaha Pertambangan (WUP)

Wilayah Usaha Pertambangan (WUP) direncanakan seluas 116.563,5 (seratus enam belas ribu lima ratus enam puluh tiga koma lima) hektar dengan komoditas tambang terdiri atas:

a. mineral logam terdiri atas:

1. Nikel dan cobalt terdapat di Kecamatan Wolo, Wundulako, Baula, Pomalaa, Tanggetada, Watubangga, Lambandia, Poli-polia, Ladongi, Loea dan Tirawuta;

2. Emas terdapat di Kecamatan Uluiwoi, Watubangga dan Lambandia; dan 3. Magnesit terdapat di Kecamatan Wundulako.

b. mineral bukan logam terdiri atas:

1. Batu gamping terdapat di Kecamatan Toari dan Watubangga; dan 2. Silika (pasir kuarsa) di Kecamatan Pomalaa dan Lambandia.

c. Batuan terdiri atas:

1. Tanah liat terdapat di setiap kecamatan;

2. Pasir dan batu terdapat di setiap kecamatan;

3. Marmer terdapat di Kecamatan Uluiwoi dan Wolo; dan 4. Onix terdapat di Kecamatan Samaturu dan Latambaga.

d. Batubara yaitu jenis batubara coklat (brown coal) terdapat di Kecamatan Toari dan Watubangga.

b. Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR)

Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, direncanakan pada lokasi yang telah dilakukan usaha pertambangan rakyat dengan komoditas tambang terdiri atas:

1. pasir dan batu terdapat di setiap kecamatan;

2. batu gamping terdapat di Kecamatan Toari dan Watubangga;

3. tanah liat terdapat di setiap kecamatan; dan 4. tanah urug terdapat di setiap kecamatan

(30)

Hal V-30

c. Wilayah Pencadangan Negara (WPN)

d. Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Minyak dan Gas Bumi.

Wilayah Kerja Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (WKP Migas) terdiri atas :

1. Rencana WKP Bone Bay Blok seluas 8.044 (delapan ribu empat puluh empat) kilometer persegi meliputi Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara; dan

2. Rencana Blok Kolaka - Bombana.

E. Kawasan Peruntukan Industri Kawasan peruntukan industri terdiri atas :

a. Kawasan peruntukan industri besar, yang terdiri atas : a. Kawasan industri pengolahan pertambangan terdiri atas :

1. Kawasan industri pengolahan nikel eksisting terdapat pada kawasan industri ANTAM di Kecamatan Pomalaa;

2. Rencana kawasan industri pertambangan di Kecamatan Wolo; dan

3. Rencana kawasan industri pertambangan dalam Pusat Kawasan Industri Pertambangan (PKIP) Kolaka di Kecamatan Pomalaa dan Tanggetada.

b. Kawasan industri pengolahan hasil perkebunan terdiri atas:

1. Kawasan industri pengolahan kelapa sawit terdapat di Kecamatan Polinggona;

2. Rencana kawasan industri pengolahan kakao di Kecamatan Ladongi; dan

3. Rencana kawasan industri pengolahan tebu yaitu gula pasir terdapat di Kecamatan Watubangga dan Toari.

c. Kawasan industri pengolahan hasil perikanan yaitu rencana Kawasan Industri Perikanan (KIP) Mangolo di Kecamatan Latambaga.

b. Kawasan peruntukan industri mikro, kecil dan menengah.

Kawasan peruntukan industri mikro, kecil dan menengah dengan sebaran jenis industri terdiri atas:

a. Industri pengolahan hasil pertanian tanaman pangan terdiri atas:

1. Industri pengolahan padi terdapat di Kecamatan Watubangga, Wolo, Baula, Samaturu, Pomalaa, Loea, Tirawuta, Lalolae, Mowewe, Lambandia, Kolaka, Tanggetada, Toari, Polinggona, Poli-Polia, Tinondo, Latambaga dan Wundulako;

2. Industri pengolahan sagu terdiri atas :

1 Industri pengolahan sagu terdapat di Kelurahan Horodopi dan Desa Watuputeh Kecamatan Mowewe serta Desa Lapao-Pao Kecamatan Wolo; dan

2 Industri pembuatan kue bagea terdapat di Kelurahan Kolakaasi Kecamatan Latambaga.

(31)

Hal V-31

3. Industri pengolahan jagung terdapat di Kecamatan Watubangga, Wolo, Loea, Lalolae, Tirawuta, Mowewe, Kolaka, Toari dan Tinondo; dan

4. Industri pengolahan kacang kedelai yaitu pembuatan tempe, tahu dan susu kedelai terdapat di Kecamatan Pomalaa, Kolaka, Wundulako, Ladongi, Loea, Poli-Polia, Toari, Watubangga dan Tanggetada.

b. Industri pengolahan hasil perkebunan terdiri atas:

1. Industri pengolahan kakao yaitu pengeringan kakao terdapat di Desa Wowoli Kecamatan Toari;

2. Industri pengolahan kelapa yaitu kopra terdapat di Kecamatan Toari dan Samaturu;

3. Industri pengolahan enau yaitu pembuatan gula aren terdapat di Desa Tikonu Kecamatan Wundulako, Desa Tolowe Pondre Kecamatan Wolo, Desa Simbune Kecamatan Tirawuta, Kelurahan Lalolae Kecamatan Lalolae, Desa Ameroro Kecamatan Tinondo dan Desa Lambolemo Kecamatan Samaturu;

4. Industri pengolahan nilam yaitu penyulingan minyak atsiri terdapat di Desa Aere Kecamatan Lambandia, Desa Pewisoa Jaya Kecamatan Tanggetada, Desa Keisio Kecamatan Lalolae, Desa Ulu Mowewe Kecamatan Mowewe, Kecamatan Uluiwoi, Kolaka, Poli-Polia, Wundulako, Tinondo, Samaturu, Wolo dan Latambaga;

5. Industri pengolahan kopi terdapat di Kecamatan Mowewe, Samaturu, Tirawuta dan Loea;

6. Industri pengolahan pisang yaitu pembuatan kripik pisang terdapat di Desa Lalowusula Kecamatan Ladongi, Desa Tamborasi Kecamatan Wolo, Desa Lambolemo Kecamatan Samaturu, Desa Pondowae Kecamatan Polinggona, Kelurahan Sakuli Kecamatan Latambaga dan Kelurahan Watuliandu Kecamatan Kolaka.

c. Industri pengolahan hasil laut terdiri atas:

1. Industri pengolahan rumput laut yaitu pembuatan dodol, sirup dan krupuk rumput laut terdapat di Kelurahan Induha Kecamatan Latambaga;

2. Industri pengolahan perikanan terdiri atas :

a) Pengeringan dan pengasapan ikan terdapat di Kelurahan Sea Kecamatan Latambaga dan Desa Konaweha Kelurahan Samaturu;

b) Pembuatan krupuk ikan terdapat di Kelurahan Anaiwoi Kecamatan Tanggetada;

c) Pembuatan abon ikan terdapat di Kelurahan Sea dan Kolakaasi Kecamatan Latambaga;

d) Pembuatan bakso ikan terdapat di Kelurahan Sea dan Sakuli Kecamatan Latambaga serta Kelurahan Laloeha Kecamatan Latambaga;

(32)

Hal V-32

e) Pengolahan ikan sarden terdapat di Kelurahan Mangolo Kecamatan Latambaga;

f) Pembuatan pakan ikan terdapat di Desa Towua Kecamatan Wundulako.

3. Industri pengolahan teripang terdapat di Desa Tambea Kecamatan Pomalaa;

4. Industri pembuatan garam beriodium terdapat di Kecamatan Wolo, Pomalaa dan Kolaka.

d. Industri pengolahan hasil hutan terdiri atas:

1. industri pengolahan rotan meliputi pembuatan anyaman rotan terdapat di Kelurahan Ulunggolaka Kecamatan Latambaga dan industri pengolahan rotan mentah terdapat di Desa Tawainalu Kecamatan Tirawuta;

2. industri pengolahan bambu yaitu pembuatan meubel bambu terdapat di Desa Raa- Raa Kecamatan Ladongi;

3. industri pengolahan hasil lebah madu terdapat di Kelurahan Lalombaa Kecamatan Kolaka, Kelurahan Ulunggolaka Kecamatan Latambaga, Desa Silea Kecamatan Wundulako, Desa Simbune Kecamatan Tirawuta serta Desa Sanggona dan Desa Uluiwoi Kecamatan Uluiwoi;

4. industri pengolahan kayu terdiri atas :

a) Penggergajian kayu terdapat di setiap kecamatan;

b) Pembuatan meubel terdapat di Kecamatan Kolaka dan Wundulako; dan

c) Industri pembuatan kapal kayu rakyat terdapat di Desa Kaloloa dan Muara Tamboli Kecamatan Samaturu.

5. Industri air minum yaitu air minum dalam kemasan terdapat di Kecamatan Kolaka, Latambaga dan Tirawuta.

e. Industri pengolahan hasil pertambangan terdiri atas:

1. industri pengolahan batu pecah (split) terdapat di Kecamatan Pomalaa; dan 2. Industri pengolahan tanah liat terdiri atas:

a) Pembuatan batu bata terdapat di Desa Huko-Huko Kecamatan Baula, Desa Kowioha dan Kelurahan Wundulako Kecamatan Wundulako; dan

b) Pembuatan gerabah terdapat di Kecamatan Pomalaa.

f. Industri pengolahan hasil peternakan terdiri atas:

1. Industri pengolahan ternak unggas yaitu pembuatan telur asin terdapat di Kecamatan Lambandia;

2. Industri pengolahan ternak besar yaitu pembuatan baso sapi terdapat di setiap kecamatan.

Gambar

Gambar - 5.1 : Sempadan SUTT 150 kV Tanah Datar
Gambar - 5.2 : Peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Kolaka
Gambar - 5.3 : Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Kolaka  5.1.4     KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN KOLAKA
Gambar - 5.4 : Peta Kawasan Strategis Kabupaten Kolaka
+3

Referensi

Dokumen terkait

Wundulako, dengan ini Panitia Pengadaan Barang/Jasa Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Kolaka mengundang saudara untuk mengikuti

Namun demikian mengingat terdapatnya kawasan hutan tanam industri di Kecamatan wilayah kabupaten serta karakteristik yang khas dari DAS yangMesuji Timur yaitu di

Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan rencana distribusi peruntukan ruang dalam wilayah kabupaten yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi

sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yaitu yang mempunyai wilayah pelayanan beberapa kawasan dalam lingkup kabupaten dan umumnya merupakan kota kecil.. Ibukota Kecamatan Ulu Musi,

(3) Kawasan perikanan tangkap di laut sebagaimana yang dimaksud pada Ayat (2) huruf a diarahkan pada wilayah perairan laut di kawasan pesisir pantai utara, meliputi

Dalam konteks pengembangan kota, RTBL KSK merupakan rencana terpadu bidang permukiman dan infrastuktur bidang Cipta Karya pada lingkup wilayah perencanaan berupa

 Kawasan peruntukan permukiman perdesaan, penetapan lokasi sebagai fungsi kawasan peruntukan permukiman perdesaan meliputi seluruh desa di Kecamatan Loceret,

Wilayah (PKW) yaitu daerah perkotaan atau kota yang mempunyai wilayah pelayanan yang mencakup beberapa kawasan atau kabupaten yang diarahkan.. pengembangannya sebagai kota besar