• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN KULIT PETAI Parkia speciosa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMANFAATAN KULIT PETAI Parkia speciosa"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

“PEMANFAATAN KULIT PETAI(Parkia speciosa) SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL MENJADI TEPUNG MELALUI PEMBUATAN COOKIES”

Karya Tulis Ini Disusun untuk Mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah Siswa

Se – Ekskaresidenan Pekalongan Universitas Pancasakti Tegal 2017

DIUSULKAN OLEH : MAULANA AJI (8272) 2014/2015 LISA NURHALIZA SAUMI (8287)2014/2015

NANDA NURFADILAH (8292) 2014/2015

MA AL HIKMAH 2 TERPADU BREBES

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul Naskah : “PEMANFAATAN KULIT PETAI(Parkia speciosa)

SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL MENJADI TEPUNG MELALUI

PEMBUATAN COOKIES”

2. Ketua Kelompok

a. Nama : Maulana Aji

b. NIS : 8272

c. Nama Sekolah : MA AL HIKMAH 2

d. Jurusan : IPA

e. Alamat : Indramayu, kec Pasekan, ds Brondong rt/rw 03/03

f. E-Mail : [email protected]

3. Nama Anggota : Lisa Nurhaliza Saumi

Nanda Nurfadilah

4. Guru Pembimbing

a. Nama dan Gelar : Ganjar Basuki S.TP

b. NIP :-

c. No. Hand Phone :0857 8679 4009

Brebes, 19-November-2016

Menyetujui, Ketua Kelompok

Ganjar Basuki, S.TP Maulana Aji

NIP. - NIS. 8272

Mengetahui,

H. Mukhlas Hasyim, MA

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas

rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan karya tulis “PEMANFAATAN KULIT

PETAI(Parkia speciosa) SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL MENJADI

TEPUNG MELALUI PEMBUATAN COOKIES”. Atas tersusunnya laporan ini, maka penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:

1. Jajaran Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah 2

2. Bapak KH. Muhlas Hasyim M.A. selaku Kepala Madrasah Aliyah Al

Hikmah 2

3. Bapak Ganjar Basuki,S.TP selaku Guru Pembimbing yang telah

memberikan bimbingan dan dukungan

4. Bapak/Ibu guru Madrasah Aliyah Al Hikmah 2 yang telah memberikan

dukungan dalam penulisan karya ilmiah

5. Teman-teman yang telah membantu secara langsung maupun tidak

langsung kepada penulis dalam penulisan karya ilmiah ini

6. Orang tua yang selalu mendukung dan mendoakan demi selesainya karya

ilmiah ini

Penulisan karya ilmiah ini dirasa masih banyak kekurangan baik pada teknis

penulisan maupun materi, mengingat kemampuan penulis yang terbatas. Untuk itu

kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan

pembuatan karrya tulis ini. Penulis berharap semoga penelitian ini dapat

(4)

DAFTAR ISI

1.3. Tujuan Penulisan ... 3

1.4. Manfaat Penulisan ... 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Petai ... 5

2.1.1. Kulit Petai ... 6

2.2. Pangan Fungsional ... 6

2.3. Tepung ... 7

2.4. Antioksidan ... 7

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1. WaktudanTempatPenelitian ... 10

3.2. Alat-alat Penelitian ... 10

3.3. Bahan-bahanPenelitian ... 10

3.4. JalannyaPenelitian ... 10

3.5. Uji Aktivitas Antioksidan ... 12

3.6. UjiSensoris ... 12

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Uji Sensoris... 13

4.2. Hasil Uji Aktivitas Antioksidan ... 14

BAB V. PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 16

(5)
(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Gaftar Alir Kualitatif Proses Pembuatan Tepung Kulit Petai ... 11

Gambar 2. Gaftar Alir Kualitatif Proses Pembuatan Cookies ... 11

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Prosedur Uji Aktivitas Antioksidan Metode DPPH ... 19

Lampiran 2 Hasil Uji Kesukaan Sensoris ... 20

Lampiran 3 Borang Uji Kesukaan Sampel... 22

Lampiran 4 Tabel Data Analisis Kuantitatif Aktivitas Antioksidan ... 23

Lampiran 5 Formulir Pendaftaran ... 24

(8)

“PEMANFAATAN KULIT PETAI(Parkia speciosa) SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL MENJADI TEPUNG MELALUI PEMBUATAN COOKIES”

Maulana Aji, Lisa Nurhaliza Saumi, Nanda Nurfadilah

MA Al Hikmah 2 Terpadu, Kabupaten Brebes

Jalan Raya Benda,Sirampog,Brebes 52272 Indonesia

ABSTRAK

Petai(Parkia Speciosa) merupakan salah satu tanaman polong-polongan yang tumbuh baik di Indonesia dan memiliki produktivitas tertinggi di Asia Tenggara. Tanaman ini hanya dimanfaatkan daging buahnya saja untuk dikonsumsi sedangkan kulit buahnya menjadi limbah. Saat ini belum ada penanganan limbahnya terlebih dimanfaatkan padahal sudah terdapat penelitian mengenai pemanfaatan kulit petai sebagai sumber antioksidan alami dan obat. Sampai sekarang belum terdapat pemanfaatan kulit petai di bidang olahan pangan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karekteristik sensoris dari cookies kulit petai sebagai pangan fungsional.Penelitian ini dilakukan dengan membuat tepung atau bubuk kulit petai secara konvensional dan dilakukan substitusi tepung terigu dengan rasio 1:2 dan 1:3 lalu dibuat cookies serta dilakukan uji aktivitas antioksidan tepung kulit petai kemudian dilakukan uji sensoris cookies kulit petai.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio 1:2 menghasilkan warna, tekstur dan overall dari sifat sensoris cookies yang lebih disukai daripada rasio tepung 1:3, tetapi sebaliknya untuk sifat sensoris rasa. Tepung kulit petai memiliki aktivitas antioksidan sebesar±53,59 % RSA.

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki tanaman yang

sangat beragam, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, polong-polongan,

dan umbi-umbian. Contoh tanaman polong-polongan yaitu kacang tanah,

buncis, kedelai, kacang-kacangan, petai, petai cina dan lain-lain.Petai

(Parkia speciosa)merupakan tanaman yang tumbuh pada musim

penghujan. Sentra produksi petai di Indonesia terdapat di wilayah Cianjur,

Banten dan Jawa Tengah.Produksi petai yang tinggi menjadikan Indonesia

menjadi penghasil petai terbanyak di kawasan Asia Tenggara dengan luas

areal tanaman petai mencapai 30.095 Ha serta rata-rata hasil panen 7,66

Ton/Ha, dan angka produksi tanaman petai mencapai 230.401 ton per

tahun(Holtikultura, 2014).

Petai merupakan buah yang hanya dimanfaatkan daging buah saja

untuk dikonsumsi sedangkan kulit buahnya menjadi limbah. Bagian -

bagian buah petai terdiri dari kulit buah petai kisaran 38–40%, daging

buah petai kisaran 27-29%, dan tangkai petai kisaran 32-34% (Anonim,

2016). Produktivitas buah petai di Indonesia yang cukup tinggi belum

dimanfaatkan secara maksimal karena baru dimanfaatkan bentuk utuhnya

saja baik mentah, rebus, goreng, maupun bakar untuk dikonsumsi. Saat ini

di supermarket buah petai dijual dalam bentuk kemasan vakum tanpa kulit

buahnya. Pada saat panen raya kulit buah petai menjadi limbah yang

sangat berlimpah. Umumnya daging buah petai atau biji petai

dimanfaatkan untuk konsumsi terutama sebagai makanan pelengkap

seperti untuk lalapan dan olahan sambal, sementara kulit petai dibuang

sebagai limbah. Sampai saat ini sudah terdapat beberapa penelitian

mengenai buah petai diantaranya penelitian Ali,dkk (2006) tentang buah

petai yang memiliki kandungan senyawa kimia yang sangat penting yang

(10)

sebagai tepung fungsional dalam aplikasi pangan (Chee-Yuen dan

Aishah,2010) sedangkan kulit buah petai atau kulit petai sudah terdapat

penelitian mengenai efeknya sebagai obat anti-inflamasi rheumatoid

arthitis (Aisyah, 2013), dan sebagai antibakteri terhadap bakteri

Escherichiacoli dan Staphylococus aureus (Devi, 2014). Menurut

penelitian yang lain oleh Gideon (2012), ekstrak kulit petai dapat

dimanfaatkan sebagai antioksidan pada minyak goreng. Oleh karena itu,

pemanfaatan petai baik buahnya atau kulitnya memiliki potensi yang besar

terutama dalam aspek kesehatan yang bisa diaplikasikan juga ke dalam

bentuk olahan pangan sehingga dapat berfungsi sebagai pangan

fungsional.

Pangan fungsional menjadi populer di banyak negara di dunia

khususnya beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan

negara-negara Eropa termasuk sebagian masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan

konsep pangan fungsional menawarkan konsumen untuk menata kesehatan

tubuhnya sendiri merupakan daya tarik yang sangat diminati. Pangan

fungsional adalah pangan olahan yang mengandung satu atau lebih

komponen fungsional yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi

fisiologis tertentu, terbukti tidak membahayakan dan bermanfaat bagi

kesehatan (BPOM-RI, 2005). Pangan fungsional bukan berupa obat atau

suplemen makanan sehingga bukan berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk

yang berasal dari senyawa alami. Pangan fungsional dapat dikonsumsi

bebas seperti makanan dan minuman pada umumnya, tanpa adanya

batasan dosis tertentu. Tidak seperti obat yang digunakan untuk mengobati

suatu penyakit, pangan fungsional lebih ditujukan untuk penurunan risiko,

perlambatan atau pencegahan penyakit tertentu. Yang paling utama adalah

mencegah penyakit degeneratif dan meningkatkan daya tahan tubuh

khususnya pada proses pemulihan pasca sakit. Pangan fungsional bisa

mengandung serat makanan, asam lemak, vitamin atau mineral tertentu,

produk pangan yang ditambahkan dengan komponen bioaktif seperti

komponen fitokimia atau komponen antioksidan lainnya atau mengandung

(11)

fungsional bisa dalam bentuk segar atau dalam bentuk pangan olahan.

Pada pangan olahan, karakteristik sebagai pangan fungsional bisa muncul

karena adanya komponen aktif di dalam bahan baku, terbentuknya

komponen aktif karena proses pengolahan dan atau adanya penambahan

komponen aktif ke dalam produk (Syamsir, 2012). Berbagai produk

olahan pangan dapat dibentuk sebagai pangan fungsional seperti tepung

kacang merah, youghurt. Oleh karena itu dalam penelitian ini dilakukan

percobaan pembuatan bubuk atau tepung dari kulit petai yang selanjutnya

diolah menjadi kue kering atau cookies.

Cookies merupakan salah satu jenis cemilan atau makanan ringan

yang banyak disukai oleh sebagian masyarakat mulai balita sampai

dewasa. Konsumsi rata-rata cookies di Indonesia adalah 0.40 kg/tahun

(Rosmisari,2006). Komposisi utama dari cookies yaitu tepung terigu, gula

dan lemak, maka dalam hal dilakukan pencampuran antara tepung terigu

dan tepung kulit petai untuk memberikan efek fungsional pada cookies.

Hal ini juga bertujuan untukmenjadikan nilai tambah dari kulit buah petai

dan menanggulangi pencemaran limbahnya yang selama ini belum

dimanfaatkan, sehingga kami terdorong untuk melakukan penelitian

dengan memanfaatkan limbah kulit petai menjadi tepung kulit petai

sebagai pangan fungsional melalui pembutan cookies.

1.2Rumusan Masalah

1. Bagaimana karakteristik sensoris cookies tepung kulit petai?

2. Berapa rasio campuran antara tepung terigu dan tepung kulit petai untuk cookies yang paling disukai oleh panelis ?

3. Berapa kadar aktivitas antioksidan dari tepung kulit petai secara kuantitatif?

1.3Tujuan Penelitian

1. Mengetahui karakteristik sensoris cookies tepung kulit petai.

2. Mengetahui rasio campuran antara tepung terigu dan tepung kulit petai untuk cookies yang paling disukai oleh panelis.

(12)

1.4Manfaat Penelitian

1. Menginformasikan kepada pembaca tentang pemanfaatan limbah kulit petai menjadi produk olahan pangan yaitu tepung kulit petai melalui pembuatan cookies sebagai pangan fungsional.

2. Untuk menambah inovasi varian produk cookies.

(13)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Petai

Petai atau mlanding(Parkia speciosa) merupakan salah satu

tanaman yang termasuk dalam famili fabaceae dan banyak tumbuh di

daerah tropis, seperti Indonesia. Tanaman petai membutuhkan lingkungan

hidup yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksinya. Faktor lingkungan

itu adalah sinar matahari, temperatur, curah hujan, kelembaban, dan tanah

(Palungkun, 2001). Tanaman petai banyak terdapat di daerah beriklim

tropis. Tanaman petai merupakan tanaman yang mudah dijumpai di

Indonesia, terutama di daerah Nusa Tenggara, adapun negara penghasil

petai selain Indonesia diantaranya adalah Malaysia, Vietnam, dan

Thailand.

Petai(Parkia speciosa) merupakan pohon tahunan tropis dari suku

polong-polongan. Tanaman ini berbentuk pohon dengan tinggi mencapai

5-25 m, bercabang banyak dengan kulit batang berwarna coklat

kemerah-merahan dan daunnya menyirip ganda. Bunganya ketika masih muda

berwarna hijau, keras dan berbentuk bongkol. Bentuk buahnya

berpolong-polong, berisi biji-biji dan biji tersebut agak lunak ketika masih muda dan

agak keras setelah menjadi tua. Buah petai mulanya berwarna hijau muda,

kemudian semakin lama menjadi hijau tua dan akhirnya setelah masak

akan berwarna hitam (Susilo, 2012). Jumlah biji dalam satu buah bisa

mencapai 20 biji, yang berwarna hijau ketika masih muda dan terbalut

oleh selaput agak tebal berwarna coklat terang. Buah petai akan mengering

jika masak dan biji-bijinya akan terlepas dengan sendirinya (Agoes, 2010).

Menurut Samsuhidayat dan Hutapea (1991) tata nama atau

sistematika (taksonomi) tanaman petai dimasukkan kedalam klasifikasi

(14)

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dycotyledoneae

petai.Kuantitas kulit petai jauh lebih besar dibandingkan dengan buahnya,

yaitu sekitar 38–40% dari berat petai.

Kulit petai merupakan bagian terluar dari petai. Kulit petai menjadi

limbah dari petai karena tidak dimanfaatkan. Limbah kulit petai ini

termasuk dalam limbah organik rumah tangga. Limbah kulit petai baru

sedikit yang memanfaatkannya seperti beberapa penelitian yang sudah ada

(Anonim, 2016).

Biji maupun kulit petai mengandung banyak vitamin, mineral, dan

antioksidan, sehingga kulit petai berpotensi sebagai sumber antioksidan

(Agnes, 2013). Kulit petai yang berpotensi sebagai sumber antioksidan

didukung dengan penelitian yang sudah ada seperti, ekstraksi kulit petai

sebagai sumber antioksidan alami dengan menggunakan metode domestic

microwave maceration.

2.2. Pangan Fungsional

Pangan Fungsinal adalah pangan segar atau olahan yang

memberikan manfaat terhadap kesehatan dan dapat pencegahan terhadap

(15)

fungsional juga merupakan pengembangan dari ilmu pangan, dimana suatu

pangan biasanya disertai dengan klaim kesehatan untuk tujuan pemasaran

(Dr. Nurheni, 2013). Dari pengertian tersebut terlihat bahwa pangan

fungsional dipakai secara luas untuk mendefinisikan pangan atau makanan

yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi proses fisiologis

sehingga meningkatkan kesehatan atau mencegah timbulnya penyakit.

2.3. Tepung

Tepung adalah bentuk hasil pengolahan bahan dengan cara

pengilingan atau penepungan. Tepung memiliki kadar air yang rendah, hal

tersebut berpengaruh terhadap keawetan tepung. Jumlah air yang

terkandung dalam tepung dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sifat

dan jenis atau asal bahan baku pembuatan tepung, perlakuan yang telah

dialami oleh tepung, kelembaban udara, tempat penyimpanan dan jenis

pengemasan. Cara yang paling umum dilakukan untuk menurunkan kadar

air adalah dengan pengeringan, baik dengan penjemuran atau dengan alat

pengering biasa.

Tepung dapat diolah menjadi produk olahan pangan yang mudah

dibuat seperi roti, bolu, cookies, dll. Cookies merupakan merupakan salah

satu jenis kue yang menggunakan proses pemanggangan dari adonan yang

memiliki komposisi bahan-bahan seperti, tepung terigu, gula, telor, dll.

Cookies biasanya memiliki ukuran yang kecil dan umumnya memiliki rasa

yang manis.

2.4.Antioksidan

Antioksidan didefinisikan sebagai senyawa yang mampu menunda,

memperlambat atau manghambat reaksi oksidasi makanan atau obat.

Antioksidan merupakan zat yang mampu melindungi sel melawan

kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas (reactive oxygen species),

seperti singlet oksigen, superoksid, radikal peroksid dan radikal hidroksil

(Richa,2009). Penggunaan senyawa antioksidan semakin berkembang

untuk makanan maupun untuk pengobatan seiring dengan bertambahnya

(16)

Antioksidan bersifat sangat mudah teroksidasi atau bersifat

reduktor kuat dibanding dengan molekul yang lain. Jadi keefektifan

antioksidan bergantung dari seberapa kuat daya oksidasinya dibanding

molekul yang lain. Semakin mudah teroksidasi maka semakin efektif

antioksidan tersebut (Anonim,2009). Fungsi paling efektif dari

antiokasidan dan menghambat terjadinya oksidasi adalah dengan

menghentikan reaksi berantai dari radikal-radikal bebas (primary

antioxydant).

Menurut Kochar dan Tossel dalam Hudson (1990) dalam

Yuswantina berkaitan dengan fungsinya senyawa antioksidan dapat

diklasifikasikan dalam 5 tipe antioksidan yaitu:

a. Primary ontioxydants, yaitu senyawa-senyawa fenol yang

mampu memutus rantai reaksi pembentukan radikal bebas

asam lemak. Dalam hali ini memberikan atom hidrogen

yang berasal dari gugus hidroksi senyawa fenol sehingga

terbentuk senyawa yang stabil. Senyawa antioksidan yang

termasuk kelompok ini, misalnya BHA (butyl hidroksi

lanosol), BHT (butyl hydrotoluen), dan tokoferol.

b. Oxygen scavengers, yaitu senyawa-senyawa yang berperan

sebagai pengikat oksigen sehingga tidak mendukung reaksi

oksidasi. Dalam hal ini, senyawa tersebut akan mengadakan

reaksi dengan oksigen yang berada dalam sistem sehingga

jumlah oksigen akan berkurang. Contoh dari

senyawa-senyawa kelompok ini adalah vitamin C (asam askorbat),

askorbil palminat, asam eritorbat, dan sulfit.

c. Secondary antioksidant, yaitu senyawa-senyawa yang

mempunyai kemampuan untuk berdekomposisi

hidroperoksida menjadi produk akhir yang stabil. Tipe

antioksidan ini pada umumnya digunakan untuk

menstabilkan poliolefin resin. Contohnya yaitu asam

(17)

d. Antioksidative Enzyme, yaitu enzim yang berperan

mencegah terbentuknya radikal bebas. Contohnya glukose

oksidase, superoksidase dismutase (SOD), glutation

peroksidase dan katalase.

e. Chelators sequestrants, yaitu senyawa-senyawa yang

mampu mengikat logam seperti besi dan tembaga yang

mampu mengkatalisa reaksi oksidasi lemak. Senyawa yang

termasuk didalamnya adalah asam sitrat, asam amino,

(18)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 2 September – 18 Oktober

2016 di MA Al Hikmah 2 dan Laboratorium Chem-mix Pratama

Yogyakarta.

3.2. Bahan-bahanPenelitian

Bahan utama yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu kulit petai.

3.3. Alat-alat Penelitian

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat

pemotong (pisau dan gunting), nampan, kompor, oven, timbangan neraca

ohaus tiga lengan, blender, saringan, dan loyang. Alat pemotong (pisau

dan gunting) berfungsi untuk memotong kulit petai menjadi lebih kecil.

Nampan berfungsi sebagai alat pengering. Kompor dan oven berfungsi

sebagai alat untuk mengeringkan. Timbangan neraca ohauss tiga lengan

digunakan untuk menimbang berat sampel. Blender berfungsi

menghaluskan kulit petai kering. Ayakan berfungsi untuk memisahkan

tepungkulit petai kasar dan tepung kulit petai halus. Loyang berfungsi

sebagai wadah pengeringan kulit petai segar.

3.4. Jalannya Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan lima tahap. Tahap pertama yaitu

pemisahan. Pada tahap ini kulit petai di pisahkan dari buah petai dan di

potong dengan ukuran yang lebih kecil, hal ini bertujuan untuk

mempermudah proses pengeringan. Tahap kedua yaitu pengeringan. Kulit

buah petai di keringkan dengan menggunakan oven dengan api sedang

untuk mengurangi kadar air pada kulit buah petai, Tahap ketiga yaitu

pengecilan ukuran. Pada tahap ini kulit buah petai di haluskan

menggunakan blender. Tahap keempat yaitu pengayakan. Kulit buah petai

yang sudah diblender lalu di ayak menggunakan ayakan agar terpisah

antara tepung kasar dan tepung halus. Tahap kelima yaitu pembuatan

(19)

dan tepung terigu menggunakan satu variabel, yaitu variasi komposisi

campuran antara tepung terigu dengan tepung kulit petai. Variasi

komposisi tepung yang digunakan adalah perbandingan 1:3 dan 1:2. Hal

ini bertujuan untuk mengetahui variasi mana yang lebih di sukai oleh

panelis.

Kulit Petai

Buah Petai

Tepung Kulit Petai

Gambar 1.Gaftar Alir Kualitatif Proses Pembuatan Tepung Kulit Petai

Tepung Kulit Petai

Tepung Terigu

Cookies Kulit Petai

Gambar 2.Gaftar Alir Kualitatif Proses Pembuatan Cookies Kulit Petai Pemisahan

Penghalusan

Pengayakan Pengeringan

Uji aktivitas antioksidan Pemotongan

Pencampuran

(20)

3.5. Uji Aktivitas Antioksidan

Uji aktivitas antioksidan menggunakan uji DPPH.

3.6 Uji Sensoris

Uji sensoris dilakukan dengan menggunakan uji kesukaan

berdasarkan kesukaan panelis. Terdapat 20 panelis dalam pengujian ini

yang diminta untuk menentukan kesukaannya pada warna, rasa, dan

tekstur. Pengujian warna dilakukan dengan cara melihat warna cookies

dengan indera penglihatan, pengujian rasa dengan cara dirasakan melalui

indera pencecap, dan pengujian tekstur dilakukan dengan indera

penglihatan untuk mengetahui tekstur yang lebih cocok. Tingkat kesukaan

panelis diwakilkan oleh 7 angka kesukaan. Angka 1 (paling rendah)

menunjukkan sangat tidak suka dan angka 7 (paling tinggi) menunjukkan

sangat suka. Dengan metode ini dapat diambil rata-rata. Data uji sensoris

diolah dan digambarkan dalam bentuk tabel. Dalam tabel tersebut dapat

dilihat perbedaan antar sampel. Tujuan uji sensoris adalah untuk

mengetahui apakah cookies kulit petai dapat diterima oleh konsumen yang

(21)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil dan Pembahasan

a) Hasil uji kesukaan parameter sensoris cookies kulit petai.

Tabel dibawah ini menunjukkan hasil dari uji kesukaan parameter

sensoris cookies kulit petai yang diambil rata-rata dari 20 orang panelis.

Sampel (rasio tepung)

Parameter

Warna Rasa Tekstur Keseluruhan

1:2 6,05 4.35 4,35 5,05

Gambar 3. Tabel Hasil Uji Kesukaan Sensoris

Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu

cahaya sempurna (berwarna putih). Warna merupakan petunjuk adanya

perlakuan kimia dalam suatu bahan pangan yang telah mengalami

pemanasan dan akan terlihat nyata dalam perubahan warna (Suyatno,

Basito dan Widowati, 2000). Berdasarkan hasil uji kesukaan cookies

kulit petai didapatkan warna cookies yang paling disukai yaitu cookies

dengan rasio sampel 1:2. Warna cookies dengan rasio control dan 1:3

cenderung agak disukai.

Tekstur adalah salah satu sifat bahan atau produk yang dapat

dirasakan melalui sentuhan kulit ataupun pencicipan. Beberapa sifat

(22)

(berkedip) seperti kehalusan atau kekerasan dari permukaan makanan.

Sedangkan dengan suara/bunyi dapat diperkirakan tekstur tersebut dari

tingkat kegurihan makanan (Busyro, 2013). Berdasarkan hasil uji

kesukaan cookies kulit petai diperoleh tekstur cookies kulit petai yang

paling agak disukai yaitu cookies dengan rasio control, namun cookies

dengan rasio sampel 1:2 dan 1:3 dapat diterima karena masih

dikatagorikan netral.

Rasa menerangkan suatu kesan yang diterima melalui syaraf,

indera pencecap di lidah sebagai hasil dari hadirnya senyawa-senyawa

yang larut dalam air. Secara umum dikenal ada empat rasa utama yaitu

manis, asam, asin, dan pahit, walaupun masih dimungkinkan adanya

kategori rasa lain misalnya gurih, pedas atau yang lain. Kata rasa juga digunakan untuk menerangkan “mutu” dari kesan yang ditimbulkan oleh senyawa-senyawa yang ada dalam makanan atau minuman

(Anonim, 2016). Berdasarkan hasil uji kesukaan cookies kulit petai

didapatkan rasa cookies kulit petai yang disukai yaitu cookies dengan

variasi rasio control, namun cookies dengan rasio sampel 1:2 dan 1:3

dapat diterima karena masih dikatagorikan netral.

Berdasarkan hasil uji kesukaan cookies kulit petai keseluruhan

didapatkan sifat sensoris cookies kulit petai yang paling disukai yaitu

cookies dengan rasio sampel control dengan nilai 5,9. Hasil uji

kesukaan cookies kulit petai dengan rasios ampel 1:2 yaitu 5,05. Hasil

uji kesukaan cookies kulit petai dengan rasio sampel 1:3 yaitu

4,6.Sehingga cookies dengan rasio sampel 1:2 dan 1:3 dapat diterima

konsumen karena nilai hasil uji kesukaan diatas nilai 4 (netral).

b) Hasil Uji Aktivitas Antioksidan

Antioksidan adalah suatu senyawa yang pada konsentrasi rendah

secara signifikan dapat menghambat atau mencegah oksidasi substrat

dalam reaksi rantai ( Halliwell danWhitemann, 2004; Leong dan Shui,

(23)

disebabkan oleh molekul tidak stabil yang dikenal sebagai radikal

bebas.

Berdasarkan hasil analisis diperoleh aktivitas antioksidan sebesar

±53.58845 % RSA (Radical Scavanging Activity). Hasil tersebut

menunjukan bahwa cookies kulit petai memiliki potensi yang besar

untuk mencegah radikal bebas karena antioksidan dalam jumlah sedikit

saja sudah memiliki efek mencegah radikal bebas sehingga dapat

(24)

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan

sebagai berikut :

1. Tekstur dan rasa cookies yang paling disukai adalah cookies dengan

tepung terigu murni.

2. Warna cookies yang lebih disukai adalah cookies dengan tepung kulit

petai.

3. Secara keseluruhan cookies dengan tepung terigu murni memiliki nilai

rata-rata 5,9 sedangkan cookies dengan tepung kulit petai dengan 1:2

dan 1:3 memiliki nilai rata-rata 5,05 dan 4,6 yang artinya ketiga jenis

sampel cenderung agak disukai oleh panelis.

4. Tepung kulit petai memiliki aktivitas antioksidan sebesar ±53.58845%

RSA.

5.2. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan

sebagai berikut :

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai komposisi proksimat

kulit petai sebagai cookies.

2. Perlu dilakukan diversifikasi produk olahan pangan dari kulit petai

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Aden, Z.A 2013.Uji Efektivitas Ekstrak Kulit Petai (Parkia Speciosa Hassk) pada

Mencit Balb/c sebagai Obat Anti-Inflamasi Rheumatoid Arthritis.Skripsi,

Universitas Brawijaya.

Agnes,2013.Ektraksi kulit petai sebagai sumber antioksidan alami

dengan metode domestic. Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol. 11,

No. 5, 2013, 237-242.Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya.

Boekel, M. A. J. S. (1998). Effect of heating on Maillard reactions in Milk.

Food Chemistry Vol. 62(4):403-414.

Boer, Y. 2000. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Buah Kandis (Garcinia

parvifolia Miq). Jurnal matematika dan IPA 1. (1): 26-33.

Gan, Y.C. 2010.Antioxidant Parkia speciosa pod powder as potential

functional flour in food application: Physicochemical properties’

characterization. Journal of Universitas Sains Malaysia.Vol 25.

Gan, Y.C. 2010. Extraction of antioxidative and antihypertensive

bioactive peptides from Parkia speciosa seeds. Journal of

Universitas Sains Malaysia.Vol 141.

Edwards,W.P. 2003. The Science of Sugar Confectionery. The Royal Society

of Chemistry. UK.

Kelebek, H. and S. Selli. 2014. Determination of volatile, phenolic, organic

acid and sugar components in a Turkish cv. Dortyol (Citrus sinensis L.

osbeck) orange juice. J Sci Food Agric. 91:1855-1862.

Kochhar, S.P., dan Rossell, B. 1990. Detection Estimation and Evaluation

of Antioxidant in Food System in Food Antioxidants. Elsevier Applied

Science, London.

Kurniawati,A.D. 2014. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Petai (Parkia

speciosa Hassk.) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan

Staphylococcus aureus. Skripsi fakultas matematika dan ilmu

(26)

Maurilla, M. 2015. Uji Aktivitas antibakteri ekstrak etanol bunga petai

terhadap staphylococcus auereus dan eschericia coli. Skripsi Fakulta

Farmasi. Universitas Santa Dharma.

Maharani, P.D. 2015.Hand Petaizer Pemanfaatan Limbah Kulit Petai

(Parkia Speciosa) Sebagai Hand Sanitazer. Karya Tulis Remaja.

SMA Negeri 1 Yogyakarta.

Permata Sari, Elsa. 2013. Pangan Fungsional. Makalah Pangan

Fungsional (tugas kuliah).

Richa, Y. 2009. Uji Aktivitas Penangkap Radikal dari Ekstrak Petroleum Eter,

Etil Asetat, Etanol Rizhoma Binahong (Anredera cordifolia (Tenore)

Steen) dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrihidrazil). Skripsi

Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Suyatno, H. Basito dan E. Widowati. 2012. Kajian Organoleptik, Aktivitas

Antioksidan, Total Fenol pada Variasi Lama Pemeraman Pembuatan

Telur Asin Ditambah Ekstrak Jahe (Zingiber officinale Roscoe). Jurnal

Teknosains Pangan. 1(1): 2302 0733.

Sri Palupi, Nurheni. 2013. Pangan Fungsional dalam Pola Konsumsi Pangan

untuk Hidup Sehat, Aktif dan Produktif. Jurnal Departemen Ilmu dan

Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian

Bogor.

Tanjaya, A. 2015.Uji aktivitas anti flamasi dan antipiretik eksrtaketanol

biji petai(Parkia speciosa Hassk) pada tikus putihjantan galur wistar.

(27)

Lampiran 1

Prosedur Uji Aktivitas Antioksidan Metode DPPH

Prosedur penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode Kelebek

dan Selli (2011) dengan modifikasi. Sebanyak 3.9 ml larutan DPPH 0.1 mM

dicampur dengan 0.1 ml ekstrak fenolik. Campuran didiamkan di tempat gelap

pada suhu ruang selama 10 menit. Sebagai blanko, dibuat 0.1 ml metanol

ditambahkan dengan 3.9 ml larutan DPPH. Setelah 10 menit campuran dan blanko

ditera pada panjang gelombang 517 nm. Selanjutnya, aktivitas penangkapan

radikal bebas dihitung menggunakan persamaan berikut :

(28)

Panelis A B C

1. Hasil Uji Kesukaan Warna Cookies Kulit Petai

Keterangan :

2. Hasil Uji Kesukaan Tekstur Cookeis Kulit Petai

(29)

3. Hasil Uji Kesukaan Rasa Cookeis Kulit Petai

4. Hasil Uji Kesukaan Keseluruhan Cookeis Kulit Petai

(30)

Lampiran 3

Borang Uji Kesukaan Sampel

BORANG UJI KESUKAAN Metode Scoring Test

Nama Panelis :

Umur :

Jenis kelamin :

Tanda tangan :

Instruksi

1. Ciciplah sampel satu per satu.

2. Pada kolom kode sampel berikan penilaian anda dengan cara

memasukkan nomor ( lihat keterangan yang ada di bawah tabel )

berdasarkan tingkat kesukaan.

3. Netralkan indera pencecap anda dengan air putih setelah selesai

mencicipi satu sampel.

4. Jangan membandingkan tingkat kesukaan antar sampel.

5. Setelah selesai berikan komentar anda pada ruang yang disediakan.

Sampel (rasio tepung)

Parameter

Warna Rasa Tekstur Keseluruhan

(31)

Lampiran 4

Tabel Data Analisis Kuantitatif Aktivitas Antioksidan

Sampel Ulangan 1 Ulangan 2

Tepung Kulit Petai Murni 53,8277 53,3492

(32)

Lampiran 5

Formulir Pendaftaran LKTI 1. Nama Sekolah : MA ALHIKMAH 2 2. Alamat Sekolah : Benda-Sirampog-Brebes 3. Telp/Fax :

Alasan Mengikuti LKTI :

b. Anggota II

Nama : Lisa Nurhaliza Saumi

NIS : 8287

Kelas : XII

Alasan Mengikuti LKTI :

c. Anggota III

Nama : Nanda Nurfadilah

NIS : 8292

Kelas : XII

Alasan Mengikuti LKTI :

5. Pembimbing

Nama : Ganjar Basuki S.TP

NIP : -

No. HP : 0857 8679 4009

6. Judul Karya Tulis : “PEMANFAATAN KULIT PETAI(Parkia

speciosa) SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL MENJADI TEPUNG

MELALUI PEMBUATAN COOKIES”

Brebes, 19-November-2016

Ketua Kelompok

Maulana Aji

(33)

Lampiran 6

Dokumentasi Penelitian

Pemotongan Penimbangan Pengeringan

Pengecilan Ukuran Pengayakan Pencampuran Tepung

Persiapan Bahan-bahan Pembuatan Adonan Pemanasan (oven)

(34)

Gambar

Gambar 2.Gaftar Alir Kualitatif Proses Pembuatan Cookies Kulit Petai
Tabel Data Analisis Kuantitatif Aktivitas Antioksidan

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, segala saran dan kritik membangun dari semua pihak sangat diharapkan demi pengembangan penelitian dan kesempurnaan skripsi ini.. Akhir kata, penulis

[r]

Dari hasil analisis risiko tersebut didapatkan hasil dokumentasi risiko teknologi informasi dan rekomendasi penanganan risiko dalam aspek personil yaitu penambahan

Lebih lanjut, Integrasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) juga dapat dilakukan dengan mengintegrasikan nilai- nilai

Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot,

Berdasarkan data tersebut, menunjukkan di Provinsi Lampung tingkat kecacatan penderita kusta baru dan penderita kusta pada usia anak masih tinggi (>

Pria, 61 tahun datang ke poli penyakit kulit dan kelamin dengan keluhan utama berupa timbul rasa gatal disertai dengan panas sejak 5 hari yang lalu. Keluhan yang dirasa muncul

Dengan memodelkan pembangkit microhydro ke dalam bentuk transformasi laplace pada Gambar 3, maka dapat dilakukan simulasi sederhana aplikasi kontrol Fuzzy PIPD untuk mengatur