• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Komunikasi POKDARWIS Kelompok S

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Strategi Komunikasi POKDARWIS Kelompok S"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Strategi Komunikasi POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata)

Lasem Untuk Menaikkan Jumlah Wisatawan

Disusun Oleh :

Greatdy Jevinson

602013003

Dosen Pembimbing :

George Nicholas Huwae, S.Pd, M.I.Kom

S1 Public Relations

Fakultas Teknologi Informasi

Universitas Kristen Satya Wacana

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Lasem merupakan sebuah kecamatan yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Walaupun demikian, Lasem merupakan kota kecil yang mempunyai banyak warisan sejarah terutama sejarah yang berasal dari dinasti Laksamana Ceng Ho, dimana Lasem merupakan pusat berlabuh kapal China untuk mendaratkan “candu” atau narkotika pada jaman dahulu. Oleh karena itu Lasem sangat kental dengan budaya Cina nya dan mendapat julukan “Tiongkok Kecil”.

“Brand Awareness adalah kemampuan pembeli potensial untuk mengenali atau mengingat bahwa sebuah merk merupakan anggota dari kategori produk tertentu” (rajapresentasi.com). Persaingan dalam dunia pariwisata saat ini makin ketat dengan muncul nya POKDARWIS ( Kelompok Sadar Wisata ) di hampur seluruh wilayah terutama di Provinsi Jawa Tengah hingga pemerintah provinsi mengadakan lomba Pokdarwis untuk wilayah Jawa Tengah. Hal ini tentu vertujuan untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang berwisata dan tentunya untuk menaikkan perekonomian suatu daerah. Namun walaupun demikian hanya sedikit di wilayah Jawa Tengah yang mampu mencapai level Top Of Mind dalam teori Brand Awareness. Top Of Mind adalah kondisi suatu merk atau apa yang akan kita jual hingga berhasil melekat dalam benak masyarakat ketika mengingat salah satu produk atau jasa dimana masyarakat menjadikannya pilihan utama dalam hal ini untuk berwisata.

(3)

dibandingkan dengan Jepara, Karimun Jawa, Semarang, dan kota lainnya yang berada di Jawa Tengah dikarenakan kurang dikenalnya Lasem di masyarakat.

Untuk meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Lasem, Pokdarwis hadir untuk membantu menarik wisatawan berkunjung ke Lasem. Salah satunya adalah dengan cara mebentuk kepanitian atau susuna organisasi Pokdarwis dimana tiap bidang mempunyai tanggung jawabnya masing-masing untuk menarik wisatawan datang berkunjung. Salah satu carta yang di gunakan adalah menggunakan media sosial Instagram dengan aku @kesengsemlasem yang dikelola oleh admin dimana bertugas untuk meng-upload foto-foto tentang Lasem dimana di kemas sedemikian rupa untuk menarik wisatawan. Selain itu hadir juga Rumah Merah yang merupakan rumah kuno etnis Tionghoa milik ketua Pokdarwis Bp. Rudi yang sudah di renovasi dan di beri sentuhan warna serba merah namun tetap asli yang dimana rumah ini dijakdikan pusat kunjungan dan penginapan bagi para wisatawan juga menjadi tempat penjualan souvenier, batik, kopi dan beberapa makanan atau minuman khas dari Lasem. Selain itu Pokdarwis juga menyediakan beberapa guide untuk wisatawan yang berlibur dengan harga sangat terjangkau, namun tidak hanya itu Pokdarwis juga menyediakan jasa “Susur Sungai” dimana akan disediakan perahu untuk wisatawan yang tentunya dengan panduan guide jika ingin melihat jalur sungai Lasem yang di gunakan untuk menyelundupkan candu dari Tiongkok.

1.2Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis paparkan diatas, masalah dapat diidentifikasi sebagi berikut :

(4)

bilang melalui Instagram, respons dari masyarakat cukup bagus dilihat dari jumlah followers dan jumlah like.

1.3Pembatasan Masalah

Pokdarwis Lasem yang menjadi tumpuan untuk menarik wisatawan dan memperkenalkan Lasem ke masyarakat agar menjadi Top of Mind and First Choice dalam bidang pariwisata di Jawa Tengah belum mampu mendongkrak Lasem agar lebih menjadi pilahan utama para wisatawan untuk berwisata ke Lasem.

1.4Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di jelaskan diatas, rumusan masalah yang dapat di rumuskan adalah :

Bagaimana peran Pokdarwis Lasem untuk lebih meningkatkan kesadaran masyarakat tentang Lasem dan bagaimana menjadikan Lasem sebagai pilihan utama wisata di Jawa Tengah?

1.5Tujuan Penelitian

Tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah untuk menganalisa program apa yang akan dilakukan oleh Pokdarwis Lasem untuk meningkatkan jumlah wisatawan dan menjadikan Lasem menjadi pilihan utama para wisatawan.

1.6Manfaat Penelitian

1.6.1 Manfaat teoritis

(5)

1.6.2 Manfaat praktis

1.6.2.1 Bagi Pokdarwis Lasem

Dapat digunakan oleh Pokdarwis Lasem untuk menaikkan Lasem menjadi tujuan wisata utama di Jawa Tengah dan menaikkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Lasem.

1.6.2.2 Bagi masyarakat

- Wisatawan bisa lebih mengenal Lasem dan menjadikan Lasem pilhan utama ketika berwisata ke Jawa Tengah

- Menaikkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat di Lasem lewat bidang pariwisata.

1.6.2.3 Bagi penulis

Sebagai sarana untuk menambah potensi diri dalam bidang menjadikan suatu produk atau jasa menjadi Top of Mind and First Choice.

1.6.2.4 Bagi peneliti lainnya

(6)

BAB II

LANDASAN TEORI

(7)

2.1.1.1Konsep teori Public Relations, Brand Awareness, Strategi Komunikasi, Marketing.

Konsep Public Relation

Public Relations atau hubungan masyarakat senantiasa berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang diharapkan akan muncul suatu dampak perubahan yang positif setiap hari. Menurut Frank Jeffkins, Public Relations merupakan rangkuman kegiatan komunikasi yang terencana, baik kedalam maupun keluar, antara organisasi dengan publiknya dalam rangka mencapai tujuan tertentu yang dilandaskan pada saling pengertian ( Public Relations And Customer Service, Susatyo Herlambang, SE.,MM. ). Dalam hal ini Public Relations mempunya definisi bahwa konsep dasar dari ilmu tersebut adalah untuk menjalin hubungan baik termasuk kerjasama dimana hubungan atau kerjasama tersebut mempunyai tujuan yang sama antara kedua belah puhak atau lebih.

Tujuan serta fungsi Public Relation

Tujuan dari public relations adalah mewujudkan hubungan yang harmonis atau menciptakan opini public yang favorable baik internal maupun eksternal.

Adapun fungsi dari Public Relations menurut Bettrand R adalah sebagai berikut:

 Mengabdi kepada kepentingan umum

Jika tidak untuk kepentingan publik baik itu internal maupun eksternal, maka tidak mungkin akan tercipta suatu hubungan yang menyenangkan. Sebaliknya suatu organisasi / perusahaan akan dapat sukses apabila segala tindakannya adalah sebagai pengabdian kepada kepentingan umum.

 Memelihara komunikasi yang baik

(8)

hubungan dinas tetapi juga diluar dinasnya. Misalnya dengan mengadakan pertandingan olahraga, kegiatan kerjasama dan lain – lain.

 Menitik beratkan kepada norma dan tingkah laku yang baik

Seorang pemimpin yang baik dalam tingkah lakunya akan menitik beratkan kepada moralitas, ia juga akan mempunyai wibawa apabila tidak cacat moral dan tingkah lakunya. Ia harus menjadi teladan bagi bawahannya.

2.1.2 Teori Brand Awareness

Merk adalah nama, istilah, symbol, tanda, atau perpaduan dari hal tersebut. Sehingga merk merupakan wakil dari sebuah produk barang maupun jasa yang tentunya melalui merk, apa yang kita jual dapat diingat oleh masyarakat. Tujuan pemberian merk adalah untuk memberikan identitas kepada produk barang atau jasa yang kita jual, sehingga akan membedakan dengan produk kompetitor lainnya. Untuk membuat masyarakat mengingat produk barang atau jasa yang kita jual, kita membutuhkan Brand Awareness dimana brand awareness ini akan menjadi penentu apakah masyarakat sadar akan hadirnya produk yang kita jual atau tidak.

Menurut Durianto (2004:30), Brand Awareness dapat dibangun dan diperbaiki melalui cara-cara berikut :

 Pesan yang disampaikan oleh suatu merk harus mudah diingat oleh konsumen

 Pesan yang disampaikan harus berbeda dengan produk lainnya serta harus ada hubungan antara merk dengan kategori lainnya

(9)

Brand Awareness dapat diperkuat dengan memakai suatu isyarat yang sesuai dengan kategori produk, merk, maupun keduanya

 Melakukan pengulangan untuk meningkatkan, karena membentuk ingatan adalah lebih sulit dibandingkan membentuk pengenalan Menurut jurnal Naning Damayanti, Funny Mustikasari E., dan Uud Wahyudin yang di muat di dalam : Menurut jurnal Naning Damayanti, Funny Mustikasari E., dan Uud Wahyudin yang di muat di dalam : (http://download.portalgaruda.org/article.php?

article=103523&val=1378&title=Hubungan%20Antara%20Brand

%20Awareness%20Dengan%20Motivasi%20Pembelian). Dikemukakan bahwa Brand Awareness adalah titik dimana konsumen mulai tahu akan suatu produk, oleh karena itu brand awareness akan menentukan apakah produk itu dikenal atau tidak. Brand awareness merupakan langkah awal dari setiap konsumen untuk tahu akan keberadaan suatu produk.

Dalam buku The Complete Idiot’s Guide to Brand Management” Karya Patricia F. Nicolina mengemukakan bahwa “Brand is the whole business process of choosing, what kind of value, and what kind of identifiable components the entity will have”. Berdasarkan pendapat tersebut, makin memperjelas bahwa brand awareness merupakan kunci dimana apa yang akan kita jual dapat dikenal oleh masyarakat atau tidak. Brand awareness juga menjadi penentu apakah produk yang kita tawarkan kepada masyarakat lebih unggul dari produk kompetitor yang tentunya menawarkan produk barang atau jasa yang sejenis dengan apa yang kita tawarkan

2.1.3 Teori Strategi Komunikasi

Menurut Onong Uchjana Effendi dalam buku berjudul “Dimensi-dimensi Komunikasi” (1986) menyatakan bahwa :

(10)

untuk mencapai suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda sewaktu-waktu tergantung dari situasi dan kondisi”.

Sedangkan menurut Anwar Arifin dalam buku ‘Strategi Komunikasi’ menyatakan bahwa : Sesungguhnya suatu strategi adalah keseluruhan keputusan kondisional tentang tindakan yang akan dijalankan, guna mencapai tujuan. Jadi merumuskan strategi komunikasi, berarti memperhitungkan kondisi dan situasi (ruang dan waktu) yang dihadapi dan yang akan mungkin dihadapi di masa depan, guna mencapai efektivitas. Dengan strategi komunikasi ini, berarti dapat ditempuh beberapa cara memakai komunikasi secara sadar untuk menciptakan perubahan pada diri khalayak dengan mudah dan cepat. (1984 :10).

2.1.4 Teori Marketing (Pemasaran)

Menurut Phillip Kotler (2001), “pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan pada usaha untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan melalui proses pertukaran”, Kotler, Phillip dan A.B. Susanto, Manajemen Pemasaran di Indonesia, Jakarta: Salemba Empat, 2001, hlm. 215. Dengan demikian, berdasarkan pendapat dari Kotler, pemasaran lebih terfokuskan kepada usaha untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan pribadi melalui proses pertukaran sehingga apa yang menjadi kebutuhan atau keinginan dapat terpenuhi secara pribadi.

(11)

pada perencanaan yang benar-benar matang yaitu secara efisien dalam penggunaan sumber daya dan efisien saat pendistribusian sehingga sangat memperhitungkan untung dan rugi dimana tujuan utamanya adalah supaya apa yang kita jual atau pasar kan tidak mengalami kerugian.

Dari kedua pendapat diatas, dapat penulis tarik kesimpulan bahwa pemasaran merupakan kegiatan pendistribusian barang atau jasa dimana saat menggunakan sumberdaya yang ada harus secara efisien dengan melakukan banyak pertimbangan dan melakukan survey di lapangan agar mempermudah perencanaan pendistribusian. Selain itu pemasaran dilakukan untuk tujuan mendapatkan apa yang kita inginkan dalam artian melakukan pemasaran mempunyai tujuan supaya apa yang kita ingin dan butuhkan dapat terpenuhi melalui kegiatan pemasaran tersebut.

Selain itu penulis mengutip dari buku milik Philip Kotler yang tertuang dalam Marketing Management, Analysis, Planning and Control (1984 : 27)

mengatakan ada 5 tahapcara mempelajari pemasaran yaitu :

Marketing is Advertising, Sales Promotion and Publicity : Pemasaran hendaknya tidak melupakan iklan dimana harus adanya susunan perencanaan pemasaran yang jelas beserta anggaran dan promosi seperti apa yang akan digunakan untuk menarik koncsumen

(12)

kepada wisatawan demi kenyamanan kepada konsumen atau target market kita.

Marketing is Innovations : Pemasaran harus mempunyai perkembangan tiap saat yang ditujukan untuk menarik konsumen dan memberikan perbedaan yang lebih baik dibandingkan dengan pihak pesaing kita. Tiap inovasi baru yang kita berikan akan menarik calon konsumen untuk lebih memilih apa yang kita tawarkan dibandingkan dengan pesaing.

Marketing is Positioning : Apabila semua sudah dilakukan dengan benar namun kita tidak melakukannya di tempat yang tepat, lalu bagaimana apa yang kita tawarkan atau kita jual akan dikenal? Disinilah peran penempatan iklan, program promosi, sales, dan segala usaha yang kita lakukan akan menentukan apakah apa yang kita jual bisa dilihat oleh publik. Sebagai contoh kita harus mempunyai slogan dimana slogan bisa melambangkan dan mencerminkan apa kelebihan produk atau jasa yang kita tawarkan lebih baik dibandingkan dengan pihak pesaing.

(13)

konsumen dengan saingan kita selain kualitas, dan yang terakhir ada analisis distribusi yang dimaksud adalah bagaimana kita mendistribusikan barang yang kita jual seperti membuka cabang, namun dalam hal ini penulis mempunyai pandangan sendiri sesuai topik yaitu bagaimana kita bisa mendistribusikan informasi tentang wisata yang Lasem miliki sehingga semua masyrakat bisa mengetahui tentang wisata yang ada di Lasem tanpa terkecuali.

2.1.5 Teori Pariwisata Sebagai Suatu Industri

(14)
(15)

terpenuhi selanjutnya menuju wisata kuliner atau ketersediaan makanan dan minuman khas yang bisa dinikmati oleh wisatawan. Apabila tidak memiliki makanan atau minuman khas, cukup dengan memberi rekomendasi tempat wisatawan untuk makan dan minum. Selanjutnya adalah ketersediaan pusat oleh-oleh dimana tentu wisatawan ingin membawa oleh-oleh dari tempat wisata untuk dibawa pulang, hal ini merupakan hal yang penting karena bisa dipastikan walaupun makanan atau minumannya tidak cocok untuk wisatawan, para wisatawan pasti akan mencari pusat oleh-oleh. Lalu yang terakhir adalah pihak wisata harus menyediakan kegiatan yang ditujukan untuk berwisata seperti : mengajak wisatawan untuk membuat oleh-oleh khas dari daerah tersebut, mengajak wisatawan untuk berkunjung ke pusat-pusat wisata yang ada, atau bahkan bisa membuka peluang bisnis untuk wisatawan yang datang juga untuk melihat potensi bisnis.

Dari hal diatas itulah mengapa di zaman modern ini pariwisata bisa di jadikan atau digolongkan sebagai usaha industri yang bisa menghasilkan atau menguntungkan suatu daerah dengan pendapatan daerah untuk memajukan daerah tersebut.

2.1.6 Strategi Komunikasi Pemasaran Pariwisata (SKPP) Indonesia

(16)

1. Grand Strategy

Grand strategy yaitu struktur atau kerangka utama pembangunan pemasaran yang ditulis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Kemudian diuraikan dalam Rencana Strategi (RENSTRA) tahun 2005-2009dan kemudian disusun secara lebih terarah dalam strategi komunikasi pemasaran pariwisata Indonesia tahun 2009. Grand Strategy ini menjadi Kerangka Umum Pembangunan Pariwisata di Indonesia.

2. Pull dan Push Strategy

Merupakan salah satu strategi komunikasi pemasaran yang banyak digunakan oleh berbagai kantor pemerintah dan swasta yang mengurus tentang pariwisata di Indonesia.

a. Pull Strategy (Strategi Menarik)

Pull Strategy merupakan strateki komunikasi pemasaran yang mempunyai tujuan menarik wisatawan secara langsung dari pemasaran dengan meningkatkan kesadaran dan kehendak untuk datang berkunjung. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran dan kehendak untuk berkunjung dan diharapkan dapat memperkuat kedudukan destinasi pariwisata tersebut sebagai pilihan utama untuk wisatawan. Untuk lebih efektif maka strategi ini cenderung menggunakan media elektronik dan media cetak lokal untuk mempromosikan destinasi pariwisata tersebut yang bertujuan untuk menambah jumlah wisatawan tiap tahunnya.

b. Push Strategy (Strategi Menolak atau Mendorong)

(17)

pariwisata. Hal ini ditujukan kepada masyrakat atau pemerintah setempat untuk membantu pengenalak destinasi wisata di daerahnya sendiri berupa pertemuan dengan pemerintah daerah lain, pengadaan bahan promosi, kerjasama promosi, dan kemudahan l;ainnya untuk mendatangkan wisatawan. Strategi ini digunakan apabila anggaran yang dimiliki terbatas, sehingga promosi melalui mendia elektronik dan cetak bisa diminimumkan untuk menghemat anggaran.

3. Strategi Penetrasi

Strategi ini mempunyai prinsip menghemat dana namun mempunya dampak yang sangat besar. Strategi ini biasa digunakan untuk destinasi wisata baru yang belum dikenal dengan memanfaatkan strategi paket promo dimana memberikan potongan harga murah untuk wisatawan yang akan berkunjung dengan batas waktui tertentu. Dengan strategi ini tentunya akan menarik calon wisatawan untuk datang berkunjung terutama untuk wisatawan dengan anggaran yang terbatas. Selain dengan cara itu bisa juga dengan membentuk komunitas yang bisa membantu mempromosikan daerah destinasi wisata baru yang tentunya apabila terbentuk komunitas maka akan mendapatkan promosi secara gratis dari komunitas tersebut yang dapat membantu untuk mengenalakan destinasi wisata baru yang kita miliki.

4. Strategi Penyerangan Tidak Langsung

(18)

memanfaatkan sejarah yang dimiliki oleh destinas wisata kita yang tentu harus dikemas secara menarik untuk dipertunjukkan kepada wisatawan.

5. Strategi Komunikasi Pemasaran Gerilya

Apabila dana pemasaran relatif sedikit, maka strategi ini bisa dibilang ampuh untuk memperkenalkan destinasi pariwisata yang kita miliki yaitu dengan meluncurkan serangan kecil yang terputus-putus di berbagai wilayah pemasaran pesaing destinasi wisata kita dengan tujuan untuk memperoleh tempat berpijak bagi destinasi wisata kita. Strategi ini dibungkus dengan mengadakan paket promosi wisata yang kita miliki yang dimana wisatawan bisa membandingkannya dengan destinasi wisata pesaing kita, contohnya adalah untuk program pertama mengadakan paket promosi wisata dengan harga miring dibanding dengan pesaing lalu kita kejutkan denga promo susulan seperti adanya undian bagi wisatawan yang berkungjung dengan hadiah seperti gratis menginap 1 malam atau jamuan makan malam secara eksklusif bagi npemenang undian.

6. Strategi Market Nicher (Strategi Celah Pasar)

(19)

manusia yang unggul atau yang benar-benar mengenal daerah kita sehingga akan memudahkan wisatawan apabila bertanya kepada warga. Dan yang terakhir adalah bagaimana kita bisa bekerjasama dengan pemerintah apabila kita merupakan pengelola swasta. Dalam hal ini pemerintah bisa membantu dalam penyediaan tempat atau lokasi. Contoh penyediaan lokasi pentas seni apabila daerah kita memiliki keunikan dalam hal seni tradisional yang tidak dimiliki pesaing kita.

7. Competitive Strategy

Strategi ini sendiri memiliki 3 elemen penting yaitu :

a. Differentiation Strategy

Strategi ini sangat penting karena terkait dengan grand strategy diatas dikarenakan apabila destinasi wisata yang kita miliki mempunyai banyak keanekaragaman produk atau tujuan wisata dan perbedaan keunikan produk. Keunikan tidak hanya bisa kita dapatkan atau terapkan dari produk namun juga dari pelayanan terhadap wisatawan. Kunci pembeda produk adalah karya seni yang bisa kita jual namun akan lebih menarik apabila kita memiliki pelayanan yang berbeda dari pesaing seperti perbedaan kebudayaan tidap masyarakat lokal perdaerah yang kita miliki. Apabila kita memiliki banyak daerah atau desa diamana tentunya tiap daerah mempunyai pelayanan yang berbeda seperti kebudayaannya, karya seni bahkan pelayanan atau dekorasi tempat penginapan tentunya akan lebih menarik wisatawan. Selain itu apabila suasana tiap daerah lokal berbeda tentu akan lebih menarik lagi dimana tiap daerah atau desa mempunyai kekhususannya sendiri.

(20)

Strategi ini terfokus pada kondisi geografis yang kita miliki. Fokus pada potensi pasar berdasarkan kondisi geografis yang dimana bisa kita manfaatkan untuk menjadi bahan pemabanding dengan pesaing untuk pesaing.

c. Horizontal Marketing

Strategi ini merupakan strategi baru yang bisa kita adopsi dari KEMENBUDPAR dimana dibagi menjadi horizontal offline dan online. Offline melalui intimacy, yaitu dengan melakukan pendekatan terhadap komunitas pariwisata yang ada dimana sudah dijelaskan diatas bahwa komunitas pariwisata sangat membantu dalam strategi pemasaran destinasi wisata, yang akan dilakukan adalah untuk membuat kesaksian tentang destinasi wisata yang kita miliki, dimulai dari tempat tujuan wisata yang kita miliki beserta keunggulannya, produk khas yang kita miliki, kebudayaan khusus yang hanya kita miliki. Sedangakan apabila online lebih menggunakan media teknologi informasi, komunitas internet seperti blog, facebook, maillist, email, bahkan website resmi dimana kita bisa memberikan informasi lengkap tentang destinasi pariwisata yang kita miliki (Tim DJP Depbudpar, 2009).

(21)

BAB III

(22)

Metode penelitian yang akan penulis kaji adalah permasalahan yang bersifat social dan dinamis. Sehingga, penulis memilih untuk menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menentukan cara mencari, mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data hasil penelitian. Penelitian kualitatif tersebut dapat digunakan untuk memahami interaksi sosial, misalnya dengan teknik wawancara sehingga akan ditemukan pola-pola yang jelas.

3.2 Penelitian Kualitatif

Menurut beberapa ahli, definisi penelitian kualitatif ada berbagai pendapat dan padangan, Penelitian yang memberi gambaran secara cermat mengenai individu atau kelompok tertentu tentang keadaan dan gejala yang terjadi (Koentjaraningrat, 1993:89). Menurut Moleong (2007:6), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Menurut Bogdan dan Taylor (1975) dalam buku yang ditulis oleh Moleong (2007:4) menyatakan bahwa “metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati”. Subjek dan Objek Penelitian Subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh penulis. Objek penelitian adalah obyek yang dijadikan penelitian atau yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah masyarakat yang mempunyai potensi sebagai calon wisatawan dengan fokus di Salatiga. Sedangkan yang menjadi objek penelitian yaitu strategi komunikasi Pokdarwis Lasem untuk menarik wisatawan berkunjung.

3.3 Informan Penelitian Dalam penelitian kualitatif

(23)

menggunakan istilah populasi sebagai sub berbeda dengan penelitian Kuantitatif yang menggunakan istilah populasi sebagai subek penelitian, dalam penelitian kualitatif tidak digunakan istilah populasi. Teknik sampling yang digunakan oleh penulis adalah purposive sample. Dimana teknik ini penulis gunakan dengan pertimbangan penulis saat ini bertempat tinggal di Salatiga sehingga memudahkan untuk melakukan penelitian secara wawancara.

Selanjutnya menurut Arikunto (2010:183) pemilihan sampel secara purposive pada penelitian ini akan berpedoman pada syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai berikut :

3.3.1 Pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu, yang merupakan ciri-ciri pokok populasi. 3.3.2 Subjek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan

subjek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi (key subjectis).

3.3.3 Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan cermat di dalam studi pendahuluan.

Berdasarkan apa yang telah di jelaskan diatas, pemilihan sample untuk penelitian merupakan kunci sukses atau tidaknya suatu penelitian. Dalam hal ini, penulis mengambil sample dengan memilih potensi populasi yang akan dijadikan sample seperti mahasiswa dimana kalangan mahasiswa menyimpan potensi sebagai calon wisatawan di karenakan di dalam lingkungan mahasiswa penulis, banyak sekali mahasiswa yang sangat berminat untuk berwisata bahkan di Salatiga sendiri minat berwisata cukup tinggi dengan banyaknya tempat yang menyewakan alat untuk berkemah maupun berwisata. Karena alasan itulah maka sampe yang diambil oleh penulis akan lebih banyak dari golongan mahasiswa.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

(24)

mahasiswa dari berbagai jurusan dan angkatan, selain itu juga akan mengambil beberapa sample dari masyarakat yang mampu secara ekonomi dan mempunyai potensi sebagai wisatawan. Hal ini dikarenakan penulis ingin mengetahui apakah strategi komunikasi dari program-program promosi Pokdarwis Lasem tentang wisata apa saja yang ada Lasem sudah berjalan dengan baik atau belum.

Setelah mendapatkan beberapa responden yang bersedia untuk diwawancara, penulis akan mulai mengumpulkan data dengan memulai proses wawancara tentang pengetahuan responden tentang Lasem dan apakah responden sudah mengetahui bahwa Lasem mempunyai potensi wisata yang cukup banyak dan bersejarah. Selain itu penulis juga akan menanyakan apakah responden sudah mengetahui program-program Pokdarwis Lasem untuk mempromosikan Lasem lewat media sosial, website resmi dan event-event yang sudah di gelar atau akan di gelar oleh Pokdarwis Lasem demi memajukan pariwisata di Lasem. Hal ini di gunakan untuk mencari titik lemah dari program yang sudah di jalankan oleh Pokdarwis Lasem.

3.5 Sumber Data dalam Penelitian

3.5.1 Data Primer, adalah data yang didapatkan penulis dari pengurus Pokdarwis Lasem dan hasil wawancara dari beberapa responden yang telah di wawancara oleh penulis saat mulai proses pengumpulan data

3.5.2 Data sekunder, adalah data yang diperoleh dari teknik pengumpulan data yang menunjang data primer. Dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh penulis serta dari studi pustaka. Dapat dikatakan data sekunder ini bisa berasal dari dokumen-dokumen grafis seperti tabel, catatan, SMS, foto dan lainlain (Arikunto, 2010:22).

(25)

Berdasarkan pendapat dari Bognan & Biklen (1982) sebagaimana yang telah dikutip oleh Moleong (2007:248), teknik pengumpulan data kualitatif adalah “upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceriterakan kepada orang lain”. Berdasarkan apa yang telah di ungkapkan oleh Bognan & Biklen diatas, teknik kualitatif ini bekerja atau dimulai dengan mengumpulkan data yang akan digunakan debagai dasar dari penelitian yang akan dilanjutkan dengan menyusun data yang telah di dapatkan sehingga akan lebih mudah untuk mencari titik permasalahan yang diteliti, setelah mendapatkan kelompok-kelompok hasil data wawancara tersebut kita akan menemukan pola permasalahan yang dihadapi dan bisa mempelajari masalh yang ada dengan lebih mudah setelah di kelompok-kelompokan, juga akan mempermudah untuk mencari solusi dari permasalahan yang sudah terpapar yang pada akhirnya akan berujung untuk di presentasikan di hadapan orang banyak. McDrury ( Collaborative Group Analysis of Data, 1999 ) yang selanjutnya dikutip oleh Moeloeng (2007:248) menyatakan bahwa tahapan analisis data kualitatif adalah sebagai berikut:

3.6.1 Membaca/mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data

3.6.2 Mempelajari kata-kata kunci itu, berupaya menemukan tema-tema yang berasal dari data.

3.6.3 Menuliskan ‘model’ yang ditemukan.

3.6.4 Koding yang telah dilakukan. Analisis data dimulai dengan melakukan wawancara mendalam dengan informan kunci, yaitu seseorang yang benar-benar memahami dan mengetahui situasi obyek penelitian

(26)

tanpa ada proses editing, penulis akan mulai membaca dan menganalisa dengan teliti hasil dari wawancara yang telah penulis lakukan untuk kemudian dilakukan reduksi data atau pengurangan data dengan hanya mengumpulkan informasi-informasi yang dibutuhkan saja untuk memulai proses analisa permasalahan. Penulis membuat reduksi data dengan cara membuat abstraksi, yaitu mengambil dan mencatat informasi-informasi yang bermanfaat sesuai dengan konteks penelitian. Hasil yang sudah di dapatkan kemudian akan di jadikan beberapa kelompok berdasarkan permasalahan apa yang sesuai dengan apa yang akan di teliti dan akan di bagi berdasarkan analisis taksonomi dan analisis domain.

Menurut Sugiyono dalam buku “Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif” (2009:255), analisis domain adalah memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh dari obyek/penelitian atau situasi sosial. Penulis memperoleh domain ini dengan cara melakukan pertanyaan grand dan minitour. Sementara itu, domain sangat penting bagi penulis, karena sebagai pijakan untuk penelitian dipertanggungjawabkan penelitiannya. Kredibilitas penelitian kualitatif adalah keberhasilan mencapai maksud mengeksplorasi masalah yang majemuk atau keterpercayaan terhadap hasil data penelitian. Upaya untuk menjaga kredibiltas dalam penelitian adalah melalui langkah-langkah sebagai berikut (Sugiyono, 2009:270-276) :

3.8.1 Perpanjangan pengamatan penulis kembali lagi ke lapangan

untuk melakukan pengamatan untuk mengetahui kebenaran data yang telah diperoleh maupun untuk menemukan data-data yang baru.

3.8.2 Meningkatkan ketekunan Melakukan pengamatan secara

(27)

ketekunan tersebut, maka penulis akan melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan salah atau tidak.

3.8.3 Triangulasi Pengecekan data dari berbagai sumber dengan

berbagai cara, dan berbagai waktu.

3.8.4 Analisis kasus negative, penulis mencari data yang berbeda

atau yang bertentangan dengan temuan data sebelumnya. Bila tidak ada lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya.

3.8.5 Menggunakan bahan referensi

Bahan referensi yang dimaksud adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh penulis. Sebagai contoh, data hasil wawancara perlu didukung dengan adanya rekaman wawancara.

3.8.6 Mengadakan member check

Referensi

Dokumen terkait

Dengan melihat adanya masalah seperti yang sudah dijelaskan diatas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “ Penerapan Kolaborasi Strategi

Strategi komunikasi dalam kampanye HIV/AIDS yang digunakan oleh duta Ikatan Waria Malang ialah melalui pendekatan Interpersonal, dimana dalam pendekatan ini,

Sesuai dengan penjelasan diatas, peneliti akan melakukan penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dimana peneliti akan terjun langsung ke lapangan

Sebetulnya apa yang dilakukan dinas kepemudaan olahraga kebudayaan dan pariwisata kota Tasikmalaya sudah baik, tetapi ada beberapa perencanaan dan strategi komunikasi

Dalam konsep strategi komunikasi pemasaran TelkoMedika melalui Personal Selling yang sudah dijelaskan oleh ibu Magdelena dan ibu zulfa bahwa TelkoMedika menerapkan

meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat secara umum. Oleh karena itu, untuk materi RPJMN 2015 – 2019 yang sudah ada, Direktorat TRP akan melakukan strategi komunikasi

Melalui beberapa kutipan wawancara diatas, peneliti menarik kesimpulan bahwa strategi pemasaran digital yang telah dijalankan oleh tripvisto dengan melakukan 3 hybird dalam

Melalui uraian diatas, penulis tertarik untuk menggali lebih dalam tentang bagaimana Badan Pelaksana Otorita Danau Toba mengembangkan potensi Pariwisata Danau Toba melalui strategi