MAKALAH NEUROBEHAVIOUR 2
“Asuhan Keperawatan pada Pasien Anak dengan Meningitis, Ensefalitis, dan Abses Otak”
Dosen Pembimbing: Ilya Krisnana, S.Kep. Ns., M.Kep
Oleh Kelompok 1
Mardhatillah Syauqina Putri 131411131022 Rahendra Wahyu Ananda 131411131046
Retty Merdianti 131411131064
Ainun Sa’ananiyah 131411131097 Bella Nabila Wijaya Krisnawan 131411133020
Kelas A1
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah-NYA sehingga kita semua dalam keadaan sehat walafiat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Penyusun juga memanjatkan kehadiran ALLAH SWT, karena hanya dengan kerido’an-NYA makalah Neurobehaviour 2 dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Pasien Aanak dengan Meningitis, Ensefalitis, dan Abses Otak” ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, makalah ini tidak akan terwujud dan masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis berharap saran dan kritik demi perbaikan-perbaikan lebih lanjut.
Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.
Surabaya, 10 Maret 2016
(Penulis)
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL...i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Tujuan...1
1.3 Manfaat...2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...3
2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI...3
2.2 MENINGITIS...7
2.3 ENSEPHALITIS...19
2.4 ABSES OTAK...30
BAB III TUMBUH KEMBANG DAN PERAN ORANG TUA DENGAN ANAK MENINGITIS, ENSEPHALITIS, DAN ABSES OTAK...46
BAB IV PENUTUP...47
4.1 Kesimpulan...47
4.2 Saran...47
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu : duramater, arakhnoid, dan piamater. Cairan otak dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel bergerak/mengalir melalui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari-jari di dalam lapisan subarachnoid.
Penyakit infeksi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di negara- negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan karena masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh seseorang. Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur yang dapat terjadi di masyarakat maupun di rumah sakit. Pasien yang sedang dalam perawatan di rumah sakit memiliki resiko lebih besar untuk tertular infeksi daripada di luar rumah sakit.
Dalam makalah ini kami membahas tiga penyakit infeksi pada anak yaitu meningitis, ensephalitis, dan abses otak. Meningitis adalah peradangan pada meningeal otak dan sumsum tulang belakang. Ensephalitis adalah peradangan pada jaringan otak. Sedangkan abses otak adalah kumpulan nanah yang menempati ruang-dalam otak.
1.2 Tujuan
a) Tujuan Umum
Setelah proses perkuliahan ini diharapkan mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan infeksi meningitis, ensephalitis, dan abses otak.
b) Tujuan Khusus
Mahasiswa diharapkan mampu:
1) Menjelaskan definisi dari meningitis, ensephalitis, dan abses otak. 2) Menyebutkan etiologi terjadinya meningitis, ensephalitis, dan abses
otak.
3) Menyebutkan manifestasi klinis dari meningitis, ensephalitis, dan abses otak.
4) Menjelaskan patofisiologi dari meningitis, ensephalitis, dan abses otak.
5) Menjelaskan pemeriksaan diagnostik dari meningitis, ensephalitis, dan abses otak.
6) Menjelaskan penatalaksanaan dari meningitis, ensephalitis, dan abses otak.
7) Menjelaskan prognosis dari meningitis, ensephalitis, dan abses otak. 8) Menjelaskan WOC meningitis, ensephalitis, dan abses otak.
9) Memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan infeksi meningitis, ensephalitis, dan abses otak.
10) Menjelaskan tumbuh kembang anak dengan infeksi meningitis, encephalitis, dan abses otak.
11) Menjelaskan peran orang tua dalam merawat anak dengan infeksi meningitis, encephalitis, dan abses otak.
1.3 Manfaat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI
2.1.1 Meninges
Menurut Roger Watson (2002), meninges ialah membran protektif yang melapisi sistem saraf pusat. Ada tiga lapisan meninges, yaitu:
1) Duramater
Lapisan luar, yang disebut duramater, merupakan membran fibrosa kuat yang mempunyai dua lapisan, yaitu bagian luar yang melapisi permukaan dalam tengkorak dan membentuk periosteum. Pada foramen magnum, lapisan ini berlanjut sebagai periosteum pada permukaan luar tengkorak. Lapisan dalam dura menonjol ke dalam di titik-titik tertentu untuk membentuk suatu lapisan ganda yang memisahkan bagian-bagian otak dan membantu mempertahankan bagian-bagian tersebut di tempat. Falk serebri merupakan salah satu lapisan di antara dua hemifere cerebral. Lipatan yang lain ialah tentorium serebelum, yang terletak di antara serebrum dan serebelum. Dua lapisan ini saling berhubungan, tetapi terpisah ketika ada penutupan venosa sinus. Lapisan bagian dalam duramater juga menutupi medula spinalis sampai sakrum.
Ruang sub-dural adalah ruang yang potensial, bukan aktual, yang terdapat di antara bagian-bagian otak.
2) Araknoid-mater
Lapisan tengah, araknoid-mater adalah membran halus langsung di bawah dura dan masuk di antara bagian-bagian otak.
Ruang sub-dural terletak di antara araknoid dan piamater dan di sini terdapat cairan serebrospinal. Antara serebelum dan medula oblongata, terdapat rongga yang cukup besar, yang disebut sisterna magna. Tempat ini
digunakan untuk mengambil contoh cairan serebrospinal pada anak kecil. Araknoid bersama dura berfungsi sebagai pembungkus sampai ke medula spinalis dan membentang sampai sakrum.
Cairan serebrospinal bersih, tidak bau, dan terdapat di ruang sub-araknoid dan ventrikel otak. Cairan ini disekresi oleh koroid pleksus di dalam ventrikel dan melewati dua ventrikel lateral, yang kemudian manyatu dengan yang lain dengan ventrikel ketiga melalui foramen interventrikel, kemudian ke ventrikel ketiga dan kemudian melalui sebuah saluran sempit, yang disebut aqueduk, ke dalam ventrikel ke empat. Ada tiga lubang di atap ventrikel keempat yang dilalui cairan serebrospinalis yang masuk ke dalam ruang subaraknoid. Di sini cairan tersebut bersirkulasi mengelilingi bagian luar otak dan medula spinalis. Akhirnya, cairan diabsorpsi melalui granulasi araknoid, yang merupakan penonjolan kecil araknoid meter, ke dalam sinus venosa.
Komposisi cairan serebrospinal sama dengan plasma darah, walaupun cairan serebrospinal hanya mengandung sedikit protein. Jumlah totalnya kira-kira 120 ml, dengan tekanan 60-150 mmH2O, mengandung 200-300 mg protein/l dan sekitar 2,8-4,4 mmol glukosa/l. jumlah ini dapat berubah jika terjadi penyakit.
Fungsi utama cairan serebrospinal ialah melindungi otak dan medula spinalis dengan membentuk bantalan air di antara jaringan saraf yang halus dan dinding kavum tulang yang ditempati jaringan dan dinding tersebut. Cairan serebrospinal juga mempertahankan tekanan di dalam tengkorak konstan dan membuang sampah dan substansi baracun.
3) Piamater
Lapisan dalam, piamater adalah membran vaskuler dan berhubungan dengan permukaan luar otak dan medula spinalis.
2.1.2 Otak
Otak merupakan suatu alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat komputer semua alat tubuh, bagian dari semua saraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak (kranium) yang dibungkus oleh selaput otak yang kuat. Otak dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
1) Cerebrum (Otak Besar)
disebut dengan nama cerebral cortex, forebrain atau otak depan. Cerebrum merupakan bagian otak yang membedakan manusia dengan binatang. Cerebrum membuat manusia memiliki kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ Anda juga ditentukan oleh kualitas bagian ini.
Cerebrum secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut lobus. Bagian lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai parit disebut sulcus. Keempat lobus tersebut masing-masing adalah :
a) Lobus frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari otak besar. Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan, kemampuan gerak, kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah, memberi penilaian, kreativitas, kontrol perasaan, kontrol perilaku seksual dan kemampuan bahasa secara umum.
b) Lobus parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor perasaan seperti tekanan, sentuhan dan rasa sakit.
c) Lobus temporal berada di bagian bawah berhubungan dengan kemampuan pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara.
d) Lobus occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata.
Apabila diuraikan lebih detail, setiap lobus masih bisa dibagi menjadi beberapa area yang punya fungsi masing-masing, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Selain dibagi menjadi 4 lobus, cerebrum (otak besar) juga bisa dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Kedua belahan itu terhubung oleh kabel-kabel saraf di bagian bawahnya. Secara umum, belahan otak kanan mengontrol sisi kiri tubuh, dan belahan otak kiri mengontrol sisi kanan tubuh. Otak kanan terlibat dalam kreativitas dan kemampuan artistik. Sedangkan otak kiri untuk logika dan berpikir rasional.
2) Cerebellum (Otak Kecil)
Otak kecil atau cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat dengan ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi otomatis otak, diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol keseimbangan, koordinasi otot dan gerakan tubuh. Otak kecil juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan saat menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya.
Jika terjadi cedera pada otak kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulutnya atau tidak mampu mengancingkan baju. 3) Brainstem (Batang Otak)
Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum tulang belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk pernapasan, denyut jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber insting dasar manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya. Batang otak terdiri dari empat bagian, yaitu:
a) Diensepalon adalah bagian batang otak paling atas, terdapat diantara serebellum dengan mesensepalon.
b) Mesensepalon atau otak tengah (disebut juga mid brain) adalah bagian teratas dari batang otak yang menghubungkan otak besar dan otak kecil. Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan, gerakan mata, pembesaran pupil mata, mengatur gerakan tubuh dan pendengaran.
c) Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri badan menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla mengontrol funsi otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan.
d) Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat otak bersama dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah kita terjaga atau tertidur.
Sistem limbik terletak di bagian tengah otak, membungkus batang otak ibarat kerah baju. Limbik berasal dari bahasa latin yang berarti kerah. Komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan korteks limbik. Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa senang, metabolisme dan juga memori jangka panjang.
Bagian terpenting dari sistem limbik adalah hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang perlu mendapat perhatian dan mana yang tidak. Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran. Carl Gustav Jung menyebutnya sebagai "Alam Bawah Sadar" atau ketidaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang dan perilaku tulus lainnya. LeDoux mengistilahkan sistem limbik ini sebagai tempat duduk bagi semua nafsu manusia, tempat bermuaranya cinta, penghargaan dan kejujuran.
2.2 MENINGITIS 2.2.1 Definisi
Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001).
Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).
Meningitis virus dapat mengikuti infeksi virus lainnya, seperti gondok, herpes simplex atau zoster, enterovirus, dan campak. Viral meningitis sering penyakit self-limiting. (DiGiulio, 2007)
2.2.2 ETIOLOGI
1) Meningitis Bakterial (Meningitis sepsis)
Sering terjadi pada musim dingin, saat terjadi infeksi saluran pernafasan. Jenis organisme yang sering menyebabkan meningitis bacterial adalah streptokokus pneumonia dan neisseria meningitis.
sell anemia yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadi meningitis. Fraktur tulang tengkorak atau pembedahan spinal dapat juga menyebabkan meningitis . Selain itu juga dapat terjadi pada orang dengan gangguan sistem imun, spt: AIDS dan defisiensi imunologi baik yang congenital ataupun yang didapat.
Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan lekosit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan terkumpul di dalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intrakranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark.
2) Meningitis Virus (Meningitis aseptic)
Meningitis virus adalah infeksi pada meningen; cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri. Virus biasanya bereplikasi sendiri ditempat terjadinya infeksi awal (misalnya sistem nasofaring dan saluran cerna) dan kemudian menyebar kesistem saraf pusat melalui sistem vaskuler.
Ini terjadi pada penyakit yang disebabkan oleh virus spt: campak, mumps, herpes simplek dan herpes zoster. Virus herpes simplek mengganggu metabolisme sel sehingga sell cepat mengalami nekrosis. Jenis lainnya juga mengganggu produksi enzim atau neurotransmitter yang dapat menyebabkan disfungsi sel dan gangguan neurologic.
3) Meningitis Jamur
Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang mempengaruhi sistem saraf pusat pada klien dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung dari system kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi Respon inflamasi yang ditimbulkan pada klien dengan menurunnya sistem imun antara lain: bisa demam/tidak, sakit kepala, mual, muntah dan menurunnya status mental.
Faktor resiko terjadinya meningitis : 1) Infeksi sistemik
Didapat dari infeksi di organ tubuh lain yang akhirnya menyebar secara hematogen sampai ke selaput otak, misalnya otitis media kronis, mastoiditis, pneumonia, TBC, perikarditis, dll.
Pada meningitis bacterial, infeksi yang disebabkan olh bakteri terdiri atas faktor pencetus sebagai berikut diantaranya adalah :
a) Otitis media b) Pneumonia c) Sinusitis
d) Sickle cell anemia
e) Fraktur cranial, trauma otak f) Operasi spinal
2) Trauma kepala
Bisanya terjadi pada trauma kepala terbuka atau pada fraktur basis cranii yang memungkinkan terpaparnya CSF dengan lingkungan luar melalui othorrhea dan rhinorrhea.
3) Kelainan anatomis
Terjadi pada pasien seperti post operasi di daerah mastoid, saluran telinga tengah, operasi cranium
A) Terjadinya peningkatan TIK pada meningitis, mekanismenya adalah sebagai berikut :
a) Agen penyebab → reaksi local pada meninges → inflamasi meninges → pe ↑ permiabilitas kapiler → kebocoran cairan dari intravaskuler ke interstisial → pe ↑ volume cairan interstisial → edema → Postulat Kellie Monroe, kompensasi tidak adekuat → pe ↑ TIK
b) Pada meningitis jarang ditemukan kejang, kecuali jika infeksi sudah menyebar ke jaringan otak, dimana kejang ini terjadi bila ada kerusakan pada korteks serebri pada bagian premotor.
B) Hidrosefalus pada meningitis terjadi karena mekanisme sebagai berikut :Inflamasi local → scar tissue di daerah arahnoid (vili) → gangguan absorbsi CSF → akumulasi CSF di dalam otak → hodrosefalus
C) Bila gejala yang muncul campuran kemungkinan mengalami Meningo-ensefalitis.
2.2.3 Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala dari meningitis antara lain. (Sholeh S. Naga, 2012) 1) Aktivitas / istirahat
Malaise, ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan, hipotonia.
2) Sirkulasi
TD meningkat, nadi menurun (hipotensi), takikardi dan disritmia. 3) Nyeri/ kenyamanan
Sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerakan involunter,nyeri tenggorokan, mengeluh/ mengaduh, gelisah.
4) Eliminasi
Adanya inkontinensia urin atau retensi urin, konstipasi atau diare. 5) Makanan atau cairan
Mual, muntah, kesulitan menelan, nafsu makan berkurang, minum sangat kurang, tugor kuliot jelek, mukosa kering.
6) Higeine
Tidak mampu merawat diri.
7) Integumen
Adanya ruam merupakan ciri mencolok pada meningitis meningokokal
8) Neurosensori
Sakit kepala hebat, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, gangguan penglihatan, diplopia, fotofobia, ketulian, halusinasi penciuman, kehilangan memori, afasia, hemiparase, hemiplegia, tanda Brudzinski positif, refleks Babinski positif, kaku kuduk, nyeri gerakan okuler, fotosentitivitas, nyeri tenggorokan, gelisah, refleks abdominal menurun, refleks kremasterik hilang pada laki-laki. Adanya perubahan pada tingkat kesadaran yang terjadi letargi, tidak beresponsif, dan koma.
9) Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikemia, yaitu: demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar, shock, dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata.
10) Pernapasan
Gangguan pernafasan bagian atas seperti infeksi sinus, nafas meningkat.
2.2.4 Patofisiologi
Kuman-kuman masuk ke dalam susunan saraf pusat secara hematogen/langsung menyebar di nasofaring, paru-paru (pneumonia, bronkopneumonia) dan jantung (endokarditis), selain itu per kontinuitatum di peradangan organ / jaringan di dekat selaput otak misalnya abses otak, otitis media, martoiditis dan trombosis, sinus kavernosus. Invasi kuman (meningokok, pneumokok, hemofilus influenza, streptokok) ke dalam ruang subaraknoid menyebabkan reaksi radang pada pia dan araknoid, CSS dan sistem ventrikulus.
Mula-mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang mengalami hiperemi, dalam waktu yang sangat singkat terjadi penyebaran sel-sel leukosit polimorfonuklear ke dalam ruang subaraknoid, kemudian terbentuk eksudat. Dalam beberapa hari terjadi pembentukan limfosit dan histiosit dan dalam minggu ke – 2 sel-sel plasma. Eksudat terbentuk dan terdiri dari dua lapisan, yaitu bagian luar mengandung leukosit, polimorfonuklear dan fibrin sedangkan di lapisan dalam terdapat makrofag.
Proses radang selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan dapat menyebabkan trombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi neuron-neuron. Dengan demikian meningitis dapat dianggap sebagai ensefalitis superfisial. Trombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrino – purulen menyebabkan kelainan nervi kraniales (N. III, IV, VI, VII, & VIII). Organisasi di ruang subaraknoid superfisial dapat menghambat aliran dan absorbsi CSS sehingga mengakibatkan hidrosefalus komunikans.
2.2.5 Pemeriksaan Diagnostik
a) Pemeriksaan Lab darah lengkap: HB, HT, LED, Erytrosit, Lekosit
Laju endap darah meninggi. Jumlah sel berkisar antara 200-500/mm3, mula-mula sel PMN dan limfosit dalam proporsi sama atau kadang-kadang sel PMN lebih banyak, selanjutnya limfosit yang lebih banyak. Kadang-kadang jumlah sel pada fase akut dapat mencapai kurang lebih 1000/mm3. Kadar protein meninggi dan glukosa menurun.
b) Kultur darah c) CT-Scan, X-Ray
Cairan serebrospinal berwarna jernih atau xantokrom, bila dibiarkan mengendap akan membentuk batang-batang, kadang-kadang dapat ditemukan mikroorganisme didalamnya. Foto dada biasanya normal, bisa terdapat gambaran milier dan kalsifikasi.
d) Lumbal fungsi
Lumbal fungsi penting sekali untuk pemeriksaan bakteriologik dan laboratorium lainnya. Likuor serebrospinalis berwarna jernih, opelesen atau kekuning-kuningan (xantokrom). Tekanan dan jumlah sel meninggi namun umumnya jarang melebihi 1500/3mm dan terdiri dari limfosit terutama. Kadar protein meninggi sedangkan kadar glukosa dan klorida total menurun. Bila cairan otak didiamkan akan timbul fibrinous web (pelikel), tempat yang sering ditemukannya basil tuberkulosis. Dugaan bahwa seorang pasien menderita meningitis tuberkulosa dengan melihat hasil pungsi lumbal berupa cairan serebrospinalis yang jernih. Juga adanya kelainan radiologis serta adanya sumber di dalam keluarga.
e) Uji tuberkulin
Uji tuberkulin pada meningitis bakteri dianggap kurang bermakna karena sering negatif disebabkan adanya anergi 36%. Untuk memberikan pengobatan yang tepat diperlukan menemukan kuman tuberkulosis yang dapat ditemukan dengan melakukan biakan dari cairan serebrospinalis.
2.2.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan secara medis pada meningitis dapat dilakukan dengan cara diberikan:
a) Koreksi gangguan asam basa elektrolit, apabilla terdapat ketidakseimbangan asam basa dan elektrolit dapat diberikan cairan intravena MARTOS-10. Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam. Mengandung 400 kcal/L.
b) Atasi kejang dapat diatasi dengan, Kortikosteroid golongan deksametason 0,6 mg/kgBB/hari selama 4 hari, 15-20 menit sebelum pemberian antibiotik.
c) Antibiotik. Terdiri 2 fase yaitu empirik dan setelah hasil biakan dan uji resistensi. Pengobatan empirik pada neonates adalah kombinasi ampisilin dan aminoglikosida atau ampisilin dan sefotaksin. Pada umur 3 bulan – 10 tahun kombinsasi ampisilin dan kloramfenikol atau sefuroksim/sefotaksim/sefriakson. Pada usia lebih dari 10 tahun digunakan penislin. Pada neonatus pengobatan selama 21 hari, pada bayi dan anak 10 – 14 hari.
d) Streptomisin, PAS dan INH. Dapat diberikan diberikan dengan dosis 30-50 mg/kg BB/ hari selama 3 bulan atau jika perlu diteruskan 2 kali seminggu selama 2-3 bulan lagi, sampai likuor serebrospinalis menjadi normal. PAS dan INH diteruskan paling sedikit samapi 2 tahun. Umtuk mengatasi dehidrasi akibat masukan makanan yang kurang atau muntah.
2.2.7 Prognosis
Usia anak, kecepatan diagnosa setelah timbulnya terapi yang adekuat penting dalam prognosis meningitis bakteri. Mortalitas meningitis neonates kira-kira 50 % meskipun gejala yang timbulterlambat, sedangkan meningitis streptococcus B hemolitikus menimbulkan 15-20% kasus fatal. Bila penyebabnya hemofilus influensya dan meningitis meningkokus, angka mortalitas 5-10 % sedangkan meningitis pneumokokus pada bayi dan anak-anak kira-kira 20%.
Gejala sisa meningitis bakteri paling sering terjadi padaanak usia 2 tahun pertama dan sangat sedikit pada anak-anak dengan meningitis meningkokus. Gejala sisa pada bayi terutama disebabkan oleh hidrosefalus komunikasi dan efek-efek yang lebih besar berupa cerebritis pada otak yang belum matang. Pada anak-anak yang lebih besar gejala sisa dihubungkan dengan proses peradangan itu sendiri atau akibat dari vaskulitis (radang pembuluh darah) yang menyertai penyakit ini.
Selain itu penderita meningitis dapat sembuh, baik sembuh dengan cacat mental atau meninggal tergantung pada :
a) Umur penderita. b) Jenis kuman penyebab c) Berat ringan infeksi
Sakit kepala dan demam
Hiperter
mi Edema serebral dan
PTIK (>10 mmHg) permeabilitas darahPeningkatan Gangguan metabolis
serebral
Trombus darah korteks dan aliran darah serebral
Hipoperfusi
Kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi, kerusakan endotel, dan nekrosis pembuluh darah. Eksudat
Invasi kuman ke jaringan serebral via saluran vena nasofaring posterior, telinga bagian
tengah, dan mastoid.
Reaksi peradangan jaringan serebral. -Meningitis
bakteri/purulenta -Meningitis serosa/
tuberculosa -Meningitis virus Faktor-faktor predisposisi: infeksi jalan
napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit, dan hemoglobinopatis, prosedur bedah
saraf baru, trauma kepala, dan
e) Kepekaan kuman terhadap antibiotik yang diberikan f) Adanya dan penanganan penyakit.
Perubahan
Askep lihat BAB 3 2.3 ENSEPHALITIS 2.3.1 Definisi
2.3.2 Etiologi
Etiologi dari ensefalitis menurut Markam.S (2008) sebagai berikut : a) Ensefalitis bacterial
Streptokok, stafilokok, meningikok, salmonella typhi, Escherichia coli, proteus, basillus pyocyaneus di dalam jaringan otak dapat menyebabkan radang yang membentuk abces. Mycobacterium tuberculosa membentuk tuberculoma.
b) Sistiserkosis (cacing)
Larva taenia solium dapat menyangkut di dalam otak dan tumbuh sementara waktu, kemudian mati dan kistanya mengalami klasifikasi. c) Ensefalitis yang disebabkan protozoa :
1) Malaria.
Plasmodium falciparum menyebabkan eritrosit yang terinfeksi lengket. Sel-sel darah merah yang lengket satu dengan yang lain dapat menyumbat kapiler-kapiler di dalam otak, akibatnya timbul daerah mikroinfak .
2) Toksoplasmosis.
Pada toksoplasmosis konganital pada bayi, radang terjadi pada piaarachnoid yang menyebab di dalam jaringan otak.
3) Entamoeba histolytica.
Yang dapat menyebabkan ensefalitis akut adalah naegleria dan achanthamoeba.
4) Ensefalitis yang disebabkan kapang
Cryptococcus neofarmans menimbulkan radang dalam korteks dan meningens.
d) Ricketsiosis
Ricketsiosis dapat menyebabkan radang dinding pembuluh darah diikuti trobosis.
e) Ensefalitis virus
Virus dapat menyebabkan meningitis aseptic atau ensefalitis. Virus yang dapat menimbulkan ensefalitis akut adalah dengue, rabies, poliomyelitis, herpes simpleks, herpes zoster, parotitis, morbili, influenza, hepatitis. Sedangkan virus yang menimbulkan radang kronis disebut virus lambat. Penyakit yang ditimbulkannya kuru, penyakit Jacob-creutzfeld, panensefalitis sklerosa subakuta.
2.3.3 Manifestasi Klinis
Meskipun penyebabnya berbeda, gejala klinis ensephalitis lebih kurang sama dan khas sehingga dapat digunakan sebagai kriteria diagnostik. Secara umum gejala berupa ensephalitis yang terdiri dari demam, kejang dan kesadaran menurun.
Setelah masa inkubasi kurang lebih 5-10 hari akan terjadi kenaikan suhu yang mendadak, seringkali terjadi hiperpireksia, nyeri kepala pada anak besar, menjerit pada anak kecil. Ditemukan tanda perangsangan SSP (koma, stupor, letargi), kaku kuduk, peningkatan reflek tendon, tremor, kelemahan otot dan kadang-kadang kelumpuhan.
Manifestasi klinik ensephalitis bakterial, pada permulaan terdapat gejala yang tidak khas seperti infeksi umum, kemudian timbul tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial yaitu nyeri kepala, muntah-muntah, nafsu makan tidak ada, demam, penglihatan kabur, kejang umum atau fokal dan kesadaran menurun. Gejala defisit nervi kranialis, hemiparesis, refleks tendon meningkat, kaku kuduk, afasia, hemianopia, nistagmus dan ataksia.
Penyebab kelainan neurologis (defisit neurologis) adalah invasi dan perusakan langsung pada jaringan otak oleh virus yang sedang berkembang biak; reaksi jaringan saraf terhadap antigen virus yang akan berakibat demielinisasi, kerusakan vaskular, dan paravaskular; dan karena reaksi aktivasi virus neurotropik yang bersifat laten.
Pada ensephalitis viral gejala-gejala awal nyeri kepala ringan, demam, gejala infeksi saluran nafas atas atau gastrointestinal selama beberapa hari kemudian muncul tanda-tanda radang SSP seperti kaku kuduk, tanda kernig positif, gelisah, lemah dan sukar tidur. Defisit neurologik yang timbul bergantung pada tempat kerusakan. Selanjutnya kesadaran mulai menurun sampai koma, dapat terjadi kejang fokal atau umum, hemiparesis, gangguan koordinasi, kelainan kepribadian, disorientasi, gangguan bicara dan gangguan mental.
Temuan-temuan klinis pada ensephalitis ditentukan oleh: a)Berat dan lokalisasi anatomis susunan saraf yang terlihat. b)Patogenesitas agen yang menyerang.
c) Kekebalan dan mekanisme reaktif lain penderita. 2.3.4 Patofisiologi
Virus atau agen penyebab lainnya masuk ke susunan saraf pusat melalui peredaran darah, saraf perifer atau saraf kranial, menetap dan berkembang biak menimbulkan proses peradangan. Kerusakan pada myelin pada akson dan white matter dapat pula terjadi . Reaksi peradangan juga mengakibatkan perdarahan , edema, nekrosis yang selanjutnya dapat terjadi peningkatan tekanan intracranial. Kematian dapat terjadi karena adanya herniasi dan peningkatan tekanan intracranial. (Tarwoto Wartonah, 2007)
Virus masuk tubuh klien melalui kulit, saluran npas, dan saluran cerna. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara :
a) Lokal : virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lender permukaan atau organ tertentu.
c) Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di perukaan selaput lender dan menyebar melalui system persarafan.
Setelah terjadi penyebaran ke otak terjadi manifestasi klinis ensefalitis. Masa prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah nyeri tenggorokan, malais, nyeri ekstremitas, dan pucat. Suhu badan meningkat, fotofobia, sakit kepala, muntah-muntah, letargi, kadang disertai kakukuduk apabila infeksi mengenai meningen. Pada anak, tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan, pendengaran, bicara, serta kejang. Gejala lain berupa gelisah, rewel, perubahan perilaku, gangguan kesaadaran, kejang. Kadang-kadang disertai tanda neurologis fokal berupa afassia, hemiparesis, hemiplagia, ataksia, dan paralisis saraf otak.
2.3.4 Pemeriksaan Diagnostik
Gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.
Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan dapat dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis flokal, biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya menjadi predileksi virus Herpes Simplex.
2.3.5 Penatalaksanaan
Penderita baru dengan kemungkinan ensephalitis harus dirawat inap sampai menghilangnya gejala-gejala neurologik. Tujuan penatalaksanaan adalah mempertahankan fungsi organ dengan mengusahakan jalan nafas tetap terbuka, pemberian makanan enteral atau parenteral, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dan koreksi gangguan asam basa darah (Arif, 2000). Tata laksana yang dikerjakan sebagai berikut :
1) Mengatasi kejang adalah tindakan vital, karena kejang pada ensephalitis biasanya berat. Pemberian Fenobarbital 5-8 mg/kgBB/24 jam. Jika kejang sering terjadi, perlu diberikan Diazepam (0,1-0,2 mg/kgBB) IV, dalam bentuk infus selama 3 menit.
2) Memperbaiki homeostatis, dengan infus cairan D5 - 1/2 S atau D5 - 1/4 S (tergantung umur) dan pemberian oksigen.
3) Mengurangi edema serebri serta mengurangi akibat yang ditimbulkan oleh anoksia serebri dengan Deksametason 0,15-1,0 mg/kgBB/hari i.v dibagi dalam 3 dosis.
sari jeruk. Bahan ini tidak toksik dan dapat diulangi setiap 6 jam untuk waktu lama.
2.3.6 Prognosis
Prognosis bergantung pada kecepatan dan ketepatan pertolongan, juga perlu dipertimbangkan pula kemungkinan penyulit yang dapat muncul selama perawatan. Pada ensefalitis HSV yang diterapi dengan asiclovir, 81% pasien bertahan hidup. Gejala sisa neurologic berlangsung ringan atau tidak terjadi sama sekali pada 46%. Gejala sisa neurologic berlangsung sedang pada 12% dan berat 42%. (Harrison, 2013)
2.3.7 WOC
2.3.8 Asuhan Keperawatan A) Pengkajian
Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien atau orang tua membawa anaknya untuk meminta pertolongan kesehatan adalah kejang disertai penurunan tingkat kesadaran
Riwayat penyakit Saat Ini
Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah dialami klien yang menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah klien mengalami campak, cacar air, herpes, dan bronkopneumonia.
Pemeriksaan Fisik
TTV: Suhu > 39-41C. Keadaan ini biasanya dihubungkan dengan proses inflamasi dan supurasi di jaringan otak yang sudah mengganggu pusat pengatur suhu tubuh. Penurunan denyut nadi terjadi berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK. Apabila disertai frekuensi napas sering berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum dan adanya infeksi dari sitem pernapasan sebelum mengalami ensefalitis. Tekanan darah biasanya normal atau meningkat karena tanda-tanda peningkatan TIK.
B1 (breathing): Palpasi taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien ensefalitis berhubungan dengan akumulasi sekret dari penurunan kesadaran. B2 (Blood): Pengkajian sistem kardiovaskuler didapatkan renjatan (syok) hipovolemik yang sering terjadi pada klien ensefalitis.
B3 (Brain): Tingkat kesadaran biasanya berkisar antara letargi, stupor, dan semikomantosa. Perubahan status mental. Pemeriksaan saraf kranial. Kekuatan otot menurun.
B4 (bladder): Berkurangnya volume urine berhubungan dengan penurunan perfusi dan curah jantung ke ginjal.
B5 (Bowel): Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien menurun karena anoreksia dan kejang.
B6 (Bone): Penurunan kekuatan otot dan penurunan tingkat kesadaran menurunkan mobilitas klien secara umum. Klien lebih banyak dibantu orang lain.
B) Diagnosa Keperawatan
1) Potensial komplikasi peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan akumulasi cairan serebrospinal.
2) Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan penekanan lobus oksipitalis karena meningkatnya TIK
3) Kurang pengetahuan orang tua berhubungan dengan penyakit yang di derita oleh anaknya
4) Resiko ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan penurunan refleks batuk
5) Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan pembesaran kepala
6) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pemasangan drain/shunt 7) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan muntah sekunder akibat kompresi serebral dan iritabilitas.
C) Intervensi Keperawatan
Potensial komplikasi peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan akumulasi cairan serebrospinal.
a) Tujuan : Tidak terjadi peningkatan TIK b) Kriteria Hasil:
1) Kesadaran Komposmetis 2) Tidak terjadi nyeri kepala 3) TTV norma
4) Tampak rileks, tidak meringis kesakitan c) Intervensi :
1) Observasi ketat tanda-tanda peningkatan TIK (Nyeri kepala, muntah, lethargi, lelah, apatis, perubahan personalitas, ketegangan dari sutura cranial dapat terlihat pada anak berumur 10 tahun, penglihatan ganda, kontruksi penglihatan perifer strabismus, Perubahan pupil).
2) Pantau terus tingkat kesadaran anak 3) Pantau terus adanya perubahan TTV
4) Berkolaborasi dengan dokter untuk melakukan pembedahan, untuk mengurangi peningkatan
5) Kaji pengalaman nyeri pada anak, minta anak menunjukkan area yang sakit dan menentukan peringkat nyeri dengan skala nyeri
0-5 (0=tidak nyeri, 5=nyeri sekali)
Bantu anak mengatasi nyeri seperti dengan memberikan pujian kepada anak untuk ketahanan dan memperlihatkan bahwa nyeri telah ditangani dengan baik.
d) Rasional :
1) Untuk mengetahui secara dini peningkatan TIK
2) Penurunan keasadaran menandakakan adanya peningkatan TIK 3) Untuk mengetahui kondisi aliran darah dan aliran oksigen ke
4) Dengan dilakukan pembedahan, diharapkan cairan cerebrospinal berkurang, sehingga TIK menurun, tidak terjadi penekanan pada lobus oksipitalis dan tidak terjadi pembesaran pada kepala 5) Membantu dalam mengevaluasi rasa nyeri.
6) Pujian yang diberikan akan meningkatkan kepercayaan diri anak untuk mengatasi nyeri dan kontinuitas anak untuk terus berusaha menangani nyerinya dengan baik.
1) Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan penekanan lobus oksipitalis karena meningkatnya TIK
Tujuan : Tidak terjadi disorientasi pada anak Kriteria Hasil :
a) Penurunan visus tidak bertambah lebih parah b) Anak bisa mengenali lingkungan sekitarnya
Intervensi :
a) Mempertahankan visus agar tidak terjadi penurunan visus yang lebih parah
b) Membantu ADL pasien c) Membantu orientasi tempat
d) Berikan tempat yang nyaman dan aman ( pencahayaan terang, bed plang dll dipasang agar tidak cedera )
e) Membantu pasien untuk mengenali sesuatu dengan kondisi penglihatan yang terganggu
Rasional :
a) Ketidakmampuan dalam penglihatan tidak bertambah parah, klien tidak mengalami disorientasi tempat, Klien merasa nyaman dan aman
b) Klien tidak banyak bergantung pada orang lain
2)Kurang pengetahuan orang tua berhubungan dengan penyakit yang di derita oleh anaknya
Tujuan : Meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai penyakit yang diderita anaknya
Kriteria hasil :
a) Kecemasan orang tua pada kondisi kesehatan anaknya dapat berkurang
b) Orang tua mengungkapkan pemahaman tentang penyakit, pengobatan dan perubahan pola hidup yang dibutuhkan
Intervensi :
a) Beri kesempatan orang tua untuk mengekspresikan kesedihannya
b) Beri kesempatan orang tua untuk bertanya mengenai kondisi anaknya
c) Jelaskan tentang kondisi penderita, prosedur, terapi dan prognosanya.
d) Ulangi penjelasan tersebut bila perlu dengan contoh bila keluarga belum mengerti
Rasional :
a) Keluarga dapat mengemukakan perasaannya sehinnga perasaan orang tua dapat lebih lega
b) Pengetahuan orang tua bertambah mengenai penyakit yang di derita oleh anaknya sehinnga kecemasan orang tua dapat berkurang
c) Pengetahuan kelurga bertambah dan dapat mempersiapkan keluarga dalam merawat klien post operasi
d) Keluarga dapat menerima seluruh informasi agar tidak menimbulkan salah persepsi
3)Resiko ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan penurunan refleks batuk
Tujuan : Jalan nafas tetap efektif Kriteria hasil :
a) Anak tidak sesak napas b) Tidak terdapat ronchi
c) Tidak retraksi otot bantu pernapasan d) Pernapasan teratur, RR dalam batas normal Intervensi :
a) Posisikan klien posisi semifowler b) Pemberian oksigen
c) Observasi pola dan frekuensi napas d) Auskultasi suara napas
Rasional :
a) Klien merasa nyaman dan tidak merasa sesak napas
b) Suplai oksigen klien dapat tercukupi sehingga klien tidak mengalami hipoksia
c) Untuk mengetahui ada tidaknya ketidakefektifan pola napas d) Untuk mengetahui adanya kelainan suara
4)Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan pembesaran kepala
Kriteria hasil : Pertumbuhan dan perkembangan klien tidak mengalami keterlambatan dan sesuai dengan tahapan usia
Intervensi :
a) Memberikan diet nutrisi untuk pertumbuhan (asuh)
b) Memberikan stimulasi atau rangsangan untuk perkembangan kepada anak (asah)
c) Memberikan kasih sayang (asih) Rasional :
a) Mempertahankan berat badan agar tetap stabil b) Agar perkembangan klien tetap optimal c) Memenuhi kebutuhan psikologis
5) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pemasangan drain/shunt Tujuan : Tidak terdapat tanda-tanda infeksi ( 3 x 24 jam )
Kriteria hasil :
a) TD dalam batas normal b) Tidak terdapat perdarahan c) Tidak terdapat kemerahan Intervensi :
a) Pantau tanda-tanda infeksi (letargi, nafsu makan menurun, ketidakstabilan, perubahan warna kulit)
b) Lakukan rawat luka c) Pantau asupan nutrisi
d) Kolaborasi dalam pemberian antibiotik Rasional :
a) Mengetahui penyebab terjadinya infeksi b) Mencegah timbulnya ifeksi
c) Asupan nutrisi dapat membantu menyembuhkan luka d) Antibiotik dapat mencegah timbulnya infeksi
6) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan muntah sekunder akibat kompresi serebral dan iritabilitas.
Tujuan : Setelah dilaksakan asuhan keperawatan diharapkan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi Kriteria hasil : tidak terjadi penurunan berat badan sebesar 10% dari berat awal, tidak adanya mual-muntah.
Intervensi :
a) Pertahankan kebersihan mulut dengan baik sebelum dan sesudah mengunyah makanan.
b) Tawarkan makanan porsi kecil tetapi sering untuk mengurangi perasaan tegang pada lambung
c) Atur agar mendapatkan nutrien yang berprotein/ kalori yang disajikan pada saat individu ingin makan
d) Timbang berat badan pasien saat ia bangun dari tidur dan setelah berkemih pertama.
e) Konsultasikan dengan ahli gizi mengenai kebutuhan kalori harian yang realistis dan adekuat.
Rasional :
a) Mulut yang tidak bersih dapat mempengaruhi rasa makanan dan meninbulkan mual
b) Makan dalam porsi kecil tetapi sering dapat mengurangi beban saluran pencernaan. Saluran pencernaan ini dapat mengalami gangguan akibat hidrocefalus
c) Agar asupan nutrisi dan kalori klien adeakuat
d) Menimbang berat badan saat baru bangun dan setelah berkemih untuk mengetahui berat badan mula-mula sebelum mendapatkan nutrient
e) Konsultasi ini dilakukan agar klien mendapatkan nutrisi sesuai indikasi dan kebutuhan kalorinya.
2.4 ABSES OTAK ````2.4.1 Definisi
Abses otak adalah kumpulan nanah yang menempati ruang-dalam otak. Infeksi dapat menjadi situs utama dalam otak atau mungkin telah masuk dari situs terdekat seperti telinga atau sinus melalui erosi tulang. Hal ini juga dapat masuk ke otak melalui sirkulasi sistemik dari situs manapun yang terinfeksi di dalam tubuh, seperti paru-paru di
brochiectasis. Organisme ini menyebabkan reaksi inflamasi lokal; ada nanah dan pencairan dari jaringan yang terkena. Edema serebral dari jaringan sekitarnya terjadi. Edema tersebut terjadi dalam 10 sampai 14 hari dari awal infeksi.
2.4.2 Etiologi
Etiologi dari ensefalitis adalah streptokokus, stafilokokus, anaerob, atau infeksi organisme campuran. Pasien
immunocompromised mungkin terdapat jamur atau ragi di dalam abses. Sampai dengan 20 persen dari pasien mungkin memiliki lebih dari satu abses.
2.4.3 Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala awal dan umum dari abses otak adalah nyeri kepala, IM menurun kesadaran mungkin dpat terjadi, kaku kuduk, kejang, defisit motorik, adanya tandatanda peningkatan tekanan intrakranial. Tanda dan gejala lain tergantung dari lokasi abses. (Corwin, Elizabeth .J, 2009).
Lokasi Tanda dan Gejala Sumber Infeksi
Lobus frontalis
a. Kulit kepala lunak/lembut
b. Nyeri kepala yang terlokalisir di frontal
c. Letargi, apatis, disorientasi d. Hemiparesis /paralisis e. Kontralateral
f. Demam tinggi b. 7. Kejang
Sinus paranasal
Lobus temporal
a. Dispagia
b. Gangguan lapang pandang c. Distonia
d. Paralisis saraf III dan IV e. Paralisis fasial kontralateral cerebellum a. Ataxia ipsilateral
b. Nystagmus c. Dystonia
d. Kaku kuduk positif
e. Nyeri kepala pada suboccipital f. Disfungsi saraf III, IV, V, VI.
Infeksi pada telinga tengah
2.4.4 Patofisiologi
Abses otak dapat terjadi akibat penyebaran perkontinuitatum dari fokus infeksi di sekitar otak maupun secara hematogen dari tempat yang jauh, atau secara langsung seperti trauma kepala dan operasi kraniotomi. Abses yang terjadi oleh penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian otak, tetapi paling sering pada pertemuan substansia alba dan grisea; sedangkan yang perkontinuitatum biasanya berlokasi pada daerah dekat permukaan otak pada lobus tertentu.
Pada tahap awal AO terjadi reaksi radang yang difus pada jaringan otak dengan infiltrasi lekosit disertai udem, perlunakan dan kongesti jaringan otak, kadang-kadang disertai bintik perdarahan. Setelah beberapa hari sampai beberapa minggu terjadi nekrosis dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu rongga abses. Astroglia, fibroblas dan makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotikan. Mula-mula abses tidak berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan fibrosis yang progresif terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris. Tebal kapsul antara beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter. Beberapa ahli membagi perubahan patologi AO dalam 4 stadium yaitu :
1) Stadium serebritis dini (Early Cerebritis)
Terjadi reaksi radang local dengan infiltrasi polymofonuklear leukosit, limfosit dan plasma sel dengan pergeseran aliran darah tepi, yang dimulai pada hari pertama dan meningkat pada hari ke 3. Sel-sel radang terdapat pada tunika adventisia dari pembuluh darah dan mengelilingi daerah nekrosis infeksi. Peradangan perivaskular ini disebut cerebritis. Saat ini terjadi edema di sekita otak dan peningkatan efek massa karena pembesaran abses.
2) Stadium serebritis lanjut (Late Cerebritis)
makrofag-makrofag besar dan gambaran fibroblast yang terpencar. Fibroblast mulai menjadi reticulum yang akan membentuk kapsul kolagen. Pada fase ini edema otak menyebar maksimal sehingga lesi menjadi sangat besar
3) Stadium pembentukan kapsul dini (Early Capsule Formation)
Pusat nekrosis mulai mengecil, makrofag menelan acellular debris dan fibroblast meningkat dalam pembentukan kapsul. Lapisan fibroblast membentuk anyaman reticulum mengelilingi pusat nekrosis. Di daerah ventrikel, pembentukan dinding sangat lambat oleh karena kurangnya vaskularisasi di daerah substansi putih dibandingkan substansi abu. Pembentukan kapsul yang terlambat di permukaan tengah memungkinkan abses membesar ke dalam substansi putih. Bila abses cukup besar, dapat robek ke dalam ventrikel lateralis. Pada pembentukan kapsul, terlihat daerah anyaman reticulum yang tersebar membentuk kapsul kolagen, reaksi astrosit di sekitar otak mulai meningkat.
4) Stadium pembentukan kapsul lanjut (Late Capsule Formation) Pada stadium ini, terjadi perkembangan lengkap abses dengan gambaran histologis sebagai berikut:
a) Bentuk pusat nekrosis diisi oleh acellular debris dan sel-sel radang.
b) Daerah tepi dari sel radang, makrofag, dan fibroblast. c) Kapsul kolagen yang tebal.
d) Lapisan neurovaskular sehubungan dengan serebritis yang berlanjut.
e) Reaksi astrosit, gliosis, dan edema otak di luar kapsul.
Abses dalam kapsul substansia alba dapat makin membesar dan meluas ke arah ventrikel sehingga bila terjadi ruptur, dapat menimbulkan meningitis.
Infeksi jaringan fasial, selulitis orbita, sinusitis etmoidalis, amputasi meningoensefalokel nasal dan abses apikal dental dapat
menyebabkan AO yang berlokasi pada lobus frontalis. Otitis media, mastoiditis terutama menyebabkan AO lobus temporalis dan serebelum, sedang abses lobus parietalis biasanya terjadi secara hematogen.
2.4.5 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien dengan kasus abses otak, yaitu:
1. X-ray tengkorak, sinus, mastoid, paru-paru: terdapat proses suppurative.
2. CT scan: adanya lokasi abses dan ventrikel terjadi perubahan ukuran. 3. MRI: sama halnya dengan CT scan yaitu adanya lokasi abses dan
ventrikel terjadi perubahan ukuran.
4. Biopsi otak: mengetahui jenis kuman patogen.
5. Lumbal Pungsi: meningkatnya sel darah putih, glukosa normal, protein meningkat (kontraindikasi pada kemungkinan terjadi herniasi karena peningkatan TIK). (Barbara C, 1996)
2.4.6 Penatalaksanaan
Penetalaksaan medis yang dilakukan pada abses otak, yaitu: 1. Penatalaksaan Umum
a) Support nutrisi: tinggi kalori dan tinggi protein. b) Terapi peningktan TIK
c) Support fungsi tanda vital d) Fisioterapi
2. Pembedahan 3. Pengobatan
a) Antibiotik: Penicillin G, Chlorampenicol, Nafcillin, Matronidazole.
b) Glococorticosteroid: Dexamethasone c) Antikonvulsan: Oilantin.
2.4.7 Prognosis
minimnya fasilitas CT-Scan. Angka harapan yang terjadi paling tidak 50% dari penderita, termasuk hemiparesis, kejang, hidrosefalus, abnormalitas nervus kranialis dan masalah-masalah pembelajaran lainnya.
Prognosis dari abses otak ini tergantung dari: 1) Cepatnya diagnosis ditegakkan
2) Derajat perubahan patologis 3) Soliter atau multipel
4) Penanganan yang adekuat.
Dengan alat-alat canggih dewasa ini AO pada stadium dini dapat lebih cepat didiagnosis sehingga prognosis lebih baik. Prognosis AO soliter lebih baik dan mu1tipel. Defisit fokal dapat membaik, tetapi kejang dapat menetap pada 50% penderita
2.4.8 WOC
2.4.9 Asuhan Keperawatan A) Pengkajian
Anamnesis
pada dinamika intrakranial (edema, pergeseran otal), infeksi, atau lokasi abses.
Keluhan Utama
Hal yang sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah adanya gejala neurologis (kelemahan ekstremitas, penurunan penglihatan, dan kejang).
Riwayat Penyakit Sekarang
Adanya penurunan atau perubahan pada tingkat kesadaran disebabkan abses otak akibat bakteri. Disorientasi dan gangguan memori biasanya merupakan perubahan lanjut dari abses otak. Perubahan yang terjadi bergantung pada beratnya penyakit, demikian pula respons indivisu terhadap proses fisiologis. Keluhan perubahan perilaku juga umum terjadi. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi letargi, apatis, dan koma.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah dialami klien yang memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah klien mengalami riwayat trauma langsung dari trauma intrakranial atau pembedahan, pernahkah mengalami infeksi dari daerah lain seperti sinus, telinga, dan gigi (infeksi sinus paranasal, otitis media, sepsis gigi) dan kemungkinan penyebaran infeksi dari organ lain (abses paru-paru, endokarditis infektif) dan dapat menjadi komplikasi yang berhubungan dengan beberapa bentuk meningitis yang menjadikan terjadinya abses otak. Pemeriksaan Fisik
TTV: Pada klien abses otak biasanya didapatkan peningkatan suhu lebih dari normal 38-41C. Keadaan ini biasanya dihubungkan dengan proses inflamasi dan supurasi di jaringan otak yang sudah mengganggu pusat pengatur suhu tubuh. Penurunan denyut nadi terjadi berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK. Apabila disertai frekuensi napas sering berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme umum dan adanya infeksi dari sitem pernapasan sebelum mengalami abses otak. Tekanan darah biasanya normal atau meningkat karena tanda-tanda peningkatan TIK.
B1 (breathing): Inspeksi kemampuan batuk klien, produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu napas dan peningkatan frekuensi napas.
B2 (blood): Dilakukan pada klien abses otak pada tahap lanjut seperti apabila klien sudah mengalami renjatan (syok).
B3 (brain): Pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian sistem lainnya (tingkat kesadaran, fungsi serebral, saraf kranial, sistem motorik, refleks, dan sistem sensorik).
B4, B5, dan B6 : Tidak ditemukan kelainan (normal)
B) Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan akumulasi secret, kemampuan batuk menurun akibat penurunan kesadaran.
2. Perubahan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan peradangan dan edema otak dan selaput otak.
3. Resiko tinggi cidera yang berhubungan dengan kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran
4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan ketidakmampuan menelan, keadaan hipermetabolik.
5. Gangguan persepsi sensori yang berhubungan dengan kerusakan penerima rangsang sensorik, transmisi sensorik, dan intregasi sensorik.
C) Rencana Intervensi
1. Ketidakefektifan janlan napas yang berhubungan dengan akumulasi secret, kemampuan batuk menurun akibat penurunsn tingkst kesadaran. Tujuan : Jalan napas kembali efektif
Kriteria hasil : Secara subjektif sesak napas berkurang, frekuensi napas 16-20 x/menit, tidak menggunakan alat bantu napas, retraksi ICS berkurang, ronchi berkurang, mengi berkurang, dapat mendemonstrasikan cara batuk efektif.
Intervensi Rasionalisasi
Kaji funsi paru, adanya bunyi napas tambahan, perubahan irama dan kedalaman, penggunaan otot-otot aksesori, warna dan kekentalan sputum.
Memantau dan mengatasi komplikasi potensial. Pengkajian fungsi pernapasan dengan interval yang teratur adalah penting karena pernapasan yang tidak efektif dan adanya kegagalan, akibat adanya kelemahan atau paralisis pada otot-otot interkostal dan diafragma berkembang dengan cepat.
Atur posisi fowler dan semifowler. Peninggian kepala tempat tidur
memudahkan pernapasan, meningkatkan ekspansi dada dan meningkatkan batuk lebih efektif.
Ajarkan cara betuk efektif. Klien berada pada resiko tinggi bila tidak dapat batuk dengan efektif untuk membersihakn jalan napas dan
mengalami kesulitan dalam menelan, sehingga menyebabkan aspirasi saliva dan mencetuskan gagal napas akut. Lakukan fisioterapi dada, vibrasi dada. Terapi fisik dan membantu
meningkatkan batuk lebih efektif Penuhi hidrasi cairan via oral seperti
minum air putih dan pertahanan asupan cairan 2500ml/hari.
Pemenuhan cairan dapat mengencerkan mucus yang kental dan dapat membantu pemenuhan cairan yang banyak keluar dari tubuh.
Lakukan pengisapan lender di jalan napas.
Pengisapan mungkin diperlukan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas menjadi bersih.
2. Perubahan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan peradangan dan edema pada otak dan selaput otak.
Tujuan : Perfusi jaringan otak meningkat.
Kriteria hasil : Tingkat kesadaran menjadi meningkat menjadi sadar, disorentasi negative, konsentrasi baik, perfusi jaringan dan oksigenasi baik, tanda-tanda vital dalam batas normal, dan syok dapat dihindari.
Intervensi
Monitor klien dengan ketat terutama setelah lumbal fungsi. Anjurkan klien berbaring minimal 4-6 jam setelah lumbal fungsi.
Untuk mencegah nyeri kepala yang menyertai perubahan tekanan intracranial.
Monitor tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial selama perjalanan penyakit (nadi lambat, tekanan darah meningkat, kesadaran menurun, napas irregular, repleks pupil menurun, kelemahan).
Untuk mendeteksi tanda-tanda syok, yang harus dilaporkan ke dokter untuk intervensi awal.
Monitor TTV dan neurologis tiap 5-30 menit. Catat dan laporkan segera perubahan-perubahan tekanan intracranial ke dokter.
Perubahan-perubahan ini menandakan ada perubahan tekanan intracranial dan penting untuk intervensi awal.
Hinndari posisi tungkai ditekuk atau gerakan-gerakan klien, anjurkan untuk tirah baring.
Untuk mencegah peningkatan tekanan intracranial
Tinggikan sedikit kepala klien dengan hati-hati, cegah gerakan yang tiba-tiba dan tidak perlu dari kepala dan leher, hindari fleksi leher.
Untuk mengurangi tekanan intracranial.
Bantu seluruh aktivitas dan gerakan-gerakan klien. Beri petujunjukuntuk BAB (jangan enema). Anjurkan klien untuk menghembuskan napas dalam bila miring dan bergerak di tempat tidur. Cegah posisi pada lutut.
Untuk mencegah keregangan otot yang dapat menimbulkan peningkatan tekanan intracranial.
Waktu prosedur perawatan disesuaikan dan di atur tepat waktu dengan periode relaksasi, hindari rangsangan
lingkungan yang tidak perlu. dapat menimbulkan kejang. Beri penjelasan kepada keadaan
lingkungan klien
Untuk mengurasi solidaritasi dan untuk klarifikasi persepsi sensorik yang terganggu.
Evaluasi selama masa penyembuhan terhadap gangguan motorik, sensorik dan intelektual.
Untuk merujuk ke rehabilitasi.
Kolaborasi pemberian steroid osmotic. Untuk menurunkan tekanan intracranial
3. Nyeri kepala yang berhubungan dengan iritasi selaput dan jaringan otak Tujuan : Keluahn nyeri berkurang/rasa sakit terkendali
Kriteria hasil : Klien dapat tidur dengan tenang. Wajah rileks, dan klien menverbalisasikan penurunan rasa sakit.
Intervensi Rasionalisasi
Usahakan membuat lingkungan yang aman dan tenang
Menurunkan reaksi terhadap
rangsangan eksternal atau kesensitifan terhadap cahaya dan menganjurkan klien untuk beristirahat.
Kompres dingin (es) pada kepala. Dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah dan otak
Lakukan penatalaksanaan nyeri dengan metode distraksidan relaksasi napas dalam.
Membantu menurunkan (memutuskan) stimulasi sensasi nyeri
Lakukan latian gerak aktif atau pasif sesuai kondisi dengan lembut dan hati-hati.
Dapat bmembantu relaksasi otot-otot yang tegang dan dapat menurunkan nyeri/rasa tidak nyaman.
Kolaborasi pemberian analgesic. Mungkin diperlukan untuk menurunkan rasa sakit.
Catatan : Narkotika merupakan
kontraindikasi karena berdampak pada status neurologis sehingga sukar untuk di kaji.
mental, dan penurunan tingkat kesadaran.
Tujuan : Klien bebas dari cidera yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran.
Kriteria hasil : Klien tidak mengalami cidera apabila ada kejang berulang.
Intervensi Rasionalisasi
Monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya.
Gambaran iritabilitas system saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dengan
Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat klien.
Melindungi klien bila kejang terjadi.
Pertahankan bedrest total selama fase akut.
Mengurangi resiko jatuh/cidera terjadi vertigo dan ataksia
Kolaborasi pemberian terapi : diazepam, fenobarbital.
Untuk mencegah dan mengurangi kejang.
Contoh : fenobarbital dapat
menyebabkan depresi pernapasan dan sedasi.
5. Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan ketidakmampuan menelan, keadaan hipermetabolik.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
Kriteria hasil : Turgor baik, asupan dapat masuk sesuai kebutuhan, terdapat kemampuan menelan, sonde di lepas, berat badan meningkat, Hb dan albumin dalam batas normal.
Intervensi Rasionalisasi
Observasi tekstur dan turgor kulit Mengetahui status nutrisi klien Lakukan oral hygiene Kebersihan mulut merangsang nafsu
makan.
Observasi asupan dan keluaran. Mengetahui keseimbangan nutrisi klien. Observasi posisi dan keberhasilan
sonde
Tentukan kemampuan klien dalam mengunyah, menelan, dan reflex batuk
Untuk menetapkan jenis makanan yang diberikan pada klien.
Kaji kemampuan klien dalam menelan, batuk dan adanya sekret.
Dengan mengkaji faktor-faktor tersebut dapat menentuakan kemampuan
menelan klien dan mencegah risiko aspirasi.
Auskultasi bising usus, amati
penurunan atau hipersensitivitas bising usus
Fungsi gastrointestinal bergantung pada kerusakan otak. Bising usus
menentukan respon pemberian makan atau terjadinya komplikasi misalnya pada ileus.
Timbang berat badan sesuai indikasi Untuk mengevaluasi efektivitas dari asupan makanan
Berikan makanan dengan cara meninggikan kelapa
Menurunkan risiko regurgitasi atau aspirasi
Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, selama dan sesudah makan.
Untuk klien lebih mudah menelan karena gaya gravitasi.
Stimulasi bibir untuk menututup dan membuka mulut secara manual dengan menekan ringan atas bibir/dibawah dagu jika dibutuhkan.
Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan control muskular.
Letakkan makana pada daerah mulut yang tidak terganggu.
Memberikan stimulasi sensorik (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan usaha untuk menelan dan meningkatkan masukan.
Berikan makan dengan perlahan pada lingkungan yang tenang.
Klien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi dari luar.
Mulailah untuk memberikan makan per oral setengah cair dan makanan lunak ketika klien dapat menelan air
Makanan lunak/cair mudah untuk dikendalikan dalam mulut dan menurunkan terjadinya aspirasi. Anjurkan klien menggunakan sedotan
untuk minum
Menguatkan otot fasial dan otot menelan dan menurunkan terjadinya resiko tersendak.
dalam program latihan/kegiatan. endorphin dalam otak yang meningkatkan nafsu makan. Kolaborasi dengan tim dokter untuk
memberikan cairan melalui IV atau makanan melalui selang
Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika klien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut.
6. Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan prognosis
penyakit, perubahan psikososial, perubahan persepsi kognitif, perubahan actual dalam struktur dan fungsi, ketidakberdayaan dan merasa tidak ada harapan.
Tujuan : Harga diri klien meningkat
Kriteria hasil : Mampu menyatakan atau mengomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi, mampu menyatakan pencerminan diri terhadap situasi, mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negative.
Intervensi Rasionalisasi
Kaji perubahan klien dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan.
Menentukan bantuan untuk individu dalam penyusunan rencana perawatan atau pemilihan intervensi.
Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada klien.
Beberapa klien dapat menerima dan mengatur perubahan fungsi secara efektif dengan sedikit penyesuaian dir, sementara klien yang lain mempunyai kesulitan mengenal dan mengatur kekurangan.
Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan termasuk permusuhan dan kemarahan.
Menunjukkan penerimaan, membantu klien untuk mengenal dan mulai menyesuaikan dengan perasaan tersebut.
Catat ketika klien menyatakan pernyataan pengakuan terhadap penolakan tubuh, seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan ingin mati.
Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau perasaan negative terhadap gambaran tubuh dan kemampuan yang menunjukkan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional.
realita bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat.
perawat menerima kedua bagian sebagai bagian dari seluruh tubuh. Membiarkan klien untuk merasakan adanya harapan dan mulai menerima situasi baru.
Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan.
Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengendalikan lebih dari satu area kehidupan.
Anjurkan orang yang terdekat untuk mengijinkan klien melakukan sebanyak-banyaknya hal-hal untuk dirinya.
Menghidupkan kembali perasaan harga diri dan membantu perkembangan harga diri serta memengaruhi proses
rehabilitasi. Dukung perilaku atau usaha seperti
peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi.
Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa mendatang
Dukung penggunaan alat-alat yang dapat membantu adaptasi klien seperti tongkat, alat bantu jalan, tas panjang untuk kateter.
Meningkatkan kemandirian untuk membantu pemenuhan kebutuhan fisik dan menunjukkan posisi untuk lebih aktif dalam kegiatan social.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN Kasus :
An B umur 6 tahun dibawa ibunya ke UGD dalam keadaan somnolen. An B mengeluh kepalanya sakit dan badannya panas sekali. Setelah diperiksa, suhu 39⁰C, tekanan darahnya 90/60 mmHg, nadi 101x/menit, pernapasan 27x/menit, kaku kuduk. Ibu mengatakan bahwa An. B batuk sejak dua minggu yang lalu, sering muntah dan napsu makannya menurun. Ayah An B penderita TBC. Dari hasil CT scan dan pemeriksaan lumbal pungsi, dokter menyatakan An B mengalami infeksi pada meningen (meningitis).
Hasil lab:
Hb = 9
PaO2 = 58 (rendah dan butuh pemberian oksigen)
PaCO2 = 40 (normal tapi batas atas) A. Pengkajian
a. Identitas Nama : An. B Usia : 6 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tanggal pemeriksaan : 3 Maret 2015 Alamat: Kenjeran Surabaya
b. Keluhan utama
Pasien mengeluh sakit kepala dan demam tinggi. c. Riwayat penyakit sekarang.
An B umur 6 tahun dibawa ibunya ke UGD dalam keadaan somnolen. Anak mengeluh kepalanya sakit dan badannya panas sekali. Dari hasil pemeriksaan, dokter menyatakan An B mengalami infeksi pada meningen (meningitis).
d. Riwayat penyakit dahulu
An B batuk sejak dua minggu yang lalu. Riwayat penyakit keluarga
Ayah penderita TBC. e. Pemeriksaan fisik
TTV:
Suhu : 39⁰C
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Nadi : 101x/menit
Pernapasan : 27x/menit,
B1 (Breathing) : frekuensi RR meningkat, batuk. B2 (Blood) : takikardi.
B3 (Brain) : somnolen. kaku kuduk.
B4 (Bladder) : haluaran urin sedikit dengan warna kuning pekat. B5 (Bowel) : muntah 3x.
B6 (Bone) : lemah. f. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan lumbal pungsi : cairan keruh, jumlah sel darah putih meningkat, kultur positif terhadap beberapa bakteri. 2. CT scan : terdapat penumpukan cairan pada selaput meningen. B. Analisa Data
DS : klien mengatakan kepalanya sakit.
DO :
1) Hasil CT scan terlihat adanya cairan di selaput otak.
2) Pasien mengalami penurunan (normal tapi batas atas)
Darah sampai di selaput otak
Suplai darah ke otak turun
Penurunan kesadaran
Penurunan kapasitas adaptif intracranial.
DS : klien mengatakan badannya panas.
DO :
1) Suhu : 39⁰C 2) Badan terasa panas 3) Takipnea
DS : Ibu An B
mengatakan selama 2 minggu sakit anaknya sering muntah dan napsu makannya menurun.
DO :
1) kurus dan pucat 2) membrane mukosa
pucat
3) menolak untuk makan.
Bakteri tubercolusis
Masuk aliran darah
Darah sampai di selaput otak
Proses infeksi
Inflamasi pada piameter dan arachnoid
Peradangan meningen
Terbentuk jaringan parut atau pus
Aliran CSS terganggu
Penumpukan cairan di otak
Menekan otak
Gangguan neurologi
Muntah
Resiko