1 TUGAS MAKALAH
MATA KULIAH
SISTEM POLITIK DI INDONESIA Prof Drs. Purwo Santoso, MA, Ph.D
Dibuat Oleh :
Bayu Mahendra, S.H. 12912076
PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2
KRITIK TERHADAP SISTEM POLITIK DI INDONESIA ERA REFORMASI
A. PENDAHULUAN
Orde baru telah mengalami keruntuhan seiring jatuhnya Soeharto sebagai presiden yang telah memimpin Indonesia selama 32 Tahun, setelah sebelumnya krisis ekonomi menghancurkan legitimasi pemerintahan Orde Baru. Reformasi diharapkan dapat menjadi angin segar untuk memperbaiki sistem politik dan pemerintahan di Indonesia dimana seiring dengan bergulirnya reformasi keran demokrasi telah dibuka secara lebar.
Perubahan terbesar pasca reformasi adalah diadakannya pemilu yang diikuti oleh banyak partai dan hal tersebut membawa konsekwensi pola relasi antara presiden dan DPR mengalami perubahan mendasar. Jika pada masa lalu DPR hanya menjadi tukang stempel dimasa kini mereka bertindak mengawasi presiden. Disini dapat dilihat bahwa model politik yang digunakan tidak lagi executive heavy seperti masa orde baru, tetapi juga tidak terlalu legislative heavy seperti pada masa orde lama.
Sistem Presidensial yang diimbangi dengan sistem multi partai untuk membentuk parlemen yang betul – betul mengawasi presiden bukanlah solusi yang tanpa menimbulkan problematika baru. Para ahli perbandingan politik Scott Mainwaring atau Juan Linz dan Artueo Valensuela 1 mengatakan paling tidak ada tiga kelemahan dalam sistem ini yaitu pertama kemungkinan munculnya kelumpuhan pemerintahan atau deadlock akibat konflik eksekutif – legislative. Kedua kekakuan sistemik yang melekat pada sistem presidensial akibat masa jabatan eksekutif yang bersifat tetap, sehingga tidak
3
ada peluang untuk mengganti presiden di tengah jalan apabila kinerjanya tidak memuaskan publik. Ketiga prinsip “the winner takes all” yang inheren dalam sistem presidensial sehingga memberikan peluang bagi presiden untuk mengklaim pilihan – pilihan kebijakan politiknya atas nama rakyat dibandingan parlemen (DPR) yang didominasi kepentingan partisan dari partai – partai politik.
Apabila dilihat di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan kabinet pelanginya dimana institusi pembantu presiden banyak di isi oleh orang – orang dari parpol. Hal ini merupakan keniscayaan apabila presiden mengharapkan dukungan yang cukup besar di DPR. Namun kemudian misi utama kabinet menjadi bergeser lebih banyak menjalankan misi mengadakan kompromi dan akomodasi dengan partai – partai politik. Dari uraian pendahuluan di atas maka penulis merasa sangat tertarik untuk mengulas dan memberikan kritik terhadap Sistem Politik di Indonesia era Reformasi.
B. Tujuan
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Politik di Indonesia di Program Magister Hukum Universitas Indonesia, dengan tujuan lainnya adalah :
1. Untuk mengetahui sistem politik di era reformasi
4
C. PEMBAHASAN
- Pengertian Sistem
Kata system berasal dari kata syn’ dan ‘histanai’yang artinya “to place together” (menempatkan bersama-sama). Sistem diartikan sebagai “a complex of ideas, principles, forming a coherent whole, as the American system of government” (suatu kompleks gagasan, prinsip dan lain sebagainya, yang membentuk suatu keseluruhan yang berhubung – hubungan, seperti misalnya sistem pemerintahan Amerika).2
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sistem adalah merupakan sesuatu yang berhubung-hungan satu sama lain sehingga membentuk satu kesatuan. Suatu sistem dengan demikian pasti mempunyai struktur yang di dalamnya terdapat elemen – elemen yang satu satu sama lain saling berjalinan, dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain sehingga membentuk suatu kesatuan yang bulat.
Dalam kaitannya dengan pengertian ini maka Almond dan Powell mengatakan bahwa sistem menunjukkan saling ketergantungan dari bagian – bagian dan perbatasan antara sistem dengan lingkungannya. Yang dimaksud saling ketergantungan adalah bahwa bila cirri – ciri dari salah satu bagian dalam suatu sistem berubah maka semua bagian yang lain dan sistem itu secara keseluruhan akan terpengaruh.3
- Pengertian Politik
Politik berasal dari bahasa yunani yaitu “polis” yang artinya negara kota. Pada
awalnya politik berhubungan dengan berbagai macam kegiatan dalam negara/kehidupan
negara.4
2 Sukarna, Sistem Politik, 1990, hlm.13
5
Istilah politik dalam ketatanegaraan berkaitan dengan tata cara pemerintahan,
dasar - dasar pemerintahan, ataupun dalam hal kekuasaan negara. Politik pada dasarnya
menyangkut tujuan-tujuan masyarakat, bukan tujuan pribadi. Politik biasanya
menyangkut kegiatan partai politik, tentara dan organisasi kemasyarakatan.5
Dapat disimpulkan bahwa politik adalah interaksi antara pemerintah dan
masyarakat dalam rangka proses pembuatan kebijakan dan keputusan yang mengikat
tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.
- Pengertian Sistem Politik
Menurut Drs. Sukarno, sistem politik adalah sekumpulan pendapat, prinsip, yang
membentuk satu kesatuan yang berhubungan satu sama lain untuk mengatur
pemerintahan serta melaksanakan dan mempertahankan kekuasaan dengan cara mengatur
individu atau kelompok individu satu sama lain atau dengan Negara dan hubungan
Negara dengan Negara.6
Sistem Politik menurut Rusadi Kartaprawira adalah Mekanisme atau cara kerja
seperangkat fungsi atau peranan dalam struktur politik yang berhubungan satu sama lain
dan menunjukkan suatu proses yang langggeng.
- Pengertian Sistem Politik di Indonesia
Sistem politik Indonesia diartikan sebagai kumpulan atau keseluruhan berbagai
kegiatan dalam Negara Indonesia yang berkaitan dengan kepentingan umum termasuk
proses penentuan tujuan, upaya-upaya mewujudkan tujuan, pengambilan keputusan,
seleksi dan penyusunan skala prioritasnya.
6
Politik adalah semua lembaga-lembaga negara yang tersebut di dalam konstitusi
negara ( termasuk fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif ). Dalam Penyusunan
keputusan-keputusan kebijaksanaan diperlukan adanya kekuatan yang seimbang dan
terjalinnya kerjasama yang baik antara suprastruktur dan infrastruktur politik sehingga
memudahkan terwujudnya cita-cita dan tujuan-tujuan masyarakat/negara.
Dalam hal ini yang dimaksud suprastruktur politik adalah Lembaga-Lembaga
Negara. Lembaga-lembaga tersebut di Indonesia diatur dalam UUD 1945 yakni MPR,
DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi,
Komisi Yudisial. Lembaga-lembaga ini yang akan membuat keputusan-keputusan yang
berkaitan dengan kepentingan umum.
Badan yang ada di masyarakat seperti Parpol, Ormas, media massa, Kelompok
kepentingan (Interest Group), Kelompok Penekan (Presure Group), Alat/Media
Komunikasi Politik, Tokoh Politik (Political Figure), dan pranata politik lainnya adalah
merupakan infrastruktur politik, melalui badan-badan inilah masyarakat dapat
menyalurkan aspirasinya. Tuntutan dan dukungan sebagai input dalam proses pembuatan
keputusan. Dengan adanya partisipasi masyarakt diharapkan keputusan yang dibuat
pemerintah sesuai dengan aspirasi dan kehendak rakyat.
7
terlaksananya tugas Negara sebagaimana di tetapkan dalam UUD 1945. Hal ini karena para Founding Fathers menginginkan Negara ini bersatu pada mulanya, banyaknya suku,agama,pulau,bahasa dan corak ragam lainya di negeri ini.7
- Kritik terhadap Sistem Politik di Era Reforasi
Sistem politik Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah bangsa Indonesia sejak zaman kerajaan, penjajahan, kemerdekaan sampai masa reformasi sekarang. Para founding father bangsa telah merumuskan secara seksama sistem politik yang menjadi acuan dalam pengelolaan negara. Hal ini tentunya dilakukan dengan melihat kondisi dan situasi bangsa pada saat itu. Sistem politik Indonesia pada masa reformasi saat ini mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Bermunculan lembaga dan sistem yang baru dalam rangka merespon permasalahan bangsa yang semakin kompleks.
Orde Baru telah mengalami keruntuhan seiring jatuhnya soeharto sebagai presiden yang telah memimpimn Indonesia selama 32 tahun, pada tanggal 1 Mei Pak Harto akhirnya mengundurkan diri yang di sambut oleh masyarakat, utamnya di Jakarta dengan tumpah ruah di jalan, mereka bersujud kepada Pemilik Alam dengan berlinang air mata. Sesyukur itukah mereka, entahlah, mereka memang sudah bosan di pimpin selama setengah abad hanya dua orang saja.8 setelah sebelumnya krisis ekonomi menghancurkan legitimasi pemerintahn Orde Baru.
Dalam kaitan ini, Jhon Mcbeth9 memberikan komentar bahwa tanpa kehancuran di bidang ekonomi,yang selama ini menjadi landasan legitimasi pemerintahan soeharto, tidak akan ada kesempatan untuk perubahan politik. Sejak soeharto lengser dari kursi
7Roby Nurhadi & Syafrizal Rambe. 1998. “Profil Politik Indonesia Pasca Orde Baru”
Jakarta,2005 h.1-2.
8Roby Nurhadi. 1998. “Profil Politik Indonesia Pasca Orde Baru”Jakarta,2005. p.37
9Jhon McBeth. 2002. “political update”. Dalam Geoff Forrester (ed). Post-soeharto Indonesia: renewal or
8
kepresidenannya, bahkan sampai di penghujung abad 19, bangsa Indonesia belum mengetahui kemana arah perubahan akan terjadi. Pada saat itu, kita baru bisa mengecap aromanya saja. Pada tahun 1999, memang sudah di gelar pemilu multi partai. Tapi keikutsertaan 48 partai politik dari berbagai latar belakang yang kompleks, baru sebatas euphoria, bukan perubahan yang bermakna reformasi. Meski political will sudah mengiringnya.
Perlahan tapi pasti, bangunan reformasi mulai terlihat fondasinya di paruh akhir tahun 2000. Setidaknya, melalui keberanian untuk mengamandemen UUD 1945, bangsa ini tengah memulai perubahan yang bersifat struktural. Meski, sejak Habibie naik panggung kekuasaan, secara kultural, perubahan itu sudah terjadi. Bahkan, sampai pemilu kedua di era reformasi, pada tahun 2004 perubahan struktural dalam format politik Indonesia, seakan mencapai klimaksnya. Terlebih, ketika kesuksesan mengamandemenkan UUD 1945, di buktikan dengan lahirnya seoramg presiden republik Indonesia dari rahim pemilihan presiden langsung (Pemilu Presiden ).10
Era Reformasi seringkali di anggap sebagai era di mana “ banyak penumpang
gelap” masuk dalam gerbong gerakan refomasi. Hal ini dapat di lihat ketika beberapa mantan menteri di era orde baru berkoar-koar tentang reformasi. Bahkan, para mantan
birokrat sipil maupun militer termasuk pengusaha “merubah kostum politiknya” dari gaya orba menjadi gaya seorang reformis. Mereka terlibat aktif dalam mendanai aksi-aksi
mahasiswa dan massa. Bahkan, “ perselingkuhan” dengan media-media tertentu membuat
mereka sering “nongol” di media massa dengan tema-tema reformasi. Sudah bisa diduga
9
bahwa kaum-kaum oportunis tersebut berperan sebagai “kutu loncat” atau “ musang
berbulu ayam”.
Pada saat dimana partai-partai politik berdiri, kaum-kaum yang umumnya memiliki energi politik relatif besar tersebut, dengan mudah masuk kejajaran elit partai. Dan akhirnya, proses rekrutmen politik berjalan secara tidak sehat. Padahal proses rekrutmen politik tersebut seharusnya dilakukan dengan baik. Menurut Almond, rekrutmen politik merupakan proses penyeleksian individu untuk dapat mengisi lowongan jabatan-jabatan politik maupun pemerintahan, yang pada umumnya terdapat dua cara, yaitu secara terbuka dan tertutup. Rekrutmen politik yang bersifat terbuka merupakan proses penyeleksian terbuka untu seluruh warga negara. Sedangkan dengan rekrutmen politik tertutup dimaksudkan bahwa individu tertentu saja yang dapat di rekrut untuk menduduki jabatan politik maupun pemerintahan.11
Apalagi dilihat di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan kabinet pelanginya dimana institusi pembantu presiden banyak di isi oleh orang
– orang dari parpol. Hal ini merupakan keniscayaan apabila presiden mengharapkan dukungan yang cukup besar di DPR. Namun kemudian misi utama kabinet menjadi bergeser lebih banyak menjalankan misi mengadakan kompromi dan akomodasi dengan partai – partai politik. Suatu hal yang oleh banyak pengamat disepakati merupakan kemampuan untuk membangun sebuah jembatan yang cukup efektif dalam memelihara pola hubungan konsultatif dengan legislatif. 12
Menurut beberapa pengamat politik kompromi dan akomodasi itu sendiri di lain sisi mengandung beberapa hal yang kurang menguntungkan. Pertama, dengan banyaknya
11 Ibid hlm 13-14
1 0
pihak yang terlibat dalam politik kompromi keputusan yang dibuat kerap kali berjalan lambat dan tidak responsif. Hal ini terutama tidak saja demikian banyaknya pihak yang harus dilibatkan, tetapi juga mempertimbangkan efek-efek politik yang akan terjadi. Sering dalam situasi tersebut, obyektivitas menjadi tersingkir dan jalan tengah yang tidak tuntas menjadi pilihan pemerintah. Kasus lumpur Lapindo dan fenomena pemberantasan korupsi yang tebang pilih merupakan contoh-contoh hal tersebut.
Kedua, keterlibatan banyak partai menyebabkan keputusan yang ditujukan untuk kepentingan umum dan masa depan bangsa, terhambat oleh kepentingan sesaat partai-partai politik (baca elite politik). Nuansa oligarki ini menyebabkan persoalan-persoalan seperti kemiskinan, jumlah pengangguran, dan melambungnya harga-harga sembako seolah menjadi angin lalu saja.
Ketiga, nuansa politik yang lebih diutamakan dalam beragam masalah sebagai konsekuensi politik kompromi dan akomodasi, akhirnya memperlambat penguatan dan pendewasaan sistem politik .
1 1
sentralisasi kekuasaan sehingga menjadi wajar substansi hukum saat ini lebih buruk. "Politik menjadi tidak demokratis tapi oligarki," katanya. 13
Menurutnya, sistem politik oligarki membuat keputusan politik dilakukan secara kolutif oleh elit penguasa. Keputusan politik ditentukan elit politik dan menjadi sangat feodal. "Tidak ada perbaikan hukum, akibatnya proses kepemimpinan, proses prioritas politik tidak jalan sehingga menyebabkan orientasi membangun kesejahteraan rakyat tidak ada.
D. PENUTUP
Politik merupakan salah satu aspek yang sangat signifikan dalam keberlangsungan suatu negara. Baik – buruknya perkembangan suatu negara sangat tergantung pada sistem politik yang digunakan dan subjek atau pelaku dari sistem politik tersebut.
Saat ini sistem perpolitikan di Indonesia masih memiliki banyak catatan diantarannya :
1. Rekrutmen politik yang tertutup sehingga hanya individu tertentu saja yang dapat di rekrut untuk menduduki jabatan politik maupun pemerintahan. Hal ini dapat mengakibatkan tidak efisiennya roda politik maupun pemerintahan karena individu yang menjalankannya tidak kompeten.
2. Misi utama kabinet menjadi bergeser lebih banyak menjalankan misi mengadakan kompromi dan akomodasi dengan partai – partai politik.
3. Politik menjadi tidak demokratis tapi oligarki
13http://www.jurnas.com/news/94521/Mahfud_MD:_15_Tahun_Reformasi,_Hukum_dan_Politik_Indonesi
1 2 DAFTAR PUSTAKA
Juan Linz dan Arturo Valensuela, 1994 hlm
Jhon McBeth. 2002. “political update”. Dalam Geoff Forrester (ed). Post-soeharto Indonesia: renewal or chaos. The Netherlands: KITLV press.
Mariam Budiarjo, dkk, “Dasar-dasar ilmu Politik”, Gramedia, 2003
Murshadi “Ilmu Tata Negara; untuk slta kelas III” Rhineka Putra, bandung, 1999
Purwoko, system politik dan pemerintahan era reformasi, ejournal.undip.ac.id
Roby Nurhadi & Syafrizal Rambe. 1998. “Profil Politik Indonesia Pasca Orde
Baru”Jakarta,2005
Roby Nurhadi. 1998. “Profil Politik Indonesia Pasca Orde Baru”Jakarta,2005
Roby Nurhadi & Syafrizal Rambe. 1998. “Profil Politik Indonesia Pasca Orde Baru”Jakarta,2005
Rusnadi Kantaprawira, Sistem Politik Indonesia:Suatu Model Pengantar, 1988 Sukarna, Sistem Politik, 1990