• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Desa Progresive - Analisis Pengaruh Kulitas Infrastruktur Jalan Terhadap Harga-Harga Hasil Pertanian Di Kecamatan Dolok Silau

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Desa Progresive - Analisis Pengaruh Kulitas Infrastruktur Jalan Terhadap Harga-Harga Hasil Pertanian Di Kecamatan Dolok Silau"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Desa Progresive

Dasar pertimbangan untuk menentukan unsur Desa Lokalitas Pesisir Pantai dapat diproksi dari uraian teoritis yang dikemukakan Mosher AT (1974) dalam bukunya ” Creating A Progressive Rural Structure ” yang disadur oleh Wirjomidjojo R dan Sudjanadi dengan judul ” Menciptakan Struktur Pedesaan Progresif”. Untuk memajukan pertanian yang progresif harus memenuhi dulu dua syarat yakni :

1. Syarat pokok :

a. Tersedianya pasar untuk hasil usaha tani b. Adanya teknologi yang senantiasa berubah c. Tersedianya saprodi setempat yang lancar d. Adanya perangsang produksi

e. Adanya sarana pengangkutan yang lancar 2. Syarat Pelancar :

a. Pendidikan pembangunan b. Kredit Produksi

c. Kegiatan gotong royong petani

(2)

Untuk Desa Progresif yang dapat harus memiliki unsur dasar dan penunjang dari lokalitas usahatani yang progresif :

1) Satu Pusat Pasar dengan beberapa tempat jual beli untuk hasil bumi dan saluran-saluran untuk melancarkan sarana produksi dan alat-alat pertanian.

2) Cukup terdapatnya jalan baik dari usahatani menuju ketempat pusat pasat ataupun dari pusat pasar ke dunia luar.

3) Percobaan pengujian lokal untuk memperoleh cara-cara bertani yang menguntungkan,

4) Jasa-jasa Dinas Penyuluhan Pertanian ,

(3)

Penunjang Pertanian (A.T .Mosher : 1087)

Unsur –unsur dasar yang dikemukan ini dapat dimodefikasi untuk pembangunan Desa Lokalitas Pesisir pantai antara lain :

a. Adanya pasar input dan out put

b. Tersedianya sarana yang menghubungi pasar lokal dengan pasar di kota

c. Adanya lembaga Tranformasi teknologi proses tangkap dan proses pengolahan hasil tangkap

d. Jasa Penyuluhan Perikanan

e. Tersedianya Kredit Usaha Perikanan

f. Tersedianya informasi yang berkaitan dengan usaha perikanan

g. Adanya tenaga pendamping

2.2. Infrastruktur

2.2.1.Pengertian Infrastruktur

(4)

digunakan untuk menopang kelancaran kegiatan masyarakat sehingga dapat menekan inefisiensi dari aktivitas masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

(5)

Penggolongan infrastruktur menurut The World Bank yaitu:

• Infrastruktur ekonomi, merupakan infrastruktur fisik yang diperlukan untuk

menunjang aktivitas ekonomi, meliputi publik utilities (tenaga, telekomunikasi, air, sanitasi, gas), pekerjaan umum (jalan, bendungan, kanal, irigasi dan drainase) dan sektor transportasi (jalan rel, pelabuhan, lapangan terbang dan sebagainya).

• Infrastruktur sosial, meliputi pendidikan, kesehatan, perumahan dan rekreasi. • Infrastruktur administrasi, meliputi penegakan hukum, kontrol administrasi

dan koordinasi.

Pemerintah melalui PP No. 42/2005 tentang KPPI, menjelaskan beberapa jenis infrastruktur yang penyediannya diatur pemerintah, yaitu : infrastruktur transportasi, jalan, pengairan, air minum dan sanitasi, telematika, listrik dan pengangkutan migas. Penggolongan tersebut diatas dapat dikategorikan sebagai infrastruktur dasar karena sifatnya yang merupakan kepentingan umum dan dibutuhkan masyarakat luas sehingga perlu diatur oleh pemerintah. Pengertian diatur tidak sama dengan dibangun oleh pemerintah, karena penyediaan infrastruktur tersebut dapat dikerjasamakan pembangunan dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur.

2.2.2. Peran Infrastruktur Jalan dalam Perekonomian

(6)

Prof.Dr.Sunyoto Usman berpendapat bahwa infrstruktur sangat penting dalam menyediakan pelayanan untuk mendukung pembangunan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup. Menurut Prof.Dr.Ir.Danang Parikesit,M.Sc mengemukakan bahwa infrastruktur jalan memfasilitasi pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur jalan bertanggung jawab sebesar 5%-25% pada harga akhir sebuah komoditi yang ada di pasar. Apabila sistem transportasi tidak didorong secara bagus maka akan mengalami kenaikan harga-harga komoditi produk yang cukup besar dan hal itu akan mempengaruhi tingkat belanja masyarakat.

Dalam Undang-Undang Nomor 38 tahun 2004 tentang jalan, dijelaskan bahwa peran infrastruktur jalan adalah sebagai bagian prasarana transportasi yang mempunyai peran penting dalam bidang ekonomi, sosisal budaya, lingkungan hidup, politik, pertahanan dan keamanan, serta dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Selain itu, jalan sebagi prasarana bagi distribusi barang dan jasa merupakan urat nadi bagi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

(7)

2.2.3.Kualitas Infrastruktur Jalan dan Sistem Pemasaran

Salah satu fokus program kabinet Indonesia bersatu jilid II adalah membangun infrastruktur. Masyarakat internasional menggolongkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan infrastruktur terburuk. Dari 12 negarayang diteliti (Asian Development Bank/ADB, 2003). Indonesia menempati peringkat terbawah berbagai elemen infrastruktur keras fisik, seperti, jalan raya, pelabuhan, irigasi dan jaringan kereta api serba terbatas. Kualitasnya terus memburuk akibat anggaran pemeliharaan terbatas. Di negara mana pun, pembangunan infrastruktur merupakan tanggung jawab pemerintah. Besar kecilnya anggaran infrastruktur akan menunjukkan sejauh mana pemerintah peduli pada pembangunan infrastruktur.

Kualitas infrastruktur, baik yang keras fisik (jalan, pelabuhan, irigasi), keras nonfisik (telepon, internet, listrik, air) memainkan peran vital karena merupakan penggerak perekonomian. Infrastruktur berhubungan dengan tiga hal (Hartanto,2004) pertama, dukungan dasar bagi pengembangan pabrik/industri, misalnya, listrik, jalan dan jaringan telekomunikasi. Kedua, biaya produksi dan distribusi, baik bahan baku dan produk jadi. Ketiga, keterkaitan dengan pasar dan proses pemasaran.

(8)

(product), penetapan harga (price), pengiriman barang (place) dan mempromosikan barang.

Kaitan antara kualitas infrastruktur jalan dengan sistem pemasaran yaitu apabila kualitas infrastruktur jalan baik, maka sistem pemasaran hasil produksi lancar.

2.2.4.Pengaruh Kualitas Infrastruktur Terhadap Harga

Perkembangan infrastruktur dengan pembangunan ekonomi mempunyai hubungan yang erat dan saling ketergantungan satu sama lain. Perbaikan dan peningkatan infrastruktur pada umumnya akan dapat meningkatkan mobilitas penduduk, terciptanya penurunan ongkos pengiriman barang-barang, terdapatnya pengangkutan barang-barang dengan kecepatan yang lebih tinggi dan perbaikan kualitas dan jasa-jasa pengangkutan tersebut.

(9)

2.3. Biaya Transportasi

2.3.1. Pengertian Biaya Transportasi

Biaya transportasi merupakan biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan proses transportasi. Biaya tersebut berupa biaya penyediaan prasarana, biaya penyediaan sarana dan biaya operasional transportasi. Pihak-pihak yang menanggung biaya tersebut adalah sebagai berikut : (1) pengguna (penumpang/penyewa) yaitu ongkos, (2) Pemilik sistem (operator) yaitu biaya operasional dan pemeliharaan, (3) pemerintah yaitu biaya infrastruktur dan subsidi dan (4) non pemakai yaitu perubahan nilai tanah, produktivitas dan biaya sosial lainnya.

Biaya transportasi adalah sebagai dasar penentu tarif jasa transportasi, tingkat tarif ditentukan berdasarkan pada biaya langsung, biaya tak langsung dan keuntungan. Biaya langsung adalah jumlah biaya yang diperhitungkan dalam proses produksi yang harus dibayarkan langsung seperti gaji awak, BBM, dan biaya di terminal. Biaya tak langsung adalah biaya lain dalam menunjang proses produksi seperti biaya pemeliharaan, biaya umum/kantor dan pajak.

(10)

2.3.2. Kaitan Infrastruktur Jalan dengan Biaya Transportasi

Jalan merupakan prasarana penting sebagai penunjang transportasi, dimana jalan merupakan wahana tempat terjadinya gerakan transportasi sehingga terjalin hubungan antara satu daerah dengan daerah lain, hal ini dikatakan oleh Morlok (1998) yang menyatakan bahwa pengertian jalan adalah salah satu ruang dimana gerakan transportasi dapat terjadi. Jalan merupakan suatu kebutuhan yang paling esensial dalam transportasi. Tanpa adanya jalan tak mungkin disediakan jasa transportasi bagi pemakainya. Jalan ditujukan dan disediakan sebagai basis bagi alat angkutan untuk bergerak dari suatu tempat asal ke tempat tujuanya. Unsur jalan dapat berupa jalan raya, jalan kereta api, jalan air, dan jalan udara.

(11)

2.3.3. Biaya Transportasi dan Sistem Pemasaran

Ongkos-ongkos angkutan secara teoritis pada dasarnya dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu sebagai berikut:

1. Variable expenses, yaitu pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya cenderung untuk berubah-ubah kira-kira secara proposional dengan atu tergantung kepada volume angkutan dari lalu lintas (traffic). Ongkos transportasi ini seringkali disebut pula sebagai pengeluaran langsung (direct expenses). 2. Fixed expenses, yaitu pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya

sekurang-kurangnya dalam jangka pendek adalah tetap dan tidak tergantung pada volume angkutan dari traffic yang bersangkutan. Ongkos ini disebut pula sebagai indirect expenses, constant expenses, dan overhead expenses.

Selanjutnya ada pula penggolongan atau pembagian ongkos-ongkos industri transportasi ini yang lebih terperinci, yaitu diklasifikasikan ke dalam lima golongan, yaitu sebagai berikut, (1) prime expenses atau out-of-pocket expenses, (2) operation expenses, (3) overhead expenses, (4) joint expenses, dan (5) oppurtunity expenses.

Prime expenses atau out-of-pocket expenses merupakan ongkos variabel yang

(12)

tersebut diangkut termasuk sewaktu bongkar muat dan sifat barang yang diangkut, yaitu apakah lekas rusak sehingga perlu pengepakan khusus.

Operation expenses merupakan pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan dan

diperlukan dalam menjalankan operasional usaha pengangkutan seperti pemeliharaan jalan-jalan dan jaringan jalan, pemeliharaan kendaraan angkutan, permohonan izin administrasi, dan pengeluaran untuk umum seperti gaji dan ongkos-ongkos tenaga administrasi. Overhead cost merupakan ongkos tetap seperti ongkos-ongkos untuk manajemen interest atas modal, ongkos deperesiasi atau penyusutan peralatan, dan beberapa pajak tetap. Joint cost merupakan ongkos-ongkos yang tidak dapat dialokasikan atau dibebankan secara tersendiri terhadap masing-masing produk atau service yang diberikan, misalnya biaya-biaya yang dikeluarkan untuk terminal atau stasiun yang digunakan bersama-sama.

Pada umumnya kenaikan ongkos pengangkutan sedikit banyaknya akan mengakibatkan kenaikan harga barang-barang, pertama-tama pada barang-barang yang memerlukan jasa pengangkutan dan juga kemudian dapat menimbulkan kenaikan pula pada harga barang-barang lainnya. Hal ini disebabkan karena kenaikan ongkos pengangkutan itu menyebabkan naiknya ongkos-ongkos produksi serta ongkos-ongkos pemasaran barang-barang selanjunya para penjual pada umumnya akan membebankannya kepada para konsumen (Rustian Kamaluddin: 2003:38) 2.3.4. Pengaruh Biaya Transportasi Terhadap Harga Hasil-Hasil Pertanian

(13)

karena itu, adanya ongkos angkutan yang lebih murah akan dapat berakibat ongkos produksi dan harga jual yang lebih rendah pula.

Dengan demikian, hal ini akan dapat pula berakibat sebagai berikut:

• Bertambahnya kemampuan daya saing dari industri yang bersangkutan dalam

menghasilkan dan memasarkan hasil produksinya.

• Bertambahnya aksi radius dari pasar hasil produksi yang bersangkutan, yaitu

bertambah luasnya wilayah ataupun cukup jauhnya pasar yang dapat dilayani. Hal tersebut di atas, terjadi oleh karena adanya penurunan dalam ongkos transportasi akan menurunkan ongkos total dan harga jual dari barang yang bersangkutan. Jadi, berakibat akan dapat ditawarkannya barang-barang yang diperjualbelikan dengan harga yang relatif rendah kepada para konsumen di pasar. (Rustian Kamaluddin: 2003;30)

2.4. Penelitian Terdahulu

Beberapa penelelitian terdahulu yang berhubungan dengan judul penelitian penulis yaitu sebagai berikut:

(14)

didasarkan pada tingkat homogenitas suku dan mata pencarian penduduk, dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner dan focus group discussion(FGD), dengan metode analisis deskriptif, uji beda rata-rata pendapatan dan analisis SEM. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdampak positif dan signifikan terhadap perubahan pendapatan usaha ekonomi masyarakat, serta berdampak sosial lebih besar daripada dampak ekonomi hal ini terbukti dari nilai loading factor (LF=λ) X → Y1 dan X→ Y2 masing -masing

sebesar 0,540 untuk manfaat ekonomi dan 0,683 untuk manfaat sosial. Pemerintah perlu mendorong pembangunan di bidang infrastruktur jalan seperti angkutan umum yang lebih mudah dan murah, karena memberikan multiplier effect yang sangat signifikan kepada masyarakat.

Weka Gusmiarty dengan judul Analisis Disekonomi Dampak Kerusakan Jalan Poros Kendari-Torobulu dan Tampo-Wamengkoli terhadap Eksistensi dan Keberlanjutan Agribisnis Aneka Palma di Provinsi Sulawesi Tenggara. Adapun tujuan penelitian tersebut yaitu:

(15)

Kendari-pilihan bagi pelaku-pelaku agribisnis aneka palma dalam produksi, pengangkutan, dan pemasaran hasil produksinya dalam rangka eksistensi dn keberlanjutan agribisnis aneka palma di tengah kendala transportasi, (b) Merumuskan strategi keberlanjutan agribisnis aneka palma di sepanjang jalan poros Kendari-Torobulu, Tampo-Wamengkoli, (c) pengaplikasian strategi keberlanjutan agribisnis aneka palma di sepanjang jalan poros Kendari-Torobulu, Tampo-Wamengkoli. Analisis yang digunakan yaitu : (a) analisi deskriptif (b) analisis contingent valuation method (CVM) dan (c) analisis SWOT. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dengan pelaku agribisnis di sekitar jalanporos Kendari-Torobulu, Tampo-Wamengkoli.

2.5. Kerangka Konseptual

Infrastruktur jalan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Terdapat hubungan erat antara infrastruktur jalan dengan jangkuan dan lokasi kegiatan manusia dan barang-barang dan jasa. Dalam hal ini kaitannya dengan sistem pemasaran yaitu apabila infrastruktur jalan kualitasnya baik maka sistem pemasaran barang-barang dan jasa akan lancar.

(16)

mempunyai prasarana jalan dan jembatan yang memadai, sudah barang tentu hasil yang diperoleh tidak bisa dibawa keluar dari desa tersebut untuk dipasarkan. Kalaupun ada pembeli yang datang maka harganya akan sangat rendah, karena dibutuhkan proses lanjutan untuk membawanya ke pasar terdekat yang jelas-jelas membutuhkan biaya yang cukup banyak. Bila jalan dan jembatan tersedia dan memadai, komoditas tersebut bisa dibawa ke pasar dan akan mendapatkan harga yang layak dan sesuai dengan perkembangan dan mekanisme pasar. Dalam hal ini petani sebagai produsen, serta pembeli sebagai konsumen tidak merasa rugi. Dengan tersedianya jalan, input produksi dapat diperoleh dengan mudah dan mungkin murah, informasi cepat diperoleh, dan komunikasi dengan daerah lainnya lancar.

Dari uaraian diatas maka dapat digambarkan kerangka konseptual penelitian sebagai berikut:

X

2

X

1

X

3

(17)

Keterangan gambar :

X1= kualitas infrastruktur jalan X1= biaya transportasi

X3= sistem pemasaran Y = harga hasil pertanian 2.6. Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Adapun hipotesis berdasarkan perumusan masalah dan kerangka konseptual di atas adalah sebagai berikut :

1) Kualitas infrastruktur jalan berpengaruh negatif terhadap biaya transportasi pemasaran hasil-hasil pertanian di kecamatan dolok silau.

2) Kualitas infrastruktur jalan berpengaruh positif terhadap sistem pemasaran hasil-hasil pertanian di kecamatan dolok silau.

Gambar

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

NCKTO[C FCNCO WRC[COGPKPIMCVMCPRCPIUC RCUCT RGTWUCJCCP #FCRWP MGOCORWCP FCTK RCTC YKTCPKCIC [CPI CFC UGMCTCPI OCUKJ RGTNW FKVKPIMCVMCP KTKGPIKPICV RCUCT[CPI VGNCJ FKNC[CPK DCTW

Kembalinya Indonesia mendapat sambutan baik dari sejumlah negara Asia bahkan dari pihak PBB sendiri hal ini ditunjukkan dengan ditunjuknya Adam Malik sebagai Ketua Majelis Umum

Dengan adanya alat komunikasi handphone interaksi antara pasangan suami dan isteri di Desa Langkema Kecamatan Kabaena Selatan Kabupaten Bombana sudah sangat

Pesaing diplomasi AS di Timur Tengah adalah Iran dimana Iran menjadi negara yang sedikit banyak mengganggu kelancaran pengaplikasian strategi politik luar negeri

Sedangkan pada nilai penurunan konsolidasi (Sc), semakin dekat jarak pengambilan sampel dari kolom pasir maka nilai Sc semakin kecil, nilai Sc terkecil terjadi pada sampel

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan

Tujuan penelitian ini antara lain sebagai berikut:.. Mendeskripsikan latar belakang pendirian Ikhwanul Muslimin di Mesir tahun 1928-1949 dan Partai Keadilan Sejahtera tahun

Sumber data yang dipergunakan adalahdata sekunder, yaitu data yang telah jadi berupa laporan keuangan, dokumen yang berasal dari koperasi Credit Union Pancuran