PAJAK PENGHASILAN
PAJAK PENGHASILAN
A D A L A H
PAJAK YANG DIKENAKAN
•
TERHADAP SUBJEK PAJAK
•
ATAS PENGHASILAN YANG
•
DITERIMA ATAU DIPEROLEHNYA
ORANG PRIBADI
WAJIB PAJAK
BADAN
1 orang
1 keluarga dianggap sebagai satu kesatuan ekonomis
• sekumpulan orang dan atau modal • yang merupakan kesatuan
Kewajiban NPWP = PPh
UNDANG UNDANG
SUBJEK PAJAK
WAJIB PAJAK
NON - USAHA NON - PEK. BEBAS
USAHA / KEGIATAN PEK. BEBAS
OP > PTKP
Ya
• Orang Pribadi
• Badan
Diri WP
54.000.000
Status kawin
4.500.000
Istri – Penghasilan digabungkan dg
penghasilan suami
54.000.000
Tanggungan
4.500.000
No
Status
PTKP 2016
1
TK/0
54,000,000
2
TK/1
58,500,000
3
TK/2
63,000,000
4
TK/3
67,500,000
5
K/0
58,500,000
6
K/1
63,000,000
7
K/2
67,500,000
8
K/3
72,000,000
9
K/I/0
112,500,000
10
K/I/1
117,000,000
11
K/I/2
121,500,000
PEKERJAAN
KELOMPOK
SUMBER PENGHASILAN
LAIN-LAIN MODAL
USAHA & KEGIATAN
HUBUNGAN KERJA
PEKERJAAN BEBAS
HARTA GERAK
HARTA TAK GERAK
Contoh:
Pengacara, Akuntan, Dokter, Arsitek,
Jenis SPT Tahunan
1770 S
(sederhana)
1770
1771
ORANG PRIBADI
BADAN
WP yg menerima : ph hanya dari 1 pemberi
kerja,
dikenakan PPh Final, dikenakan PPh tersendiri,
bukan Objek
WP yg
melakukan usaha / pekerjaan bebas
SPT 1770-SS
• Digunakan oleh WP Orang Pribadi sbb :
• Pegawai/karyawan dg penghasilan bruto
kurang dari atau maks 60 jt rupiah setahun
• Penghasilan diperoleh dari 1 pemberi kerja
• Mendapat penghasilan lain yg dikenakan
PPh
Final,
seperti
:
Bunga
tabungan/deposito/koperasi,
WP OP YG MENGGUNAKAN 1770 S
WP Sebagai Karyawan Hanya Pada Satu Pemberi Kerja (Badan / Orang Pribadi)
• Bunga Deposito, Tabungan, Diskonto SBI
• Bunga/diskonto Obligasi di Bursa Efek • Penjualan Saham di Bursa Efek
• Hadiah Undian • Dll
(akan disampaikan kemudian)
• Penghasilan Istri dari 1 pemberi kerja • Penghasilan anak dari pekerjaan
BUKAN OBJEK
• Bantuan/sumbangan/hibah • Warisan
• Bagian laba anggota CV tidak atas
saham, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi
• Klaim asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, beasiswa
1
2
3
WP sebagai Karyawan Tetap
Dikenakan PPh Pasal 21, Rincian terdapat pada 1721 A1
Lanjutan …..
1770 S : PPh Final
No
Sumber/jenis Penghasilan
Tarif Pajak
1 Bunga deposito, tabungan, & diskonto SBI 20% 2 Bunga/diskonto obligasi di bursa efek 20%
3 Penjualan saham di bursa efek 0,1%
4 Hadiah undian 25%
5 Pesangon, THT/Tebusan pensiun bertingkat bila > 25 jt
6 Honorarium atas beban APBN/APBD 15%
7 Pengalihan hak atas Tanah/Bangunan 5% 8 Bangunan yg diterima d/r BGS(BOT) 5%
9 Sewa Tanah/Bangunan 10%
Penghasilan yang dikenakan PPh tersendiri
Penghasilan anak yang belum dewasa dari pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan usaha orang yang mempunyai hubungan
istimewa (tidak digabung dengan orang tuanya)
Anak yang belum dewasa adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah menikah.
Penghasilan istri (karyawati) bila diperoleh hanya dari 1 pemberi kerja dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya (tidak digabung dengan penghasilan suamin)
CONTOH KASUS
Tuan Badri, direktur PT. Maxima Consultindo, pada tahun 2006 sesuai formulir 1721-A1 dari perusahaannya mempunyai penghasilan sebesar Rp 56.567.100,00.
Ia sudah menikah dengan Shinta (35 tahun) dan sudah dikaruniai seorang anak yang lahir pada tanggal 10 Januari 2006. Shinta tidak bekerja.
1770 : WP – USAHA / PEKERJAAN BEBAS
< 1,8 milyar ≥ 1,8 milyar
Contoh besarnya norma
Jenis Usaha
Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya,Denpasar, Manado, Makassar, & Pontianak
Ibu kota propinsi lainnya
Daerah lainnya
Industri kecap, tauco, tempe, oncom, tahu, dan tempe, oncom, tahu, dan pengolahan kedele/kacang-kacangan
lainnya. 15 12,5 10
Perdagangan eceran barang-barang kelontong,
supermarket dan warunglangsam. 30 25 20
Perdagangan eceran barang-barang elektronik,
perlengkapan listrik, alat komunikasi, fotografi dan optik. 30 25 20
Rumah makan dan minum. 25 20 20
Notaris 55 50 50
Dokter. 45 42,5 40
1770 : WP – PEKERJAAN
• Karyawan Tetap (satu atau lebih pemberi kerja)
• Pegawai Tidak Tetap
• Penerima Upah
1770 : WP – Penghasilan DN lainnya
• Bunga (selain bunga deposito, tabungan, giro)
• Dividen
• Royalti
• Sewa
• Penghargaan & Hadiah (tidak dg undian)
1770 : WP – Penghasilan Luar Negeri
• Seluruh penghasilan dari LN
• Kerugian dari LN tidak boleh
1770 : WP - PPh Final
No
Sumber/jenis Penghasilan
Tarif Pajak
1 Bunga deposito, tabungan, & diskonto SBI 20% 2 Bunga/diskonto obligasi di bursa efek 20%
3 Penjualan saham di bursa efek 0,1%
4 Hadiah undian 25%
5 Pesangon, THT/Tebusan pensiun Bertingkat bila > 25 jt
6 Honorarium atas beban APBN/APBD 15%
7 Pengalihan hak atas Tanah/Bangunan 5% 8 Bangunan yg diterima d/r BGS(BOT) 5%
9 Sewa Tanah/Bangunan 10%
10 Usaha Jasa Konstruksi 2%, 4%, 4%
11 Penyalur/dealer/agen BBM 0,30%
1770 : WP - PPh Tersendiri
Sama dengan di 1770 S
1770 : WP – Bukan Objek
CONTOH KASUS
Tuan Badri, direktur PT. Maxima Consultindo, pada tahun 2006 sesuai formulir 1721-A1 dari perusahaannya mempunyai penghasilan sebesar Rp. 56.567.100,00.
Ia sudah menikah dengan Shinta (35 tahun) dan sudah dikaruniai seorang anak yang lahir pada tanggal 10 Januari 2006. Shinta mempunyai sebuah minimarket dengan omset setahun Rp.
240.000.000,00. Untuk menghitung pajak ia memilih menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto yang besarnya ditetapkan 20%. Selama tahun 2006 sudah membayar angsuran/PPh pasal 25 Rp. 200.000,00 tiap bulan
PPh BADAN
• Seluruh WP Badan pelaporan pajaknya
diperlakukan sama
SPT 1771
• Wajib menyelenggarakan pembukuan dengan
menyusun Laporan Keuangan di akhir tahun
(minimal Neraca & Laporan Laba Rugi)
PENGERTIAN
BADAN
:
sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan
baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha yang meliputi :
o perseroan terbatas, o perseroan komanditer, o perseroan lainnya,
o Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, o firma,
o kongsi, o koperasi, o dana pensiun, o persekutuan, o perkumpulan, o yayasan,
o organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, o lembaga,
o bentuk usaha tetap dan
Sumber Dokumen
Jurnal Neraca
Saldo
Praktek akuntansi yang lazim
Laba (Rugi) Fiskal
Rekonsiliasi Fiskal
Laba xxx
Kompensasi ( xxx ) Penghasilan Kena Pajak xxx PPh Terutang: xxx (10%, 15%, 30%)
Pendapatan
Objek Pajak – PPh Final
Objek Pajak – PPh Tidak Final
Biaya
Biaya berkaitan dg
Objek Pajak – PPh Tidak Final
Biaya berkaitan dg Objek Pajak – PPh Final
Pendapatan
Komersial
Bukan
Pendapatan
Komersial
OBJEK
PAJAK
Bukan
Objek
Pajak
PPh FINAL
PPh UMUM
Penggantian atau imbalan berkenaan dgn pekerjaan atau jasa yg diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dlm bentuk lainnya,
kec. ditentukan lain dlm UU ini
Laba usaha
Hadiah dari undian atau pekerjaan/kegiatan dan penghargaan
Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk : 1. keuntungan krn pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan
badan lainnya sbg penggantian saham/penyertaan modal;
2. keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan lainnya krn pengalihan harta kpd pemegang saham, sekutu atau anggota;
3. keuntungan krn likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha;
4. keuntungan krn pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan, kec. yang diberikan kpd keluarga sedarah dlm garis keturunan lurus satu derajat, dan badan keagamaan atau badan
pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yg ditetapkan oleh Menkeu, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yg bersangkutan
OBJEK PAJAK
Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya
Deviden, dgn nama dan dlm bentuk apapun, termasuk deviden dari perusahaan asuransi kpd pemegang polis, dan pembagian SHU koperasi
Royalti, sewa dan penghasilan lain sehubungan dgn penggunaan harta
OBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (1)
Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan krn jaminan pengembalian utang
Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala
Keuntungan krn pembebasan utang,
kecuali sampai dgn jumlah tertentu yg ditetapkan dgn PP
tambahan kekayaan neto yg berasal dari
penghasilan yg belum dikenakan pajak.
selisih lebih karena penilaian kembali aktiva,
iuran yg diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yg terdiri dari WP yg menjalankan usaha / pekerjaan bebas,
OBJEK PAJAK
Pasal 4 ayat (1)
PENGENAAN PAJAKNYA BERSIFAT FINAL
DIATUR DENGAN
PERATURAN PEMERINTAH
(PP)
- Bunga deposito/tabungan
- Transaksi saham dan sekuritas di bursa efek
- Pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan
- Penghasilan tertentu lainnya
BANTUAN ATAU SUMBANGAN TERMASUK ZAKAT YG DITERIMA BADAN AMIL ZAKAT/LEMBAGA AMIL ZAKAT DAN PENERIMA ZAKAT YG BERHAK
HARTA HIBAHAN DENGAN SYARAT TERTENTU
WARISAN
HARTA TERMASUK SETORAN TUNAI YG DITERIMA OLEH BADAN SEBAGAI
PENGGANTI SAHAM ATAU PENYERTAAN MODAL
PENGGANTIAN/IMBALAN DALAM BENTUK NATURA DAN/ATAU KENIKMATAN DARI WAJIB PAJAK ATAU PEMERINTAH
PEMBAYARAN DARI PERUSAHAAN ASURANSI KEPADA ORANG PRIBADI
SEHUBUNGAN DENGAN ASURANSI KESEHATAN/KECELAKAAN/JIWA/ DWIGUNA DAN BEA SISWA
TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK
DIVIDEN /BAGIAN LABA YG DITERIMA/DIPEROLEH
PT SBG WP D.N KOPERASI,BUMN/BUMD, DARI PENYERTAAN MODAL PADA BADAN YANG DIDIRIKAN/BERTEMPAT KEDUDUKAN DI INDONESIA DGN
SYARAT DEVIDEN BERASAL DARI CADANGAN LABA YG DITAHAN DAN
KEPEMILIKAN PADA BADAN YG MEMBERIKAN DEVIDEN PALING RENDAH 25%
DARI JUMLAH MODAL YG DISETOR DAN HRS MEMPUNYAI USAHA AKTIF
DILUAR KEPEMILIKAN SAHAM TSB
IURAN YG DIPEROLEH DANA PENSIUN YG PENDIRIANNYA TELAH DISAHKAN OLEH MENKEU DAN PENGHASILAN DANA PENSIUN TSB DARI MODAL YG DITANAMKAN DLM BIDANG TERTENTU YG DITETAPKAN MENKEU
BAGIAN LABA YG DITERIMA/DIPEROLEH ANGGOTA DARI BADAN USAHA YG MODALNYA TDK TERBAGI ATAS SAHAM (CV, Persekutuan, dll)
BUNGA OBLIGASI YG DITERIMA ATAU DIPEROLEH PERUSAHAAN REKSA DANA SELAMA 5 TAHUN PERTAMA SEJAK PENDIRIAN/PEMBERIAN IZIN USAHA
TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK
PENGHASILAN YG DITERIMA/DIPEROLEH PERUSAHAAN MODAL VENTURA BERUPA BAGIAN LABA DARI BADAN PASANGAN USAHA YG DIDIRIKAN DAN MENJALANKAN USAHA/KEGIATAN DI INDONESIA DGN SYARAT BADAN
PASANGAN USAHA MERUPAKAN PERUSAHAAN KECIL, MENENGAH, ATAU YG MENJALANKAN KEGIATAN DLM SEKTOR-SEKTOR USAHA YG DITETAPKAN DGN KEPMENKEU DAN SAHAMNYA TDK DIPERDANGKAN DI BURSA EFEK DI INDONESIA
TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK
BIAYA-BIAYA YANG BOLEH
DIKURANGKAN DARI
PENGHASILAN BRUTO
Pasal 6 ayat (1)
Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan
Penyusutan dan amortisasi
Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan
Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki
dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan;
Kerugian karena selisih kurs mata uang asing;
Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan
di Indonesia;
Biaya bea siswa, magang, dan pelatihan;
Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih,
BIAYA UNTUK MENDAPATKAN, MENAGIH, DAN MEMELIHARA PENGHASILAN YANG MERUPAKAN
OBJEK PAJAK, TERMASUK
1. TELAH DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA DALAM LAPORAN LABA RUGI KOMERSIAL; 2. TELAH DISERAHKAN PERKARA PENAGIHANNYA KEPADA PN ATAU BUPLN ATAU
ADANYA PERJANJIAN TERTULIS MENGENAI PENGHAPUSAN PIUTANG/PEMBEBASAN UTANG ANTARA KREDITUR DAN DEBITUR YBS;
3. TELAH DIPUBLIKASIKAN DALAM PENERBITAN UMUM ATAU KHUSUS; DAN
4. WP HARUS MENYERAHKAN DAFTAR PIUTANG YANG TIDAK DAPAT DITAGIH KEPADA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
PIUTANG YANG NYATA-NYATA
TIDAK DAPAT DITAGIH
SYARAT
PENGELUARAN YANG BOLEH DIBEBANKAN SBG BIAYA
Yang dimaksud dengan penerbitan umum atau khusus adalah:
a. Penerbitan koran/majalah atau media massa cetak yang lazim
lainnya yang berskala nasional;
atau
b. Penerbitan khusus Himpunan Bank-Bank Milik Negara
(HIMBARA)/persatuan Bank-Bank
Swasta Nasional (PERBANAS); atau
PEMBAGIAN LABA DENGAN NAMA DAN DALAM BENTUK APAPUN
BIAYA YG DIBEBANKAN UTK KEPENTINGAN PRIBADI
PEMEGANG SAHAM, SEKUTU, ATAU ANGGOTA
PEMBENTUKAN DANA CADANGAN KECUALI
CADANGAN UNTUK JENIS USAHA TERTENTU YANG DITETAPKAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN
PREMI ASURANSI KESEHATAN, KECELAKAAN, JIWA, DWI GUNA, DAN ASURANSI BEA SISWA YG DIBAYAR OLEH WP ORANG PRIBADI
PENGGANTIAN/ IMBALAN PEKERJAAN/JASA YG DIBERIKAN DALAM BENTUK NATURA DAN
KENIKMATAN KECUALI
- PENYEDIAAN MAKANAN DAN MINUMAN BAGI SELURUH PEGAWAI - DI DAERAH TERTENTU DAN
- YANG BERKAITAN DENGAN PELAKSANAAN PEKERJAAN YANG DITETAPKAN KEPMENKEU
PENGELUARAN YANG TIDAK BOLEH
DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO
JUMLAH YANG MELEBIHI KEWAJARAN YG DIBAYARKAN KEPADA PEMEGANG SAHAM ATAU PIHAK YG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA
HARTA YG DIHIBAHKAN, BANTUAN / SUMBANGAN, DAN WARISAN SESUAI PSL 4 AYAT (3) HURUF a DAN b
KECUALI :ZAKAT ATAS PENGHASILAN YANG DIBAYARKAN OLEG WP ORANG
PRIBADI PEMELUK AGAMA ISLAM DAN ATAU WP BADAN D.N YANG DIMIILIKI OLEH PEMELUK AGAMA ISLAM, KEPADA BADAN AMIL ZAKAT ATAU LEMBAGA AMIL ZAKAT YANG DIBENTUK/DISAHKAN PEMERINTAH
PAJAK PENGHASILAN
GAJI ANGGOTA PERSEKUTUAN, FIRMA, ATAU PERSEROAN KOMANDITER YG MODALNYA TIDAK TERBAGI ATAS SAHAM
SANKSI ADMINISTRASI DAN PIDANA DI BIDANG PERPAJAKAN
BIAYA YANG DIBEBANKAN/ DIKELUARKAN UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI WP ATAU ORANG YANG MENJADI TANGGUNGAN
PENGELUARAN YANG TIDAK BOLEH
DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO
BIAYA 3M UNTUK PENGHASILAN YG BUKAN OBJEK PAJAL BIAYA 3M UNTUK PENGHASILAN YG DIKENAKAN PPh FINAL BIAYA 3M PENGHASILAN YG PAJAK DIHITUNG DG NORMA
KERUGIAN HARTA / HUTANG YG TIDAK DIMILIKI & DIGUNAKAN UNTUK 3M OBJEK PAJAK
PPh DITANGGUNG PERUSAHAAN
PENGELUARAN YANG TIDAK BOLEH
DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO
KERUGIAN DAPAT DIKOMPENSASIKAN DENGAN PENGHASILAN
MULAI TAHUN PAJAK BERIKUTNYA BERTURUT-TURUT
SAMPAI DENGAN 5 (LIMA) TAHUN
PENANAMAN MODAL DI BIDANG USAHA PERKEBUNAN TANAMAN KERAS DAN
PERTAMBANGAN, DI DAERAH TERPENCIL,
KOMPENSASI KERUGIAN PALING LAMA 10 TAHUN
PENANAMAN MODAL DI BIDANG USAHA PERKEBUNAN TANAMAN KERAS DAN
PERTAMBANGAN DI LUAR DAERAH TERPENCIL, KOMPENSASI KERUGIAN DIBERIKAN PALING LAMA 8 TAHUN
KOMPENSASI KERUGIAN
CONTOH KOMPENSASI
KERUGIAN DAN PENGHASILAN
NETO FISKAL
KOMPENSASI KERUGIAN FISKAL
TA
HUN RUPIAH TH. 1999(Rupiah) TH. 2000(Rupiah) TH. 2001(Rupiah) TH. 2002(Rupiah)
TH. 2003 (Tahun Pajak ini)
RUPIAH *)
TH. 2004 (Tahun Berjalan)
RUPIAH **)
JUMLAH : - 30.000.000 10.000.000 - - 25.000.000 Dari tahun 1995 s.d. 1999 tidak ada keuntungan sehingga tidak ada kompensasi.
PENGELUARAN UNTUK MENDAPATKAN, MENAGIH, DAN
MEMELIHARA PENGHASILAN YANG MEMPUNYAI MASA
MANFAAT LEBIH DARI SATU TAHUN
DIBEBANKAN MELALUI PENYUSUTAN ATAU
AMORTISASI
PENGELUARAN YANG TIDAK BOLEH
DIBEBANKAN SEKALIGUS
BANGUNAN
SELAIN BANGUNAN USAHA TERTENTUMETODE GARIS LURUS
METODE SALDO MENURUN
PADA AKHIR MASA MANFAATDISUSUTKAN
SEKALIGUS
DITETAPKAN MENTERI KEUANGAN
HARTA BERWUJUD
PENYUSUTAN
Pasal 11 ayat (1),(2) dan (7)
KECUALI :
DASAR PENYUSUTAN BAGI WP YG MELAKUKAN PENILAIAN KEMBALI AKTIVA SESUAI PASAL 19
NILAI SETELAH DILAKUKAN PENILAIAN KEMBALI AKTIVA
PADA BULAN PENGELUARAN
KECUALI :
HARTA YG MASIH DLM PROSES PENGERJAAN,
PADA BULAN SELESAINYA PENGERJAAN
PADA BULAN HARTA MULAI DIGUNAKAN/
MENGHASILKAN DENGAN PERSETUJUAN DIRJEN PAJAK
SAAT MULAI PENYUSUTAN
KEL. HARTA MASA TARIF PENYUSUTAN - KELOMPOK 4
4 THN 25 % 50 %
PENENTUAN KELOMPOK HARTA BERWUJUD DITETAPKAN DENGAN KMK
MASA MANFAAT DAN TARIF PENYUSUTAN
JUMLAH
NILAI SISA BUKU
DIBEBANKAN SEBAGAI
KERUGIAN
JUMLAH HARGA JUAL
ATAU
PENJUALAN ATAU PENGALIHAN HARTA SESUAI PSL 4 Ayat (1) Huruf d
ATAU PENARIKAN HARTA KARENA SEBAB LAINNYA
DIBUKUKAN SBG BEBAN MASA KEMUDIAN DENGAN PERSETUJUAN DIRJEN PAJAK
KERUGIAN SEBESAR NILAI SISA BUKU HARTA KARENA PENGGANTIAN ASURANSI
YG JUMLAHNYA BARU
DAPAT DIKETAHUI DI MASA KEMUDIAN
PADA TAHUN TERJADINYA PENGALIHAN ATAU PENARIKAN HARTA
PENGALIHAN HARTA BERWUJUD
METODE
GARIS LURUS
METODE
SALDO
MENURUN
PADA AKHIR MASA MANFAAT
DIAMORTISASI SEKALIGUS (CLOSED ENDED)
AMORTISASI
KELOMPOK MASA TARIF AMORTISASI - KELOMPOK 4
4 THN 25 % 50 % 8 THN 12,5 % 25 % 16 THN 6,25 % 12,5 % 20 THN 5 % 10 %
1. BIAYA PENDIRIAN
2. BIAYA PERLUASAN MODAL
TARIF BERDASARKAN KELOMPOK HARTA ATAU DIBEBANKAN SEKALIGUS PADA TAHUN TERJADINYA
PENGELUARAN PENGELUARAN UNTUK
MEMPEROLEH HAK PENAMBANGAN MIGAS
PENGELUARAN SEBELUM OPERASI KOMERSIL YANG MASA MANFAAT > 1 TAHUN
METODE SATUAN PRODUKSI
TARIF BERDASARKAN KELOMPOK HARTA 1. HAK PENAMBANGAN SELAIN MIGAS
2. HAK PENGUSAHAAN HUTAN 3. HAK PENGUSAHAAN SUMBER DAN HASIL ALAM LAINNYA
METODE SATUAN PRODUKSI SETINGGI-TINGGINYA
20 % SETAHUN
MASA MANFAAT DAN TARIF AMORTISASI
Biaya Perolehan
50% Biaya Perolehan
50% Biaya Perawatan dan BBM
Kelompok 2
Biaya
Perawatan dan BBM
Perlakuan Khusus Penyusutan Fiskal
Aktiva perusahaan yang merupakan fasilitas bagi karyawan
Aktiva perusahaan yang merupakan fasilitas bagi karyawan
Sedan dan sejenisnya
Dibebankan seluruhnya Bus
Karyawan Kelompok 2
Dibebankan
50% Biaya Perolehan
50% Biaya Pulsa dan Perbaikan
Kelompok 1
Dibebankan Telepon
Perlakuan Khusus Amortisasi Fiskal
Harga Perolehan
Biaya Up-grade
Software
TANAH Untuk Pertama kali Di kapitalisasi
Biaya Perpanjangan HGB, HGU dan
Hak Pakai atas TANAH
Bunga tersebut dikapitalisasi, pada :
- pembelian saham
- pembelian tanah (real estate) - masa konstruksi
Perlakuan PPh atas Bunga Pinjaman
Bunga Pinjaman
Sepanjang berhubungan dengan biaya untuk 3 M
penghasilan (obyek PPh non-final)
Dapat dibebankan
Perlakuan PPh atas Bunga Pinjaman
Apabila WP juga mempunyai deposito atau tabungan
Bunga tidak boleh dibebankan
Rata-rata Pinjaman
= <
Rata-rata Dep/Tab
Bunga dibebankan atas selisih lebih rata-rata pinjaman
Rata-rata Pinjaman
>
Rata-rata Dep/Tab
Bunga dapat dibebankan seluruhnya dalam hal : - dana pinjaman ditempatkan dalam rekening giro
- ketentuan mengharuskan dana pinjaman ditempatkan di dep/tab
- saldo dep/tab dananya berasal dari tambahan modal/sisa laba
Bunga yg diperkenankan:
(Rata2 Pinjaman – Rata2 Deposito)
BIAYA ENTERTAINMENT
SE-27/PJ.22/1986
Dapat dikurangkan sebagai biaya dengan syarat:
• Benar-benar dikeluarkan
dan
ada hubungannya
dengan
kegiatan usaha
wajib pajak
• Dibuatkan
daftar nominatif
dan
dilampirkan dalam SPT
Tahunan PPh, yang memuat nomor urut, tanggal dan
jenis entertainment, nama tempat, alamat, jumlah, nama
relasi, posisi, nama perusahaan, jenis usaha.
No Tanggal EntertainJenis ment
Nama
Tempat TempatAlamat Jumlah
Relasi
Nama Posisi Perusahaan Usaha
1.
Penyisihan/Cadangan : BANK
Bagi Bank Umum (lihat KMK No 68/KMK.04/1999), cadangan kerugian :
1% dari jumlah kredit lancar
5% dari jumlah kredit dalam perhatian khusus
15% dari jumlah kredit kurang lancar setelah dikurangi nilai agunan 50% dari jumlah kredit diragukan setelah dikurangi nilai agunan 100% dari jumlah kredit macet setelah dikurangi nilai agunan
Bagi Bank Perkreditan Rakyat atau BPR (KMK No.204/KMK.04/2000), cadangan kerugian :
0,5% dari jumlah kredit lancar
3% dari jumlah kredit kurang lancar setelah dikurangi nilai agunan 50% dari jumlah kredit diragukan setelah dikurangi nilai agunan 100% dari jumlah nilai kredit macet setelah dikurangi nilai agunan
Nilai agunan yang dikurangkan setinggi-tingginya : • seluruh nilai agunan yang bersifat lancar.
Peraturan Menteri Keuangan No.
93/PMK.03/2006
tanggal 13 Oktober 2006
Sumbangan yang diberikan oleh Wajib Pajak dalam rangka bantuan kemanusiaan bencana alam gempa bumi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Provinsi Jawa Tengah yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 serta gempa bumi dan tsunami di pesisir pantai selatan pulau Jawa pada tanggal 17 Juli 2006 dapat dibiayakan.
Peraturan Menteri Keuangan No.
94/PMK.03/2006
tanggal 13 Oktober 2006
Sumbangan meliputi uang dan/atau barang
Sumbangan harus ditampung, disalurkan, dan/atau dikelola oleh instansi
Pemerintah antara lain Kantor Wakil Presiden, Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Departemen Sosial, Departemen Kesehatan, dan Departemen Keuangan, serta pihak-pihak lain yang dapat
dipertanggungjawabkan keberadaannya, termasuk Palang Merah Indonesia, media massa cetak dan elektronik, dan organisasi sosial dan/atau keagamaan.
Sumbangan harus didukung oleh bukti-bukti yang sah dan dapat diuji
LAPISAN PKP TARIF PAJAK
- S/D Rp 50.000.000,00 10 % - DI ATAS Rp 50.000.000,00 15 % S/D Rp 100.000.000,00
- DI ATAS Rp 100.000.000,00 30 %
DENGAN PERATURAN PEMERINTAH DAPAT DITETAPKAN :
• Tarif tertinggi diturunkan menjadi paling rendahnya 25 %
• Tarif pajak tersendiri atas penghasilan tertentu , sepanjang tidak melebihi tarif pajak tertinggi
LAPISAN PKP
DAPAT DIUBAH DENGAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN
TARIF PAJAK PENGHASILAN
Pasal 17 ayat 1 (b), (2), (3) dan (7)
JUMLAH PKP DIBULATKAN KE BAWAH DALAM
RIBUAN RUPIAH PENUH UNTUK KEPERLUAN PENERAPAN TARIF PAJAK
TARIF PAJAK PENGHASILAN
Pasal 17 ayat (4)
Contoh:
123.456.789
123.456.000
- DILAKUKAN SETIAP
BOLEH DIKREDITKAN
TERHADAP PPh YANG TERUTANG UNTUK TAHUN PAJAK YBS
KECUALI
PEMBAYARAN PPh YANG BERSIFAT FINAL
- PEMOTONGAN DAN PEMUNGUTAN PAJAK OLEH PIHAK LAIN (PPh Psl 21,22,23,24)
- PEMBAYARAN OLEH WAJIB PAJAK SENDIRI (PPh Pasal 25)
PELUNASAN PPh
DALAM TAHUN BERJALAN
LANGKAH MENGHITUNG
PAJAK PENGHASILAN PADA AKHIR TAHUN
IDENTIFIKASI PENGHASILAN
IDENTIFIKASI BIAYA
IDENTIFIKASI KERUGIAN TAHUN-TAHUN
SEBELUMNYA
IDENTIFIKASI PPh YANG TELAH
DIPOTONG/DIPUNGUT PIHAK LAIN
IDENTIFIKASI PENGHASILAN
PASAL 4 AYAT 1 (PENGHASILAN YANG
DIKENAKAN PAJAK SECARA UMUM)
PASAL 4 AYAT 2 (PENGHASILAN YANG
DIKENAKAN PAJAK SECARA FINAL)
IDENTIFIKASI BIAYA
DEDUCTIBLE EXPENSES (PASAL 6 UU PPh)
Biaya yang dapat dikurangkan
IDENTIFIKASI KERUGIAN
TAHUN-TAHUN SEBELUMNYA
KERUGIAN YANG DIKOMPENSASIKAN TIDAK BOLEH MELEBIHI
LIMA TAHUN
KOMPENSASI SESUAI SURAT KETETAPAN PAJAK YANG
DITERBITKAN KPP (dalam hal sudah dilakukan pemeriksaan)
KOMPENSASI RUGI SESUAI SPT TAHUNAN TAHUN YANG
MENYATAKAN KERUGIAN (bila belum dilakukan
IDENTIFIKASI PPh YANG TELAH
DIPOTONG/DIPUNGUT PIHAK LAIN
PPh Pasal 22
PPh Pasal 23
PPh Pasal 24
• PPh Pasal 25
• Pokok STP PPh Pasal 25 (baik sudah atau belum dibayar)
• Fiskal Luar Negeri
• PPh atas pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan (utk WP Badan)
KOMERSIAL vs FISKAL
UNSUR LAPORAN
RUGI LABA KOMERSIAL KOREKSI FISKAL
Penghasilan
Obyek Pajak
Dikenakan PPh Final
Non Obyek Pajak
Dikenakan PPh Final
Non Obyek Pajak
Obyek Pajak
Biaya
Deductible
Non Deductible
Non
Deductible
Deductible
Laba
PSAK 46
AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN
PENYAJIAN/PERLAKUAN TERHADAP ADANYA BEDA WAKTU ANTARA AKUNTANSI DENGAN PERATURAN PAJAK
Penyajian & Penghitungan Pajak Tangguhan: 1. Pendekatan Akun Neraca
Untuk tahun pertama pembentukan pajak tangguhan:
APT, kredit Penghasilan Pajak Tangguhan
Untuk tahun pertama pembentukan pajak tangguhan:
Penghasilan Pajak Tangguhan, debet APT