AKUNTANSI KEUANGAN
Akuntansi
Keuangan
• Bab I
– Konsep Dasar
• Bab II
– Siklus Akuntansi
• Bab III
– Aktiva
• Bab IV
- Kewajiban dan Modal
Bab I – Konsep Dasar
Pendahuluan
Konsep Dasar
Akuntansi
Persamaan
Akuntansi
Sistem
Pencatatan
• Accounting is a service activity. Its function is to provide quantitative information, primarily financial in nature, about economic entities that is intended to be useful in making economic decisions - in making reasoned choices among alaternatives courses of action (AICPA, 1970).
• Informasi kuantitatif (laporan keuangan):
Neraca, Laporan Laba-Rugi, Laporan Laba Ditahan (Laporan Perubahan Modal), dan Laporan Arus Kas.
• LK tersebut berasal dari bukti-bukti transaksi yang diproses melalui siklus akuntansi:
– Pencatatan (recording),
– pengelompokan (classifying), dan – pelaporan (reporting) serta
– penafsiran atau interprestasi (interpreting).
Bab I – Konsep Dasar (2)
Pendahuluan
Konsep Dasar
Akuntansi
Persamaan
Akuntansi
Sistem
Pencatatan
• Kesatuan Akuntansi
Setiap perusahaan merupakan satu kesatuan yang berdiri sendiri dan terpisah dari kegiatan lainnya atau urusan pribadi pemiliknya.
• Nilai Historis
Aktiva selalu dicatat dan dilaporkan berdasarkan nilai perolehannya (nilai historis).
• Obyektivitas
Pencatatan transaksi harus didasarkan pada bukti atas fakta yang obyektif dan dapat diverifikasi.
• Berkesinambungan
Perusahaan diasumsikan akan beroperasi secara
Bab I – Konsep Dasar (3)
Pendahuluan
Konsep Dasar
Akuntansi
Persamaan
Akuntansi
Sistem
Pencatatan
• Unit Pengukuran
Transaksi akuntansi dan hasilnya (yang disajikan) dalam Laporan Keuangan dinyatakan dalam nilai satuan uang.
Disamping konsep dasar tersebut diatas, terdapat pula asas akuntansi yang meliputi:
– asas kas (cash basis) dan – asas akrual (accrual basis).
Akuntansi Komersial menggunakan asas akrual:
Bab I – Konsep Dasar (4)
Pendahuluan
Konsep Dasar
Akuntansi
Persamaan
Akuntansi
Sistem
Pencatatan
• AKTIVA = HUTANG + MODAL
• Aktiva merupakan sumber-sumber ekonomi atau kekayaan riil yang dimiliki perusahaan dan digunakan untuk
menjalankan kegiatan usahanya.
• Hutang merupakan kewajiban perusahaan yang timbul
kepada pihak ketiga yang harus dibayarkan oleh perusahaan di masa depan atau pada saat jatuh tempo.
• Modal merupakan kekayaan bersih pemilik yang ditanamkan di perusahaan.
– Modal merupakan selisih antara total aktiva dikurangi total kewajiban/hutang.
– Modal dapat mengalami perubahan karena adanya tambahan setoran modal, pengambilan untuk
Bab I – Konsep Dasar (5)
Pendahuluan
Konsep Dasar
Akuntansi
Persamaan
Akuntansi
Sistem
Pencatatan
• Untuk setiap AKUN:
– DEBET mencerminkan sisi kiri – KREDIT mencerminkan sisi kanan • Setiap Penambahan:
– AKTIVA dan BIAYA dicatat dengan mendebet,
– HUTANG, MODAL, dan PENDAPATAN dicatat dengan mengkredit.
• Pengurangan dicatat secara logis di sisi yang berlawanan dengan penambahan.
• Saldo normal setiap Akun adalah pada sisi di mana penambahan dicatat:
– Debet: Aktiva dan Biaya
Bab I – Konsep Dasar (6)
Pendahuluan
Konsep Dasar
Akuntansi
Persamaan
Akuntansi
Sistem
Pencatatan
• Ikhtisar penambahan & pengurangan Akun sbb: Aktiva Hutang Modal
(+) D K K
(-) K D D
Normal D K K Biaya Pendapatan (+) D K (-) K D Normal D K
• Aktiva, Hutang, dan Modal, yang merupakan elemen Neraca disebut sebagai akun permanen atau riil; • Akun pembantu Modal, yaitu Pendapatan dan Biaya,
Bab II – Siklus Akuntansi
Jurnal
Buku Besar
Neraca Saldo
Penyesuaian
Laporan
Keuangan
Jurnal
Penutup
NS setelah
• Jurnal adalah pencatatan atas transaksi-transaksi yang dilaksanakan secara kronologis, yang merupakan dasar untuk mem-posting transaksi ke buku besar.
• Terdapat dua bentuk jurnal:
– Jurnal Umum (general journal) – Jurnal Khusus (special journal).
• Jurnal Umum (general journal) digunakan untuk mencatat segala jenis transaksi yang terjadi.
• Jurnal Khusus dirancang untuk mencatat jenis-jenis transaksi tertentu yang sering terjadi, misalnya: – Jurnal Penjualan,
– Jurnal Pembelian,
Bab II – Siklus Akuntansi(2)
ILUSTRASI
Transaksi-transaksi yang terjadi pada “Perusahaan JPK” selama bulan Desember 2001 adalah sebagai berikut: • Tanggal 1, disetor dana sebesar Rp 55.000.000,- oleh
Tuan Akbar sebagai modal untuk perusahaan yang baru saja dibentuknya.
• Tanggal 1, dibayar sewa kantor sebesar Rp 1.320.000,-• Tanggal 2, dibeli peralatan kantor sebesar Rp 7.920.000,-
dengan cara Rp 4.400.000,- dibayar secara tunai sedang sisanya akan dilunasi dalam waktu 60 hari
• Tanggal 2, diterima dimuka kontrak empat bulanan, sebesar Rp 550.000,- per bulannya
Jurnal
Buku Besar
Neraca Saldo
Penyesuaian
Laporan
Keuangan
Jurnal
Penutup
Bab II – Siklus Akuntansi(3)
• Tanggal 3, dibeli perlengkapan dan suku cadang senilai Rp 2.090.000,- dengan kredit 60 hari.
• Tanggal 7, diterima uang jasa pelayanan untuk tanggal 1-7 sebesar Rp
1.430.000,-• Tanggal 14, diberikan jasa pelayanan secara kredit senilai Rp
1.980.000,-• Tanggal 19, diterima dari piutang pelanggan sebesar Rp
1.100.000,-• Tanggal 26, dibayar upah untuk bulan desember sebesar Rp
1.188.000,-• Tanggal 28, dilakukan penarikan oleh pemilik untuk keperluan pribadi sebesar Rp
(Lihat MODUL: pencatatan dalam Jurnal Umum)
Jurnal
Buku Besar
Neraca Saldo
Penyesuaian
Laporan
Keuangan
Jurnal
Penutup
Bab II – Siklus Akuntansi (4)
Jurnal
Buku Besar
Neraca Saldo
Penyesuaian
Laporan
Keuangan
Jurnal
Penutup
NS setelah
Penutupan
• Proses pentransferan data dari jurnal ke buku besar disebut posting.
• Item yang ditransfer dari jurnal ke buku besar: – Tanggal transaksi,
– Jumlah yang tercantum dalam sisi debet maupun kredit,
– Nomor indeks jurnal (referensi silang antara nomor akun pada jurnal dengan buku besar akun yang bersangkutan).
• Kalau pencatatan dalam jurnal dilakukan setiap hari, maka posting ke buku besar dilakukan secara periodik, umumnya sebulan sekali.
Bab II – Siklus Akuntansi (5)
Jurnal
Buku Besar
Neraca Saldo
Penyesuaian
Laporan
Keuangan
Jurnal
Penutup
NS setelah
Penutupan
• Neraca Saldo adalah daftar saldo dari seluruh akun buku besar, yang dibuat pada akhir periode akuntansi dan merupakan titik awal bagi penyiapan laporan keuangan. • Neraca Saldo:
– Sebelum penyesuaian (unadjusted trial balance) dan – Sesudah penyesuaian (adjusted trial balance).
• Bila terjadi perbedaan antara jumlah sisi debit dan sisi kredit, kemungkinan disebabkan oleh:
– kesalahan dalam menjumlah debit atau kredit,
– kesalahan dalam memindahkan saldo yang terdapat dalam buku besar ke neraca saldo,
Bab II – Siklus Akuntansi (6)
Jurnal
Buku Besar
Neraca Saldo
Penyesuaian
Laporan
Keuangan
Jurnal
Penutup
NS setelah
Penutupan
• Fungsi jurnal penyesuaian (adjustment) adalah untuk: – koreksi kesalahan,
– pemindahbukuan,
– mencatat pos-pos akrual, yaitu yang masih harus diterima/dibayar,
– mencatat pos-pos deferal, yaitu yang diterima/dibayar di muka,
– mencatat beban penyusutan, dan – mencatat susulan pembukuan.
• Beberapa contoh kondisi yang memerlukan junal penyesuaian, antara lain:
– Penyesuaian atas biaya dibayar di muka
– Penyesuaian atas pendapatan diterima di muka – Penyesuaian atas biaya yang masih harus dibayar – Penyesuaian atas pendapatan yang masih harus
diterima
– Pembebanan biaya depresiasi
Bab II – Siklus Akuntansi (7)
Jurnal
Buku Besar
Neraca Saldo
Penyesuaian
Laporan
Keuangan
Jurnal
Penutup
NS setelah
• Untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan (secara manual) digunakan lembar kerja yang disebut Neraca Lajur.
• Kolom-kolom neraca lajur: – Nama akun,
– Saldo sebelum penyesuaian, – Jurnal penyesuaian,
– Saldo setelah penyesuaian, – Perhitungan laba-rugi, dan – Neraca.
Bab II – Siklus Akuntansi (8)
Jurnal
Buku Besar
Neraca Saldo
Penyesuaian
Laporan
Keuangan
Jurnal
Penutup
NS setelah
Penutupan
• Saldo Pendapatan dan Biaya tidak dibawa ke tahun berikutnya,
– Pada akhir periode (tahun) harus ditutup menggunakan Jurnal Penutup, dan
– Selisih antara keduanya akan mempengaruhi saldo Modal atau Laba Ditahan pada Neraca.
• Jurnal Penutup dilakukan dengan:
– Mendebet saldo Pendapatan dan mengkredit Ikhtisar Pendapatan,
– Mengkredit saldo Biaya dan mendebet Ikhtisar Pendapatan,
– Mendebet (atau mengkredit) saldo Ikhtisar
Pendapatan dan mengkredit (atau mendebet) Modal atau Laba Ditahan, dan
Bab II – Siklus Akuntansi (9)
Jurnal
Buku Besar
Neraca Saldo
Penyesuaian
Laporan
Keuangan
Jurnal
Penutup
NS setelah
• Setelah pembukuan jurnal penutup, maka akun-akun temporer/nominal yang merupakan elemen dari Laporan Laba-Rugi menjadi bersaldo nihil. Yang masih terbuka adalah akun-akun permanen/riil Neraca, yaitu: aktiva, hutang dan modal.
Bab III – Aktiva
Kas dan Bank
Piutang
Dagang dan
Wesel
Persediaan
Aktiva Tetap
• Pengertian kas tidak hanya terbatas pada uang tunai yang terdapat di perusahaan, tetapi meliputi unsur-unsur
sebagai berikut:
– Uang tunai yang terdapat di perusahaan
– Uang yang disimpan di bank: tabungan atau giro – Uang atau dana yang ada di kas kecil
– Cek yang dapat diuangkan di bank • Terdapat dua sistem pencatatan kas kecil:
– imprest system dan – fluctuating system
• Dalam praktek, yang banyak digunakan adalah imprest system (Ilustrasi – lihat MODUL).
Bab III – Aktiva (2)
Kas dan Bank
Piutang
Dagang dan
Wesel
Persediaan
Aktiva Tetap
• REKONSILIASI BANK merupakan pembandingan antara saldo menurut rekening koran bank dan saldo menurut pembukuan perusahaan.
• Perbedaan antara kedua catatan tersebut, biasanya, disebabkan oleh hal-hal berikut ini.
– Penerimaan yang belum masuk dalam RK bank (deposit in transit);
– Pembayaran atau cek yang belum dicairkan ke Bank (outstanding checks);
– Pendapatan bunga / jasa giro yang belum dibukukan; – Biaya administrasi yang belum dibukukan;
– Setoran debitur langsung ke rekening bank;
Bab III – Aktiva (3)
Kas dan Bank
Piutang
Dagang dan
Wesel
Persediaan
Aktiva Tetap
• Piutang dapat dibedakan antara piutang dagang (piutang usaha) dengan piutang wesel (wesel tagih).
– Piutang Dagang biasanya terjadi karena adanya penjualan barang / jasa secara kredit.
– Piutang Wesel merupakan piutang yang disertai dengan sebuah promes atau pengakuan hutang secara tertulis.
• Piutang Dagang karena timbul dari penjualan, maka pengakuannya berdasarkan terjadinya perpindahan kepemilikan atas barang yang dijual.
• Pencatatan piutang dagang:
Piutang xxx
Penjualan xxx
Kas xxx
Piutang xxx
Bab III – Aktiva (4)
Kas dan Bank
Piutang
Dagang dan
Wesel
Persediaan
Aktiva Tetap
Metode penghapus-bukuan piutang:
o Metode penghapusan langsung (direct write-off): sejumlah biaya tak tertagih langsung dihapuskan dari akun piutang.
o Metode cadangan (allowance): estimasi jumlah piutang yang tidak dapat ditagih dicatat dengan mendebet "biaya piutang ragu" dan mengkredit "cadangan piutang ragu".
Pada umumnya wesel mencantumkan tingkat suku bunga, tetapi ada juga yang tidak mencantumkannya.
Wesel yang tidak mencantumkan tingkat suku bunganya berarti dalam jumlah yang harus dibayar sudah termasuk beban bunga.
Bab III – Aktiva (5)
Kas dan Bank
Piutang
Dagang dan
Wesel
Persediaan
Aktiva Tetap
• Sistem pencatatan persediaan:
Sistem periodik (periodic system) dan Sistem terus-menerus (perpetual system).
Sistem periodik
Menggunakan akun "pembelian" untuk mencatat seluruh pembelian yang terjadi selama satu periode akuntansi.
Saldo akhir persediaan ditetapkan berdasarkan perhitungan melalui pengamatan fisik.
• Misalnya:
Persediaan awal Rp 108.000, pembelian Rp 417.000, dan persediaan akhir Rp 125.000. Jurnalnya:
Persediaan Rp 17.000 Harga pokok penjualan 400.000
Bab III – Aktiva (6)
Kas dan Bank
Piutang
Dagang dan
Wesel
Persediaan
Aktiva Tetap
• Sistem terus-menerus (perpetual system)
– Penambahan persediaan langsung dicatat dengan mendebet akun "persediaan".
– Pada saat barang dijual akun "persediaan" dikredit dan sejumlah itu akun "harga pokok penjualan" didebet.
Jurnal saat pembelian adalah:
Persediaan xxx
Kas atau Hutang xxx • Jurnal saat penjualan adalah:
Kas atau Piutang xxx
Penjualan xxx Harga pokok penjualan xxx
Persediaan xxx
Bab III – Aktiva (7)
Kas dan Bank
Piutang
Dagang dan
Wesel
Persediaan
Aktiva Tetap
• Aktiva tetap dimiliki oleh perusahaan untuk dipakai dalam operasi perusahaan (tidak dimaksudkan untuk dijual) dan mempunyai umur ekonomis lebih dari satu tahun.
• Penilaian aktiva tetap berdasarkan harga perolehannya, termasuk biaya-biaya yang berkaitan, misalnya ongkos angkut, dan biaya pemasangan.
• Ada kemungkinan pembelian meliputi beberapa aktiva tetap sekaligus.
Misalnya: Dibeli sebidang tanah, gedung, dan peralatan seharga Rp 43 juta. Penilaian atas aktiva tersebut,
sebagai dasar untuk alokasi, masing-masing Rp 10 juta, Rp 15 juta, dan Rp 25 juta. Maka jurnalnya:
Tanah Rp 8.600.000 Gedung 12.900.000 Peralatan 21.500.000
Bab III – Aktiva (8)
Kas dan Bank
Piutang
Dagang dan
Wesel
Persediaan
Aktiva Tetap
• Selain secara tunai, perolehan aktiva tetap dapat dilakukan melalui pembelian angsuran.
• Ilustrasi 1:
Dibeli sebidang tanah seharga Rp 100 juta, uang muka Rp 40 juta, sisanya diangsur selama 6 bulan @ Rp 10 juta. Bunga yang diperhitungkan 12 % dari sisa hutang.
Jurnal pada saat transaksi:
Tanah Rp 100 juta
Hutang wesel Rp 60 juta Kas 40 juta Jurnal angsuran I:
Hutang wesel Rp 10.000.000 Biaya bunga 600.000
Bab III – Aktiva (9)
Kas dan Bank
Piutang
Dagang dan
Wesel
Persediaan
Aktiva Tetap
• Ilustrasi 2:
Dibeli peralatan dengan uang muka Rp 15 juta, dan angsuran tahunan Rp 7.189.000 selama 7 tahun mulai tahun depan. Harga tunainya Rp 50 juta.
Jurnal saat transaksi:
Peralatan Rp 50.000.000 Diskon hutang wesel 15.323.000
Hutang wesel Rp 50.323.000 Kas 15.000.000 • Menghitung besarnya tingkat suku bunga sebagai berikut:
Rp 35.000.000 = Rp 7.189.000 x PVAFi,n Rp 35.000.000 : Rp 7.189.000 = PVAFi,7
4,8685 = PVAFi,7
Dari table A2, maka i (tingkat suku bunga) adalah 10%. Maka, jurnal angsuran tahun pertama:
Hutang wesel Rp 7.189.000 Biaya bunga 3.500.000
Bab III – Aktiva (10)
Kas dan Bank
Piutang
Dagang dan
Wesel
Persediaan
Aktiva Tetap
• Depresiasi Aktiva Tetap merupakan alokasi biaya secara sistematis dan rasional terhadap periode pemanfaatan aktiva tetap yang bersangkutan.
• Untuk melakukan depresiasi atas aktiva tetap, faktor berikut harus diketahui:harga perolehan, nilai residu, umur ekonomis, dan metode yang digunakan.
• Beberapa metode depresiasi: – Garis Lurus:
1/n x dasar depresiasi, atau (100% : n) x dasar depresiasi
– Jumlah Angka Tahun:
Menentukan penyebutnya dengan rumus {(n + 1) : 2} x n atau {n x (n + 1)} : 2 – Saldo Menurun:
1/n x nilai buku awal tahun, atau (100% : n) x nilai buku awal tahun
Bab IV – Hutang dan Modal
Hutang
Jangka
Pendek
Hutang
Jangka
Panjang
Modal
• Hutang (kewajiban) mempunyai pengertian tentang adanya keharusan untuk membayar uang atau
menyerahkan sebagian aktiva perusahaan di masa yang akan datang.
• Hutang dapat dikategorikan menjadi – hutang lancar dan
– hutang jangka panjang.
• Hutang lancar adalah hutang yang diharapkan (atau harus) dilunasi paling lama dalam masa satu tahun. • Hutang juga bisa dikategorikan menjadi
– Hutang yang pasti
Bab IV – Hutang dan Modal (2)
Hutang
Jangka
Pendek
Hutang
Jangka
Panjang
Modal
• Dalam suatu obligasi tercantum, antara lain, nilai nominal dan tingkat suku bunganya (nilai riil obligasi tidak selalu sama dengan nilai nominalnya).
• Bila P = nilai nominal; i = tingkat suku bunga efektif; r = tingkat suku bunga nominal; PVF dan PVAF masing-masing dari tabel A1 dan A2), maka formula untuk menentukan nilai riil obligasi adalah
(P x PVFi,n) + {(P x r) x PVAFi,n}
• Nilai pasar obligasi akan lebih tinggi daripada nilai
nominalnya apabila tingkat suku bunga nominalnya lebih besar daripada tingkat suku bunga effektifnya, dan
sebaliknya.
Bab IV – Hutang dan Modal (3)
Hutang
Jangka
Pendek
Hutang
Jangka
Panjang
Modal
• (1) Nilai pasar = nilai nominalnya
Kas Rp 1.000.000
Hutang obligasi Rp 1.000.000 • (2) Nilai pasar > nilai nominalnya
Kas Rp 1.108.150
Hutang obligasi Rp 1.000.000 Premium obligasi 108.150 • (3) Nilai pasar < nilai nominalnya
Kas Rp 967.255
Diskon obligasi Rp 32.745
Hutang Obligasi Rp 1.000.000 Contoh jurnal pembayaran bunga obligasi:
Biaya bunga Rp 128.370 Premium obligasi Rp 21.630
Bab IV – Hutang dan Modal (4)
Hutang
Jangka
Pendek
Hutang
Jangka
Panjang
Modal
• Dalam laporan keuangan, modal saham disajikan berdasarkan nilai nominalnya.
• Penerbitan saham dapat dilakukan melalui (1) penjualan tunai, atau
(2) dengan pemesanan.
• (1) Misalnya, 1.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp 10.000 per lembar, terjual senilai Rp 15 juta.
Kas Rp 15 juta
Modal Saham Rp 10 juta Agio Saham 5 juta • (2) Misalnya, diterima pesanan pembelian 300 saham
senilai Rp 4,5 juta. Nilai nominal saham Rp 10.000 per lembar.
Piutang Pemesanan Saham Rp 4,5 juta
Bab V – Laporan Keuangan Konsolidasi
Pendahuluan
Metode
Penyatuan
Kepemilikan
Metode
Pembelian
Struktur
Afiliasi
Induk-Anak
• “Penggabungan usaha adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan perusahaan lain atau memperoleh kendali atas aktiva dan operasi
perusahaan lain” (PSAK 22)
• Terdapat dua jenis penggabungan usaha, yaitu (1) akuisisi, dan
(2) penyatuan kepemilikan.
• Akuisisi adalah suatu penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan acquirer memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi perusahaan acquiree, dengan
memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban, atau mengeluarkan saham
• Penyatuan kepentingan adalah suatu penggabungan usaha dimana para pemegang saham perusahaan yang
Bab V – Laporan Keuangan Konsolidasi (2)
Pendahuluan
Metode
Penyatuan
Kepemilikan
Metode
Pembelian
Struktur
Afiliasi
Induk-Anak
• Bentuk penggabungan usaha, yaitu (1) horisontal,
(2) vertikal, dan (3) konglomerasi.
• Penggabungan horizontal, yaitu penggabungan perusahaan yang sejenis menjadi satu perusahaan yang lebih besar. • Penggabungan Vertikal, yaitu penggabungan perusahaan
yang sebelumnya mempunyai hubungan yang saling menguntungkan.
• Penggabungan Konglomerasi merupakan kombinasi dari penggabungan horizontal dan vertikal.
• Bila ditinjau dari aspek hukumnya, (1) merger,
Bab V – Laporan Keuangan Konsolidasi (3)
Pendahuluan
Metode
Penyatuan
Kepemilikan
Metode
Pembelian
Struktur
Afiliasi
Induk-Anak
• Merger = penggabungan usaha dengan cara satu
perusahaan membeli perusahaan lain yang kemudian perusahaan yang dibelinya tersebut menjadi anak
perusahaannya atau dibubarkan. Perusahaan yang dibeli sudah tidak mempunyai status hukum lagi.
• Konsolidasi = penggabungan usaha dengan cara satu perusahaan bergabung dengan perusahaan lain
membentuk satu perusahaan baru. Perusahaan baru inilah yang kemudian berstatus hukum.
• Afiliasi = penggabungan usaha dengan cara membeli sebagian besar saham atau seluruh saham perusahaan lain untuk memperoleh hak pengendalian (controlling interest).
– Perusahaan yang dikuasai kehilangan status hukumnya, tetapi masih beroperasi.
Bab V – Laporan Keuangan Konsolidasi (4)
Pendahuluan
Metode
Penyatuan
Kepemilikan
Metode
Pembelian
Struktur
Afiliasi
Induk-Anak
• Metode akuntansi penggabungan usaha
1. Metode penyatuan kepemilikan (Pooling Of Interest) 2. Metode pembelian (Purchase)
• Dalam metode penyatuan kepemilikan, pemilik
perusahaan yang bergabung tidak mengalami perubahan, hanya saja harta dan hutang perusahaannya digabung menjadi satu.
• Prosedur akuntansi penggabungan usaha dengan metode penyatuan kepemilikan sebagai berikut:
Bab V – Laporan Keuangan Konsolidasi (5)
Pendahuluan
Metode
Penyatuan
Kepemilikan
Metode
Pembelian
Struktur
Afiliasi
Induk-Anak
• Besarnya nilai investasi pada perusahaan yang digabung adalah
– sebesar jumlah modal perusahaan yang digabung (modal saham, agio saham, dan laba yang ditahan), atau
– sebesar aktiva bersih (total aktiva dikurangi total hutang) milik perusahaan yang digabung
• Bila terjadi selisih
– antara jumlah yang dibukukan sebagai modal saham yang diterbitkan ditambah kompensasi pembelian lainnya dalam bentuk kas ataupun aktiva lainnya – dengan jumlah aktiva bersih yang diperoleh,
Bab V – Laporan Keuangan Konsolidasi (6)
Pendahuluan
Metode
Penyatuan
Kepemilikan
Metode
Pembelian
Struktur
Afiliasi
Induk-Anak
• Metode Pembelian memandang penggabungan usaha sebagai pembelian perusahaan sama seperti pembelian aktiva atau sekelompok aktiva. Karena sebagai suatu pembelian, maka seluruh aktiva dan hutang dari
perusahaan yang dibeli harus dicatat berdasarkan nilai wajarnya.
• Nilai wajar (fair value) menurut PSAK nomor 22 par.08 adalah “suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban“.
• Metode pembelian menggunakan biaya perolehan sebagai dasar untuk mencatat akuisisinya (PSAK 22 par.18).
• Prosedur akuntansinya sebagai berikut:
– Menyesuaikan nilai aktiva dan hutang milik perusahaan yang akan digabung dengan nilai wajarnya
Bab V – Laporan Keuangan Konsolidasi (7)
Pendahuluan
Metode
Penyatuan
Kepemilikan
Metode
Pembelian
Struktur
Afiliasi
Induk-Anak
– Membuat jurnal pemilikan aktiva dan hutang dari perusahaan yang digabung.
– Apabila terjadi selisih antara nilai investasi (biaya perolehan ) dengan aktiva bersih yang diterima atau yang menjadi bagian (interest) perusahaan
pengakuisisi, maka selisih tersebut dicatat ke dalam rekening goodwill pada kelompok aktiva.
Bab V – Laporan Keuangan Konsolidasi (8)
Pendahuluan
Metode
Penyatuan
Kepemilikan
Metode
Pembelian
Struktur
Afiliasi
Induk-Anak
• Diagram Pemilikan langsung
• Diagram Pemilikan Tidak Langsung
• Diagram Saling Memilki Saham
Bab VI – Analisa Laporan Keuangan
Tujuan
Metode
Pembandingan
Data
Keterbatasan
• Analisis laporan keuangan dilakukan sesuai dengan kepentingan pihak yang melakukan analisis.
• Manajemen berkepentingan untuk menilai kinerja dan pemanfaatan sumber daya perusahaan.
• Investor berkepentingan terhadap elemen-elemen seperti profitabilitas (kemampuan meraih laba), dividen
(pembagian laba), dan perkembangan harga saham. • Kreditur berkepentingan atas elemen-elemen
profitabilitas, likuiditas jangka pendek, dan solvabilitas jangka panjang perusahaan
• Analisis laporan keuangan memberikan manfaat karena: – kinerja masa-masa yang lalu sering merupakan
indikator yang tepat untuk memprediksi kinerja di masa datang, dan
Bab VI – Analisa Laporan Keuangan (2)
Tujuan
Metode
Pembandingan
Data
Keterbatasan
• Tiga metode analisis laporan keuangan: – analisis tren,
– persentase komponen, dan – rasio keuangan
• Analisis Tren adalah analisis terhadap kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun dilihat dari nilai uang maupun persentasenya
• Dalam metode Persentase Komponen, jumlah setiap pos atau item dinyatakan dalam persentase terhadap jumlah tertentu.
• Yang paling sering digunakan adalah Metode Rasio
Keuangan, yaitu menggunakan formula perhitungan dan interpretasi atas hasil perhitungan tersebut.
– Rasio merupakan bilangan pecahan atau persentase yang menunjukkan hubungan antara angka pembilang (numerator) dan angka penyebut (denominator)
Bab VI – Analisa Laporan Keuangan (3)
Tujuan
Metode
Pembandingan
Data
Keterbatasan
• Lima kelompok rasio keuangan dalam melakukan analisis laporan keuangan:
– Rasio Likuiditas, – Rasio Efisiensi, – Rasio Solvabilitas,
– Rasio Profitabilitas, dan – Rasio Pasar.
• Rasio Likuiditas adalah rasio yang memberikan gambaran mengenai kemampuan jangka pendek perusahaan. Pengertian Likuiditas mengacu kepada seberapa besar kemampuan aktiva perusahaan diubah menjadi uang tunai atau kas.
• Rasio Likuiditas:
– Current ratio = perbandingan jumlah aktiva lancar terhadap jumlah utang lancar
Bab VI – Analisa Laporan Keuangan (4)
Tujuan
Metode
Pembandingan
Data
Keterbatasan
• Rasio Efisiensi menggambarkan seberapa efisien
manajemen perusahaan mendayagunakan aktiva yang dimilikinya. Maksudnya adalah seberapa besar kontribusi aktiva pada perolehan pendapatan.
• Rasio Efisiensi:
– Total Asset Turnover = mengukur jumlah penjualan yang dihasilkan dari setiap rupiah yang ditanamkan pada aktiva.
– Fixed Asset Turnover – membandingkan penjualan dengan rata-rata aktiva tetap,
– Accounts Receivable Turnover Rasio ini menunjukkan berapa kali dalam setahun perusahaan menerima pembayaran piutangnya, atau berapa kali piutang berputar selama setahun
Bab VI – Analisa Laporan Keuangan (5)
Tujuan
Metode
Pembandingan
Data
Keterbatasan
• Rasio Solvabilitas mengukur tingkat penggunaan utang oleh perusahaan dan pengaruhnya pada kemampuan perusahaan membayar kewajiban-kewajiban yang ditimbulkannya (misalnya bunga).
• Rasio Solvabilitas:
– Debt Ratio = menunjukkan persentase (%) aktiva yang dibiayai dengan utang.
– Times Interest Earned = menghitung berapa besar Laba Sebelum Bunga dan Pajak dibandingkan dengan bunga yang dibayarkan
• Rasio Profitabilitas mengukur efektifitas keseluruhan dari manajemen dalam menjalankan perusahaan, sehingga rasio ini umumnya menjadi perhatian utama bagi
Bab VI – Analisa Laporan Keuangan (6)
Tujuan
Metode
Pembandingan
Data
Keterbatasan
• Rasio Profitabilitas mengaitkan pendapatan (earnings) dengan jumlah aktiva, penjualan, atau modal sendiri. • Rasio Profitabilitas:
– Return on Sales = mengukur berapa rupiah laba bersih (net earnings) yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan
– Gross Profit Margin = menunjukkan berapa rupiah laba kotor (gross profit margin) yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan
– Return on Investment = mengukur seberapa baik perusahaan mengelola aktivanya untuk menghasilkan laba
Bab VI – Analisa Laporan Keuangan (7)
Tujuan
Metode
Pembandingan
Data
Keterbatasan
• Rasio Pasar memberikan gambaran apakah suatu investasi saham atraktif atau tidak.
• Rasio Pasar:
– Book Value per Share = menunjukkan suatu
aproksimasi nilai likuidasi per lembar saham, yaitu berapa rupiah nilai realisasi per lembar saham biasa (common stocks) bila perusahaan
dilikuidasi/dibubarkan (tentunya setelah semua utang perusahaan dilunasi).
– Earnings Yield = menunjukkan berapa persen return yang dapat diharapkan pemegang saham apabila semua laba perusahaan dibagi dalam bentuk dividen – Price Earnings Ratio = mengukur perspektif investor
atas kualitas perusahaan dan sahamnya
– Dividend Yield = menunjukkan berapa % dividen dapat diharapkan dari nilai pasar saham
Bab VI – Analisa Laporan Keuangan (8)
Tujuan
Metode
Pembanding-an Data
Keterbatasan
• Analisis laporan keuangan dapat dibagi dua: – intracompany analysis dan
– intercompany analysis.
Untuk kedua analisis tersebut, perlu diperhatikan bahwa: • Pembandingan dilakukan berdasarkan kebijakan
akuntansi yang sama / konsisten pada tahun-tahun yang dibandingkan.
• Apabila terdapat perubahan prinsip akuntansi, harus ada penjelasan mengenai perubahan tersebut serta dampak rupiah yang ditimbulkannya.
Bab VI – Analisa Laporan Keuangan (9)
Tujuan
Metode
Pembandingan
Data
Keterbatasan
• Laporan Keuangan didasarkan pada nilai historis dan kebijakan akuntansi. Apabila inflasi tinggi dan
mempengaruhi angka pada laporan keuangan serta ada kebijakan akuntansi yang berubah, analisis laporan keuangan yang tidak mempertimbangkan hal tersebut bisa menyesatkan.
• Kinerja perusahaan juga dipengaruhi faktor ekstern. Karena keterbatasan informasi mengenai faktor-faktor ekstern tersebut, analis harus mempelajari pengaruh faktor ekstern pada kinerja perusahaan.
• Analisis terhadap perusahaan sejenis atau rata-rata industri memerlukan kepastian bahwa:
– Rumus rasio yang digunakan sama;
– Perusahaan sejenis atau rata-rata industri yang digunakan tepat sebagai benchmark; dan