TENTANG RUANG-RUANG YANG LAIN (ATAU HETEROTOPIA)

12 

Teks penuh

(1)

TENTANG RUANG-RUANG YANG LAIN (ATAU

HETEROTOPIA)

Michel Foucault*

Obsesi terbesar yang menghantui abad ke-19, seperti kita tahu, adalah sejarah: tema-tema seputar kemajuan dan kemandegan; tema-tema seputar krisis dan siklus; tema-tema seputar akumulasi waktu, peningkatan angka kematian dan ancaman dunia yang akan membeku. Dalam prinsip kedua termodinamika, abad ke-19 menemukan sumberdaya mitologisnya. Zaman sekarang sangat mungkin adalah zaman bagi ruang. Kita berada dalam zaman bagi simultanitas; kita berada dalam zaman bagi penyejajaran, zaman bagi yang dekat dan yang jauh, bagi yang pinggiran, bagi yang tersebar. Kita berada pada sebuah momentum, saya yakin, ketika pengalaman kita tentang dunia tidak lebih dari perjalanan panjang seiring

* Diterjemahkan oleh Anton Novenanto dari Michel Foucault, “Of other spaces (1967)” oleh Cauter

& Dehaene yang muncul dalam Heterotopia and the City: Public Space in a Postcivil Society (eds.) M. Dehaene & L.D. Cauter, hlm. 13-29 (Oxon: Routledge, 2008).

Catatan penerjemah: Artikel ini merupakan terjemahan, yang kesekian kalinya ke dalam bahasa Inggris (lih. J. Miskowiec [1986], Jurnal Lotus [1986], & R. Hurley [1998]), dari sebuah kuliah bertajuk “Des espaces autres” yang disampaikan Michel Foucault pada 14 Maret 1967 untuk Cercle d’études architecturales (Lingkar Studi Arsitektur). Versi Cauter & Dehaene ini merupakan yang termutakhir sehingga pembaca dapat menyesuaikan dengan wacana dan diskusi tentang konsep heterotopia yang bergulir semenjak naskah ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1984 dalam bahasa Prancis. Mengingat terjemahan ini sudah melewati dua kali proses penterjemahan, dari bahasa Prancis ke bahasa Inggris dan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, sangat mungkin terjadi pergeseran susunan kalimat dan gramatikal jika dibandingkan dengan versi asli dalam bahasa Prancis. Namun, penerjemah berusaha untuk tetap menghadirkan terjemahan ini menurut konteks yang melingkupi Foucault sehingga pembaca Indonesia dapat mengikuti apa yang sedang dibicarakannya, khususnya terkait satu konsep penting heterotopia.

© JKRSB, 2017

Jurnal Kajian Ruang Sosial-Budaya, Vol. 1, No. 1, 2017, hlm. 37-48.

Cara mengutip artikel ini, mengacu gaya selikung American Sociological Association (ASA): Foucault, Michel. 2017. “Tentang Ruang-ruang yang Lain (atau Heterotopia)” (penj. Anton Novenanto), Jurnal Kajian Ruang Sosial-Budaya 1(1):37-48, DOI:

(2)

dengan waktu ketimbang suatu jaringan yang menghubungkan titik-titik dan saling-silang satu sama lain. Seseorang mungkin dapat mengatakan bahwa konflik-konflik ideologis tertentu, yang mewarnai polemik-polemik masa kini, berada di antara keturunan menurut waktu dan pendudukan atas ruang. Strukturalisme, atau setidaknya yang dikelompokkan dalam istilah yang umum ini, merupakan suatu usaha mendirikan—antara elemen-elemen yang bisa jadi telah terhubung pada sebuah sumbu temporal—sebuah bangunan relasi-relasi yang membuatnya tampak seolah-olah bersandingan, berlawanan satu sama lain, saling mempengaruhi; singkatnya, yang membuat mereka tampak seperti semacam konfigurasi. Sebenarnya, hal ini bukanlah pengingkaran atas waktu; namun justru melibatkan perilaku bagaimana mengatasi apa yang disebut waktu dan apa yang disebut sejarah.

Perlu dicatat adalah bahwa ruang yang saat ini muncul sebagai cakrawala kesadaran kita, dari teori kita, dari sistem kita, bukanlah sebuah inovasi. Dalam pengalaman di Barat, ruang itu sendiri memiliki sejarah; dan tidaklah mungkin untuk mengabaikan perjumpaan penting waktu dengan ruang. Seseorang bisa saja mengatakan, secara sederhana menelusuri sejarah ruang, bahwa pada Abad Pertengahan terdapat sebuah tatanan hirarkis dari ruang-ruang: ruang suci dan ruang profan, ruang yang dijaga dan ruang yang sengaja dibuka tanpa pejagaan, ruang-ruang urban dan rural (ruang-ruang yang berhubungan dengan kehidupan nyata manusia). Menurut teori kosmologi, terdapat ruang-ruang surgawi yang berlawanan dengan langit, dan ruang-ruang langit secara gilirannya berlawanan dengan ruang di atas bumi. Terdapat ruang-ruang tempat benda-benda diletakkan setelah mereka dipindahkan secara paksa, dan sebaliknya terdapat ruang-ruang tempat benda-benda menemukan landasan dan peristirahatan alamiahnya. Tatanan hirarki, oposisi, perjumpaan dari ruang-ruang ini yang membentuk apa yang secara kasar dapat disebut ruang Abad Pertengahan: ruang lokalisasi.

(3)

Sekarang, penempatan1 menggantikan perluasan, yang telah menggantikan

lokalisasi. Penempatan didefinisikan oleh kedekatan relasi antar-titik atau elemen. Secara formal, kita dapat mendeskripsikan relasi-relasi tersebut sebagai rangkaian, silsilah, atau jejaring. Bahkan, hal penting dalam teknologi kontemporer atas permasalahan penempatan sangat dikenal: penyimpanan data atau hasil sementara dari sebuah kalkulasi dalam memori sebuah mesin; sirkulasi elemen yang berbeda dengan hasil yang acak (lalu-lintas kendaraan adalah kasus sederhana, atau bahkan suara dalam jaringan telepon). Identifikasi elemen-elemen yang ditandai atau dikode dalam sebuah perangkat yang mungkin didistribusikan secara acak, atau mungkin diatur berdasarkan klasifikasi tunggal atau ganda.

Dalam perilaku yang lebih nyata, permasalahan ruang atau penempatan manusia muncul sehubungan dengan kependudukan (demografi). Permasalahan penempatan manusia ini tidaklah sekadar persoalan mengetahui apakah terdapat cukup ruang bagi manusia di dunia – sebuah problem yang tentunya sangat penting – tapi juga tentang mengetahui apa sajakah relasi-relasi kedekatan, apakah jenis penyimpanan, sirkulasi, penandaan, dan klasifikasi manusia perlu diadopsi sedemikian rupa agar dapat mencapai tujuan akhir yang sudah ditentukan. Kita berada dalam sebuah zaman saat ruang diberikan pada kita dalam bentuk seperangkat relasi dengan penempatan.

Dalam hal apapun, saya yakin bahwa kecemasan masa kini pada dasarnya terkait dengan ruang, tak diragukan seperti dengan waktu. Waktu mungkin hadir pada kita sebagai satu dari pelbagai operasi distribusi antar-elemen yang tersebar dalam ruang.

Kini, terlepas dari seluruh teknik menyesuaikan ruang, sekalipun seluruh jejaring pengetahuan yang memungkinkan kita membatasi atau memformalkannya, ruang kontemporer mungkin tidaklah sepenuhnya didesakralisasi (tidak seperti waktu yang tampaknya didesakralisasi pada abad ke-19). Yang pasti, sebuah desakralisasi teoretis atas ruang (yang ditandai oleh karya Galileo) telah terjadi, tapi kita mungkin masih belum mencapai titik dari sebuah praktik desakralisasi atas ruang. Dan mungkin hidup kita masih diatur oleh sejumlah oposisi yang tak dapat diganggu-gugat,

1 Saya menerjemahkan emplacement – sebuah konsep penting dari Foucault – menjadi “penempatan”.

Dalam bahasa Indonesia, penempatan dapat merujuk pada “cara, proses, perbuatan menempati atau

menempatkan”. Pada intinya, penempatan adalah suatu aktivitas “menempati” atau “menempatkan”

(4)

bahwa kelembagaan dan praktik belumlah cukup berani untuk mendobrak oposisi-oposisi yang kita anggap sebagai bawaan: seperti, antara ruang privat dan ruang umum, antara ruang keluarga dan ruang sosial, antara ruang kultural dan ruang produksi, antara ruang untuk rekreasi dan ruang bekerja. Semua ini diwarnai oleh sakralisasi yang tak diucapkan.

Karya monumental Bachelard, deskripsi para ahli fenomenologi telah mengajarkan pada kita bahwa kita tidak hidup dalam sebuah ruang homogen yang kosong, tapi sebaliknya dalam sebuah ruang yang dipenuhi oleh makna-makna dan mungkin juga fantasi. Ruang bagi persepsi dasar kita, ruang bagi mimpi-mimpi kita dan bahwa hasrat kita membawa-serta makna yang seolah-olah intrinsik: terdapat sebuah ruang terang, lembut, transparan, atau lagi-lagi sebuah ruang gelap, kasar, terlarang; sebuah ruang dari atas, sebuah ruang dari puncak, atau sebaliknya sebuah ruang dari bawah, sebuah ruang berlumpur; ada sebuah ruang yang dapat mengalir, seperti aliran air, atau tempat yang tetap, beku, seperti batu atau kristal.

Namun analisis-analisis tersebut, sekalipun mendasari refleksi masa kini, pada dasarnya memperhatikan ruang dalam. Sekarang, saya hendak berbicara tentang ruang yang “berada di luar”. Ruang tempat kita hidup, yang menggambarkan tentang diri kita, di dalamnya pengikisan kehidupan kita, waktu kita, dan sejarah kita terjadi, ruang yang mencakar dan menggerogoti kita, adalah juga, secara sendirinya, sebuah ruang heterogen. Dengan kata lain, kita tidak hidup dalam semacam kekosongan, yang di dalamnya kita dapat meletakkan individu-individu dan benda-benda. Kita tidak tinggal di dalam sebuah kekosongan yang dapat diwarnai dengan beragam cahaya; kita hidup di dalam seperangkat relasi-relasi yang menggambarkan penempatan-penempatan yang tak dapat direduksi atau dibandingkan.

(5)

mendefinisikan, melalui jejaring relasi, penempatan penghentian yang tertutup atau semi-tertutup yang membentuk rumah, kamar, tempat tidur, dan lain-lain. Tapi apa yang menarik saya adalah, di antara semua tempat itu, adalah mereka yang memiliki peluang besar dalam relasi keberadaanya dengan tempat-tempat lain, tetapi dalam suatu cara sebagaimana menahan, menetralisir, atau membalikkan seperangkat relasi yang ditunjukkan, dicerminkan, atau dipantulkan olehnya. Ruang-ruang tersebut, seperti sebelumnya, yang terhubung satu sama lain, yang sekalipun bertentangan dengan seluruh penempatan lain, terdiri dari dua jenis utama.

Yang pertama adalah utopia. Utopia adalah penempatan tanpa tempat yang nyata. Utopia adalah penempatan yang memiliki sebuah relasi umum yang langsung atau analogi terbalik dengan ruang nyata dari masyarakat. Ini adalah masyarakat yang disempurnakan, atau bagian lain dari pembalikan masyarakat, tapi tetap saja utopia-utopia pada dasarnya merupakan ruang-ruang yang tidak riil.

(6)

seharusnya, telah menggantikan saya dari kedalaman ruang virtual pada sisi lain cermin, saya kembali pada diri saya dan mulai lagi untuk melihat diri saya dan merangkai ulang keberadaan diri saya dari tempat saya berada. Cermin berfungsi sebagai sebuah heterotopia dalam arti bahwa dia membuat tempat yang saya tempati pada saat ini ketika saya melihat diri saya dalam cermin sebagai benar-benar nyata, terhubung dengan ruang lain yang melingkupinya, dan benar-benar tak nyata, karena, agar dapat terlihat, dia harus melalui titik virtual, yang berada di sana.

Berbicara tentang heterotopia, bagaimana kita dapat mendeskripsikannya? Makna apa yang dimilikinya? Kita dapat membayangkan, saya tidak mengatakan sebuah ilmu karena kata itu sudah mencapai titik jenuh saat ini, tapi semacam deskripsi sistematik yang akan melengkapinya sebagai objek studi, analisis, deskripsi dan “pembacaan”. Dalam masyarakat, sebagaimana beberapa orang lebih suka menyebutkan perihal ruang-ruang lain yang berbeda ini, sebagai semacam kontestasi mistik dan riil sekaligus dari ruang tempat kita hidup. Deskripsi ini dapat disebut

heteropologi.

Prinsip pertama adalah bahwa mungkin tidak ada budaya di dunia yang tidak membuat heterotopia. Hal ini adalah tetap dalam setiap kelompok manusia. Tapi heterotopia jelas mengambil rupa yang sangat beragam, dan mungkin seseorang tidak dapat menemukan sebuah bentuk heterotopia yang berlaku universal. Meskipun begitu, kita dapat mengklasifikasikannya dalam dua jenis utama.

Dalam apa yang disebut “masyarakat primitif”, terdapat suatu bentuk heterotopia yang akan saya sebut heterotopia krisis. Artinya, terdapat ruang-ruang yang diistimewakan, atau disucikan, atau terlarang, bagi individu-individu yang, dalam relasinya dengan masyarakat dan lingkungan sosial tempat tinggalnya, berada dalam situasi krisis. Misalnya, remaja, perempuan menstruasi, perempuan hamil, lanjut usia, dan lain sebagainya.

(7)

Namun, heterotopia krisis ini kini menghilang dan sedang digantikan, saya yakin, oleh yang kita sebut sebagai heterotopia penyimpangan: yaitu tempat individu-individu ditempatkan karena perilakunya menyimpang dari norma yang umum atau yang ditentukan. Termasuk di dalamnya adalah rumah singgah dan rumah sakit jiwa; selain itu, tentunya, penjara, dan seseorang perlu menambahkan rumah pensiunan yang, seperti sebelumnya, berada dalam garis batas antara heterotopia krisis dan heterotopia penyimpangan karena, bagaimanapun juga, lanjut usia adalah sebuah krisis, tapi dia juga sekaligus sebuah penyimpangan mengingat, dalam masyarakat kita dimana rekreasi masuk dalam aturan, pengangguran adalah semacam penyimpangan.

Prinsip kedua dari deskripsi heterotopia ini adalah bahwa, sepanjang sejarahnya, sebuah masyarakat dapat membuat sebuah heterotopia yang ada, dan yang belum ada, untuk berfungsi dalam cara yang berbeda. Setiap heterotopia memiliki fungsi khusus yang ditentukan dalam sebuah masyarakat dan, menurut keselarasan budaya, sehingga heterotopia yang sama dapat memiliki satu fungsi atau yang lain.

Saya akan mengambil contoh heterotopia yang ganjil, kuburan. Kuburan adalah jelas tempat yang lain dibandingkan ruang-ruang budaya yang biasa; dia adalah sebuah ruang yang, bagaimanapun juga, terhubung dengan seluruh penempatan dari kota atau masyarakat atau desa, karena setiap individu, setiap keluarga pasti memiliki kerabat di kuburan. Dalam budaya Barat, kuburan secara praktis sudah selalu ada, tapi telah mengalami perubahan-perubahan penting. Sampai akhir abad ke-18, kuburan diletakkan di jantung kota, di samping gereja. Di sana terdapat serangkaian hirarki kemungkinan tempat-tempat penguburan mayat. Dulu terdapat rumah yang menyimpan tulang-belulang (charnel house)yang menghilangkan jejak-jejak individualitas, nisan pribadi, dan kemudian nisan di dalam gereja. Kelompok nisan yang terakhir ini terdiri dari dua jenis. Apakah itu batu-batu nisan dengan tulisan atau rumah-rumahan dengan patung. Kuburan ini, yang ditempatkan dalam ruang suci gereja, telah mengambil perwujudan yang sangat berbeda dalam perabadan modern, dan, anehnya, ini adalah sebuah masa ketika perabadan telah menjadi, dalam bahasa yang sangat kasar, ateis, yang telah dikukuhkan oleh budaya Barat dalam apa yang disebut sebagai pengkultusan orang mati.

(8)

memiliki jiwa, dan bahwa tubuh akan bangkit kembali, mungkin menjadi semakin penting untuk memberi perhatian yang lebih pada jenazah-jenazah itu, yang menandakan satu-satunya eksistensi kita di dalam dunia dan di dalam kata-kata.

Bagaimanapun juga, sejak abad ke-19 dan seterusnya setiap orang sudah memiliki sebuah hak atas kotak kecil bagi pembusukan dirinya sendiri; tapi, pada sisi lain, hanya sejak abad ke-19 dan seterusnya pemakaman mulai diletakkan di tepi-tepi luar perkotaan. Dalam korelasinya dengan individualisasi kematian dan peruntukan borjuis dari kuburan, muncul sebuah obsesi melihat kematian sebagai “wabah penyakit”. Ketika itu, orang mati dibayangkan sebagai pembawa penyakit bagi mereka yang hidup. Kehadiran dan kedekatan orang mati di sebelah rumah, di samping gereja, hampir di tengah jalan, adalah hal yang menyebarluaskan kematian itu sendiri. Tema besar dari perluasan wabah yang disebarkan dari kuburan bertahan sampai akhir abad ke-18; dan baru pada abad ke-19 gerakan pemindahan kuburan ke pinggiran kota dimulai. Kuburan kemudian tidak lagi menempati jantung kota yang suci dan abadi, tapi di “kota lain”, tempat setiap keluarga memiliki sisa-sisa kegelapan.

(9)

dia adalah totalitas dari dunia. Taman telah menjadi, sejak runtuhnya keantikan, semacam heterotopia kebahagiaan dan penyatuan (begitu juga kebun binatang modern kita).

Prinsip keempat. Heterotopia sering kali dihubungkan dengan irisan-irisan waktu – untuk mengatakan bahwa heterotopia membuka apa yang disebut, atas nama simetri, heterokronisme. Heterotopia mulai berfungsi penuh ketika orang menemukan diri mereka dalam sejenis keterputusan dengan waktu tradisional; seseorang dapat melihat bahwa pemakaman adalah benar-benar tempat yang sangat heterotopis karena pemakaman mulai dengan heterokronisme yang aneh bagi individu, yaitu hilangnya nyawa dan dengan keabadian-semu ini dia terus memudar dan menghilang.

Secara umum, dalam sebuah masyarakat seperti kita heterotopia dan heterokronisme diatur dan ditata dalam cara yang relatif kompleks. Pertama, terdapat heterotopia bagi waktu yang mengakumulasi tanpa batas, misalnya, museum, perpustakaan; museum dan perpustakaan adalah heterotopia di dalamnya waktu tidak pernah berhenti terakumulasi, mencapai puncaknya, padahal di abad ke-17, bahkan sampai akhir abad ke-17, museum dan perpustakaan merupakan ekspresi dari pilihan pribadi. Sebaliknya, gagasan untuk mengumpulkan semuanya, gagasan untuk mendirikan semacam arsip umum, keinginan untuk melampirkan dalam satu tempat sepanjang waktu, sepanjang zaman, semua bentuk, semua rasa, gagasan untuk mendirikan sebuah tempat untuk seluruh waktu yang secara sendirinya di luar waktu, dan tak dapat dirusak, proyek mengelola semacam akumulasi waktu yang kekal dan tanpa batas dalam sebuah tempat yang tidak akan bergerak – adalah milik modernitas kita. Museum dan perpustakaan adalah heterotopia yang mencirikan budaya Barat pada abad ke-19.

(10)

bahkan, dua bentuk dari heterotopia, heterotopia atas perayaan dan atas keabadian dari akumulasi waktu, bertemu: gubuk-gubuk Jerba (dari Tunisia) tidak berbeda dengan perpustakaan dan museum, karena, dengan menemukan kembali kehidupan Polinesia, seseorang menghapuskan waktu; tapi pada saat itu juga waktu didapatkan kembali, seluruh sejarah umat manusia terulang kembali pada sumbernya sebagaimana jika dalam sejenis pengetahuan yang umum.

Prinsip kelima. Heterotopia selalu mengandaikan sebuah sistem buka/tutup yang keduanya membatasi mereka dan membuat mereka dapat ditembus. Secara umum, seseorang tidak dapat mengakses sebuah penempatan heterotopis seperti halnya sebuah ruang publik. Apakah seseorang dipaksa, sebagaimana dalam kasus memasuki sebuah barak atau sebuah penjara, atau apakah seseorang harus tunduk pada ritual atau saringan khusus. Seseorang hanya dapat masuk dengan izin tertentu dan setelah menampilkan gerak atau kode tubuh tertentu. Bahkan, terdapat heterotopia yang ditujukan untuk penyaringan semacam ini – penyaringan yang baik religius dan higinis, seperti hamam (mandi uap) bagi umat Muslim (di Turki), atau penyaringan lain yang murni higienis, seperti sauna di Skandinavia.

Ada tempat yang lain, sebaliknya, yang terlihat seperti murni dan sederhana tapi, sebenarnya, mengandung eksklusi. Siapa saja dapat masuk dalam penempatan heterotopis itu, tapi faktanya itu hanyalah sebuah ilusi: seseorang yakin telah memasuki dan, karena sudah masuk, dia dieksklusi. Saya membayangkan sebagai contoh kamar umum yang berada di perkebunan besar di Brasil dan juga di Amerika Selatan. Pintu masuk tidak mengarah pada ruang tengah tempat tinggal keluarga. Setiap orang yang melewatinya, pengelana, berhak mendorong pintu itu, masuk ke kamar itu, dan tidur semalam di sana. Kamar-kamar ini didesain sedemikian rupa sehingga para pengelana itu tidak pernah dapat mengakses ruang keluarga, dia adalah orang asing, dia tidak pernah menjadi tamu yang diundang. Jenis heterotopia ini, yang praktis telah hilang dari peradaban kita, mungkin dapat ditemukan di kamar motel di Amerika tempat seseorang pergi dengan mobilnya bersama gundiknya dan tempat seks ilegal betul-betul terlindung dan disembunyikan; tetap terisolasi sekalipun tanpa ditinggalkan secara terbuka.

(11)

kehidupan manusia ditutupi dan dipartisi, sehingga semakin ilusif. Mungkin ini adalah peran yang sudah lama dimainkan oleh rumah bordil yang sekarang kita ingkari keberadaanya. Ataukah, sebaliknya, menciptakan ruang lain, ruang riil yang lain, yang sempurna, yang rinci, sebagaimana diatur kita dalam ketidakteraturan, keburukan dan berantakan. Ini bukanlah heterotopia dari ilusi, tapi dari kompensasi, dan saya sulit membayangkan jika koloni berfungsi tidak dalam konteks ini.

Dalam beberapa kasus, mereka telah memainkan, pada level pengelolaan umum ruang teresterial, peran heterotopia. Saya berpikir tentang, misalnya, gelombang pertama kolonisasi, pada Abad XVII, dari kelompok Puritan yang didirikan bangsa Inggris di Amerika dan bahwa tempat-tempat yang lain itu benar-benar sempurna.

Saya juga berpikir koloni Jesuit yang didirikan di Amerika Selatan: koloni yang mengagumkan, tempat kesempurnaan manusia tercapai secara efektif dan sangat teratur. Para Jesuit di Paraguay mendirikan koloni-koloni yang keberadaannya diatur dari segala penjuru. Desa didesain menuruti suatu aturan yang ketat mengelilingi sebuah tempat persegi panjang yang pada salah satu sudut terdapat gereja; pada sisi lain, terdapat sekolah; pada sisi yang lain, kuburan, dan di depan geraja terdapat sebuah jalan yang terbuka, melintas dengan sudut yang pas; setiap keluarga memiliki pondok kecil di sepanjang dua sumbu itu dan oleh karenanya simbol Juruselamat direproduksi. Kristianitas kemudian menandai ruang dan geografi dunia Amerika dengan simbol dasarnya.

Kehidupan sehari-hari individu diatur bukan oleh siulan namun oleh lonceng. Jam bangun diatur bagi setiap orang pada jam yang sama, kerja dimulai bagi setiap orang pada jam yang sama; makan diatur pada tengah hari dan pada jam lima, kemudian setiap orang pergi tidur, dan pada tengah malam ada apa yang disebut “panggilan berkeluarga”, yang ini berarti ketika lonceng berbunyi setiap orang telah menunaikan tugasnya.

(12)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...