• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Sumber Pendidikan Islam IPI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Sumber Pendidikan Islam IPI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

SUMBER-SUMBER PENDIDIKAN ISLAM

Makalah ini disusun guna

memenuhi tugas

Mata Kuliah: Ilmu Pendidikan Islam

Dosen Pengampu: Bapak Asro’i

Disusun Oleh:

Arina Manasikana (1403046093)

Hasan Basri (1403046094)

Aisatul Maghfiroh (1403046096)

Abdul Latif (1403046097)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

A. LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan dan penghidupan umat islam banyak masalah yang dihadapi. Demikian pula dalam pendidikan islam mempunyai problema yang sama dalam kehidupan pada umumnya. Segala persoalan dalam islam hendaklah selalu dikembangkan kepada sumber-sumber autentik yang dapat dijadikan hujjah untuk menghasilkan sesuatu yang berhubungan dengan perundangan.

Jika berbicara tentang politik ada sumbernya, ekonomi ada sumbernya, pendidikan islam juga ada sumbernya. Menurut Dr. Sa’id Ismail Ali bahwa sumber-sumber pendidikan islam ada lima macam: Al-Qur’an, Sunnah Nabi, kata-kata sahabat, kemaslahatan masyarakat (sosial), nilai-nilai dan kebiasaan masyarakat.

Dua sumber yang pertama di atas menjadi sumber dasar, sedangkan yang lainnya bermuara kedua sumber tersebut. Jika sesuai diterima, jika tidak maka ditolak. Demikianlah apa yang pernah dilakukan oleh para sahabat nabi, para pengikut beliau, dan para pemikir muslim dalam berbagai bidang keahlian mereka masing-masing.1

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian sumber pendidikan islam?

2. Mengapa Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber pendidikan islam? 3. Mengapa As-Sunnah dijadikan sebagai sumber pendidikan islam? 4. Mengapa atsar dijadikan sebagai sumber pendidikan islam?

5. Mengapa mashalih al-mursalah dijadikan sebagai sumber pendidikan islam?

6. Mengapa al-‘Uruf dijadikan sebagai sumber pendidikan islam? 7. Mengapa ijtihad dijadikan sebagai sumber pendidikan islam?

1 Djumranjah, Abdul Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam; Menggali ‘Tradisi’,

(3)

C. PEMBAHASAN

1. Pengertian Sumber Pendidikan Islam

Sumber pendidikan islam adalah acuan atau rujukan yang darinya memancarkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang akan ditransinternalisasikan dalam pendidikan islam. Sumber ini tentunya telah diyakini kebenaran dan kekuatannya dalam menghantar aktivitas pendidikan dan telah diuji dari waktu ke waktu. Sumber pendidikan islam terkadang disebut dengan dasar ideal pendidikan islam. Urgensi penentuan sumber di sini adalah untuk:

1. Mengarahkan tujuan pendidikan islam yang ingin dicapai

2. Membingkai seluruh kurikulum yang dilakukan dalam proses belajar mengajar, yang di dalamnya termasuk materi, metode, media, sarana, dan evaluasi.

3. Menjadi standar dan tolak ukur dalam evaluasi, apakah kegiatan pendidikan telah mencapai dan sesuai dengan apa yang diharapkan atau belum.

Sumber pendidikan Islam dapat diketahui dari firman Allah dalam Al-Quran Surat An-Nisa’ ayat 59:

























































“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

(4)

(Sahabat/ulama). Menurut Sa’id Ismail Ali, sebagaimana yang dikutip oleh Hasan Langgulung, sumber pendidikan islam terdiri atas enam macam, yaitu Al Qur’an, As Sunnah, kata-kata sahabat, kemaslahatan umat/sosial (Mashalih Al Mursalah), tradisi atau adat kebiasaan masyarakat (‘uruf), dan hasil pemikiran para ahli dalam islam (ijtihad). Keenam sumber pendidikan islam tersebut didudukkan secara hierarkis. Artinya rujukan pendidikan islam diawali dari sumber pertama (Al Qur’an) untuk kemudian dilanjutkan pada sumber-sumber berikutnya secara berurutan.

Adapun nilai-nilai normatif pendidikan islam adalah sebagai berikut:

a. I’tiqadiyyah, yang berkaitan dengan pendidikan keimanan, seperti percaya kepada Allah, malaikat, rasul, kitab, hari akhir dan takdir, yang bertujuan untuk menata kepercayaan individu.

b. Khuluqiyyah, yang berkaitan dengan pendidikan etika, bertujuan untuk membersihkan diri dari perilaku rendah, dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji.

c. Amaliyyah, yang berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari-hari, baik yang berhubungan dengan pendidikan ibadah maupun pendidikan muamalah. 2

2. Al-Qur’an sebagai Sumber Pendidikan Islam

Secara etimologi Al Qur’an berasal dari kata qara’a-yaqra’u-qira’atan atau qur’anan, yang berarti mengumpulkan (al-jam’u) atau menghimpun (al-dhammu) huruf-huruf serta kata-kata dari satu bagian ke bagian lain secara teratur. Muhammad Salim Muhsin mendefinisikan Al Qur’an dengan: “Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang tertulis dalam mushaf-mushaf dan dinukil/diriwayatkan kepada kita dengan jalan mutawatir dan membacanya dipandang ibadah serta sebagai penentang (bagi yang tidak percaya) walaupun surat terpendek”. Sedangkan Muhammad Abduh mendefinisikan Al Qur’an: “Kalam mulia yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW,

(5)

ajarannya mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan. Ia merupakan sumber yang mulia yang esensinya tidak dimengerti kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas”.

Al Qur’an dijadikan sebagai sumber pendidikan islam yang pertama dan utama karena ia memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Tuhan. Allah SWT menciptakan manusia dan Dia pula yang mendidik manusia, yang mana pendidikan itu telah termaktub dalam wahyu-Nya. Tidak satu pun persoalan, termasuk persoalan pendidikan yang luput dari jangkauan Al Qur’an. Sebagaimana firman Allah QS. Al An’am ayat 38:

..…























“Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpun ”

Dan QS. An Nahl ayat 89:

..…























“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri ”.

Dua ayat tersebut memberikan isyarat bahwa pendidikan islam cukup digali dari sumber autentik islam, yaitu Al Qur’an.

Menurut Dr. Sa’id Ismail Ali di dalam Al Qur’an terdapat beberapa keistimewaan dalam usaha pendidikan manusia, di antaranya:

a. Menghormati akal manusia. b. Bimbingan ilmiah.

c. Tidak menentang fitrah manusia.

d. Penggunaan cerita-cerita untuk tujuan pendidikan. e. Memelihara keperluan-keperluan sosial. 3

3 Djumranjah, Abdul Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam; Menggali ‘Tradisi’,

(6)

Penurunan Al-Quran yang dimulai dengan ayat-ayat yang mengandung konsep pendidikan dapat menunjukan bahwa tujuan Al-Qur’an yang penting adalah mendidik manusia melalui metode yang bernalar serta sarat dengan kegiatan meneliti, membaca, mempelajari, dan observasi ilmiah terhadap manusia sejak manusia masih dalam bentuk segumpal darah. Sebagaimana firman Allah berikut ini:(Al-Alaq:1-5)4

Nilai esensi dalam Al Qur’an selamanya abadi dan selalu relevan setiap waktu dan zaman, tanpa ada perubahan sama sekali. Perubahan dimungkinkan hanya menyangkut masalah interpretasi mengenai nilai-nilai instrumental dan menyangkut masalah teknik perasional. Pendidikan islam yang ideal harus sepenuhnya mengacu pada nilai dasar Al Qur’an, tanpa sedikitpun menghindarinya.

Sehingga Al Qur’an secara normatif mengungkapkan lima aspek pendidikan dalam dimensi-dimensi kehidupan manusia meliputi:

a. Pendidikan menjaga agama (hifdz al-din), yang mampu menjaga eksistensi agamanya; memahami dan melaksanakan ajaran agama secara konsekuen dan konsisten; mengembangkan, meramaikan, mendakwahkan, dan mensyiarkan agama.

b. Pendidikan menjaga jiwa (hifdz al-nafs), yang memenui hak dan kelangsungan hidup diri sendiri dan masing-masing anggota masyarakat. Karenanya perlu diterapkan hukum qishash (pidana islam) bagi yang melanggarnya, seperti hukuman mati.

c. Pendidikan menjaga akal pikiran (hifdz al-‘aqal), yang menggunakan akal pikirannya untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT dan hukum-hukum-Nya; menghiindari perbuatan yang merusak akalnya dengan minum khamar atau zat adiktif, yang karenanya diberlakukan had (sanksi), seperti cambuk.

d. Pendidikan menjaga keturunan (hifdz al-nasb), yang mampu menjaga dan melestarikan generasi muslim yang tangguh dan berkualitas;

(7)

menghindari perilaku seks yang menyimpang, seperti free sex, kumpul kebo, homoseksual, lesbian, sodomi, yang karenanya diundang-undangkan hukum rajam (lempar batu) atau cambuk.

e. Pendidikan menjaga harta benda dan kehormatan (hifdz mal wa al-iirdh), yang mampu mempertahankan hidup melalui pencarian rejeki yang halal; menjaga kehormatan diri dari pencurian, penipuan, perampokan, pencekalan, riba, dan kezaliman.5

3. As-Sunnah sebagai Sumber Pendidikan Islam

As-Sunnah menurut bahasa berarti tradisi yang bisa dilakukan atau jalan yang dilalui, baik yang terpuji maupun tercela. Menurut istilah As-Sunnah adalah segala sesuatu yang dinukilkan kepada Nabi Muhammad SAW berupa perkataan, perbuatan, dan taqrirnya. Termasuk selain itu adalah sifat-sifat, keadaan, dan cita-cita (himmah) Nabi SAW yang belum kesampaian. Misalnya sifat-sifat baik beliau, silsilah (nasab), nama-nama dan tahun kelahirannya yang ditetapkan oleh para ahli sejarah”.

Sunah merupakan penjelasan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an umumnya hanya menjelaskan ketentuan-ketentuan secara garis besar. Sunah adalah petunjuk hidup manusia dalam segala aspeknya agar tumbuh secara wajar dan takwa kepada Allah. Umat islam semestinya mengikuti sunah rasul dengan alasan tiga faktor berikut:

1. Sebagai Nabi dan utusan Allah, Nabi Muhammad merupakan orang yang paling tahu tentang agama yang dibawanya (Islam), dan paling sempurna dalam hal mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam.

2. Seorang muslim selain diharuskan untuk taat kepada Allah, juga harus patuh dan mengikuti jejak langkah orang yang menjadi Nabi dan utusan-Nya yaitu Nabi Muhammad. Jejak langkah Nabi Muhammad inilah yang disebut Sunah Nabi yang menjadi sumber hukum dan ajaran kedua sesudah kitab suci Al-Qur’an.

3. Dalam kenyataannya pribadi Nabi Muhammad adalah sangat mulia dan disebut insan kamil (manusia sempurna). Kesempurnaan pribadi Nabi

(8)

ini tidak saja terjadi sesudah masa kenabian, tetapi hal itu telah terjadi semenjak beliau belum diutus menjadi Nabi.6

Adapun corak pendidikan islam yang diturunkan dari Sunnah Nabi adalah sebagai berikut:

a. Disampaikan sebagai ramat lil ‘alamin (rahmat bagi semua alam), yang ruang lingkupnya tidak sebatas spesies manusia, tetapi juga pada makhluk biotik dan abiotik lainnya. Seperti firman Allah QS. Al Anbiya’: 107













“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

b. Disampaikan secara utuh dan lengkap, yang memuat berita gembira dan peringatan pada umatnya. Sebagaimana surat Saba’ ayat 28:



























“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui”.

c. Apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak (QS Al Baqarah: 119) dan terpelihara autentitasnya (QS. Al Hijr: 9).

d. Kehadirannya sebagai evaluator yang mampu mengawasi dan senantiasa bertanggung jawab atas aktivitas pendidikan (QS. Al Fath: 8).

e. Perilaku nabi tercermin sebagai uswah hasanah yang dapat dijadikan figur atau suri teladan (QS. Al Ahzab: 21), karena perilakunya dijaga oleh Allah (QS. AnNajm: 3-4), sehingga beliau tidak pernah berbuat maksiat.

f. Dalam masalah teknik operasional dalam pelaksanaan pendidikan islam diserahkan penuh pada umatnya. Strategi, pendekatan, metode,

(9)

dan teknik pembelajaran diserahkan penuh pada ijtihad umatnya, selama hal itu tidak menyalahi aturan pokok dalam islam.7

Pada hakikatnya, keberadaan sunnah ditujukan untuk mewujudkan dua sasaran, antara lain,

a. Menjelaskan apa yang terdapat dalam Al-Quran. Tujuan ini di isyaratkan Allah dalam QS. An-Nahl ayat 44:

.…























“…. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”

b. Menjelaskan syariat dan pola perilaku sebagaimana ditegaskan firman Allah: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah)....’’(QS. al-Jumuah:2)8

4. Perilaku dan Pendapat Para Sahabat atau Ulama sebagai Sumber Pendidikan Islam

Berdasarkan Surat An-Nisa’ ayat 59 di atas dapat disimpulkan bahwa para pemimpin diistilahkan ulil amri yang harus ditaati. Maka mereka menjadi salah satu sumber bagi penyelenggara pendidikan. Pemimpin/ulama tersebut adalah para pemimpin yang memiliki karya atau pemikiran yang berkaitan dengan pendidikan islam. Dalam kenyataan para sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in atau ulama-ulama terdahulu memiliki karya yang sangat besar bagi pendidikan islam. Sumbangan pemikiran dan ahli didik seprti Imam Al Ghazali, ibnu Khaldun, ibnu Seina, dan lain-lain, kesemuanya itu dapat dijadikan sebagai rujukan dalam pembahasan pendidikan islam. Pendapat dan perilaku tersebut diterima selama tidak

(10)

menyimpang Al Qur’an dan Sunnah. Apabila pendapat dan perilaku tersebut menyimpang, maka wajib ditinggalkan.9

Sahabat adalah orang yang pernah berjumpa dengan nabi dalam keadaan beriman dan mati dalam keadaan beriman juga. Upaya sahabat nabi dalam pendidikan islam sangat menentukan bagi perkembangan pemikiran pendidikan dewasa ini. Upaya yang dilakukan Abu Bakar As sidiq, misalnya mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf yang dijadikan sebagai sumber utama pendidikan islam; meluruskan keimanan masyarakat dari kemurtadan dan memerangi pembangkang dari pembayaran zakat. Sedangkan upaya yang dilakukukan umar bin khatab adalah ia sebagai bapak revolusioner terhadap ajaran islam. Tindakannya dalam memperluas wilayah islam dan mengurangi kezaliman menjadi salah satu model dalam membangun strategi dan perluasan pendidikna islam dewasa ini. Sedangkan Usman bin Affan berusaha untuk menyatukan sistematika berpikir ilmiah dalam menyatukan susunan Al Qur’an dalam satu mushaf. Sementara Ali bin Abi Thalib banyak merumuskan konsep-konsep kependidikan sebagaimana seyogyanya etika peserta didik pada pendidikannya, bagaiman ghirah pemuda dalam belajar, dan sebaliknya.10

Oleh karena mereka yang paling dekat dengan Rasulullah dan yang menyaksikan perkembangan agama islam sejak awal, serta mereka pula yang mengalami pasang surutnya perjuangan dalam dakwah islam bersama Rasulullah SAW, maka atsar (kata-kata sahabat) juga dijadikan sumber pendidikan islam.

5. Kemaslahatan Umat Sosial (Maslahah al-Mursalah)

Maslahah atau kemaslahatan sosial banyak mendapat perhatian dari para ulama yang ditulis dalam perundang-undangan dan sejarah islam. Menurut imam Al-ghozali, maslahah merupakan menjaga tujuan agama pada manusia yang terdiri dari 5 perkara, yaitu menjaga agamanya,

9 Nur Uhbiyati, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam, Pustaka Rizki Putra, Semarang: 2013, Hal. 29

(11)

dirinya, akalnya, keturunanya, dan harta bendanya. Islam sebagai agama diturunkan ke dunia oleh Allah bertujuan untuk memberi kemaslahatan untuk manusia dan menjauhkan kerusakan dan kemudaratan bagi mereka. Oleh karena itu, kemaslahatan sosial menjadi salah satu sumber pendidikan, karena termasuk dalam hal-hal yang sesuai dengan hikmah islam.

6. Nilai-nilai dan Kebiasaan Masyarakat (‘Uruf)

Sumber pendidikan islam selanjutnya adalah nilai-nilai dan kebiasaan sosial. Maksud nilai-nilai sosial adalah kata yang kita nyatakan untuk menunjukan kepada suatu proses penilaian yang dianuat manusia. Sedangkan kebiasaan sosial ialah segala tingkah laku yang berulang-ulang yang diperoleh secara sosial, dipelajari dan diamalkan secara sosial serta diwarisi secara sosial pula. Kebiasaan sosial tersebut hanya terbatas pada masalah adat istiadat saja.

Menurut mazhab Hanafi dan Maliki, nilai-nilai dan kebiasaan masyarakat dapat digunakan dalam menentukan hukum. Jika dalam bidang perundang-undangan hal ini dijadikan hujjah, maka dalam pendidikan islam pun kebiasaan masyarakat menjadi bahan pertimbangan pula.11

7. Hasil Pemikiran Para Pemikir Islam (Ijtihad)

Ijtihad menurut bahasa adalah bekerja dengan sungguh-sunggguh dalam suatu perbuatan. Menurut istilah ijtihad ialah menggunakan segala kesungguhan untuk menetapkan hukum-hukum syari’at islam yang belum ditegaskan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Ijtihad juga digunakan untuk seluruh aspek kehidupan umat manusia, termasuk aspek pendidikan. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa Al Qur’an dan Sunnah umumnya memberikan tuntunan kehidupan manusia hanya secara garis besar. Oleh karena itu, umat islam harus berusaha memeras tenaga untuk dapat menginterpretasikan dan mengimplementasikan pedoman umum itu dalam bentuk perincian. Sehingga umat islam dapat mengikuti alur atau

(12)

perubahan pemikiran masyarakat yang berlaku selama alur tersebut itu tidak menyimpang dari pokok-pokok al Qur’an dan hadis Rasulullah.12

Dengan beberapa hasil pemikiran para pemikir islam, terutama dalam bidang pendidikan banyak mempengaruhi perkembangan di dunia islam seperti falsafah, fiqih, ilmu kalam, tasawuf, dan lain-lain. Beberapa tokoh pemikir islam, antara lain Imam malik, Imam Syafi’i, dan para ahli agama lainya seperti Ibnu sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Majah, dan para penemu ahli lainnya. Meskipun banyak yang telah hilang dimusnahkan oleh kebiadaban Jenghis Khan dan orang-orang Kristen di Spanyol yang tega memenggal kepala ilmuan muslim, namun hasil karya mereka masih banyak yang kekal memenuhi perpustakaan di Timur dan Barat. Oleh karena itu, hasil pemikiran dari pemikir muslim dijadikan sumber dalam pendidikan islam.13

Dengan ijtihad ini diharapkan mampu menginterpretasikan dan menemukan pola serta sistem pendidikan baru yang mampu menaggapi perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Serta mampu memenuhi keinginan ide-ide atau falsafah hidup yang dianut oleh masyarakat asalkan tidak bertentangan dengan prinsip dasar Al Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, ijtihad memiliki jangkauan yang luas dan perlu dikembangkan umat islam dalam berambisi untuk semakin maju dan berkembang serta mampu memenuhi tuntutan dan kebutuhan hidupnya.

D. KESIMPULAN

Setiap umat Muslim laki-laki maupun perempuan diwajibkan untuk mencari ilmu, terutama ilmu pendidikan islam. Supaya ilmu pendidikan Islam tidak menyimpang dari ketetapan hukum syariat, maka diperlukan sumber-sumber pendidikan islam sebagai acuan atau landasan mutlak. Di antara sumber pendidikan islam menurut Dr. Sa’id Ismail Ali yaitu Al Qur’an, As Sunnah, kata-kata sahabat, kemaslahatan umat/sosial (Mashalih Al Mursalah),

12 Nur Uhbiyati, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam, Pustaka Rizki Putra, Sematrang: 2013, Hal. 29

13 Djumransjah, Adul Malik Karim Amrullah, Pendidikan Islam; Menggali ‘Tradisi,

(13)

tradisi atau adat kebiasaan masyarakat (‘uruf), dan hasil pemikiran para ahli dalam islam (ijtihad).

E. PENUTUP

Demikian makalah ini kami susun. Mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dalam pembuatan makalah. Semoga memberikan manfaat dan pengetahuan baru bagi pembaca. Makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan untuk memperbaiki makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

An Nahlawi, Abdurrahman. 1995. Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani Press.

Djumranjah, Amrullah, Abdul Malik Karim. 2007. Pendidikan Islam; Menggali ‘Tradisi’, Mengukuhkan Eksistens. Malang: UIN-Malang Pres.

Mujib, Abdul. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya perkembangan pemikiran dari para pekerja yang semakin maju dari para pekerja, yang menunjukkan mereka dapat melepaskan diri dari ketergantungan manajemen atau pimpinan

Perkembangan tekonologi turut menyumbang rendahnya minat anak untuk membaca, yang mana dalam sehari semalam mereka bisa menghabiskan waktu lebih dari 8 jam

Sejak digulirkannya kebijakan oleh Mukti Ali yang menjabat sebagai menteri Agama pada tahun 1978,untuk memasukkan sekitar 70 persen mata pelajaran

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya dari hamba-hamba Allah, ada orang-orang yang mereka itu bukan Nabi dan bukan pula para Syuhada. Mereka menyerupai para

Maka mereka berkata, "Siapa kiranya yang berani mengadukan permasalahan ini kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?" maka sebagian mereka mengusulkan,

Imam syafi`i berpendapat mengenai kedudukan sunnah: pertama, yang diturunkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur`an sebagai sesuatu nash, maka Rasulullah SAW melaksanakannya sebagaiman

Seiring dengan perjalan sejarah pula kita menyaksikan dalam beberapa periode betapa islam tidak hanya dipandang sebagai agama yang menghambat perkembangan ilmu

Dimana teman-teman yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang sebelumnya tidak diperbolehkan masuk ke Madinah Pada masa kekhalifahan Umar, pada masa Usman diberi kebebasan untuk