FILSAFAT PENDIDIKAN
Disusun Oleh: Kelompok 4
1. Yeyen Zayyinur Rahmah 2. Dinda Nimaturrahina 3. Sistiani Afela
4. Putri Maharani
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRO. DR. HAMKA
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah, rahmat serta karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Filsafat Pendidikan ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta para sahabatnya, juga seluruh pengikutnya diseluruh dunia, sejak awal kebangkitan Islam hingga hari kiamat.
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat serta meningkatkan pengetahuan tentang penilaian dalam pembelajaran Filsafat Pendidikan serta memahami dan mengerti materi tentang Filsafat Pendidikan.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu kami sangat mengharapkan masukan dan saran dari semua pihak yang sifatnya membangun. Semoga Allah SWT meridhoi usaha dan niat baik kita bersama dalam upaya mewujudkan mahasiswa yang cerdas dan beriman.Aamiin.
Jakarta, 15 Desember 2015
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……….………...………ii
DAFTAR ISI……….…..………....iii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang………...………..…..1
B. Rumusan Masalah………...….……….…...1
C. Tujuan Masalah..………...………..…...2
BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Filsafat Pendidikan ……….3
B. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan………..………6
C. Hubungan Filsafat dengan Filsafat Pendidikan……….………7
D. Kurikulum dan Filsafat Pendidikan………..………...…..…………9
E. Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan………...….………13
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan………..………..…………..18
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat adalah pengetahuan yang dimiliki rasio manusia yang menembusi dasar-dasar terakhir dari segala sesuatu. Sementara itu, istilah pendidikan dalam terminology agama kita disebut dengan tarbiyah, yang mengandung arti dasar sebagai pertumbuhan, peningkatan, atau membuat sesuatu menjadi lebih tinggi. Karena makna dasarnya pertumbuhan atau peningkatan, maka hal ini mengandung asumsi bahwa setiap diri manusia sudah terdapat bibit-bibit kebaikan. Adalah tugas para orang tua dan para pendidik untuk mengembangkan bibit-bibit positif anak-anak didik mereka dengan sebaik-baiknya.
filsafat pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normatif dalam bidang pendidikan merumuskan kaidah-kaidah norma dan atau ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia dalam hidup dan kehidupannya. Filsafat pendidikan memiliki beberapa aliran, yaitu esensialisme, perenialisme, progresivisme, eksistensialisme dan rekonstruksi. B. Rumusan Masalah
1. Apa itu filsafat pendidikan?
2. Apa saja ruang lingkup filsafat pendidikan?
5. Apa saja aliran-aliran filsafat pendidikan?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian dari filsafat pendidikan
2. Mengetahui bagian-bagian dari ruang lingkup filsafat pendidikan 3. Mengetahui hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat Pendidikan
Menurut Al-Syaibany dalam Jalaludin & Idi (2007: 19), filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan. Artinya, filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk mencapainya. Dalam hal ini, filsafat, filsafat pendidikan, dan pengalaman kemanusiaan merupakan faktor yang integral. Filsafat pendidikan juga bisa didefinisikan sebagai kaidah filosofis dalam bidang pendidikan yang menggambarkan aspek-aspek pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan pada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam upaya memecahkan persoalan-persoalan pendidikan secara praktis.
Menurut Hasan Langgulung dalam bahasannya tentang filsafat pendidikan diberi definisi sebagai berikut:
2. Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan, dan penerapan nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya.
3. Filsafat pendidikan adalah aktivitas yang dikerjakan oleh pendidik dan filsuf-filsuf untuk menjelaskan proses pendidikan menyelaraskan, mengkritik dan mengubahnya berdasar pada masalah-masalah budaya. 4. Filsafat pendidikan adalah teori atau ideology pendidikan yang muncul
dari sikap filsafat seorang pendidik, dari pengalaman-pengalamannya dalam pendidikan dan kehidupan dari kajiannya tentang berbagai ilmu yang berhubungan dengan pendidikan, dan berdasar itu pendidik dapat mengetahui sekolah berkembang.
Sementara Dewey dalam Jalaludin & Idi (2007:20) menyampaikan bahwa filsafat pendidikan merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju tabiat manusia
Lebih jauh Barnadib (Jalaludin & Idi, 2007:20), menyatakan bahwa filsafat pendidikan merupakan ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Baginya filsafat pendidikan merupakan aplikasi sesuatu analisis filosofis terhadap bidang pendidikan. Sedangkan menurut seorang ahli filsafat Amerika, Brubachen (Arifin, 1993:3), filsafat pendidikan adalah seperti menaruh sebuah kereta di depan seekor kuda, dan filsafat dipandang sebagai bunga, bukan sebagai akar tunggal pendidikan. Filsafat pendidikan itu berdiri secara bebas dengan memperoleh keuntungan karena punya kaitan dengan filsafat umum. Kendati kaitan ini tidak penting, tapi yang terjadi ialah suatu keterpaduan antara pandangan filosofis dengan filsafat pendidikan, karena filsafat sering diartikan sebagai teori pendidikan dalam segala tahap. Lebih jauh, Alwasilah (2008: 15) menyatakan bahwa filsafat pendidikan dapat didefinisikan sebagai teori yang mendasari alam pikiran ihwal pendidikan atau suatu kegiatan pendidikan.
Berdasarkan uraian diatas dapat kita tarik pengertian bahwa filsafat pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normatif dalam bidang pendidikan merumuskan kaidah-kaidah norma dan atau ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia dalam hidup dan kehidupannya.
B. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan
Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (the nature of education);
Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan (the nature of man);
Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan;
Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, dan teori pendidikan;
Merumuskan hubungan antara filsafat Negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan);
Merumuskan sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan.
Dengan demikian, dari uraian di atas diperoleh suatu kesimpulan bahwa yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan itu ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhubungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan yang baik dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.
C. Hubungan Filsafat dengan Filsafat Pendidikan
pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan dan mengharmoniskan serta menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin di capai.
Lebih jauh, Jalaludin & Idi (2007:32) menyampaikan hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan, sebagai berikut:
Filsafat merupakan suatu cara pendekatan yang dipakai untuk memecahkan problematika pendidikan dan menyususn teori-teori pendidikan.
Filsafat berfungsi memberi arah terhadap teori pendidikan yang memiliki relevansi dengan kehidupan yang nyata.
Filsafat, dalam hal ini fisafat pendidikan, mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan.
Adapun hubungan filsafat umum dan filsafat pendidikan terdapat batasan-batasan sebagai berikut:
Filsafat pendidikan merupakan pelaksana pandangan filsafat dan kaidah filsafat dalam bidang pengalaman kemanusiaan yang disebut pendidikan. Kajian tentang filsafat pendidikan sangat penting karena merupakan
upaya dalam pengembangan pandangan terhadap proses pendidikan dalam upaya memperbaikai keadaan pendidikan.
Menurut Saifullah (Zuhairini,1991:18), antara filsafat, filsafat pendidik-an dpendidik-an teori pendidikpendidik-an terdapat hubungpendidik-an ypendidik-ang suplementer: filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi mengarahkan pusat perhatian dan memusatkan kegiatannya pada dua fungsi tugas normatif ilmiah, yaitu:
kegiatan merumuskan dasar-dasar, tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang hakikat manusia, serta konsepsi hakikat dan segi pendidikan, kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan yang meliputi
politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat.
Dari uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa antara filsafat pendidikan dan pendidikan terdapat suatu hubungan yang erat sekali dan tak terpisahkan. Filsafat pendidikan mempunyai peranan yang amat penting dalam sistem pendidikan karena filsafat merupakan pemberi arah dan pedoman dasar bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan.
D. Kurikulum dan Filsafat Pendidikan
maksud filsafat pendidikan dan menurut penulis terkait erat dengan pengembangan kurikulum yaitu:
1. Bahwa filsafat pendidikan dapat menginspirasikan.
Filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagi siapa pun dalam melaksanakan ide tertentu dalam pendidikan. Melalui pendidikan filosof– filosof pendidikan memperkenalkan idenya tentang bagaimana pendidikan itu, kemana diarahkan pendidikan itu, siapa saja yang patut menerima pendidikan, dan bagaimana cara mendidik serta peran pendidik. Sudah tentu, ide–ide ini didasari oleh asumsi–asumsi tertentu tentang anak manusia, masyarakat atau lingkungan, dan negara. Dengan demikian, maka halnya ini dapat menjadi sumber inspirasi dalam mengembangkan kurikulum.
Salah satu filsafat pendidikan berfungsi mengispirasi adalah Buku Emile (Emile adalah nama anak yang menerima pendidikan) karya J.J Rousseau, yang terdiri dari
Buku I menekankan perkembangan tubuh dan alat–alat indra bagi anak yang baru lahir sampai berumur 2 tahun,
Buku II mengutamakan perkembangan alat–alat indra bagi anak yang berumur 2-12 tahun,
Buku IV mengutamakan pendidikan watak dan agama bagi anak yang berumur 15–20 tahun
Buku V bercerita tentang Sophia calon istri Emile adalah pendidikan wanita dan kesusilaan.
Inti dari buku ini adalah pendidikan dilaksanakan secara ilmiah. Anak–anak mendidik dirinya sendiri dialam terbuka. Artinya anak–anak harus diberi kesempatan seluas–luasnya dalam mengembangkan dirinya dalam proses belajar–mengajar. Dari pernyataan tersebut bahwa kurikulum harus di desain sedemikian rupa sehingga peluang anak untuk belajar sendiri mendapatkan porsi yang signifikan bagi perkembagan dirinya.
2. Bahwa filsafat pendidikan dapat menganalisis
Dapat memeriksa secara teliti bagian–bagian pendidikan pada umumnya dan kurikulum pada khususnya agar dapat diketahui secara jelas validitasnya. Hal ini penting agar dalam menyusun konsep pendidikan pada umumnya maupun kurikulum pada khususnya tidak terjadi kerancuan, tumpang tindih, serta arah yang simpang siur. Dengan demikian ide–ide yang kompleks dapat dijernihkan, tujuan pendidikan atau tujuan kurikulum menjadi jelas dan alat–alat bantu pendidikan juga dapat ditentukan dengan tepat.
3. Fungsi mempreskriptifkan
peserta didik yang patut dikembangkan, proses perkembangan itu sendiri batas–batas bantuan yang dapat diberikan dalam proses perkembangan, batas–batas keterlibatan pendidik, arah pendidikan yang jelas, target– target pendidikan, perbedaan arah pendidikan bila diperlukan sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat anak–anak.
4. Fungsi menginvestigasi
Memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan untuk mengembangkan materi atau konten kurikulum melainkan harus mendapat evaluasi secara cermat dari filsafat pendidikan yang dianut.Nasution (dalam Dadang Sukirman dan Asra) mengidentifikasi beberapa manfaat filsafat pendidikan yaitu:
1) Filsafat pendidikan dapat menentukan arah akan dibawa kemana anak– anak melalui pendidikan disekolah. Sekolah ialah suatu lembaga yang didirikan untuk mendidik anak–anak kearah yang dicita–citakan oleh masyarakat, bangsa, dan Negara.
2) Dengan adanya tujuan pendidikan yang diwarnai oleh filsafat pendidikan yang dianut kita mendpatkan gambaran yang jelas tentang hasil yang dicapai. Manusia bagaimankah yang harus diwujudkan melalui usaha–usaha pendidikan itu.
3) Filsafat dan tujuan pendidikan memungkinkan si pendidik menilai segala usaha pendidikan.
5) Tujuan pendidikan memberikan motivasi atau dorongan bagi kegiatan– kegiatan pendidikan.
E. Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan 1. Filsafat esensialisme
Filsafat ini menerapkan prinsip idealism dan realism secara elektif. Filsafat ini bertitik tolah dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad lamanya. Kebenaran itulah yang ensial. Kebenaran yang esensial adalah kebudayaan klasik yang sudah muncul sejak zaman romawi, yang sudah menghasilkan manusia yang berkaliber internasional. Tekanan pendidikannya adalah pembentukan intelektual dan logika. Dengan mempelajari kebudayaan klasik yang sulit, diyakini otak peserta didik akan terasah dengan baik dan logikanya akan berkembang. Disiplin sangat diperhatikan, pelajaran dibuat sangat berstruktur dengan materi pelajaran berupa warisan kebudayaan yang diorganisir terpusat pada guru. pengaruh filsafat ini masih sangat kuat sampai sekarang, yakni pada sekolah-sekolah yang mengutamakan kurikulum dan metode tradisionalnya. Filsafat ini sering disebut pemelihara atau pelestari kebudayaan.
Kebenaran perenialisme berasal dari wahyu Tuhan. Filsafat ini menekankan pada teori kehikmatan, yaitu: (1) pengetahuan yang benar/truth. (2) keindahan/beauty. (3) kecintaan pada kebaikan/goodness. Dinamakan perenialisme karena kurikulumnya berisi materi yang konstan atau perennial. Menurut filsafat ini, prinsip pendidikan adalah (a) konsep pendidikan itu bersifat abadi, karena hakikat manusia tidak pernah berubah. (b) inti pendidikan haruslah mengembangkan kekhususan manusia sebagai makhluk yang unik, yakni memiliki kemampuan berpikir. (c) tujuan belajar adalah mengenal kebenaran abadi dan universal. (d) pendidikan merupakan persiapan bagi kehidupan sebenarnya. (e) kebenaran abadi itu diajarkan melalui pelajaran-pelajaran dasar/basic subject. Proses pendidikan yang berlandaskan ini bersifat tradisional. 3. Filsafat progresivisme
Yang dipentingkan dalam pendidikan adalah mengembangkan peserta didik untuk melatih berpikir. Metode pembelajaran yang tepat adalah pemecahan masalah. Pendidikan berpusat kepada anak dan perbedaan individual peserta didik sangat diperhatikan. Untuk mempercepat proses pengembangan peserta didik, maka dengan cara menanamkan prinsip mendisiplinkan diri sendiri, sosialisasi dan demokratisasi. Filsafat ini merupakan gerakan pendidikan progresif yang bertujuan mengembangkan teori pendidikan, antara lain : (1) anak harus bebas untuk berkembang secara wajar, (2) pengalaman langsung merupakan cara terbaik untuk merangsang minat belajar. (3) guru harus menjadi seorang peneliti dan pembimbing kegiatan belajar. (4) sekolah progresif harus merupakan suatu laboratorium untuk melakukan reformasi pedagogis dan eksperimental.
4. Filsafat eksistensialisme
Menurut filsafat ini, kebenaran adalah relative bergantung kepada keputusan masing-masing, begitu pula pada nilai-nilai ditentukan oleh setiap individu. Pendidikan menurut filsafat ini berrtujuan mengembangkan kesadaran individu, memberikan kebebasan untuk bebas memilih etika, mendorong pengembangan pengetahuan dirri sendiri, bertanggung jawab sendiri, baik dalam bekerja individual maupun kelompok. Materi yang dipelajari ditekankan pada kebutuhan langsung dalam kehidupan manusia. Peserta didik perlu mendapat pengalaman sesuai dengan teknik mengajar secara tidak langsung.
5. Filsafat rekonstruksionisme
Filsafat ini ingin merombak tata susunan kebudayaan lama dan membangun tata susunan hidup dengan kebudayaan yang sama sekali baru dan mencita-citakan terwujudnya suatu dunia baru dengan satu kebudayaan dibawah satu kedaulatan dunia dalam control mayoritas umat manusia.
6. Pedagogik kritis
Pedagogi kritis dapat dimaknai dengan pendidikan kritis, yaitu pendidikan yang selalu mempertanyakan mengkritisi pendidikan itu sendiri dalam hal-hal fundamental tentang pendidikan baik dalam tataran filosofis, teori, sistem, kebijakan maupun dalam implementasinya. Dalam pemikiran filsafat ini berpikir kritis diartikan sebagai suatu proses berpikir reflektif yang berfokus untuk memutuskan apa yang diyakini untuk diperbuat. Hal ini berarti di dalam berpikir kritis diarahkan kepada rumusan-rumusan yang memenuhi criteria tertentu untuk diperbuat. Singkatnya pedagogic kritis adalah pedagogic yang menggunakan pendekatan sosio-politik, dan membudayakan peserta didik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filsafat pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normatif dalam bidang pendidikan merumuskan kaidah-kaidah norma dan atau ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia dalam hidup dan kehidupannya. Ruang lingkup filsafat pendidikan ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhubungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan yang baik dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.
Filsafat pendidikan dan pendidikan terdapat suatu hubungan yang erat sekali dan tak terpisahkan. Filsafat pendidikan mempunyai peranan yang amat penting dalam sistem pendidikan karena filsafat merupakan pemberi arah dan pedoman dasar bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad, Syuaiban. 2013. Bahan Ajar Landasan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Uhamka Press
Noor Syam, Mohammad. 1986. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila.Surabaya: Usaha Nasional
Pudjosumedi dan Sugeng Riadi. 2012. Pengantar Pedagogik Transformatif. Jakarta: Uhamka Press