i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena waktu, hikmat dan ilmu yang diberikannya sehingga penulis dapat menyelesaiakan penelitian ini dengan baik. Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk mengembangkan Fungsi
Kelembagaan Perguruan Tinggi di tingkat Program Studi pada Fakultas Teknik Jurusan Elektro Universitas HKBP Nommensen. Penelitian ini dilakukan sebagai penelitian pertama di tahun akademik 2013/2014, dan dibiayai oleh Universitas HKBP Nommensen melalui Lembaga Penelitian dan ditambah biaya sendiri.
Penulis belum mengenal ilmu digital seperti ini pada saat kuliah baik S-1 maupun ketika memperoleh Magister Teknik tahun 1983 sampai 1995 di Universitas HKBP Nommensen dan di ITB, tetapi kemajuan zaman dan perkembangan elektronika menuntut perlu melakukan penelitian seperti ini. Setiap tahunnya penulis mengajarkan pengukuran
digital dalam mata kuliah otomasi industry, tetapi hanya dengan teknik dasar dan desain sederhana pada saat kuliah, belum pernah berhasil merancang desain dengan program yang otomatis berfungsi untuk mengamati perilaku sistem pengukuran. Barulah setelah
penulis melakukan penelitian ini yaitu PERANCANGAN PENGUKUR DAYA
DIGITAL PADA PERALATAN LISTRIK 1000 WATT, pada akhirnya
berhasil dibuat peralatan ukur digital dimaksud, dan hasilnya walaupun belum
memuaskan sesuai dengan hasil yang diberikan oleh alat ukur standar, karena desain ini dibuat sendiri dan dirancang sendiri menggunakan komponen dan mikroprosesor yang sudah ada.
Penulis merasa bersyukur dapat melakukannya, oleh karena itu penulis
mengucapkan terimakasih kepada :
1. Ketua Program Studi Teknik Elektro dan Dekan Fakultas Teknik yang memberi
dukungan dilaksanakan penelitian ini.
2. Ketua Lembaga Penelitian yang memberi kesempatan kepada penulis untuk ikut serta dalam program penelitian pada semester berjalan. Semoga Lembaga Penelitian jaya
ii
3. Rektor dan Stafnya, Yayasan dan Stafnya yang memberi dukungan dana. Penulis berharap biaya penelitian diberikan tidak sama besarnya, tapi diukur dan disesuaikan dengan tingkat kesulitan yang dilakukan oleh peneliti.
4. Kepada Bangsa dan Negara, kiranya penelitian yang sangat kecil ini dapat menggembirakan orang-orang di dunia Teknik Elektro Indonesia dan Dunia Global.
Banyak orang bisa menyatakan ini dan itu salah, tetapi kiranya semakin banyaklah orang yang mau meneliti juga sehingga nampak salah dan benarnya, dan kiranya mahasiswa
makin bersemangat melakukan penelitian sejenisnya. Akhir kata penulis mengucapkan, Slamat Meneliti.
Salam dari Penulis,
iii
ABSTRAK
Dunia teknik digital termasuk dalam kategori ilmu tentang sistem kendali cerdas, yang reaalisasinya didukung oleh matematika dan sekelompok teori seperti pemrograman menggunakan linguistik, dan ilmu digital dipadukan dalam sebuah sirkit elektronika digital, mikrokontroler dan komputer. Banyak jenis mikrokontroler yang dapat digunakan, dimulai dari seri 8951 sampai dengan 8535. Perancangan sistem dapat berupa desain belaka dalam
kertas dan simulasi, tetapi dapat dibawa ke sistem sirkit digital yang kesemuanya menggunakan proses secara analitik dan logika, dan dalam bidang ilmu teknik elektro perencanaan seperti ini dapat diperoleh pada konsentrasi teknik kendali.
Secara khusus pada teknik elektro diperlukan sistem pengukuran digital, sehingga diperlukan suatu pemahaman sederhana merancang sistem pengukuran digital menggunakan
mikrokontroler, sehingga mahasiswa dapat memahami perilaku sistem mikroprosesor yang sedang berkembang. Dalam memahami pengukuran digital lebih benar dan tepat, mahasiswa dapat melakukan simulasi elektronik, tetapi perobahan dan perilakunya teori desain dan realisasi dalam dunia digital harus difahami dalam perbedaan tingkat kesulitannya.
Rancangan sebuah Pengukur Digital berbasis mikroprosesor adalah salah satu metoda untuk merancang sistem pengukur daya digital yang cerdas. Akan tetapi solusi ini memerlukan sebuah tahapan atau proses pengkajian dan perhitungan yang panjang dan berulangulang, dan untuk dapat menghasilkan data pengukuran dengan error terkecil, data
numerik pengukuran digital harus dibandinngkan dengan data analog.
iv
III. DESAIN SISTEM PENGUKUR DAYA DIGITAL 15
III.1. Metodologi Penelitian 15
III.2. Teori Dasar Desain 16
III.3. Sistem Pengukur Digital dengan Mikrokontroler ATMega 8535 20
III.4. Pemrograman Mikrokontroler 22
IV. HASIL PENGUJIAN 27
v
IV.2. Hasil Pengujian Pengukuran 29
V. KESIMPULAN 31
V.1. Kesimpulan 31
V.2. Saran 31
1
I. PENDAHULUAN
I.1.Latar Belakang
Sistem kelistrikan sekarang dinamakan dengan listrik arus bolak balik
(alternating current disingkat dengan ac), terdiri dari tiga fasa dan satu netral untuk
standar tegangan fasa ke fasa 380 volt dan tegangan fasa ke netral 220 volt, serta
memiliki frekuensi 50 Hz. Hampir semua listrik rumah tangga menggunakan
sistem satu fasa, dan peralatan rumah tangga umunya adalah satu fasa dengan daya
yang umumnya di bawah 1000 watt. Selanjutnya untuk mendapatkan listrik arus
searah (direct current disingkat dengan dc), diperlukan sebuah penyearah (adaptor)
seperti yang digunakan untuk keperluan laptop, printer atau handphone.
Jika suatu beban listrik seperti AC, kulkas, TV, komputer, charger dan lain
sebagainya disambungkan ke sumber ac satu fasa, maka akan mengalir arus dari
sumber ac tersebut ke beban listrik yang digunakan. Arus yang mengalir ke beban
listrik itu bisa saja sifatnya satu fasa antara tegangan dan arus, dan bisa juga
berbeda fasa seperti pada Gambar 1.1
2
Perbedaan fasa tegangan dan arus tersebut ditandai dengan sudut φ , dan
dalam sistem kelistrikan memberikan faktor kerja sebesar cos φ. Seperti pada
Gambar 1.1, gelombang arus (garis lebih tebal) mengikuti (lagging) terhadap
gelombang tegangan sebesar 900 atau π/2. Selanjutnya daya listrik ac terdiri dari
daya aktif satuan watt dan daya reaktif satuan var, dan jumlah dari daya tersebut
dikatakan dengan daya kompleks satuan va, sebagai jumlah vektor daya aktif di
sumbu datar dan daya reaktif di sumbu tegak. Daya aktif atau daya nyata suatu
beban listrik ditentukan oleh tiga hal yaitu tegangan, arus dan faktor kerja
dimaksut. Sedangkan dalam hal untuk mengukur suatu daya listrik digunakan
wattmeter analog, tetapi dapat juga diperoleh hasil pengukurannya dengan
mengalikan hasil pengukuran dari tiga buah alat ukur yaitu tegangan, arus dan
faktor kerja.
Jika diinginkan mengukur daya listrik dari sebuah peralatan listrik dengan
cara pengukuran analog seperti di atas, maka akan cukup rumit pelaksanaannya.
Disamping itu, pengukuran daya untuk alat-alat dengan daya kecil juga akan
memiliki kerumitan dalam hal pembacaan jarum penunjuk alat ukur analog. Oleh
karena itu untuk dapat mengetahui besar daya peralatan listrik rumah tangga
umumnya, perlu dilakukan perancangan sebuah alat pengukur daya digital untuk
sistem listrik ac satu fasa, misalnya dengan batas daya sampai dengan 1000 watt.
Pengukuran daya listrik digital dapat dirancang dengan menggunakan
peralatan semikonduktor yang dipadu sedemikian rupa dengan menggunakan
mikrokontroler. Untuk dapat mengukur arus beban listrik yang digunakan,
diperlukan sebuah sensor arus, sedang untuk dapat mengukur tegangan juga
diperlukan sensor tegangan. Selanjutnya dari hasil deteksi arus dan tegangan, ada
masalah dalam hal pendeteksian sudut faktor kerja. Oleh karena itu proses harus
dilanjutkan untuk diteliti dan dianalisis, dan dibuat hipotesa bahwa jika dilakukan
konversi pengukuran daya dari ac ke dc melalui penyearahan tegangan dan arus,
3
Untuk dapat mengukur tegangan dan arus yang sifatnya variabel setiap saat
tergantung dari jenis beban listrik yang digunakan, diperlukan sebuah alat konversi
antara tegangan analog ke digital dikenal dengan Analog to Digital Converter
(ADC). Keakuratan pembacaan ADC tergantung dari jumlah bit konversi yang
digunakan, karena jumlah bit yang digunakan dalam output digital akan
menentukan ketelitian dari hasil konversi. Semakin banyak jumlah bit yang
digunakan, semakin tinggi juga ketelitian dari alat konversi. Konversi standar yang
umum adalah 8 bit digital, tapi konversi sempurna adalah jika memungkinkan
penggunaan data 10 bit digital atau bit biner.
Mikrokontroler ATMega 8535 adalah sebuah alat pemroses data digital,
tetapi masukannya ada yang double yaitusignal analog dan signal digital. Ada
berbagai type mikrokontroler, ada yang hanya menggunakan data biner seperti
type 85S31, tetapi ada juga yang menggunakan sekaligus data analog dan data
biner untuk dua arah seperti mikrokontroler dengan type ATMega 8535.
Jika rangkaian dapat dirancang sedemikian rupa, maka pengukuran daya
secara digital diasumsi dapat dibuat dan dapat dilakukan. Sedangkan untuk proses
sistem konversinya, tergantung dari algoritma yang dilakukan dalam pembuatan
program operasi mikrokontroler yang digunakan.
I.2. Perumusan Masalah
Yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang
proses pendeteksian arus, tegangan dan faktor daya dalam pengukuran daya beban
tersambung. Tegangan dan arus harus terukur dideteksi dengan dua sensor yaitu
untuk tegangan dan arus, sementara asumsi bahwa pengukuran daya aktif
dilakukan dengan menghitung daya dalam skala dc yang diperkirakan tidak jauh
berbeda dengan daya ac. Proses menyelesaikan persamaan konversi sangat
diperlukan dan sangat menentukan, dan disinilah letak keilmuwan dari ketelitian
4
Dalam proses penggunaan mikrokontroler yang dapat mendeteksi sinyal
analog dan digital secara bersamaan, diperlukan minimum dua input analog untuk
keperluan sensor tegangan dan arus yang diperlukan. Selanjutnya program harus
dapat dibuat sedemikian sehingga komputasi penentuan daya aktif dari kedua
sensor tegangan adan arus memiliki error yang kecil dan ketelitian yang baik.
Dalam proses menghasilkan output, diharapkan output dapat ditampilkan
dalam display dan diharapkan dapat juga data pengukuran dapat terekam dalam
bentuk data numerik, dan data dimaksud dalam bentuk tegangan, arus dan daya
untuk setiap pengukuran.
I.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan
tahapan-tahapan dalam menyelesaikan perancangan sebuah wattmeter digital satu fasa
beban terbatas maksimum 1000 watt dengan menggunakan mikrokontroler
ATMega 8535. Keterbatasan daya ditentukan oleh sensor arus yang digunakan,
yaitu arus maksimum sampai 5 ampere, sehingga jika tegangan adalah 220 volt
dan arus 5 ampere, maka maksimum pengukuran dibatasi sampai 1100 va.
Selanjutnya output dapat ditampilkan dalam bentuk display sebagai hasil dari
pengukuran, sehingga data dapat ditampilkan untuk waktu tertentu secara kontinu
dan berulang tergantung besar beban listrik yang diukur.
I.4. Kontribusi Penelitian
Penelitian ini akan memberikan kontribusi kepada ilmuwan khususnya
mahasiswa dan dosen di Program Studi teknik Elektro dalam beberapa hal yaitu,
5
2. Mendapat pengetahuan tambahan dalam penggunaan mikrokontroler
ATMega 8535 yang sudah familiar di dunia industri, sehingga
mahasiswa dapat lebih bersemangat mempelajari sistem digital.
3. Sebagai salah satu motivasi mendorong mahasiswa agar lebih semangat
membahas sistem digital yang lebih kompleks yang terkait dengan
pengukuran besaran listrik, khususnya dalam listrik arus bolak-balik.
4. Sebagai salah satu kegiatan Tridarma Perguruan Tinggi PSTE UHN,
6
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. 1. Uraian Pengukuran Daya Aktif
Secara umum salah satu bentuk pengukuran daya ac dapat dibuat seperti
pada Gambar 2.1 berikut.
Gambar 2.1. Pengukuran Daya dengan Tiga Voltmeter
Persamaan untuk penentuan daya listrik dapat diuraikan seperti berikut :
V1 adalah tegangan pada sisi beban dengan sudut vektor θ1. V2 adalah
tegangan pada resistor referensi dengan sudut vektor θ2. V3 adalah tegangan pada
sisi sumber dengan sudut vektor θ3. Maka persamaan tegangan menurut aturan
vektor adalah,
𝑉𝑉
32=
𝑉𝑉
22+
𝑉𝑉
12+ 2
𝑉𝑉
1𝑉𝑉
2cos
∅
Selanjutnya, terlihat bahwa beban adalah resistif, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa
7
Perlu diingat bahwa daya beban
P = V I cos
φ
sehingga dari persamaan (2-1) dapat disederhanakan dengan,Penyearah adalah suatu proses untuk mengobah tegangan ac menjadi
tegangan dc, dengan rangkaian seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.2.
Rangkaian tersebut dikenal dengan penyearah jenis Jembatan (Bridge Rectifier),
menggunakan empat buah dioda yang disusun sedemikian rupa. Load adalah
berupa resistor, sedangkan kapasitor berfungsi untuk membuat tegangan dc
menjadi serata mungkin dengan ripple kecil (smoothing capacitor), tergantung
pada besarya kapasitansi dari kapasitor dimaksud.
: adalah tegangan hasil pengukuran
P : daya aktif atau daya nyata
R : tahanan referensi
Persamaan (2-2) di atas adalah salah satu perumusan daya jika diukur
hanya dengan menggunakan tiga buah volt meter. Sedangkan pengukuran daya
dalam bentuk nyata adalah dengan menggunakan wattmeter analog, atau perpaduan antara volt meter, ammeter dan cos φ meter.
8
Gambar 2.2 Penyearah Gelombang Penuh
Tegangan ac dalam satu perioda menghasilkan dua siklus, siklus positip
untuk setengah gelombang, dan siklus negatip untuk setengah gelombang
berikutnya.Penyearah gelombang penuh (full wave rectifier) memiliki empat buah
dioda, dimana dalam setiap siklus bekerja dua dioda secara berpasangan. Pada saat
siklus positip tegangan sumber, maka dioda D1 dan D2yang bekerja, sedang pada
siklus negatip dioda D3 dan D4
Besarnya tegangan dc atau Vdc yang dihasilkan dengan adanya kapasitor C
dan beban R diberikan dengan persamaan,
yang bekerja. Dengan demikian untuk satu siklus
tegangan ac dihasilkan dua buah siklus positip di sisi beban, dan tegangan inilah
disebut tegangan yang disearahkan. Selanjutnya untuk membuat tegangan searah
memiliki amplitudo lebih rata dan tegangan rata-rata Vdc lebih besar, maka dapat
dipasang sebuah kapasitor dipasang paralel dengan beban resistor. Sedangkan
untuk mengetahui nilai tegangan dc yang dihasilkan, perlu dibandingkan hasil teori
9
𝑉𝑉
𝑑𝑑𝑑𝑑=
�
1
−
0,00417
𝑅𝑅𝐶𝐶
� 𝑉𝑉
𝑝𝑝 (2-3)dimana,
Vdc = tegangan keluaran penyearah di beban R (volt)
C = nilai kapassitansi kapasitor (μF)
R = nilai resistor (Ω)
Vp = tegangan puncak sumber ac (volt)
Niali ripple tegangan Vrdari gelombang tegangan tersebut adalah,
𝑉𝑉
𝑟𝑟=
0,0024 𝑉𝑉𝑝𝑝
𝑅𝑅𝐶𝐶 (2-4)
II. 3. Pengubah Analog ke Digital
Metoda konversi data analog ke digital selanjutnya diselesaikan dengan
menggunakan paket ADC dan dipadu dengan program komputer berbasis
assembler dalam mikrokontroler. Dalam hal ini mikrokontroler yang akan
digunakan adalah ATMega 8535 dengan memiliki 8 input analog ke digital dan
digital ke analog yang berfungsi dua arah. Untuk proses pembacaan ADC,
ATMega 8535 dibangun dengan sistem 10 bit.
Jika tegangan referensi suatu ADC adalah Vr, dan dikuantisasi dengan bit
biner sejumlah n bit, maka kuantisasi dari sistem Q dalam satuan volt/bit dihitung
10
𝑄𝑄
=
𝑉𝑉𝑟𝑟2𝑛𝑛 (2-3)
Sedang nilai tegangan pembacaan hasil konversi untuk sistem unipolar dapat
dihitung dengan,
𝑉𝑉
𝑑𝑑=
2𝑁𝑁𝑛𝑛 (2-4)Dimana N adalah nilai pembulatan dari hasil pembagian tegangan terukur
Vadengan kuantisasi atau ditulis dengan,
𝑁𝑁
=
𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏𝑏 �
𝑉𝑉𝑏𝑏𝑄𝑄
�
(2-5)11
Cara kerja dari proses pembacaan ADC (Analog to Digital Converter)
adalah sebagai berikut : Mula-mula data nilai tegangan analog input dibaca, dan
dibandingkan dengan output dari 8 bit DAC (Digital to Analog Converter). Jika
nilai input analog lebih besar dari keluaran DAC, maka comparator memberi pulsa
clock ke blok 8 bit SAR (Successive Approximation Register), sehingga hitungan
digital misalnya 8 bit berobah dari 0000 0000 ke 0000 0001. Selanjutnya blok
8-bit DAC mengkonversi keluarannya, selanjutnya dibandingkan lagi dengan iput
analog. Jika nilai input analog lebih besar dari keluaran DAC, maka comparator
memberi pulsa clock lagi ke blok 8 bit SAR (Successive Approximation Register),
sehingga hitungan digital misalnya 8 bit berobah dari 0000 0001 ke 0000 0010.
Demikianlah seterusnya proses berlangsung secara loop, sampai ditemukan bahwa
nilai comparator menyatakan bahwa input annalog sudaah sama dengan keluaran
DAC, dan proses konversi ADC berhenti, sehingga pembacaan digital berakhir
dengan nilai 8 bit misalnya 1011 0101. Hasil digital tersebut akan dikonversi
langsung didalam mikrokontroler ATMega 8535 dalam proses yang sama tapi
untuuk 10 bit, sehingga dapat dibca nilai input analog dimaksud.
Sebaagai contoh, jika tegangan referensi adalah Vr = 5 volt.
Jumlah bit n = 10.
Maka kuantisasi adalah Q = 5/(210) volt/bit.
Katakanlah comparator membaca sebanyak N kali untuk tegangan input 3
volt, maka N = 3/Q = 614 dibulatkan.
Pembacaan ADC adalah Vdc = N * Q = 2,9980 volt.
Error pembacaan adalah sebesar (3 – 2,9980) *100 % / 3 adalah 0,065 %.
12 II. 3. Mikrokontroler ATMega 8535
Mikrokontroler ATMega 8535 memiliki susunan pena-pena seperti pada
Gambar 2.4. Mikrokontroler ini dapat digunakan untuk berbagai fungsi, baik untuk
pengukuran digital seperti tensimeter, timbangan digital ataupun untuk
pengendalian analog dan digital sekaligus pada motor stepper dan motor servo.
Mikrokontroler ini memiliki 3 port digital dan 1 port analog yang dapat
digunakan dua arah, sebagai jalur masukan data atau sebagai jalur keluar data,
dengan jumlah data digital sebanyak 8 bit dan jumlah data analog sebanyak 8
channel.
Pengendalian yang akan dilakukan dari setiap port baik untuk jalur data in
ataupun jalur data out, semuanya dikendalikan melalui program internal. Program
internal sistem mikrokontroler diisikan secara tersendiri dengan peralatan khusus
mmelalui pemrograman dari laptop dibantu dengan sebuah perantara atau interface
untuk keperluan proses transfer data.
13
Penjelasan pena-pena mikrokontroler dimaksud dibuat seperti tertera pada
Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Uraian Pena Mikrokontroler ATMega 8535
No Pin Penjelasan
Sebagai input analog dari AD. Port ini juga berfungsi
sebagai port I/O dua arah,jika ADC tidak digunakan.
4
Port B
(PB7….PBO)
Sebagai port I/O dua arah port.port PB5,PB6 dan PB7
juga berfungsi sebagai MOSI,MISO,dan SCK yang
dipergunakan pada proses downloading.
5
Port C
(PC7....PD0)
Berfungsi sebagai port I/O dua arah fungsi lain port ini
selengkapnya bisa dibaca pada buku petunjuk “AVR
ATMega8535”.
6
Port D
(PD7….PDO)
Sebagai port I/O dua arah. PD0 dan PD1 berfungsi
sebagai RXD dan TXD digunakan untuk komunikasi
serial.
7 RESET Input reset.
8 XTAL1 Input ke amplifier inverting osilator dan input sirkuit
clock internal.
9 XTAL2 Output dari amplifier inverting osilator.
10 AVVC Input tegangan untuk port A dan ADC
14
Gambar 2.5. USB Programmer
Pemrograman untuk Mikrokontroler dapat digunakan melalui USBASP
Programmer dan juga WINAVR Compiler C Language, dengan peralatan seperti
pada Gambar 2.5.
Gambar 2.6. Alur Koneksi
Alur koneksi sistem pemrograman terlihat seperti pada Gambar 2.6.
Pada sisi Atmel AVR controller tentu dibutuhkan sebuah board untuk
mendudukkan mikrokontroller dalam menyembungkanAVR USBasp ke komputer.
Software untuk proses ini sudah tersedia dan dapat di download online.
Yang menjadi masalah adalah proses pembuatan flowchart dan program
untuk setiap ekesekusi yang akan dilakukan. Hasil dari program inilah yang baru
15
III. DESAIN SISTEM PENGUKUR DAYA DIGITAL
III.1. Metodologi Penelitian
Metoda Penelitian yang akan dilakukan adalah dengan melakukan
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Menentukan jenis sensor arus dan sensor tegangan yang akan
digunakan.
2. Memilih jenis mikrokontroler yang cocok menggunakan double fungsi
sinyal analog dan sinyal digital secara bersamaan.
3. Menentukan proses penyelesaian persamaan konversi sinyal analog
dimaksud dengan persamaan bipolar dalam program komputer yang
digunakan.
4. Menentukan solusi dan algoritma yang tepat yang dituangkan dalam
flowchart.
5. Membuat pengujian dengan membandingkan hasil pada pengukuran
analog untuk beberapa jenis peralatan listrik yang ada.
6. Membuat rencana pengembangan untuk sistem yang lebih besar
dengan Multi Input Multi Output, sehingga dapat dikembangkan untuk
16 III.2. Teori Dasar Desain
Desain sistem pengukur daya digital dilakukan dengan diagram seperti
pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Struktur Sistem Pengukur Daya Digital
Sensor arus yang digunakan adalah sebuah IC type ACS712 seperti pada
Gambar 3.2. Sedangkan karakteristik dari sensor arus ACS712 adalah seperti
berikut ini :
• Memiliki sinyal analog dengan sinyal-ganguan rendah (low-noise)
• Ber-bandwidth 80 kHz
• Total output error 1.5% pada Ta = 25°C
• Memiliki resistansi dalam 1.2 mΩ
• Tegangan sumber operasi tunggal 5.0 Volt
• Sensitivitas keluaran: 66 sd 185 mV/A
• Tegangan keluaran proporsional terhadap arus AC ataupun DC
• Fabrikasi kalibrasi
• Tegangan offset keluaran yang sangat stabil
• Hysterisis akibat medan magnet mendekati nol
• Rasio keluaran sesuai tegangan sumber
17
Gambar 3.2. Sensor Arus ACS712 dan Penggunaannya
Selanjutnya sensor arus tidak berdiri sendiri begitu saja, tentu harus
dirancang sirkit pendukungnya seperti ditunjukkan pada Gambar 3.3.
Gambar 3.3. Sirkit Sensor Arus
Input dari sensor arus Gambar 3.2 dihungkan seri dengan beban listrik yang
akan diukur, sedang outputnya dari terminal VOUT dan GND disambungkan ke
sirkit. Sumber tegangan ac Gambar 3.3 dianalogikan sebagai keluaran sensor
18
setengah gelombang, dan paada keluarannya dipasang sebuah resistor 10 KΩ dan
sebuah kapasitor 220 µF, dan memberikan gelombang tegangan seperti pada
Gambar 3.4.
Untuk input ac sebesar 5 volt dengan data di atas dihasilkan output dc
sebesar 6,312 volt.Sirkit arus ini diperlukan dalam proses pengukuran digital,
karena data ini nantinya akan digunakan sebagai masukan untuk ADC dari
mikrokontroler Mega 8535, untuk mengukur arus beban yang sedang diukur.
Gambar 3.4. Keluaran Sensor Arus
Sensor tegangan yang digunakan adalah penyearah jenis jembatan. Akan
tetapi tegangan sumber yang diukur adalah ac dengan maksimum diperkirakan 250
volt. Oleh karena itu agar dapat dilakukan pengukuran untuk sistem digital,
tegangan referensi untuk mikrokontroler ATMega juga harus dibuat, seperti pada
19
Padas sumber ac dipasang tiga buah resistor sebagai pembagi tegangan,
yaitu 220 K , 22 K , dan 220 K . Tegangan 22 K digunakan sebagai input ke
penyearah untuk memperoleh nillai maksimum input sebesar (22 * 250 / 464) =
11,85 volt ac. Jika tegangan output penyearah diperoleh dengan persamaaan Vdc =
2 Vmaks / π, maka Vdc yang diperoleh adalah 5.52 volt dc. Tegangan ini akan
makin besar jika digunakan kapasitor disisi resistor variabel, oleh karena itu
pembagi tegangan resistor variabel di output digunakan untuk mengatur/men-set
tegangan penyearah sensor tegangan untuk ukuran maksimum 5 volt dc, seperti
pada gambar 3.5.
Gambar 3.5. Sirkit Sensor Tegangan
Keluaran dari sensor tegangan sudah mendekati ratadengan ripple yang
kecil layaknya tegangan dc seperti ditunjukkan pada Gambar 3.6, karena resistor
diparalel dengan kapasitor 470 µF. Sensor tegangan melalui keluarannya
menggunakan potensiometer diset sedemikian rupa sehingga tegangan output dc
20
Jika tegangan ac sebesar 220 volt, maka keluaran sensor tegangan dengan analogi
ini haruslah linier sebesar 4,4 volt.
Gambar 3.6. Keluaran Sensor Tegangan
III.3. Sistem Pengukur Digital dengan Mikrokontroler ATMega 8535
Rangkaian sistem pengukur digital yang dirancang menggunakan
mikrokontroler ATMega 8535 dibuat sedemikian rupa seperti ditunjukkan pada
Gambar 3.7. LINE adalah sumber PLN satu fasa. Pada LINE dipasangkan sensor
tegangan dan sensor arus sebelum stop kontak menuju beban. Sensor tegangan dan
sensor arus adalah diuraikan seperti pada sub-bab III.2 sebelumnya.
Keluaran kedua sensor disambungkan ke port A yaitu PA0 dan PA1
21
4 MHz. Sedangkan untuk display digunakan port C, yaitu PC0, PC1, PC2 dan
PC4, PC5, PC6 dan PC7.
Gambar 3.7. Rangkaian Pengukur Digital dengan Mikrokontroler ATMega 8535
Tampilan LCD digunakan untuk menampilkan display untuk Tegangan,
Arus dan Daya yang diukur setiap saat. LCD memiliki dua baris tampilan,
masing-masing baris memiliki 16 karakter (ditulis dengan spesifikasi teknik : 2
lines x 16 characters) , seperti ditunjukkan pada Gambar 3.8. Detail dari
22
Pin yang digunakan adalah pin 1 dan pin 2 untuk GND dan Sumber 5 volt,
pin 4, pin 5 dan pin 6 untuk RS, R/W dan E untuk seleksi register, menulis data
dan enable data. Sedangkan untuk data input dari pembacaan mikrocontroler
digunakan pin D4, D5, D6 dan D7.
Gambar 3.8. Rangkaian Extended Concise LCD
Tabel 3.1. Detail dari Extended Concise LCD
III. 4. Pemrograman Mikrokontroler
Pemrograman pada mikrokontroler adalah menggunakan bahasa C, tapi
23
dengan CVAVR. Pada software inilah dituliskan program, di compile dan di
download ke mikrokontroler ATMega 8535 melalui perantara USB Programmer
24
25
Program Komputer yang dibuat untuk sistem dimaksud adalah sebagai
berikut ini :
#include <mega8535.h> #asm
.equ __lcd_port=0x15 ;PORTC #endasm
#include <lcd.h>
#include <delay.h> // tambahkan library delay disini #include <stdio.h>
#define ADC_VREF_TYPE 0x00
unsignedintread_adc(unsigned char adc_input) {
ADMUX=adc_input | (ADC_VREF_TYPE & 0xff); delay_us(10);
ADCSRA|=0x40;
while ((ADCSRA & 0x10)==0); ADCSRA|=0x10;
return ADCW; }
void Display(void); unsigned long P,V,I;
27
lcd_putchar(I/10 %10 + 0x30); lcd_putchar(I %10 + 0x30);}
if (I >= 100){
lcd_gotoxy(8,0);lcd_putsf("I: "); lcd_gotoxy(11,0);
lcd_putchar(I/100 %10 + 0x30); lcd_putchar('.');
lcd_putchar(I/10 %10 + 0x30); lcd_putchar(I %10 + 0x30);}
lcd_gotoxy(0,1);lcd_putsf("P : WATT"); lcd_gotoxy(4,1);
lcd_putchar(P/10000 %10 + 0x30); lcd_putchar(P/1000 %10 + 0x30); lcd_putchar(P/100 %10 + 0x30); lcd_putchar('.');
28
IV. HASIL PENGUJIAN
IV.1. Realisasi Alat Pengukur Daya Digital
Alat pengukur digital dirancang sedemikian diatas sebuah board plastik
seperti kaca, seperti ditunjukkan pada Gambar 4.1. Mikrokontroler ATMega 8535
disusun pada sebuah PCB (Printed Circuit Board) sedemikian rupa, dan senseor
tegangan serta sensor arus dan oscillator semuanya disusun pada PCB. Sebuah
power suply DC menggunakan transformator step down dirancang sedemikian
untuk memberikan tegangan konstant pada mikrokontroler sebesar 5 volt. Pada sisi
output disediakan dua buah stop kontak untuk terminal peralatan listrik yang akan
diukur.
29
Gambar 4.2. Beban Listrik untuk Pengujian
Beban listrik yang digunakan untuk pengujian adalah terdiri dari 10 buah
lampu pijar masing-masing 100 watt, dan lampu pijar dapat dihidupkan satu
persatu sampai hidup semuanya.
Proses pengujian adalah sebagai berikut :
a. Mula-mula pengukur digital diaktifkan dengan menghubungkannya ke
power suplay tegangan sumber PLN.
b. Selanjutnya beban listrik Gambar 4.2 disambungkan ke terminal beban
pengukur digital Gambar 4.1.
c. Lampu dihidupkan satu demi satu, dan untuk setiap pengujian dicatat
30 IV.2. Hasil Pengujian Pengukuran
Hasil pengujian pengukuran untuk kesepuluh buah lampu pijar yang
dihidupkan satu per satu diberikan pada Tabel 4.1.
Proses pengukuran data adalah sebagai berikut : Mula-mula lampu
dihidupkan secara bertahap sampai hidup 10 unit, setelah itu hasil pengukuran
dibaca. Kemudian lampu dikurangi satu persatu, dan hasil pengukuran dicatat.
Demikian dilakukan hingga semua lampu dimatikan.
Tabel 4.1. Hasil Pengujuan Pengukuran Daya Listrik
31
Contoh rekaman hasil pengukuran ditunjukkan pada Gambar 4.3 dan
Gambar 4.4.
Gambar 4.3. Rekaman Pengukuran untuk 10 buah Lampu Pijar
32
V. KESIMPULAN
Program teknik kontrol atau teknik kendali belum banyak di wilayah
Sumatera Utara, oleh karena itu masih sedikit penelitian tentang sistem
perancangan pengukuran daya digital, terutama untuk daya kecil.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, diberikan kesimpulan dan saran
sebagai berikut ini :
IV.1. Kesimpulan
1. Rancangan pengukur daya digital berhassil dirancang menggunakan
mikrokontroler ATMega 8535 sebagai prosesor utama, dan memberikan
hasil dalam bentuk display untuk tegangan, arus dan daya aktif watt.
2. Hasil pengujian dinyatakan telah baik. Jika 10 lampu 100 watt dihidupkan
pada tegangan standar 220 volt, tentu hasilnya haruslah 1000 watt.
Ternyata hasil pengukuran hanya 899,2 watt dan terjadi selisih sebesar
100,8 watt. Tetapi perbedaan itu terjadi adalah karena tegangan turun
menjadi 203 volt. Secara teori penurunan tegangan akan memberi
pengurangan daya sebesar (203/220)2
IV.2. Saran
* 1000 watt yaitu menjadi 851,425
watt, dan terbaca sebesar 899,2 sehingga error terdapat sebesar 47,8 watt
atau sama dengan 5,6 %. Percobaan awal ini dianggap cukup memadai dan
berhasil.
Saran peneliti adalah perlu pengembangan dari penelitian ini. Titik
kunci keberhasilan terletak pada sensor yang digunakan. Oleh karena itu
33
VI. DAFTAR PUSTAKA
1. Martin U. Reissland, Electrical Measurements Fundamentals, Concepts
and Applications, John Wiley & Sons, New York, 1989
2. William David Cooper, Instrumentasi Elektronik dan Teknik
Pengukuran, Lembaga Penerbangan dan Antariksa nasional, Jakarta,
Penerbit Erlangga, Jakarta, 1985
3. Douglas V. Hal, Microprocessors and Interfacing Programming and
Hardware, McGraw Hill International Editions, New York, 1996
4. Rodnay Zaks & Austin Lesea, Teknik Perantaraan Mikroprosesor,
Penerbit Erlangga, Jakarta, 1993
5. Carl V. Hamacher, Organisasi Komputer, Jaata, 1993
6. Paulus Andi Nalwan, Panduan Praktis Teknik Antarmuka dan
Pemrograman Mikrocontroller AT 89C35, PT Elex Media
Komputindo, Jakarta, 2003
7. Zuhal, Dasar Tenaga Listrik dan Elektronika Daya, PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta, 1992
8. Sunarno, Ir, M.Eng, Ph.D, Mekanikal Elektrikal, Penerbit Andi,
Yogyakarta, 2005
9. Ching-Fang Lin, Advanced Control Systems Design, Prentice-Hall
Englewood Clifts, New Jersey, 1993
10. Charles L. Phillips & H. Troy Nagle, Digital Control System Analysis