• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jejak Proto Bahasa Austronesia Pada Baha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jejak Proto Bahasa Austronesia Pada Baha"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

JEJAK PROTOBAHASA AUSTRONESIA

PADA BAHASA MADURA

(Kajian Bandingan Historis Terhadap Retensi dan Inovasi Fonem Protobahasa Austronesia Pada Bahasa Madura)

Iqbal Nurul Azhar

1

Abstraksi: Bahasa Madura merupakan anggota rumpun bahasa Austronesia. Sebagai bahasa yang merupakan anggota dari rumpun Austronesia, tentunya bahasa Madura memiliki persamaan maupun perbedaan baik itu dalam bentuk fonologis, leksikon, maupun grammatikalnya. Persamaan yang dimiliki bahasa Madura pastilah disebabkan pewarisan dan retensi unsur protobahasa Austronesia oleh penutur bahasa Madura. Perbedaan yang terjadi disinyalir terjadi karena masuknya berbagai anasir yang memberikan stimulus variasi dan perkembangan bahasa madura. Meskipun mengalami evolusi, perubahan dan persamaan ini tetap dapat dilacak yaitu dengan cara membandingkan fonem bahasa Madura dengan fonem protobahasanya yaitu protobahasa Austronesia. Retensi dan Perbedaan inilah yang akan dibicarakan secara seksama dalam artikel ini.

Kata-Kata Kunci: Bahasa Madura, Proto Bahasa Austronesia, Retensi, Inovasi

A. Pendahuluan

Kridalaksana (1983) dan Djoko Kentjono (1982) memberikan definisi pada sosok bahasa sebagai

sistem lambang bunyi yang arbriter yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk

bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri. Bahasa diturunkan oleh nenek

moyang kita secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lain melalui proses yang

panjang dan berkesinambungan. Panjangnya proses penurunan bahasa ini menyebabkan proses

evolusi bahasa dapat terjadi. Evolusi dalam Cambridge Advance Learner’s Dictionary merujuk

kepada proses perubahan dan perkembangan secara beransur-ansur yang terjadi dalam kurun

waktu yang lama. Gabungan definisi bahasa dan evolusi ini menunjukkan bahwa bahasa adalah

suatu sistem lambang yang dinamis dan tidak statis. Selama bahasa tersebut digunakan oleh

penuturnya, bahasa akan berkembangan mengikut peredaran masa dan berubah sesuai dengan

perubahan masyarakat penutur bahasa tersebut.

Perubahan bahasa sebagai fenomena yang bersifat umum dapat diamati melalui

perubahan bunyi. Dengan kata lain perubahan ini secara mendasar dapat diamati pada tataran

fonologis yang merupakan suatu tataran kebahasaan yang paling mendasar dan penting dalam

rangka telaah bidang linguistik bandingan (Fernandez, 1996).

1

(2)

Linguistik Bandingan Historis memiliki fokus untuk menelaah dan menentukan

klasifikasi genetis bahasa-bahasa di dunia. Cabang linguistik ini secara umum memiliki dua

peran besar yaitu (1) mengelompokkan bahasa-bahasa atas rumpun besar dan kecil dan (2)

merekonstruksi satu atau beberapa bahasa purba yang menurunkan bahasa modern. Disamping

dua peran besar tersebut, terdapat satu peran tambahan yang dimiliki Linguistik Bandingan

Historis yaitu berusaha menemukan tempat asal dan bangsa pemakai bahasa tersebut (Parera,

1991). Dengan hipotesis bahwa semua bahasa-bahasa di dunia memiliki kemungkinan

berkerabat, para linguis yang berkecimpung dalam kajian ini melakukan berbagai macam

penelitian. Dari beberapa penelitian yang dilakukan seperti yang dilakukan Gonda (1988), Blust

(1986), Nothofer (1975) dan Fernandez (1996 dan 1997), ditemukan bahwa beberapa bahasa di

dunia memiliki kekerabatan yang sangat erat.

Hubungan kekerabatan bangsa-bangsa ini dapat dibuktikan dengan rekonstruksi

unsur-unsur reternsi (kesamaan atau pemertahanan) maupun inovasi (perubahan) dari bahasa asal yang

disebut protobahasa baik pada tataran fonologi, leksikon, maupun grammatikalnya (Masrukhi,

2002). Proto bahasa adalah suatu gagasan teoritis yang dirancang dengan cara sederhana yang

dihubungkan dengan sistem-sistem bahasa sekerabat dengan memanfaatkan sejumlah kaidah

(Bynon dalam Masrukhi, 2002). Dengan kata lain, evolusi suatu bahasa dapat dilacak dengan

cara membandingkan bentuk terkini bahasa tersebut dengan proto bahasanya, yaitu dengan cara

mengamati perubahan pada aspek yang paling sensitif untuk berubah yaitu pada tataran

fonologisnya.

Ada dua langkah yang dapat diambil dalam menganalisa perubahan fonologis ini yaitu

(1) mencari perangkat kognat (kata asal) untuk mencari hubungan kekerabatan antarbahasa.

Pengetahuan tentang perangkat kognat ini bermanfaat besar untuk merunut relevansi historisnya,

merumuskan kaidah-kaidah perubahan bunyi bahasa baik itu yang primer ”teratur” maupun yang

sekunder ”tidak teratur” serta korespondensi bunyinya dari bahasa-bahasa tersebut, (2) setelah

diketahui kaidah korespondensi bunyi atau perubahan bunyi, maka selanjutnya dapat dilakukan

pemilihan leksikon bahasa sekarang yang merupakan kelanjutan dari proto bahasanya (Dyen

dalam Fernandez, 1996).

Bahasa Madura merupakan anggota rumpun bahasa Austronesia. Sebagai bahasa yang

merupakan anggota dari rumpun Austronesia, tentunya bahasa Madura memiliki persamaan

(3)

protobahasanya. Persamaan yang dimiliki bahasa Madura pastilah disebabkan pewarisan dan

retensi unsur protobahasa Austronesia oleh penutur bahasa Madura. Perbedaan yang terjadi

disinyalir terjadi karena masuknya berbagai anasir yang memberikan stimulus variasi dan

perkembangan bahasa madura. Meskipun mengalami evolusi, perubahan dan persamaan ini tetap

dapat dilacak yaitu dengan cara membandingkan fonem bahasa Madura dengan fonem

protobahasanya yaitu protobahasa Austronesia. Retensi dan Perbedaan inilah yang akan

dibicarakan secara seksama dalam artikel ini.

Secara umum, pembahasan perubahan fonem bahasa Madura dalam artikel ini dipandu

oleh tiga pertanyaan besar yang berhubungan dengan perubahan fonem bahasa Madura. Adapun

ketiga pertanyaan tersebut antara lain (1) bagaimana sistem fonologi bahasa Madura (2) retensi

dan inovasi apakah yang terjadi pada fonem bahasa Madura dan (3) bagaimanakah jejak bahasa

protobahasa Austronesia pada bahasa Madura.

Berdasarkan tiga rumusan masalah tersebut, maka struktur penulisan artikel ini terbagi

menjadi tujuh bagian yaitu (a) pendahuluan (b) rumpun bahasa Austronesia (c) sistem tata suara

bahasa Madura (d) retensi dan inovasi fonem bahasa Madura (e) jejak protobahasa Austronesia

pada bahasa Madura (f) simpulan (g) penutup.

B. Rumpun Bahasa Austronesia

Austronesia dalam definisi umumnya mengacu pada suatu daerah yang dimana bahasa-bahasa

Austronesia dituturkan. Daerah tersebut mencakup pulau Taiwan, kepulauan Nusantara

(termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. Secara harafiah,

Austronesia berarti "Kepulauan Selatan" dan berasal dari bahasa Latin austrālis yang berarti

"selatan" dan bahasa Yunani nêsos (jamak: nesia) yang berarti "pulau" (www.wikipedia).

Wilhelm von Humboldt (dalam Parera 1991) menunjuk pada kemiripan antara

bahasa-bahasa Polinesia dan menyebut kemiripan tersebut sebagai rumpun bahasa-bahasa

Melayu-Polinesia. Nama bahasa Melayu-Polinesia tetap digunakan sampai sekarang oleh beberapa pakar

bahasa untuk merujuk pada bahasa-bahasa Austronesia. Penamaan bahasa Melayu-Polinesia

kemudian ditolak oleh oleh Peter W. Schimdt (dalam Parera, 1991) pada tahun 1906 dalam

bukunya “Die Mon-Khmer Volkerein Bindeglied Zwischen Volkern Zentralasiens und

Austronesiens.” Schimdt tidak menerima istilah Melayu-Polinesia karena batas Melayu-Polinesia

(4)

sebelah timur masih ada bahasa Maori, Hawai dan Rapuni yang memiliki status serumpun.

Dalam bukunya pula, Schimdt menawarkan nama baru penyebutan bahasa yang berada dalam

wilayah tersebut sebagai rumpun bahasa Austronesia. Disebut rumpun bahasa, karena banyak

kosakatanya memiliki kemiripan baik dalam bentuk maupun artinya (kognat). Kemiripan ini

dapat dilihat pada contoh di bawah ini:

Bahasa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Proto-Austronesia *esa/isa *duSa *telu *Sepat * lima *enem *pitu *walu *Siwa *sa-puluq Paiwan ita dusa celu sepac lima unem picu alu siva ta-puluq Tagalog isá dalawá tatló ápat limá ánim pitó waló siyám sampû Ma'anyan Isa' rueh telo epat dime enem pitu Balu' suei sapuluh

Bugis seddi dua téllu eppa lima enneng pitu aruwa asera seppulo Malagasy iráy róa télo éfatra dímy énina fíto válo sívy fólo

Aceh sa duwa lhee peuet limöng nam tujôh lapan sikureueng plôh Toba Batak sada duwa tolu opat lima onom pitu uwalu sia sampulu

Bali sa dua telu empat lima enem pitu akutus sia dasa Sasak esa due telu empat lime enem pitu’ balu’ siwa’ sepulu Jawa Kuna sa rwa telu pat lima nem pitu wwalu sanga sapuluh Jawa Baru siji loro telu papat lima nem pitu wolu sanga sepuluh Sunda hiji dua tilu opat lima genep tujuh dalapan salapan sapuluh Madura settong dhua tello' empa' léma' ennem pétto' ballu' sanga' sapolo Melayu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh Minangkabau ciék duo tigo ampék limo anam tujuah salapan sambilan sapuluah

Rapanui tahi rua toru ha rima ono hitu va'u iva 'ahuru Hawaii `ekahi `elua `ekolu `eha: `elima `eono `ehiku `ewalu `eiwa `umi Sinama issah duah talluh mpat limah nnom pitu' Walu' siam sangpu' Sumber: www.wikipedia.com

Agak sulit untuk mendefinisikan struktur kekeluargaan dari bahasa-bahasa Austronesia

karena rumpun bahasa Austronesia terdiri dari bahasa-bahasa yang sangat mirip dan

berhubungan erat. Selain itu, jumlah bahasa yang termasuk dalam dalam rumpun Austronesia

demikian besar sehingga proses pengklasifikasiannyapun demikian rumit. Dyen (dalam

Pordjosoedarmo) memperkirakan bahwa jumlah anggota bahasa Austronesia adalah 1/8 dari

jumlah bahasa yang ada di dunia

Ada beberapa perdebatan di atara linguis dalam membagi bahasa Austronesia

berdasarkan sub-sub yang lebih kecil. Pandangan kuno yang menggunakan pendekatan geografis

membagi bahasa Austronesia ke dalam empat bagian yang lebih kecil yang disebut subrumpun

yaitu Polinesia, Mikronesia, Melanesia, dan Indonesia (Anceaux, 1981). Teori ini kemudian

(5)

telah mati sehingga pembagiannyapun tidak empat tetapi dua yaitu Polinesia dan Melanesia saja.

Schmidt, Kern, (dalam Anceaux, 1981) adalah pendukung teori ini. Pembagian inipun

mendapatkan bantahan dari teori linguis lain seperti teori yang diajukan oleh Dempwolf (dalam

Poedjosoedarmo) dan Dyen (dalam Anceaux, 1981) yang memasukkan bahasa-bahasa yang ada

di Nusantara seperti bahasa Maluku, Irian Jaya, Batak-Toba, Jawa, dan Melayu ke dalam

subrumpun ketiga yaitu Indonesia. Dengan lebih detail Dempwolf (ibid) membagi bahasa

Austronesia ke dalam tiga subrumpun dengan memasukkan bahasa-bahasa yang menjadi anggota

dari subrumpun tersebut sebagai berikut: (1) Indonesia dengan anggotanya yaitu Tagalog,

Batak-Toba, Jawa, Melayu, dan Dayak-Ngaju (2) Melanesia dengan anggota Hova (Malagasy), Fiji,

dan San’an, dan (3) Polynesia dengan anggota Tonga, Futuna dan Samoa.

Linguis-linguis Indonesiapun tidak mau kalah dengan linguis luar negeri dalam

menyumbangkan pemikiran mereka untuk mengkategorikan rumpun bahasa Austonesia ke

dalam sub-sub yang lebih kecil seperti yang dilakukan oleh Parera (1991). Parera membagi

Rumpun bahasa Austronesia ke dalam dua subrumpun yaitu subrumpun Austronesia Barat dan

subrumpun Austronesia Timur. Secara detail pembagian subrumpun dan anggota subrumpun

terlihat sebagai berikut:

(a) Subrumpun Austronesia Barat

1. Kelompok Malagasi

2. Kelompok Austronesia Barat Laut dengan anggota: (1) subkelompok Formosa, (2)

subkelompok Filipina, (3) subkelompok Chamoro, (4) subkelompok Palau, (5)

subkelomok Sangihe-Talaud, dan (6) subkelompok Minahasa.

3. Kelompok Austronesia Barat Daya dengan anggota: (1) subkelompok Sumatra, (2)

subkelompok Jawa (suku Madura, suku Jawa) (3) suku Borneo, (4) suku Bali-Sasak, (5)

suku Gorontalo, (6) suku Tomini, (7) suku Toraja, (8) suku Loinang, (8) suku Banggai,

(9) suku Bungku-Mori, (10) suku Sulawesi Selatan, (11) suku Muna-Butung, dan (12)

suku Bima-Sumba

(b) Subrumpun Austronesia Timur

1. Kelompok Ambon-Timur dengan anggota: (1) suku Sikka-Solor, (2) suku Kedang-

Alor-Pantar, (3) suku Timor Timur, (4) suku Vaikenu, (5) suku Timor Barat, (6) suku Kupang,

(6)

2. Kelompok Sula-Bacan dengan anggota: (1) suku Taliabu, (2) suku Sanana, dan (3) suku

acan-Obi

3. Kelompok Halmahera Seratan-Irian Barat

Dari pembagian yang dilakukan oleh Parera ini, kita dapat melihat bahwa bahasa Madura

merupakan salah satu anggota dari bahasa Austronesia yang bernaung dalam subkelompuk

Austronesia Barat Daya. Subkelompok ini merupakan salah satu anggota dari subrumpun

Austronesia Barat

C. Bahasa Madura

Secara geografis, pulau Madura terletak pada 7˚ LS dan antara 112˚ dan 114 BT (Wiyata,

2002:2009). Di pulau ini terdapat empat kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang Pamekasan dan

Sumenep. Pulau Madura dapat dikatakan sebagai pulau multietnik karena pulau ini tidak hanya

didiami orang Madura saja, tapi juga didiami oleh orang Jawa, Sunda, Sumatera, Cina, dan Arab.

Meskipun struktur masyarakatnya terdiri dari berbagai etnis, mayoritas dari populasi pulau ini

adalah penutur asli bahasa Madura yaitu orang Madura dan bahasa komunikasi merekapun

bahasa Madura (Azhar, 2008).

Diantara beragam bahasa daerah yang ada di Indonesia, bahasa Madura merupakan salah

satu bahasa daerah yang terhitung besar. Hal ini disebabkan karena jumlah penuturnya berada

dalam posisi keempat setelah penutur Jawa, Melayu, dan Sunda. Penutur bahasa ini diperkirakan

berjumlah lebih dari 7% dari keseluruhan populasi bangsa Indonesia. (Wikipedia, 2006).

Dewasa ini, sekitar tiga hingga empat juta orang penutur bahasa Madura mendiami pulau

Madura, sedang sisanya, sebanyak sembilan hingga sepuluh juta orang Madura tinggal di Jawa.

Kantong penutur bahasa Madura juga dapat dijumpai di Jakarta, Kalimantan, dan Sulawesi.

(PJRN: 2006).

Bahasa Madura adalah bahasa yang unik. Selain karena mengenal tingkatan bahasa yaitu

Enja’-Iyah (bahasa kasar), Enggi-Enten (bahasa menengah) dan Enggi-Bunten (bahasa halus),

bahasa Madura memiliki karakter khusus terutama dalam kosakatanya yang banyak mengenal

bunyi “letup” seperti kata saba’ (meletakkan) dan lagghu’ (besok). Karakter khusus yang lain

adalah banyaknya konsonan yang muncul dalam sebuah kata semisal lebbhak (muara) dan

bhajjrah (mujur). Dua keunikan ini menjadikan bahasa Madura berbeda dengan bahasa daerah

(7)

mulanya mungkin dia akan mendapati hambatan yang berhubungan dengan dua karakter tadi.

Namun sisi positifnya, karena keunikan bahasa Madura inilah, sebuah kosakata dalam bahasa

Madura apabila telah diingat dan dipahami maknanya tidak akan pernah dapat dilupakan oleh

orang yang belajar bahasa Madura tersebut.

Di sekolah, bahasa Madura diajarkan dalam bentuk muatan lokal sejak tahun 1994. Pada

saat itu posisi muatan lokal bahasa Madura masih belum jelas apakah menjadi sebuah mata

pelajaran yang diwajibkan ataukah tidak. Baru ketika Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional yang disahkan pada tanggal 8 Juli 2003, posisi bahasa ini

resmi menjadi salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah (dasar dan menengah)

(Azhar, 2009). Resminya bahasa Madura menjadi bahasa yang wajib dipelajari di Sekolah Dasar

dan Menengah di seluruh pulau Madura menyebabkan Pemerintah Kabupaten memiliki

kewajiban yang penuh untuk mendukung program ini. Kewajiban itu kemudian dilaksanakan

oleh Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten setempat dengan membentuk tim perancang dan

pengembang kurikulum bahasa daerah. Tim perancang dan pengembang kurikulum bahasa

daerah lokal ini pada akhirnya menerbitkan buku ajar yang dipakai oleh seluruh siswa SD

maupun SMP setempat.

D. Sistem Tata Bunyi Bahasa Madura

Fonem-fonem dalam bahasa Madura memiliki karakter khusus yang berbeda dibandingkan

bahasa lain karena banyak fonem di bahasa tersebut yang memiliki sifat aspirat. Fonem

beraspirat tersebut bersifat fonemik mengingat kemampuannya sebagai pembeda makna. Fonem

beraspirat adalah salah satu ciri khas dari tata bunyi bahasa Madura. Di bawah ini akan

dijelaskan beberapa ciri lain tata bunyi bahasa Madura yang tergambar dalam bentuk-bentuk

vokal, konsona maupun diftongnya.

D.1. Vokal dalam Bahasa Madura

Vokal adalah bunyi bahasa yang dalam proses pembentukannya arus udara yang mengalir dari

paru-paru tidak mengalami hambatan oleh alat-alat ucap. Kualitas vokal ditentukan oleh tiga

faktor yaitu: (1) tinggi-rendah posisi lidah, (2) bagian lidah yang dinaikkan, dan (3) bentuk bibir

(8)

Dalam Bahasa Madura (BM) terdapat enam vokal yaitu: /a/, /i/, /e/, /u/, / / dan /כ/. Dilihat

dari tinggi rendah posisi lidah dan bagian-bagian lidah yang dinaikkan, atau parameter

tinggi-rendah dan depan-belakang, keenam vokal tersebut dapat digambarkan seperti tabel berikut:

Posisi Lidah Depan Pusat Belakang

Atas /i/ /u/

Tengah /e/ / / /כ/

Bawah /a/

Dari gambar diatas kita dapat menyimpulkan bahwa berdasarkan tinggi rendahnya posisi

lidah, BM memiliki dua vokal atas (/i/ dan /u/), tiga vokal tengah (/e/, / /dan /כ/) dan satu vokal

bawah (/a/). Berdasarkan bagian lidah yang dinaikkan, BM memiliki dua vokal depan (/i/ dan

/e/), dua vokal tengah (/ / dan /a/), dan dua vokal belakang (/u/ dan /כ/). Berdasarkan bentuk

bibir, BM mempunyai dua vokal bundar (/u/ dan /כ/) dan empat vokal tak bundar (/i/, /e/, / /, dan

/a/. (Sofyan dkk, 2008). Contoh vokal-vokal tersebut ada dalam kata:

(1) /cabBi/ = cabai

(2) /ereŋ/ = samping

(3) /D pa?/ = sampai

(4) /kanna?/ = ke sini

(5) /Duj n/ = suka

(6) /cכlכ?/ = mulut

D.2. Diftong dalam Bahasa Madura

Diftong adalah bunyi bahasa yang pada waktu pengucapanya ditandai oleh tambahan gerak lidah

dan perubahan tamber satu kali, dan yang berfungsi sebagai inti dari suku kata (Sofyan, 2008).

Dalam BM terdapat tiga buah Diftong yakni: /ay/, /כy/ dan /uy/. Diftong /ay/ memiliki dua

allofon yaitu [ay] dan [ăy] sehingga kadang para linguis menyebut BM memiliki empat buah

diftong. Adapun contoh doftong tersebut dalam kata adalah:

(7) /tapay/ = tape

(8) /G băy/ = buat

(9) /k rBuy/ = kerbau

(10) /tamכy/ = tamu

(9)

D.3. Vokal dalam Bahasa Madura

Menurut artikulasinya, konsonan dalam BM dapat dikategorikan berdasarkan empat faktor,

yaitu: (1) keadaan pita suara (2) daerah artikulasi (3) cara artikulasi dan (4) ada tidaknya aspirasi.

Berdasarkan keadaan pita suara, konsonan dibedakan menjadi konsonan bersuara dan tak

bersuara. Berdasarkan daerah artikulasinya, konsonan dibedakan atas konsonan bilabial,

labiodental, alveolar, palatal, velar dan glottal. Berdasarkan cara artikulasinya konsonan

dibedakan atas konsonan hambat, frikatif, nasal, getar, dan lateral. Berdasarkan ada tidaknya

aspirasi konsonan dibedakan atas konsonan beraspirasi dan tak beraspirasi. Disamping itu ada

lagi yang berwujud semi vokal, yakni bunyi bahasa yang secara praktis termasuk konsonan,

tetapi dilihat dari artikulasnya belum membentuk konsonan murni.

Daerah

Pada tabel di atas nampak bahwa BM memiliki 31 konsonan yaitu: /p/, /t/, /T/, /c/, /k/, /q/, /?/, /b/, /d/, /D/, /j/, /g/, /bh/, /dh/, /Dh/, /jh/, /gh/, /f/, /s/, /š/, /z/, /x/, /h/, /m/, /n/, /ň/, /ŋ/, /r/, /l/, /w/, /y/. Adapun munculnya konsonan dalam kata dapat dilihat dari contoh di bawah ini:

Kode Jenis Konsonan Konsonan Contoh

(10)

/Dh/ (20) /Dh mar/ = lampu

E. Retensi dan Inovasi Fonem Bahasa Madura

Telah disebutkan di bagian depan bahwa bahasa Madura telah mengalami evolusi dari yang

semula berbentuk protobahasa Austronesia, menjadi bahasa Madura seperti yang kita lihat

sekarang ini. Selama proses evolusi ini terjadi, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi pada

jenis-jenis kosakata maupun pengucapan bahasa Madura. Kemungkinan yang pertama adalah

bahasa Madura masih tetap mempertahankan dan mewarisi anasir protobahasa Austronesia. Ini

berarti bahwa bahasa Madura masih tetap mempertahankan kaidah-kaidah linguistik bahasa

protonya yaitu protobahasa Austronesia. Fenomena inilah yang dikenal sebagai retensi.

Kemungkinan yang kedua adalah terjadinya perbedaan jenis-jenis kosakata maupun pengucapan

bahasa Madura dari bahasa protonya. Fenomena inilah yang dikenal sebagai inovasi. Perbedaan

yang terjadi disinyalir terjadi karena masuknya berbagai anasir yang memberikan stimulus

variasi dan perkembangan bahasa madura. Karena pokok kajian kita adalah tentang fonem

(11)

E.1. Retensi Fonem PAN dalam BM

Beberapa fonem bahasa Austronesia masih dapat dilihat bentuknya secara utuh dalam fonem

bahasa Madura modern. Kita dapat melihat keutuhan retensi fonem bahasa Madura ini melalui

bentuk protobahasa Austronesia. Bentuk protobahasa Austronesia yang digunakan dalam artikel

ini mengambil konstruksi protobahasa Austronesia yang diajukan oleh Dempwolff (1938), Dyen

(1953) dan Dyen dan Mcfarland (1970) (ketiganya dalam Wurm &Wilson, 1978)

Adapun fonem-fonem protobahasa Austronesian (PAN) yang retensif dan tetap

digunakan secara utuh baik itu konsonan maupun vokalnya dalam bahasa Madura (BM) modern

adalah:

E.1.a. Retensi Vokal PAN dalam BM

(a) *a > a

(43) * páqa? > pכkaŋ = paha

(44) * naqnaq > nana = nanah

(45) * aŋka > angka? = angkat

PAN /r/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

Ket: tanda * aa : menunjukkan bahwa itu adalah protobahasa tanda > : menjadi

tanda / : pada

pre#KV___ : prepenultima (biasanya ada di kata dengan 3 suku kata)

#KV__ : penultima (biasanya ada di kata dengan 2 suku kata)

#KVK__ : penultima (suku kata kedua, dua konsonan diantara satu vokal)

___KV# : ultima (suku kata akhir)

___KVK# : ultima (suku kata terakhir, dua konsonan diantara satu vokal)

(b) *i > i /#KV___ dan *i > i /__KV#

(46) * binex > bine? = perempuan

(47) * ñañi > ñañi = bernyanyi

PAN /i/ mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(c) *u > u /#KV/KVK___ dan *i > i /__KV/KVK#

(48) * lembut > l mbu?/ = empuk

(49) * butbut > bhutbhut = mencabuti

(12)

PAN /u/ mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(d) *e > e /__KV/KVK#

(51) * binex > bine? = perempuan

(52) * liqer > le?er = leher

PAN /e/ mengalami retensi pada ultima dalam BM.

E.1.b. Retensi Konsonan

(e) fonem /*b/ dengan rumus: *b > b /#KV___ dan *b > b /__KV/KVK#

(53) *butbut > butbut = mencabuti

(54) *t buq > tכmbu = tumbuh

(55) *sábaq > sab = sawah

PAN /b/ mengalami retensi pada suku kata kedua dari akhir (penultima) dalam BM.

(f) *p > p /#KV/KVK___ dan *p > p /__KV/KVK#

(56) *pitu? > petTכ? = tujuh

(57) *páqa? > pכkaŋ = paha

(58) *?apa? > apah = apa

(59) *sapu? > sapכh = sapu

PAN /p/ mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(g) *t > t.

(60) * tan m > tan m = tanam

(61) * q tek > כt q = otak

(62) * pátéy > pateh = mati

(63) * sebut > s bbhut = sebut

PAN /t/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(h) *k > k

(64) * kaka? > kaka? = kakak

(13)

(66) * bálik > bh lik = balik

PAN /k/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(i) *D > D/#KV___ dan *D > D /__KVK#

(67) * DaDa? > d D h = dada

(68) * Dálem > D l m = dalam

PAN /d/ mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(j) *h > h /__KVK#

(69) * taŋgah > andh h = tangga

(70) * q bih > כbih = ubi

(71) * sapuh > sapכh = sapu

PAN /h/ mengalami retensi pada ultima dalam BM.

(k) *s > s

(72) * siwa? > saŋa? = sembilan

(73) * Rát s > satכs = seratus

(74) * mosaq > mכsכ = musuh

(75) * sapu? > sapכh = sapu

PAN /s/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(l) *m > m

(76) * limá? > lema? = lima

(77) * lembut > l mbu? = empuk

(78) * ?n m > enכm = minum

(79) * maCá? > matah = mata

PAN /m/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(m) *n > n

(80) * laun > laכn = pelan

(14)

(82) * tunu? > tכnכh = panggang

PAN /n/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(n) *y > y

(83) * apuy > apכy = api

PAN /y/ mengalami retensi pada ultima dalam BM.

(o) *l > l

(84) * limá? > lema? = lima

(85) * laun > laכn = pelan

(86) * telu? > t llכ? = tiga

(87) * béŋél > teŋ l = tuli

PAN /l/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(p) *c>c/__KVK#

(88) * ?ucap > כca? = berbicara

PAN /c/ mengalami retensi pada ultima dalam BM.

(q) *r > r

(89) * rebuŋ > rebbhuŋ = anak bambu

(90) * ñiur > ñeכr = nyiur

(91) * t run > tכrכn = turun

PAN /r/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(r) * ñ > ñ /#KV___ dan *ñ > ñ /__KV#

(92) * ñiur > ñeכr = nyiur

(93) * ñañi > ñañi = nyanyi

PAN / ñ / mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(s) * ŋ > ŋ /#KV___ dan *ñ > ñ /__KVK#

(15)

(95) * háŋin > aŋen = angin

(96) * aŋka > aŋka? = angkat

PAN / ŋ / mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(t) *? > ? /__KVK#

(97) * pitu? > petTכ? = tujuh

(98) * limá? > lema? = lima

PAN /?/ mengalami retensi pada ultima dalam BM.

Dari hasil analisi data terhadap kemunculan dan pemertahanan fonem protobahasa

Austronesia dalam bahasa Madura dapat digambarkan sebagai berikut:

* a > a * ? > ?

* i > i * s > s

* u > u * m > m

* e > e * n > n

* p > p * l > l

* t > t * r > r

* k > k * ñ > ñ

* D > D * ŋ > ŋ

* h > h * c > c

* b > b * y > y

Fonem-fonem konsonan dan vokal di atas mengalami retensi pada semua posisi atau

posisi tertentu. Disamping mengalami retensi, fonem-fonem tersebut mengalami inovasi yang

akan dijelaskan sebagai berikut:

E.2. Inovasi Fonem PAN dalam BM

Beberapa fonem PAN mengalami perubahan atau inovasi dalam BM. Inovasi-inovasi

tersebut dapat dianalisa dengan menggunakan pendekatan dua kaidah yaitu kaidah primer dan

kaidah sekunder. Kaidah primer yaitu kaidah yang menjelaskan proses inovasi yang terjadi

karena berubahnya satu fonem menjadi satu fonem lain yang terjadi secara berkesinambungan

dan merata pada fonem BM, sedangkan kaidah sekunder adalah kaidah yang berhubungan

dengan bentuk maupun letak dari perubahan fonem itu sendiri. Kaidah sekunder kadang acak

atau sporadis dan kurang teratur Adapun kaidah-kaidah tersebut tersebut antara lain.

(16)

(1) Inovasi Vokal PAN dalam BM

(a) Terjadi inovasi Substitusi yaitu pergantian satu bunyi dengan bunyi yang lain seperti pada

peristiwa *u > כ /__KVK# dan /#KV___

(99) * telu? > t llכ? = tiga

(100) * pitu? > petTכ? = tujuh

(101) * ?ucap > כca? = berbicara

(102) * puki > pכkeh = kelamin perempuan

PAN /u/ mengalami inovasi Substitusi menjadi / כ/ pada ultima dan penultima dalam BM.

(b) Inovasi fonem vokal berupa Partial Split terjadi pada *i > e / #KV/KVK___ dan

*i > e /___KVK# serta *i > i #KV___ dan *i > i /___KVK/VK#

(103) * limá? > lema? = lima

(104) * pitu? > petTכ? = tujuh

(105) * k lit > kכle? = kulit

(106) * nipis > tepes = tipis

(107) * binex > bine? = perempuan

(108) * q bih > כbih = ubi

(109) * záqit > jh i? = jahit

Partial Split adalah perubahan satu fonem menjadi dua fonem yang berbeda, namun satu fonem,

masih menyisakan bentuk asalnya. Partial Split dapat digambarkan sebagai berikut:

e

* i

i

(2) Inovasi Diftong PAN dalam BM

(c) Terjadi inovasi Merger pada diftong *ei, *ay, dan *uy > h pada BM. Merger (penggabungan)

adalah berubahnya dua atau beberapa fonem yang berbeda menjadi satu fonem yang sama.

(110) * Dahey > D ih = dahi

(111) * pátéy > pateh = mati

(112) * tambay > tambh h = tambah

(17)

Merger ei, ay, dan uy > h dapat digambarkan sebagai berikut:

*ei

*ay /h/

*uy

a.2. Inovasi Konsonan PAN dalam BM (d) Inovasi terjadi pada Fonem*y > j /__KVK#

(114) * kayuq > kajuh = kayu

(115) * láyaR > laj r = layar

Fonem /y/ pada posisi ultima mengalami inovasi yaitu menjadi fonem /j/ dalam bahasa

Madura.

(e) Inovasi berupa Merger terjadi pada konsonan hambat seperti *d, *k, *t dan *p > ? Bukti

perubahan tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut

(116) * Káwad > kab ? = kawat

(117) * záqit > jh i? = jahit

(118) * ?aŋkat > angka? = angkat

(119) * ?ucap > כca? = berbicara

(120) * anak > ana? = anak

Perubahan protofonem konsonan hambat t, k, d > ? terjadi pada ultima.

(f) Fonem *t ternyata tidak hanya mengalami inovasi merger yaitu *t > ?, tapi juga terjadi

perubahan Partial Split karena ditemukan juga pada contoh lainnya bahwa *t > t

(121)*lembut > l mbu? = empuk

(122)*k lit > kכle? = kulit

(123)*butbut > bhutbhut = mencabuti

(124)*qasat > asat = kering

PAN /t/ mengalami inovasi menjadi /?/ dan /t/ pada posisi ultima dalam BM.

(g) *z > jh /#KV___

(18)

(126) *záqit > jh i? = jahit

(127) *zauq > jh u = jauh

(128) *zálane > jh l n = jalan

PAN /z/ mengalami inovasi menjadi /jh/ pada penultima dalam BM.

(h) *q > Ø

(129) *belaq > bh sa = pecah

(130) *taqun > taכn = tahun

(131) *salaq > sala = salah

(132) *qasat > asat = kering

(133) *naqnaq > nana = nanah

PAN /q/ mengalami inovasi mejadi fonem kosong (didrop) pada semua posisi dalam BM.

(i) *? > h /__KVK#

(134) * q bi?/ > כbih = ubi

(135) * ?apa? > apah = apa

(136) * taDá? > tanDh h = tanda

(137) * sapu? > sapכh = sapu

(138) * DaDa? > d D h = dada

(139) * tunu? > tכnכh = bakar

(140) * lupa? > lכppah = lupa

PAN /?/ mengalami inovasi menjadi /h/ pada posisi ultima dalam BM.

(j) *b > bh /#KV___ dan __KV/KVK#

(141)*belaq > bh sa = pecah

(142)*rebuŋ > r bbhuŋ = anak bambu

(143)*kembaŋ > kembh ŋ = kembang

(144)*Rebaq > rכbbhu = tumbang

(145)*sebut > s bbhut = sebut

(146)*buRhu? > t mbhuruh = cemburu

(19)

E.2.b. Kaidah Sekunder

(1) Fortrisi

Fortrisi adalah perubahan sebuah fonem atau lebih menjadi fonem berbeda yang posisinya lebih

lebih kuat (Crowle,1992), seperti konsonan lemah menjadi kuat atau vokal rendah menjadi

tinggi. Inovasi Fortrisi dapat kita jumpai pada BM seperti dicontohkan di bawah ini yaitu

perubahab *w > j dan *y > j:

(147) *lawa > b labb h = laba-laba

(148) *káwad > kab ? = kawat

(149) *walat > b l t = bahaya/kualat

(150) *kayuq > kajuh = kayu

(151) *láyaR > laj r = layar

(2) Lenisi

Lenisi adalah inovasi yang merupakan kebalikan dari fortisi, yaitu perubahan sebuah fonem atau

lebih menjadi fonem berbeda yang posisinya lebih lebih lemah (Crowle,1992), seperti /b/>/w/

atau /p>/f/. Lenisi yang paling ekstrim adalah hilangnya sebuah atau lebih suara (Crowle, 1992).

Contoh inovasi lenisi terdapat dalam daftar di bawah ini:

(152) *salaq > sala = salah

(153) *sábaq > sab = sawah

(154) *babaq > b b = bawah

(155) *tambaq > tamb = tambah

(156) *mosaq > mכsכ = musuh

(157) *salaq > sala = salah

(3) Apokope

Apokope adalah pelesapan bunyi-bunyi vokal pada akhir kata (Fernandez, 1994). Contoh inovasi

apokokope dalam BM ada dalam contoh berikut:

(158) *bat ?e > b tכh = batu

(159) *cáŋise > tanges = tangis

(20)

(4) Sinkope

Sinkope adalah proses yang sangat mirip dengan Apokope. Sinkope mengacu pada pelesapan

bunyi-bunyi vokal pada posisi engah kata. Sinkope inilah yang seringkali menyebabkan adanya

gugus konsonan pada BM (Fernandez, 1994). Contoh inovasi Sinkope adalah:

(161) * epate > mpa? = empat

(162) * zárium > jh rum = jarum

(5) Haplologi

Haplologi merupakan sejenis perubahan bunyi yang penerapannya cenderung sangat sporadis

dan jarang dijumpai. Haplologi mengacu pada penghilangan suku kata seutuhnya apabila suku

kata tersebut berdampingan dengan suku kata yang identik sekurang-kurangnya mirip

(Fernandez, 1994). Contoh inovasi Haplologi dalam BM adalah:

(163) * kulambu > klambu = kelambu

(164) * karapu > krapכh = sejenis ikan

(165) *balakaŋ > bl kaŋ = belakang

(6) Asimilasi Progresif

Asimilasi Progresif adalah salah satu jenis Asimilasi yang mana bunyi terdahulu dalam kata

mempengaruhi bunyi setelahnya (Fernandez, 1994). Seperti contoh dalam BM:

(166) * betlis > b ttes = betis

(167) * belf? > b llih = beli

(7) Unpacking/Pengenduran

Unpacking adalah sebuah proses perubahan fonetis yaitu dari sebuah suara menjadi dua buah

suara yang berurutan yang masih menyisakan fitur-fitur dari suara asal (Crawle,1992). Seperti

contoh dalam BM:

(168) * puki > pכkeh = alat kelamin perempuan

(169) * besi > b sseh = besi

(170) * tali > taleh = tali

(21)

(8) Protesis

Protesis adalah istilah yang mengacu pada suatu tipe perubahan bunyi khusus yaitu

ditambahkannya satu atau dua bunyi pada awal kata (Fernandez, 1994). Contoh inovasi Protesis

adalah:

(172) * puluq > sapכlכ = sepuluh

(173) * lawa > b labb h = laba-laba

(9) Geminat

Geminat adalah kaidah sekunder untuk menjelaskan proses penduplikasian konsonan. Kaidah ini

tentu saja mengiringi perubahan lain yang terdapat dalam perubahan suatu etimon. Contoh

inovasi Geminat adalah:

(174) *eneme > nn m = enam

(175) *tebuSe > t bbhuh = tebu

(176) * telu? > t llכ? = tiga

(177) * wal ? > b llu? = delapan

(178) * rebuŋ > r bbhuŋ = anak bambu

(179) * peñu > p ññכh = penyu

(180) * Rebaq > rכbbhu = rubuh

(181) * sebut > s bbhut = sebut

F. Jejak Protobahasa Austronesia Pada Bahasa Madura

Dari daftar etimon PAN yang ada dalam lampiran, kita dapat melihat bahwa hampir seluruh

etimon PAN (yaitu sekitar 90%) yang terdaftar dalam lampiran, kognat dengan BM modern.

Kita juga dapat melihat bahwa ada beberapa etimon PAN yang tidak mengalami inovasi

sama sekali dan terlihat demikian mirip dengan leksikon BM. Kemiripan PAN dengan BM inilah

yang menjadi penguat status BM bahwa BM adalah bagian dari rumpun bahasa Austronesia.

Kemiripan ini terlihat pada data di bawah ini:

NO DATA PAN BM GLOSS

2081 kaka? kaka? kakak

2101 ñañi ñañi nyanyi

2272 abuh abuh abu

(22)

2701 taném tanem Tanam

Selain itu, dari analisis yang telah dilakukan terhadap retensi dan inovasi PAN mejadi

BM dalam artikel ini menemukan beberapa hal menarik antara lain:

(1) sebagian besar dari jumlah konsonan yang dimiliki PAN mengalami retensi pada BM dan

sisanya mengalami inovasi yang masih dapat diterangkan berdasarkan kaidah tertentu.

Konsonan PAN yang mengalami retensi adalah /s/, /m/, /b/, /n/, /p/, /l/, /t/, /r/, /k/, /ñ/, /D/, /ŋ/, /?/,

/c/, /h/, dan /y/. Konsonan PAN yang mengalami inovasi adalah:/y, /d/, /k/, /t/, /z/, /q/, /b/, /p/, dan /?/

(2) Vokal-vokal PAN juga masih tetap dipertahankan, seperti /a/, /i/, /u/, /e/. Vokal /i/ dan /u/

selain mengalami retensi juga mengalami inovasi. /*i/ berinovasi menjadi /i/ atau /e/, dan /*u/

berevolusi menjadi /u/ atau /כ/. Vokal כ yang dijumpai muncul dalam BM ternyata pada data

etimon PAN tidak muncul. Tidak munculnya fonem כ tersebut perlu dikaji lebih dalam

apakah PAN memang tidak mengenal vokal כ ataukah memang linguis historis komparatif

masih belum dapat merekonstruksi fonem PAN yang mengandung vokal tersebut.

(3) Diftong /*ei/, /*ay/, dan /*uy/ bermerger menjadi /h/

Dari sinilah kita dapat menyimpulkan beberapa hal antara lain:

(1) pengkatagorian BM sebagai salah satu anggota bahasa Austronesia adalah benar adanya. Hal

ini dapat dilihat dari presentasi kekognatan yang tinggi. Andaikata ada inovasi, inovasi ini

terjadi secara beraturan dan dapat dijelaskan secara logis dengan menggunakan kaidah

tertentu.

(2) Persamaan maupun perbedaan yang terjadi pada BM adalah hasil inovasi dan retensi PAN

yang terjadi dalam proses evolusi BM dari PAN menjadi BM yang kita kenal seperti saat ini.

Bahasa Madura merupakan bahasa konsonan yakni banyak diantara kosakatanya terdiri

dari gugus konsonan. Banyak linguis memandang fenomena ini sebagai fenomena unik yang

menjadi ciri khas Bahasa Madura tanpa mampu menjelaskan mengapa fenomena ini terjadi.

Padahal, dengan menggunakan kajian Historis Komparatif, kita dapat melihat keunikan ini

disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

(1) sebagian besar konsonan PAN mengalami retensi sehingga berdistribusi nyata dalam

pembentukan leksikon. Tidak hanya itu, evolusi yang terjadi pada BM menyebabkan

(23)

kemudian terlibat dalam inovasi linguistik tertentu dan akhirnya muncullah fenomena unik

tersebut

(2) Inovasi Sinkope terjadi dalam BM. Inovasi inilah yang menjadi penyebab sering munculnya

gugus konsonan dalam leksikon

(3) Inovasi Haplologi turut serta dalam menyumbang gugus konsonan, dan

(4) Proses inovasi Geminat sangat banyak ditemukan dalam analisa inovasi BM. Inovasi inilah

yang menjadi penyebab utama dari munculnya gugus kosakata BM modern

F. Simpulan dan Penutup

Dari Hasil kajian terhadap retensi dan inovasi fonem protobahasa Austronesia dalam Bahasa

Madura ini kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata refleks/jejak-jejak fonem protobahasa

Austronesia masih terlihat jelas dalam Bahasa Madura. Kejelasan ini dapat dilihat dari beberapa

hal antara lain: (1) presentasi kekognatan yang tinggi antara PAN dan BM, (2) beberapa leksikon

PAN mengalami retensi sempurna sehingga sangat mirip dengan BM, (3) inovasi-inovasi yang

muncul terjadi secara teratur dan dapat dijelaskan secara logis menggunakan kaidah-kaidah

tertentu.

Semoga dengan adanya artikel ini, dapat menjadi inspirator bagi linguis lainnya untuk

mengembangkan kajian Bandingan Historis Nusantara yang masih belum begitu dilakukan.

Kajian Pustaka

Anceaux, J.C. 1981. Teori-teori Tentang Tanah Asal Bahasa Austronesia. Diterjemahkan oleh Sudaryanto dari Bijdragen tot de taalland en volkenkunde, Deel 121, 4e Aflevering, ‘a.

Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1965, halaman 417 s.d. 428. serta hal. 429 s.d. 432 khusus

bibliografi. Penyunting MLI Komisariat Universitas Gadjah Mada.

Azhar, Iqbal N. 2008. dalam Bahasa dan Sastra Dalam Berbagai Perspektif: Ketika Bahasa

Madura Tidak Lagi Bersahabat Dengan Kertas dan Tinta. Halaman 9 Yogyakarta: Tiara

Wacana

Azhar, Iqbal N. 2009. Konstruksi Gender dalam Buku Ajar Muatan Lokal Bahasa Madura.

Dalam Jurnal Prosodi Volume 3 No 1 halaman 55. Sastra Inggris Unijoyo.

Blust, A. Robert. Telaah Komparatif Bahasa Nusantara Barat. Kumpulan Karya. Diterjemahkan

(24)

Blust, R. (1999). "Subgrouping, Circularity and Extinction: Some Issues in Austronesian Comparative Linguistics" dalam E. Zeitoun & P.J.K Li (Ed.) 'Artikel-artikel pilihan pada Konference Internasional Linguistik Austronesia' ke delapan (pp. 31-94). Taipei: Academia Sinica.

Cambridge Advance Learner’s Dictionary

Crowle, Terry. 1992. An Introduction to Historical Linguistics. Auckland: Oxford University Press

Fernandez, Inyo, Yos. 1996. Relasi Historis Kekerabatan Bahasa Flores. Ende: Penerbit Nusa Indah

Fernandez, Inyo, Yos. 1994. Linguistik Historis Komparatif: Pengantar di Bidang Teori.

Yogyakarta: tidak diterbitkan

Fernandez, Inyo, Yos. 1996. Persesuaian Subjek-Verb dalam Bahasa Mai Brat Dialek Ayamaru

dan Lamohot Dialek Ile Mandiri. Artikel dimuat di Jurnal Humaniora Nomor III Tahun

1996. Universitas Gajah Mada

Fernandez, Inyo, Yos. 1997.Konstruksi Posesif Bahasa-bahasa Austronesia dan Non

Austronesia di Kawasan Timur Indonesia: Studi Bandingan Bahasa Tetun (Timor-timur),

Lamaholot (Flores Timur), dan Mai Brat (Kepala Burung). Artikel dimuat di Jurnal

Humaniora Nomor V Tahun 1997. Universitas Gajah Mada

Gonda, J. 1988. Linguistik Bahasa Nusantara: Kumpulan Karya. Penerjemah: T.W. Kamil.

Jakarta: Balai Pustaka, 1988

Kentjono (peny.) 1982. Dasar-dasar Linguistik Umum. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia

Kridalaksana, Harimukti. 1983. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Masrukhi, 2002. Refleksi Fonologis Protobahasa Austronesia (PAN) Pada Bahasa Lubu (LB). Artikel dimuat di Jurnal Humaniora Volume XIV Nomor 1 Tahun 2002. Universitas Gajah Mada

Nothofer, Bernd. 1975. The Reconstruction of Proto-Malayo-Javanic.’S-Gravenhage: Martinus

Nijhoff

Parera, Jos, Daniel. 1991. Kajian Linguistik Umum Historis Komparatif dan Tipologi Struktural.

Jakarta: Erlangga

PJRN . 2006. Madura of Indonesia. www.joshuaproject.net. diakses 3 Mei 2006

(25)

Sofyan, A. dkk. 2008. Tata Bahasa Madura. Sidoarjo: Balai Bahasa Surabaya

www.wikipedia.com. 2009. Rumpun Bahasa Austronesia. Diakses 12 November 2009

www.wikipedia.com 2006. Madurese Language. Diakses 3 Mei 2006

Wiyata, A Latief. 2002. Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura. Yogyakarta:

LkiS

Wurm, S.A&Wilson,B. 1976. English Finderlist of Reconstructions in Austronesian Languages.

Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University

DAFTAR ETIMON PAN YANG COGNATE DENGAN FONEM BM

NO

ETIMON PAN

FONEM BM MODERN

RETENSI FONEM PAN

INOVASI FONEM

(26)
(27)
(28)
(29)

3213 /gantuŋ/ /gh ntכŋ/ *n>n, *t>t, *ŋ>ŋ *u>כ, gantung 3223 /tambay/ /tambh h/ *t>t, *a>a, *b>b *dif>h, fortrisi, obat 3233 /kulat/ /kכlat/ *k>k, *l>l, *a>a, *t>t *u>כ, jamur

Keterangan

1 Konstruksi PAN oleh Dyen dan McFarland tahun 1970 2 Konstruksi PAN oleh Dyen tahun 1953

3 Konstruksi PAN Dempwolff tahun 1938

dif: diftong *ei, *ay, dan *uy

Referensi

Dokumen terkait

(Analisis Persamaan Bunyi pada Akronim Bahasa Mandarin Beserta Perbandingannya). 2010 menjelaskan bahwa terdapat perbedaan bentuk kata singkatan homonim dengan bentuk

Karena sebagian besar bangsa anggota ASEAN masih meruapakan rumpun bahasa Melayu, tidak menutup kemungkinan pula jika nantinya bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa yang

Ruang lingkup pembahasan menyangkut analisis variasi bahasa Minangkabau yang mencakup semua aspek variasi, baik variasi bentuk (fonologis, morfologis, dan leksikal) maupun variasi

Sesuai dengan tujuan dari penelitian ini yakni mendeskripsikan persamaan dan perbedaan penggunaaan kata keterangan waktu berdasarkan letak kata keterangan waktu dalam

Maka dari itu perlu dilakukan perbandingan kedua bahasa dalam penyebutan nama peralatan rumah tangga berbahan bambu dan gerabah untuk mengetahui persamaan maupun

Gaya bahasa paranomasia merujuk pada bentuk persamaan suatu kata maupun frasa dalam satu pernyataan namun memiliki perbedaan makna. Bentuk paranomasia berdasarkan data

Hubungan kekerabatan suatu bahasa dapat dibuktikan melalui rekonstruksi unsur- unsur retensi ‘kesamaan atau pemertahanan’ maupun inovasi ‘perubahan’ dari bahasa asalnya yang

Berdasarkan hal-hal yang penulis paparkan di atas, penulis merasa tertarik untuk meneliti perbedaan atau persamaan bentuk aksara dan makna aksara antara aksara Jiǎntǐzì