• Tidak ada hasil yang ditemukan

ekonomi koran hukum pembangunan (4)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ekonomi koran hukum pembangunan (4)"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

Kelompok 8

MAKALAH

Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan

Ekonomi:Penyebab,Konsekuensi dan Kontroversi

DI SUSUN OLEH :

1. Muchamad Thoyib (201411329)

2. Anjasmara Putro (201411330)

3.Muhammad Arif Setiawan (201411331)

Kelas II E 2014/2015 PRODI MANAJEMEN UNIVERSITAS MURIA KUDUS

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami,karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami bisa menyelesaikan penyusunan makalah kelompok ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah EKONOMI PEMBANGUNAN yang bertemakan ‘‘Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi:Penyebab,Konsekuensi dan Kontroversi”.

Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bpk.SUKIRMAN dan semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Makalah ini disusun berdasarkan sumber-sumber yang ada,namun kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna.oleh karena itu,kritik dan saran demi perbaikan dan penyempurnaan akan kami terima dengan senang hati. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.

Kudus,5 April 2015

Penyusun

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……… I

DAFTAR ISI……….. . II

DAFTAR TABEL………... III

Tafsiran penduduk dunia sepanjang masa……….. III Laju pertumbuhan penduduk dunia dan pelipatan……… IV Lima Belas Negara dengan Jumlah Penduduk Paling Besar dan Kenaikannya

Per Tahun…...……… V

RINGKASAN...………. VI

BAB I PENDAHULUAN………. 1

Latar belakang……… 1

Rumusan Masalah……….. 2

Tujuan……… 2

BAB II Tinjauan pustaka………. 3

BAB III PEMBAHASAN……….. 15

Pertumbuhan Penduduk dan Kualitas Hidup………..……… 15

Penyebab tingginya tingkat kelahiran………. 20

konsekuensi Tingginya Tingkat Fertilitas………... 21

KESIMPULAN……….. 28 PENUTUP………..

(5)

DAFTAR TABEL

Taksiran Pertumbuhan Penduduk Dunia Sepanjang Masa

Tahun

Taksiran Jumlah Penduduk (dalam Jutaan)

Taksiran % Kenaikan Tahunan dalam Periode

yang Diobservasi

10.000 SM 5

1 Masehi 250 0,04

1650 545 0,04

1750 728 0,29

1800 906 0,45

1850 1.171 0,53

1900 1.608 0,65

1950 2.576 0,91

1970 3.698 2,09

1980 4.448 1,76

1990 5.292 1,73

2000 6.090 1,48

2050 (Proyeksi) 9.036 0,45

(6)

Laju Pertumbuhan Penduduk Dunia dan Periode Pelipatan

Periode Pertumbuhan (%)Taksiran Laju Periode Pelipatan (tahun)

Awal kemunculan manusia

dalam catatan sejarah 0,002 36.000

1650 – 1750 0,3 240

1850 – 1900 0,6 115

1930 – 1950 1,0 72

1960 – 1980 2,3 31

Sekarang 1,3 54

(7)

Lima Belas Negara dengan Jumlah Penduduk Paling Besar dan Kenaikannya Per Tahun

Peringkat Negara Jumlah Penduduk 2003(Jutaan) Tingkat Kenaikan(%)

1 Cina 1.289 0,6

2 India 1.069 1,7

3 Amerika Serikat 292 0,6

4 Indonesia 221 1,6

5 Brasil 177 1,3

6 Pakistan 149 2,7

7 Bangladesh 147 2,2

8 Rusia 146 -0,7

9 Nigeria 134 2,8

10 Jepang 128 0,1

11 Meksiko 105 2,4

12 Jerman 83 -0,1

13 Filipina 82 2,2

14 Vietnam 81 1,3

(8)

RANGKUMAN

Pesatnya pertambahan penduduk dunia, sampai pada abad ke 21 ini total penduduk dunia diperkirakan mencapai 6,1 milliar ( Prediksi PBB). Setiap tahunnya sekitar 80 juta orang terlahir di dunia dan 97% manusia yang baru terlahir tersebut berasal dari Negara ketiga yang notabene Negara berkembang Selama bertahun-tahun telah berlangsung perdebatan diantara para ahli ekonomi tentang mengenai baik atau buruknya pertumbuhan penduduk.

Pertumbuhan Penduduk Bukanlah Masalah yang Sebenarnya . Kita dapat mengidentifikasikan adanya tiga aliran pemikiran pada kubu argumentasi yang berkeyakinan bahwa sesungguhnya pertumbuhan penduduk itu bukan merupakan inti persoalan atau masalah sebenarnya .

Inti persoalannya bukan pertumbuhan penduduk, melainkan hal-hal atau isu lain,bahkan pertumbuhan penduduk merupakan persoalan rekaan atau masalah palsu yang sengaja diciptakan oleh badan-badan dan lembaga-lembaga milik negara kaya dan dominan dengan tujuan menjadikan negara-negara berkembang tetap terbelakang dan bergantung pada negara maju.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh negara-negara maju untuk membantu Negara berkembang keluar dari keterbelakangannya. Namun hal ini harus didasarkan pada niat yang tulus dari negara maju untuk membantu negara berkembang. Bantuan yang dimaksud tidak hanya pada bantuan keuangan dari sektor publik dan swasta saja, namun juga hubungan jangka panjang seperti misalnya dalam perdagangan dan keringanan tarif serta cuaki dan pajak laiinya. Meningkatkan impor bahan primer yang merupakan andalan dari negara-negara berkembang juga akan sangat membantu mengangkat perekonomian negara-negara berkembang. Lalu dengan pembagian yang adil pada sumber daya yang langka.

Kegiatan nyata yang paling penting dari negara maju ada dua, yaitu yang pertama adalah penyediaan bantuan-bantuan riset untuk mengembangkan metodologi dan teknologi pengendalian kelahiran. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi berbagai risiko berkenaan dengan reproduksi. Kemudian untuk tindakan yang kedua yaitu dengan memberikan bantuan keuangan terhadap negara berkembang untuk menjalankan program keluarga berencana, pengembangan sarana-sarana pendidikan umum, dan kegiatan-kegiatan penelitian guna merumuskan kebijakan kependudukan nasional yang seefektif mungkin, namun dalam

(9)

BAB I PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Pertumbuhan ekonomi merupakan gambaran keadaan suatu perekenomian dari suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai dampak kebijaksanaan pemerintah yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan laju pertumbuhan yang dibentuk dari berbagai macam sektor ekonomi yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Bagi daerah, indikator ini penting untuk mengetahui keberhasilan pembangunan di masa yang akan datang. Pertumbuhan ekonomi ditandai dengan meningkatnya jumlah barang dan jasa (outpu) yang dihasilkan oleh suatu daerah, dalam hal ini Propinsi Sumatera Utara.

Pertumbuhan merupakan ukuran utama keberhasilan pembangunan, dan hasil pertumbuhan ekonomi akan dapat pula dinikmati masyarakat sampai di lapisan paling bawah, baik dengan sendirinya maupun dengan campur tangan pemerintah.

Pertumbuhan harus berjalan secara beriringan dan terencana, mengupayakanterciptanya pemerataan kesempatan dan pembagian hasil-hasil pembangunan dengan lebih merata. Dengan demikian maka daerah yang miskin, tertinggal, tidak produktif akan menjadi produktif yang akhirnya akan mempercepat pertumbuhan itu sendiri. Strategi ini dikenal dengan istilah

“Redistribution With Growth”.

Untuk melihat fluktuasi pertumbuhan ekonomi tersebut secara riil dari tahun ke tahun tergambar melalui penyajian PDRB atas harga konsumen secara berskala, yaitu pertumbuhan yang positif menunjukkan adanya peningkatan perekonomian, sebaliknya apalagi negative menunjukkan terjadinya penurunan. Pertumbuhan biasanya disertai dengan proses sumber daya dan dana negara.

Selain itu pertumbuhan ekonomi umumnya juga disertai dengan terjadinya pergeseran pekerjaan dari kegiatan yang relatif rendah produktivitasnya ke kegiatan yang lebih tinggi. Dengan perkataan lain pertumbuhan ekonomi secara potensial cenderung meningkatkan produktivitas pekerja, dan meningkatkan skala unit usaha.

(10)

Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi daerah adalah pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi di daerah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi di daerah tersebut. Pertambahan pendapatan itu diukur dalam nilai riil, artinya dinyatakan dalam harga konstan.

Selain pertumbuhan penduduk, faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah tingkat konsumsi. Tingkat konsumsi terdiri dari konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tanggga dan konsumsi swasta. Pengeluaran konsumsi rumah tangga memiliki porsi terbesar dalam total pengeluaran agregat, berbeda dengan pengeluaran pemerintah yang bersifat ekosgenus dan konsumsi rumah tangga bersifat endogenus. Dalam arti besarnya konsumsi rumah tangga berkaitan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.

Dari uraian-uraian diatas, kami melihat adanya kontroversi dan masalah dalam pertumbuhan Penduduk dan pembangunan ekonomi. Maka dari itu akan kami bahas dalam makalah ini yang berjudul “Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi : penyebab,konsekuensi dan kontroversi”

B.RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.Bagaimana pertumbuhan penduduk dan kualitas hidup

2.Apa sebab-sebab tingginya tingkat kelahiran di negara-negara berkembang

3.Bagaimana tingginya konsekuensi tingkat fertilitas

C.TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan permasalahan diatas,maka yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

(11)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A.Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk adalah merupakan keseimbangan yang dinamis antara kekuatan-kekuatan yang menambah dan mengurangi jumlah penduduk.

Pertumbuhan penduduk diakibatkan oleh beberapa komponen yaitu: kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), migrasi masuk dan migrasi keluar. Selisih antara kelahiran dan kematian disebut pertumbuhan alamiah (natural increase), sedangkan selisih antara migrasi masuk dan migrasi keluar disebut migrasi netto. Adanya pengaruh positif pertumbuhan penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi di mana kondisi dan kemajuan penduduk sangat erat terkait dengan tumbuh dan berkembangnya usaha ekonomi. Penduduk disatu pihak dapat menjadi pelaku atau sumber daya bagi faktor produksi, pada sisi lain dapat menjadi sasaran atau

konsumen bagi produk yang dihasilkan. Dipihak lain pengetahuan tentang struktur penduduk dan kondisi sosial ekonomi pada wilayah tertentu, akan sangat bermanfaat dalam memperhitungkan berapa banyak penduduk yang dapat memanfaatkan peluang dan hasil pembangunan atau seberapa luas pangsa pasar bagi suatu produk usaha tertentu (Todaro, 2003)

Di era globalisasi dan perdagangan bebas, besarnya jumlah penduduk dan kekuatan ekonomi masyarakat menjadi potensi sekaligus sasaran pembangunan sosial ekonomi, baik untuk skala nasional maupun internasional. Berdasarkan hal ini pengembangan sumber daya manusia perlu terus ditingkatkan agar kualitas penduduk sebagai pelaku ekonomi dapat meningkat sesuai dengan permintaan dan kebutuhan zaman yang terus menerus berkembang.

Sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, maka laju pertumbuhan angkatan kerjanya pun cukup tinggi. Angkatan kerja di Indonesia pada tahun 1990 sekitar 73,9 juta orang dan bertambah menjadi sekitar 96,5 juta tahun 2000. Ini berarti bahwa pertumbuhan rata-rata angkatan kerja 2,7 persen per tahun dalam periode 1990-2000. Permasalahan yang ditimbulkan oleh besarnya jumlah dan pertumbuhan angkatan kerja tersebut, disatu pihak menuntut kesempatan kerja yang lebih besar dan di pihak lain menuntut pembinaan angkatan kerja itu sendiri agar mampu menghasilkan keluaran yang lebih tinggi sebagai prasyarat untuk menuju tahap tinggal landas.

Teori Klasik Adam Smith

Menurut Mulyadi (2003), teori klasik menganggap bahwa manusialah sebagai faktor produksi utama yang menentukan kemakmuran bangsa-bangsa. Alasannya, alam (tanah) tidak ada artinya kalau tidak ada sumber daya manusia yang pandai mengolahnya sehingga bermanfaat bagi kehidupan. Dalam hal ini teori klasik Adam Smith (1729-1790) juga melihat bahwa alokasi sumber daya manusia yang efektif adalah pemula pertumbuhan ekonomi. Setelah ekonomi tumbuh, akumulasi modal (fisik) baru mulai dibutuhkan untuk menjaga agar ekonomi tumbuh. Dengan kata lain, alokasi sumber daya manusia yang efektif merupakan syarat perlu (necessary condition) bagi pertumbuhan ekonomi.

Teori Malthus

(12)

tersebut akan dilihat bahwa meskipun Malthus termasuk salah seorang pengikut Adam Smith, tidak semua pemikirannya sejalan dengan pemikiran Smith. Disatu pihak Smith optimis bahwa kesejahteraan umat manusia akan selalu meningkat sebagai dampak positif dari pembagian kerja dan spesialisasi. Sebaliknya, Malthus justru pesimis tentang masa depan umat manusia.

Kenyataan bahwa tanah sebagai salah satu faktor produksi utama tetap jumlahnya.

Dalam banyak hal justru luas tanah untuk pertanian berkurang karena sebagian digunakan untuk membangun perumahan, pabrik-pabrik dan bangunan lain serta pembuatan jalan. Menurut Malthus manusia berkembang jauh labih cepat dibandingkan dengan produksi hasil-hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan umat manusia. Malthus tidak percaya bahwa teknologi mampu berkembang lebih cepat dari jumlah penduduk sehingga perlu dilakukan pembatasan dalam jumlah penduduk.

Pembatasan ini disebut Malthus sebagai pembatasan moral.

Teori Keynes

Kaum klasik percaya bahwa perekonomian yang dilandaskan pada kekuatan mekanisme pasar akan selalu menuju keseimbangan (equilibrium). Dalam posisi keseimbangan semua sumber daya, termasuk tenaga kerja, akan digunakan secara penuh (full-employed). Dengan demikian di bawah sistem yang didasarkan pada mekanisme pasar tidak ada pengangguran. Kalau tidak ada yang bekerja, daripada tidak memperoleh pendapatan sama sekali, maka mereka bersedia bekerja dengan tingkat upah yang lebih rendah. Kesediaan untuk bekerja dengan tingkat upah lebih rendah ini akan menarik perusahaan untuk memperkerjakan mereka lebih banyak.

Kritikan Jhon Maynard Keynes (1883-1946) terhadap sistem klasik salah satunya adalah tentang pendapatnya yang mengatakan bahwa tidak ada mekanisme penyesuaian (adjustment) otomatis yang menjamin bahwa perekonomian akan mencapai keseimbangan pada tingkat penggunaan kerja penuh. Dalam kenyataan pasar tenaga kerja tidak bekerja sesuai dengan pandangan klasik di atas. Di manapun para pekerja mempunyai semacam serikat kerja (labor union) yang akan berusaha memperjuangkan kepentingan pekerja dari penurunan tingkat upah. Kalaupun tingkat upah diturunkan maka boleh jadi tingkat pendapatan masyarakat akan turun.

Turunnya pendapatan sebagian anggota masyarakat akan menyebabkan turunnya daya beli masyarakat, yang pada gilirannya akan menyebabkan konsumsi secara keseluruhan akan berkurang. Berkurangnya daya beli masyarakat akan mendorong turunnya harga-harga. Kalau harga-harga turun, maka kurva nilai produktivitas marjinal tenaga kerja (marginal value of productivity of labor), yang dijadikan sebagai patokan oleh pengusaha dalam memperkerjakan tenaga kerja akan turun. Jika penurunan dalam harga-harga tidak begitu besar, maka kurva nilai produktivitasnya hanya turun sedikit.

Meskipun demikian jumlah tenaga kerja yang bertambah tetap saja lebih kecil dari jumlah tenaga kerja yang ditawarkan. Lebih parah lagi kalau harga-harga turun drastis maka kurva nilai produktivitas marginal dari tenaga kerja juga turun drastis dimana jumlah tenaga kerja yang tertampung menjadi semakin kecil dan pengangguran menjadi semakin bertambah luas (Mulyadi, 2003).

B.Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi

Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi satu sama lain tidak dapat

(13)

ekonomi menerangkan atau mengukur prestasi dari perkembangan ekonomi,

Djojohadikusumo (1994) membedakan konserp pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Menurutnya pertumbuhan ekonomi berfokus pada peningkatan barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat, yang didasari oleh paham Neo-Klasik dan Neo-Keynes. Sedangkan pembangunan ekonomi diartikan sebagai proses transformasi yang ditandai oleh perubahan structural yaitu perubahan pada landasan kegiatan ekonomi maupun pada kerangka susunan ekonomi masyarakat yang bersangkutan.

Namun demikian pada umumnya para ekonom memberikan pengertian sama untuk kedua istilah tersebut. Mereka mengartikan pertumbuhan atau pembangunan ekonomi sebagai kenaikan GDP/GNP saja. Dalam penggunaan yang lebih umum, istilah pertumbuhan ekonomi biasanya digunakan untuk menyatakan perkembangan ekonomi di negara maju, sedangkan istilah pembangunan ekonomi untuk menyatakan perkembangan ekonomi di negara sedang berkembang (Arsyad, 1999).

Teori Pertumbuhan Lewis (dalam Todaro, 2003) menjelaskan transformasi struktur perekonomian dari pola perekonomian pertanian subsisten tradisional ke perekonomian yang lebih modern. Menurutnya, perekonomian terdiri dari dua sektor yaitu sektor tradisional pertanian yang tingkat produktivitasnya rendah dan sektor industri perkotaan modern yang tingkat produktivitasnya tinggi. Perhatian utama dari model ini diarahkan pada terjadinya proses pengalihan tenaga kerja, serta pertumbuhan output dan peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor modern. Karena pada umumnya tolok ukur dari pembangunan ekonomi adalah tingkat pertambahan produk domestik bruto seperti telah di jelaskan sebelumnya, maka hal ini membuat pembangunan di negara-negara berkembang berorientasi pada mengejar pertumbuhan yang tingi dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat dan nasional melalui pertumbuhan pendapatan nasional (PDB), walaupun harus melakukan eksploitasi terhadap sumber-sumber yang ada.

Akan tetapi dalam pelaksanaannya strategi ini ternyata tidak menjamin adanya

pemerataan distribusi pendapatan nasional bahkan lebih banyak merugikan masyarakat bawah karena hasil pembangunan lebih terkonsentrasi pada sekelompok orang saja.

(14)

ketidakmerataan distribusi pendapatan dan makin memperparah terjadinya kerusakan lingkungan.

Kuznets (1955) adalah yang berupaya mengkritisi model pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata. Menurutnya, pembangunan tanpa memperhatikan kelestarian alam dan lingkungan hanya akan menciptakan kerusakan lingkungan hidup itu sendiri. Pertumbuhan ekonomi yang dicapai dalam beberapa periode sebelumnya justru akan terkikis oleh ekses-ekses negatif dari pertumbuhan itu sendiri. Analisis Kuznets tentang pengaruh kelestarian lingkungan hidup terhadap pertumbuhan ekonomi ini secara teoritis diungkapkan dengan muncunya teori Environmental Kuznets Curve (EKC). Teori Environmental Kuznets Curve (EKC) menyatakan bahwa untuk kasus di Negara sedang berkembang seiring dengan perjalanan waktu, kegiatan industri dapat merusak kelestarian alam dan lingkungan. Sebaliknya untuk negara maju, seiring dengan perjalanan waktu dalam kegiatan industrinya, maka kelestarian lingkungan hidup semakin bisa dijamin keberadaannya. Berdasarkan pada penemuannya tersebut, bentuk kurva EKC adalah huruf U terbalik (Munasinghe, 1999)

Kaitan Pembangunan Pertanian dan Penyerapan Tenaga Kerja Pertumbuhan ekonomi ada dua bentuk:

1.extensively resources yaitu dengan penggunaan banyak sumberdaya (seperti fisik, manusia atau natural capital)

2.intensively resourcesyaitu dengan penggunaan sejumlah sumberdaya yang lebih efisien (lebih produktif).

(15)

sektor lainnya dan peran pemerintah yang pada akhirnya secara bersama-sama mampu menjadi penggerak dalam pertumbuhan ekonomi, digambarkan secara baik oleh Yudhoyono (2004) dalam disertasinya dengan menggunakan Model Ekonomi-Politik Perekonomian Indonesia. Dari hasil simulasi terhadap kebijakan yang dilakukan (melalui kebijakan fiskal) terkait dengan masalah pertanian, diperoleh hasil bahwa peningkatan pengeluaran pemerintah untuk pertanian sebesar 15% akan meningkatkan PDB, kemudian direspon dengan peningkatan permintaan tenaga kerja sehingga proporsi pengangguran dapat ditekan

sebesar 4,9%.

Pada gilirannya peningkatan PDB dan pengurangan pengangguran ini akan menurunkan angka kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan. Kedepan diperlukan investasi yang serentak di sektor pertanian dan sektor industri dalam perekonomian. Untuk pertumbuhan berimbang dapat digambarkan dengan model perekonomian dual (The dual economy model) yang dikemukakan Fei dan Ranis (Hayami, 2001).

Model Fei-Ranis merupakan suatu kondisi ideal bagaimana permintaan dan penawaran pada sektor industri dan sektor pertanian saling menyesuaikan sehingga selalu berada pada kondisi pertumbuhan berimbang. Tentu saja model Fei-Ranis ini tidak terlepas dari kritik karena dalam model tersebut belum mempertimbangkan bahwa persediaan tanah tidak tetap, upah institusional tidak di atas MPP (Produktivitas fisik marjinal), upah institusional di sektor pertanian tidak konstan

di atas MPP, model tertutup, komersialisasi sektor pertanian menjurus ke inflasi dan MPP tidak sama dengan nol.

Suatu strategi pertumbuhan ekonomi yang dimotori oleh sektor pertanian dan lapangan kerja menurut Mellor (2007) mempunyai tiga unsur :

Pertama, laju pertumbuhan pertanian harus dipercepat meskipun luas tanah yang tersedia tetap. Dengan perubahan teknologi dalam pertanian maka masalah tersebut akan dapat

diatasi.

Kedua, permintaan domestik akan hasil pertanian harus tumbuh cepat meskipun permintaan itu tidak elastis.

(16)

berinteraksi dan bersinergi sehingga strategi pertumbuhan ekonomi yang didasarkan pada pertanian akan

mencapai tujuan dan sasarannya.

Pembangunan pertanian telah memberikan sumbangan dalam keberhasilan pembangunan nasional, seperti dalam pembentukan PDB, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, perolehan devisa melalui ekspor dan penekanan inflasi (Simatupang, P. 1992); di mana gerakannya diantisipasi dan diselaraskan searah dengan dinamika pembangunan yang terjadi. Sejak pelita VI orientasi pembangunan pertanian beralih dari fokus peningkatan produksi semata ke arah orientasi pendapatan (kesejahteraan) masyarakat pertanian, terutama pertanian di pedesaan. Untuk itu pengembangan agribisnis telah menempati posisi sentral pembangunan pertanian. Sebagai relevansinya adalah upaya memberi masukan bagi pelaksanaan pembangunan pertanian selanjutnya dengan mengkaji dampak kebijaksanaan tersebut di tingkat mikro dan makro terhadap perbaikan kesejahteraan kaum petani.

Untuk melihat dinamika tingkat kesejahteraan petani, salah satu alat bantu ukurnya adalah NTP (Nilai Tukar Petani) dan NTKP (Nilai Tukar Komoditas Pertanian), di mana peningkatan nilai tukar tersebut diharapkan mampu mengindikasikan peningkatkan kesejahteraan masyarakat pertanian maupun keadaan sebaliknya. NTP berkaitan dengan kemampuan dan daya beli petani dalam

membiayai hidup rumah tangganya. NTKP berkaitan dengan kekuatan dari daya tukar ataupun daya beli dari suatu komoditas pertanian terhadap komoditas/produksi lain yang dipertukarkan.

Keberhasilan pembangunan pertanian yang pernah dicapai tidak dapat dipungkiri, telah diikuti pula oleh perubahan secara struktural pada sector perekonomian nasional, yang mana peran sektor pertanian semakin menurun digeser oleh peran sektor industri; di mana tersirat pula adanya beban berat dari sector pertanian.

Hal ini terutama berkaitan dengan semakin melebarnya kesenjangan antara sektor pertanian dengan sektor di luar pertanian, serta penurunan nilai tukar pertanian yang disebabkan penurunan nilai tukar komoditas pertanian.

(17)

input oleh petani. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya nilai tukar mata uang asing (US dollar). Indikasinya adalah adanya

peningkatan nilai ekspor sektor pertanian. Apabila daya beli petani karena pendapatan yang diterima dari kenaikan harga produksi pertanian yang dihasilkan, lebih besar dari kenaikan harga barang yang dibeli, maka hal ini mengindikasikan bahwa daya dan kemampuan petani lebih baik atau tingkat pendapatan petani lebih meningkat. Alat ukur daya beli petani selintas dapat menunjukkan tingkat kesejahteraannya dirumuskan dalam bentuk Nilai Tukar Petani (NTP) yang terbentuk oleh keterkaitan yang kompleks dari suatu system pembentuk harga, baik yang harga yang diterima maupun harga yang dibayar petani. Dengan kata lain, nilai tukar petani dapat didefinisikan sebagai nisbah antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar oleh petani, sehingga merupakan ukuran kemampuan daya tukar produk yang dihasilkan terhadap produk dan jasa yang mampu dibeli rumah tangga petani, baik untuk biaya input usaha tani maupun biaya konsumsi rumah tangga petani (BPS, 2009).

Berbagai fenomena perubahan situasi (gejolak) yang terjadi baik yang bersifat alami (seperti gejolak produksi pertanian) maupun gejolak yang terjadi akibat adanya distorsi pasar (seperti penerapan kebijaksanaan yang disengaja, baik di sector pertanian dan non-pertanian, di tingkat mikro maupun makro), akan mempengaruhi harga-harga, yang pada gilirannya akan mempengaruhi nilai tukar petani, akan menjadi masukan penting bagi penyusunan program kebijaksanaan ke arah

pembentukan nilai tukar yang diinginkan. Keadaan ini dapat mengindikasikan bahwa kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dari awal yang terkait dengan input produksi usahatani sampai pada pemasaran hasil produk pertanian (antara lain: kejaksanaan harga input dan output, subsidi, modal/perkreditan dan lainnya) akan mempengaruhi nilai tukar petani secara langsung maupun tidak langsung. Fluktuasi nilai tukar petani akan menunjukkan fluktuasi kemampuan

pembayaran ataupun tingkat pendapatan riil petani.

(18)

Hal ini akan berdampak ganda (Supriyati, 2000) tidak saja dalam peningkatan partisipasi petani dan produksi pertanian dalam menggairahkan perekonomian pedesaan, penciptaan lapangan pekerjaan di pedesaan dan menumbuhkan permintaan produk non-pertanian; tetapi juga diharapkan akan mampu mengurangi perbedaan (menciptakan keseimbangan) pembangunan antar daerah (desa-kota), maupun antar wilayah serta optimalisasi sumberdaya nasional. Keragaman penerimaan, pengeluaran dan nilai tukar petani antar daerah dan waktu dipengaruhi oleh mekanisme pembentukan dalam sistem nilai tukar petani yang berbeda antar daerah dan antar waktu sebagai akibat dari keragaman system pembentukan penawaran dan penerimaan. Dari sisi penerimaan petani, keragaman

antar daerah dan waktu terjadi berkaitan dengan keragaman sumberdaya dan komoditas yang diusahainya serta diversivikasi sumber pendapatan lain. Keragaman pengeluaran petani terkait dengan keragaman pola konsumsi petani antar daerah dan waktu (Supriyati, 2000).

Penelitian Sebelumnya

Roosgandha (2000) melakukan penelitian dengan judul .Peran Nilai Tukar Petani dan Nilai Tukar Komoditas dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Petani.

dapat disimpulkan bahwa pengaruh negatip di satu sisi dari krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis moneter terhadap pertanian dan pedesaan antara lain seperti: meningkatkan pengangguran dan jumlah penduduk miskin

pengaruh positif di sisi lain adalah peningkatan harga komoditas pertanian karena meningkatnya nilai tukar mata uang asing. Kenaikan harga produk yang dihasilkan petani lebih besar dari kenaikan harga barang yang dibeli, maka daya beli petani akan meningkat (mengindikasikan peningkatan kesejahteraan petani) yang diformulasikan dalam bentuk nilai tukar petani. Kebijaksanaan pemerintah di sektor pertanian (kebijaksanaan harga, subsidi, perkreditan dan lainnya) mulai dari kegiatan usaha tani sampai pemasaran hasil secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi nilai tukar petani.

(19)

optimalisasi sumberdaya nasional.

Saktynu (2000) melakukan penelitian dengan judul .Analisis Penentuan Indikator Utama Pembangunan Sektor Pertanian di Indonesia. Pendekatan Analisis Komponen Utama dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan indikator utama pembangunan pertanian di tingkat makro (nasional) dan mikro (petani) sebanyak 8 indikator yaitu:

(1) pertumbuhan luas lahan irigasi (%/tahun)

(2) rasio tenaga kerja desa/kota di sektor pertanian

(3) rasio tenaga kerja desa/kota di sektor non pertanian

(4) pertumbuhan Indeks Ketahanan Pangan (energi dan protein)

(5) pertumbuhan PDRB sektor pertanian (%/tahun)

(6) pangsa PDRB sektor pertanian (%/tahun)

(7) penggunaan sarana produksi (bibit, pupuk dan pestisida)

(8) produktivitas usahatani. Delapan indikator utama tersebut telah mencerminkan 38 indikator pembangunan pertanian.

Ini memberikan implikasi bahwa untuk mengetahui kondisi 52 indikator tersebut, hanya dibutuhkan pengukuran terhadap delapan indicator utama di atas. Untuk itu, disarankan agar kedelapan indikator utama tersebut dapat dijadikan sebagai indikator kinerja pembangunan pertanian. Sasaran pembangunan pertanian lima tahun ke depan adalah peningkatan ketahanan pangan, daya saing dan pendapatan petani. Berdasarkan hasil penelitian ini, ternyata tingkat pendapatan petani dan daya saing komoditas pertanian (diukur dari pertumbuhan ekspor dan impor) bukanlah indikator utama pembangunan pertanian. Oleh karena itu, sasaran pembangunan pertanian bukanlah untuk meningkatkan pendapatan petani, tetapi untuk meningkatkan produktivitas usahatani melalui peningkatan penggunaan sarana produksi.

Agus (2001), melakukan penelitian dengan judul .Analisis Struktural Kesempatan Kerja di Indonesia Sebelum dan Setelah Krisis Moneter., dengan menggunakan beberapa model linear ekonomi makro dari teori tenaga kerja yang dianalisa melalui maximum likelihood method

(20)

mempunyai elastisitas kesempatan kerja yang tinggi yaitu sektor konstruksi, jasa dan transportasi/komunikasi, sedangkan pada sektor pertanian menunjukkan pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap kesempatan kerja akibat permintaan barang/jasa mengalami penurunan. Turunnya permintaan (konsumsi) berdampak kepada aktivitas perusahaan mengalami stagnasi atau penurunan, bersamaan dengan itu penawaran tenaga kerja mengalami peningkatan, yaitu baik yang disebabkan karena penambahan penduduk maupun dari tenaga kerja yang terpaksa menganggur karena turunnya aktivitas produksi.

Sektor pertanian boleh jadi sering mengalami turunnya aktivitas produksi misalkan akibat dari sulitnya sarana produksi, peningkatan teknologi pertanian, rendahnya nilai tukar atau harga yang diterima atau karena adanya alih fungsi lahan.

Pudji (2002), melakukan penelitian dengan judul .Kesempatan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi, dengan Menggunakan Model Linear Ekonomi Makro., diperoleh hasil bahwa dampak pengangguran yang bersifat multidimensi mengharuskan pemerintah untuk melakukan kebijakan yang tepat dalam mengatasi pengangguran. Dikatakan harus tepat karena tersedianya resources, baik berupa tanah, modal dan teknologi, maka pemahaman akan model kesempatan kerja akan meminimalisir kesalahan dalam pembuatan kebijakan. Pengembangan simulasi model, akan memberikan masukan atau gambaran mengenai dampak suatu kebijakan terhadap kesempatan kerja nasional.

Sektor pertanian masih merupakan tumpuan penyediaan kesempatan kerja secara nasional. Pada periode tahun 1990 . 1996, proporsi kesempatan kerja sector pertanian mengalami penurunan, tetapi masih tetap merupakan penyumbang kesempatan kerja dominan secara nasional. Penyebab penurunan ini adalah kesempatan kerja di pedesaan masih terbatas sementara terjadi peningkatan kualitas pendidikan juga ditemui perbedaan tingkat upah diantara desa dan kota serta peluang

mendapatkan pekerjaan di kota lebih besar. Selain itu secara rata-rata pendapatan masyarakat pedesaan atas tiga daerah penelitian mengalami penurunan dibandingkan perkotaan.

(21)

dibandingkan pertumbuhan output di sektor industri dan sektor perdagangan.

Hasil penelitian mereka dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan output di industri dan perdagangan tidak penting bagi pengurangan kemiskinan.

Sebaliknya dan khususnya pertumbuhan sektor industri selama Orde Baru sudah terbukti sangat berperan dalam keberhasilan Indonesia mengurangi kemiskinan dengan menyerap banyak tenaga kerja berpendidikan rendah termasuk yang datang dari pertanian (pedesaan). Namun demikian, seperti telah ditunjukkan sebelumnya, pertanian adalah sektor terbesar dalam penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Studi terakhir dari Sumarto, dkk. (2004) menunjukkan lebih dari 50% dari penurunan kemiskinan di tingkat propinsi dalam periode 1984-1996 adalah sumbangan dari pertumbuhan output di pertanian. Sedangkan sumbangan dari pertumbuhan

output di industry terhadap penurunan kemiskinan di perkotaan hanya marjinal.

Secara simultan penelitiannya menunjukkan bahwa diantara variabel-variabel ketenagakerjaan, terdapat keterkaitan atau hubungan (positif) dua arah antara produktivitas dan upah dan ini terjadi pada sektor jasa, sedangkan pada sector pertanian dan industri hubungan bersifat satu arah yaitu upah mempengaruhi secara signifikan produktivitas tenaga kerja. PDRB sektoral berpengaruh nyata terhadap penyerapan tenaga kerja dan produktivitas sektoral. Diperkirakan dampak absolute penyerapan tenaga kerja sektoral terhadap PDRB sektoral lebih besar dibandingkan dengan dampak produktivitas sektoral terhadap PDRB sektoral. PDRB sektoral sebaliknya secara nyata juga mempengaruhi berbagai variabel ketenagakerjaan.

Kerangka Pemikiran

Pembangunan ekonomi pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Oleh karena sebagian besar masyarakat Indonesia berada di pedesaan dan bekerja di sektor pertanian, maka sudah sewajarnyalah jika pembangunan pertanian harus menjadi prioritas. Penurunan peran sektor pertanian karena adanya transformasi struktur perekonomian nasional tidak diikuti oleh menurunnya jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian.

Hal ini mengakibatkan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian terus menunjukkan

(22)

adanya pengembangan industri pertanian atau kegiatan lainnya di pedesaan yang mendukung sektor pertanian.

Untuk menghasilkan output yang lebih besar, harus dibarengi dengan peningkatan jumlah faktor produksi (tenaga kerja dan non tenaga kerja). Output yang besar tersebut didukung oleh penyediaan sarana input faktor produksi (lahan) dan modal. Ouput yang besar akan menciptakan devisa bagi perekonomian nasional melalui net ekspor yang tinggi.

Balas jasa terhadap tenaga kerja dan non tenaga kerja berupa upah/gaji dan keuntungan yang diterima oleh masing-masing faktor produksi tetap harus diperhatikan sebagai upaya menyerap surplus tenaga kerja sektoral dan mengurangi pengangguran. Adanya kesempatan kerja akan membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatannya.

Hipotesis Penelitian

Berdasarkan dari landasan teori dan penelitian sebelumnya maka dapat disusun hipotesis penelitian sebagai berikut:

1. Jumlah ekspor sektor pertanian berpengaruh positif terhadap penyerapan jumlah tenaga kerja sektor pertanian di Sumatera Utara, ceteris paribus.

2. Nilai tukar petani berpengaruh positif terhadap penyerapan jumlah tenaga kerja sektor pertanian di Sumatera Utara, ceteris paribus.

3. PDRB sektor pertanian berpengaruh positif terhadap penyerapan jumlah tenaga kerja sektor pertanian di Sumatera Utara, ceteris paribus.

4. Upah minimum provinsi berpengaruh negatif terhadap penyerapan jumlah tenaga kerja sektor pertanian di Sumatera Utara, ceteris paribus.

(23)

BAB III

PEMBAHASAN

Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi : Penyebab, Konsekuensi, dan Kontroversi

Pertambahan penduduk di dunia sangat lah cepat, hingga pada abad ke 21 ini total penduduk dunia diperkirakan mencapai 6,1 milliar ( Prediksi PBB). Proyeksi PBB mengatakan jika pada tahun 2050 penduduk dunia akan mencapai angka 9,2 milliar. Lalu bagaimanakah jika hal tersebut terjadi. Apakah dampak yang akan muncul di dunia ? Apakah proyeksi itu tak terelakakan atau hal tersebut tergantung dari keberhasilan Negara ketiga? Hal tersebut akan dibahas dalam makalah ini.

A.Masalah Pokok: Pertumbuhan Penduduk dan Kualitas Hidup

Pertambahan jumlah penduduk di dunia tidak dapat terelakkan lagi karena sebagai salah satu ciri dari makhluk hidup adalah berkembang biak. Setiap tahunnya sekitar 80 juta orang terlahir di dunia dan 97% manusia yang baru terlahir tersebut berasal dari Negara ketiga yang notabene Negara berkembang. Pertambahan penduduk tidak cuman masalah jumlah tetapi merambah juga masalah pembangunan, kualitas hidup dan kesejahteraan manusia.

Ledakan penduduk tersebut menimbulkan pertanyaan yang kompleks, sejauh manakah masalah kependudukan di banyak Negara dunia ketiga itu menunjang atau sebaliknya justru menghambat peluang mereka dalam meraih tujuan-tujuan pembangunan, tidak saja bagi generasi yang ada sekarang ini, tetapi juga bagi generasi-generasi yang akan datang? Sebaliknya, bagaimana pembangunan dapat mempengaruhi pertumbuhan penduduk?

Ada beberapa pertanyaan yang mungkin harus terjawab mengenai pertambahan penduduk.

1. Mampukah Negara-negara dunia ketiga meningkatkan taraf hidup penduduknya di tengah sedemikian tingginya laju pertumbuhan penduduk, baik yang ada pada saat ini maupun proyeksinya untuk masa-masa yang akan datang?

(24)

3. Apa sajakah implikasi dari tingginya laju pertumbuhan penduduk di Negara-negara miskin terhadap peluang mereka untuk meringankan penderitaan penduduknya yang diakibatkan oleh kemiskinan absolut?

4. Berdasarkan perkiraan pertumbuhan penduduk, apakah Negara-negara berkembang mampu memperluas dan meningkatkan kualitas kesehatan serta sistem pendidikan yang ada sehingga setiap orang setidaknya memiliki kesempatan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang memadai dan juga pendidikan dasar?

5. Seberapa rendahnya taraf hidup sesorang sehingga menjadi faktor penting dalam penentuan jumlah anggota keluarga?

6. Sampai sejauh manakah peningkatan kemakmuran dari Negara-negara maju menjadi faktor yang menghambat Negara-negara miskin dalam upaya mereka mengatasi lonjakan jumlah penduduk?

Pertumbuhan Penduduk Dunia Sepanjang Sejarah

Lebih dari dua juta tahun keberadaan manusia di bumi, jumlah total penduduk dunia pada waktu itu masih sangat terbatas. Tatkala manusia mulai membudidayakan bahan pangan melalui pertanian menetap sekitar 12.000 tahun yang lampau, total jumlah penduduk dunia diperkirakan tidak lebih dari 5 juta jiwa. Pada 2000 tahun yang lampau, penduduk dunia bertambah menjadi hamper 250 juta, yang kurang dari seperlima penduduk cina sekarang.

(25)

1.Struktur Kependudukan Dunia

Distribusi penduduk dunia sangat tidak merata tergantung dari wilayah geografisnya. Sebaran per wilayah geografis lebih dari tiga perempat penduduk dunia bertempat tinggal di wilayah Negara-negara berkembang dan kurang dari seperempatnya di Negara-negara maju. Hal ini disebabkan karena angka pertumbuhan di Negara-negara berkembang jauh lebih tinggi dibanding dengan Negara maju. Berikut ini adalah persebaran penduduk dunia dan prediksi di tahun 2050.

Total Penduduk 2003 : 6,313 miliar

(26)

Total Penduduk tahun 2050 : 9,198 miliar

Asia Oceania Eropa Afrika Amerika Utara Amerika Latin

Tren tingkat kelahiran dan kematian secara kualitatif dihitung berdasarkan persentase kenaikandari jumlah penduduk neto per tahun yang bersumber dari pertambahan alami dan migrasi. Tetapi faktor migrasi disini dikesampingkan sehingga pertambahan penduduk dapat dirumuskan

Pertambahan penduduk : jumlah natalitas - jumlah mortalitas 2. momentum pertumbuhan penduduk

Momentum pertumbuhan penduduk tersembunyi dapat dilihat dari piramida penduduk yang mana piramida penduduk tersebut merupakan struktur kependudukan yang ada di dunia. Struktur kependudukan ini merupakan salah satu yang melatar belakangi momentum pertumbuhan penduduk yang tersembunyi selain dipengaruhi juga dengan tingkat kelahiran itu sendiri

(27)

TRANSISI DEMOGRAFIS

Proses penurunan tingkat fertilitas sampai terciptanya tingkat penggantian penduduk (replacement) dengan program keluarga berencana.

Tahapan dalam transisi demografis: a. Negara maju (eropa barat)

Terbagi dalam 3 tahapan :

1. Tahapan pertama (sebelum modernisasi) :

- Tingkat kelahiran tinggi dan kematian tinggi (dengan tingkat yang hampir sama) - Pertumbuhan penduduk rendah dan lambat.

2. Tahapan kedua (mulai ada modernisasi) :

- Tingkat kematian rendah tetapi kelahiran tetap tinggi

- pelayanan kesehatan baik, makanan bergizi, pendidikan tinggi. - Usia harapan hidup meningkat dari 40 tahun menjadi >60 tahun . - Pertumbuhan penduduk tinggi.

3. Tahapan ketiga (modernisasi) :

- Tingkat kelahiran dapat ditekan sampai serendah tingkat kematian. - Laju pertumbuhan sangat rendah atau bahkan nol.

b. Negara dunia ketiga

- Tingkat pertumbuhan jauh lebih tinggi dari Negara eropa barat sebelum revolusi industri.

Terbagi dalam 3 tahapan : 1. Tahapan pertama :

- Menikah pada usia muda. - Periode subur menjadi panjang. - Laju pertumbuhan penduduk tinggi. 2. Tahapan kedua :

(28)

- Tingkat kematian turun drastic (lebih cepat dari eropa barat). - Tingkat kelahiran tinggi (lebih dari 2% per tahun).

- Pertumbuhan penduduk masih tinggi. 3. Tahapan ketiga

- Terbagi dalam 2 pola besar kelompok Negara-negara berkembang, A dan B  Kelompok A (berhasil) :

 Dengan metode modern dapat menaikkan taraf hidup dan menurunkan kematian 10 /1000 per tahun dan menurunkan tingkat kelahiran 20-30/1000 per tahun.

 Sudah berada pada tahapan ketiga.

 Taiwan, Korea Selatan, Kosta Rika, RRC, Kuba, Cili, dan Sri Lanka  Tahun 1980-1990an Kolombia, Indonesia, Republik Dominika,

Thailand, Meksiko, Malaysia, Kenya, Afrika Selatan, dan Brasil.  Kelompok B (gagal) :

 Tidak kunjung teratasinya kemiskinan absolute.  Rendahnya taraf hidup.

 Mewabahnya HIV AIDS.

 Masih berada pada tahapan kedua.

 Kawasan Afrika sub-Sahara dan Timur Tengah.

B.SEBAB-SEBAB TINGGINYA TINGKAT KELAHIRAN DI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG : MODEL MALTHUS DAN MODEL RUMAH TANGGA

1. Teori Jebakan Populasi Malthus Kelemahan-kelemahan Model Malthus

Dua alasan pokok kritik terhadap model Malthus :

a.Tidak memperhitungkan begitu besarnya kemajuan teknologi untuk mengimbangi ledakan penduduk.

Contoh : Tanah yang luasnya tetap bisa memperoleh hasil yang lebih banyak berkat kemajuan teknologi. Dapat dilihat dengan bergesernya kurva tingkat pertumbuhan pendapatan agregat (total produk) ke atas, sehingga pada semua tingkat pendapatan per kapita posisinya secara vertical akan selalu lebih tinggi dari kurva pertumbuhan penduduk.

(29)

1. Teori Mikroekonomi Fertilitas Rumah tangga

Penentuan tingkat fertilitas keluarga atau tingkat permintaan anak merupakan bentuk pilihan ekonomi yang rasional bagi konsumen. Pilihan tersebut, harus diperoleh dengan mengorbankan barang lain. Efek pendapatan atau efek substitusi juga berlaku.

Seberapa banyak keluarga ingin mempunyai anak dapat digambarkan dengan kurva indiferren, yang menggambarkan kombinasi antara jumlah anak dan barang-barang yang dikonsumsi

.

C.Konsekuensi-konsekuensi Tingginya Tingkat Fertilitas: Sejumlah Pendapat yang saling Bertentangan

Selama bertahun-tahun telah berlangsung perdebatan diantara para ahli ekonomi tentang mengenai baik atau buruknya pertumbuhan penduduk. Dibawah ini akan dipaparkan tentang beberapa argument sebagai akibat pertumbuhan penduduk

Pertumbuhan Penduduk Bukanlah Masalah yang Sebenarnya

Kita dapat mengidentifikasikan adanya tiga aliran pemikiran pada kubu argumentasi yang berkeyakinan bahwa sesungguhnya pertumbuhan penduduk itu bukan merupakan inti persoalan atau masalah sebenarnya :

1. Inti persoalannya bukan pertumbuhan penduduk, melainkan hal-hal atau isu lain

(30)

3. Bagi kebanyakan negara dan kawasan berkembang, pertumbuhan penduduk justru merupakan suatu hal yang dibutuhkan atau diinginkan

Masalah Lain di Balik Perumbuhan Penduduk

Banyak diantara kaum cendekiawan dunia berpendapat bahwa masalah inti sebenarnya bukan dari pertumbuhan penduduknya namun dari beberapa masalah seperti dibawah ini :

• Keterbelakangan

• Penyusutan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan

• Penyebaran penduduk

• Rendahnya posisi dan status kaum wanita

Pelemparan persoalan palsu secara sengaja

Aliran argumentasi kedua yang menyangkal bahwa pertumbuhan penduduk merupakan kendala utama pembangunan memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan teori keterbelakangan-ketergantungan neocolonial. Pada dasarnya argumen ini menyatakan bahwa gagasan yang menempatkan laju pertumbuhan penduduk di negara-negara Dunia Ketiga sebagai masalah utama pembangunan adalah suatu rekayasa negatif yang dilontarkan oleh negara-negara kaya yang ingin menghambat kemajuan pembangunan negara-negara Dunia Ketiga dalam rangka mempertahankan status quo-internasional yang sangat menguntungkan mereka.

Pertumbuhan Penduduk itu Perlu

Aliran argumen ketiga yang lebih konvensional mengatakan bahwa pertumbuhan penduduk itu bukanlah merupakan suatu masalah,melainkan justru merupakan unsur penting yang akan memacu pembangunan ekonomi. Populasi yang lebih besar adalah pasar potensial yang menjadi sumber permintaan akan berbagai macam barang dan jasa yang kemudian menggerakan berbagai macam kegiatan ekonomi sehingga menciptakan skala ekonomi (economics of scale).

Pertumbuhan Penduduk adalah Masalah yang Sebenarnya

Pihak yang mendukung perlunya pembatasan pertumbuhan jumlah penduduk karena

konsekuensi ekonomi, social, dan lingkungan yang negatif biasanya dikaitkan tiga argumen berikut

(31)

Argumen ini mencoba mengaitkan semua penyakit ekonomi dan social dunia dengan pertambahan penduduk sebagai penyebabnya. Pertambahan penduduk yang tidak dibatasi dianggap sebagai penyebab utama krisis manusia dewasa ini.

Argumentasi Teoritis : Siklus Populasi-Kemiskinan dan Pentingnya Program Keluarga Berencana

Argument ini berpendapat bahwa pertumbuhan penduduk secara cepat menimbulkan konsekuensi ekonomi yang merugikan dan hal itu merupakan masalah utama yang harus dihadapi negara-negara Dunia Ketiga. Model dasar yang digunakan para ekonom untuk mendemonstrasikan konsekuensi negative dari cepatnya laju pertumbuhan.

Argumen Empiris : Tujuh Konsekuensi Negatif dari Pertumbuhan Penduduk yang Pesat

Menurut hasil penelitian empiris terakhir, segenap konsekuensi negative yang potensial dari pertumbuhan penduduk terhadap pembangunan ekonomi dapat dipilah-pilah menjadi tujuh kategori, yakni dampak-dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi:

1. Kemiskinan dan Ketimpangan Pendapatan

2. Pendidikan

3. Kesehatan

4. Ketersediaan Bahan Pangan

5. Lingkungan Hidup

(32)

1971

1980

1990

1995

2000

1971 1980 1990 1994 1997 1998 1999

0

dibagi dalam tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Oleh karena itu perlu adanya rumusan kebijakan yang paling sesuai terutama kebijakan umum. Karena dalam hal ini ada tiga pelaku pelaksana kebijakan, maka kita membagi ke dalam tiga pendekatan kebijakan, yaitu:

(33)

2. Kebijakan-kebijakan khusus dan umum dari negara-negara maju untuk mengurangi konsumsi sumber daya yang berlebihan dan pemerataan distribusi atas keuntungan kemajuan perekonomian global

3. Kebijakan-kebijakan khusus dan umum dari negara-negara maju dan lembaga-lembaga bantuan internasional untuk membantu pencapaian tujuan-tujuan yang hendak dicapai negara-negara berkembang.

Dari tiga pokok pendekatan kebijakan yang dirumuskan di atas, kita dapat menguraiakan masing-masing poin sebagai berikut :

Kebijakan terkait negara-negara berkembang

Pembahasan sebelumnya mengenai variabel-variabel yang menyangkut pertumbuhan penduduk negara berkembang adalah permitaan akan anak karena berbagai insentif baik jangka pendek maupun jangka panjang, maka kebijakan yang hendaknya diterapkan adalah mengenai bagaimana mengubah paradigma yang terlanjur tumbuh dalam masyarakat negara-negara berkembang. Kebijakan ini nantinya diharapakan juga mampu untuk mengurangi masalah-masalah konkret dalam masyarakat itu sendiri yang diantaranya yaitu kemiskinan absolut, ketidak merataan pendapatan, perluasan kesempatan mengenyam pendidikan. Lalu untuk kaum wanita utamanya yaitu peningkatan lapangan kerja, serta fasilitas-fasilitas lainnya yang pokok dalam masyarakat. Masalah-masalah yang ada bukan hanya pada pertumbuhan penduduk saja, tetapi juga pada taraf hidup masyarakat yang masih harus diperbaiki agar dalam jangka panjang persoalan-persoalan tentang pertumbuhan penduduk dapat diselesaikan dengan bertahap.

Disamping kebijakan yang dilakukan dalam jangka panjang, pemerintah negara-negara berkembang juga dapat mencanangkan kebijakan dalam jangka pendek. Diantaranya yaitu

1.mempengaruhi pola pikir masyarakat agar memilih pola keluarga kecil melalui berbagai media, baik media formal maupun informal.

2.melancarkan program keluarga berencana yang diiringi dengan penyediaan fasilitas yang memadai secara besa-besaran. Program ini bisa dengan dukungan penuh pemerintah maupun oleh lembaga swadaya masyarakat.

Negara yang telah mencanangkan program keluarga berencana itu sendiri diantaranya adalah seperti pada tabel di bawah ini.

(34)

3.memanipulasi insentif maupun disinsentif ekonomi. Hal ini bisa dilakukan dengan dengan memberi reward atau pun hukuman untuk kategori-kategori tertentu, misalnya jaminan kesehatan, pendidikan, karir, jaminan hari tua ,dan keamanan dari negara pada keluarga kecil yang hanya mempunyai dua anak, namun akan hangus apabila ada kelahiran anak ke empat. Negara yang cukup sukses untuk menerapkan program insentif dan disinsentif ini diantaranya adalah Singapura, India, Bangladesh, Korea Selatan, dan Cina. Namun tingkat fertilitas jusru turun dramatis sehingga pada tahun 2004 mulai diperkenalkan insentif untuk mendongkrak fertilitas atau kelahiran seperti di Jepang dan Eropa.

(35)

Berbagai sumber pendapatan di luar rumah ini nantinya akan mengubah pola perilaku yang tadinya lebih untuk mementingkan untuk mengurusi atau menambah jumlah anak, kini beralih dengan menghabiskan banyak waktu untuk bekerja, sekalipun mempunyai anak, maka yang lebih dipentingkan adalah kualitas anak tersebut. Seperti pada konferensi PBB yang sebelumnya lebih menekankan pada program keluarga berencana, pada konferensi 1994 di Kairo lebih menekankan pada pemberdayaan perempuan.

Kebijakan terkait negara-negara maju

Kekuatan ekonomi yang tinggi dari negara maju menyebabkan berbagai sumber daya yang tersedia di dunia kebanyakan terserap oleh konsumsi negara maju. Konsumsi ini tidak hanya pada produk-produk pangan saja tetapi juga konsumsi energi yang sangat tinggi justru masuk kepada negara-negara maju seperti minyak bumi, batu bara, nuklir, dan listrik. Konsumsi ini bisa mencapai puluhan bahkan ratusan kali lipat dari konsumsi negara-negara berkembang. Namun di sisi lain, imbas dari besarnya konsumsi energi tidak hanya mengurangi jatah konsumsi dari negara berkembang tetapi juga pada polusi dan efek-efek negatif lainnya yang juga harus negara-negara berkembang tanggung, misalnya polusi dan sebagainya.

Oleh karena itu, kebijakan yang semestinya diterapkan adalah untuk menyeimbangkan pola konsumsi antara negara maju dan berkembang, selain itu juga untuk kepedulian dari negara maju dengan mengurangi konsumsinya untuk mendorong negara-negara berkembang mencapai proses pembangunannya abik dalam bidang ekonomi maupun sosialnya termasuk pengendalian laju pertumbuhan penduduk.

Selain dengan penyederhanaan pola konsumsi, kebijakan yang lain yaitu dengan keterbukaan untuk membantu negara-negara berkembang dalam mengatasi masalah keterbelakangan dan persebaran penduduknya. Hal ini dilakukan misalnya dengan liberalisasi keimigrasian, sehingga memungkinkan mobilisasi penduduk negara-negara berkembang untuk mengadu nasib dan belajar di negara-negara maju. Hal ini juga diharapkan mampu meningkatkan tingkat ekonomi penduduk negara berkembang yang berimigrasi ke negara-negara maju. Sehingga disini negara berkembang akan sedikit teringankan dengan penghematan biaya sosial yang harus dikeluarkan untuk penduduknya tersebut. Selain itu negara-negara maju juga akan diunungkan dengan penyediaan tenaga kerja yang murah.

Program-program nagara maju untuk membantu negara berkembang

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh negara-negara maju untuk membantu negara berkembang keluar dari keterbelakangannya. Namun hal ini harus didasarkan pada niat yang tulus dari negara maju untuk membantu negara berkembang. Bantuan yang dimaksud tidak hanya pada bantuan keuangan dari sektor publik dan swasta saja, namun juga hubungan jangka panjang seperti misalnya dalam perdagangan dan keringanan tarif serta cuaki dan pajak laiinya. Meningkatkan impor bahan primer yang merupakan andalan dari negara-negara berkembang juga akan sangat membantu mengangkat perekonomian negara-negara berkembang. Lalu dengan pembagian yang adil pada sumber daya yang langka.

(36)
(37)

Kesimpulan

Kita dapat menarik kesimpulan bahwasanya kompleksitas dalam masalah pertumbuhan penduduk ini masih dapat kita tangani dengan sedemikian rupa, sehingga masalah-malasah yang diperkirakan muncul akibat dari laju pertumbuhan penduduk ini di masa depan dapat kita cegah dari awal. Hal ini tak luput dari peran negara-negara maju dalam kontribusinya untuk menekan laju pertumbuhan penduduk dengan berbagai keahlian dan modalnya. Dalam dekade terakhir telah terjadi punurunan laju pertumbuhan penduduk di negara-negara yang tadinnya mempunyai laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi seperti negara-negara Afrika sub-Sahara.

(38)

DAFTAR PUSTAKA

1.https://www.google.co.id/url?

sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CCAQFjAA&url=https%3A %2F%2Fmutosagala.files.wordpress.com%2F2012%2F09%2Fmakalah-pertumbuhan-penduduk-

dan-pembangunan-ekonomi_kelompok-3.doc&ei=00chVZz4JceKuwSDoYCgDw&usg=AFQjCNHELewtuGq7N8VwyKkruDxo4V7LZg&bvm= bv.89947451,d.c2E

2.https://fallinginlol.wordpress.com/2013/10/11/ekonomi-pembangunan-todaro-bab-6/ 3.http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/26531/Chapter

Referensi

Dokumen terkait

Kelengkapan jaringan transportasi/jalan merupakan tolok ukur tingkat kemajuan suatu wilayah. Sesuai dengan perannya dalam pembangunan ekonomi maka

Penilaian terhadap kelayakan rencana dilihat dari keterpaduan strategi yang tertuang pada dokumen perencanaan pembangunan nasional (RPJPN, RPJMN, peraturan

Usman., 2015, “Rekontruksi Teori Hukum Islam (Membaca Ulang Pemikiran Reaktualisasi Hukum Islam Munawir Sjadzali)”, Disertasi Doktor, Yogyakarta: Program Pascasarjana

♦ Menghubungkan Pengurangan Resiko Benana dengan Adaptasi Perubahan Iklim melalui dukungan terhadap prakarsa uji coba, serta investasi dalam tindakan adaptasi dan ketahanan

Pengolahan citra atau gambar merupakan suatu proses yang mengubah sebuah gambar/citra menjadi gambar/citra lainnya dalam rangka untuk mencapai tujuan tertentu, seperti misalnya

Metode anestesi umum dengan menggunakan obat anestesi inhalasi yang saat ini banyak dilakukan adalah teknik aliran gas segar tinggi atau high-flow anesthesia (HFA)

Laju kenaikan sudut dimulai di kedalaman 600 ft MD dengan BUR (Build Up Rate) sebesar 3 o/ 100 ft MD. Sudut kemiringan maksimal sebesar 55,42 o ini dirasa cukup karena inklinasi

Data yang dikumpulkan meliputi data karakteristik contoh (jenis kelamin, umur, uang saku) dan sosial ekonomi keluarga (pendidikan orangtua, pendapatan keluarga, besar