KERJA PRAKTIK,
ALTERNATIF DISKURSUS
PENGEMBANGAN DIRI;
mewujudkan Generasi Wawas Diri dan Lingkungan, Introduksi Gelap Terang
Perencanaan.
Bahwa dalam kategori usia dewasa pada kategori Elias dalam Philosophical Foundation of Adult Education, cara belajar dan mendidik mahasiswa akan berbeda dibanding saat dalam usia anak-anak. Dalam kategori usia tersebut, proses pembelajaran dan perlakuan pendidik diterapkan mempertimbangkan empat asumsi pokok yang diajukan Malcolm Knowless sebagai berikut;
(1) Bahwa sesungguhnya seseorang bergerak dari ketergantungan total menuju pengembangan diri independen seiring pertumbuhan dan perkembangannya. Mahasiswa dianggap mampu mengidentifikasi dirinya dalam rangka menentukan peran dan arahan pencapaian peran relevan. (2) Bahwa kehidupan adalah sumber pembelajaran paling kaya bagi orang dewasa, hingga dalam konteks ini Paulo Freire mampu mendeskripsikan pembelajaran sebagai proses menghubungkan keadaan dimana dia berada dengan pengalaman sebelumnya yang kemudian secara sederhana disebut sebagai proses aksi-refleksi atau dialektis: melakukan dan memaknainya. (3) Mahasiswa mampu memutuskan apa yang akan dipelajari lebih dari orang lain mengetahuinya. Mengingat dirinya sebagai orang yang paling memahami peran dan arahan yang akan diambil, dan itulah instrumen terbaik untuk memilah dan memilih ilmu relevan baginya. (4) Pendidikan dianggap sebagai sebuah proses untuk menyiapkan seseorang agar mampu memecahkan permasalahan. Menuju pencapaian situasi yang lebih baik, sengaja diciptakan, pengalaman kolektif atau kemungkinan pengembangan dengan pertimbangan kondisi kekinian.
dianggap cukup, dari mana kita mendapatkan pembaharuan pengalaman? Akankah masalah yang dihadirkan pendidik dari mimbar kelas relevan dengan konteks aktual? Akankah masalah dalam perspektif pendidik menjadi masalah bagi peserta didik? Dan akankah pengalaman yang dihadirkan pemateri menawarkan peran cukup menarik bagi peserta didik? Skeptisisme tersebut membawa penulis untuk mencoba tipologi diskursus berbeda, cukup luas bagi penulis untuk bermanuver sesuai peran yang diharapkan mampu diambil penulis pasca lulus, menentukan arahan secara mandiri, memenuhi kebutuhan pengetahuan untuk mencapainya, dan menyelesaikan beberapa permasalahan dalam berbagai dimensi relevan: Kerja Praktik.
Penggerak kontribusi massif masyarakat rural menyongsong kejayaan bangsa yang berkeadilan sebagai gerbang menuju negeri madani: baldatun, thayyibatun, wa rabbun ghofur: menjadi peran yang ingin diambil penulis melalui studinya di Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota. Untuk mewujudkan fungsi dari peran tersebut, penulis telah mengidentifikasi fakta bahwa poros pembangunan saat ini berada di perkotaan dan mewujudkan poros pembangunan baru sebagai pesaing tidak lebih efisien dan efektif daripada menghubungkan subjek-subjek yang lemah dalam perspektif pembangunan pada poros pendorong utama dengan maksud mendistribusikan kekuatan berlebih pada subjek tersebut. Melalui kontemplasi yang dijalani, penulis memunculkan hipotesa bahwa jembatan tersebut dapat dibentuk melalui partisipasi aktif akademisi dan respon perilaku mereka saat pertama kali terjun sebagai praktisi, kesolidan masyarakat, dan perekonomian masyarakat. Hal tersebut telah coba diidentifikasi selama penulis aktif kuliah di Surabaya, hanya saja tanpa adanya pembanding yang setara, subjektifitas informasi dirasa penulis menjadi tinggi.
CV. Duta Citra sendiri dipilih karena menjadi satu-satunya IKP di Kota Semarang yang pernah dipilih oleh praktikan sebelumnya sehingga sebelum terlibat praktikan dapat menyusun strategi keterlibatan dengan melakukan konsultasi pada praktikan periode sebelumnya. Merujuk pada informasi yang diterima praktikan, CV. Duta Citra merupakan CV dengan budaya kerja organik, pembagian peran dan fungsi, pengalokasian tenaga, dan aturan fleksibel sesuai kebutuhan dan ketersediaan sumber dan kondisi saat itu: fakta-fakta tersebut dianggap unik oleh praktikan karena dalam paradigm praktikan hal tersebut tentu akan menyulitkan jalannya sebuah usaha, namun fakta bahwa CV. Duta Citra telah ada sejak setidaknya dua dekade lamanya tentu hipotesis tersebut goyah. Goyahnya dogma penulis dalam konteks ini membuka pertanyaan baru “akankah konsep pengelolaan ini dapat diimplementasikan di masyarakat untuk mengoptimalkan produktifitas sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam pembangunan berkeadilan?”. Dalam kondisi tersebut muncul ketertarikan untuk terlibat langsung di dalamnya.
CV. Duta Citra adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pengadaan jasa konsultansi yang berkiprah sejak tahun 1989 atas dasar Akte Notaris Pendirian Perusahaan No. 79 Tanggal 20 September 1989 oleh Notaris Sri Hadini Soedjoko, SH di Semarang. Namun akte pengesahan tersebut pernah mengalami perubahan berdasarkan Akte No. 7 Tanggal 8 Pebruari 2007 dan perubahan terakhir pada Akte Perubahan No. 54 Tanggal 30 April 2012. Selain itu, CV. Duta Citra sebagai instansi konsultan skala nasional telah bergerak di bidang pelayanan jasa konsultasi dengan lingkup pekerjaan bidang arsitektur, sipil, tata lingkungan, GIS, serta planning.
Dalam perkembangannya CV. DUTA telah mempunyai pengalaman–pengalaman dari berbagai daerah baik dari instansi pemerintah maupun swasta. Untuk proyek pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh CV. DUTA mayoritas pengguna jasanya adalah Pemerintah seperti Badan Perencanaan Daerah, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Dinas Pekerjaan Umum dan Energi Sumberdaya Mineral, maupun instansi lain di Indonesia yang bergerak dalam kebijakan pembangunan.
(1) Rencana eksisting yang telah diloloskan sebagai perda di Kecamatan Klego mengalokasikan penggunaan lahan untuk kegiatan industri tepat di atas formasi kerek, formasi dengan karakteristik relatif labil karena didominasi oleh lempung. Menghadapi fakta ini, penulis mengajukan hipotesa sebagai berikut; (a) rendahnya kapabilitas elemen pengawas dan pelaksana proyek dalam penguasaan substansi sektoral perencanaan, dan/atau (b) hilangnya urgensitas dokumen perencanaan spasial sebagai rujukan kegiatan pembangunan. (2) Fakta bahwa salah satu peserta FGD antara konsultan dengan SKPD yang difasilitasi oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Boyolali melontarkan kecurigaannya dengan kalimat “jangan sampai konsultan yang satu ini hanya menyalin dokumen lama dan mengganti nama lokasinya saja”. Pernyataan tersebut kemudian diikuti oleh fakta bahwa dalam percakapan pasca FGD beredar isu “rencana dapat dipesan sesuai keinginan pemberi kerja”. Fenomena yang kemudian mengikuti adalah paceklik pemasukan CV yang terlepas dari apapun penyebabnya membawa penulis pada perspektif yang mungkin dapat merangkai serpihan-serpihan realita dalam satu bingkai:
“Bahwa ketika ilmu seorang perencana diperlakukan layaknya komoditas, saat itulah benar-salah, tepat-tidak tepat, dan baik-buruk menjadi simpulan atas pertanyaan “apakah dengan ini ia akan membayar lebih?”.” Dalam paradigma ini, kontrol penuh berada di pemegang modal. Sederhananya, bahan baku, berupa pengetahuan dan kemampuan, ada di tangan praktisi namun kontrol harga ada di tangan pemerintah. Sekarang perkaranya dapatkah pemerintah menghargai kemampuan-kemampuan dan pengetahuan-pengetahuan yang relevan untuk pembangunan?
mekanisme organisasi eksisting, atau (b) mekanisme organisasi yang ada tidak sesuai dengan falsafah kehidupan yang telah melekat pada calon elemen-elemen strukturalnya.
Fakta-fakta tersebut kemudian dirangkai dalam satu bingkai pembangunan menjadi secuil gambaran dua elemen krusial dalam pelibatan masyarakat secara massif dalam pembangunan berkeadilan, bahwa: (1) akademisi dalam ranah praktis (ketika menerapkan pengetahuannya di lapangan), menjadi terbatasi ruang mannuvernya karena tuntutan untuk hidup dan menghidupi. Sehingga baik-buruknya implementasi mereka sekali lagi bisa jadi tidak sepenuhnya tanggung jawab kapabilitas keilmuan mereka namun turut menjadi tanggung jawab perlakuan pemegang modal kepada mereka. (2) Fenomena kedua memang menunjukan perilaku seseorang dalam struktural ketatanegaraan, namun tidak kah itu juga menjadi dampak dari falsafah hidup yang dianut sebelum seseorang berkecimpung di dalamnya? Perilaku-perilaku yang telah dibiasakan ternyata malah menjadi ganjalan bagi mekanisme organisasi mereka, dari fenomena ini penulis mendapat kesimpulan sementara bahwa perlu ada identifikasi mendalam mengenai karakteristik perilaku sosial masyarakat untuk menentukan rumusan pelibatan massif di lapangan.